PROLOG
Mereka bilang aku aneh, seaneh gayaku. Toh aku tak peduli dengan pendapat mereka. Bahkan keluargaku pun menganggap aku aneh. Mungkin karena aku pecinta warna merah muda dan kerap memakai pakaian dari tren terbaru. Apalagi kaos – kaos berwarna cerah. Entahlah. Mungkin memang mereka tak bisa memahamiku. Remaja menjelang 17 tahun. Entahlah.
***
Dua minggu lagi aku akan berulang tahun. Semua orang di rumah mulai heboh bertanya tentang konsep ulang tahun yang kuinginkan. Mulai dari garden party* hingga ‘kewa’* alias pesta semalam suntuk. Tak lupa orang tuaku mulai sibuk menghitung biaya pestanya nanti. Tapi tak seorangpun menanyaiku secara langsung, tentang apa yang kuinginkan. Semuanya harus seijin mama atau bapa. ‘Badan malas ya’*!!!
Seperti sore ini, usai pulang kantor, beranda rumahku pun mulai ramai dengan hadirnya kakak lelakiku yang singgah.
“Jadi, bagaimana? Kaka su pesan bir sama beberapa Wiro* nih. Kalo milo* juga gampang, 10 liter juga kaka nan kirim. Kebetulan kaka pu langganan jadi, yang penting cuma anana dekat yang tembak akan eee”, tutur kakakku yang kebetulan suka mabuk.
Aku hanya mengiyakan saja, tak sanggup menolak atau membantah walau dalam hatiku tak merasa ingin ataupun perlu.
Tiba – tiba datanglah kakak perempuanku. Dengan gayanya yang khas dan bossy alias suka perintah sana – sini. Ia mulai mengeluarkan catatan dan kalkulator. Diturunkannya kacamata dan mengamatiku dengan seksama. Bolak – balik dilihatnya catatan dan perhitungan yang digagasnya. Terus memandangku. Tak heran dengan gayanya seperti ini, ia bisa jadi seorang akuntan yang baik di sebuah bagian keuangan kantor pemerintah. Tentu saja ia digaji lebih dari cukup karena di usia di bawah 30 tahun, ia bisa memiliki mobil pribadi, yang entahlah didapatnya dari ceperan halal ataupun yang tak halal. Aku tak tahu.
“Iyo, jadi berapa banyak yang mo diundang? Trus mo terima hadiah dalam bentuk uang ka kado, biar di undangan yang mo dicetak tuh jelas. Mo pesan pakaian di mana sama kuenya bagaimana ka? Sa skalian mo cari orang, biar ada yang bisa ‘opereter’musik juga. Sa juga mo undang sa paitua datang jadi, biar kewa* too”, ujarnya tanpa pusing dengan wajah orang tuaku apalagi kakak lelakiku. Semuanya seakan mahfum dengan status ‘paitua’nya yang notabene adalah suami orang yang sedang sibuk mengurus perceraiannya.
Aku pun cepat – cepat memberikan daftar teman yang kuundang. Tak lebih dari 20 orang, karna toh aku seorang cukup pemalu di kelasku. Tak banyak yang mau berdekatan denganku. Mungkin karena gaya atau sikapku yang dianggap aneh. Padahal aku hanya suka mengekspresikan diriku. Tak lebih.
Daftar yang hanya 20an itu ternyata beranak banyak seperti telur kodok yang menetas di kolam belakang rumah. Yang tercatat akhirnya menjadi 70 orang. Mulai dari kerabat jauh dan dekat, teman – teman dekat keluarga, teman – teman dekat saudara – saudaraku yang berjumlah 4 orang itu, dan bahkan orang – orang yang tak kukenal yang entah dipungut dari dunia mana oleh keluargaku. Aku tentu tak bisa mengharapkan sebuah pesta 17 tahun yang romantis dengan iringan musik jazz ataupun iringan gitar akustik saat meniup lilin ulang tahunku. Tak akan bisa. Semuanya berbeda kala aku hanya seorang anak bungsu dan dianggap aneh oleh lingkunganku.
***
Waktu berlari kencang dan pagi ini aku pun mulai menghitung degup jantungku. Ucapan selamat ulang tahun mengalir dari dalam kelas diiringi dengan acara lempar tepung hingga wajahku berubah ibarat adonan donat yang sedang dibanting – banting biar empuk. Aku tak punya pilihan lain selain pulang lebih awal. Apalagi teriakan selamat ulang tahun yang cukup mengganggu, yang mengabsen fitur diriku.
Tiba di rumah dengan tampang kacau, mama hanya memandangku dengan tatapan memerintah dan menyeretku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bukan karena kasihan. Tapi hanya untuk menyelamatkan karpet dan lantai yang baru dibersihkan.
Jam berlari cepat hingga simpul – simpul waktu terasa sulit diuraikan dalam kata – kata. Jantung berdegup tak karuan. Apalagi melihat persiapan makanan di dapur yang sangat melimpah. Seakan tak percaya kalau orang tuaku yang terkenal super hemat itu mau menghamburkan uang mereka. Apalagi aku sampai tergeragap tadi pagi mendengar percakapan kakak lelaki dan mama tentang biaya yang mereka keluarkan. Hanya demi gengsi keluarga. Tak lebih!!! Apalagi aku sudah mendapat surat dari universitas yang kubidik bahwa aku masuk tanpa tes. Semuanya hanya demi gengsi!!!
***
Tamu – tamu berdatangan. Dari sudut jendela kamar kuintip mereka. Kerlap pakaian mereka dan wangi parfum mengisi ruang hirupku. Entah berapa liter yang mereka semprotkan. Aku masih bingung menentukan tema pakaianku malam ini. Walau kakakku yang akuntan sudah menyiapkan pesanan pakaian di atas ranjangku. Tapi aku tak tahu. Entah akan memakainya. Entah tidak.
Tak sabar menantiku yang belum juga keluar. Mama bergegas masuk ke dalam kamar, melihatku yang hanya memakai pakaian dalam. Dipandangiku dengan pandangan yang bisa membuatku kencing celana. Tapi entahlah. Malam ini aku tak ingin mengikutinya keinginannya, pun bapakku apalagi saudara – saudaraku. Toh ini ulang tahunku. Yang ke 17. Tanda kedewasaan, kata mereka. Aku mau yang aku tahu dan inginkan. Tapi toh mama mencecarku dengan kata – kata yang menyakitkan.
“ Jadi, ko mo apa? Neh tong su kas keluar uang banyak jadi ko stop bikin gerakan tambahan yooo. Stop yo, daripada sebentar sa kasi kayu bakar nih pica di ko pu tulang blakang. Lebe bae gerakan pake pakaian dan keluar sambut tamu yoo.”
Aku hanya bisa menangis sesenggukan sambil memegang sebuah gaun merah muda pendek dari dalam lemari lengkap dengan pantyhose* bermotif tartan pink; gaun pilihanku. Tak lama kemudian kusampaikan keinginanku lagi, kali ini dengan suara histeris. Yang dibalas mama dengan sebuah tamparan dan suara histeris yang tak kalah pula. Yang aku tahu, kami pun saling mendorong tak mau kalah hingga kemudian semuanya terasa gelap. Sangat gelap. Aku tak sadarkan diri!!!
***
EPILOG
Samar – samar kuhirup aroma minyak angin yang dioleskan di depan hidungku. Mencoba memutar percakapan terakhir sebelum pingsan antara mama dan aku.
Aku: Ma, sa kan su 17 tahun too, sa bole ka trada pake lipstik?
Ma: Tra bole. Bukan berarti ko 17 tahun jadi pake akan. Pake pelembab saja.
Aku: Kalo pake ‘tali satu’ dan rok mini?
Ma: Jang coba - coba ee. Ko bunyi nanti.
Aku: Kalo legging untuk pesta ini?
Ma: Jang pernah eee. Tra cocok.
Aku: Kalo gaun ini? (sambil menunjukan gaun merah muda pendek yang kukeluarkan dari lemari)? Sa kan su 17 tahun toooo.
Ma: (Plak!!!) Tra boleh JONIIIIIIIIIIIII…!!!
(Manokwari, 020711; inspired by Fitri’s SMS)
Catatan:
Garden party
(Bhs Inggris) pesta kebun atau pesta di luar ruangan dengan konsep taman ataupun meja ditata di sebuah tempat dengan dekorasi kebun/taman.
Kewa
Istilah dalam Melayu Papua yang dipakai di Manokwari terutama di kompleks Fanindi Dalam untuk menyebut pesta dansa anak muda dengan kelengkapan lampu acara dan musik yang berdentum kencang dari perangkat pengeras suara. Biasanya diadakan dari malam hingga subuh, baik untuk merayakan ulang tahun maupun untuk momen – momen tertentu. Biasanya disertai dengan minum minuman keras. Istilah ini hadir sejak tahun 2000an, dan diambil dari penggalan lagu remix dari NTT dengan refrain yang berbunyi ‘kewa – kewa oooo’. Pesta ini sejenis rave party di mana tempat dan makanan bukanlah hal utama penyelenggaraan, melainkan musik.
Badan malas ya
Sejenis ungkapan dalam Melayu Papua untuk mengekspresikan rasa enggan.
Wiro
Istilah dalam Melayu Papua di Manokwari yang dipakai untuk menyingkat merk sebuah minuman keras ‘Whiskey Robinson’.
Milo
Istilah dalam Melayu Papua di Manokwari yang dipakai untuk menyingkat ‘minuman lokal’. Merujuk secara umum pada semua jenis minuman keras yang tidak diproduksi di pabrik dengan ijin BPOM.
Pantyhose
(Bahasa Inggris) Sejenis stocking tebal, biasanya mempunyai banyak motif.
0 comments:
Post a Comment