Search This Blog

Loading...

Sunday, 24 April 2011

sepotong kue, sekeping status dan segenggam kerja

Suara Akon membelah langit malam dalam kamarku yang terang benderang. Seonggok terang bulan manis membentang manis di antara tumpukan buku yang terhempas ringkih. Kiri kanan yang kulihat hanya ranjang berukuran queen size, kabel – kabel yang berlilitan ibarat ‘ular kebelet kawin’ dan bahan ketikan yang menumpuk. Malam ini seperti malam lainnya hanyalah malam – malam panjang pelarianku dari status single yang tak jelas, yang makin membelitku menjelang umur 28 tahun. Lebih baik fokus kerja dibanding memikirkan urusan perasaan yang tak pernah pasti. ‘Terlalu menikmati kesendirian dan kemandirianku’, batinku lagi. Bukan menafikan pelukan dan kecupan hangat yang kadang masih kurindukan dari makhluk bernama lelaki ataupun menyangkal telepon atau sapaan yang bisa bikin jantung ikut bungee jumping. Sama sekali tidak! Hanya ingin sendiri sementara waktu ini.

Sekeping kue masuk kembali, meluncur deras ke dalam asam perut. Berharap dilebur menjadi nutrisi ataupun lemak tubuh walau akan tetap terdefekasi dan keluar lagi menjadi pupuk. Bukankah siklus hidup seperti itu. Yang terbuang akan kembali lagi menjadi yang berguna bagi organisme lainnya dan mengisi siklus hidup dalam planet bernama Bumi. Suara Akon masih saja mengisi gendang siputku yang mungkin enggan terkalibrasi usai sekian lama. Ada yang hilang malam ini, ataukah sedang merindukan seseorang? Tak tahu. Walau memang akhir – akhir ini sedang dekat dalam batasan menjadi teman SMSan yang saling ‘baku maki’. Hanya menikmati ‘acara baku ganggu’ tiap hari dan berharap menjadi teman seterusnya.

Pikiranku kembali lagi melayang pada beberapa lembar gambar majalah ‘the Wedding’ edisi Canberra yang kubeli tahun lalu sebelum pulang ke Indonesia. Ada yang hilang dari hati. Ada yang hilang. Entah sepotong rindu ataukah segenggam asa? Atau harapan yang membusuk dalam lapisan tanah terdalam dan mungkin juga tersuruk terjerembab di dalam akar pohon impian? Tak tahu dan mungkin tak mau tahu. Majalah itu seakan membawaku jauh ke impian terdalam yang pernah hadir (dulu), yang sempat bangkit dari hibernasinya dan terpaksa harus mati lagi. Semoga hanya mati suri. Karna aku masih rindu mempunyai bayi kecil merah muda yang memanggilku ‘mama’ kelak. Tak peduli ia lahir dari sebuah ikatan ataukah status di atas kertas bermeterai. Kalau sebuah kelahiran hanya dihargai oleh sebuah status sosial dan ikatan hukum maka aku bukan penganut paham ini. Bagiku sebuah kehidupan layak dihargai seburuk apapun itu karena bayi kecil yang lahir tak pernah perlu tahu dilahirkan di mana dan tak pernah bisa memilih. Layak dilindungi! Layak dihargai! Dan sangat layak dicintai dan dihidupi.

Malam ini aku mungkin sangat terbawa situasi yang entahlah ibarat labirin tak jelas yang membuatku sedikit ‘lelah’. Tak ingin mencari pembenaran apapun. Terlalu lelah dan hanya ingin menjalani hidup ke depan. Tak mau peduli ataupun terlibat dengan urusan orang lain.

Ada banyak hal yang ingin kuekstrasi malam ini, mulai dari hal seperti relasi yang memburuk dalam arti yang sebenarnya dimana ada sebuah jarak yang membentang dan semakin dalam. Entahlah mungkin memang manusia adalah makhluk paling dinamis di dunia ini dan tak pernah bisa kumengerti selain mencoba menjadi manusia yang selalu salah dan ditolong dan ditegur Tuhan lewat sesama ataupun intervensi spiritual lainnya.

Satu yang pasti, aku bersyukur untuk hidupku yang dikelilingi oleh para sahabat yang mengasihi hidupku dan menerimaku apa adanya. Aku masih tetap berusaha jadi manusia yang lebih baik bagi sesama. Masih sangat jauh untuk mencapai apa yang kuimpikan dalam hidup. Tapi aku akan tetap berusaha. Masih tetap akan berusaha. Janjiku malam ini.

Yang tak pernah akan berubah, aku bersyukur punya Allah yang mengerti dan memahami semua kelemahanku dan memberikan intervensi dan jalan keluar yang kadang tra pernah kupahami. Allah yang dahsyat seperti ini memang benar – benar tidak ada tandingan-Nya.

Segala hormat, puji dan kemuliaan untuk Bapa, Yesus dan Roh Kudus.


(Manokwari, 130411; merenungi makna ‘being singleness’)

0 comments: