Search This Blog

Loading...

Thursday, 21 July 2011

Let's Ungkap

Andai Romeo dulu lahir di Papua, aku tak tahu apa yang akan dipakainya untuk merayu dan mengungkapkan perasaannya pada Juliet. Mungkin pula namanya pun berganti menjadi Romi ataupun pujaannya dipanggil dengan nama Yuli, entah lengkapnya dituliskan sebagai Yuliana, Yuliance atau mungkin hanya Yulia. Tentu saja dengan nama gaul yang mungkin berganti Yulex. Mungkin sepotong kasbi* bakar atau kelapa bakar bisa menjadi pengganti lusinan batang coklat ungkapan cinta. Tak ada mawar pun mungkin kembang Bougenvil baduri bisa jadi perantara cinta, ataupun kiriman sagu beberapa tumang* jadi sogokan ungkapan perasaan cinta apalagi ditambah beberapa ekor lau – lau asar*. Urusan perasaan, khususnya urusan ‘pengungkapan perasaan’ dari sebuah cinta yang sebut saja cinta Eros yang terjadi antara lelaki dan perempuan, memang jadi tema sentral dari abad ke abad. Terekam dalam banyak tulisan fiksi bahkan laris manis jadi tema sentral musik abad ini. Hitung saja berapa banyak kanak – kanak sekarang yang mungkin lebih paham lagu cinta berisi ungkapan hati apa yang lagi top di TV dibanding lagu kebangsaan bernada patriotik.

Urusan pengungkapan perasaan pada lawan jenis ataupun sejenis yang disukai, punya banyak cara dan media kerap sukses membalutnya jadi bahan jualan. Beberapa tahun lalu, sebuah acara show televisi mendukung para ‘pasukan berani mati’ yang mereka danai untuk melaksanakan misi ‘kamikaze’ bunuh diri perasaan di layar kaca; sebut saja acara ‘Katakan Cinta’. Belum lagi judul – judul lagu seperti ‘Jadikan Aku Pacarmu’ milik SO7 ataupun senandung KrisDayanti dalam ‘pilihlah aku jadi pacarmu’. Semuanya mengumbar perasaan dan untung – untung bisa jadi ajang ‘unjuk diri’ sebagai target dan kandidat potensial pendamping hati target.

Pengungkapan perasaan memang agak sulit diterjemahkan. Tak ada rumus pasti dalam tahap eksekusi. “Lain lubuk, lain ikannya”, kata sebuah pepatah Melayu. Tentu saja yang dibahas para cowok di sebuah bar di film ‘the Good Guys’ tak bisa diterapkan di sebuah acara goyang a la rave Party di Manokwari. Ada yang harus pakai ‘air kata – kata*’ agar bisa ngoceh dan aspirasi cinta tersalurkan. Ada yang cinta setengah mati tapi perasaannya ditekan sekuat mungkin dan menampilkan tampang cuek, padahal perasaannya diungkap pada sejumlah teman dan kenalan si target, sampai – sampai si target kerap diganggu sebagai Mrs XXX *mengutip famnya si ‘penaruh hati’. Ada yang nekat menjadi cowok yang dibenci setengah hidup oleh si target karena selalu menjadi manusia biang c***mai penyebab naiknya tensi darah balapan. Toh semuanya hanya karena urusan ‘perasaan cinta’ yang hendak diungkapkan. Ataupun yang mengumbar rasa penuh senyum jumawa walau sih target jijik setengah mati dalam hati menolaknya.

Seorang teman pernah bilang padaku, “Neh jang pernah ungkap ke cowok, May. Itu hal terbodoh yang dilakukan, apalagi ko kan cewek”. Tapi, seorang teman yang lain, bilang dan mengutip slogan provinsi Papua Barat, “Beh kalo bukan sekarang, kapan lagi. Kalo bukan ko, masa sa? Nih su emansipasi!”. Entahlah menurutku, sah – sah saja pendapat mereka, toh semuanya disesuaikan dengan si target. Kadang kalau targetnya memang ‘otak kras’ karena ‘tra bisa kopeng sinyal bagus, mangkali memang SMS tra mempan, jadi mungkin harus miskol perasaan kapa eee’ alias nembak langsung. Atau seperti yang pernah diceritakan seorang teman dekat dengan mengkonfirmasi langsung pada yang bersangkutan, “Kaka, sa mo tanya, tuh maksudnya anana panggil sa deng nama ibu X*(famnya si bersangkutan) tuh apa eee?” Yang dijawab si bersangkutan, sebut saja Mr X dengan ujaran singkat, “Ah mangkali dong salah orang kapa…” Padahal si cewek mendapat banyak ‘ungkapan’ laporan dari berbagai pihak tentang perasaan si Mr X kepadanya. Mungkin saja sinyalnya atau nyalinya kurang kuat ya!!!*mikir.

Mungkin saja kelak satu hari nanti, aku akan punya cukup keberanian seperti teman dekatku untuk bertanya langsung pada si target. Toh mungkin itu pilihan terakhir karna bagiku urusan perasaan itu seperti mood alias suasana hati yang kerap berubah. Dibanding pusing menanggung konsekuensinya nanti, lebih baik menikmati rasa nyaman di hati untuk konsumsi diri pribadi tanpa terbeban dalam sebuah status untuk beberapa saat. Mungkin juga karena “gengsi nembak duluan”. Atau mungkin seperti parodi slogan provinsi ini yang kerap dikumandangkan adik lelakiku yang biang bikin istilah baru, “kalo bukan sekarang, ya …. Besok too. Kalo bukan kitorang, ya orang lain saja too. Susah sampe ….!!!”

Akhirnya, seperti yang beberapa kali kuutarakan pada sahabat – sahabatku tentang urusan pengungkapan perasaan, “Aeh kalo memang cowoknya tra jelas kasi sinyal, tra bicara …. Ya suda … epen ka artinya memang nyalpex alias nyali pecek!!!”. Ragu – ragu mundur saja …!!! *sambil mendendangkan lagunya si Oppie ‘I am single and very happy!’

Menurut anda?

(Manokwari, 200711; inspired by bunch of texts)

Catatan:
Air kata – kata: (Melayu Papua) Slang untuk minuman keras khususnya buatan lokal alias minuman yang dapat
Asar (Melayu Papua: sejenis proses pengolahan makanan dengan mengasapi dengan asap dari bara api.
Kasbi: (Melayu Papua): Singkong
Lau – Lau: (Melayu Papua): Wallabi.
Tumang: (Melayu Papua) Wadah penyimpan sari pati pohon sagu yang terbuat dari anyaman daun pohon sagu. Sering dijadikan sebagai satuan penghitung tepung sagu.

0 comments: