Entahlah …. Terasa dekat namun jauh, berbagi darah dan DNA yang sama sejak lama, tapi toh ikatannya tak tersimpulkan. Mengais kasih sayang, mungkin.
Entahlah, sejak kapan aku tak menganggap bahwa kami sebenarnya telah sangat jauh terpisah. Bukan secara fisik, tetapi jauh di dalam hati. Harusnya aku sadar sejak dulu. Entahlah … masih tetap mengadopsi paham perempuan kecil yang naïf. Sampai kapan? Entahlah …
Malam ini, ada yang hilang, tercerabut membuatku terluka lagi. Entahlah … kehilangan mantan – mantan kekasih tak pernah sesakit ini, tak pernah membuatku ingin bunuh diri tapi entahlah pertengkaran dengan orang tua mungkin kelemahan terbesarku, membuatku selalu putus asa dan galau, kalut campur sedih. Entahlah … serasa menjadi anak kucing yang kehilangan induk, atau anak itik menetas tanpa induk. Merayap sendiri mencari makna hidup. Entahlah …
Aku memang tak bisa seekspresif diriku, tak bisa seperti mereka yang bisa katakan apa yang mereka mau dan percaya, mereka yang mau saja menerima ‘hegemoni’ kekuasaan orang tua. Mungkin aku terlalu memberontak, tak mau percaya pada sesuatu bila tak kucoba, salahkah aku yang kinesthetic
.
Entahlah … itulah sebabnya aku memilih menulis. Melepaskan diriku dari hirarki otoritas orang tuaku yang gagap teknologi jadi tak akan membaca catatan ini. Menjadi diriku sendiri walau terbatas pada ruang ini. Entahlah … hanya capek jadi orang baik – baik, menjaga sikap. Lelah hati!!!
(Manokwari, 060811)
0 comments:
Post a Comment