PROLOG
Langit penuh dengan kanvas kelabu buatan Tuhan. Tak ada pelangi yang muncul. Tak ada awan putih berarak riang. Teras rumah hijau di atas bukit karang kecil penuh tanaman bebungaan ini masih basah dengan putaran kenangan yang lengket. Usai sebuah suara memecah kebisuan.
“Rhe, de maitua hamil lagi. Su 6 bulan. Su pasti de yang bikin. Sa tra yakin de mo cerai!!!”, kata – kata Mei memecah ruang kupingku.
***
Namanya Fey. Lelaki berbadan tegap dan berkulit kopi ini kutemukan lewat jasa sahabat lamaku di penghujung sebuah dermaga kayu. Awalnya proses pertemuan kami pun bermula kala hatiku baru saja hancur luluh usai putus dengan kekasihku di kota lain. Iseng – iseng kubilang pada Mei untuk mencarikan seorang teman lelaki yang bisa diajak nongkrong; yang pasti tak ingin ada proses “kelapa” alias KEnal Langsung PAcaran.
Sebulan berlalu dan akhirnya kami pun berpacaran. Bukan seperti di film – film Hollywood penuh dengan adegan kebetulan ataupun a la sinetron Indonesia penuh bumbu cinta penuh curahan bunga apalagi seperti film India yang ada adegan lari – larian dan tarian. Sama sekali plain, biasa dan mungkin monoton dan membosankan. SMS, telpon dan sesekali keluar bersama dengan gaya a la backpacker alias jalan kaki sepanjang jalan di bawah deretan lampu menjelang Natal dan Tahun baru. Bukan sebuah kenangan yang spektakuler!
Jam berlari menjemput hari dan lembar kalender pun berganti. Hingga suatu hari beberapa pasang mata mencegatku. Suara – suara kecil membahana dari sudut jendela dan ekspresi ‘mata brimob’ mereka.
“Yeskol. Su trada laki – laki lain ka? Rebut orang pu laki”, seru mereka tertuju padaku.
Suara – suara ini merebak bagai aroma bunga bangkai dan menulari seisi tempat kerja. Pasang – pasang mata berbisik campur iba, pasang – pasang mata dengan pupil membesar keheranan.
Dan akhirnya aku pun datang pada lelaki yang kutemukan di sebuah sudut dermaga ini. Pengakuan mengalir dengan mata yang penuh air mata yang tertumpuk. Entahlah ... ia menyesal dan menutupi semua kebenarannya karena tak ingin kehilanganku, katanya. Yang aku tahu ... tak ada jalan pulang selain keluar dari labirin perasaan bersalah ini dan pergi.
***
EPILOGUE
Sudah 3 tahun kututupi perasaan ini sejak lelaki itu menikah diam – diam. Tak ada undangan, yang ada hanya air mata yang masih terus mengalir untuknya. Hari ini, kutemukan istrinya dengan perut buncit di sebuah klinik .... kali ini tentu saja bukan karena ‘kecelakaan’ seperti dulu kala. Yang aku tahu, aku ingin menangis keras – keras malam ini sambil memeluk seorang bocah lelaki kecil bermata sama dengan lelaki di dermaga kayu itu.
(Manokwari, 270511; Eits, it’s not a true story lah)
1 comments:
Hiks....baru awal n akhirnya....
sa tra berani bayangkan cerita aslinya...
soalnya sa tau betul perasaan jadi tokoh "aku"nya
hiks hiks hiks....Day.....
"__"
Post a Comment