Akhirnya kembali lagi aku melajang. Iya, aku dan dia telah mengakhiri hubungan kami pada suatu malam beberapa hari lalu. Tepatnya tanggal 22 Februari 2011. Kami tak lagi menjadi sepasang kekasih yang percaya akan menikah tahun ini. Ia yang memutuskan, tepatnya. Ini hanya akumulasi retaknya hubungan sejak sebulan terakhir. Pada sisi aku sempat sedih tapi entahlah ... aku merasa lega. Apalagi usai memberitahukan saudara perempuannya dia bahwa tak ada lagi pertalian kasih. LEGA!!!
Masalah mencuat di tanggal yang sama, di sebuah pagi, kubuka jejaring sosialku dan terkaget – kaget kalau ia telah mengganti statusnya menjadi ‘lajang’ termasuk mendapati sebuah postingan dari seorang perempuan yang mendampratnya habis – habisan karena mengirimkan pesan – pesan ke dinding perempuan itu. Perempuan ini merasa marah karena ia telah mempunyai ‘paitua’ =D Karena penasaran, aku mengirimkan sejumlah pesan ke ponselnya yang ujungnya aku kena damprat dan ia bilang aku hanya mencari alasan karena ingin selingkuh dengan sahabatku di Manokwari. Aku hanya tak tahan kala ia menyebutku ‘otak licik’, yang diulanginya lagi lewat pesan di jejaringku yang kembali menuduhku dengan sebutan licik. Belum lagi tuduhannya kala aku memblokirnya membaca postingan sahabat – sahabatku karena jujur aku tak ingin ia menyakiti para sahabat cowok yang kerap men-tagku dalam catatan ataupun foto mereka.
Malamnya, aku pikir ia telah mereda, kukirimkan pesan – pesan menanyakan keadaannya dan pesan yang berisi bahwa aku masih peduli dan sayang padanya. Tapi kali ini dibalas dengan pesan – pesan yang meminta hubungan kami berakhir hanya sebagai teman. Dan aku mengiyakan. Tak ada gunanya memaksakan perasaan, bukan?
Entahlah ... aku masih terluka dan sedih.
Para sahabatku tentu saja gembira. Kata mereka aku terlalu banyak melakukan kompromi demi lelaki ini. Terlalu banyak.
Malam yang sama usai putus, aku mengirimkan sejumlah pesan pada sahabatku yang tetanggaan sejak kecil dengan dirinya. Akhirnya aku tahu alasan yang sesungguhnya mengapa sahabatku ini mati – matian melarangku dulu untuk dekat dan pacaran dengan lelaki ini. He’s sort of womanizer yang tak pernah bisa serius dengan anak orang. What a shame. Tentu saja ia punya beberapa sifat yang membuatku tertekan. Posesif, over protektif dan cemburuan dan membuat 3 mingguku di Jayapura kemarin bagai burung yang terikat sayapnya.
TAPI ...
Thanx God, akhirnya aku bebas. Walau hatiku masih berdarah – darah dan kenangan dengannya masih lengket dan basah.
Satu yang pasti, saat terluka begini dan sendiri lagi, aku merasa Tuhan lebih dekat denganku.
Aku pendosa tapi aku butuh Tuhan. Mungkin ini memang caranya Tuhan untuk selalu menarikku mendekat dengannya.
I will survive no matter the bitterness I have for Jesus is my superhero.
Aku sekarang fokus dengan tujuanku MELAJANG. Entah akan menemukan lelaki pelangiku yang akan menemaniku mengejar kupu – kupu dan kelomang, menemaniku berlarian di pantai.
Mungkin memang mencari seseorang seperti bro J terlalu sulit di tanah Papua ^_^
I’m single ‘n very happy!!!
(Manokwari, 240211)
0 comments:
Post a Comment