Perjalananku ke Jakarta kali ini bukan sebuah kebetulan ataupun berdasarkan perencanaan tetapi ibarat “diculik” untuk sebuah tujuan: bagaimana Tuhan memulihkan dan “mengisi ulang” rohaniku lewat cara yang ajaib. Dan aku tahu, usai pulang, ada rencana besar yang terbentang di hadapanku: kala Tuhan menjadi prioritas hidup.
Panggil saja aku Maya, lajang 28 tahun penduduk Manokwari. Aku ingat jelas hari itu tanggal 14 April 2011 jam 10 pagi lewat beberapa menit kala mantan dosenku di sebuah perguruan negeri di kota Manokwari menelponku. “Ada tawaran kerja di sebuah yayasan pelayanan Kristen, May.”, katanya. Usai diskusi singkat lewat telepon dan SMS, nomorku pun berpindah pada seorang perempuan di Jakarta. Panggil saja Ibu Vero; beliau ketua Voice in the City Indonesia. Tak lama kemudian ibu Veronica Juniar menelponku dan berbicara tentang tawaran kerja di pelayanan ini sebagai sekretaris. Tanpa lama bicara, aku pun setuju untuk terbang ke Jakarta untuk wawancara keesokan harinya, tapi tentu saja dengan perasaan yang sedikit gugup karena semuanya sangat mendadak. Terlalu mendadak apalagi ada beberapa kerjaan lepas yang masih harus kuselesaikan beberapa hari terakhir.
Esok subuh tanggal 15 April jam 4 pagi, aku diantar kedua orangtuaku tiba di bandara Rendani pada sebuah subuh penuh hujan. Perjalanan menuju Jakarta kali ini adalah yang terberat bagiku. Tujuh jam dilewati dengan berganti pesawat tiga kali di tiga kota tetapi akhirnya tiba juga dengan selamat di Jakarta. Thanks God, ucapku dalam hati. Datang ke Jakarta guna wawancara bukan sebuah hal yang dapat membuatku tenang. Sore itu, aku pun dikenalkan dengan beberapa orang oleh ibu Veronica hingga akhirnya bertemu dengan ibu Suzette Hattingh. Ini kali pertama aku bertemu beliau secara pribadi karena aku baru saja mengetahui sosoknya lewat baliho – baliho yang dipasang di kotaku. Usai berdoa bersama ibu Suzette, beliau mulai menanyakan latar belakangku khususnya latar belakang rohani dan aspek – aspek yang berkenaan di dalamnya guna mendukung pelayanan hingga tiba di sebuah pertanyaan penting dalam wawancara ini tentang tawaran kerja dari yayasan Kristen ini. Cara beliau menjelaskan tawaran kerja dan konsekuensi – konsekuensinya membuatku tersadar tentang apa yang selama ini Tuhan berikan dalam hatiku dan akhirnya tersadar bahwa tawaran kerja ini bukan untukku. Apalagi saat ibu Suzette menjelaskan secara pribadi untuk mengenal hati kita dalam panggilan pelayanan. Saat itu aku hanya berkata dalam hati untuk diriku, “OK, ini sudah selesai, May. Ko pulang. Pekerjaan ini bukan untuk ko.” Tapi aku masih tak tahu untuk rencana apa aku ‘dibawa’ secara mendadak ke Jakarta, masih tetap bertanya.
Keesokan harinya, kala sarapan dan bertemu Ibu Vero; kebetulan aku menginap di rumah beliau, Ibu Vero berbagi tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupnya secara pribadi dan keluarganya serta bagaimana Tuhan memulihkan keluarga besarnya. Pengalaman hidup ibu Vero dari yang berat dan cukup sulit hingga penuh diberkati menjadi sebuah pelajaran baru yang kupelajari pagi ini khususnya tentang mengikuti Tuhan, hingga kemudian ibu Vero bilang bahwa ada acara konferensi doa Jaringan Doa Nasional di mana Ibu Suzette menjadi salah satu pembicara, jadi kami boleh pergi ke sana dan aku dapat membantu di stan buku yang menjual buku Ibu Suzette guna menunjang pelayanan di Papua. Karena memang statusnya aku ‘tamu’ dan tak ada kegiatan, kuiyakan saja tapi tanpa ekspetasi apapun ke tempat yang bernama Jitec; lokasi konferensi.
Ternyata aku menemukan rencana Allah di tempat ini. Tuhan mengijinkan aku datang ke tempat ini untuk belajar beberapa hal yang sangat mengubah pandangan hidupku dan kudapatkan pencerahan besar yang tak terkira. Ceritanya ada sesi seminar yang kupikir hanya berbentuk Praise & Worship jadi aku dan kak Oppie (stafnya ibu Vero) masuk dan duduk di barisan belakang tempat pertemuan. Orang – orang di dalam ruangan telah larut memuji Tuhan. Jadi aku pun masuk dan berdoa. Saat masuk dalam seminar ini, kulihat ibu Suzette dan pak Sugi (penerjemah ibu Suzette) telah hadir di depan panggung dan mengajak para hadirin memuji Tuhan. Saat itu semua hadirin sedang berdiri termasuk aku. Aku tak tahu mengapa tetapi saat itu aku percaya mengalami lawatan Allah atas diriku.
Jujur, sejak setahun kepulanganku ke Indonesia, aku bukan orang Kristen yang aktif sekali beribadah bahkan dengan saat teduh yang lebih banyak bolongnya, sangat liberal dengan imanku dan pragmatis melihat kekristenan. Bahkan tak pernah berpikir untuk secara spesifik mau terlibat secara khusus dalam sebuah pelayanan Kristen. Tapi hari itu, entah bagaimana, yang kudapatkan saat pujian dinaikan, aku menangis dan terus menangis, hampir 30 menit lebih aku hanya menangis tanpa tahu apa yang menjadi alasan untuk ‘menangis Bombay’ seperti itu. Kuingat kala itu ibu Suzette sedang berdoa agar Roh Kudus menyentuh hati para hadirin agar terbuka mendengar Firman Tuhan dan larut penyembahan pada Allah. Di kala ‘menangis Bombay’ seperti itu, di saat yang sama kurasakan sebuah rasa haus di dalam diri untuk memuji Tuhan dengan lepas, bebas dan tanpa malu ataupun takut, lebih ekspresif. Puji Tuhan! Usai menangis tanpa sebab itu, kurasakan semua beban yang selama ini terpendam dan membebaniku; mulai dari masalah hubungan dengan orang – orang di sekitarku, beban pikiran belum punya pekerjaan tetap, belum menikah di usia menjelang 30 tahun, dan sejumlah masalah – masalah pribadi lainnya pun lenyap, tak berbekas. Kekosongan dan kehampaan yang selama ini kurasakan juga lenyap. Semua hal yang selama ini membuatku kadang tak bisa tidur malam hilang dan yang ada sebuah kesegaran yang mengalir dalam diri. Hingga seminar ibu Suzette tentang membuat prioritas terbaik dengan Tuhan dari kisah Isak dalam Kej 26: 12 – 25 benar – benar membuatku tersadar dan mendapat sesuatu yang baru. Benar – benar diberkati!
Usai seminar siang, ternyata masih ada seminar jam 4 sore, jadi sekali lagi aku dan beberapa kenalan baru masuk ke dalam ruangan. Dan kali ini, Allah benar – benar bekerja dahsyat. Kurasakan sukacita mengalir lancar kala memuji Tuhan. Tak ada sesuatu pun yang membatasiku dan orang – orang lain untuk memuji Tuhan. Sungai sukacita terasa mengalir lancar dalam ruangan. Apalagi satu hal penting yang kudapatkan saat itu adalah topik ‘doa syafaat yang mempergunakan Firman Tuhan’ yang dibawakan ibu Suzette. Beliau dan pak Sugi sebagai penerjemahnya benar- benar diurapi Tuhan kala membawakan materi ini. Ternyata doa syafaat bukan sesuatu yang berat untuk dilakukan dan semua orang dapat melakukannya dan saat itu, mataku seakan dibuka bahwa ada cara praktis untuk berdoa dan Allah sebenarnya tidak menuntut kita untuk terlalu banyak mengabsen dan khawatir akan masalah kita karena yang Ia inginkan adalah keintiman bersama-Nya; kala kita datang padanya dan mendengar dan menyembahnya dalam roh dan kebenaran. Aku benar – benar merasa diberkati! Satu yang pasti, aku ingin bukan hanya aku yang dapat merasakan sukacita seperti ini - sukacita dan kelepasan besar dari Yesus - tapi aku ingin akan ada banyak orang di sekelilingku, di kotaku, di tanah Papua ini yang bisa mendapatkan sukacita dan berkat seperti ini. Seminar doa seperti ini benar – benar kurekomendasikan untuk dihadiri. Saudara mungkin ragu, mungkin apatis tapi percayalah .... aku sudah merasakan bagaimana sukacita itu ada dan asalnya dari Yesus. Kiranya segala kemuliaan, hormat dan pujian hanya untuk Bapa, Anak dan Roh Kudus! Amen.
0 comments:
Post a Comment