Search This Blog

Loading...

Monday, 29 August 2011

Itulah sebabnya saya menulis!

Malam ini saya memutuskan menulis lagi. Menulis yang bagiku seperti terapi bagi pikiran –pikiran yang berlarian ke sana kemari dan tak stabil seperti pikiran anak 3 tahun (playgroup kid) *itu kata psikologku dulu di Australia. Menulis yang mungkin hasilnya membosankan untuk dibaca, tapi malam ini saya mendapat sebuah alasan untuk menulis, untuk terus menulis dan untuk tetap percaya bahwa saya dilahirkan untuk menulis. Menulis tentang apa saja, menulis tentang siapa saja dan menulis tentang hidup. Hari ini saya belajar banyak tentang menulis dan entahlah mengapa semua yang terjadi hari ini, tanggal 26 Agustus 2011, menuntunku pada suatu aktivitas yang bernama MENULIS!

Sore tadi sesuai kesepakatan dengan seorang teman yang bekerja di sebuah LSM lingkungan, saya berkunjung ke sebuah areal teluk di Manokwari, yang kebetulan mayoritas penduduknya dari kaum marjinal (mayoritas bekerja sebagai nelayan, buruh pelabuhan, dan tenaga kasar). Ada kegiatan pendampingan masyarakat khususnya program pendidikan alternatif untuk anak – anak di sana. Sore tadi hanya memantau apa yang bisa saya lakukan dan sekaligus melihat apa yang dapat diamati sebagai bahan masukan ataupun pertimbangan bagi program temanku. Sore tadi, anak – anak yang datang ke tempat yang dipakai (kantor Lurah) hampir 20 orang. Bocah – bocah asli Papua berusia kurang dari 8 tahun itu datang dengan keceriaan dan kadang kebandelan mereka masing – masing. Berlarian sana – sini, berteriak, menjerit dan ‘baku ganggu’ tak henti – hentinya. Hingga saat kami belajar dimulai dan saya pun menemukan alasan mengapa saya harus berada di tempat ini.

Guess what? Ternyata ada hampir 5 anak sore itu yang berumur hampir 8 tahun dan masih kesulitan mengidentifikasikan huruf apalagi merangkai dua-huruf lebih, dan mereka bocah – bocah perempuan. Sore tadi, saya meminta mereka dipisahkan di meja tersendiri dan saya mulai mengajar dan menguji kemampuan mereka. Lebih dari 30 menit kucoba melihat kemampuan baca-tulis mereka dan menemukan bahwa seseorang dari mereka, bocah perempuan di kelas dua SD yang kemungkinan besar mempunyai kesulitan baca-tulis sejenis ‘dyslexia’ alias ‘unable to recognize letters’. Bukan karena ia tak tahu apa itu huruf atau kemampuan ingatan yang lemah. Sama sekali bukan. Saya mengujinya hampir sejam lebih bersama teman – temannya yang lain. 4 bocah lainnya bisa mengikuti simulasi pergerakan coretan huruf – huruf yang kutulis dengan mudah walau tak sempurna, sedang si bocah ini berulang kali kuminta ia mengikutiku membentuk huruf semudah ‘K’ tetapi ia selalu salah menarik garis, bahkan huruf ‘e’ perlu diulang lebih dari 10 kali, hanya agar ia tak menulisnya seperti ‘ɕ’ ataupun ‘ə’, itupun masih jauh dari apa yang kuharapkan. Huruf ‘T’ dan ‘t’ pun mengalami hal yang sama, selalu terbalik ataupun miring, kadang seperti melihat refleksinya di dalam cermin.

Sore tadi, saya samar – samar mengingat perkataan dalam sebuah film yang menginspirasiku akhir – akhir ini, sebuah film India yang dibintangi Amir Khan pada tahun 2007 “Taare Zameen par”. Dalam film itu Amir Khan yang berperan sebagai ‘Ram Shankar Nikumbh’ berkata bahwa “Agar dapat membaca dan menulis, sangat penting untuk menghubungkan bunyi dengan simbol guna mengetahui arti dari kata”. Itulah yang kudapatkan sore tadi, bagaimana melihat perjuangan keras kelima bocah perempuan tadi berusaha sebisa mungkin menghubungkan simbol yang tertera di kertas mereka dengan bunyi yang dikeluarkan pita suara mereka. Saya tak akan menyerah untuk hal ini, pasti ada sebuah cara untuk mengenalkan huruf dan bagaimana merangkaikan huruf membentuk kata, membentuk bunyi, membentuk arti; Bagaimana mempersepsikan simbol dalam rangkaian bunyi. Saya pasti menemukannya untuk mereka! Pasti!!!

Melihat mereka, saya seakan terlempar ribuan mil jauhnya ke belakang, melihat perjalanan hidup saya sendiri, dengan perihal baca-tulis. Saya merasa bersyukur untuk hidupku, untuk semua kebaikan yang kuterima, sebuah anugerah dan persepsi yang cepat untuk selalu cepat mengenali simbol huruf Latin dan menghubungkannya dengan bunyi di dalam bahasa ibu, karena bagaimanapun saya jauh lebih beruntung dibanding para bocah perempuan ini karena sudah lancar membaca sejak sebelum masuk TK. Sewaktu TK, sebuah majalah Bobo sudah bisa saya tamatkan kurang dari sehari, dan seiring dengan usia sebelum tamat SD, bacaanku pun mulai bervariasi dari Majalah Intisari, koleksian buku Balai Pustaka, komik Donald Bebek, Trigan, Nina hingga novel Kho Ping Ho yang semuanya milik tetangga, dari cerita mini biografi tokoh – tokoh dunia hingga koleksi ensiklopedia. Bahkan saking hausnya pada bahan bacaan, saya kerap memungut lembaran koran bekas pisang goreng yang kumakan sebagai bahan bacaan ataupun majalah yang dibuang di tempat sampah. Menikmati tarian huruf – huruf yang lincah beterbangan di benakku, mengajakku masuk dalam realme makna. Sayangnya, sampai sekarang, saya tak pernah suka menilik buku lebih dari selembar apalagi membaca novel karya Fredy S. HAHAHA.

Malam ini, saya disadarkan bahwa kemampuan bisa mengenali simbol dalam hal ini huruf dan membunyikannya, merangkainya dalam makna apalagi dalam beberapa varian bahasa sebagai sesuatu hal yang HARUS kusyukuri. Yang tak boleh hanya sekedar saya syukuri tetapi sebisa mungkin membaginya pada mereka yang lain; yang mungkin membutuhkannya. Saya merasa bersyukur pula, saat ini, saat anda mulai membaca catatan ini, anda sedang melihat sebuah keajaiban, anda sedang turut dalam sebuah keajaiban yang mungkin hanya ada anggap hal biasa, ‘a miracle taken for granted’! Anda bisa membaca huruf Latin khususnya dalam bahasa Indonesia. Sebuah pencapaian dibanding beberapa juta orang di negara ini yang tak bisa membaca, apalagi mengakses piranti elektronik penyedia tulisan ini.

Di saat anda bisa membaca dan menulis, anda sedang melakukan sebuah lompatan besar dalam sejarah anda sendiri. Sesuatu yang mungkin tak dapat dilakukan oleh beberapa generasi nenek moyang sebelum anda. Sesuatu yang membuat apa yang anda lakukan mendapat legitimasi dan pengesahan. Sesuatu yang kata para sejahrawan, memasuki jaman ‘sejarah’. You have just made your own history, mate!!!

Malam ini, entahlah mengapa saya harus menonton pula film yang dibintangi Denzel Washington, “The Hurricane”; salah satu film yang sekarang akan menjadi salah satu film yang menginspirasi saya seperti juga film Denzel lainnya (saya selalu tergila – gila dengan film – filmnya). Saya ingat perkataan Rubin ‘Hurricane’ Carter yang diperankan Denzell kepada soerang remaja bernama Lesra yang kelak menjadi salah satu sahabat dan penyemangatnya, “Writing is a miracle and it is greater than a weapon. That is why, I learn to read and write.” Ya, dari hidupnya, saya belajar bahwa menulis, dengan menuangkan apa yang subtil dalam alam bawah sadar kita; yang berlarian dalam otak kita, kita sedang membuat sebuah keajaiban. Sebuah keajaiban yang menjadi salah satu dasar warisan kita kepada generasi berikutnya, sebuah warisan yang bisa kita wariskan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja.

Saya percaya, hidup kita hanya sekali, hanya sekali saja, saudara – saudari. Kita mungkin tak bisa mewariskan emas yang sangat banyak bagi anak cucu kita kelak, perhiasan, tanah ataupun kekayaan – kekayaan fisik. Tapi bukankah kita, manusia – manusia yang diisi dan ditempa oleh hidup, yang sering dipermainkan nasib, yang sering patah hati, jatuh cinta, dilanda kesepian dan disirami kebahagiaan dan mempunyai banyak kegembiraan hidup mempunyai kisah – kisah yang dapat mengilhami, memberi inspirasi ataupun sekedar menghibur mereka yang kelak menjadi anak cucu kita? Bukankah hidup kita adalah rentetan – rentetan episode – episode hidup yang lebih dahsyat, romantis, heboh, tragis ataupun sedih melebihi film produksi Hollywood, Bollywood ataupun bokep? Bukankah kita, tiap kita, adalah karakter – karakter yang aktingnya lebih natural dibanding pemain film manapun?

Malam ini, sekali lagi saya merasakan such invisible hands menuntun saya untuk menemukan beberapa hal lainnya yang lagi – lagi bicara tentang ‘menulis’ sebagaimana yang saya temukan dalam sebuah bacaan Alkitab saya malam ini di Mazmur 102: 18, yang berbunyi: ”Write down for the coming generation what the LORD has done, so that people not yet born will praise Him.” Ataupun mengingat pembicaraan beberapa jam lalu dengan sahabat saya; Amos, di pondoknya tentang proyek blog kami masing – masing, tentang gaya menulisnya yang segar dan tertawa membahas tulisan kami. Tiba – tiba saya tahu bahwa saya akan tetap menulis, dan terus menulis. Menulis untuk menertawakan hidup saya, menangisi ataupun meratapi nasib ataupun sekedar mengasihani diri sendiri, dan juga menguatkan saya. Karena saya tahu, itulah sebabnya saya menulis.

Malam ini, saya tahu, saya hanya orang biasa dengan mimpi – mimpi dan pikiran – pikiran kanak – kanak yang masih terperangkap dalam tubuh perempuan yang hampir berusia 28 tahun tiga minggu lagi. Saya tahu saya akan tetap menulis, karna itulah satu – satunya warisan yang bisa saya bagikan dan wariskan kelak pada anak cucu saya, pada keponakan – keponakan saya bila kelak saya tak bersama – sama mereka lagi. Mewariskan kisah – kisah kebodohan yang pernah saya jalani, mewariskan mimpi – mimpi saya, mewariskan pencapaian, ketololan ataupun kejujuran dari versinya saya sendiri. Berharap mereka akan mengenang dan mengenal saya lewat apa yang saya tuliskan beberapa tahun silam.

Saya ingin hidup bagi mereka dalam tulisan – tulisan saya, saya ingin tetap menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka walau hanya lewat tulisan. Mungkin pada saat ini saya ingin menjadi sentimental seperti ‘Tina’ yang diperankan Rani Mukerjee dalam Kuch – Kuch Hota Hai yang mewariskan surat – surat panjang untuk anaknya Anjali. Entahlah … malam ini saya berjanji bahwa saya tak akan berhenti menulis karena menulis yang membuat saya merasa merdeka, di mana tak ada satupun yang dapat mengikat dan memenjarakan saya seperti yang saya pelajari dari Rubin Carter dalam film tadi. Sama seperti kata J.K. Rowling dalam wawancaranya dengan Oprah Winfrey, “For my mental health, I will keep writing”.

Itulah sebabnya saya menulis!

Bagaimana dengan anda?

(Manokwari, 270811; ekstrasi momen tentang ‘menulis’. Betapa leganya!)

0 comments: