“Kontrol laki – laki terhadap reproduksi dan seksualitas tubuh perempuan merupakan aktivitas utama patriarki” (Mitchel in Humm’s feminist dictionary)
Kubuka lembar – lembar lama sebuah buku teori feminis yang kubeli beberapa tahun lalu sambil merenungkan baris – baris kata di atas. Sedikit menarik napas berat kala membaca bagaimana kadang di belahan dunia timur ini perempuan bahkan mempunyai kontrol yang sangat sedikit atas tubuh mereka sendiri, atas urusan seksualitas mereka. Catatan ini bukan untuk mendiskreditkan kaum lelaki, sama sekali tidak, karna di luar sana aku percaya masih banyak lelaki yang bertanggung jawab untuk urusan seksualitas. Tapi toh, tetap saja ada juga para lelaki yang sama sekali tak peduli urusan seksualitas yang melibatkan perempuan.
Beberapa bulan terakhir, ada rasa yang sering pecah di hati - campuran rasa sedih, kecewa dan juga miris - kala mendengar beberapa kerabat, teman, bahkan sekedar kenalan jauh yang mengalami benturan bahkan masalah sosial terkait urusan seksualitas dan reproduksi mereka. Bukan terkait dengan kemampuan bereproduksi tapi lebih ke masalah sosial yang mereka hadapi terkait dengan urusan ‘daging sepanggal’ itu. Anggap saja tulisan ke depan ini tak akan terstruktur. Hanya sebuah catatan lepas. Dan jelas … bukan catatan seorang malaikat!!!
Case #1
Ei, sebut saja ia begitu, tentu saja nama samaran. Aku memang tak mengenalnya secara dekat, hanya sambil lalu, namun terkadang mengamatinya diam – diam. Perempuan muda ini berasal dari keluarga yang cukup menopang hidupnya sebagai mahasiswi di kota kelahiranku. Setidaknya biaya jajan dan gaul dapat terpenuhi tanpa harus berpikir keras mencari tambahan dari luar. Apalagi ia juga sama sepertiku, perempuan yang lahir di kota buah – buahan ini. Ia mungkin bukanlah target tulisanku karena selama ini kuperhatikan ia tampaknya baik – baik saja.
Akhir – akhir ini, dari sumber informasi yang terpercaya, ia berbenturan dengan masalah urusan ‘daging spanggal’ ini. Usut punya usut, ternyata karena urusan ML alias ‘make love’ satu malam alias bercinta, there’s a baby-wannabe in her womb alias hamil. Catatan ini bukan untuk menghakimi si Ei, yang ingin kugarisbawahi adalah peran lelaki pencetak bayi ini yang mangkir dari tanggungjawab. Ini pertama kalinya si Ei khilaf, kehilangan keperawanan dan voila … dia hamil. Saat si calon ayah bayi dikonfirmasi, ia dengan cueknya bilang: “gugurkan saja, sa juga tra kasi ‘masuk’ mo … cuma di luar juga mo!”. Jawaban klise entah untuk membenarkan acara petting*-nya ataupun penetrasinya tapi faktanya si Ei yang naïf dan polos terlanjur hamil. Si Ei, pontang – panting ngurusin emosinya, sahabat – sahabatnya ikutan pusing dan si calon bapak cuek banget. Menghilang beberapa saat. Tak lama, si calon bapak datang lagi via sebuah pesan, yang ujung – ujungnya hanya ‘ngajak tidur’. What a life!!!
Aku tak tahu apa yang akan dipilih Ei, menggugurkan janinnya atau membiarkan anaknya tetap hidup. Aku tak tahu dan tak mau menghakimi. Whatever happen, semoga si Ei baik – baik saja dan semoga kemungkinannya bukan menikah HANYA demi si bayi. Bagiku pribadi, itu hanya sebuah kisah klasik dan mungkin perulangan kisah klasik tak bahagia yang dialami beberapa orang dekat yang kukenal sebut saja seperti dalam kasus berikut. Hanya tak ingin melihat si Ei yang manis menderita seperti beberapa perempuan lain yang kukenal!!!
Case #2
Er, panggil saja ia begitu. Kisah perempuan muda ini merupakan sintesa dari beberapa kisah perempuan lainnya seperti Tee dan Chi. Tiga perempuan muda ini mempunyai kemiripan kisah. Mulai dari terlanjur hamil, pendidikan berantakan dan menikah demi sebuah status anak mereka. Hasil akhirnya, ketiganya berhasil mengikat bapak si bayi dalam pernikahan, tapi toh tak menjamin hati lelaki terikat pada mereka. ‘Hanya untuk coba – coba’, kilah lelaki mereka. Selama pernikahan mereka seumur jagung, ketiganya punya masalah dengan relasi mereka dengan para bapak. Para bapak punya perempuan lain bahkan beberapa nekat mengajukan cerai padahal anak mereka belum lepas tiga tahun. Aku tak tahu apa yang dipikirkan para perempuan ini, tak tahu sebesar apa kesabaran mereka . Demi anak, mereka rela kehilangan masa muda, kesempatan pendidikan dan juga mengembangkan diri. Sedang lelakinya cuek saja ‘menjatuhkan celana’ perempuan lain yang kadang berbuntut kehamilan. Grrrrrrrr*ekspresi marah
Aku tak tahu apa yang dipikirkan ketiga perempuan ini, benar – benar tak habis mengerti , bagiku mereka masih punya pilihan lain, masih banyak jalan lain. Mungkin pada bagian ini aku sedikit menghakimi. Entahlah … Tak lama ini, aku mendengar, mereka bertiga sudah hamil lagi. Anak kedua mereka dengan lelaki yang sama; para lelaki yang suka berselingkuh dan tak ambil pusing akan tanggung jawab mereka. Mungkin seperti yang pernah kudengar dari seorang teman, katanya: “Anak pertama MBA* itu anak ‘kecelakaan’, kalo anak kedua tuh ‘anak pake ikat hubungan’”. Aku tak tahu, apakah mereka bertiga menganut juga paham ini. Aku tak tahu, itu pilihan mereka. Yang pasti, aku kadang menahan napas melihat bagaimana mereka curhat urusan anak dan juga tertatih – tatih mengerjakan pekerjaan mereka, bahkan berkendara dengan seperangkat perlengkapan calon bayi kedua sendirian sambil menjaga anak pertama. Saat mereka sedang pusing urusan kehamilan dan mengasuh anak, aku memantau suami mereka sedang asyik online di sebuah jejaring sosial mengumbar nafsu pada perempuan lain yang dipanggil ‘beib’, ada yang sibuk jalan nongkrong seperti bujang mencolek tangan mantan pacar mereka dengan pandangan mesra dan yang lainnya hanya ongkang – ongkang kaki cuek. What a life!!!
Case #3
Panggil saja Ia Twin. Perempuan Papua berusia 25 tahun bersuara lembut ini kukenal sejak setahun terakhir. Ia masih muda dan cantik. Tak banyak yang tahu ia mempunyai kisah kelam masa lalunya. Terlepas dari kisahnya, ia salah satu perempuan muda yang menginspirasiku akhir – akhir ini. Perempuan yang tak malu dengan kisah masa lalunya.
Aku mendengar kisah dari beberapa teman lama, kalau si Twin sudah hamil semasa remaja, baru tamat SMP kalau tak salah. Tapi ia memilih mempertahankan kandungannya dan lahirlah si bayi lelaki. Aku tak tahu bagaimana reaksi orangtuanya saat itu, karna memang tak dekat dengan si keluarga si Twin. Tapi aku salut pada suatu ketika di tahun lalu, saat aku bertemu ia dan seorang anak lelaki berusia SD, saat kutanya Twin, siapa bocah lelaki itu, Si Twin dengan pede dan semangatnya bilang, “She’s my SON” alias anak lelakinya. Dan anak lelakinya ramah menjabat tanganku.
Twin masih tetap ramah dan cantik, ibu muda … dengar – dengar ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki muda dari tanah ini pula. Entah lelaki itu adalah bapak si bocah, aku tak tahu. Yang aku tahu, Twin perempuan yang kuat, yang tak melepaskan pendidikannya hanya karena hamil di masa remaja dan tentu saja, tak mengikatkan diri di dalam pernikahan yang mungkin tak akan membuatnya bahagia saat itu. Dan juga …. Tak melepaskan janinnya di klinik aborsi hanya demi gengsi dan nama baik keluarga walau kutahu jelas, Twin berasal dari keluarga terpandang.
She’s so inspiring, tough, strong dan tentu saja … aku berharap Ei dan beberapa perempuan lainnya bisa berkenalan dengan Twin. Really a woman indeed!!!
Catatan tak penting ini mungkin akan berlanjut dengan kisah lain namun aku tiba – tiba teringat dengan sebuah pesan berisi pertanyaan ke beberapa teman, tentang ‘Bagaimana kita dapat tahu bahwa seorang cewek/cowok itu HOT di ranjang dan menggairahkan secara seksual TANPA HARUS melakukan kontak seksual dahulu?’ … Most of them bilang, tak ada cara lain … selain ‘uji dulu’ alias ‘having sex’. Well, kalau memang tak ada cara lain untuk mengidentifikasikan dan memang tak bisa nahan nafsu, untuk para lelaki, let’s express your Love (or LUST) with ‘rubber*’ alias SAFE SEX alias berhubungan seks pakai pelindung … Kasihan ceweknya! Derita dobol – dobol donk … walaupun seorang teman pernah bilang, ‘sapa suru mo kas turun celana, tahan nafsu tooo’. Well, sekali lagi, tak semua orang bisa nahan nafsu, tak semua orang bebas godaan dan almost semua orang pernah bikin kesalahan … dan tentu saja aku tak punya hak menghakimi.
Bagian ini tentu saja bukan untuk mereka yang bisa nahan nafsu, bisa bebas godaan dan so far masih perawan or perjaka ataupun yang berkelakuan malaikat .. Yang pasti, pada bagian ini pikirkan bagaimana dampak bila kapasitas tawar perempuan rendah atas aspek seksualitas mereka, alih – alih minta cowoknya pake pelindung, bisa – bisa cewek yang disalahkan kalau si cowok tertular Gonore* or Infeksi menular lainnya. Padahal kita tak pernah tahu seberapa banyak si cowok tidur sama siapa saja tak pakai pelindung alias kondom. Bahkan dari beberapa kasus yang ditemukan, pas si cewek minta pasangannya pakai ‘pelindung’ e si cowok berkilah, “nanti tra enak lah, tra nikmat lah blah blah blah” dan alasan – alasan lainnya yang menempatkan cewek dalam posisi tawar seksual yang rendah plus kadang pakai ancaman, “tong dua putus eee”. Kesimpulan akhirnya, tak ada pengaman ataupun pelindung seksual.
Tiba – tiba jadi teringat perkataanku tahun lalu pada beberapa rekan dan senior di unit kerja tentang sebuah paket kondom yang pernah kubawa - bawa di dompet karna merupakan paket yang kuterima sebagai mahasiswi baru di sebuah universitas di Australia (iya, paket mahasiswa baru termasuk paket kondon dan pelumas). Dalam candaan kubilang saja, itu untuk jaga – jaga, jangan sampe jalan – jalan or travelling trus dicegat pemerkosa, yang sudah berusaha dilawan eee tetap niat jahat juga. Kubilang saja dalam candaan, “Ya, kalo memang tra bisa melawan, sodorin tuh kondom saja, at least ko perkosa suda, tapi pake kondom, jadi sa kemungkinan kecil tertular IMS, ka HIV dan setidaknya sa jang sampe hamil saja.” ‘Kan tra enak pu anak muka sama deng orang yang perkotek tong lagi xixixixi’. Jadi setidaknya cukup sa cuma alami trauma psikis dan setidaknya jang sampe ada efek jangka panjang ke sa pu fisik. Setidaknya dari semua bahaya, tidak begitu jatuh dan tertimpa tangga. Anyway, ini hanyalah jalan keluar kecil dari skenario terburuk dan semoga tak pernah terjadi.
Urusan seksualitas dan kontrol perempuan atas tubuh mereka memang tak akan pernah habis dibahas. Tapi setidaknya, mari kita berpikir apa yang bisa kita buat bagi perempuan muda di sekitar kita. Mungkin kalau kelak kupunya anak, pendidikan seks sudah jelas masuk dalam kurikulum keluarga, kalau perlu, mereka akan kubekali : sepaket kondom, penyemprot cologne mini, pisau saku, dan tentu saja kudaftarkan sejak kecil ikut bela diri =D. Sekurang – kurangnya mengurangi beban ‘kepala sakit’ sebagai orang tua kelak. Quite a practical person indeed!!!
Terasa lebih ringan sekarang beban di hati usai tulisan ini kutranskripsikan. Untuk yang tak bisa tahan nafsu, let’s express your love with ‘rubber’!!!*Dilarang tersinggung =D
(Manokwari, 200711; thinking about young women who struggle against moral prejudices and social pressure, you r still BEAUTIFUL indeed!)
Catatan:
MBA (Inggris): Singkatan dari ‘married by accident’ alias menikah karena si perempuan terlanjur hamil.
Petting (Inggris) Istilah untuk hubungan seksual tanpa penetrasi, yang hanya merupakan persentuhan genital lelaki di luar vagina.
Rubber (Inggris). Rubber artinya ‘karet’ dan merupakan slang untuk ‘kondom’.
0 comments:
Post a Comment