Search This Blog

Loading...

Saturday, 16 July 2011

cerpen - dermaga

PROLOG

Bilah – bilah cahaya mentari menjilati kulitku kala pantulan semburatnya terekam dalam lembar digital kameraku, usai tripod penyangga kuarahkan ke bentang laut yang mencumbu kaki – kaki pegunungan. Lelaki berkulit sawo matang yang terjebak di sebuah dermaga kayu kota kecil bertajuk ‘kampung lama’, berjuang menangkap tarian fajar baru, untuk oleh – oleh pulang ke Jakarta. Dermaga kayu sunyi tanpa bunyi burung pagi dan seorang perempuan berambut gerai yang berjalan diam di tepian. ‘Penangkap fajar sepertiku’, kilahku dalam hati.

***

Perjalananku ke tanah ini mungkin yang kesekian kali, walau lebih sering kulakukan di Jayapura. Tapi perjalananku kali ini membawaku pada kota pemerintahan tertua di tanah ini; Manokwari. Kota kecil yang sedang bermetaforsa dengan banyaknya ruko yang sedang dibangun, merobek pemandangan hutan hujan tropis di sela – sela kota penuh teluk. Kantorku, sebuah perusahaan konsultan, seperti biasanya, mendapat beberapa proyek evaluasi independen maupun penelitian hingga perjalanan ke bagian Indonesia Timur bukanlah hal baru bagi tiap peneliti di kantor kami. Seperti seminggu ini, kegiatanku hanya bertemu beberapa penghubung guna membantu pekerjaanku sebagai pemantau independen proses kekisruhan pelaksanaan pemilukada di provinsi ini.

Pagi tadi, seorang penghubung, sebut saja pak Dani menelponku, hanya untuk memberitahu masalah transportasi yang kami hadapi di dalam menjangkau daerah – daerah pedalaman di ibukota provinsi . Sia – sia saja aku meyakinkannya mencarikan jalan mendapat helikopter sewaan di dalam minggu ini, karena toh jawabnya ringkas dan padat, “su tra bisa, bapa. Su ada yang carter akan, kalo mau tong pake ranger* saja”. Jawabannya membuatku semakin pusing memikirkan deadline laporan pemantauanku. Sebaiknya aku harus mulai berpikir tentang apa yang dapat kulakukan guna mengisi otakku selain pekerjaan pemantauan proses ini. Snorkeling, diving dan olahraga air lainnya atau trekking, hiking, bird watching adalah beberapa kegiatan yang dapat kulakukan di Manokwari selain bekerja. Tapi semburat langit senja membuatku berpikir dalam tentang mencuri bayang fajar di dermaga kecil yang kulihat usai pulang snorkeling bersama pak Dani dan beberapa teman baru beberapa hari lalu.

***

Kutenteng Nikon D90 ku beserta tripod ke arah dermaga kayu kecil. Tak sia – sia kupesan seorang ojek di depan hotel untuk menungguku pukul 4.30 pagi di depan lobi. Sebungkus roti pisang dan se-mug kopi Toraja kental meluncur dengan gampangnya ke dalam lambungku tanpa banyak diskusi saat kupersiapkan peralatan penangkap bayang bilah – bilah matahari. Dermaga ini seakan berubah menjadi tempat paling sakral pagi ini untukku, tentu saja. Menunggu tawa lebar tarian warna di langit, kulirik di ujung dermaga, seorang perempuan berdiri tegak menatap langit membelakangiku. Dermaga kayu berbentuk T ini sukses menyembunyikan wajah perempuan ini. Berbaju bunga – bunga cerah ala summer dress ia tegak dalam diam. Sedikit membuatku penasaran untuk menangkap siluetnya dengan kamera, namun buru – buru kutepiskan ide itu, takut menyinggungnya.

Dalam diam dan sunyi, lukisan langit selesai berpindah ke dalam lembar – lembar digital. Masih belum maksimal dan sepertinya aku harus kembali beberapa hari lagi, mungkin spot terbaik memang dari sisi dermaga tempat perempuan tadi. Tiba – tiba, aku sadar kalau perempuan tadi sudah pergi. Datang tak diundang, benar – benar pulang ‘tra stoom – stoom* macam kapal kayu’ meminjam ungkapan yang sering dilontarkan pak Dani untuk orang yang tak suka memberi salam ataupun datang-pergi sesuka hati tanpa pemberitahuan. ‘Epen ka*’, kataku lagi dalam hati, meniru ucapan remaja – remaja yang kerap kutemukan di areal bilyar hotel.

***

Pekerjaanku masih membuatku mumet jadi kuputuskan subuh ini pergi lagi ke dermaga kayu. Obed, tukang ojek langgananku, malah menyarankan aku membawa sebungkus rokok dan sekantong kecil peralatan ‘makan pinang’; untuk bahan kontak pembicaraan dengan kenalan baru, katanya. Ia tak tahu kalau aku tak merokok. Toh anjurannya tetap kubawa, siapa tahu berguna.

Menunggu langit pica* dengan semburat jingga memang harus sabar. Pagi ini, aku memilih mengeksplorasi sisi lain dermaga, tempat perempuan dengan rambut tergerai berdiri di hari silam. Larut memandangi langit dengan setermos kecil kopi di tangan membuatku tak sadar bunyi langkah – langkah kaki di sisiku.
“Mo foto matahari terbit ka?”, tanyanya perlahan. Kuperhatikan wajah penanyaku sebelum mengiyakan. Seorang perempuan berumur pertengahan 20an dengan rambut ikal bergelombang dan kulit berwarna susu kental manis rasa vanilla dengan tatapan sendu menatap ke langit. Kami pun sekali lagi larut dalam diam. Aku sibuk menangkap cahaya dan ia berjalan perlahan ke tepi lain dermaga memainkan sebuah irama lagu Papua yang pernah diterjemahkan pak Dani untukku. Sebuah kebetulan dalam lautan pantulan cahya keemasan.

***

Sore ini, hujan turun dengan deras hingga malam menjelang. Kukirimkan sebuah pesan untuk Obed untuk menjemputku subuh nanti, s’moga hujannya tlah usai. Aku penasaran bagaimana pagi datang di dermaga dalam subuh yang kelabu. Apakah mentarinya akan sama, ataukah tabir kabut yang kan menyapa? Aku tak tahu. Dan mungkin juga aku ingin melihat dia. Apakah perempuan itu akan datang? Entahlah….

Alarm ponselku meraung – raung membunuh mimpi subuhku. Cepat – cepat menyiapkan peralatan, sarapanku dan tentu saja tak lupa seperangkat jas hujan dan payung. Obed sudah menunggu di lobi hotel.
“Pak Ray, yakin ka? Macam mendung ka ini. Trus jang sendiri – sendiri neh di dermaga. Tempat tra baik ka ini”, katanya. Ia tak seperti biasanya. Aku memang tak pernah bercerita tentang siapa saja yang kutemui ataupun kegiatanku di kota ini, bagiku semakin sedikit informasi apa yang kulakukan di kota ini terbagi dengan orang lokal yang tak begitu kukenal, semakin baik pemantauanku.

Hari ini, dermaga terasa lain. Mungkin karena kabut tipis yang sedang merangkak naik dari laut, berusaha mencium kaki – kaki pengunjung dermaga. Kulihat perempuan yang menyenandungkan lagu Binyedi* di pertemuan silam berdiri diam menatap jauh ke depan. Gaunnya telah berganti putih. Hari ini ia begitu harum di pagi berkabut ini. Aroma white musk, tebakku dalam hati. Kopi kentalku kusesap dalam diam sambil sesekali mengatur letak tripod dan mengganti lensa tele-ku. Mungkin saatnya berbincang sebentar dengan dia di ujung dermaga.

“Permisi ade nona, mau roti”, kataku berusaha membuka percakapan. Diliriknya mataku dalam – dalam, dan tanpa banyak bicara, diambilnya sepotong besar roti pisangku. Tak lepas – lepas matanya memandang ke depan, ke batas cakrawala. Usai menguyah sepotong besar, tiba – tiba ia bertanya padaku, “oom, wartawan ka?”, tanyanya pelan. Pertanyaannya hanya kujawab dengan sebuah gelengan pelan. Dan ia pun kembali diam dan berjalan menjauh dariku, menuju tepi lain dengan senandung irama ‘Binyedi’. Seperti biasa, ia pergi tanpa pamit, tanpa suara, tanpa tanda – tanda.

***

Pekerjaanku di kota ini tinggal beberapa hari. Walau terhambat beberapa masalah teknis, tapi pemantauanku berlangsung baik. Saatnya kembali ke dermaga dan merangkum beberapa gambar terakhir. Lumayan buat oleh – oleh. Siapa tahu Winnie suka, kataku dalam hati membayangkan senyum pacarku.

Hari terakhir, aku harus bisa menangkap langit dan laut berkilau keemasan dan juga siluet perempuan penyenandung. Mungkin akan kuberi judul album fotoku kelak, ‘langit laut dalam tatap perempuan di dermaga’. Tak terlalu puitis, kukira. Tapi lumayanlah dibanding harus melabelnya ‘pembunuh sepi’ atau ‘killing the time’. Asyik dengan pikiranku sendiri, kulihat perempuan muda itu muncul kembali, gaunnya tak sama dengan yang terakhir silam, dalam pagi kabut, tanpa aroma white musk. Wajahnya sedikit sendu pagi ini. Kulihat ia berdiri diam menatap horizon di kejauhan, tak peduli dengan bayang pegunungan di sisi yang lain. Rintik gerimis yang turun perlahan menemani tapak – tapak kaki telanjangnya berjalan dalam diam, menuju tepi lain, sepenggal senandung Binyedi-nya lebih keras dibanding yang lalu.
‘Ro, ro, kankunnesine yalo fasis naya kara. Kuker swaruser, ayena, binyedi. Yaswarau au kaku. Ro, ro, kankunnesine kuker swaruser yenaiwara. Yaswarau binayedi imbape yabor yaberari**’

Dalam diam, tanpa bunyi shutter yang mengganggu, cepat – cepat kuarahkan kamera menangkap bayangannya. Belum sempat kuperhatikan hasilnya, hujan tiba – tiba turun dengan deras. Benar – benas hujan khas Manokwari yang ‘tra pernah stoom – stoom’. Sial! Jangan tanya seberapa cepat kecepatanku mengepak peralatan kameraku. Mungkin bisa menyaingi kecepatan Paparazzi berburu artis, tawaku dalam hati sambil tetap merutuk hujan deras. Tiba – tiba aku sadar, perempuan tadi sudah tak ada. Padahal aku belum tahu namanya.

***
EPILOGUE
Ini malam terakhirku di Manokwari. Pak Dani mengajakku dan beberapa kenalan baru pergi berkaraoke di sebuah lounge hotel berbintang di kota kecil ini. Sambil menunggu pesanan koktailku yang diramu bartender, kubuka oleh – oleh dari masyarakat lokal di pedalaman untukku yangdititipkan lewat pak Dani; setumpuk kulit kayu Akuai* yang dibungkus selembar koran lokal lama. Lembar depannya memasang wajah perempuan dalam bisu, diam dan pucat. Wajah yang cukup kukenal beberapa hari ini. Tanpa sadar kukeluarkan kameraku memeriksa hasil foto pagi tadi di dermaga.

Segelas koktail yang disodorkan bartender, kutenggak dalam – dalam, tak cukup menghilangkan tegaknya bulu kudukku, kala berlembar – lembar foto siluet perempuan tadi semuanya menampilkan bayang kaki yang tak menjejak jelas di papan dermaga. Melayang!!!
Sayup – sayup nada Binyedi bergema pelan di telingaku saat membaca headline berita bergambar perempuan pucat tadi.
‘KEKASIH HILANG DI LAUT, PEREMPUAN MUDA BUNUH DIRI DI DERMAGA’

Aku pun melayang dalam pucat pasi bersama larutan koktail yang semakin banyak mengisi lambungku.

(Manokwari, 160711; inspired by recent local news of missing people in Manokwari’s southern coast. Btw, I don’t wanna make a freaky story full of common ghost stereotypes, I want the ghost in my story can eat, sing and make sounding steps, n maybe next time will dance HAHAHA)

Catatan:

Akuai: (Meyah?Hatam?Sough?Moile?) Nama sejenis pohon kecil yang tumbuh di daerah pegunungan Arfak khususnya di sekitar distrik Anggi dan Sururey. Penggunaannya merujuk pada kulit ataupun ekstraksi kulit yang sering diseduh seperti teh yang dipercaya sebagai afrodisiak (tanaman pembangkit/penguat daya seksual) ataupun juga pemberi stamina seperti menguatkan napas pelari dll. Penggunaannya secara tradisional hanya pada kaum lelaki karena dapat menghambat siklus haid perempuan. Penulis semasa remaja pernah beberapa kali mengonsumsinya dan rasanya sangat pedas di tenggorokan walau efek kinerjanya dalam ketahanan fisik benar – benar teruji saat itu alias ‘bikin napas tra hosa kalo lari’ hahaha.

‘Epen ka’: (Melayu Papua) ungkapan yang berarti ‘apakah sesuatu/seseorang itu penting?’ ataupun juga dapat berarti ‘saya tidak peduli’. Dipendekan dari ‘emang penting ka’. Setara dengan’ EGP’ dalam Jakarta-Indonesia ataupun ‘who cares?’ataupun ‘whatever’ dalam bahasa Inggris.

Pica: (Melayu Papua) Pecah. Dalam cerita ini merujuk pada ‘timbul, muncul’.

Ranger: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Inggris. Artinya mobil bertipe semi-pick up yang dapat dipakai untuk offroad ke daerah – daerah pedalaman dengan topografi sulit dan kondisi jalan yang rusak parah.

Stoom: (Melayu Papua) Bahasa serapan dari bahasa Belanda. Artinya bunyi peluit kapal.

** Lirik Binyedi: (terjemahan bebas; thanx u/ Tia Warwe)
“Dalam Tangisan dan Kesendirianku ini
Ku duduk terdiam sendiri sambil mengenang kekasihku, ku sayang padamu.”

0 comments: