Search This Blog

Loading...

Saturday, 30 July 2011

Perasaan tanpa wajah

Malam ini sebenarnya saya sudah harus tidur. Pil – pil anti malaria sudah saya minum sejak tadi walau efek Malaria belum terasa begitu mengganggu karena hari ini saya masih bisa kerja rodi cuci pakaian dan membersihkan kamar (walau hasil periksa darah saya di klinik pagi tadi sudah +Malaria Tertiana). Sudah selesai pula bercengkrama dengan keponakan saya yang baru 1 tahun 8 bulan sejak tadi. Semua ritual sebelum tidur di masa penyembuhan telah saya lakukan. Doa pun sudah saya lakukan sejak pukul 8 malam tadi. Tapi sekali lagi, entahlah … mata saya, otak saya dan segala perangkat tubuh masih tak mau tidur. Dan saya tahu, semuanya karena rasa ini, bukan cinta tentu saja. Tapi rasa yang selalu saya punya sejak beberapa tahun terakhir, rasa yang membuat saya selalu harus waspada, rasa yang membuat saya merasa harus tetap ‘buka mata, buka telinga’. Sebuah rasa yang bila saya terjemahkan menjadi seperti ‘be alert’. Seperti siaga 1 atau code red, ataupun pemancar radar saya sedang meraung – raung dengan bunyi sirene dan tak ada pilihan lain selain berdoa dan menuliskannya. Entahlah … setidaknya beban ini berkurang.

Berita – berita, isu – isu yang entah dari siapa, semuanya mengisi pembicaraan di lingkungan saya akhir – akhir ini. Dari isu penculikan anggota – anggota keluarga yang kadang dibarengi dengan hilangnya organ tubuh yang konon dilakukan oleh orang – orang bertopeng di Serui, hingga rumor meningkatnya kuantitas ikan di Muara Kali Pami hingga jumlah pemancing meningkat drastis (yang kata teman saya, Amos; kemungkinan karena pola migrasi beberapa jenis ikan tertentu). Belum lagi rumor tentang beberapa peselam bule yang keluar dari perairan pulau Kaki di Pantura Manokwari yang terpaksa harus dikirim ke UGD RSUD Manokwari karena mengalami kulit yang melepuh. Yang mungkin saja karena serangan Physalia; sejenis ubur – ubur (lagi – lagi penjelasan teman saya).

Selain itu, rumor yang beredar bahwa beberapa dapur rumah penduduk asli Papua di Pasirido yang disatroni orang – orang tak dikenal. Tentu saja juga adanya SMS, entah benar atau tidak berisi peringatan untuk anak muda Papua untuk tidak berkeliaran malam – malam karena isu penculikan dan mutilasi yang sadis dan brutal yang dilakukan oleh orang – orang tak dikenal dengan nomor mobil sekian – sekian. Semua rumor, semua isu, semua informasi, Semuanya dapat diperoleh dengan mudah dari bisik – bisik kompleks, gosip usai ibadah di lingkungan rumah ataupun acara batukar kabar. Dan sayangnya, kadang tak dicakup dalam tulisan – tulisan dua sisi, benar atau tidak, entahlah.

Sudah lama saya kehilangan rasa yang saya miliki sewaktu tinggal dan berkuliah di Australia. Rasa AMAN plus juga kenyamanan hidup dan tentu saja sebuah jaminan bahwa setidaknya suara saya akan DIDENGAR bila terjadi sesuatu karena pendapat saya. Rasa aman mungkin salah satu hal yang saya rindukan saat ini. Bukan karena saya penakut ataupun tidak mau mengambil resiko. Sama sekali tidak. Tapi saya merindukan hal itu untuk para keponakan saya yang masih balita. Entah apakah mereka akan pernah menyadari bahwa mereka hidup di tanah yang mendapat label merah di negara ini dimana banyak orang – orang tak bertanggungjawab yang mencari untung dari rasa tidak aman seseorang dan derita orang lain, ataukah mereka terbuai dengan rasa aman dan kenyamanan semu tanpa harus mempertanyakan, saya tidak tahu. Saya merindukan rasa AMAN di mana saya bisa melakukan apa yang saya inginkan, bisa berbicara dan berpendapat tanpa takut bahwa yang saya utarakan tidak akan berdampak negatif bagi diri saya, keluarga saya ataupun teman – teman saya khususnya terkait keselamatan jiwa.

Malam ini, saya sempat mengirimkan beberapa SMS pada beberapa teman dan kenalan, mencari secercah pengertian dan pemahaman tentang ‘perdamaian’ dan ‘keadilan sosial’ dan beberapa hal terkait , namun jawaban yang bervariasi dan mengambang membuat saya berpikir bahwa hal – hal absurd seperti ini kadang sulit kita jabarkan. Dan mungkin catatan ini pun tak akan menjabarkan apapun. Toh bukan sebuah catatan deskriptif.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada tanah ini, pada kota saya, pada hidup saya. Entah akan ada bencana alam, entah akan ada konflik berdarah ataukah akan ada stabilitas sosial politik yang terjadi, saya tidak tahu. Yang saya tahu, malam ini saya merasa tidak nyaman. Bukan karena malaria saya, bukan karena status saya yang pengangguran ON – OFF (walau minggu depan akan kembali lagi aktif bekerja), bukan karena hal – hal dalam keluarga saya. Saya merasa tidak nyaman karena entahlah … karena rasa itu kembali lagi. Rasa yang sempat saya buang dan sangkal pada musim dingin tahun lalu. Rasa yang mengonsumsi akal sehat saya dan membuat saya takut untuk hidup, merasa ‘dikutuk’ oleh sesuatu, untuk sesuatu.

Rasa yang sama, sudah dimulai sejak jam 8 malam saat saya sedang berdoa, rasa tak nyaman yang saya lihat. Saya melihat wajah seorang perempuan yang menginvasi benak saya. Saya pakai kata ‘invasi’ karena selama 5 menit lebih, ia muncul di dalam benak saya. Seorang perempuan muda Papua dengan rambut yang dianyam kulit kepala kecil – kecil, tampaknya dari suku pesisir pantai. Saya tidak mengenalnya. Dan ia menatap saya dengan ekspresi yang membingungkan saya walau terasa sendu dari pandangan matanya, dan saya enggan menatapnya, entahlah. Bukan takut, bukan sedih tapi tak mau menatapnya. Ia menginvasi kepala saya, benak saya dan membuat saya ‘diam babingung’. Dan kemudian hilang. Saya bahkan belum pernah bertemu dia, tak mengenalnya. Dan yang bisa saya lakukan hanya berdoa untuk dia dan juga diri saya sendiri.

Saya tak suka rasa tadi, kala benak saya diinvasi sebuah bayangan yang hendak saya hapus seketika tapi tak bisa. Seperti merasa tubuh saya ditelanjangi dan tidak ada kemampuan melawan. Rasa seperti itu. Seperti merasa ‘dikutuk’, menurut pandangan saya.

Entahlah … apa yang akan ditawarkan esok, saya hanya ingin menjalani hidup saya seperti biasanya. Menikmati hari dengan menjadi apa yang saya inginkan, setidaknya memiliki kekuatan untuk mengontrol apa yang saya pikirkan. Semoga tak ada lagi ‘invasi’ seperti tahun lalu.

Saya hanya ingin kembali dengan catatan saya yang penuh kata ganti ‘aku’ karena biasanya saya merasa jadi diri saya yang sangat ‘normal’ walau tak ada kejelasan tentang apa yang dimaksud dengan ‘normal’.

Yang saya tahu, malam ini saya sekali lagi disadarkan bahwa sudah setahun lebih saya kehilangan rasa ‘aman’ yang pernah saya miliki.

Welcome to Papua, May!!!

(Manokwari, 300711; struck by such feeling ….)

0 comments: