Pernahkah kau gantung bintang di jendela kamarmu?
Pernahkah tetesan hujan menari liar dalam kamarmu?
Pernahkah sekeping kenangan menabur duka dalam matamu?
Ataukah sepercik rindu membasahi benakmu yang penuh?
Aku pernah!
Entahlah ... tetes hujan di luar sana menyuruhku diam kala mereka menari dan menembus jendela kamar. Mereka bilang ia yang jauh di sana tak lagi sadar bahwa tak ada lagi yang perlu dikatakan kala jembatan hati telah retak dan tak bisa direkatkan dengan lelehan madu. Perlu lem? Tidak, sayang! Ini bukan kapas busuk perekat darah bulanan. Bukan topi pelindung sperma yang kadang bocor dan membuat sel telur terbuahi. Bukan pula hutan yang perlu diberi mekanisme perdagangan karbon agar bisa hidup barang sekejap. Ini tentang hati, sayang. Ini tentang mimpi. Ini tentang hidup dan tentu saja ini tentang C-I-N-T-A!!!
Ia bukan pecinta hujan, bukan pula pembau garam seperti dia yang pernah sangat kucinta. Bukan pula seperti lelaki pejantan yang pernah memporak- porandakan hatiku apalagi seperti si peretas gila yang terobsesi. Bukan, sayang. Ia hanya lelaki yang bertemu aku dan jatuh cinta di saat yang salah. Entahlah ... aku pernah sangat mencintainya dan kupikir hidup kami akan jadi seperti negeri dongeng, setelah sekian lama. Tapi ternyata ... aku salah. Kembali lagi sejarah terulang dalam versi yang lain dan hubungan kami berakhir dalam sebuah tanda tanya. Putus - tidak – putus – tidak. Entahlah ...
Ia bilang ia masih sayang. Iya, aku juga masih sayang. TAPI .... entahlah ... hatiku tak lagi memikirkan dia, kadang – kadang iya tapi yang kupikirkan adalah mimpiku, wajah lelaki – lelaki lain yang kulirik, dan senyum kecil bibirku kala melihat satu makhluk manis lepas di depan mata. Dan Ia hanya kupikirkan kala hendak tidur, masih ada rindu mendengar suaranya. Tapi segera berhenti kala akal sehat bilang, “Tapi kan ko tra mo nikah deng dia tooo!”. Blup! Ibarat suara kentang masuk sup panas, ya rasa cinta pun tenggelam.
Aku masih ingin tetap memeluknya walau ia tak pernah ingin memelukku (kecuali kalau kupaksa). Entahlah ... mengapa aku tetap selalu membandingkannya dengan seseorang yang pernah memberikan pelukan – pelukan termanis dalam hidupku. Pelukan yang tulus kala aku kedinginan, ketakutan dan merasa tak nyaman. Entahlah ... mungkin karna latar belakang mereka yang mirip tapi entahlah ... ia tetap bukan dia dan aku masih tetap masih sulit menghapus bayang dia dalam diri lelaki ini. Mencari jalan keluar dan realitas, entahlah .... tak tahu. They’re just different!!!
Mungkin aku hanya pernah jatuh cinta pada karyanya dan bukan dirinya, tak seperti dia yang pernah membuatku jatuh cinta benar – benar walau tak bisa mengungkapkan perasaanku karna toh aku sadar diri.
Andai dia yang enggan memelukku ini tahu bahwa aku masih tetap sayang dan cinta TAPI masih enggan untuk mengikatkan diri dengannya dan melepaskan impianku. Karena bagaimanapun urutan prioritas hidupku selalu sama dan tak berubah walau pernah ingin kuubah karena dia. Sebut saja namanya J. Lelaki terakhir yang membuatku kehilangan logika dan meletakan egoku.
Entahlah ... perbedaan umur yang lumayan, 8 tahun lebih tua dariku ternyata tak membuat masing – masing dari kami bisa mengalah. Aku yang dua tahun lagi berkepala 3 ternyata tak bisa juga memahaminya dan ia juga tak bisa memahamiku. Sebenarnya ada banyak kompromi yang kulakukan untuknya. Aku tak mempermasalahkan status dudanya, tak mempersalahkan tampilan fisiknya dan sederetan hal kecil lainnya yang bukan urusan besar untukku. Tapi ternyata .... ada hal – hal yang masih saja membuatku tak bisa melangkah ke depan dan mengambil jarak walau memang kami telah putus. Putusnya hubungan kami pun punya dua versi. Versinya dan versiku. Versiku, kami telah putus sejak ia mengirimkan SMS yang bilang sebaiknya aku dan dia menjadi teman saja dibanding emosi habis hanya untuk urusan yang tak penting. Sedangkan versinya, kami tak putus dan itu hanya SMS biasa untuk diskusi.
Komunikasi mungkin salah satu masalah yang mulai ada sejak sebulan lebih pacaran. Ia bisa jadi lelaki baik super duper kala sedang baik tapi tiap kali sedikit mabuk dan mulai jujur bicara, ah aku hanya seorang pelarian atau mungkin karena dikejar target orang tuanya untuk menikah sehingga aku yang tersisa *miris. Aku masih belum bisa menerima perlakuannya sebelum putus dan masih ada luka yang basah di hati kalau mengingatnya. Saat ini aku masih berusaha memulihkan hidupku yang sempat hilang, luka dan hancur secara emosi.
Aku masih belum bisa memaafkan bagaimana ia menggantung statusku selama 3 minggu di mata orangtuanya, bagaimana ia memperlakukanku sebagai pajangan yang dijaga; hanya perlu disentuh atau diajak bicara kalau memang perlu dan dijaga mati agar tidak jatuh tapi tanpa sebuah kata bahwa aku berharga. Ia yang tak pernah menyebut namaku dan hanya memanggilku dengan nama ‘say’; apa ia takut salah memanggil nama perempuan lain? Entahlah ... ia yang tak pernah mau membahas masa lalunya dan harus orang lain yang bercerita padaku. Aku ingat malam itu kala sahabatku semasa SMA yang notabene tetangganya bercerita usai kuungkapkan tentang akhir hubungan antara aku dan dia. Ah lagi – lagi aku bukan satu – satunya perempuan dalam hidupnya. Jelas saja sahabatku dulu terkaget – kaget dan pernah beberapa kali menganjurkan agar jangan menjalin hubungan dengan lelaki ini.
So far, aku masih sangat mencintainya, masih. Tapi mungkin dalam hati saja atau lewat SMS. Tapi menikah? Entahlah .. apa aku kuat ‘makan hati dan tahan hati dan bersabar’? Aku tak tahu dan mungkin tak akan mau.
Aku hanya ia paham bahwa aku butuh sayap, kebebasan dan pelukan. Aku butuh kepastian dan kemapanan, apalagi kemandirian. Bukan lelaki manja yang hanya suka main perintah dan tak ada langkah nyata tentang rencana ke depan. Hallo, nikah itu bukan hanya urusan tidur, sayang! Nikah bukan hanya urusan makan sehari – dua hari. Bukan itu!!!
Aku mungkin egois, mungkin terlalu pake logika tapi jelas saja aku tak mau sengsara dalam hidup. Tak ingin dapat lelaki manja yang pikir semuanya akan baik – baik saja tanpa berusaha. Tak ingin lelaki yang terus menyuruhku menjaga sikap kalau pergi ke luar rumah karena ia tak ingin nama baiknya hancur karena banyak yang mengenalnya. Tak ingin lelaki yang tidak bisa menghargai caraku berbicara, caraku tertawa dan membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Entahlah ... bersamanya aku lelah. Lelah menjadi orang lain, lelah menjadi pajangan yang diinginkannya.
Saat ini ada banyak cinta yang kurasakan dan membuatku sedikit berpikir tentang apa memang aku butuh cinta darinya, apakah itu tulus atau hanya demi karir masa depannya sehingga membutuhkan orang sepertiku? Hanya demi gengsi, sayang!!! Entahlah ...
Jujur saat ini, aku hanya tak ingin berpikir tentang cinta atau membangun hubungan yang serius dengan lelaki manapun. Entahlah ... mereka tak pernah mengerti aku, tak pernah mengerti seleraku. Tak pernah. Dan aku juga capek mengerti mereka. Mungkin karena aku terlanjur nyaman dengan diriku sendiri sekian lama.
Aku lajang, hampir 28 tahun, mandiri sejak kecil dan percaya akan kekuatan impian, financially independent, punya hidup yang biasa saja walau aku punya kontrol penuh atas apa yang hendak kulakukan dalam hidup karena orang tuapun tak banyak mengontrol apa yang hendak kulakukan.
Aku hanya ia dan lelaki lain yang hendak dekat denganku mengerti bahwa aku sangat menghargai hal – hal kecil dan kerja keras. Ini bukan tentang uang yang banyak, fasilitas dan lain – lain. Ini bagaimana para lelaki itu mau berusaha mencapai apa yang hendak mereka capai dan melibatkan aku dalam hidup mereka tapi tanpa mengikatku. Lelaki yang memberiku sayap dan percaya penuh padaku. Yang bukan menuduhku dengan bahasa yang kasar dan memanggilku dengan kata – kata seperti ‘licik, egois, berpikiran negatif’. Please deh, sayang!!!
Entahlah .... mungkin karena semua tipe lelaki yang pernah menjadi impian tersembunyiku pernah kudapatkan dalam seminggu bersama lelaki yang mengajariku membaui garam di benua lain. Entahlah ia, yang juga bernama J dan kulabel sebagai bro J’ benar – benar tipe lelakiku. Mandiri, mencari duit sendiri, bebas label orang tua dalam hidupnya, punya cita rasa seni, memberiku kepercayaan penuh, menyemangatiku dan bilang bahwa aku pasti bisa menjadi apa yang kuinginkan karena aku seorang perempuan yang visioner dan punya hati untuk Papua walau ia seorang berkulit putih dan bermata biru. Entahlah ... banyak hal yang masih tetap berbekas di benak dan membuatku tetap menanti seseorang yang seperti bro J, yang bisa membuatku merasa dihargai dalam hidup. Bro J memang tak pernah jadi kekasihku tapi ia membuatku merasa ‘melambung sedunia’ dan membuat aku percaya bahwa lelaki baik itu ada.
Aku masih merindukannya kadang – kadang. Ia yang membuatkanku sarapan tiap pagi, mengajakku berpetualang, mengajariku mencintai bumi lewat tindakan dan gaya hidupnya, mencintai seni dan baca, menghargai budaya lain dan tentu saja memberikanku pelukan terhangat yang pernah kudapat. Aku masih juga mengingat perjalanan kami menyusuri bukit – bukit di Apollo Bay dan berdiri pada satu titik di mana ia bilang bahwa ia akan membangun rumahnya di sana, menghadap teluk, suatu hari kelak. Ia seorang pemimpi sepertiku. Aku mencari lelaki seperti ini. Lelaki yang mencintai hal –hal kecil dalam hidup dan membuatku tersenyum untuk hal – hal gila yang dilakukannya; menunjukan F-word motion ke arah kamera sensor balap di jembatan, mengajakku makan apel dan buah – buahan di halaman rumah kosong, mengajakku menonton wallaby kala senja, mengajakku berburu koala dan mengganggu makhluk pemalas ini dan juga berpetualang hingga baret- baret di kaki muncul. Entahlah ... ia membuatku terus jatuh cinta kala mengingatnya. Ooops hampir lupa, ia juga yang pertama kali mengajakku ‘kencan’ makan es krim di pinggir pantai. Gosh, aku mencari lelaki seperti ini seumur hidupku.
Hidup masih panjang. Tak banyak yang kuminta dari Tuhan. Ijinkan aku bertemu, jatuh cinta dan dicintai lelaki SEPERTI bro J dalam hidupku. Bila kudapat, aku janji tak akan kulepaskan, tak akan pernah.
Entahlah ... aku akan terus menunggu untuk lelaki seperti dia, seperti my bro J.
Aku memang sentimental fool but it’s my life dan aku memilih seperti ini.
Jangan pernah kapok jatuh cinta TAPI tetap saja ... bro J itu sapu acuan *hahahaha
(Manokwari, 270311)
0 comments:
Post a Comment