Dia membuatku memimpikan wajahnya khususnya matanya akhir – akhir ini. Entahlah ... lelaki hitam manis ini membuatku kelimpungan. Bukan karena kata – katanya, bukan pula karena apa yang ia berikan. Tidak sama sekali. Aku hanya tergeragap tiap kali memandang mata coklatnya yang hangat *itu tebakanku sih, karena tak pernah berani lama memandang wajahnya ^_^. Anyway, yang membuatku memikirkannya adalah karna menebak apa yang akan dibuatnya lagi. Karyanya yang membuatku mengingat lelaki ini. Arc seh ....
Ah mungkin perasaan kagum ini kerap kualami kala berhadapan dengan para lelaki penuh bakat. Toh, sejak pengalaman dengan kaka di Jayapura, aku belajar untuk tidak lagi menilai lelaki dari bakat mereka. Maksudku aku tak ingin lagi jatuh cinta hanya karena faktor ‘karya’ seseorang. U know lah, driven factor getho. Jadi kalo cewek lain ada yang menilai uang, kemapanan dll, entahlah ... akhir – akhir ini pasti aku mudah sekali jatuh cinta pada mereka yang punya bakat seni, mulai dari si bro J di Melb yang suka ngajakin ngomong seni khususnya fotografi dan filmografi hingga berakhir di kaka J di Jayapura.
NAMUN Hari ini aku mampu mengatasi ‘kegilaan perasaan sesaat’ ini!!! Caranya: minta dalam nama Yesus untuk atasi perasaan rindu apa kekaguman berlarut yang membuatku sedikit ‘terobsesi’ hahaha.
Malam ini aku sedikit tersenyum melihat beberapa pendapat para teman di akun jejaring sosialku, kala seorang teman cowok bercanda dengan temannya yang mengomentariku dengan pedas. Pendapat si X yang ‘memakiku’ ditanggapi dengan Y; sahabatnya X kalau kenapa si X bisa berpendapat pedas untuk ‘ko pu sayang’. Pasti ada konspirasi kaco di pedalaman sana *merujuk pada dua makhluk yang kerap dimaki ini ^___^ apalagi frekuensi X yang mulai jarang menghubungiku baik lewat telpon maupun SMS sejak aku bercerita tentang si Arc.
Selain itu, aku bersyukur bosku si Versace sedikit peduli dengan kesehatanku. Mungkin memang cowok bule itu lebih perhatian ya dibanding cowok lokal. Walau aku hanya freelance pada si Versace ini tapi kata – katanya selama ini lewat perkataan langsung maupun e-mail benar – benar membuatku dihargai, apalagi hari ini aku bersyukur untuk pesannya di e-mail, “stay healthy” alias jaga kesehatan ya ^___^ entahlah, jujur pertama kali bertemu si Versace, aku merasa aku menemukan senyuman dan tatapan dan gaya ngomong bro J. Ada hal – hal kecil pada Versace yang mengingatkanku untuk bro J. Mungkin karna mata birunya yang sama wkwkwkkw Walau kuakui kalo si Versace lebih GANTENG daripada bro J *sorry bro J ^_^
Anyway, sosok kaka mulai pudar akhir – akhir ini. Entahlah ... rasa itu menghilang dengan cepat. Mungkin benar bahwa dulu aku sangat terpesona dan mencintai karya – karyanya dan bukan dirinya yang sebenarnya. Mungkin usai mengenal posesif dan cemburunya yang tak terkontrol serta sifatnya yang kerap menuduh dan egois benar – benar bersinggungan dengan kebebasan dan prinsipku. Walau pernah dulu kutitipkan mimpi untuk menikah dengannya. Sekarang ... semua rasa itu pudar usai 3 minggu bersamanya. It’s not only about the future sebenarnya TAPI yang kurasa, aku hampa secara rohani saat bersamanya. Dan jujur itu membuatku sesak nafas. Apalagi kaka kerap tak jelas. Untunglah ... kami sekarang berjalan dengan jalan kami masing – masing walau kadang – kadang masih merindukannya.
Aku juga akhir – akhir ini kerap bermimpi dan tiba – tiba rindu akan Lelaki Hujan. Walau logikaku otomatis mengingatkan dengan cepat tentang sifat negatifnya dan hal – hal buruk yang terjadi. Sebuah mekanisme pembelaan diri, tentu saja. Dan rasa rindu sesaat yang muncul langsung kuhajar abis. No more Lelaki Hujan, tentu saja.
Aku hanya ingin melangkah ke depan dengan bebas dan tanpa ikatan sekarang. Aku bersyukur masih punya sahabat lelaki yang sudah kuanggap sebagai kakak laki – lakiku sendiri dan minggu ini aku merayakan dan berterima kasih padanya karena telah 5 tahun menjadi sahabatku; seorang teman berbagi idealisme dan impian serta kegilaan. Ia dan juga seorang teman di tempat lain pernah menjadi alasan kecemburuan kaka di Jayapura dan menjadi salah satu alasan putus kami. Aku tak akan pernah mau merelakan sahabatku dimaki kekasihku karena bagiku; sahabat lebih penting daripada seorang kekasih.
Akhirnya ... aku harus tidur dan masih tetap mengingat tatapan mata si Arc yang hangat banget *menghayal kapa....
What a life!!!
Yang pasti, aku bersyukur pada Bapa, Yesus dan Roh Kudus untuk hidupku yang warna – warni ini. Amen.
(Manokwari, 230511; mengingat mata cokelatnya sambil ngemil sepotong coklat)
0 comments:
Post a Comment