Andai William Shakespeare lahir di abad 21 di mana penggunaan bahan peledak temuan Alfred Novel beranak cucu, mungkin kisah cinta Romeo dan Juliet tidak diakhiri dengan eksekusi mati bunuh diri sepasang kekasih ini dengan minum racun. Mungkin mereka malah jadi pelaku bom bunuh diri di rumah keluarga Motague atau Capulet di Verona sana. Begitu pula nasib si Ophelia yang tak harus tewas menenggelamkan diri dalam karya tete Shakespeare yang lain; Hamlet. Tindakan bunuh diri sebagai tiket ekspres mencuri hak eksklusivitas Tuhan dalam hal mencabut nyawa bukan barang baru dalam sejarah bahkan kerap dijadikan bumbu tragedi dan pemanis dalam roman maupun karya fiksi dan film yang bertujuan menguras air mata pembaca. Iya, menangis di atas kenestapaan orang lain.
Tindakan bunuh diri yang diyakini oleh banyak agama dan juga kepercayaan sebagai tindakan bodoh, sesat dan masuk ‘neraka’ punya banyak kajian di abad modern ini. Mulai dikaji penyebabnya dari masalah klasik seperti urusan cinta yang tak beres, hingga faktor ekonomi, tekanan hidup modern ataupun sekedar ekspresi gejala depresi tingkat tinggi. Bahkan implikasinya pun punya banyak ramifikasi, dari menyebabkan kerugian negara misalnya di Jepang yang pelaku bunuh diri di jalur kereta menghambat laju perekonomian, ataupun stabilitas keamanan yang terganggu seperti ulah kasus bom bunuh diri di Norwegia ataupun yang ditengarai sekedar menjadi ‘virus bunuh diri’ karena beritanya yang rinci disebarkan melalui media baik cetak maupun elektronik mempengaruhi orang lain.
Beberapa hari lalu, dalam sebuah “imajinasi” liarku, aku penasaran, bagaimana sebuah kematian yang disebabkan bunuh diri dikemas dalam pencitraan sensori saraf. Tentu saja bukan untuk menyaingi tampilan proses Euthanasia, sama sekali bukan. Aku hanya penasaran, sebagaimana aku juga terobsesi pada kematian sejak lama, yang sayangnya kematian tampaknya masih jauh dari diriku. Rasa penasaran mungkin musuh dalam selimut bagiku.
Beberapa pesan singkat akhirnya kukirimkan kepada beberapa teman dengan latar belakang yang berbeda, guna melihat variasi jawaban yang muncul. Bagiku, pertanyaan – pertanyaan yang meransang pemikiran untuk ‘think outside the box’ adalah pertanyaan yang dapat membuatku mengerti tentang pola pikir orang lain. Mungkin seorang teman di Australia akan bilang bahwa pertanyaan seperti itu bisa masuk kategori ‘self-interest crime’, walaupun murni tujuan pertanyaan ini bukan untuk memanipulasi atau memperdaya orang lain. Hanya untuk menjaring jawaban dari pertanyaan yang menumpuk di benak.
Bunuh diri yang kulabel sebagai “jalan Tikus menuju ‘surga’” memang dapat memunculkan persepsi yang berbeda antar tiap orang. Ada yang meresponnya sebagai topik yang menakutkan. Ada yang mengatakan topik seperti ini bisa memunculkan rasa iba ataupun sebaliknya mengecam pelaku bunuh diri, yang jelas – jelas orang yang mengakhiri hidupnya bukanlah ‘korban’ tetapi ‘pelaku’, walaupun ia mungkin ‘korban’ dari berbagai situasi dan kondisi. Pertanyaan – pertanyaan yang kulontarkan pada teman – temanku mencakup pengetahuan mereka tentang metode bunuh diri yang paling sering muncul di Manokwari, juga metode apa yang menurut mereka sangat cepat dan minim rasa sakit plus sebisa mungkin meninggalkan jenazah yang ‘utuh’.
Mungkin pada bagian ini jujur aku pengagum sebuah ungkapan dari serial horor remaja favoritku ‘Eerie Indiana’ jaman baheula di TVRI. Pada sebuah episoda, seorang tokoh remaja laki – laki nekat bunuh diri dengan menabrakan diri demi menyumbangkan jantungnya bagi cewek yang diincarnya. Konon dikisahkan, cewek incaran mengidap kelainan jantung parah. Dalam adegan terakhir episode itu, jantung cowok nekat ini yang terlanjur berpindah di rongga dada perempuan itu berdegup kencang cemburu kala si perempuan didekati cowok lain. Tapi yang menjadi slogan dari adegan ini dan mempengaruhiku bertahun – tahun adalah ungkapan si remaja nekat ini, “Mati muda meninggalkan mayat yang cantik”. Freaky but interesting!!!
Banyak metode memang yang bisa diterapkan dalam upaya ‘menghabisi diri sendiri’. Mulai dari cara ekstrem yang membahayakan orang lain semisal bom bunuh diri di tempat ramai demi alasan tertentu, menembak diri hingga cara kontemporer minim rasa sakit semisal menggunakan suntikan intravena yang mengandung Pancuronium bromide ataupun Pottasium chloride. Di Manokwari sendiri malah banyak metode konservatif yang masih sering dipraktekan semisal penyalahgunaan tablet anti Malaria, racun serangga, gantung diri hingga yang berdarah – darah ala ‘iris nadi’. Sejauh ini alasan bunuh diri di kotaku juga masih berkisar pada beberapa masalah klasik, belum sampai pada tahap ekstrem yang melibatkan ideologi dan politik yang mengorbankan banyak orang. Semoga saja hal seperti ini tidak akan terjadi di masa mendatang.
Dampak tindakan bunuh diri mungkin bervariasi pada keluarga yang ditinggalkan tapi yang pasti ada label berbau ‘bunuh diri’ yang tetap tertancap pada keluarga ‘pelaku’. Pasti saja ada label ‘bunuh diri’ yang tak hilang. Bagaimanapun juga itu sebuah tragedi; kisah sedih yang terlanjur terjadi . Selain itu, tindakan dan respon masyarakat akan beragam. Toh masyarakat memang cenderung bertindak sebagai ‘penonton yang selalu lebih pintar’ tanpa sadar bahwa ada banyak alasan mengapa mereka yang ‘berpulang’ cenderung memilih melakukan tindakan menghabisi diri sendiri. Lihat saja tindakan para ahli Yahudi dalam kitab suci umat Kristen, bahkan Si Yudas Iskariot, si ‘penjual’ Yesus yang mati bunuh diri, enggan dikuburkan di pemakaman umum. Terpaksa pace Yudas ‘pu uang jual de pu big boss ‘ dipakai membeli tanah untuk dijadikan pemakamannya dengan label ‘Hakal Dama’ atau ‘Tanah darah’ yang notabene di kemudian hari menjadi pemakaman untuk mereka yang terkucilkan, bunuh diri ataupun orang asing. Tengok juga nasib si Weh dalam buku Edensor, sebuah bagian tetralogi Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata, yang kematiannya sempat tak dihiraukan masyarakat kampung. Meskipun demikian, masih banyak juga komunitas yang tetap menghargai kematian seorang manusia, terlepas dari cara apa yang ditempuhnya dalam ‘mencari jalan pulang’, dengan prosesi terhormat pemakaman, yang dilabel seorang temanku sebagai “the Black Parade”.
Bunuh diri sebagai suatu tindakan juga kadang menimbulkan dampak yang bisa bikin geleng – gelang kepala baik karena rasa miris ataupun rasa lucu. Kisah seorang perempuan muda yang membakar diri di kamar pacarnya di sebuah asrama perguruan tinggi negeri di kotaku mungkin menjadi kisah tragis yang sempat membuatku berpikir betapa rapuhnya hati saat badai cinta melanda. Hal yang sama bahkan pernah terjadi di kamar seorang teman SMAku di Jayapura, kala seorang saudara jauhnya ‘meminjam’ kamarnya yang ternyata dipakai untuk membakar diri. Kalau tak salah, kekasih si pelaku juga menyusul bunuh diri. Tak ayal, kisah mereka sampai sempat dilabel kisah ‘Romeo dan Juliet tahun 2000’.
Terlepas dari rasa haru biru, ada juga tindakan usaha bunuh diri yang memicu tawa dan menggelitik hati bila diingat - ingat. Tengok saja kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kos di kampus Unipa, konon usai diputuskan pacarnya, seorang perempuan muda nekat menelan setabung pembersih wajah bermerk B (berikon bulan sabit buatan Jepang) dan sayangnya ia gagal dan berakhir di ruang gawat darurat rumah sakit lokal. Gosipnya sih efeknya juga berimbas pada ‘perut yang terlampau cerewet’. Semoga bukan karena ia gagap baca tak bisa melihat tulisan ‘pembersih wajah’yang salah dipersepsikan dengan ‘pembersih nyawa’. Kisah yang mirip juga terjadi pada seorang perempuan yang kebetulan kukenal yang konon, lagi – lagi, menelan pil kina dalam jumlah besar karena mantan pacarnya sudah punya cewek baru. Sayangnya, usaha perempuan muda bersuara cempreng ini ‘gatot’ alias ‘gagal total’ dan ia terpaksa harus opname di UGD. Ujung – ujungnya, sampai sekarang bila berpapasan di jalan, aku lebih suka melabelnya ‘Miss Kina 20’.
Masih banyak cerita lucu lainnya terkait perkara bunuh diri, tapi favoritku adalah kisah yang kudengar kemarin malam dari kakak sahabatku yang bekerja sebagai pendamping program pengentasan kemiskinan di luar kota Manokwari. Kisah yang menunjukan bagaimana peristiwa bunuh diri mempengaruhi persepsi keluarga besar ‘pelaku’. Di sebuah kampung, usai kematian seorang perempuan yang bunuh diri karena menggunakan sebotol pemutih pakaian yang mereknya berinisial B, kios penjual pemutih pakaian itu hampir dibakar massa. Seperti biasa, harus ada ‘kambing hitam’ dari sebuah peristiwa. Sejak saat itu, jangan harap bisa membeli pemutih cucian di kios - kios di beberapa kampung di distrik itu. ‘Mo jalan sampe mata merah ketok kios juga, tra akan dapat’, ujar kakak narasumber. Semuanya terinspirasi dari acara ‘trauma teror bakar’ karena sebotol pemutih cucian. Moral ceritanya sih, ‘yakinkan yang akan anda minum itu ‘air putih’ dan bukannya ‘pemutih air’!!! Mungkin anda juga pernah mendengar ungkapan bernada candaan, “gantung diri di pohon sambal”. Ayam goreng seh hahahaha!!! *tertawa di atas ke’dodol’an orang lain?
Tindakan menghabisi diri sendiri memang harus dikaji dua sisi agar tak sekedar melabel mereka yang berpulang sebagai ‘pengecut’ yang tak sanggup menjalani hidup, sebagai ‘orang lemah’ yang tak bisa menghadapi kenyataan, ataupun ‘orang yang kurang pendidikan agama dll’ dan tak bisa melihat kebenaran. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi, tapi satu yang kutahu, mereka yang berpikir ataupun pernah mencoba untuk bunuh diri yang bukan ekstremis, yang bukan untuk alasan politik ataupun ideologi tertentu yang melibatkan banyak korban selain diri sendiri, tak lebih adalah ‘orang yang sakit’; ada yang ‘salah’ dengan reaksi kimiawi otak mereka dan mereka butuh terapi dan pompaan semangat dari lingkungan sekitar mereka. Toh, seperti hasil studi dan artikel yang sering kubaca tentang kasus bunuh diri, apalagi yang dipicu oleh depresi yang terakumulasi, umumnya pelaku bunuh diri tidak terdeteksi dari perilakunya. Bahkan ditengarai semakin kreatif seseorang khususnya dalam bidang seni, semakin besar potensinya di kemudian hari untuk ‘bunuh diri’. Mmmmh …. *thinking-mode-ON.
Aku bermimpi suatu hari nanti, di Manokwari akan berdiri fasilitas – fasilitas sosial penyedia layanan konsultasi dan juga hotline service jaringan telepon 24 jam untuk menampung keluhan dan tempat curahan hati mereka yang sedang galau dan mungkin rentan bunuh diri. Setidaknya tempat cerita dan mungkin juga para konselornya tak hanya orang yang penuh empati, bisa menjaga rahasia klien ataupun penelpon tetapi juga para tukang mop professional yang tak lelah berbagi keahlian mereka. That’s one of my dreams ^__^ Dan semoga urusan konsultasi seperti ini bukan lagi urusan dan tanggung jawab ‘lembaga – lembaga keagamaan’ tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama.
Pertanyaannya, sudahkah kita menerapkan konsep sederhana gerakan “R U OKAY?” untuk orang – orang di sekitar kita? Jawabannya hanya anda yang tahu. Anyway, PLUS jangan lupa mengucap syukur untuk orang – orang yang masih tetap mengingat kita dalam daftar kiriman SMS, e-mail ataupun sapaan terlebih lagi doa harian mereka, it means that ‘YOU ARE SO LUCKY”.
Aku punya beberapa sahabat dan teman, baik yang berada di Manokwari maupun di luar Manokwari yang memang super duper superheroes di dalam hidupku, yang rajin mengirimku ataupun membalas SMSku, menelponku dan juga menyapaku lewat layar FB ataupun e-mail. They’re so fantastic dan saat ini aku ingin bilang sama mereka, “I hope you are always OKAY!!!”. That’s my prayer.
Akhirnya … aku berharap kita semua masih mau tetap hidup untuk “live the life we love to its fullest” walaupun kadang akan ada titik – titik terendah yang muncul tiba – tiba, dan di momen seperti itu, aku berharap anda akan selalu mengingat frasa dalam adegan film “3 Idiots”, salah satu film India favoritku , “ALL IS WELL”!!! *sambil menirukan mimik si Aamir ‘Rancho’ Khan.
Congratulation!!! Pada bagian akhir ini, anda masih hidup …. Let’s celebrate life!!!
(Manokwari, 090811; yang selalu terobsesi dengan kematian dan bunuh diri; how does it look like? *wonder)
0 comments:
Post a Comment