Search This Blog

Loading...

Sunday, 24 April 2011

mama dosen

Prolog
Mereka mungkin hanya perempuan biasa berusia hampir 30 tahunyang dapat kau temukan di sudut jalan kota ini. Mungkin saja mereka pernah bersisian denganmu dalam antrian pembayaran di kasir ataupun bank pemerintah. Hanya perempuan biasa dengan gaya yang biasa. Tak ada yang spesial dari tampilan mereka. Hanya para perempuan mandiri yang jatuh bangun dari kelamnya cinta dan pengalaman hidup. Tapi toh tetap terlalu sulit untuk dijatuhkan! Lajang, muda, mandiri dan memesona, itu kesan bila bertemu mereka. Mungkin anda mengenal mereka; para wanita yang memperkaya hidupku.

***

Nay

Jilbab kuning karinya disampirkan rapat menutup rambutnya yang hitam lurus tergerai. Dengan body a la Kim Kardhasian kurang satu meter, ia cukup mudah diperhatikan. Tawanya yang tak bisa lepas dari tampilannya membuat aku mudah sekali mengidentifikasi mama dosen ini. Iya, aku mengenalnya sudah cukup lama karena menjadi salah satu bagian dari keping masa laluku dan berharap ia akan tetap menjadi bagian dari keping masa depanku dan tetap berdoa anakku kelak akan bertemu mama dosen ini. Bukan untuk diajar tentu saja, tetapi agar bisa ketularan semangat mudanya yang anti kapok jatuh cinta dan bergaya gila.

Dua delapan tahun bukan sebuah indikator kematangan dan jaga sikap mama dosen Perempuan ini sangat anti jaga sikap karena hidup hanya sekali dan ia tipe penikmat hidup. Kerap kali bertemu dengannya, yang ada tak hanya berbagi informasi, gosip tapi juga info kerjaan. Ah mama dosen dengan bodi semok itu pasti bisa bikin banyak lelaki tak bisa tidur alias begadang memikirkan mama dosen. Mama dosen yang sangat liberal terlepas dari pilihan hidupnya untuk memakai jilbab, mama dosen yang sangat gemar mencintai hingga terluka dan kadang moody terbawa suasana tapi juga mama dosen yang bisa menjadi penghibur dan bijak kala hatiku sedang terluka.

Banyak yang tak mengerti mama dosen dan aku melihatnya kadang diam dan terluka. Merasa dikhianati. Merasa disepelekan. Merasa terlecehkan. Dibalik kegilaan mama dosen, ah ia hanya perempuan sederhana yang menikmati hidupnya dan mencintai terus. Terlepas hubungan buruk yang pernah dijalani. Tak ada yang tahu seperih apa luka yang pernah dilaluinya. Tak ada yang tahu mama dosen juga bisa bersaing dengan Bill Gates menjadi dermawan walau gajinya tak banyak; tak ada yang tahu berapa banyak orang yang ditolongnya tanpa perlu berkoar – koar menjadi ‘dermawan’. Mama dosen bukan orang yang suka membanggakan hal yang berhubungan dengan uang. Mama dosen memang menyukai barang baru dan belanja tapi toh dibalik acara belanjanya, mama dosen mungkin orang paling sensitif dan tak pernah ingin ribut urusan uang. Bagi mama dosen, rejeki akan mengalir bila kita tak pelit dengan orang lain.

Aku berharap mama dosen akan baik – baik saja hingga kelak anak perempuanku akan kuserahkan untuk ‘digembleng’ dengan virus gila ala mama dosen biar ia jadi orang yang tak perlu takut berbuat salah, tak harus jadi malaikat dan tak perlu malu menjadi diri sendiri apalagi untuk hidup dengan pilihan sendiri. Mama dosen seh!!! *sambil senyum - senyum membayangkan para pecinta mama dosen yang gigit – gigit jari lihat mama dosen melenggang dengan Vixion =)

***

Nee

Panggil saja ia Neeta. Perempuan berusia hampir tiga puluh tahun ini mungkin salah satu ‘Athena’ modern yang pernah kutemukan. Cantik, berbodi aduhai, cerdas dan tentu saja sangat mandiri. Terlepas dari tampilan luarnya yang bisa bikin perempuan sekompleks gigit jari dan maki – maki dalam hati, tak ada yang tahu emosi yang berkecamuk dalam diri Nee.

Nee pekerja keras, itu kesanku kala melihatnya. Aku pernah mengenalnya beberapa tahun lalu di sebuah pulau berbentuk huruf K, ia pun berubah ibarat ulat yang telah bermetaforsa menjadi kupu – kupu cantik dengan sayap ringkih. Pengalaman sekian tahun menempanya untuk tak jadi kupu – kupu lemah tetapi sedang memadatkan sayapnya dengan besi dan mesin – mesin jet agar dapat melambung tanpa takut dipatahkan angin.

Aku hanya bingung ada lelaki – lelaki liar yang tak bisa menghargai Nee dalam hidup mereka. Dikhianati mungkin urusan biasa, tapi tetes keringatnya pun pernah ‘dirampok’ oleh mereka yang menyebut diri ‘penyambung lidah Tuhan’ hanya karena urusan perangkat teknologi jaringan berbayar. Lelaki – lelaki yang tak tahu diri ini memang layak dipersona-non-gratakan dari hidup kupu – kupu mandiri nan cantik ini karena mereka tak layak menemani Nee dalam hidupnya. Mereka hanya akan jadi parasit dan menggerogoti Nee.

Nee, sosok mandiri perempuan yang berjuang mencari jalan dan pilihan hidupnya sendiri. Mungkin dukanya tak akan muncul bila hanya bertatapan dengannya sekejap karna ia terlalu cantik untuk membiaskan luka dalam hati. Tuntutan status, tuntutan rupiah hingga gengsi harus ditelannya sendiri. Tapi toh terlepas dari terpaan duka, pengkhianatan dan juga tekanan sosial menjelang usia berkepala tiga, Nee tetap bisa melelehkan kata – kata bijak dan bantuan bila dibutuhkan dan memberi kesegaran kala berjalan dengannya, walau dengan kata – katanya yang kadang tegas, lugas dan cuek.

Yang pasti, bila ada masalah dengan orang lain dan takut untuk mengungkapkan masalah apalagi mengkonfrontasi, ajaklah Nee. Ia memang ibarat mata pisau bedah yang precise, concise dan pas – pas tulang. Satu yang pasti, kelak anak perempuanku harus bisa kuajak bertemu Nee untuk belajar menjadi perempuan mandiri yang tegas dan bisa menghargai hidupnya dan tetap cantik.

P.S. Rekomendasi gaya a la Nee patut dilirik ^_^

***

Mayo

Namanya memang bukan sejenis saus sedikit asam pelengkap hamburger. Bukan pula merek sebuah makanan. Sama sekali bukan! Tapi Mayo memang ibarat bumbu yang membuatku menjadi manusia penuh warna seperti ini. Perkenalan kami dimulai sejak kami masih balita yang berlarian dengan kaki telanjang di halaman penuh rumput hijau dan penuh dengan pohon Pomelo yang kadang – kadang buahnya kami pakai sebagai bahan pembuat mobil – mobilan. Mayo menjadi teman ceritaku sejak kecil dan teman petualangan. Ia mengenal tiap lelaki yang menjadi kekasihku karna tiap jatuh cinta dan menjalin hubungan, para lelaki itu wajib berkenalan dengan Mayo, entah dengan SMS, telpon ataupun kopi darat.

Mayo hanya perempuan biasa berusia dua-delapan-tahun dengan orang tua yang biasa; bukan anak pejabat ataupun orang kaya. Tapi Mayo dan saudara – saudaranya kadang membuatku salut setengah mati; mereka mandiri dan bisa menerima hidup apa adanya dan tak pernah mengeluh dengan apa yang mereka terima dalam hidup. Mayo pula yang kerap menjadi pelarianku kala beban pikiran tak bisa dituliskan dan harus kubagi. Entah saat kudatang dengan cara simpatik ataupun penuh amarah dan ia selalu berhasil menjadi stabilizerku.

Mayo yang selalu menjadi sahabat terdekatku kadang disalahmengerti oleh banyak lelaki. Ia bukan perempuan dengan tampang biasa untuk orang Papua. Dengan tubuh yang terawat dan terjaga, ia bisa jadi pemenang kontes kecantikan a la Papua. Siapa sangka lelaki – lelaki itu kadang tak bisa menghargainya. Dikhianati, dilukai dan bahkan tak mendapat penjelasan apapun pernah dialaminya. Tapi ia tetap kuat dan tak terpuruk dalam masalahnya. Ia bangkit dan menjadi pemenang dalam hidupnya. Ia perempuan yang tegas, mandiri dan tak mudah menyerah.

Suatu hari kelak, aku ingin anak perempuanku bisa bermain dan bercerita dengannya dan belajar bagaimana menjadi perempuan yang kuat dan bertahan dalam situasi apapun. Tak lupa pula, aku ingin anakku kelak belajar bagaimana bisa menikmati hal – hal kecil di sekeliling hidupnya.

***

Epilogue

Mereka hanya perempuan – perempuan biasa tapi bagi diriku, mereka sangat luar biasa memperkaya diriku guna menjadi orang yang lebih baik. Mereka pernah disakiti dan dikhianati berulang kali tapi tetap memilih berjalan dalam keanggunan dan menjadikan semua hal pahit itu ibarat kerikil pembentuk jalan aspal mulus. Aku bersyukur mengenal mereka dalam hidupku; para perempuan perkasa.

(Manokwari, 140411; untuk para perempuan perkasa di sekelilingku)

0 comments: