Search This Blog

Loading...

Saturday, 30 July 2011

In the name of terror

Sebagai pengangguran banyak acara, tiap hari, pekerjaan rutin saya adalah memantau berita televisi , surat kabar dan juga kadang – kadang di internet, walau saya akui, sejak pulang dari Australia, saya makin kritis melihat berita, tak percaya 100 persen dan tetap mempertanyakan tentang “kebenaran” walau entah apakah yang disebut kebenaran itu. Tak pernah seharipun saya melihat pemberitaan yang lolos dari berita yang menyangkut kekerasan, entah skala kecil, entah skala besar, belum lagi perang dan konflik. Dari berita kekerasan yang mungkin masuk kategori bad taste1 hingga yang bernada politis. Semuanya saya rangkum karena toh alasan saya menonton televisi adalah menonton berita, itu alasan pertama, selebihnya untuk nonton acara dokumenter, diskusi, dan kemudian film. Terdengar terlalu serius mungkin, apalagi saya bukan pengagum acara ‘gosip artis’; acara yang tak terlalu berdampak bagi kelangsungan hidup saya.

Ada satu titik dari pemberitaan ini khususnya berkaitan dengan teror khususnya teror psikologis yang kadang muncul walau jarang dilacak sempurna karena umumnya media hanya membahas dan melaporkan dampak dan akibat fisik dari sebuah teror, entah pemboman, peledakan ataupun tembak – tembakan. Dibanding membahas tentang isu teror psikologis, dampak dan bagaimana mengatasi rasa khawatir yang muncul itu. Setidaknya bagaimana berpikir positif menghadapi serangan teror psikologis ini.

Berita dan tayangan kekerasan ini khususnya yang mengenai teror, to some extent, saya terpengaruh. Bukan hanya dari apa yang saya baca dan lihat di berita televisi, tetapi dari apa yang saya lihat dan rasakan setiap hari karena saya tinggal di salah satu tempat yang dikategorikan sebagai salah satu tempat dengan jumlah pengamanan tertinggi di negara ini dengan rasa aman yang semu. Alasan politik, tentu saja.

Di tanah saya, teror yang terkait kekerasan bukan barang baru. Mungkin juga jadi bagian dari hidup sehari – hari. Saya tahu, di masa lalu daerah saya adalah daerah operasi militer. Toh katanya usai kejatuhan Orde Baru semuanya telah berubah. Tapi saya tidak percaya. Karena apa yang saya lihat dan rasakan, lebih terasa sebagai sebuah ‘ketakutan kolektif’2 yang mendarahdaging, entah kepada siapa. Ambil contoh kecil saja, beberapa hari ini saja orang – orang di lingkungan tempat tinggal saya, khususnya orang asli Papua, heboh dengan SMS berisikan peringatan dan ancaman untuk anak muda Papua untuk jangan keluar larut malam karena isu penculikan dan mutilasi, entah dilakukan oleh siapa. Juga untuk waspada menjaga anak kecil mereka karena rumor penculikan organ dan anggota keluarga di kota lain (Serui) oleh orang – orang bertopeng. Isu penculikan, yang sayangnya memang sempat terjadi beberapa kali tahun lalu pada beberapa tetangga di lingkungan saya, yang notabene korbannya perempuan.

Sejak saya kecil, saya diajar di dalam lingkungan tempat saya tumbuh untuk takut pada berbagai bentuk teror khususnya teror psikologis. Mulai dari jangan bermain terlalu jauh dari rumah karena penculikan ‘potong leher’ alias potle3 yang gemar menculik anak kecil untuk dipenggal kepalanya guna tumbal pembangunan jembatan. Kami juga diajar untuk takut dengan isu teror seperti MK4, Klaarce5, kuntilanak yang beroperasi hingga beberapa dedengkot suanggi6 yang berkeliaran mencari anak kecil yang entah benar atau tidak bila dilihat pada konteks sekarang dan membuat acara ‘bulan terang’ tak seelok seperti yang saya rasakan di masa dewasa karena kami tak boleh berkeliaran sesuka hati.

Semasa remaja dan dewasa ini, sejak setahun lalu saya kembali, saya semakin sadar bahwa saya hidup di tanah yang penuh teror fisik maupun psikologis. Pendapat saya bila saya kemukakan dengan jujur salah – salah akan jadi bumerang bagi diri saya ataupun keluarga. Kemungkinan teror dan dampak buruk dari berpendapat jujur bukan barang baru, tentu saja. Misalnya saja, sudah ada beberapa contoh yang terjadi di tanah ini, ataupun di negara ini:

Bila saya mengatakan suku X atau suku Y dengan label derogatif ataupun dengan nada sedikit jujur tentang sikap mereka, saya wajib menanggung resiko, walau yang saya kemukakan mungkin jujur untuk kasus-per-kasus dan bukan membuat sebuah generalisasi tapi toh berbahaya juga. Apalagi bila dikaitkan dengan konsep neo-tribalisme. Bukan hanya rumah yang bisa jadi abu, tapi salah – salah nyawa pun naik kereta ekspres ke dunia lain.

Bila saya mengatakan pendapat saya tentang kebijakan sosial dan politik yang terkait agama atau kepercayaan X atau Y dengan nada berbeda dan sedikit liberal, saya bisa mendapat pandangan mencibir seakan saya seekor anjing buduk Kaskado7. Ataupun salah – salah saya dicap Ateis.

Bila saya mengatakan pandangan politik beberapa orang sebagai hak mereka, salah – salah saya akan dicap sebagai simpatisan politik dari kelompok tertentu oleh oposan kelompok tertentu dan hak hidup saya berkeliaran dengan bebas akan terlacak, terpantau dan salah – salah nyawa saya bisa jadi taruhannya.

Bila saya mengatakan dan juga mencatat apa yang saya rasakan, apa yang orang lain rasakan, apa yang dilakukan oleh orang – orang X terhadap orang – orang Y apabila terkait dengan pembunuhan ataupun pembantaian atas nama ‘pandangan yang benar’ dan mendokumentasikannya serta menyebarkannya di media, saya percaya nama saya pasti sudah masuk dalam daftar hitam dengan tiket ekspres secepat mungkin bertemu Hades di Neraka sana.

Sayangnya, sampai saat ini, saya masih seorang yang hanya bisa mencatat seperti ini, memakai kacamata saya sendiri, merekam apa yang bisa saya rekam dan membuat sejumlah “fiksi – fiksi faktual8” yang tentu saja tak sanggup bersaing dengan milik mereka yang “memfiksikan fakta – fakta9”.

Sayangnya, saya masih hidup di negeri yang penuh ‘teror’ baik fisik dan psikologis. Saat menuliskan catatan ini, saya pun teringat sebuah kisah karangan Shakespeare berjudul ‘Othello’ yang pernah juga difilmkan versi modern. Bagaimana kebohongan bisa menjadi sebuah teror. Bukankah saat ini, mereka yang menyebarkan, merencanakan dan mengeksekusi teror berupa kebohongan, rumor dan hal – hal terkait ancaman kekerasan, entah terkait dengan politik ataupun ekonomi tak lain adalah para ‘teroris’? Mereka mencuri rasa aman orang lain.

“Why do people have to hurt and kill each other?” itu pertanyaan saya malam ini. Sama seperti pertanyaan saya yang lainnya, “Kenapa harus ada perang, bila damai bisa dilakukan?”.
Pertanyaan – pertanyaan yang sangat naïf, mungkin. Tapi tetap saya pertanyakan. Mungkin memang sedari dulu saya tidak pernah bisa dewasa di dalam melihat teror dalam kaitannya dengan konflik khususnya konflik bersenjata yang berbau kekerasan. Walau saya tahu teror sebagai alat dalam konflik, mempunyai siginifikansi di dalam mendorong konsekuensi positif dari sebuah perang. Misalnya saja, dengan adanya perang, maka di sebuah bagian negara X, akan ada tambahan pekerjaan di pabrik senjata, akan ada tambahan pesanan kerjaan di pabrik pengemasan makanan, konveksi, farmasi dan lain – lain. Mungkin saja para penjual makanan keliling, orang – orang kecil di dekat pabrik diuntungkan, begitu pula para pemilik pabrik dan lain – lain dan silahkan membayangkan siklus dan rotasi siapa yang diuntungkan. Sayangnya, semua keuntungan yang diukur dalam hitungan digit mata uang itu tampaknya dijarah dari banyaknya keringat, darah dan air mata dari jiwa – jiwa lain dan tentu saja, dari rasa aman orang lain.

Entahlah … catatan kali ini harus saya tutup juga. Toh saya tetap bertanya, apa memang kita menjadi terbiasa melihat teror sebagai wajah kita, hidup kita?

Mungkin saya naïf, entahlah. Tapi yang jelas, saya menentang penggunaan teror untuk membuat orang lain mengikuti apa yang kita percaya.

Yang pasti, ‘in the name of terror’?

Hell, No!!!10

(Manokwari, 300711)

Catatan:
1. Bad taste, istilah dalam jurnalisme merujuk pada pemberitaan berita yang memualkan perut, yang berkaitan dengan kekerasan yang sering dihindari dalam penulisan berita, misalnya menggambarkan dengan pilihan kata vulgar untuk menggambarkan kakek yang memerkosa cucu, perampok yang membacok korban, atau korban penculikan yang genitalnya dipotong – potong dll. Istilah didapatkan dari buku SGA ‘Trilogi Insiden’.

2. Ketakutan kolektif, mensintesa istilah teman saya, Ancilla Irwan ‘Amnesia Kolektif’.

3. Potle (Melayu Papua) Istilah di Manokwari pada tahun 1990an merujuk pada orang – orang tak dikenal yang menculik anak – anak kecil untuk dimasukan ke karung dan akan dipotong kepalanya sebagai tumbal pembangunan jembatan. Terkait erat dengan urban legend di Manokwari untuk ‘mayat penahan’ seperti ditengarai terdapat di Dok Fasharkan dan lokasi PKN (sekarang menjadi BLK).

4. MK, merujuk pada inisial nama seorang perempuan di Manokwari; Maria K. pada beberapa tahun lalu yang ditengarai sebagai seorang suanggi, semacam urban legend.

5. Klaarce, merujuk pada nama seorang perempuan yang menjadi semacam urban legend di Manokwari tentang seorang perempuan suanggi.

6. Suanggi (Melayu Papua) orang yang mempraktekan ilmu sihir, entah yang suka menenung, menyantet ataupun sekedar untuk mencari pelampiasan seksual dari korban. Mempunyai peran sosial yang bervariasi salah satunya sebagai alat kontrol e.g. sebagai pembunuh bayaran.

7. Kaskado (Melayu Papua) serapan dari bahasa Portugis, merujuk pada penyakit kulit yang ganas.

8. Meminjam istilahnya Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.

9. Meminjam istilahnya Seno Gumira Ajidarma dalam kumpulan esainya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”.

10. Meminjam ekspresinya Oprah Winfrey dalam film “Color Purple” (1984).

0 comments: