Search This Blog

Loading...

Monday, 27 June 2011

Catatan kematian

Subuh ini di sela – sela kerjaan, aku tiba – tiba teringat bahwa akhir – akhir ini aku terpapar dengan banyaknya berita kematian dan bukannya kelahiran. Mulai dari kematian beberapa ‘mama tua’, pelukis yang kupesan lukisannya, hingga beberapa kerabat lainnya yang berusia muda. Bahkan di area rumahku, kematian sedang berdiam karena tiap minggu pasti ada 1 - 2 orang yang berpulang, baik dengan cara yang nyaman maupun tak nyaman. Mengingat semua prosesi, rasa sesak dan sedih yang sempat hinggap membuatku sedikit berkhayal tentang apa yang sebenarnya kuinginkan dari sebuah kematianku; maksudku bagaimana prosesi pemakaman yang kuinginkan kelak. Aku tak pernah menganggap kematian sebagai hal yang menakutkan melainkan sebuah kelepasan. Kadang aku iri dengan mereka yang berpulang lebih awal dariku.

Kematian mungkin hal yang sering kerap muncul dalam pembicaraanku. Tak heran bahkan dalam fiksi yang kutulis, aku sangat menikmati melihat kematian menjadi sebuah tema ataupun numpang mampir. Mungkin karena pengalamanku sewaktu berumur 4 tahun dan melihat bagaimana opaku meninggal dan kami para cucu bermain dan berdiri sambil berbincang tanpa tangisan di samping peti mati yang terbuka dengan melihat jenazah opa. Saat itu, dari kumpulan kenangan yang bisa kuambil subuh ini, yang masih kuingat adalah seorang lelaki tua dengan rambut putih tertidur damai dalam sebuah peti mati. Aku tak punya banyak ingatan masa kecilku tentang opa, hanya masih samar kuingat bagaimana ia mengejar anak – anak kecil nakal dengan rotan pari di seputaran pohon mangga di halaman rumah dulu. Selebihnya hanyalah bayangannya tertidur pulas dalam peti. Tak banyak prosedur dan ritual yang kuingat.

Kematian dan pemakaman haruslah tak terpisahkan karena pemakamanlah saat kita memberi sebuah arti dan rasa penghormatan terakhir kepada mereka yang pernah hidup. Walau kuakui banyak sekali yang berpulang tidak diberi penghormatan yang layak, misalnya saja mereka yang dikubur tanpa sebuah prosesi atau ritual karena masalah politik ataupun juga karena bencana alam atau bencana berskala masif, ataupun hilang tanpa pernah ditemukan. Bagiku, rasa ucap syukur harus tetap ada kala keluarga yang ditinggalkan masih dapat melihat jenazah yang berpulang, masih bisa menguburkan dengan layak dan masih bisa mendapat kejelasan tentang kematian ataupun setidaknya mengetahui dengan pasti status kematian. Aku sering mendapat cerita bagaimana keluarga – keluarga yang bingung mencari status anggota keluarga yang hilang, entah mati atau hidup, entah masih bernapas ataukah telah berpulang. Mencari sebuah kepastian!!!

Dalam keluarga besarku pun, kematian bukanlah sebuah hal yang baru karena hanyalah peristiwa yang terus dan terus terjadi karena rata – rata kerabatku tak ada yang hidup lebih dari 60 tahun. Bahkan hampir dapat kukatakan kalau aku bahkan tak mengenal dengan baik siapa 6 orang yang kupanggil kakek, opa dan tete plus nenek, oma dan neneku. Mereka kukenal hanya lewat lembaran hitam putih yang tak lagi nyata. Kukenal mereka dari tuturan orang tuaku. Mengenal mereka dari putaran kisah klasik yang tak usang. Belajar lebih dalam tentang mereka dan apa yang mereka percaya dan perjuangkan.

Kita wajib bersyukur saat ini bila orang – orang dekat kita yang telah berpulang mempunyai kepastian tempat dikubur ataupun setidaknya dapat diziarahi ataupun meninggal dengan cara yang normal; dalam usia tua ataupun karena faktor generatif. Setidaknya keluarga yang ditinggalkan mendapat kepastian dan merawat ataupun memberikan penghargaan yang layak bahkan mempunyai akses berziarah. Hal ini yang kadang membuatku tak lengkap karena tak pernah sekalipun berziarah ke makam teteku di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Manokwari ataupun berziarah ke makam neneku. Karena memang mama dan keluargaku tak tahu dimana nene dikuburkan. Saat itu mama masih kecil dan diadopsi oleh sepasang suami istri Maluku sedang keluarga tete mengungsi menghindar dari operasi penyisiran militer. Yang kudengar dari keluarga besar, nene meninggal bersama dengan balitanya di hutan dan dikuburkan di hutan, di daerah pegunungan Arfak karena kondisinya drop. Sedang tete pun pada akhir hidupnya harus meninggal pula dalam pengasingan di Entrop, Jayapura, walau dengan berbagai versi kematian yang masih terus beredar. Entah sakit, entah diracun, aku tak tahu pasti. Yang aku tahu, Ia malah dimakamkan di TMP; demi sebuah pembelaan politik atau alasan lain, aku tak tahu.

Kisah yang sama pun berlaku untuk nenek dan kakekku dari pihak bapa. Yang kukenal hanyalah makam nenek di perbatasan Cirebon – Brebes. Itupun usai 6 tahun kematiannya. Sedang kakek, jangankan makam, wajahnya saja pun tak kukenal. Mungkin makam yang kukenal hanyalah makam opa dan omaku; kedua orang tua angkat mama.

Kepastian sebuah kematian dan pemakaman mungkin terasa sebagai hal yang biasa, tetapi bukan bagi mereka yang masih menanti kabar. Beberapa tahun lalu, aku bahkan pernah tergeragap melihat sebuah fakta bahwa di tanah tempatku dilahirkan ada banyak keluarga yang hingga kini masih tetap mencari jawaban tentang kematian dan kehilangan keluarga mereka. Mulai dari mereka yang bertanya tentang penyebab kematian hingga yang mencari kepastian kehidupan ataupun kepastian makam. Bukan sebuah penantian yang menyenangkan!!!

Aku teringat bagaimana sebuah pementasan tarian Papua sebuah grup dari Manokwari di dalam sebuah kongres rakyat Papua harus berujung tuduhan Makar dan para penari dan penyusun naskah diteror di tahun 2008. Padahal mereka hanya mengisahkan sebuah realita kematian yang terjadi di Biak khususnya terkait kasus Biak Berdarah di bulan Juli 2008. Kisahnya sederhana, tentang seorang bocah lelaki yang bertanya pada ibunya tentang ayahnya. Ibunya hanya menjawab bahwa ayahnya tersembunyi di tanjung,laut ataupun di mana saja. Sebuah penjelasan yang mengambang. Tetapi seiring waktu, sang bocah tetap bertanya alasan Ayah mereka pergi. Tak ada jalan lain selain bercerita bahwa ayahnya mati demi sebuah ideologi yang dianut; yang digambarkan dalam tarian dengan membawa sebuah bendera Bintang Kejora. Sebuah penggambaran realita kematian yang manis namun salah dipersepsikan oleh mereka yang sangat ketakutan bahwa otoritas mereka dipertanyakan. Padahal sampai saat ini, bila saja mereka mau bertanya, ada banyak tempat tidur yang diisi tangisan, tanda tanya ataupun kehampaan.

Kematian – kematian seperti ini pernah ada, masih ada dan mungkin akan tetap ada. Kematian tanpa ritual, prosesi dan pemakaman. Bahkan bila menilik ke belakang, di Tanah ini, entah berapa banyak belulang yang termakan tanah tanpa sebuah nama. Berapa banyak jasad yang lolos dari usapan sayang anggota keluarga terkasih untuk sebuah perpisahan yang layak. Entah berapa banyak tangisan tersembunyi yang keluar dari sudut mata dalam malam – malam sepi. Aku tak tahu berapa jumlahnya, tapi aku bisa merasakannya subuh ini. Saat harus berpulang tanpa ditemani yang terkasih, saat harus berpulang tanpa kepastian dimana akan terbaring dipeluk bumi, saat harus berpulang dengan cara yang pernah terpikirkan. Padahal, bukankah sebuah pemakaman pada akhirnya adalah sebuah pembuktian bahwa kita layak menyandang gelar ‘manusia’.

Semoga mereka yang membuat banyak keluarga menunggu tanpa kepastian dapat berhenti barang sejenak dan melihat ke belakang, melihat ke dalam diri mereka, melihat jauh ke dalam hati mereka dan belajar menghargai tiap kehidupan yang ada dan belajar menghargai kehidupan yang berpulang. Menunggu dalam ketidak pastian apalagi menunggu kepastian kehidupan bukanlah hal yang indah. Sangat menyakitkan!!! Aku tak punya banyak solusi, yang aku tahu, aku hanya akan mendoakan mereka yang kerap membuat banyak keluarga menangis sedih untuk melihat jauh ke dalam diri mereka; melihat bagaimana kehidupan layak dihargai bahkan hingga ia meninggal.

Akhirnya aku pun berpikir apa yang kuinginkan bila ku mati kelak. Mungkin tak banyak dan mungkin juga untuk saat ini tak banyak yang bisa dilakukan di Manokwari. Aku hanya tak ingin merepotkan bila mati kelak. Mungkin menabung untuk biaya pemakaman dari peti, malam penghiburan hingga transportasi dan lain – lain. Andai saja Manokwari seperti di OZ di mana ada asuransi untuk pemakaman hingga keluarga yang ditinggalkan tak begitu repot dan terbeban.

Saat kumati kelak, jujur sebenarnya aku ingin ada organ – organ tubuhku yang masih baik yang disumbangkan ke orang yang membutuhkan dibandingkan harus membusuk bersama tulang belulang, toh yang terpenting adalah rohku yang bertemu Yesus kelak. Selain itu, aku lebih suka bila sisa jenazah yang telah diambil organ yang berguna langsung saja dikremasi supaya dengan cepat membaur dengan tanah dan tak memakan banyak luasan tempat penguburan dan dikuburkan di sebuah pemakaman seperti yang kulihat di Canberra, di bawah rindang pohon dan rerumputan hijau dan penuh dengan bebungaan sehingga tak menakutkan dan seperti taman. Sayang di Manokwari belum ada.

Di upacara pemakamanku, aku ingin sebelum upacara pemakaman on-the-spot, akan ada yang menyanyikan lagu – lagu kegemaranku baik dari Boyz II Men seperti ‘I will get there’, India.Arie “He heals me”, CeCe Winans “He’s concern” ataupun Brian McKnight “Still” atau bahkan Andrea Bocelli, “Can’t help falling in love”. Mungkin sudah saatnya menyusun daftar lagu pemakamanku. Yang pasti, satu hal yang kuinginkan kala orang – orang datang ke pemakamanku adalah mereka terhibur dan tak harus bersedih lama karena toh aku sudah mengalami kelepasan dari beban menjalankan hidup sebagai manusia dan aku sudah bersama-Nya. Jadi tak boleh ada air mata yang terbuang percuma lagi. Cukup mengenangku, syukur – syukur sebagai orang yang layak disebut teman. Selebihnya … silahkan lanjutkan hidup dan tetap berjuang untuk hidup karena bagaimanapun hidup adalah anugerah.

Entahlah …. Subuh ini yang kutahu, aku tiba – tiba merasa damai menulis tentang kematian, pemakaman dan hal – hal seputar kedua hal ini. Bagiku, kematian adalah sebuah pelepasan dari dunia ke tempat abadi yang damai, dan pemakaman adalah sebuah penghargaan tertinggi pada yang berpulang. Toh yang kadang kita takutkan dari kematian sebenarnya hanyalah rasa sakit dan sensasi nyeri dan beban untuk mereka yang ditinggalkan.

Entah aku akan pergi dengan cara apa, entah dimakamkan atau tidak, entah mendapat kepastian atau tidak, entah normal atau tidak, SATU YANG PASTI, yang aku pedulikan hanyalah TUJUANku kala pergi kelak. Impian terbesar kala pergi kelak hanyalah bertemu dengan Yesus dan menari bersama … suatu hari nanti.

(Manokwari, 260611; yang-selalu-terobsesi-pada-kematian)

1 comments:

bogest76 said...

waow, rajin ngeblog yaa.. bagus2 lagi postnya :)