Search This Blog

Loading...

Tuesday, 28 June 2011

Malaikat tanpa sayap

Kata orang, saudara adalah mereka yang sedarah dengan kita, karna toh berasal dari bentuk reduksi bunyi dari ‘satu darah’ atau ‘sedarah’. Bagiku, saudara tak hanya ditentukan oleh sebuah pertalian DNA yang terjalin dalam simpul – simpul genom yang dipetakan dalam rumus – rumus dan simbol kimia. Bagiku, mereka yang mengerti, memberi waktu barang sejenak, bahkan hanya sambil lalu dan memahami kehadiranku adalah mereka yang kupanggil sebagai teman, sahabat, dan bahkan saudara; para malaikat tanpa sayap.

Malam ini yang kurasakan adalah aku dikelilingi oleh banyak ‘malaikat tanpa sayap’ku yang selalu hadir, baik untuk sebuah masa, sebuah alasan ataupun di sepanjang hidupku. Aku mungkin tak menulis tentang siapa mereka, bahkan secara spesifik bahkan mungkin tak termasuk dalam daftar tautan catatan ini tetapi aku ingin bilang, “You mean a lot to me so far … sebagai salah satu keping yang mungkin pernah, sedang ada, dan akan terus ada di dalam hidupku” .. and I say “Thanx heaps and may God bless you abundantly”.

Beberapa tahun terakhir, aku dikelilingi oleh banyak orang – orang biasa yang mungkin tak paham bahwa mereka adalah orang – orang menakjubkan dan luar biasa yang sedang disiapkan Tuhan untuk menjadi ‘pasukan elit penolong’ di planet bernama bumi ini. Mereka kadang tak menyadari bahwa satu hal kecil yang mereka buat bermakna banyak untuk orang lain, salah satunya aku yang menerima anugerah itu.

Aku teringat beberapa teman kuliah S1, baik semasa di Unsrat Manado maupun di UNIPA, yang selalu menjadi “partner-in-crime”ku. Urusan ngerjain cowok, kuliah bahkan hal – hal gila lainnya, ataupun menjadi sekedar teman curhat dan merespon pertanyaan ‘basi’ seperti, “Boo carikan sa pacar ka?” Ataupun merespon pertanyaan seperti, “kalo sa mati nanti, kam ingat sa ka trada?”. Mereka ibarat lilin – lilin kecil ataupun minyak kelapa di piring kaleng bersumbu kapas yang tak peduli listrik PLN lagi ‘byar – peet’ dan tetap bersinar. Merelakan diri mereka terbakar dan hangus berasap demi menerangi hati – hati rapuh sepertiku yang butuh dukungan, sugesti dan perhatian. Sayang beberapa dari mereka adalah teman – teman untuk semusim karena adanya ruang dan waktu yang memisahkan. Toh mereka kan kukenang sebagai para superhero semasa kuliah termasuk saat dikejar anjing di dekat kos dulu ataupun saat surat kaleng berbuntut urusan panjang. You’re the best I have ever had!!!

Waktu berlalu dan aku kerap jatuh cinta dalam tanpa tali pengaman, menjadi seorang sentimental fool, yet I have to let my heart ‘dipadamkan’ dengan paksa. Tetapi di tengah derai air mata dan sakit hati plus kekecewaan yang ada, beberapa ‘malaikat tanpa sayap’ singgah dan membantu meminjamkan ‘sapu tangan’ mereka untuk kupakai. Pulsa ponsel, menjawab SMS tak pentingku, membantu memeriahkan ladang hati yang sedang habis dibajak. Mereka adalah para superhero yang tak perlu memakai jubah, kostum keren ataupun gadget canggih keluaran lab terbaru dengan rekening rahasia bank Swiss. Mereka adalah para pahlawan super yang sedang dalam misi rahasia yang kadang tak mereka sadari, dan selalu berkata, “semuanya akan baik – baik saja, May.” Para pahlawan super ini membantuku menyimak hujan di hatiku untuk seorang lelaki yang bahkan tak pernah tahu ada hujan di hatiku, membantuku mendendang usai mengajarku menghitung seberapa lama aku boleh bersedih dan harus melanjutkan hidup. You’re the best!!!

Lalu aku pun pergi jauh ke sebuah benua kering, di sebuah surga burung yang langitnya sebiru laut. Di sana, di tengah – tengah invasi lidah beraneka macam dan kejaran tumpukan bacaan buku teks ibarat mimpi buruk, aku pun bertemu mereka lagi; para malaikat tanpa sayap. Mereka dengan latar belakang yang berbeda, dengan visi, ideologi politik, bahkan gaya hidup yang berbeda, membantuku bertahan melewati beberapa musim penuh serangan sleeping disorder, arthritis, reflux oesephagitis, proscratination dan depresi. Para malaikat tanpa sayap ini menyapaku dalam bentuk lelaki dan perempuan, tua dan muda, dalam bentuk postur tubuh yang berbeda, baik di kampus, gereja ataupun bahkan di sebuah suburb bernama Downer ataupun lewat layar jejaring sosial. Mereka menjelma menjadi mereka yang kerap mengajarku memasak dan membuat kue, yang kerap menghibur dengan suara mereka ataupun yang mengingatkanku bahwa “semuanya akan baik – baik saja” ataupun yang sering menemaniku curhat ataupun berbagi masakannya yang lezat di asrama.

Waktu berlalu dan aku teringat bahwa selama ini, baik para malaikat yang ada untuk semusim, ataupun sebuah alasan, ada juga mereka yang selama beberapa tahun terakhir ada untukku dan akhir – akhir ini kerap kuganggu dengan urusan curhat tak pentingku, ataupun urusan lainnya yang mengganjal di otakku. Para malaikat tanpa sayap ini kerap berwujud lelaki maupun perempuan dengan sejuta potensi diri. Ada yang tak pernah lelah percaya perlu adanya sebuah bumi hijau dan berusaha menjadi apa yang ia inginkan, ada yang selalu tampil cantik walau hatinya berulang kali dilukai tetapi tetap tegar dan juga yang sekedar berbagi cerita, humor maupun hal – hal kecil yang membuatku hidup ataupun menemaniku dan mendengarku bercerita. Mereka adalah orang – orang terdekat yang seharusnya menempati sebuah kompartemen kecil di dekat jantungku agar tiap kali jantungku berdegup, maka aku akan mengingat mereka lekat seperti tarikan napasku yang belum berhenti.

Mengingat para malaikat tanpa sayap yang datang dan pergi dari hidupku, tiba – tiba kuteringat catatanku beberapa tahun lalu dengan perihal yang sama, para malaikat tanpa sayap yang dekat seperti saudara dan lebih dari sekedar sahabat; degup jantungku yang lain. Mereka ibarat charger ponsel, notebook ataupun perangkat elektronik lain, yang selalu dicari dan satu paket dengan gadget. Para peri yang bukan Barbie ini pun kerap menjelma menjadi thermometer yang memantau tiap titik terendah dan tertinggiku atapun menjadi Air Con yang menyejukan udara panas yang melewati mukosa pernapasan dan kulit dan juga pemanas ruangan yang membuatku tak kedinginan dalam terpaan udara dingin hidup. Mungkin mereka memang haruslah kusebut juga ‘para bunga matahari’ku berwarna kuning yang selalu muncul dengan bentuknya yang spektakuler tetapi multifungsi; pemberi keindahan tetapi menghasilkan minyak nabati serba guna rendah kolesterol jahat.

Yang pasti, mereka, termasuk anda yang membaca catatan ini adalah pecahan surga yang tersembunyi yang kerap tidak anda sadari; para malaikat tanpa sayap, yang ada entah untuk sebuah musim, sebuah alasan ataupun sepanjang hidupku. You mean a lot to me and as I said, “May God bless you abundantly”.

(Manokwari, 270611; after an unidentified mental shock ^__^)

1 comments: