Search This Blog

Loading...

Thursday, 23 June 2011

Tukang Mimpi: Kalau Dayanara bikin kedai

Subuh ini masih tak bisa tidur karena campuran efek minum kopi (don’t care with my damn reflux oesoephagitis) , makan kacang bawang (despite its effect on my face … ouch!!!) sehingga kembung, dan tentu saja berkendara kencang menembus hujan sore tadi (EPZ banget for the effect on my bronchus tissue). Karena keadaan tubuh yang enggan tidur, kuisi dengan membaca sebuah edisi Khusus majalah Intisari, tapi karena suasana dingin usai hujan akhirnya membuat sebersit impian beberapa tahun belakangan yang kerap muncul dan pernah kuceritakan kepada beberapa teman, keluar dengan suksesnya dari perbendaharaan otakku dan memaksaku menghidupkan komputer jinjingku yang telah setengah jam tewas usai mengerjakan lembar – lembar terjemahan.

Mungkin ini hanya sebuah impian kecil yang sempat hinggap di benakku yang akhir – akhir ini tak tahan berhujan – hujan, dan sayang bila tak kutulis. Anggap saja hanya tulisan EDISI TUKANG MIMPI seperti biasanya. Walau tetap berharap suatu hari akan ada yang seperti kutuliskan ini, setidaknya sambil mengetik catatan ini, aku sedang mengaktifkan belahan otakku untuk berimajinasi dan tersenyum – senyum mengenyahkan rasa tidak nyaman tubuh.

Manokwari, kota hujan yang selalu membuatku jatuh cinta. Bukan karena aku menyukai tanah cair yang kerap melumuri motorku ibarat ‘lulur’ ataupun ‘masker lumpur’. Tapi karena aroma tanah usai hujan yang kadang menggeliat mesra masuk paru – paruku, belum lagi suhu yang kerap turun kala malam dan membuatku dapat merasakan keheningan malam. Bagiku malam terasa lebih seksi kala suhu sedang meregang nyawa menjemput titik bawah. Mungkin karena saat itu, kita benar – benar merasa kesepian dan merasakan bahwa Tuhan sengaja menciptakan malam agar ada hati dan orang – orang yang kita rindukan, agar Tuhan terasa lebih dekat dalam kelamnya malam dan api sebagai salah satu keajaiban yang terasa seksi di mataku (P.S. Tampaknya aku ada bakat menjadi arsonis ^_^).

Omongan tanpa arah ini tampaknya harus segera kujelaskan dengan lebih gamblang sebelum anda yang membaca segera mengganti tampilan tulisan ini dengan tampilan lain yang lebih variatif dan hidup plus jelas. Karena sedari tadi kukatakan bahwa ini hanyalah salah satu edisi mimpiku maka anggap saja seperti biasanya, aku hanya seorang pemimpi yang tersesat dalam labirin realita dan sedang berusaha menuliskan dengan runut walau masih tak mampu.

Impianku akhir – akhir ini hanyalah mempunyai sebuah kedai minuman hangat dan makanan kecil dengan unsur Papua yang kental walau tak menafikan bahwa ada rempah – rempah dan elemen budaya lain yang akan kucampurkan dan tentu saja dengan sebuah tampilan suasana yang bisa menjadi tempat menonton hujan dengan seksi. Sebuah tempat yang sebenarnya kurancang hanya untuk orang – orang sepertiku yang senang menonton tarian hujan sambil membaca ataupun browsing ditemani musik lembut bernuansa hujan ataupun alam ataupun sekedar ngobrol dan menulis. Sejenis sanctuary atau tempat perlindungan dari hujan.

Rumah minuman hangat dan makanan kecil ini akan kuberi nama “My Mos” yang secara literal berarti ‘hujanku = sa pu hujan = my rain’. Sebenarnya karena nama panggilanku berbunyi mirip dengan ‘My’ dan juga karena dalam bahasa suku mamaku, kata ‘air’ kerap disebut ‘Mei’. Sedangkan kata ‘Mos’ berarti ‘Hujan’ dalam bahasa yang sama. Selain itu, aku suka lafal ‘Mos’ yang sama dengan kata ‘Moss’ dalam bahasa Inggris yang artinya ‘lumut’. Sehingga semua kata rujukannya bermakna ‘basah, air, lembab’. Belum lagi ditambah dengan lafal keseluruhan dari “My Mos” yang sangat mirip dengan pengucapan “air yang ada di pagi hari” tetapi kerap kuterjemahkan menjadi ‘hujan pagi’ dalam bahasa yang sama.

Aku membayangkan saat masuk ke dalam kedai ini di tengah hujan deras dan disambut pelayan yang berbicara dengan Melayu Papua (walau akan kulatih berbahasa Inggris dasar untuk pelayanan) menawarkan tempat menaruh payung dalam bak – bak kayu kotak beralas plastik berdasar kulit kerang kering dan biji – bijian liar tepi pantai yang tergeletak di sudut – sudut pintu masuk kedai. Pelayan di kedai ini rata – rata adalah anak – anak Papua putus sekolah yang dilatih untuk bekerja dalam industry hospitality seperti ini. Kuperhatikan pelayan perempuan berambut anyaman corn rows berpola unik mengatur payung – payung di kotak kayu. Selain itu kedai ini dilengkapi dengan rak titipan buatan sendiri dari bilah – bilah bambu belah ibarat lantai rumah yang dipernis rapi guna meletakan jaket ataupun helm pengunjung. Pelayan ini tak lupa menawarkan informasi bila ingin membasuh rambut yang basah dengan handuk kecil di kamar kecil ataupun sekedar membasuh kaki.

Kulangkahkan kakiku masuk dan disambut dengan aroma harum potpourri ataupun aroma minyak esensial khususnya kopi dari tungku – tungku bakar kecil di beberapa pojok ruangan. Kadang – kadang tempat ini juga menyajikan aroma kasbi bakar ataupun seduhan kopi kental sebagai arang pengganti aromaterapi esensial. Ditambah lagi ditemani musik bersuasana hujan ataupun alam, ataupun aliran air plus lagu Papua. Yang pasti, lagu berbahasa Biak “Kobesise Sisye Kwaro” ataupun sejenis “nyanyian Sunyi” dan ‘Mambo simbo’ pasti ada. Kulihat meja kayu yang dibentuk ibarat peti kemas sisa pengepak sayuran yang sudah dipoles, tergetak manis di atas lantai berubin kasar kedai berwarna gelap ditemani kursi taman bersandar untuk satu orang dengan dudukan lembut. Mejanya dirancang dengan sebuah stop kontak di bawah supaya mereka yang ingin browsing tak harus repot kebingungan kala mencari pasokan daya, apalagi tiap menu minuman dan makanan dilengkapi voucher gratis Wi-fi selama 30 menit dan dapat diperpanjang dengan membeli kupon voucher wi-fi seperti di warnet tetapi tentu saja dengan tambahan harga kenyamanan.

Mataku tak luput pula memandang sudut pojokan kedai yang dibatasi oleh pintu kaca dan langsung bersinggungan dengan udara luar yang diperuntukan bagi para perokok. Ruangan pojok itu dipenuhi dengan beberapa tanaman hijau dan dinding penuh tanaman rambatan dengan gantungan lucu bertuliskan, “ooops, sa hosa … uhuk … uhuk!!!”.

Kulihat lagi beberapa pengunjung lain masuk dan memilih duduk di kursi – kursi sofa nyaman bermotif batik Papua dilengkapi meja kopi rendah di sudut lain ditemani pilahan bacaan dari sebuah rak kecil berisi majalah gaya hidup hingga kesehatan. Lampunya yang sedikit terang dibanding di bagian meja peta kemas yang bernuasa hangat membuatku teringat beberapa kafe baca yang pernah kusinggahi. Semua meja yang kemungkinan diisi pengunjung mempunyai stop kontak listrik. Tentu saja hal ini terinspirasi dari meja belajar di kampus ANU jaman kuliah dulu.

Pelan - pelan kutilik daftar menu minuman dan makanan kecil yang terlipat rapi seperti buku agenda kecil bermantel cokelat bertuliskan nama – nama menu dan deskripsinya yang membawa kenangan Papuaku membelah diri dalam piranti otak. Menu kedai ini mungkin hanya menu biasa – biasa saja yang tercuri dari beberapa kenangan masa kecil, masa remaja dan juga pengalaman ‘ukur jalanku’ yang belum seberapa. Apalagi kedai ini dengan bangganya mengaku bahwa 75% dari bahan baku makanan di kedai ini datang dari petani lokal plus dari hasil kebun pemberdayaan kelompok tani perempuan di kota ini dan daerah sekitarnya. Sekali lagi kulirik daftar menu dengan nama – nama yang membuatku mengenang beberapa keping memori yang pernah kental dan lengket, seperti:

Ketumbar (Keladi Tumbu Bakar) – mengingatkanku akan Keladi Tumbu buatan mamanya Mia apalagi yang kusukai adalah yang beraroma sedikit gosong, sangat khas di hidungku. Apalagi ‘Ketumbar’ ini punya banyak varian rasa. Mulai dari yang standar seperti santan. Ada juga yang gula aren, mentega, keju, cacahan kacang tanah, kenari hingga coklat chip. Bahkan kulirik meja seorang pengunjung di sebelahku yang menyantap ‘keladi tumbu’ dengan lumuran coklat cair berbentuk bintang. Jangan heran, di kedai ini, keladi tumbunya dikemas kecil seukuran kaset tape recorder, berbentuk bendera bergaris – garis dengan cap bintang yang dominan, apalagi variannya ditentukan dari topping bendera tersebut, entah keju, kacang atau yang lainnya.
Split Taro – alias keladi PNG yang dibelah dan dikukus dengan isian gula ataupun kelapa berkaramel ditemani dengan parutan kelapa mengkal bercampur sedikit garam. Apalagi keladi ini direbus dengan daun pandan.

KashMeer – Tentu saja ini bukan makanan dari dataran India utara yang mempunyai basis pemberontak, tetapi hanyalah rebusan singkong hangat dengan saus buah merah kukus. Karena singkong disebut ‘kasbi’ di lidah Melayu Papuaku dan mengingatkanku pada pengalaman bersentuhan dengan buah pandan ini hampir dua puluh tahun silam dalam kunjungan menginap di rumah kerabat di daerah Jin Buang Anak, maka kuberi nama ‘KASbi saus buah MERah’. Santapan ini pun berbentuk sama dengan ‘Ketumbar’, yang tentu saja penuh dengan kandungan karbohidrat dan antioksidan dan tentu saja kadar beta-karoten yang tak diragukan lagi.

Sagoo– alias sagu forno dan ditemani dengan saudara – saudaranya dengan banyak varian rasa, mulai dari yang dibakar dan dicampur dengan kelapa dan kacang hingga yang diletakan dalam ikatan daun kakao ataupun bilah bambu dan dibakar. Ataupun yang cukup eksotis dari kedai ini; sagu buah hitam dari daerah teluk Saireri.

Popsi (Puding Petatas Seksi) – puding agar – agar yang dicampur dengan kukusan petatas dan karamel dalam wadah cetakan ice tray berbentuk perempuan seksi berbikini. Puding ini kadang – kadang divariasikan dengan puding labu ataupun puding tape.

Sukses (Sukun Seksi Sekali) – cacahan kukusan sukun yang digulung dalam kulit dadar dan diberi campuran ikan asar tumis pedas dengan saus sambal cair yang disajikan dalam wadah terpisah.

Pisang Rebus – ditemani dengan berbagai macam saus dampingan. Apalagi spesialis kedai ini adalah pisang tanduk khas pegunungan Arfak.

Kolak – Mulai dari kolak kasbi, keladi, pisang maupun olahan sagu.

Menu – menu diatas dapat pula ditemani dengan hidangan side-dish seperti sepiring kecil ikan asar tumis pedis, bunga papaya dan kangkung tumis pedis yang diisi dalam kulit dadar ataupun irisan kombrof asar (gurita asap) dan bia kering.

Tak lupa beberapa penganan yang jarang kumakan beberapa tahun ini pun hadir juga, sebut saja bila anda tertarik dengan KELAPA BAKAR, KASBI KABAR, KELADI BAKAR, PISANG BAKAR, dengan varian saus yang berbeda, mulai dari sambal hingga saus panggang dan saus buah merah. Selain itu, Tak lupa pula adanya sinole dengan berbagai varian rasa ditambah penganan khas Indonesia Timur lainnya seperti kue serut dan bagea dari Maluku. Ooops, aku bahkan hampir melewatkan acara mengintipku kalau tak menyebutkan adanya swami, dan ambal (sejenis olahan singkong yang dibakar seperti sagu forno dengan isian kelapa karamel). Bagi yang ingin mendapat olahan inipun dapat membeli di outlet take-away untuk dibawa pulang khususnya untuk penganan kering kedai kami.

Bila sambil nongkrong anda ingin merasakan asinan, jangan pernah lupakan porsi kecil kemasan kecil RICA GARAM dengan pilihan buah seperti GIAWAS, MANGGA, TOMI – TOMI, LONGGA – LONGGA, KEDONDONG, PEPAYA, MENGKUDU dan LEMON CINA.

Kedai ini pun menyajikan minuman yang rata – rata hangat dan panas mengingat kondisi cuaca Manokwari yang seperti Melbourne di Australia alias tak stabil dan kerap berganti sesuka hati. Minumannya memang berkisar hanya pada 4 jenis. Mulai dari aneka kopi, teh, cokelat, susu, sari buah maupun minuman tradisional yang dikemas khusus (baca: air wati, seperti kava dari Fiji). Kalau kopi, kedai ini tak terlalu mengusahakan yang mahal dan tak mau yang terlalu western’s style walau kuakui aku pernah menjadi salah seorang penikmat kopi a la barat dengan gaya cupping yang khas dan kerap mengecengi barista keren di kafe. Tapi untuk kopi mungkin aku tetap suka gaya tradisional yang tak ada espresso dan granula topping segala macam yang ditambahkan, walau penyajiannya akan tetap elegan. Bagaimanapun mungkin Kopi Toraja dan produksi lokal dari Pegunungan Tengah Papua akan kupilih. Selain itu, mungkin karena 6 tahun lalu aku jatuh cinta pada kopi Arab yang kaya rempah, aku ingin akan ada racikan kopi rempah khusus yang disajikan di kedai ini. Karna aku keturunan Arfak, aku berpikir untuk meracik kopi rempah dengan tambahan kikisan kulit kayu Akuai yang khusus disajikan untuk kaum lelaki, apalagi sangat cocok bagi cuaca dingin.

Teh mungkin salah satu hal yang mulai kusuka 2 tahun belakangan ini, walau aku tahu tak mungkin punya rumah teh lengkap seperti di Canberra misalnya seperti yang kulihat di “Chai Tea House”. Tapi apapun teh yang disajikan kelak, akan ada teh rempah hangat pengiring acara ngobrol. Entah teh kental bercampur gula aren dan kayu manis, teh gado – gado yang pernah kubuat pengusir dingin kala di Canberra yang berisi racikan bumbu dari lemari semisal jahe, pala, dan cengkeh. Teh lemon sudah pasti ada di dalam menu yang disajikan. Bahkan bila ada yang menyukai teh susu a la gaya Inggris (aku terbiasa akhirnya karena acara Arvo tea yang kerap kuikuti dengan para oma tetangga) pasti akan disajikan *pada bagian ini aku tersenyum – senyum mengingat bagaimana teh susu pesanan Ellen dan Vivie yang susu cairnya di teko kecil kerap kuembat abis di Pajenka’s. Tentu saja seperti Kopi, Teh Akuai sudah jelas akan ada hehehe.

Susu, cokelat panas dan sari buah khususnya yang hangat mungkin hanya pelengkap saja. Tentu saja ditambah lagi dengan sajian minuman tradisional seperti air wati atau kava dengan dosis rendah.

Sambil menikmati lagi segelas tes kayu manis yang kupesan dengan seiris KashMeer dan mendaratkan tubuhku di kursi kayu, tiba – tiba alarm ponselku berbunyi … dan BUYAR SUDAH IMPIAN TINGKAT TINGGI ini apalagi kepala makin pusing usai dampak minum kopi tadi sore wkwkwkww.

I’ll make this kedai someday!!!! *dalam-mimpi-statement
(Manokwari, 230611)

0 comments: