Prolog
Setahun telah berlalu sejak kutinggalkan kota ini. Hari aku kembali lagi untuk bertemu dia yang telah dipeluk bumi. Hari ini hari kematiannya dan aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Entahlah ... banyak yang hendak kukatakan.
***
Manokwari
Akhir Januari 2011
“Rhe, ko jadi datang to ke Jayapura? Tong mo bikin ibadah pengucapan syukur setahun terpanggilnya kaka Anis. Datang ya ...”, suara mama ade Yako di ujung telpon.
“Iyo made, nan sa datang. Sa cek sa pu jadwal kerja dulu eee, kalo sa bos ijinkan sa datang ee”, jawabku.
Mama Yako menelponku seminggu lalu. Mama Yako yang sepupunya ibuku mungkin salah satu mama adeku yang mengerti bagaimana aku kehilangan Anis. Anis mungkin lelaki yang cukup dekat denganku bahkan mungkin aku pernah jatuh cinta padanya walau aku tahu bahwa cinta seperti itu terlarang. Lelaki berambut keriting dan berkulit Kopi Moka ini adalah anak mama Yako dan hanya dua tahun lebih tua dari diriku. Ia teman masa kecilku dan seseorang yang sangat memahamiku walau aku tak pernah tahu apa ia menyimpan perasaan yang sama denganku hingga kepulangannya. Yang aku tahu, setahun lalu, ia ditemukan terbunuh secara misterius usai mengikuti rapat para aktivis HAM di Jayapura. Sayangnya hingga setahun kepergiannya, aku tak pernah mendengar penyelidikan kematiannya berbuah sebuah penjelasan kepada keluarga, apalagi kepadaku. Semuanya gelap.
Kulihat sepotong kenangan masa kecil bersama Anis dalam selembar foto lusuh yang selalu kusimpan di dalam dompetku. Tawanya masih tetap terasa basah dalam ingatan. Apalagi semangatnya yang selalu menggebu – gebu kala menjelaskan tentang ketidakadilan di tanah ini apalagi yang terkait dengan Hak Asasi Manusia. ‘Ah Anis pasti akan jadi seorang pengacara hebat kelak’, kataku sejak kecil. Tapi semuanya menjadi kelabu kala setahun lalu, telpon Mama Yako di pagi hari mengagetkanku.
“Rhe, kuat eee, kaka Anis su tidak ada. Kaka Anis su pulang”, penjelasan yang singkat diselingi dengan desahan napas yang berat berisi duka. Suara mama Yako pun berlanjut dengan detail kematian Anis dan rencana pemakaman. Aku ingat kala itu aku hanya bisa beku. Diam. Duniaku jungkir balik. Di hari yang sama, aku mencari tiket penerbangan ke Jayapura dan untunglah ada sebuah seat kosong yang kuperoleh.
Yang aku ingat, Anis begitu tampan berada di dalam peti hitam itu. Hatiku pun kututup untuk cinta seiring peti itu tertutup dan tertimbun tanah.
***
Jayapura
Februari 2011
Jayapura terasa panas disengat bola panas yang berpijar di angkasa. Peluh sedari tadi mengucur deras di dalam taksi yang membawaku dari Sentani ke Kotaraja. Makin hari kota ini makin panas dan berdebu, batinku. Pembangunan di sepanjang jalan membuatku sedikit terhenyak. Gedung – gedung baru, ruko – ruko warna – warni, pusat perbelanjaan baru dan mama – mama penjual pinang yang menyempil di sela – sela pusat ekonomi itu; menelan debu dan mengais ‘seribu tra pake’ di pinggir jalan. Ironis, batinku. Tiba – tiba aku teringat Anis. Aku tahu, Anis pasti kecewa dengan apa yang kulihat.
***
Mama Yako semakin kurus sejak kepergian Anis. Wajahnya tak lagi sama. Ada gurat mendalam di wajahnya; luka yang tak akan pernah sembuh. Anak lelaki satu – satunya; pembawa fam suaminya telah pergi. Tak akan pernah kembali.
Usai rapat keluarga untuk ibadah pengucapan syukur, kuputuskan pergi ke Abe untuk berbelanja. Di areal pasar tradisional, para lelaki sedang sibuk membongkar peti – peti kemas kayu berisi sayuran dan buah. Peti – peti kemas itu terhambur begitu saja di pinggiran jalan masuk.
Pasar yang becek di kala hujan membaurkan keringat para pembeli. Aku seakan terlempar pada labirin dusun sagu dan hutan bakau yang menjerit di gendang telingaku meminta tolong tergerus pembangunan. Pasar masih tetap sama. Para penjual berkulit kopi moka masih kalah bersaing dengan mereka yang berkulit kuning langsat. Pundi – pundi rupiah tak pernah sama. Hanya ‘seribu – seribu tra pake’ yang berjumpalitan enggan masuk ke kantong mereka. Sekali lagi aku teringat Anis. Esok aku akan bercerita padanya.
***
Deret – deret kuburan memanjang diterpa panas matahari. Hari ini tepat setahun lalu mayat Anis ditemukan di dalam got dekat sebuah jalan kecil di daerah yang dulunya adalah dusun – dusun sagu dan manggewa. Bekas gorokan di leher dan sebuah luka bundar berbau mesiu di dadanya menghiasi tubuh. Darah kering menghiasi badannya. Ia mati dibunuh. Entah siapa yang durjana.
Ingatanku masih basah. Lukaku pun tak pernah kering. Aku ingat iring – iringan kami berjalan melewati pemakaman ini. Berbaju hitam. Peti hitam dan payung warna – warni yang mengingatkanku akan warna gulali.
Tahun ini, kujejakan lagi kakiku dan berjongkok di sebuah kuburan. Sudah setahun dan banyak hendak kuceritakan pada Anis. Waktu terasa berhenti dan beku kala cerita mengalir hingga tak sadar mentari tak lagi bersinar. Suara serangga senja mengiringi ceritaku dan aku tak pusing lagi bahwa aku satu – satunya pengunjung pemakaman ini.
Jam tanganku menunjuk pukul 8 malam. Lekas – lekas kukibaskan debu yang melekat di celana panjangku dan dengan langkah lamat – lamat kuucapkan selamat tinggal. ‘Sampai jumpa tahun depan, kaka’, ujarku pelan.
Tiba – tiba bayangan – bayangan hitam di ujung deret kuburan membuatku terhenyak. Langkah – langkah berat dan bantingan benda membuat langkahku mati dan adrenalin berlompatan. “Ada apa eee?”, batinku penasaran.
Dari sudut gelap kuburan, para lelaki itu sibuk menerangi sebidang tanah dengan lampu petromaks. Peti – peti kemas kayu yang kulihat berserakan di dekat mereka. Seseorang sedang menggali kuburan. Tapi untuk apa peti kemas itu?
Kutahan napas dalam – dalam dan terus memperhatikan. Waktu berlari cepat dan aku tak peduli. Meringkuk dalam gelap. Penasaran!
“Hati – hati pace, daripada nan ko kena yoo. Bungkus deng plastik saja suda. Baru masukan di peti tuh”, instruksi seorang lelaki berbadan besar. 3 lelaki lainnya sigap membungkus sesuatu beraroma menyengat.
“Tempo. Masih ada beberapa yang harus tong kubur lagi. Malam ini harus beres”, perintahnya sekali lagi.
Bayangan – bayangan hitam itu sibuk membungkus peti kemas. Bunyi dentaman keras jatuh dalam tanah dan ditutup secepat mungkin. Tak ada upacara. Tak ada nama. Tak ada peti apalagi ratapan.
“Kasihan dong harus begini tapi mo bagaimana lagi. Yang penting tong su usaha. Kam pulang nih pi ke klinik dulu eee, jang sampe kam kena lagi. Masih ada pekerjaan lain”, ujar seorang pria yang tangannya sibuk memegang peti kemas.
Aku hanya bisa diam dalam gelap. Duniaku sekali lagi jungkir balik.
Yang aku ingat sebelum pingsan, peti – peti kayu bertebaran di mataku. Peti Anis, peti kemas dan peti – peti lainnya. Terkubur dalam diam!
***
(Manokwari, 26 Februari 2011; mengenang mereka yang berada dalam peti entah karena pandangan politik ataupun korban penyangkalan keluarga karena HIV; terinspirasi cerita seorang kenalan tentang nasib ODHA yang terlantar di tanah Papua).
0 comments:
Post a Comment