Subuh tadi, sekitar pukul 4: 15 – 4: 40, bumi guruh dan kilat benar – benar mengguncang Manokwari, hingga aku terbangun. Apalagi saat mengecek keadaan rumah adikku yang 75% materialnya dari kayu, rumahnya kebanjiran total karena kapasitas talang air yang tidak sanggup menahan laju curah hujan. Benar – benar disaster subuh tadi. Batitanya terpaksa kami ungsikan ke rumah kami di bagian depan wlau ia sebenarnya ketekutan dari sorot matanya. Petir dan guruhnya benar – benar membuatku sedikit ‘tahan hati dan keep praying’ apalagi mengingat bacaan Alkitabku beberapa jam sebelumnya.
Nah pagi ini dalam doa pagiku, karna bangun telat jam 9 pagi, usai pergi padam lampu di rumah Amban, usai mengantar undangan, usai minum kopi dan sarapan, aku memutuskan berdoa dan membaca Firman sebelum bekerja. Ya ritualku mungkin sedikit berbeda dengan banyak orang yang kerap membaca Firman usai buka mata pagi – pagi. Kadang aku seperti mereka, kadang cuma doa singkat dulu mengucap syukur, tapi terkadang ya seperti pagi ini, acara baca Firmannya kucicil pas sebelum bekerja, sekalian minta tuntunan bekerja agar pikiran bisa fokus ke kerjaan. Anyway, pembacaan pagi ini tak jauh – jauh dari Yeremia lagi.
Bila tadi pagi pembacaannya tentang hukuman, nah pagi ini aku bertemu dengan janji Tuhan di Yeremia 30: 1 – 24. Lagi – lagi di hatiku bilang begini, “May, ini tentang Papua, bacakan dengan keras ya ayat 8nya, itu tentang tanah ini.” Jadi isinya seperti ini:
“When that day comes, I will break the yoke that is around their neck and remove their chains, and they will no longer be the slaves of foreigners.” Entahlah saat membaca Firman ini, aku merasa lega bahwa Allahku tetapkan Tuhan yang peduli sungguh mati sama umat-Nya. Ia memberi hukuman untuk mengubah sikap dan hati yang keras TAPI Ia tetap peduli. Keep wondering ya kenapa umat-Nya ini masih tetap otak keras sungguh mati seh … padahal kalo dong mo lihat, apa lagi sih yang dong mau dalam hidup. Kalo merasa su tertindas sungguh mati secara fisik ya bebaskan diri secara mental dan jang taikat mati deng barang – barang yang bikin tambah susah diri ka ini.
Apalagi dalam sekilas tayangan acara TV Kristen yang kunonton di U Channel tadi pagi mengumpakan dosa itu ibarat ular sanca. Waktu kecil pace satu bisa bawa ular ko mandi sama – sama di bak mandi, masih bisa pace de kendalikan. Tapi pas akan smakin besar, aleeee bukan pace ko yang bisa kendalikan ular ko dalam bak mandi, tapi ular ko su kas penuh bak mandi deng de pu badan, su begitu de yang bisa kontrol pace ko ka ini. Nah dosa juag seperti itu, tong pelihara akan dari kecil, lama – lama de kendalikan tong pu hidup dan bikin tong tenggelam. Jadi ingat kejadian pagi ini yang sa bapa cerita tentang satu sepupu dari pihak mama yang su seminggu mendekam di penjara. Ya iyalah, karen tra bisa lepas diri dari miras, e pace ko nekat pancuri uang dari dalam mobil temannya. Akhirnya ya dilaporkan dan masuk sel selama seminggu toooo.
Ya andai saja semua orang sadar kalau Tuhan su terlalu baik dalam hidup. Sa bilang begini bukan karena sa mo bilang sa su suci eee, trada … sa bilang nih karna sa tahu sa pendosa dan butuh Yesus sungguh mati eee, karna kalo trada Yesus, sa mungkin pasti tambah rusak sapu diri, sapu masa depan, sa pu hidup dan mungkin su ada nyali untuk hal – hal gila seperti bunuh diri. So far, masih ada Yesus yang su baik yang kapala bisik sa pas sa lagi down, untuk bilang sa jang bunuh diri karna ada rencana – rencana besar di dalam sa hidup. Pokoknya kas smangat sa, walau teman – teman tra balas sa SMS curhat de el el.
Pagi ini sa merasa di-recharge energinya sama Yesus.
Sungguh eee, Tuhan itu baik. Amen.
(Manokwari, 290811; 12.17 p.m.; usai badai besar)
0 comments:
Post a Comment