Musim hujan kembali datang, kali ini dengan jadwal yang tak tentu. Teringat bagaimana beberapa petugas peneliti tanaman obat dari sebuah LSM yang berkunjung ke kampung kami berujar tentang kebencian mereka pada lintah daun yang kerap menempel di punggung, kaki, tangan, hingga selangkangan mereka di kala musim hujan dalam perjalanan menuju kampung kami. Membuat gerah, jijik dan sakit namun sulit dilepas. Lintah – lintah musim hujan. Aku jadi mengerti sekarang.
***
Hari ini aku bangun dengan tubuh sedikit memar usai jatuh kemarin di kebun dekat kampung. Kampungku masih terasa lengang seperti biasa, kala fajar baru membuka hari dengan semburat jingga di langit kelam. Beberapa perempuan sedang berjalan pelan, mengangkat jerigen – jerigen* plastik mereka menuju mata air, jalan setapak yang mereka lalui tepat berada di depan kintal* rumahku. Kebanyakan rumah di kampung kami tak mempunyai perigi* sehingga air hanya bisa dijangkau dari mata air yang ada di dekat dusun sagu.
Kurapikan alas tidurku yang sederhana. Hanya tempat tidur bambu dan anyaman daun tikar dan beberapa bantal berisi serabut buah kapuk. Tek – tek* bantal yang mulai menghitam bekas keringat, entah kapan kuganti, tergantung jualan tumang – tumang* sagu kami di kota kecamatan minggu nanti, tapi aku sangsi, karna anakku Ros juga butuh uang masuk SMP tahun ini; SMP di kota pemekaran.
***
Pasar kota pemekaran berada di ujung sebuah muara penuh lolaro* dan liang – liang karaka*, dengan bangunan – bangunan semi terapung. Turun perlahan dengan katinting* penuh tumang – tumang sagu, kuperhatikan wajah Ros yang tampak ceria dengan jejeran rambut keriting kecilnya yang diikat rapi. Usai membayar ongkos katinting kepada oom Jeko, kuperhatikan sepupuku; Tius, yang sedang berjalan dari ujung dermaga kayu. Tak perlu waktu lama, ia dengan bantuan anak lelakiku menaikan tumang – tumang kami ke atas gerobak yang sering ia pakai mendorong jerigen – jerigen air untuk warga di pemukiman baru kota pemekaran ini.
“Bapa Etus, nan satu tumang nih biar untuk bapa Etus dong satu keluarga eee. Sory sa tra bisa bawa lau – lau* asar jadi, minggu kalamarin Ros bapa dong pi berburu tapi cuma dapa satu ekor saja, baru Ros de pu ade yang baru sembuh de mo akan jadi, begitu suda … tapi sa ada bawa ikan rawa asar ini dua tali untuk dong di rumah”, kataku menyapa sepupuku dengan menyebut nama anaknya. Berbicara tentang sebuah ‘sogokan’ halus untuk keluarganya. Bagaimanapun tak sopan bila menitipkan anak perempuan tinggal di sana tanpa sebuah buah tangan.
“Ah tra papa. Jang sampe bikin kam repot lagi. Tapi terima kasih banyak eee. Tong lagi nih su lama tra pulang kampung jadi, maklum too, skarang tong tinggal di sini juga makin lama barang – barang makin mahal jadi untuk pulang sering – sering satu keluarga juga bikin tong masih pikir – pikir, takut tong pu pelanggan air ini nan dong lari ke orang lain jadi, begitu suda … ”, tukasnya menanggapi perkataanku.
Usai basa – basi di jalan dengan beberapa kenalan sekampung yang pindah ke kota, akhirnya kami pun tiba di mata jalan rumah Etus yang terletak di pinggiran sebuah kali jernih yang ‘kepala air’*nya kerap dijadikan sumber air minum bagi warga sekitar. Kala itu kami harus berjalan hati – hati mendorong gerobak penuh tumang – tumang sagu karena petang tak lama lagi kan datang.
Kuperhatikan sepanjang jalan hingga di dekat rumah Etus banyak bendera warna – warni diselingi satu – dua pondok dengan tulisan ‘posko pemenangan’ dan gambar pria – pria berjas rapi dengan senyum lebar penuh. Namun kuacuhkan karna Ros sesekali menanyaiku tentang sekolah barunya.
***
Sudah beberapa hari aku dan Ros tinggal di rumah Tius. Urusan SMP Ros ternyata menguras uang yang lumayan untuk ukuran ekonomi keluargaku. Mulai dari urusan kursi, meja hingga ongkos administrasi, seragam dan juga buku sumbangan. Untunglah hasil panen rotan kami di kampung dan juga jualan sagu selama ini bisa membantu ditambah lagi sumbangan dari kerabatku dan pihak suamiku. Walau semua ini kelak akan kami bayar pula kala anak – anak mereka berada pada posisi yang sama denganku kala ini. Tak apalah yang penting Ros bisa masuk SMP.
Pulang dari pendaftaran, Ros yang pergi bermain di rumah kerabat bapaknya tiba – tiba datang tergesa – gesa ke rumah Tius. Dengan langkah kecilnya, ia mencariku di belakang rumah, sedang mengiris sayur gohi* untuk makan malam. Dilihatnya tanta Meri, istri Tius dan diajaknya serta dalam pembicaraan kilatnya ini:
“Mama dan tanta Meri, oom Tius bilang sekarang tempo ke lapangan dekat sekolah sana eee, jang lupa pake kaos – kaos yang oom ada simpan di lemari ka ini. Oom bilang tanta Meri pasti tahu, kaos kampanye ka itu. Tempo eee. Katanya satu orang dapat 50 ribu jadi. Sa duluan eee ke oom.”, kata Meri sebelum pergi.
Meri tak membuang waktu, dengan bergegas dikeluarkannya dua lembar kaos bergambar sepasang lelaki dengan tawa lebar; tapi kulihat wajah mereka bukan seperti tersenyum, tapi seperti sebuah seringai. Kuacuhkan perasaan itu dan mencoba mengingat – ingat. Berusaha mengingat siapa lelaki dengan nomor – nomor ini. Entahlah …..
***
Rintik – rintik hujan turun perlahan, seperti tiap hari lainnya. Pukul 3 sore dan lapangan sudah penuh dengan orang – orang berbaju sama yang kadang berdiri tanpa payung. Tak peduli dengan hujan yang mulai menari, Kaos putih dengan sebuah nomor kecil dan foto dua lelaki yang tampak tersenyum hinggap di badan tiap orang. Aku berdiri tanpa payung atau pun koba – koba*. Kuperhatikan bajuku, baju Meri, baju Tius dan orang – orang di sekitarku; semuanya penuh dengan slogan dan janji pembangunan. Tak ada yang berbeda, belum lagi tampang kedua bapak di dalam foto. Kuarahkan mataku ke arah panggung penuh pengeras suara yang penuh dengan poster besar.
Tiba – tiba tampillah seorang bapak berkulit gelap dengan penguat suara di tangannya, memberi salam pada semua orang di lapangan,:
“Pace, Mace … terima kasih kam su mo datang ke kampanye ini. Mari kita sambut bapak – bapak tercinta kita yang sudah datang jauh – jauh. Kita sambut pasangan kita ANDALAN alias bapak Andarias dan bapak Golan. “, kata lelaki itu dengan suara membahana diiringi tepuk tangan meriah, sangat meriah yang pernah kudengar seumur hidupku.
Dan mereka berdua pun mulai ‘bernyanyi’ dari nada tinggi ke nada rendah, kembali lagi dengan dinamika tempo yang berbeda, dengan janji – janji surga yang membuat orang – orang di lapangan menari, menjerit, histeris, tertawa, tersenyum dan berteriak senang, seiring dengan beberapa lelaki lain yang berjalan dan menyelipkan lembaran – lembaran berwarna biru ke kantong – kantong peserta. Kedua lelaki dalam poster pun mulai merangkai kata – kata manis bersalutkan madu yang dibungkus dengan sayap – sayap janji yang bisa membawa pendengarnya pada klimaks mimpi di sore hari. Semua berada dalam keadaan trance, kesurupan, kerasukan dengan buaian rentetan kata penuh janji ibarat tumpahan remah roti untuk anjing – anjing kelaparan.
Kudengar janji – janji ini, kudengar suara ini, kupasang ingatan silamku kembali. Aku pun terpaku menatap salah seorang pria dalam poster itu, pernah melihatnya sebelumnya, bukan di poster, bukan pula di televisi lokal tapi di sebuah tempat. Kuseret kakiku ke depan, dan terus berjalan menuju panggung, sambil merangkai berkas – berkas ingatan yang lepas. Kukenal lelaki ini, lelaki yang saat ini sedang merangkai janji:
“Pace mace, kalo kam pilih sa sebagai kam pu gubernur, nan sa akan bangun kam pu dermaga ini lebih besar, jadi kam tra akan perlu naik katinting ka perahu motor kecil lagi ke kota kabupaten induk, nan booo kapal putih Pelni juga akan masuk di sini. Sa akan bangun kam sekolah – sekolah yang murah, sa akan bikin kam pu jalan – jalan mantap, sa akan kasi kam pasar untuk jualan sagu, karaka dan hasil bumi yang mantap, sa akan kasi kam modal usaha kecil. Sa akan bikin kam sejahtera karena sa dan pace Golan ini memang ANDALAN. KAM INGAT … ANDALAN. Jang lupa pilih kitorang dua eee sebagai GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR provinsi ini”, ujarnya dengan ocehan yang tak kunjung abis, bagaikan kereta api yang berlari kencang dengan asap panjang di langit biru.
Aku masih mendengarnya terus berbicara bagabu – gabu* dengan janjinya . Tiba – tiba ‘mulut gedi*’nya diam, sepi dan senyap; B-I-S-U kala sebuah sandal penuh pecek* tebal dari kaki perempuan penokok sagu hinggap di wajah pria dalam poster itu diiringi suara mencemooh panjang dan bunyi bak – bik – buk besar. Aku tak sempat tahu lagi apa yang terjadi kala pandanganku terasa gelap. Akulah pelempar sandal itu!!!
***
PROLOG
Dua hari berlalu, aku dengan tubuh lebamku pergi ke Puskesmas, kulewati lapak Koran lokal dengan sebuah headline kejadian di lapangan lengkap dengan foto wajah lumpur pria itu dalam sebuah judul cukup besar:
PEREMPUAN GILA MENGAMUK DALAM KAMPANYE ‘ANDALAN’
Aku tak perlu menjelaskan apa – apa lagi, usai pukulan dan tendangan bertubi – tubi yang kudapatkan saat diseret ke belakang panggung. Yang aku tahu, aku mengenal lelaki dalam poster itu, sangat kukenal.
Samar – samar potongan kenangan ia datang ke kampung kami 12 tahun lalu dengan beberapa pria bersenjata, menyodorkan surat – surat kontrak tanah ulayat untuk konsesi hutan dan hasil alam suku kami di dalam rumah, terasa basah di benakku. Semakin basah kala kuingat bapakku muntah darah terkena tendangan saat menolak menandatangani berkas – berkas pelepasan, namun dilakukannya juga kala ujung besi dingin itu hinggap di pelipisku.
Ah…. aku ingat lelaki dalam poster itu; perampas tanah kami; seorang perampok.
Kutatap lagi stiker dan posternya di sepanjang jalan, kali ini wajah kedua lelaki itu penuh seringai; seringai haus darah. Kedua lelaki itu pun berubah menjadi lintah raksasa dalam pandanganku. Entah darah siapa yang kan mereka ‘isap’ lagi … aku tak tahu.
(Manokwari, 7 – 8 Juli 2011; remembering a village I visited 5 years ago while thinking of the latest peculiar phenomenon of local election)
Catatan:
Bagabu – gabu : (Melayu Papua) Gabu artinya ‘busa’. Slang ini bila dipasang pada lexem ‘mulut’ ataupun yang terkait dengan tindakan dengan menggunakan mulut seperti berbicara, merujuk pada cara bicara yang panjang dan lama.
Gohi : Nama sejenis sayur lokal dari daun sejenis pohon, merupakan satu jenis sayur khas di daerah Sorong Selatan.
Jerigen : Serapan dari Jerry can. Di daerah lain dikenal juga dengan nama ‘jeriken’ ataupun ‘geng’
Kapala air : (Melayu Papua) Hulu sungai/kali
Karaka : (Melayu Papua) Kepiting
Katinting : (Melayu Papua) Sejenis perahu kecil bermesin pompa air, kerap dijumpai di daerah Sorong Selatan, melewati sungai Kohoin.
Kintal : (Melayu Papua) Halaman rumah
Koba – koba : Istilah yang ditemukan penulis di sebuah kampung di Kecamatan Seremuk, Sorong Selatan. Tidak diketahui apakah dari bahasa Tehit atau bahasa lain. Merujuk pada tutup kepala pengganti payung yang dibuat dari sejenis daun pandan yang dijahit.
Lau – lau : (Melayu Papua) Sejenis hewan marsupial kecil mirip walabi.
Lolaro : (Melayu Papua) Mangrove/hutan bakau
Mulut gedi : (Melayu Papua) Gedi adalah nama sejenis sayur yang daunnya mengandung lendir yang sangat banyak dan bisa dipakai dipakai bermain gelembung sabun. Slang in merujuk pada cara bicara yang manis dan penuh dusta , kebohongan ataupun manipulasi. Slang ini umumnya merujuk pada tindakan berbicara yang bermakna negatif.
Pecek : (Melayu Papua) Lumpur
Perigi : (Melayu Papua) Sumur
Tek : (Melayu Papua) Istilah khas di Manokwari untuk merujuk pada kain yang dijahitkan sebagai wadah kapuk/spon bantal.
0 comments:
Post a Comment