Setiap kali kubukukan pemikiranku dalam deretan kata di layar ketik berwarna putih buatan oom Gates, ada yang pecah di hatiku. Sebuah ide berjalan pelan merayap masuk ke dalam ganglion – ganglion sarafku, mengajak bertakziah jauh ke luar jendela kamarku yang berdinding penuh gambar pohon selama 4 musim. Hari ini pikiranku mengajakku pergi jauh ke dalam serapan kenangan dan kesimpulan cerita yang kudengar sore ini. Sebuah cerita pembantaian di mana ego kesukuan ataupun nasionalisme buta membuat orang – orang kehilangan hidup, nyawa dan juga pemakaman yang layak sebagai manusia, yang sayangnya kemudian hanya menjadi kisah tersembunyi yang berusaha ditutup – tutupi. Catatan ini bukanlah sebuah ajang provokasi, ataupun berusaha membuat sebuah suku, institusi ataupun negara merasa didiskreditkan ataupun dihina. Hanya sebuah catatan pemikiran yang membuatku marah dan sedih sore ini. Entahlah ….
Sore ini, saat sedang sibuk menunggui kerja mesin cuci di rumah belakang, sambil ngobrol dengan adik laki – lakiku dan keluarganya, kami membahas tentang seorang teman lama yang pulang cuti dari tugasnya sebagai pasukan keamanan di sebuah daerah jauh di pegunungan tanah ini. Bagi aku dan adikku, pembicaraan politik bukanlah hal yang tabu dan sah – sah saja. Teman lama kami bercerita pada adikku yang sedari dulu memang sangat terobsesi pada sesuatu yang bersifat militer dan urusan pengamanan, sayangnya dalam dua kali tes menjadi pasukan, ia gagal. Walau memang ada urusan “konspirasi” di mana seorang kerabat dekat kami tak setuju ia menjadi salah satu anggota dari korps tertentu karena alasan latar belakang keluarga kami. Kerabatku tak mau saja bila suatu saat, adikku harus menjadi seorang eksekutor penangkapan dan sejenisnya.
Sambungan cerita dari teman lama kamipun mulai mengisi pembicaraan kami. Mulai dari kerasnya hidup sebagai penjaga keamanan di sebuah daerah pegunungan tanah ini dan konflik yang terjadi di tempat tugasnya. Hingga beberapa laporan yang tak akan mungkin bisa tampil di headline surat kabar negeri ini ataupun tingkat lokal. Tentang betapa seringnya ia melihat sisa – sisa banyaknya saudara sebangsa kami yang dibantai menjadi mayat – mayat tanpa kepala hasil kebuasan mereka yang datang jauh dari seberang pulau. Yang tak bisa membedakan mana masyarakat sipil atau bersenjata selama busur dan anak panah menempel erat di tubuh, di situlah tubuh – tubuh berkulit gelap dan berambut keriting tergeletak jatuh. Bahkan teman kami menuturkan pada adikku betapa kejam dan brutalnya lelaki – lelaki gelap itu dieksekusi, tak hanya sekedar ditembak dengan peluru – peluru tajam dan timah panas, tetapi juga kepala – kepala mayat sampai dipotong lepas dari tubuh dan dibuang beramai – ramai ke jurang. Tak lupa dengan acara foto – foto dengan HP bersama korban. Bagi mereka, tak perlu mengetahui siapa ‘pemberontak’, yang penting bersenjata tradisional, berambut keriting, berkulit hitam. Cukup!!!
Teman lama kami masih punya banyak cerita pada adikku, apalagi ia baru bertugas sejak 5 tahun lalu, hingga kisahnya selalu terasa baru namun tampaknya aku tak sanggup lagi mendengarnya. Aku tak tahu apa yang teman kami rasakan, toh ia tidak mewarisi setetes pun darah kami yang berkulit gelap dan berambut keriting. Yang aku tahu, ada yang pecah di hatiku; memoria passionis, mungkin!!! Ada yang bergejolak di hatiku sore tadi, sebuah panggilan untuk menuliskannya. Entah cerpen, entah puisi, entah elegi, entah esai lepas, entah catatan tak jelas. Aku hanya marah dan sesak di dada, terasa sesak. Apakah demi kekuasaan yang entah untuk siapa, ada banyak lelaki dari sebuah populasi asli yang semakin menipis harus mati sia – sia karena mereka tak berbicara bahasa nasional, tak memakai pakaian modern dan juga membawa senjata tradisional? Aku tak tahu, yang kutahu aku merasa marah.
Apakah para penjagal mereka pernah berpikir, apakah mereka memang pernah meminta orang – orang dari pulau lain ini datang ke tanah mereka dan membangun mereka?
Apakah para penjagal mereka pernah berpikir dan melihat, siapa yang menjadi ‘tamu’ dan siapa ‘pemilik asli’ tanah di mana lelaki – lelaki ini harus mati?
Apakah demi suara dan kata – kata para tetua penjagal yang entah berdiri di dunia mana yang seenaknya menyerukan dan mengklaim dan ‘makan puji’ mengaku bahwa kebun – kebun, dusun – dusun, hutan – hutan warisan nenek moyang di atas nenek moyang korban, menjadi alasan bahwa para penjagal punya hak dan legitimasi untuk membantai lelaki – lelaki ini? Aku tak tahu. Bagiku urusan legitimasi tetaplah hanya urusan senjata, kekuasaan dan uang. Tak ada hati, nurani ataupun rasa kemanusiaan.
Kita sedang perang, saudara!!! Kita sedang perang, saudari!!!
BUKA matamu!!!
Penjagal – penjagal ini selalu ingin ada darah yang tertumpah agar ada uap nasi yang mengepul keluar dari dandang mereka. Biaya keamanan, operasi keamanan, agar kita para pemegang NPWP mendanai mereka. Agar komisi keringat – keringat kita mengucur untuk para bos penjagal tambun yang seenaknya menggadaikan darah, keringat dan ratapan lelaki – lelaki ini demi biaya clubbing anak mereka, cucu mereka. Demi mobil mewah keluaran negeri asing di garasi mereka, demi lawatan ke negeri – negeri jauh dan demi urusan – urusan tak perlu mereka.
Entahlah … yang kutahu, sore hingga malam ini aku marah!!!
Catatan ini tak lepas, tak akan lepas, karena kita sedang PERANG!!!
(Manokwari, 090711; merasa sesak hati mendengar berita kejadian – kejadian di sebuah tempat di tanah kelahiranku; Papua)
0 comments:
Post a Comment