Search This Blog

Loading...

Tuesday, 28 June 2011

A sudden sorrow

Menjadi pemimpi mungkin salah satu kegiatan yang selalu kulakukan sejak kecil. Awalnya bukan hanya karena suka berimajinasi tetapi juga sebagai upaya melarikan diri dari kenyataan hidup. Awalnya hanya rentetan mimpi, tetapi kemudian menjelma menjadi sebuah visi dan tujuan walau tetap kedengaran bodoh bagi beberapa orang yang tak pernah bisa mengerti dan mungkin tak mau mengerti.

Apa mimpi (atau mimpi – mimpi) terbesarmu? Apa yang hendak kau capai pada titik terakhir hidupmu kelak? Apakah hidup yang kau jalani saat ini adalah perwujudan mimpi dari sekian tahun silam ataukah terjadi tanpa sebuah skema jelas yang kau susun yang kau percaya hanya sebagai ‘kebetulan’ dan ‘mengalir’ saja? Aku tak tahu karena bukan aku yang menjalaninya. Hidupku sendiri sejauh ini terdiri atas dari kumpulan keping mimpi yang terpenuhi dan yang tak terpenuhi dan sejauh ini, aku masih bersyukur bisa hidup.

Saat menulis catatan ini tiba – tiba dadaku terasa sesak, seakan ada beban besar yang menghimpit dan sebuah panggilan untuk berdoa tapi tanpa kutahu jelas untuk apa berdoa. Dari dalam diriku, hanya diminta untuk berdoa dan membaca Alkitab dan katanya mendoakan orang – orang sepertiku yang malam ini sedang punya masalah. Entah apa. Aku berusaha memutar lagu rohani berirama riang dari Hillsong tapi beban itu masih saja ada.

Kubuka Alkitab dan terpapar dengan kitab Ayub 3: 1 – 26 tentang keluh kesah AYub yang bahkan sampai mengutuk kelahirannya sendiri. Intinya si Ayub sampai mengeluh pada Tuhan tentang hidupnya. Dan usai membaca kitab ini aku masih tak paham hingga dituntun untuk membuka kitab lainnya di Yesaya 44: 1 – 8. Dua pembacaan ini ibarat sebuah percakapan. Saat ada keluhan yang keluar, Tuhan member sebuah jawaban yang menenangkan hati. Alkitabku versi Good News Bible menulis di ayat 2, sangat menenangkan hatiku, “I am the Lord who created you; from the time you were born, I have helped you. Do not be afraid; you are my servant, my chosen people whom I love.”

Rasa sesak ini masih ada namun intensitasnya sudah jauh berkurang usai berdoa dan membaca kitab plus dihibur lagu gospel.
Entahlah … apakah ini sebuah kegilaan sesaat malam ini, aku tak tahu. Yang aku tahu … yang dapat kulakukan malam ini adalah berdoa dan meminta dukungan doa dari beberapa teman dekat; para malaikat tanpa sayapku.

Thanx Jesus 4 them in my life. Amen

(Manokwari, 270611)

0 comments: