Siang ini kala sibuk menerjemahkan edisi bulletin Spirit Wind dari Voice in the City Indonesia, lantunan suara dari album WOW 2009 mengisi gendang siputku dan tiba – tiba di tengah kerjaanku, kurasakan sebuah panggilan untuk berdoa.
Kumulai doa pendekku untuk kaka di Jayapura agar ia dijamah Yesus dan berubah dari gaya hidupnya yang tak sehat di mata Tuhan, aku berdoa agar kaka dipulihkan dan memakai talentanya lebih lagi untuk Tuhan dan juga agar ia dijaga Tuhan dan bisa menerima Yesus sebagai juru selamat pribadinya. Usai berdoa untuk kaka, saat kembali lagi dengan terjemahanku, kurasakan panggilan untuk berdoa untuk tanah Papua ini. Dan suara di dalam diriku tiba – tiba bilang begini, “May, mau tidak lihat hatiku untuk tanah ini?”. Saat itu yang kurasakan adalah hanya sebuah kesedihan mendalam yang mengiris hati dan aku hanya bisa menangis keras dan terus menangis kala di dalam doaku kulihat orang – orang yang dipenjara, anak – anak kecil yang terlantar, perempuan – perempuan yang dianiaya, dan orang miskin serta berbagai potongan wajah – wajah manusia yang menderita. Seakan dalam doaku tadi, Tuhan mengajakku berkeliling dan melihat apa yang dirasakan-Nya.
Dalam sesi ‘doa’ singkat penuh tangisan itu, Tuhan juga bilang begini, “May, aku ingin mereka dipulihkan, aku ingin mereka kembali pada-Ku. Aku sedih karna kadang mereka tidak sadar bahwa Aku sedang berada di samping mereka, bersama mereka dalam masa sulit mereka. Aku ingin mereka kembali pada-Ku” dan sekali lagi hatiku masih terasa menangis dan terasa berat.
Satu pesan yang kudapat hari sebelum doa ditutup adalah sebuah pesan di hatiku, “Teruslah menulis, May. Gunakan apa yang kuberikan untukmu untuk membangun sesamamu. Tetaplah menulis!”
Sungguh hari ini aku belajar banyak tentang ‘hati Yesus’ untuk tanah ini. Pelajaran Jumat Agung yang berharga bagiku!
(D. Meimosaki; 220411)
0 comments:
Post a Comment