Baru saja menyelesaikan menonton “Letters to Juliet” dan ada yang pecah di hatiku. Italia ... satu negara yang harus kukunjungi sebelum meninggal.
Anyway hari ini hujan turun dengan deras sedari siang hingga sore. Aktivitas rumah hanyalah merayakan ulang tahun J yang ke 4. Tak banyak undangan, tak banyak tamu, tak banyak hadiah; hanya kado pink beragam bentuk untuk si tomboy.
Hari ini karena tak pergi ibadah, aku tidur sejak sore hingga malam dan 10 menit sebelum jam 9 malam, karena sebuah mimpi buruk, aku terbangun dan tergeragap teringat belum pergi ‘doger’ alias doa gerbang. Tapi sebelumnya menyempatkan berdoa untuk si M karena mimpiku membuatku tersadar; karena batita ini.
2 hari belakangan ini aku mimpi buruk. Mulai dari mimpi kemarin tentang digigit ular di tempat bersetting rerimbunan pohon Poplar saat turun hujan dengan sebuah kaki luka dan berkruk hingga mimpi buruk petang ini dengan setting rumah yang sama persis dan waktu yang sama. Yang pasti, kuserahkan semuanya pada Yesus. Walau teman – temanku bilang kalau mimpi digigit ular artinya akan dilamar atau ‘ditembak’ seseorang entah jadi pacar ataupun suami, tapi menurutku aku tak percaya itu. Yang pasti, hanya ingin berserah pada Yesus.
Karena mimpi ini pulalah, aku tersadar bahwa belum pergi berdoa dan bergegas dengan motorku ke Pelabuhan dan Rendani. Dan aku merasakan bagaimana jiwaku yang sedari tadi sempat gloomy terasa penuh dan bebas. Memang benar, kalau pujian pada Yesus itu membebaskan dan menenangkan jiwa. Semoga Yesus berbaik hati memberikan seorang lelaki yang juga menikmati pujian pada Yesus sebagai bagian dari hidupnya.
Cinta? Masih seperti biasa. Masih plain. Beberapa hari ini suasana hatiku mulai membaik. Tak terlalu menggebu – gebu. Bahkan hari ini pun bertanya; apa memang seorang Day membutuhkan seorang kekasih? Aku pun berada pada sebuah titik yang mempertanyakan eksistensi dan pentingnya seorang kekasih di hidupku? Pernahkah mereka benar – benar peduli? Menilik pengalaman dengan para mantan kekasihku. Ataukah aku yang terlalu mencintai bayangan mereka dan bukan diri asli mereka ibarat melihat foto permak Photoshop dan bukan realita penampakan wajah yang sebenarnya? Ataukah ini mungkin tanda bahwa aku terlalu mencintai diriku sendiri dan tak ada waktu berbagi dengan orang lain? Mungkin benar yang kubutuhkan hanya para SAHABAT!!!
Rumit ngomong urusan cinta kadang – kadang. Tak seperti menuliskan sesuatu yang jelas seperti esai dengan pendahuluan, pembahasan dan simpulan. Lebih rumit karena esai cinta pasti tak berbentuk jelas dengan siapa yang dituju, apa yang diinginkan dan bagaimana menjelaskan kegilaan sesaat ini. Apa kekaguman, status de el el yang hendak dirujuk? Tak tahu dan mungkin kadang tak mau tahu.
Anyway, satu yang pasti, aku mau hidupku mengikuti apa yang diinginkan Yesus dalam hidupku. Aku mau bertemu dan menghabiskan hidupku untuk jadi apa yang Yesus inginkan. Dan aku mau, kalau memang mempunyai kekasih; seseorang yang cinta mati Yesus dan melakukan apa yang Yesus inginkan dari hidupnya.
Catatan ini kututup.
Segala hormat, kemuliaan dan pujian hanya bagi Allah Bapa, Allah Yesus, dan Allah Roh Kudus. Amen.
(Manokwari, 290511; tengah malam di sebuah penghujung Mei)
0 comments:
Post a Comment