PROLOG
Kepala – kepala berambut keriting bergulingan lepas, jatuh dari tubuhnya, berlari masuk ke dalam jurang. Tangan – tangan berwarna gelap, tanggal satu – satu dari ligamen dan otot – otot pengikat, menjadi serupa belalang yang kehilangan senjatanya. Kukais tanah – tanah penuh rembesan darah segar, mencari sebentuk cincin. Tapi cincin itu tiba – tiba berubah menjadi seringai ular yang menungguku dengan sabar, bersiap memangsaku. ‘BAAAANG!!!’ bunyi suara pintu dibanting membangunkan tiba – tiba dari mimpi tidur soreku. Rupanya cuaca Manokwari dengan angin sakalnya sedang tak bagus hari ini. Syukurlah hanya mimpi, batinku.
***
Sudah seminggu mimpi buruk penuh gelimangan mayat mengisi tidur malamku. Aku tak pernah dikejar setan dalam mimpiku, tak pernah juga berada seakan dibunuh. Hanya selalu menemukan potongan – potongan tubuh tanpa kepala usai bunyi baku tembak tak jelas di dalam mimpiku. Seekor ular, sepotong cincin dan bau amis kepala – kepala yang menggelinding turun dari lereng ditemani bunyi tawa – tawa dalam aksen kental yang kukenal. Sangat kukenal, karna sebagian darahku mewarisi aksen itu.
Sudah seminggu pula, kucoba menahan hati untuk tak terlalu menghubungi Roy. Tak ingin dibilang manja, tak mandiri dan tak siap mendampinginya. Aku tak ingin dibilang tak sabaran. Tapi tiap kali mimpiku berulang, yang kupikirkan hanya Roy. Seperti sore ini, kusempatkan menelponnya walau dengan modulasi suara yang terganggu bunyi ‘kresek – kresek’ plus sebuah SMS kukirimkan padanya, berharap ia akan membalasnya seperti biasa. Dan tepat, ia dengan cueknya bilang kalau ia baik – baik saja, jadi jangan mengkhawatirkannya. Tapi perempuan siapa juga yang tak kuatir kalau lelaki yang akan dinikahi 1 bulan lagi bertugas di sebuah daerah pegunungan yang dikenal sebagai ‘daerah merah’ alias rawan konflik. Terserah bila dibilang cengeng, tapi toh aku tak rela bila lelaki yang kucintai harus mati di tempat yang jauh, demi alasan sentimental seperti patriotisme. Bagiku, lebih baik Roy dibilang pengecut tetapi tetap hidup, daripada sok jadi pahlawan tetapi pulang ke Manokwari di dalam peti mati. Tak perlu. Aku mau ia hidup!!! TITIK.
***
Sudah hampir dua minggu sejak mimpi pertamaku bertemu potongan – potongan mayat tanpa kepala. Minggu ini mimpi – mimpi ini menjadi sedikit lebih jelas. Aku mulai bisa mencium aroma darah yang sangat banyak, serasa berada di ladang penjagalan manusia. Tak ada lagi bunyi senapan, peluru yang berdesingan, tak ada lagi bunyi dentaman mortil. Samar – samar kulihat pondok – pondok berdinding jerami terbakar, tangis anak – anak kecil berhamburan keluar dan lelaki – lelaki berkulit gelap bersenjata busur dan anak panah berdiri dalam baris panjang diterpa angin mesiu yang menyala – nyala, berderam – deram, berbunyi nyaring; kematian. Satu per satu tubuh – tubuh semi telanjang mereka jatuh ibarat kartu yang dilentingkan dalam susunan domino, jatuh tanpa tali pengaman, jatuh tanpa bantalan penahan. Jatuh dalam diam, dalam gelap, dalam mati; penuh darah!!! Dalam keping mimpi terakhirku minggu ini, sepasang tangan lelaki hitam itu menggenggamku, menitipkan sebuah cincin yang terkubur dalam darah. Sangat kental.
Cincin emas itu begitu polos, tanpa hiasan. Darah yang mengikat cincin itu pelan – pelan merayap masuk ke dalam cincin, membentuk mirah delima berbentuk mawar di ujung cincin. Membuatku terkesima dalam mimpi. Lelaki hitam pun memandangku dalam pandangan miris dan tiba – tiba tertawa; tertawa keras yang bukan seperti tawa tetapi seringai kesakitan namun puas. Tertawa hingga ia kejang – kejang dan jatuh. Kali ini tanpa kepala, kala kulihat seseorang menebas batang lehernya. Seorang lelaki berseragam!!!
***
Mimpi – mimpi ini semakin gencar menari di benakku, bahkan menginduksi ruang terdalam perhatianku. Membuatku melihat mimpi dalam terjagaku, membuatku melihat tubuh – tubuh tanpa kepala berjalan murung di trotoar – trotoar ibukota provinsi ini. Bahkan dalam rapat redaksi siang tadi di kantor, aku hanya bisa melongo diam kala redaktur utama menuntutku membuat laporan investigasi tentang hak penguasaan tanah oleh sebuah perusahaan pengusahaan hak hutan di sebuah kabupaten pemekaran. Aku tak bisa fokus pada apa yang ingin dikemukakan bosku, lidahku terasa kelu kala ia terpaksa mengulangi berkali – kali dengan wajah kesal. Untunglah seorang rekanku bisa menjadi penyelamat dengan cepat – cepat berujar, “maklum bos, lain ada yang baru mo ‘patah baret’ jadi pengantin baru 2 minggu lagi jadi pikiran ka ini …. “ yang untunglah mampu mencairkan suasana rapat. Aku paham mengapa redaktur surat kabar tempatku bekerja secara paruh waktu ingin aku yang menuliskan investigasi ini. Ia ingin investigasi ini dituliskan bergaya jurnalisme sastrawi dan hanya aku yang sedang bebas tugas dari reportase saat ini, hanya investigasi sebulan. Bukan investigasi besar – besaran. Dan aku menyukai pekerjaan ini, kala dapat membantu kaum yang terpinggirkan.
Usai rapat, kulanjutkan ke bagian divisi dokumentasi, penelitian dan pengembangan (doklitbang) media kami, berburu catatan – catatan kecil perusahaan obyek tulisan, kala sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Belum sempat kubuka pesan itu, Roy tiba – tiba menelponku dengan suaranya yang sangat khas, bernada bas dan seksi, ibarat mendengar suara hujan yang jatuh di ladang gersang. Sangat menenangkan.
“Sayang, kamu di kantor ka? Saya sudah tiba di Manokwari nih. Nanti saya jemput jam 5 sore ya. Bye. Love you.” KLIK. Padam.
Panggilannya membuatku merasa tenang. Entahlah … urusan pernikahan kami yang hanya tinggal dua minggu membuatku sedikit ketar – ketir khawatir. Untunglah cuti tahunan Roy bisa keluar lebih awal dari perkiraan kami. Setidaknya beban pernikahan ini terasa lebih ringan, ada teman berbagi dan juga mungkin dimaki – maki kala kesal melihat intervensi keluarga besar untuk konsep acara nanti. Pokoknya Roy sudah datang, dan semoga mimpi – mimpi buruk itu akan hilang, mungkin hanya luapan ketakutanku menghitung hari berganti status menjadi nyonya Roy Ferdy. Semoga!!!
***
Roy, selama seminggu ini ia benar – benar menjadi lelaki yang sangat manis, mengantarku ke tempat – tempat yang ingin kukunjungi sebelum berubah status, sebelum melepas masa lajang, sebelum terikat janji di depan jemaat. Mulai dari ke salon, berkunjung ke sahabat lama hingga menyelam dan berenang di pantai – pantai sepi, bahkan hari ini ia turut berkemah menemaniku di pinggir pantai menunggu terbitnya matahari. Benar – benar membuatku bahagia.
Petang ini, aku terbangun tiba – tiba dari tidur panjang sejak pagi, usai pulang berkemah. Bukan karena ada janji yang terlewatkan, tetapi karena mimpi sialan itu kembali muncul usai jeda dan rehat selama seminggu. Mimpi yang kali ini kembali sama; potongan – potongan mayat tanpa kepala, tubuh – tubuh hitam kejang menunggu maut, cincin emas polos yang terkubur dalam tanah berisi rembesan darah mayat – mayat dan aku yang berlari kencang menjauh, semakin menjauh, kala mayat – mayat itu tiba – tiba berdiri dan mengejarku, menuntut kepala mereka, menuntut tanah, kebun, ternak, darah, rumah mereka yang terkubur bersama abu bakaran puing – puing, yang tersapu badai bau mesiu. Ah …. Mungkin alam bawah sadarku mulai tertekan menjelang ‘acara tenda biru’, kataku menenangkan hati. Hingga mimpi ini seenaknya bisa muncul lagi.
Ku tetap berusaha berpikir positif. Tak sengaja kulirik komputer jinjingku di atas meja dengan sebuah alat penyimpan data berkapasitas besar bermerk ‘Seagate’ yang tercantel di sampingnya. Saat yang tepat untuk mendengar musik sore, ucapku menenangkan hati.
Tak sabar kunyalakan komputer jinjingku, sambil mengamati external drive yang terhubung ini, mungkin punya Roy, karna kalau tak salah ia menumpang menonton film di komputer jinjingku saat berkemah tadi. Keisenganku muncul, berharap cemas akan menemukan koleksi foto mesranya dengan perempuan lain, ataupun fans gelapnya, entahlah … aku tak sepenuhnya percaya ia setia 100%. Mungkin karena pengalaman beberapa tahun terakhir menulis reportase tentang pasangan selingkuh, aku menjadi sedikit lebih realistis dan mungkin juga mulai membiasakan diri untuk percaya bahwa tak ada lelaki yang sempurna bahkan dalam urusan kesetiaan. Apalagi untuk kami yang menjalankan LDR (long distance relationship) alias pacaran jarak jauh selama 2 tahun ini.
Map – map bersimbol muncul di dalam penyimpan data besar ini, mulai tentang film, hingga koleksi musik dan gambar. Roy bukan seorang penulis, ataupun suka membaca. Tak heran tak banyak dokumen pengolah katanya yang tersimpan. Tiba – tiba mataku tertohok pada sebuah berkas bernama ‘Bruno 2010’. Aku ingat Bruno adalah nama anjing kesayangan Roy sewaktu kecil dan terpaksa mati ditembak karena menggigit seorang bocah lelaki di kompleks perumahan hingga pendarahan hebat. Tak biasanya ia memakai ataupun menyebut nama ‘Bruno’. Sebuah kenangan yang tak begitu disukainya.
Mataku membelalak lebar, dengan lapisan iris pelangi penuh air mata. Ada yang pecah di hatiku, terasa sesak, sangat sesak. Berkas itu terbuka dengan cantiknya menampilkan sekitar 30an gambar berlatarbelakang tanaman pakis hutan dan kabut pagi yang baru pupus diterpa sinar matahari. Pakis – pakis berbulu emas di terciprat mirah delima segar dari rembesan darah kepala – kepala lelaki – lelaki hitam berambut keriting. Tubuh – tubuh segar tanpa baju bergelimang seperti alas karpet berwarna merah kelam, menjadi semacam prosesi parade kemenangan. Entah piala apa yang mereka menangkan hari ini. Leher – leher digorok dengan pisau metal anti karat berlabel huruf – huruf tertentu, luka – luka menganga menyapa mataku yang berair. Sepatu – sepatu kulit membolak – balik tubuh – tubuh kejang. Napasku terasa sesak, bersamaan dengan aliran air berasa asin dari mata dan hidungku kala sebuah foto dengan resolusi jelas menabrak alam sadarku; Wajah seseorang yang menyeringai dengan pisau metal mengiris leher lelaki berjanggut warna tanah yang dipaksa duduk, tepat di depan mataku, dengan cincin emas polos di jemari tangannya yang menahan kepala lelaki hitam berpandangan mendelik. Iya, dia R-O-Y!!!
***
EPILOG
Hari yang dinanti tiba. Pesta pernikahanku! Kue pengantin 3 susun telah dipesan, semua urusan salon sudah dibayar, konsumsi telah selesai dan aku memilih pagi ini keluar subuh – subuh dengan satu buah tas komputer jinjing berisi komputer dengan kopian berkas ‘Bruno’, segenggam dompet penuh kartu kredit dan debit, satu kumpulan map penuh surat penting dan ijazah, buku tabungan, dan tak lupa lembar – lembaran puluhan uang seratusan ribu plus kamar yang terkunci dan sebuah jendela kayu yang terbuka.
Tak lupa, sebelum pergi, kuletakan di atas meja rias kamarku, selembar amplop putih berisi kertas berbercak air mata untuk Roy dan selingkar cincin emas polos yang kutahu dihiasi ‘mirah delima’ darah para lelaki berkulit gelap tanpa kepala.
‘Selamat tinggal, Roy!!!’, kataku dalam hati sambil menyerahkan sebuah boarding pass pada pramugari.
(Manokwari, 090711; usai sebuah cerita fakta – fakta yang membuatku sesak dan lelah hati. Another dark story of West Papua!!!)
0 comments:
Post a Comment