Satu minggu terakhir aku mulai menghindari menonton berita televisi yang bagiku lebih seperti dagelan politik; siapa pemain, siapa sutradara menjadi kebetulan terencana. Silih berganti berita pengalih isu seakan mencuat keluar, sedang di berbagai tempat di negara berbentuk republik ini jumlah orang sakit bertambah, orang miskin meningkat dan manusia – manusia lapar menjamur. Krisis energi yang mulai mencuat, lingkungan yang sedang menuju tahap kritis dan ketidakadilan, sedang di ujung sana, di sebuah tempat yang makin terpolusi dan macet, para petinggi bangsa sibuk membela kepentingan partai dan kepentingan pribadi.
Tiba – tiba aku bertanya pada diri sendiri, bukankah para petinggi dan pemikir manajemen negara ini merupakan sebuah purwarupa dari dagelan hidup yang hanya berisi miniatur ‘homo homini lupus’nya Thomas Hobbes alias ‘manusia adalah serigala bagi sesamanya’. Toh tak ada langkah yang cepat dilakukan untuk perempuan – perempuan yang rela jauh dari keluarga demi menjamin kepulan asap dapur mereka tetapi sedang menanti jadwal dieksekusi di jazirah kering berjuta kilometer dari tempat mereka lahir, dan bahkan juga ada ratusan orang – orang di ujung timur negara ini yang kisah pembantaian mereka dalam 5 tahun terakhir seakan diacuhkan dan disembunyikan walau nyata terjadi, ibarat hanya iklan televisi yang bisa seenaknya dialihkan dengan drama Korea di saluran TV lain. Malam ini kala menuliskan catatan ini, aku kerap bertanya, apa yang ada di pikiran para tete, kakek, opa, nene, nenek dan omaku bila mereka berada pada zamanku ini, 2011 dan melihat dari sebuah sudut pulau bernama Papua yang pernah sekali menjadi tanah merdeka tanpa tuan; penuh ikatan – ikatan kasat mata dengan alam mereka berdiri dan bernafas. Aku bertanya!!!
Para tetua yang membentukku menjadi aku yang sekarang hanyalah kukenal dari foto - foto usang hitam putih yang termakan waktu, terkikis bakteri pengurai hingga wajah mereka menjadi begitu buram. Mereka bertemu dalam lembar – lembar hitam putih, saling menyapa dalam susunan foto usang berdebu di lemari keluarga, dalam diam dan tanda tanya, menyimpan rasa dan keluh mereka dalam kubur yang termakan waktu. Aku membayangkan tiga lelaki renta dari tiga pulau yang berbeda bertemu dalam sebuah jamuan minum teh sore. Seorang Jawa yang mengisap rokok kawungnya, bertemu seorang Maluku tua yang bergaya parlente berbaju yang sedang ‘in’ memegang sebotol bir dan ditemani seorang Papua dari suku pegunungan bergaya sederhana dengan baju warna merah dan seperangkat ‘mawi’* mencari ilham berbincang tentang anak cucu mereka di tanah bernama Papua, di sebuah tempat bernama Manokwari.
Aku selalu penasaran bagaimana mereka akan berdebat tentang pandangan politik mereka. Kakekku yang notabene pernah menjadi seorang pemimpin di daerahnya mungkin akan berdebat sengit dengan teteku tentang politik. Nilai Kejawen dan ego sukunya pastilah tak akan mau dikalahkan oleh teteku yang juga seorang pemimpin suku. Aku membayangkan opaku mungkin tak akan mau menunjukan pandangan politiknya dengan jelas tanpa tahu siapa kawan dan lawan, seperti yang terus diperbuatnya usai kehilangan pendengarannya akibat disiksa dengan suluran – suluran kabel listrik yang ditusukan ke dalam rongga – rongga telinga untuk kejahatan yang tak pernah dibuatnya di medio 1960an.
Aku membayangkan perdebatan mereka akan terus berlanjut tanpa sadar bahwa aku melihat mereka, melihat bagaimana tiap simpul DNAku pun saling melawan. Demi ego suku di KTPku ataukah demi pertalian kasat mata yang mengikatku dengan tanah ini lewat setengah bagian diriku. Mereka mungkin akan terus berdebat tanpa henti. Mereka mungkin akan terus melakukan pertandingan argumentasi dan tidak menyadari bahwa di tanah ini, kudengar, kusaksikan potongan – potongan gambar dan video, bahkan membaca dan mendengar dalam bisik – bisik tersembunyi tentang bagaimana ada mereka yang berasal dari tanah kakekku tanpa ampun membantai, menyiksa, bahkan membunuh lelaki dan perempuan yang berbagi ras dengan teteku yang tidak pernah melakukan kejahatan yang dituduhkan. Sedang mereka yang seasal dengan opaku kerap berdiri abstain mengambil sikap tak mau terlibat karena toh itu bukan urusan mereka. Ada yang pecah di hatiku saat melihat bagaimana nyawa manusia menjadi semurah ikan puri* ataupung julung* di musim panen di tanah kelahiranku.
Para tetuaku mungkin tak pernah sadar bahwa perang di tanah ini tak pernah selesai, masih tetap ada, masih tetap menyala. Bara perlawanan akan tetap diwariskan dalam tiap tarian, nyanyian, cerita, mop* bahkan dalam tingkah laku tutur dan semangat nyala mata. Bara itu akan tetap ada karena tak pernah ada penyelesaian, tak pernah ada pertemuan seperti acara minum teh para tetua dalam imajinasiku, tak pernah ada permintaan maaf untuk invasi dan okupasi, tak pernah ada penjelasan atas penculikan, penghancuran hidup, warisan nenek moyang dan kubur – kubur tanpa nama dan surat akta mati.
Mereka yang bekerja untuk atasan mereka dari tanah kakekku kadang tak sadar bahwa mereka mengabdi untuk raja ataupun sultan yang dzalim, menjadi seumpama para telik sandi yang disumpah di masa kejayaan Mataram, memberikan informasi, berita dan catatan tentang musuh yang sebenarnya bukanlah musuh, hanya orang – orang yang berbeda pandangan ideologi dan rasa kepemilikan. Andai mereka melihat para lelaki dan perempuan yang seras dengan teteku mempunyai hak penuh atas tanah kelahiran nenek moyang, tanah di mana plasenta nenek moyang dan mereka terkubur dan tulang belulang mereka kelak berbaur dengan tanah. Andai mereka bisa melihat bahwa bukan saatnya termakan sebuah sejarah palsu penaklukan demi gengsi kejayaan yang tak lain menjelma menjadi sebuah kerakusan penjajahan. Sudah saatnya membuka diri pada sejarah kelam bangsa ini, tanah ini demi sebuah dialog damai dari hati ke hati.
Aku kerap berpikir apa yang dirasakan oleh kaum kakekku bila berpuluh armada bangsa Kaukasia datang ke tanah mereka, memaksa mereka berganti kemben dengan baju – baju Eropa penuh renda, memakan keju dan membakar petak – petak padi mereka yang menguning siap dituai? Apa yang mereka lakukan bila tanah – tanah mereka dirampok, raja mereka dibunuh, perempuan – perempuan muda mereka menjadi pemuas nafsu buas tentara, dan teruna muda mereka mati dipalak di benteng – benteng Belanda? Yang aku tahu, dalam warisan sejarah mereka, dituliskan perlawanan tanpa henti bahkan membunuh panglima – panglima gagal kaum mereka sendiri dengan cara dipenggal bukanlah hal tabu seperti dalam temuan sejarah usai pasca serangan Mataram ke Batavia. Aku pun bertanya, bukankah mereka sedang menjadi serupa ‘kaum Kaukasia’ yang pernah sangat mereka benci dulu? Bukankah mereka menjadi serupa penjagal sekarang?
Yang aku tahu dan pahami, orang – orang seras teteku yang tinggal jauh di pegunungan sana, yang baru mengenal radio dan televisi usai bombardir perang dunia 2, yang menjalani hidup akrab dengan alam tak pernah meminta untuk menjadi ‘sekampung besar’ dengan kaum kakekku, karena mereka masih tetap melawan hingga sekarang. Bila mereka memang tulus dan cinta dengan kaum kakekku, mengapa selalu ada yang melawan, selalu ada yang dibantai, selalu ada benih – benih benci yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena memang tak ada cinta yang pernah ada, tidak ada ‘chemistry’, tidak ada panah – panas asmara yang tertancap di hati mereka. Semuanya jelas!!!
Aku tak tahu apa yang akan menjelang di masa datang, apakah neraka yang dibumikan dalam kepingan surga yang hilang di tanah ini? Ataukah memang ada kedamaian ‘gema ripah loh jinawi’ yang digadang – gadang kaum kakekku? Aku melihatnya buram, semakin buram melihat filosofi kedamaian yang mengejewantah saat ini. Yang kulihat hanyalah mereka yang digembor – gemborkan sebagai ‘the smiling people’ terus membantai dengan ekspansi kekuatan yang dibiayai oleh para pembayar pajak sepertiku demi sesuatu yang tak jelas dan nyata – nyata melanggar hak hidup lelaki dan perempuan berkulit hitam dan berambut keriting di celah – celah tersembunyi tanah ini yang lolos dari pemberitaan media.
Kita sedang perang, seperti yang dialami di masa para tetuaku. Kita sedang perang dengan otak, otot, syaraf kita, dengan semua yang ada pada kita. Padahal andai saja semua kita khususnya mereka yang sekaum dari kakekku dan juga mereka yang abstain dan tak lupa beberapa dari mereka yang menjual hak kesulungan kulit hitam dan rambut keriting mereka untuk melihat bahwa musuh bersama bukanlah orang – orang yang berpendapat berbeda dalam pandangan politik, bukan pula mereka yang mempertahankan warisan nenek moyang dalam kerangka tradisi, yang sekedar mempertahankan sumber air minum, sumber pangan dan papan mereka tetapi musuh bersama adalah kemiskinan global yang dialami, sikap korupsi dan pencurian hidup, kebahagiaan, malaria dan penyakit – penyakit endemik, kurangnya kepedulian pada pendidikan formal dan sarana pendokumentasian warisan budaya dan juga invasi budaya global dan gaya hidup hedonisme yang akan merampas warisan alam dan budaya bagi anak cucuk serta akses kesehatan yang buruk.
Bukankah kebencian tanpa henti, prasangka dan juga dusta tak akan pernah merujuk pada sebuah situasi ‘gema ripah loh jinawi’ ataupun surga yang terbumikan di tanah ini. Sudah saatnya duduk dalam sebuah dialog bersama dan membuka hati. Apa yang kau inginkan dan apa yang kuinginkan dan bagaimana mencapai titik tengah. Bukan saatnya saling membunuh hanya demi menunjukan siapa yang kuat dan berkuasa. Ibarat pernikahan yang dilandasi dari sebuah penculikan dan perkosaan dan diisi penyiksaan, sampai akhirnya pun tak akan pernah ada cinta. Pernikahan di depan Tuhan saja masih bisa cerai, kenapa hanya demi pengakuan ‘para tetangga’ tak bisa ada cerai? Kalau memang tak ada solusi lain yang bisa membahagiakan kedua belah pihak, mungkin cerai jalan terbaik, kenapa tidak kita lakukan? Daripada akan ada banyak ‘anak – anak’ hasil pernikahan yang terus dibunuh dan diaborsi. MARI MELAJANG!!! *sambil membayangkan argumentasi jamuan teh sore para tetua diakhiri dengan alunan lagu ‘Separated’ milik Usher.
(Manokwari 10 – 11 Juli 2011; this thought keeps bugging me lately, banging my mind constantly)
Catatan:
Julung: (Melayu Papua) Ikan roa, sejenis swordfish kecil.
Mawi: (Melayu Papua) praktek menenung ataupun meramal. Dalam suku mamaku, dilakukan dengan perangkat daun, air ataupun juga dengan mendengarkan semacam bisikan gaib.
Puri: (Melayu Papua) Ikan teri, semacam pelagis.
0 comments:
Post a Comment