Hari ini adalah hari di mana aku mendapatkan sebuah kelegaan dari sebuah rasa yang mengikat dan membuat tak bisa tidur nyenyak walau sempat ada yang hilang dari hati; sosok Q. Sahabatku sejak kelas 1 SMP, sebut saja Mados, sempat berkata, “Day, jang ko bilang dan ungkap deng jujur, karna sa tahu ko sejak dulu, once you tell him, you’ll lose your feeling on him. Ko akan kehilangan ko pu sensasi cinta itu, dan sa cuma takut, kalo akhirnya ko jadian deng dia, ko malah membuat ko terperangkap lagi. Ko tuh mudah bosan. Sa hafal ko deh!!!”. Ah dan lagi – lagi ia benar. Semua sensasi rasa itu mulai lenyap, bukan cinta sebenarnya, tetapi sensasi rindu dan semua yang selama ini kupendam … lumer, larut seiring dengan hujan yang turun tadi.
Iya, kemarin malam, aku memberanikan mengirim beberapa pesan singkat ke Q, hanya untuk jujur tentang apa yang kurasakan untuk dia. SMS – SMS itupun kukirim usai pukul 12 malam, dengan asumsi ia sudah tidur dan tak perlu membalas seketika itu juga. Setidaknya aku sudah menyiapkan hatiku dengan mood patah hati sejak beberapa hari lalu. Jadi kalo memang the worst scenario-nya ia marah, ya setidaknya aku sudah siap. Apalagi sejak kemarin, lagu “Pupus” miliknya Dewa yang liriknya entahlah …. Sangat aku banget sudah menyanyi kencang, tiba – tiba teringat lagu ini yang pernah dinyanyikan seorang cowok di Manado untuk temanku *ini cerita keburukanku yang lain, ya sejenis “ungkap-pada-cowok-via-surat-dan-kabur-melarikan-diri-tanpa-peduli-dengan-reaksi-lelaki-tersebut-walau-orang-lain-yang-kena-efek-dan-dampak-buruknya” HAHAHA.
Aku tak tahu reaksi Q bagaimana, dan mungkin sekarang sudah tak memikirkan reaksi tersebut. Setidaknya kata beberapa sahabat usai curhat lewat SMS dan juga ngobrol langsung, aku sudah lebih berani sekarang, berani berkata yang kupikirkan dan kurasakan, dan setidaknya aku memilih membuat jalanku sendiri. Ada 4 pesan yang kukirimkan pada Q kemarin malam, yang mungkin kedengarannya terlalu sentimental dan mengasihani diri, tapi toh aku tak peduli. Bahkan aku memang sudah tak peduli kalau jadi bahan ‘mop’ di antara beberapa teman Q. Walau memang mengirimkan pesan – pesan ini membuatku tak bisa lelap dengan baik dan sempat menangis untuk mengeluarkan emosi yang tersisa. Hasilnya ternyata … berhasil. Rasa yang menggantungku selama ini lenyap dan aku merasa lega. Beban berat itu lenyap. Bisa fokus dengan hidupku lagi.
Aku tak bilang bahwa aku tak serius dengan apa yang kukatakan padanya lewat 4 pesan itu. Bukan pula berarti bahwa yang kurasakan kemarin itu hanya efek Bipolarku, atau aku hanya menjadikannya luapan emosiku. Sama sekali tidak. Aku jujur JATUH CINTA padanya TAPI aku hanya mau menjadikannya sebagai ungkapan jatuh cintaku yang lebih.. entahlah …bagaimana kau mengatakan dan mendeskripsikannya, tak tahu kau menyebutnya apa, PLATONIS? Entahlah … mungkin. Apa karena aku pengagum Gibran? Tak tahu. Rasa cinta yang sama seperti dengan kala aku selalu jatuh cinta pada hujan apalagi di pagi hari, sama seperti aku mencintai laut dan terumbu karang yang sehat, sama seperti perasaan cintaku pada hutan hijau yang tegap menantang ataupun pegunungan Arfak di kotaku, ataupun senja dan mentari terbit di pagi hari yang kerap kupantau saat duduk dari jendela kamar yang kubuka sambil bergantung a la kernet bis kota dengan secangkir kopi di pagi hari seperti kemarin pagi. Iya, cinta yang bagiku tak ingin mengikat atau terikat dalam sebuah ikatan dan komitmen. Rasa cinta yang membuatku merasa bebas, nyaman dan bahagia dan juga tenang, pada satu sisi. Hanya seperti luapan perasaan cinta. Seperti itu saja!!! Tak tahu bagaimana kau mendeskripsikan cinta seperti itu. Walau memang ada kerinduan akan suaranya yang kadang – kadang masih ingin kudengar. Toh aku sudah cukup lega pada tahap ini.
Adapun pesan – pesan yang kukirimkan padanya, entahlah … mungkin terlalu cengeng, aku tak peduli. Ini pengalaman pertamaku bilang dengan jujur tentang ‘perasaan cinta’ dan bukan seperti permainan jaman duluku yang cuma ingin have fun dengan sensasi suka belaka. Mungkin aku sudah berhasil melewati satu tahap pencapaian diri menjelang usia ke 28, ya semacam ada sinyal di otak yang bilang, “sudah saatnya berhenti bermain – main dengan sensasi rasa” dan mungkin ini ungkapan cinta tergila yang pernah kubuat, karna kubuat dengan jujur dan memang tidak mengharapkan apa – apa. Jadi aku tak suka menyebutnya dengan “nembak cowok” ataupun ungkapan lain seperti itu. Aku lebih suka bilang, ini ‘tindakan jujur pada diriku sendiri dan memberi tahu orang lain apa yang kurasakan”. Itu saja. Tapi toh setiap orang punya penilaian masing – masing atas tindakan orang lain.
Ini bunyi pesan – pesan yang kukirimkan, mungkin terdengar sangat lucu. Tapi toh karna aku memang seorang “sentimental fool” yang kerap jatuh cinta tanpa pakai tali pengaman rasa, ya it’s me. Welcome to my life lah.
#1. “Malam Q, ini SMS serius dan sa tra bercanda dan bukan karena sapu bipolar. Sa minta maaf e harus bilang walau mungkin abis ini ko pasti ketawakan sa. Tapi sa harus berani bilang daripada sa + tra bisa tidur terus. Jujur, sa terlanjur JATUH CINTA sama ko dan itu alasan utama sa harus menjauh dari ko karena selama ini sa entahlah, sa tipu sa perasaan sendiri.”
#2. “Sa dulu memang cuma anggap ko sebagai teman, tapi entahlah lama – lama rasa itu ada dan menyiksa. Sa memang kagum sekali sama kaka target yang cool itu, tapi entahlah, ko pu kejailan dan sense of humor lama – lama mengikis kaka pu pesona dan sa malah kecanduan ko pu kelakukan yang ‘asal’ skali tuh. Sorry sa telat bilang. Sa minta maaf saja e terlanjur jatuh cinta bratz sedangkan ko hanya anggap sa teman.”
#3. “Sa tahu pasti ko ada ketawa mati sa karena SMS – SMS ini. Entahlah, sa capek saja merasionalisasikan sa pu hati dan otak yang lagi tra sejalan. Sa tidak bermaksud ‘bilang’ apalagi ‘minta’ ko jadi sa pacar. Tidak, sa cuma ingin bilang sa nyaman selama ini dekat dengan ko, nyaman cerita, curhat, baku maki. Tapi sa merasa jadi jahat karena seperti memanfaatkan ko jadi sa pu teman cerita dan curhat – curhat dan saat rasa itu berubah, sa tahu sa jahat skali sama ko.”
#4. “Sa tahu ko pasti lagi ketawa to? Sa cuma mo bilang, kalo ada waktu ko bisa kunjungi sa blog di (http://kisahhujanpagi.blogspot.com), cari saja yang tag-nya ‘cinta’ or ‘Q’. Sa cuma ingin jujur dengan sa perasaan akhir – akhir ini walau mungkin yang sa tulis tuh dari versinya sa.Btw, sa cukup tahu diri kok, jadi sa tra akan ganggu ko hidup lagi. Wish you all the best. Sa tra PD ngomong urusan begini jadi jangan telpon sa apalagi mo diskusikan tanya barang ini, karena sa tra akan angkat telpon. Sa lagi suka dengar lagu ‘PUPUS’nya Dewa karena liriknya lebih mewakili sa perasaan saat ini. Thanx”
Entahlah, usai mengirim pesan ini, ada kelegaan besar yang hadir. Paginya, Q membalas pesanku, dan aku membacanya dengan lega … at least dia tidak memakiku HAHAHA
“Thanx kaka. Welcome to real life (let’s break away, chains are unlocking. You have so many ways). Saranku, coba dengar lagu – lagunya Vamps yang merupakan self –project vocalist dari Laruku. Judul lagunya MEMORY, Angel TRIP, DUET PIANO, REVOLUTION n HORIZON, GlAmorous SKy . Mungkin ini bisa menjadi hiburan untukmu.”
Catatan ini mungkin terdengar cengeng, entahlah …. Aku tak peduli, walau ada rasa kehilangan yang cukup besar, seperti lirik lagunya Greenday yang ‘Restless heart syndrome’ tapi toh hidup harus selalu berlanjut ke depan. Pasti aku akan jatuh cinta lagi seperti ini, entahlah … apa di saat nanti, aku mau terikat ataukah memilih jatuh cinta seperti gaya ini, jatuh cinta yang entahlah … tanpa nama, tanpa ikatan, tanpa komitmen. Seperti aku mencintai alam, laut, hujan dan bau tanah, mungkin seperti itu perasaanku saat ini kepada Q. Cinta yang entahlah namanya.
Entahlah … mungkin tepat seperti yang dikatakan Yukako, tokoh rekaan Nova R. Yusuf dalam novelnya ‘Mahadewa Mahadewi’, pada bagian puisi ‘Rasa dan Masa’:
“Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.“
Malam ini, yang aku tahu … aku mendapat sayap – sayap kebebasanku kembali. Sayap – sayap yang membuatku lega, dan tak terikat pada labirin perasaan. Entahlah … aku merasa nyaman dengan rasa cinta seperti ini, walau hanya dari satu pihak. Setidaknya aku belajar jujur dengan diriku sendiri, belajar untuk bisa menjadi aku yang sesungguhnya. Toh seperti biasa, motto harianku masih terus berkibar, “I am Single and Very Happy”.
Aku memang masih akan terus jatuh cinta, karna aku sangat mudah jatuh cinta, walau mungkin tiap kali aku jatuh cinta, rasanya akan bervariasi, dengan bentuk cinta yang berbeda untuk tiap lelaki yang kutemukan dalam hidup. Walau jujur, di dalam hidupku sepulang dari Australia, ada role model yang selalu kulihat dan kuimpikan, seseorang seperti bro J yang menyemangatiku, peduli dan tentu saja yang percaya pada mimpi – mimpiku. Aku masih tetap mencari seorang pemimpi seperti bro J, seseorang untuk menemaniku melangkah ke depan, walau mungkin tak akan pernah kutemukan, toh aku akan menunggu. Walau mungkin akan melewati banyak proses jatuh cinta dan patah hati … toh aku akan tetap mencoba dan menunggu, karena bagaimanapun bro J pernah menjadi salah satu lelaki yang sampai kini aku menyesal mati tak pernah bilang padanya kalau aku JATUH CINTA BRATZ padanya, pada semua yang ada di dirinya.
Mungkin pengalaman dengan bro J yang membuatku lebih berani untuk bilang pada Q tentang perasaanku, tak ingin berbohong dan menyesal di kemudian hari, walau memang tak mengharapkan apapun apalagi komitmen. Dia tak akan pernah menjadi bro J, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua punya sisi unik masing – masing dan tak akan pernah dan tak boleh dibandingkan. Walau kadang – kadang, alam bawah sadarku menangkap sosok bro J dalam percakapan – percakapanku dengan Q. Dan itu yang mungkin salah satu faktor merasa nyaman yang buntut – buntutnya membuatku jatuh cinta pada Q, seperti menemukan seorang teman lama dalam diri orang lain, menemukan keping – keping yang pernah kita kenal. Entahlah … sejenis déjà vu dalam bentuk lain kukira.
Bro J sangat jail (mengingat aksinya menyodorkan urine Koala di Kenneth River ATAU membuatku mabuk untuk pertama kali dan difotonya HAHAHA, dan juga setelahnya, menarik – narik hood jumperku yang saat itu sedang berjalan melayang karena efek minum bir pertama kali di down town Melbourne tetapi kupaksakan diri berjalan tergesa - gesa menuju bis yang akan pulang ke Canbee; balap – balap sambil mengacungkan jari F-word ke kamera di jembatan penyeberangan di dekat Geelong), lucu (‘mengerjainku’ menerobos pagar rumah kosong dengan banyak pohon Apel di belakang rumah, mengecek apel – apel ranum dan Blackberries sambil berfoto dan ketawa walau akhirnya kabur ngacir HAHAHA), romantis (membuatkanku sarapan pagi dan makan malamku; mengajakku melompat pagar properti yang baru dibelinya menuju bukit kosong yang menghadap teluk di bagian bawah dan bercerita dalam sebuah senja bahwa di sinilah rumah masa depannya akan berdiri, di sana ia akan menanam pohon – pohon dll, sangat romantis!!!!), peduli pada perempuan (memelukku yang super duper the best hug I’ve ever had kala menemukanku ketiduran di sofa beranda belakang, menyemangatiku kala mendengar visaku ditolak karena alasan kesehatan dan menawarkan memberikanku referensi),
Bro J mungkin lelaki terlengkap yang pernah kukenal, sangat baik. Ia menghargai perempuan, punya gaya hidup hijau, hobi berkebun, pria rumahan, kakak pertama yang sangat bertanggung jawab atas keluarga dan saudara – saudaranya, seseorang yang penuh kejutan (menyiapkan pesta kejutan untukku di sebuah sore penuh hujan di Melbourne), peduli pada orang lain (Bersamanya berhenti di sebuah news agency dan dengan wajah peduli menelpon seorang teman lelakinya yang anak remajanya tabrakan frontal dan harus dioperasi, menawarkan bantuan dan mendengar dengan seksama dan terus menyemangati dan memotivasi sahabatnya) tapi yang paling kusuka dari bro J adalah idealismenya untuk menggabungkan antara perhargaannya pada HAM dan seni. Plus bro J punya selera musik yang tidak seperti kebanyakan orang … dan ia yang membuatku tertarik untuk melihat musik dari sisi yang berbeda, mencari apa yang kumau dan nyaman.*tertawa mengingat bagaimana ia mengajarku menyanyi dan bergerak di dalam mobil mengikuti hentakan musik berbahasa Portugis. Hingga kini, aku masih tak tahu kabarnya … kadang masih merindukannya, tapi toh seperti Q … ada lelaki yang memang aku hanya bisa jatuh cinta pada mereka dari jauh tanpa niat apapun. Bagiku, bro J seperti bintang yang akan selalu kurindukan kadang – kadang, jauh tapi terasa dekat di hati. A role model dalam mencari kekasih!!!!
Lamat - lamat kuingat pertanyaan Bro J saat kami berada di dalam mobil dan be-rollercoaster di jalan Great Ocean Road, kala ia bilang seharusnya aku sudah mulai memikirkan untuk membuat rumah di pantai seperti di pinggiran GOR, dan pertanyaannya yang membuatku sempat terdiam lama, sebelum menjawabnya, pertanyaan yang selalu kuingat dari bro J, “So, when will you marry?” Saat itu, aku hanya menjawabnya, mengangkat bahu, gelengan kepala dan jawaban yang kupikir sangat jujur, “I don’t know. Have no idea. Haven’t planned it yet. Still stick on my vision. I’m just afraid when I marry then I can’t fulfill my dreams. You know, it’s hard in my culture. You visited West Papua and you know, it’s hard when I marry and have to travel to the interior land or to the remote area, I’m afraid that my future husband will not agree with that idea. So, I still have no idea, anyway, I’m single now so don’t wanna bother with this stuff for a while.”
Akhirnya, malam ini, aku tetap percaya ….di ujung sana … usai hujan, di ujung pelangi, someday, someway, somehow, akan kutemukan lelaki pelangiku, seseorang yang entah siapa, mungkin bukan Q dan mungkin juga bukan bro J TETAPI yang mempunyai sifat – sifat mereka. Semoga saat itu, aku sudah siap berkomitmen. Entahlah … malam ini aku bahagia. Aku jatuh cinta, jatuh cinta lebih dalam pada hidupku.
Ya, welcome to the real life ….!!!
(Manokwari, 170811; pada sebuah subuh, dan mengingat mereka; bentuk ‘cinta’ yang menyemangati dan memotivasi tapi enggan kumiliki karena terlalu shining)
0 comments:
Post a Comment