Dengan langkah perlahan, diletakkannya keranjang cucian penuh pakaian basah di samping gubuknya. Seorang bocah kecil berambut keriting mengekornya dari belakang, memegang rok yang disampirkan di atas dadanya pengganti sarung mandi. Mereka baru saja pulang dari kali belakang rumah. Mencuci.
Dilihatnya pintu gubuk sedikit terbuka, ‘mungkin ia telah pulang, semoga’, gumamnya dalam hati. Bocah kecilnya sekarang beralih pada tumpukan pasir di dekat jemuran berbatang bambu mereka. Ia sama sekali tak peduli dengan beberapa sisa tai anjing ataupun semut merah yang berkerumun, juga pantatnya yang telanjang menyapa butir – butir pasir di bawahnya. Hingga perempuan itu berteriak padanya dan meninggalkan jemuran.
“Yustus, ko berdiri. Stop main pasir suda. Daripada sa kas ko kapala bunyi yoooo.” Diiringi bunyi ‘plak – plak – plak’ di pantat hitam kecil itu.
Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya menjemur pakaian – pakaian basah. Tak dipedulikannya nyamuk – nyamuk yang menggerayangi betisnya, berusaha menyedot darah – darah yang masih tersisa dari tubuh kurusnya, berikhtiar merampok nutrisi untuk janin yang sedang berdenyut di dalam rahimnya. Sambil menjemur pakaian, ia mendendangkan sebuah lagu lama, karangan seorang penginjil dari Belanda, yang diajarkan neneknya yang sudah meninggal beberapa tahun silam. Mungkin karena neneknya memang berasal dari sebuah pulau bertajuk karang panas.
Kampung pasisir yang kaya benar:
Kampung pasisir yang kaya benar
sago dan ikan dan k’lapa kelimpahan
kampung pasisir yang saya gemar1
Sembari memeras dan membalik lembar – lembar kain yang sering dibelinya di sebuah pasar pakaian bekas, buangan orang – orang bermata sipit di utara samudera depan kampungnya, otaknya berpikir tentang pekerjaan yang masih menumpuk dalam pikiran. Mencari sayur di kebun dekat rumah untuk makan malam, bertemu ibu bidan di ujung kampung dan tentu saja mengecek berita tentang suaminya di bapade 2 Yako di dekat rumah kepala kampung. Anaknya Yustus sudah berganti pakaian memakai sebuah celana tali kecil, hidungnya tak henti – hentinya mengucurkan ingus kuning kental kehijauan ibarat tetesan susu kental manis kadaluwarsa. Tapi tak dipedulikannya. Bukan pertama kali. Cucian sudah beres, saatnya berganti pakaian dan pergi ke kebun.
Matahari tepat berada di atas kepalanya kala ia dan Yustus berjalan perlahan keluar pagar gubuk kayunya yang dindingnya sebagian sudah harus diganti, kala tiba – tiba mereka - serombongan orang yang tak dikenalnya - datang mencegatnya.
“Permisi Mama, kita bisa bicara sebentar di dalam ka?”, tanya seseorang berambut hitam cepak. Mengisyaratkan dengan anggukan kepala ke arah halaman rumahnya.
“Iya, mari suda”, ujarnya sambil menuntun Yustus kembali ke dalam kintal3 rumah mereka.
Dan percakapan pun bergulir jelas, percakapan yang lebih pada acara tanya – jawab, interogasi penuh kepastian. Ia mengingat jelas dalam ruang gubuk kecil mereka yang sedikit pengap.
“Suamimu dimana sekarang?”
“Su lama tra pulang. Tra tau”
“Jangan bohong!”
“Betul, bapa. Sa tra tau. Nih juga mo pi cek berita”
“Jangan bohong! Ada informasi suamimu pulang ke kampung sini!!!”, bentaknya.
“Betul, sa tra tau”, ia mulai menjawab dengan nada takut.
Ia mulai tak bisa memroses pertanyaan dengan baik, kala rasa lapar di perutnya berdemonstrasi seiring dengan dilihatnya tangan Yustus dipuntir seseorang yang berada di ujung ruangan, dilihatnya pula Yustus tak dapat berbicara karena mulutnya sedang dibekap.
“Bapa, tong tra tau apa – apa. Betul …”, ujarnya dengan nada memelas.
Tapi semuanya menjadi sia – sia saat semua aliran informasi diputar ulang dari mulut seorang berambut cepak. Tentang kain bergambar bintang yang berdiri tegak di ujung sebuah tiang tengah kota, wajah suaminya yang terekam lembaran gambar berwarna di dekat tiang, pun foto suaminya berdiri gagah dengan parang buatan kamasan4 di tengah kerumunan lelaki berambut hitam keriting.
Ia bahkan makin kehilangan kesadaran kala dirasakan seseorang memaksa tubuh dan perut buncitnya terlentang mengangkang, dengan rok kain yang terlucuti turun. Turun naik dadanya kesakitan tergesek, apalagi sebuah kulit sepatu, entah asli atau palsu, mencium kepalanya. Tak lama … usai semua jeritan minim ‘oh yes …’ ataupun desah nikmat berbau sperma, pelan – pelan tubuh bawahnya terasa hangat. Sehangat darah segar yang mengalir deras keluar dari selangkangannya. Basah, hangat dan lembab. Amis!!!
Sayup – sayup tak didengarnya lagi suara Yustus. Hanya suara neneknya yang menyanyikan bait terakhir ‘Kampung pasisir’
Apakah gunanya mau berkelahi?
Apakah gunanya mau berkelahi?
Tiap manusia rindukan tanahnya;
Tanah kelahiran tentu permai.5
(Manokwari, 210711; thinking about Papuan women in rural areas who endures such pain. Be brave!!! Thanx also for Seno Gumira Ajidarma for his such inspiring ‘Trilogi Insiden esp. a collection of “Ketika Jurnalisme Dibungkam, sastra harus bicara”; a very recommended book)
Catatan:
1. Bait pertama lagu ‘Kampung Pasisir’. Lagu urutan no 21 dalam buku ‘Seruling Emas’ yang liriknya merupakan gubahan I.S. Kijne, seorang penginjil pendidik Belanda di Tanah Papua pada era 1900an. Buku nyanyian ini semasa Orde Baru mendapat pembredelan.
2. Bapade (Melayu Papua). Bentuk reduksi fonologis dari frasa ‘bapa ade’ atau paman yang lebih muda dari ayah kita. Mempunyai padanan dalam bahasa Jawa seperti ‘pak lik’.
3. Kintal (Melayu Papua). Serapan dari kata ‘quintal’ dalam bahasa Portugis yang berarti ‘halaman rumah’.
4. Kamasan (Byak) Tukang besi di kampung. Kalau tidak salah, merupakan istilah dalam bahasa Byak, sepengetahuan penulis merupakan salah satu figur penting di kampung – kampung tradisional karena merupakan pengrajin sekaligus pendukung kejayaan sebuah kampung karena kemampuannya mengolah logam * Just suddenly remember this guy’s role in shaping my great grandfather’s destiny.
5. Bait terakhir (bait ke V) lagu ‘kampung Pasisir’ karangan I.S. Kijne.
0 comments:
Post a Comment