Joeniar Arief dengan suksesnya membuat perasaanku ‘rapuh’ seperti judul lagunya. Suaranya malam ini membuat beberapa keping memori lama terkuak, apalagi usai pulang hangout di rumah teman dan mendengar kisah lama mantan pacar. Ada yang hilang dari hati! Ada yang membuatku masih sedikit rapuh untuk bisa menerima yang lain lagi. Takut, sakit, dan mungkin sedikit khawatir campur kecewa.
Mereka yang pernah menitipkan hati mungkin tak pernah tahu bahwa luka yang mereka goreskan masih terlalu dalam untuk ditimbun seiring pertambahan detik, menit dan deretan kala yang berlari kencang. Masih tetap terasa sakit saat diungkit, dibuka ataupun disentuh. Masih ingin kukancing rapat.
Mungkin karena terlalu sering diungkit dan dilukai di tempat yang sama, hatiku menjadi berkarat dengan bau amis dan nyeri pengkhianatan, ketidaktulusan dan amuba – amuba ‘pemanfaatan’. Hingga akhirnya harus dibalut dengan antiseptik ‘kasih’ ditambah perban ‘pengampunan’ dan dilumuri terus dengan air mata berasa asin untuk mengingat bahwa aku pernah berada pada titik terbodoh di dalam hidup.
Hari ini, kuakui aku menikmati waktu lainnya dimana aku sempat tertawa, bercanda dan menikmati percakapan dengan para sahabat dan Arc. Tapi ... usai diberi kabar sekilas tentang mantan ... Gosh, ada yang pecah di hati. Masih terasa sakit dan berdarah, walau berusaha kututupi agar tidak membuat para sahabatku lelah mendengar sakit hatiku seperti dulu. Tak ingin membebani mereka.
Malam ini, kupikirkan lagi tentang dia yang telah mengguratkan luka mendalam beberapa tahun terakhir ini. Ah mungkin ia memang sudah bahagia, walau aku sempat terheran – heran dengan tingkahnya hampir 2 bulan lalu ataupun 2 minggu lalu kala bertemu diriku; masih dengan pandangan cinta, sentuhan yang membuatku kaget dan juga bahasa tubuhnya yang aneh. Entahlah ... aku sudah menolak semua pesonanya ... yang tertinggal hanyalah rasa sakit itu. Rasa sakit yang entahlah ... tidak perih tetapi membuatku sedikit ‘terluka’ dan juga R-A-P-U-H!!!
Malam ini kudengar lagi lagu lain dari Josh Groban “When you say you love me” ... dan tiba – tiba teringat dua musim gugur yang kulewati di benua lain dan berharap dan juga berdoa untuk mantan ini; si Lelaki Hujan. Mengingat tiap perih yang kurasa untuknya, mengingat tiap janji yang terpatahkan saat jarak tak lagi dalam genggaman tangan, mengingat semua tawa yang pudar dan pupus .... mengingat semua rasa sakit, kebohongan, dusta dan air mata yang mengalir untuknya. Entahlah ... aku sudah melupakannya TETAPI tiap kali berbenturan dengan kisah tentangnya dan apapun yang berkaitan dengannya ... ada yang pecah di hatiku dan mendadak menjadi ‘rapuh’.
Sudah saatnya menguatkan iman, memperbanyak doa dan mencari pacar baru. Bukan sebagai pengganti ataupun pelarian. Tetapi menunggu dia yang memang disiapkan Yesus untukku agar sama – sama bisa menertawakan masa lalu kelam, menertawakan kisah lama kasih tak sampai, menertawakan hidup yang telah berhasil dilewati walau dengan lembaran – lembaran tisu basah penuh ingus.
Malam ini yang kutahu, aku ingin menangis hingga puas, menangis hingga lega. Tak tahu kenapa ... mungkin sudah berhenti terpapar dengan dirinya. Berhenti terpapar dengan apapun yang terkait dengan dirinya.
Let me cry, o my soul
Let me pray, o my self
And let me be what I should be ...
How I miss Canberra so much this autumn!
(Manokwari, 260511; post-shock reaction)
0 comments:
Post a Comment