“Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta – fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan ………….. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.” 1
Kata – kata Seno Gumira Ajidarma di atas, khususnya yang kucabut paksa dari buku ‘Trilogi Insiden’nya seakan mampu menjawab kegundahan hatiku beberapa bulan terakhir, kala membaca berita di koran – koran lokal demi memantau peristiwa tertentu di tanah ini. Buku yang memuat tiga karya berbeda (kumpulan cerita pendek, novel dan kumpulan esai) semuanya berbau Timor Lorosae, seakan membuatku berkaca pada air yang mengalir. Entahlah … terasa begitu dekat, terasa begitu hidup dan seakan apa yang menumpuk di hati sedikit mendapat celah untuk keluar. Ada kemiripan yang kulihat antara setting buku ini dengan apa yang sedang kugumuli akhir – akhir ini.
Karya SGA (sebagaimana Ia menuliskan namanya dalam beberapa pengantar di buku ini) secara lengkap seperti ini baru kubaca sekarang, walau telah beberapa tahun mengenalnya lewat esai – esai perjalanan dan juga karya fotografinya di rubrik ‘Esai foto’ majalah Intisari. Semoga saja bukunya tidak semakin membuatku semakin ‘seno’2 menulis walau kutahu … tak ada pekerjaan positif yang dapat kulakukan kala malam memeluk bumi apalagi saat hujan turun selain menulis dan menulis … hingga kata lelah berselingkuh dengan lembar catatan putih elektronik ini.
Catatan ini hanya sebuah curhat pribadi yang mungkin juga bukan sesuatu yang spektakuler , boleh dibuang, disimpan pun tak apa. Anggap saja catatan seorang pengangguran yang tak bisa tidur cepat. Mungkin sebuah lullaby alias penina bobo sebelum sel – sel kelabu otak mengambil jeda barang sejenak.
Ada beberapa peristiwa yang kudengar langsung, ada pula yang kusaksikan dan ada juga disalurkan untuk kudengar dalam acara obrolan sore dengan beberapa teman. Kami bukan pengamat, hanya tak bisa saja melihat sesuatu terjadi di depan mata tanpa dibicarakan dan dikupas, tentu saja bukan dengan silet ataupun cutter, toh kami tak lihai mengolahnya. Kami hanya bisa memakai kata dan ekspresi kami, sebuah alat yang mungkin akan hilang kalau kami mati ataupun kehilangan lidah dan tangan.
Malam ini yang pasti, aku akan kembali menulis, toh seperti yang kukatakan lagi di atas dan juga terekspresikan dalam beberapa catatan harianku beberapa hari lalu, aku masih marah yang tersimpan jauh di dalam hati, marah yang harus ditranskripsikan keluar, akan berubah menjadi huruf, sebuah simbol yang memindahkan rasa dan makna. Entah akankah berselingkuh menjadi sebuah tafsiran yang dimaknai politis, ataupun sekedar uneg – uneg … aku tak tahu. Yang pasti aku hanya ingin menuliskan beban. Seperti juga sedang terbuai kutipan dari Seno Gumira Ajidarma ini:
“Seberapa jauh pembantaian orang – orang tidak bersenjata boleh didiamkan, demi kepentingan apapun dari sebuah lembaga manapun? Saya ingin mendengar jawaban.3”
Ya …. Akupun ingin mendengar jawaban!!!
(Manokwari, 230711; tengah malam dalam diam dan emosi yang naik turun)
Catatan:
1. Ajidarma, Seno Gumira. "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara." Ajidarma, Seno Gumira. Trilogi Insiden. Yogyakarta: Bentang, 2010. 325.
2. Seno (Melayu Papua) Gila, sinting, kehilangan akal sehat dan perilaku 'normal'
3. Entah ini dari halaman berapa, yang pasti dari buku 'Trilogi Insiden'nya Seno Gumira Ajidarma.
0 comments:
Post a Comment