Search This Blog

Loading...

Tuesday, 26 July 2011

Cerpen: Antara Rhea, Pua dan diriku

Prolog

Hari ini hari terakhir ujian sekolah yang kupimpin dan juga tanggal dimana aku resmi bergabung tiga tahun di sekolah ini; sebuah sekolah yayasan swasta di sebuah kampung pesisir di luar kota. Aku kadang tak percaya kalau kanak – kanak kecil ini sekarang telah bertumbuh menjadi remaja tanggung yang akan segera mengganti rok lipit dan celana pendek merah mereka dengan seragam berwarna putih dan biru tua. Aku tak percaya kalau mereka akan tetap bermain lompat tali dan gici – gici1kelak. Entahlah … kanak – kanak selalu bertumbuh dengan cepat. Selalu … dan waktu terasa mengalir cepat seperti jatuhan pasir dari jemariku.


***

Sudah 2 minggu ujian terakhir kelas VI, masih sekitar 2 – 3 minggu lagi hasil kelulusan mereka akan mereka dengar. Rumah dinasku di kawasan sekolah hari ini dikunjungi beberapa murid kelas VI yang hendak membantu pekerjaan domestik khususnya mempersiapkan kamar untuk anak bungsuku. Anak bungsuku – Rhea - tak lama lagi akan mengunjungiku usai libur semesternya dan ia bilang ingin menghabiskan beberapa minggu denganku di sini; sebuah kampung pesisir di luar kota. Sayang rasanya bila kamar tamu di rumah ini tidak dimanfaatkan, walau sesekali juga ada anak muridku yang menginap.

Aku hanya seorang perempuan tua berkulit kopi di pertengahan usia 50an. Aku bersyukur bapakku, seorang mantri kesehatan didikan Belanda di sebuah kampung di teluk Saireri cukup berpikiran demokratis pada masanya dan mengijinkan dan berusaha agar aku sekolah hingga tingkat sarjana. Seperti juga ia mengijinkan aku menikah dalam usia muda. “Nona, tu ko pu pilihan, kalo ko rasa bahagia, bapa tra larang.”, ucapnya di masa silam. Dua anakku sudah menikah dan bekerja, salah seorang mengabdikan diri sebagai staf pengembangan masyarakat (community development) di sebuah perusahaan tambang terbesar di tanah ini, dan hanya tinggal seorang yang sedang kuliah, katanya jurusan sosiologi di sebuah universitas di tanah Jawa. Sedang suamiku sudah lama meninggal sejak anak pertamaku remaja; Gagal ginjal , kata dokter . Kadang terasa berat memikirkan beban yang pernah kupikul, tapi aku bersyukur masa – masa berat itu telah lama terlewati walau kadang menjadi orang tua tunggal tidak menyenangkan. Banyak godaan dan cibiran untuk statusku yang janda. Apalagi saat itu usiaku baru 35 tahun, tapi aku bersyukur menikah semasih kuliah apalagi anak – anakku sejak kecil cukup mandiri dan mengerti dengan keadaan keluarga.

Lamunanku tentang saat – saat sulit di masa lalu merembes hilang kala datang tiga bocah perempuan berkepang pita dan dengan rambut yang dianyam ‘kulit kepala’2 persis seorang penyanyi Latin di saluran TV musik, aku ingat namanya Jennifer Lopez3; itu kata anak bungsuku. Martina, Pua dan Kori, tiga bocah yang tinggal di kampung sebelah datang dengan wajah berseri – seri. Seakan tak ada beban untuk hasil ujian mereka kelak. Mereka memang suka membantuku membersihkan rumah, juga menemaniku menjahit. Sebagai gantinya aku memberikan pelajaran ekstra untuk mereka, mulai dari mengajar mereka berhitung, membaca dan kadang – kadang mengajarkan mereka menjahit dan menyulam serta baru – baru ini Pua kuberi modal berjualan pinang di depan rumahnya. Karna ia sering tak punya uang untuk jajan ataupun membeli perlengkapan dan peralatan sekolah.

***

Kurang seminggu hasil ujian kan keluar. Rhea pun sudah menemaniku beberapa hari ini. Pagi tadi, dalam sebuah acara sarapan kami yang berisikan rebusan pisang raja matang dan seteko teh manis, ia bercerita tentang gagasan penelitian skripsinya semester depan tentang peran perempuan dalam ekonomi keluarga, yang tak hanya menyangkut peran mencari uang tetapi juga penebus utang ataupun sebagai komoditas ‘jualan’. Diskusi kami cukup panjang dalam pagi yang penuh hujan itu.

Rhea, ah ia terlalu bersemangat dalam usia mudanya. Ia satu – satunya anak perempuanku. Perempuan berkulit kopi sepertiku ini mengingatkanku untuk masa mudaku yang telah lama hilang. Ia terus mengutip pendapat beberapa tokoh feminis, yang entah didapatnya dari buku – buku kuliahnya ataukah karena pekerjaan sampingannya di sebuah komunitas pendampingan perempuan korban Kekerasan dalam Rumah Tangga binaan sebuah LSM Perempuan di kotanya. Aku ingat pagi ini ia berbicara tentang metafora pernikahan untuk menggambarkan hubungan patriarki dengan kapitalisme, sebuah kontrak katanya, milik Eisenstein4. Entahlah … aku hanya kuatir ia takut menikah kelak karena sikapnya yang kadang menimbang – nimbang peran reprositas perempuan dan lelaki. Terlalu banyak berpikir dan menganalisa. Perempuan modern, mungkin. Entahlah … mungkin karena efek pertukaran pelajarnya ke Amerika tahun kemarin. Anggap saja ini kekhawatiran seorang perempuan tua sepertiku untuk anak perempuannya.

Hujan masih saja turun, tapi tetesnya mulai melemah siang ini. Tiba – tiba seorang penawar jasa angkutan berhelm kuning datang mengetuk pintu rumahku. Kukenal ia dengan nama pace5 Korinus, seorang pemuka tokoh masyarakat di kampung sebelah. Dihampirinya aku di teras.

“Siang mama guru, ada mo kas tahu nih. Bapa kapala suku di kampung sebelah ada bikin acara jadi, makan malam ka ini, pengucapan syukur begitu. Jadi bapa de minta mama guru dong mungkin bisa datang bergabung ka, acara nanti jam 6 sore ka ini. Itu saja.”

“Ok, terima kasih lagi e bapa. Iyo, nan sa deng sapu anak perempuan datang. Nan tolong bilang beliau terima kasih lagi atas undangannya eee. Terimakasih.”

Percakapan kami berakhir dengan basa – basi sejenak. Tak biasanya bapak kepala suku di kampung sebelah mengundangku, mungkin saja skala acaranya kali ini lumayan besar. Entahlah … apa ia baru mendapat ‘uang gugat tanah’6 yang lumayan banyak, ataukah baru saja mendapat rejeki ibarat durian runtuh. Aku sempat mengenalnya dekat beberapa tahun terakhir karena lelaki yang sudah hampir 60 tahun ini pernah menitipkan anak lelakinya yang terkecil, dari istri kedua atau ketiganya, untuk belajar berhitung di rumahku 2 kali seminggu tahun lalu.
***

Hujan sudah tak turun. Rhea menemaniku ke kampung sebelah. Lembayung senja menggurat langit, berselingkuh dengan awan – awan mendung yang tersisa, menghalangi pancaran matahari yang malu – malu masih tampak. Sepeda motor buatan Jepang yang dikemudikannya berjalan mulus menembus kampung - kampung pesisir kami yang langsung berbatasan dengan perbukitan di belakang tiap kampung. Kampung – kampung yang mulai menampakan kemajemukannya. Penghuninya tak hanya orang – orang yang bermoyang pesisir tetapi juga saudara – saudara serasku yang datang dari pegunungan dan juga para pendatang dari daerah luar Papua. Walau memang belum seramai seperti di kota.

Sabua7 sudah dipasang dengan hiasan janur kuning dan tenda biru. Kursi – kursi dan bangku – bangku panjang ditata rapi. Meja makanan diletakan di pinggir sabua. Dekorasi a la kampung pasisir. Rhea dengan pandangan bertanya menarik jemariku menunjuk ke depan; sebuah kursi pelaminan yang ditata rapi ibarat peraduan para raja dan ratu sehari, lengkap dengan ucapan ‘selamat menempuh hidup baru’ di atasnya. Siapa yang menikah? Aku tak tahu.

Kebisuan kami pecah kala tiba – tiba pembawa acara mengupas tanda tanya kami, saat mempersilahkan kepala suku masuk ke dalam areal pelaminan. Seorang lelaki tua yang beda beberapa umur denganku, berjalan masuk dengan jas hitam, yang mungkin disewanya entah dari siapa. Berjalan dengan senyum jumawa, memamerkan gigi – giginya yang tak lagi utuh dan putih. Di belakangnya menguntit seorang perempuan yang belum menjadi wanita dewasa, entah indung telurnya telah melepaskan sejumlah sel telur melewati tuba falopii-nya, aku tak tahu. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya. Pandangannya malu bercampur takut, berjalan pelan, tertunduk dalam wajah penuh pupur tebal dan perona pipi warna merah muda. Ada yang pecah dan luruh di hatiku sama seperti yang terekam dalam wajah Rhea yang kulihat. PUUUUUUUUUUA??? Kenapa?

***

Epilogue

Ia lulus dengan nilai yang lumayan tinggi. Kala ijazahnya diambil, kutahan ia beberapa menit di dalam ruanganku. Pandangan penuh tanyaku memecah kabut bening yang ada di matanya. Dengan terisak, ia hanya bilang:
“Mama guru, begitu suda … Bapa dan kaka dong mau begitu jadi, sa ikut saja. Tra bisa bikin apa – apa. Untuk bayar tanah ka utang begitu.”

Lututku lemas! Ada bening cair yang pecah di mata dan hatiku.

Aku pun teringat kata – kata Rhea sebelum ia pergi menginap di rumah kami di kota, “Di seluruh budaya … sumber dari legitimasi atas kekuasaan yang berlebihan terletak pada laki – laki karena aktivitas laki – laki merupakan tempat penentuan nilai budaya. Hal ini karena laki – laki mempertahankan jarak dari lingkup domestik.”8.

Entahlah … sekali lagi, ada yang pecah di hatiku.


(Manokwari, 260711; inspired by a true story in Manokwari last month when a girl in sixth grade has to marry an old man for the sake of ‘dowry’ and ‘reimbursement’ as well as to maintain her family domain.)



Catatan:
1. Gici – gici (Melayu Papua) sebuah permainan anak – anak khususnya anak perempuan, yang berupa gambar kotak – kotak di tanah dan menggunakan sekeping batu tipis ataupun pecahan genteng atau ubin sebagai ‘pion’ bermain yang dilemparkan sebagai indikator melompat dengan berbagai gaya. Gambar di tanah dalam permainan ini mempunyai banyak bentuk, ada yang menyerupai salib, kincir angin hingga manusia.

2. ‘Anyam kulit kepala’ (Melayu Papua) Istilah Melayu Papua di Manokwari untuk merujuk anyaman rambut keriting yang simpul eratnya menempel di batok kepala dan tidak terurai langsung. Dalam bahasa Inggris disebut ‘corn rows’. Paling tepat diaplikasikan pada rambut keriting kecil (frizzy hair) karena ikatan simpulnya yang lebih rapi dan kuat. Pola anyaman ini dapat dibentuk menjadi pola tertentu, misalnya jarring laba – laba, hingga simbol mata uang Dollar seperti $.

3. Jennifer Lopez, yang lebih dikenal dengan nama J-Lo, seorang pemain film dan penyanyi pop Amerika keturunan Amerika Latin yang melejit dengan single perdana ‘My love don’t cost a thing’.

4. Zillah R. Eisenstein. Seorang teoritisi politik Amerika yang menulis buku ‘Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism’ (1979) dan juga ‘Radical Future of Liberal Feminism’ (1981). Kutipan di atas di ambil dari bukunya yang terbit tahun 1979. Penulis berkenalan dengannya awalnya saat melihat namanya di sebuah ensiklopedia feminis beberapa tahun lalu.

5. Pace (Melayu Papua) Sapaan umum yang dipakai untuk menyebut ataupun memanggil lelaki dewasa dimana lebih bersifat sapaan umum. Asal katanya tidak diketahui, apakah bentuk reduksi fonologis dari kata Melayu ‘Pakcik’ atau ‘Pakci’’ ataukah dari sapaan Belanda ‘papa tje/papa’ce’ (harafiah, Bapa sayang; menurut seorang teman’ JT. Weohau)

6. ‘Uang gugat tanah’ merujuk pada fenomena sosial ekonomi di Manokwari usai kejatuhan Orde Baru. Dimana beberapa pihak yang mengatasnamakan keistimewaan hak ulayat mengklaim ulang ataupun menggugat kepemilikan tanah, entah yang memang belum terselesaikan dengan pemerintah ataupun yang sudah diselesaikan secara finansial oleh pemerintah maupun individual. Pembahasan fenomena ini belum disosialisasikan dengan jelas, khususnya terkait dengan hukum adat dan positif dari motif ekonomi fenomena ini. Selain itu, sepengetahuan penulis, belum ada indikator jelas tentang nominal perhitungan yang dipakai didalam membuat assessment nilai tanah yang digugat, apalagi terhadap tanah yang telah jatuh pada tangan kedua dan ketiga yang telah melalui proses pembayaran yang sah menurut hukum positif.

7. Sabua (Melayu Papua) Istilah yang merujuk pada tenda ataupun kerangka tenda, baik beratapkan seng, terpal ataupun dedaunan dengan dinding – dinding kosong yang digunakan sebagai tempat peneduh suatu kegiatan. Skala masif dari bivak.

8. Pendapat ini dikutip dari pendapatnya Rosaldo dan Lamphere dalam Maggie Humm’s ‘Ensiklopedia Feminisme’, edisi terjemahan (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru). Hal. 358.

0 comments: