Andrea Bocelli dengan ‘Canto della terra’ alias ‘nyanyian bumi’nya membelah malam, kala jemariku kuketuk – ketukan di atas simbol – simbol penangkap bunyi papan ketik. Bunyi – bunyi yang berlari ini menyeretku pada beberapa ekstrasi kejadian minggu ini. Mungkin malam minggu tepat menjadi hari perenungan tentang apa saja yang terjadi dalam hidupku dan bagaimana Yesus masih menjaga hidupku. Ya, saat yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi sejauh ini dalam hidupku.
Minggu ini ada beberapa kejadian yang membuatku terseret secara emosi. Beberapa ekstrasi yang mungkin layak kucatat, al.:
JANGAN PERNAH TERPERANGKAP DENGAN DOSA MASA LALU
Hari minggu kemarin, seorang junior perempuan datang ke rumah, alasannya ia hanya ingin pinjam buku. Tak dinyana, si cewek Jawa – Papua ini ternyata mengaku baru saja berkelahi dengan lelakinya dan menangis di kamarku bilang ingin bunuh diri. Jangan tanya bagaimana ia curhat dan terluka plus rentan sekali. Rapuh mungkin kata yang tepat. Apalagi menyingkapi hubungannya yang sudah sangat jauh. Toh aku tak punya hak untuk menghakimi. Melihat ia yang rapuh, entahlah, seakan kenangan lama bersama lelaki hujan terputar di otakku dan aku pun bilang dalam hati, “please, May. Kuatkan adek ini, jangan kayak ko dulu yang bingung, hilang arah, dan benar – benar rapuh.”
Akhirnya, mendengar curhatnya yang penuh air mata, hingga berlembar – lembar tisu berubah menjadi limbah. Aku tak punya banyak kat a- kata manis, karna toh aku bukan tipe cewek yang suka menghibur dengan kata manis. Yang bisa kulakukan saat itu hanya merangkulnya, mendengar ceritanya dan menguatkan dengan bercerita tentang beberapa perempuan yang kukenal, kisahku dan beberapa teman lain yang pernah hancur – hancuran dengan masa lalu kami.
Bukan hanya isu keperawanan yang menjadi bahan pembicaraan patah hatinya tetapi rasa tidak berharganya, rasa bersalah dan juga malu. Siang itu, aku ingat betul bagaimana aku mengabsen perempuan – perempuan tangguh yang kukenal dan ia kenal, berbagi kisah mereka, berbagi perjuangan mereka, dan meyakinkannya bahwa ia tak sendiri. Satu hal yang kubilang padanya, “Jangan takut merasa jujur untuk diri sendiri, katakan yang ko mau, katakan apa yang ko rasakan. Kalo toh nantinya ada orang yang tra senang, ya itu dong pu pilihan, begitu juga ini ko pu pilihan. Toh ko cuma hidup hanya satu kali. Jadi, ko tra perlu hidup hanya untuk pake topeng, hanya untuk bikin senang orang lain pu hati apalagi bikin orang lain terkesan, sedang ko sendiri menderita tahan hati”.
Bagiku yang sangat liberal, aku hanya bilang padanya, “Intinya kalo ko takut laki – laki tra mau karna ko su perawan pica ka itu, neh sa cuma mo bilang, sa pu teman bilang dan sa percaya adalah JANDA SAJA MASIH LAKU baru kenapa ko takut tra dapat pacar lagi ka? Jadi kalo memang de tra mo terima ko, artinya ya de memang bukan untuk ko toh. Titik. Abis perkara!! Kalo de sayang ko, de akan terima ko pu masa lalu dan kebodohan2 di masa lalu, dan tra akan ungkit.”
Di akhir percakapan kami, aku hanya bilang padanya, “Apapun ko pu keputusan, termasuk mo balik deng ko pu paitua, itu ko pu pilihan dan sa akan dukung. Yang pasti, jang pernah coba untuk bunuh diri karna ko masih muda, masih cantik. Hidup cuma satu kali. Ko lihat sa yang bipolar saja ada berjuang untuk hidup, untuk tetap percaya bahwa sa layak untuk hidup, masih berjuang tiap hari kala bangun pagi untuk temukan alasan untuk tetap hidup. Masa ko mo menyerah?”
Lewat beberapa hari, usai SMSku tiap hari menanyakan progress-nya, ia bilang keadaannya sudah membaik, sudah berani mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan dan inginkan pada kekasihnya, serta pandangannya tentang dirinya sudah mulai berubah. Ah aku bahagia ia mulai percaya kalau ia cantik, karena bagiku ia begitu muda, cantik dan punya potensi besar menggapai mimpi – mimpinya di masa mendatang.
***
KEKERASAN TIDAK AKAN PERNAH MENYELESAIKAN MASALAH
Ini pelajaran yang kudapatkan hari ini kala terlibat dan terjebak dalam tawuran di kompleks depan rumah. Tak berniat melibatkan diri sebenarnya, tapi toh akhirnya ikut juga dalam momen seperti itu; sebagai pelerai dan saksi mata.
Ceritanya berawal dari seorang sepupu perempuan yang masih SMP digoda oleh anak SMA lokal di kompleksku. Sayangnya, saat itu melintas si oom adik sepupuku plus seorang sepupuku yang dalam pengaruh miras. Ujung – ujungnya mereka berdua memukul si anak SMA yang juga di bawah pengaruh miras. Buntutnya jadi panjang karena teman – teman si anak SMA membela teman mereka, dan tawuran pun terjadi. Tak hanya itu, itu insiden pertama. Karena insiden keduanya, sepupuku yang lain lagi yang tahu masalahnya, lewat sepulang sekolah dengan seragam SMA dan digebuki dengan batangan bambu. Tak terima, ia pulang dan melaporkan insiden 2 ini pada keluarga besar mamaku yang kebetulan tinggal di bagian dalam kompleks kami. Jadilah acara ‘rame – rame’. Tak pelak, ada insiden 3 dan 4 yang juga saling terkait. Dan sialnya, beberapa anggota keluarga yang datang sedang mabuk. Jadilah kekacauan. Untunglah tak sampai parah. Tapi sayangnya, ada tukang ojek yang ‘mata masak’ padahal tak tahu apa – apa.
Intinya dari peristiwa tadi, dalam merespon hal apapun yang terjadi di sekeliling kita, lihatlah dulu letak persoalannya, dilihat secara keseluruhan dan bukan dari tindakan impulsif apalagi yang berbau kekerasan. Selain itu, mengonsumsi minuman keras bukan pada tempatnya HANYA akan bikin masalah baru.
Jujur sampai malam hari, emosiku sempat terbawa dan terbeban. Euforia mode: ON!!!
Benar – benar minggu yang melelahkan.
(Manokwari, 200811; euforia?)
0 comments:
Post a Comment