Di bawah pohon – pohon Poplar,
Di atas rumput – rumput hijau dan saputan angin, kupegang beberapa buku tebal, catatan – catatan tua yang tergores dan termakan waktu, foto – foto usang beberapa dekade silam, menyulam kata menjadi makna, membenamkan semuanya dalam benak; mengkristal. Lembar demi lembar, kubaca, kubuka ulang, kuresapkan kata – katanya ke dalam makna, kutinjau ulang, kutuliskan dan kusimpulkan.
Di bawah pohon – pohon Birch,
Magpie terbang menyambar mencari potongan sandwich terakhirku, melihatku yang sedang membaca beberapa kata, kalimat, paragraf dari beberapa buku. Mataku berlari kencang meresapi tiap makna dalam berbagai bahasa; dari Inggris ke Indonesia ke Melayu Papua dan terus berulang – ulang. Tanggal – tanggal dan fakta berlari terus, mengisi rekam jantungku, tarikan nafasku, membuatku sesak nafas, membuatku lelah hati, membuatku terasa berada:
Di bawah pohon – pohon Mangga,
Kala rumahku baru saja habis dibakar, tetua kampung menandatangani surat – surat yang tak dibaca mereka, kala lelaki – lelaki tua digiring keluar dari rumah dengan bunyi dentaman popor senapan di tengkorak mereka, kala jejak – jejak sepatu kulit memberi cap basah di punggung mereka, kala bunyi pelatuk senapan mengisi ruang dengar; pecah, bising, berdarah;
Di bawah manggewa – manggewa,
Kala tubuh – tubuhku yang rusak mengendap mencari penghentian, kala – kala potongan – potongan badan saudaraku, saudariku, famili, kerabat, anakku dan orang sekampungku mencari perlindungan dari ombak, kala potongan tubuhku dan orang – orang ini diberikan sebuah penyangkalan identitas usai sehelai kain bergambar bintang terbang menari di udara, kala kami hanyalah dianggap penggalan – penggalan daging tanpa makna yang menjadi makanan ikan; tanpa suara, tanpa nama, tanpa sebuah pemakaman;
Di bawah pohon – pohon kayu spuit,
Kala rumah – rumah berdinding rumput kami baru saja dibumihanguskan, kala perempuan kami baru saja selesai diperkosa di depan mata kami, kala lelaki – lelaki kami baru saja disodomi dengan puntung – puntung bara api, kala tete – tete kami baru saja muntah darah usai tanya – jawab tanpa kesimpulan, kala ternak – ternak kami berlari ketakutan diobrak – abrik, kala ladang – ladang kami diperkosa racun – racun yang ditanam, membuatku tertohok di jantung, tergugu, dan terdiam;
Di bawah gedung – gedung pencakar langit,
Kala aku dan saudara – saudaraku hanyalah boneka – boneka kertas yang hendak dimainkan dalam lakon dan usai itu kan masuk tungku perapian, kala sejarah dan silsilah dapat berganti rupa demi sebuah status politik dan kekuasaan, kala hak kesulungan kami dirampok dengan nyata di depan mata kami demi mereka yang lain; mereka yang mengaku lebih beradab, berbudaya, namun culas di hati;
Di bawah gedung – gedung berlabel rumah rakyat,
Kala suaraku dan saudara – saudaraku dianulir, diputihkan, diwarnai sesuai kehendak mereka, kala dusun – dusun sagu kami direlakan menjadi tanah pijakan mereka yang tak pernah menghargai seberapa lama dusun kami pernah dijejaki kaki – kaki telanjang nenek moyang kami, kala burung – burung surga tak lagi berwarna indah, dan kakatua enggan bermain, kala beberapa dari kami menodai sumpah nenek moyang dan menjual kami ibarat hewan buruan pada mereka yang tak pernah tahu darah siapa saja yang mengalir di tubuh kami, kala semuanya menjadi warna – warni aneh yang bias, suram dan kaku;
Di bawah meja – meja kantor,
Kala kulihat tangan – tangan beberapa dari kami menjual hak kesulungan kami pada mereka yang tak pernah berniat menyayangi kami, kala dana – dana kesejahteraan kami berpindah tangan pada mereka yang sudah lama tambun dengan uang – uang rakyat, kala mereka yang kupanggil saudara dan saudari karena berambut keriting dan hitam kulit mendustai kami demi paha putih dan gelimangan digit rekening yang semakin membengkak, kala mereka yang pernah sama – sama makan dari dusun sagu, dininabobokan kali kecil bening mengangkat suara menyangkal, menjual dan menggadaikan kami, dan membuatku melihat:
Di bawah lambaian bendera partai dan spanduk kampanye,
Kurasakan bahwa mereka tak pernah peduli, mendengar, bahkan melihat apa yang kulihat. Hanya janji kosong, tipuan klasik dan juga air mata buaya yang mereka sodorkan, takkan pernah sama, takkan pernah ada lagi cinta yang mereka taburkan. Membuatku tiba – tiba merasakan rasa yang sama dialami tanah ini kala Mananarmakeri *pergi berlayar jauh:
“Sye binyedi, wabur farbuk, Faro snombesesi rasine yaswar au fama,
Imbape yabor yaberari. Binyedi, sye binyedi, wabur, yabe snon beser,
Ryo rynsa mansren raso au rao, Insof, insof, fioro”*
(Manokwari, 070711; a sudden feeling for my land; inspired by books I read when I was in OZ while I was studying under the birch tree)
Catatan:
*Mananarmakeri: Seorang tokoh dalam legenda dari pulau Biak.
** Penggalan lirik lagu Binyedi; Pencipta tidak diketahui oleh penulis.
2 comments:
Suka sekali, terima kasih berbagi denganku.
Sa selalu rutin kunjungi blog ini lo... setahun terakhir ini.
Trims
Arie May
Thanx lagi walau sebenarnya sa bikin blog ini dulu hanya untuk konsumsi pribadi hehehe, hanya untuk jadi alat terapinya sa saja, ya biasalah ... karna pengangguran banyak acara jadi terlalu banyak pikiran yang melompat2 sana - sini dan perlu drapikan jadi ya harus diterapi deng menulis *itu kata sapu psikolog =D
Sa biasanya sih pantau siz pu tulisan di Yas, kayaknya siz dari latar belakang kesehatan ka ini ^__^ *asal tebak
salam kenal saja eeee
Post a Comment