Pantai Yenbebai atau yang dikenal dengan Pantai Pasir Putih Manokwari mungkin salah satu dari sekian pantai yang dikenal sebagai tempat wisata di kota kelahiranku. Pantai yang awalnya dimiliki oleh keret Meidodga dari suku Meyah ini dan mempunyai ciri khas sebuah mata air tawar yang kadang airnya terasa ‘salobar’ atau payau. Beberapa tahun terakhir, pantai ini dibeli oleh Pemda dan dikelola oleh Dinas Pariwisata dengan berkoordinasi dengan Dinas Pendapatan Daerah. Catatan ini sebenarnya bukan mau menyoroti lebih banyak tentang administrasi ataupun pengelolaan pantai tetapi ingin menorehkan pikiran – pikiran yang tertumpuk melihat apa yang tercecer dari beberapa pengalaman di pantai ini yang mungkin tidak terlalu menarik tapi sayang untuk dibuang.
Sang pemancing
2 hari lalu, pada sebuah Minggu yang cerah, aku dan seorang sepupu jauh pergi ke pantai di sore hari. Aku memilih tidak ‘mandi – mandi’* sedangkan sepupuku sudah menceburkan diri di laut. Sambil duduk di pinggiran pantai, kuperhatikan ke arah tempat sepupuku berenang, karna ini bukan seorang perenang yang baik. Tak dinyana, tiba – tiba seorang lelaki paruh baya, mungkin berumur 50 tahunan dengan cueknya melemparkan alat pancingannya yang kelihatan canggih karena rod-nya mirip dengan yang dipakai di acara ‘Mancing Mania’ di sebuah stasiun TV swasta ke arah pantai yang dekat dengan lokasi berenang sepupuku. Beberapa anak muda yang berenang kelihatan kesal karena si opa bercelana renang ketat warna biru ini yang tampaknya dari sebuah pulau dari luar Papua ini dengan cuek melemparkan pancingnya tanpa peduli bahwa di sekitar kail lemparannya itu ada kerumunan anak dan remaja yang sedang berenang. Sampai – sampai seorang anak muda yang hendak berenang membuat sebuah parodi gaya bila kail ‘nyangkut’ di bibir sambil membelakangi opa. Benar – benar ‘lelah hati*’ melihatnya. Aku hanya membayangkan bagaimana rasanya bila ada anak – anak muda yang tak sadar adanya kail di dalam air dan sedang sibuk snorkeling ataupun ‘molo*’ ataupun berenang dari sisi yang lain dan ‘tasangko*’ di alat pancingnya si opa. What a day!!!
Pembalap Pantai
Kejadian ini kualami 3 minggu lalu dalam sebuah sore di pantai Yenbebai. Pukul 5 sore baru beranjak sedikit dan dua anak muda dengan cueknya menurunkan motor mereka dari parkiran dan dengan cueknya memacu gas tinggi – tinggi di pasir pantai yang berwarna putih. Mereka berlagak seakan pantai ini adalah sirkuit balap. Tak nyana beberapa anak kecil sedikit takut bermain di pinggiran pantai dan orang – orang terkaget apalagi ada sebuah tenda pelatihan atlet selam persiapan Pra-PON yang sedang latihan. Untunglah usai seorang lelaki mengejar kedua remaja bengal ini dengan kayu, maka bubarlah acara balap di pinggir pantai. Aku hanya membayangkan apa yang terjadi bila ada bocah – bocah kecil yang tak sengaja berjalan menyusuri pantai dan tertabrak motor, padahal jalan raya hanyalah berjarak 3 – 4 meter di luar pagar pantai. Bukankah pantai yang garis batas air dan areal bermain pasirnya hanya sekitar 5 – 7 meter ini haruslah bebas kendaraan motor? Entahlah ….
Benen lover, benen ‘Keeper’
Benen atau ban dalam kendaraan motor yang dipompa menjadi pelampung mungkin juga salah satu ciri khas pantai Yenbebai. Di pantai ini, ada sekitar 5 – 7 tempat penyewaan benen yang harga tiap benen bervariasi dari 5 – 15 ribu Rupiah. Aku hampir mengenal semua pemilik ataupun penjaganya karena masih berkerabat dengan nenekku karena memang areal pantai dulunya adalah wilayah keret nenekku ataupun karena kenalan mamaku; mamaku mengajar di sebuah SD lokal di areal pantai ini sejak 28 tahun lalu. Karena kerap bermain di pantai dan bercengkerama di sini, ada beberapa cerita yang kudengar. Salah satunya tentang pencurian benen di antara sesama pemilik penyewaan.
3 minggu lalu seorang keponakan kecil bercerita tentang seorang pemilik benen di pantai ini yang suka mencuri benen pemilik yang lain. Umumnya benen – benen tiap penyewaaan diberi label cat minyak dengan warna berbeda satu sama lain dan nama untuk membedakan dengan milik penyewaan yang lain. Nah beberapa pemilik hanya mengikat benen mereka di pinggir pantai dan akan diangkut pada malam hari pulang ke rumah. Tapi tiap hari, banyak pemilik yang kehilangan benen mereka. Usut punya usut, benen – benen mereka tidak hilang dibawa pulang oleh penyewa tetapi karena ‘pindah kepemilikan’. Hal ini sempat terbukti dengan adanya dua lapis cat pada beberapa benen. Setelah diselidiki oleh pemilik yang diasumsikan sebagai pemilik asli, terdapat guratan nama mereka pada besi dan cat penyewaan mereka di bawah lapisan benen tersebut. Kata keponakan kecil ini, mereka sempat juga beberapa kali memergoki pemilik X yang menggerayangi benen – benen mereka di tempat penampungan sementara di pantai. Sayangnya aku tak tahu bagaimana akhir cerita selanjutnya. Entahlah …
Lain – lain
Masih ada banyak hal yang memang masih harus dibenahi dari pantai ini, ihwal pemancing, pembalap dan bahkan dulu sempat ada para pemain jet ski tak sadar diri di areal berenang tapi juga hingga keterbatasan parkiran, tempat sampah, sampah kiriman dari laut hingga manajemen kebersihan dan pungutannya. Tapi bagaimanapun juga, pantai Yenbebai dengan air yang kadang –kadang berwarna biru ataupun hijau toska tetap menjadi sebuah tempat terdekat untuk merasakan bagaimana bersatu dengan alam. Dan tentu saja … sebuah pelarian yang lumayan murah menikmati matahari hangat dan pasir putih yang tentu saja sebuah kesempatan merasakan sepotong surga bernama Pasifik.
(Manokwari 050711; usai hujan deras dan membayangkan nyamannya makan kelapa muda di pantai berpasir putih lembut dengan air hijau toska dan ditemani iringan ukulele)
Catatan:
Mandi – mandi: (Melayu Papua) Berenang atau bermain air seperti di Pantai ataupun di Kali.
Lelah Hati: Istilah ini idiolect-nya sepupuku untuk mengungkapkan sesuatu yang membuatnya merasa capai ataupun terbeban secara mental.
Molo: (Melayu Papua) Menyelam
Tasangko: (Melayu Papua) Tersangkut
2 comments:
saya pengagum tulisan-tulisanmu. tulisan2mu begitu encer... sa mau belajar darimu.... http://www.yerifile.co.cc/ Salam!
Thanx siz, cobalah tulis saja barang apa yang terlintas di otak, nan lama2 karna terbiasa, pasti siz akan pu satu ciri khas yang kalo tong baca skali saja, tong bisa tau itu siz pu tulisan. Sa cuma suka tulis karna ini terapi aman yang pernah sa baca di satu majalah, dan memang dibuktikan oleh sapu psikolog dulu ... Setidaknya lebih aman daripada kalo misalnya sa lagi ada beban baru sa pi maki2 ka pukul orang hehehe (dulu sa pu jalan keluar yang ekstrem misalnya balap2 gila2aan, coba olahraga ekstrem)
Sa pikir siz pasti bisa, mulai coba saja. Coba tulis pake metode 3 kata, misalnya pikirkan 3 kata secara acak dalam sebuah tulisan dan mulai kembangkan 3 kata itu jadi 3 kalimat, 3 paragraf dan akan berkembang. Misalnya skarang dalam ruangan siz ada 3 benda, katakan saja (pena, kertas, tas). Mulailah deng tulis ka gambarkan benda2 tersebut, akan pu penampilan bagaimana (baru/lama dll)m, dapat dari mana,mungkin beli, dikasi orang, momennya kapan dll, dan segala macam tentang 3 kata itu .... dijamin akan mengalir. Selamat mencoba!!!
Post a Comment