Search This Blog

Loading...

Friday, 21 January 2011

Spaghetti Time

Hari ini cuaca Manokwari mendung kelabu sedari pagi walaupun hujan hanya turun di pagi hari dan tidak sederas seperti kemarin. Saat aku memutuskan membuat catatan ini, tentu saja usai acara masak dan makan spaghetti Bolognese minus daging cincang (terpaksa corned beef yang difungsikan ^_^). Aku menikmati acara masak dan makan spaghetti tadi karna kedua keponakan, kedua adik dan iparku bergabung. Acara masak juga diselingi dengan acara dansa bersama. Sambil menunggui rebusan spaghetti melunak di dapur, lagu – lagu berirama riang membuai kami sehingga aku, adik perempuanku menari. Bahkan si keponakan bayiku turut bergabung dengan menghentak – hentakkan kepalanya. Jangan tanya lagi bagaimana gayanya, kadang aku takut ‘sekrup – sekrup’ kepalanya bakal lepas.

Hari ini sebenarnya moodku tidak begitu baik. Bukan hanya karena malaria tertiana +1 yang menyerangku, tetapi gabungan mood suntuk karena membantu penelitian seorang senior yang belum beres dan menjadi beban bagiku plus juga aku merasakan sedikit mood atau entahlah apakah ini instuisiku bahwa ‘kehadiranku’ yang mempertanyakan ‘hakku’ tidak begitu baik, atau katakan saja ‘I’m not the right person either in the right place or on the right time. Yang pasti mood ini membuatku sedikit tak nyaman sehingga mengirimkan sejumlah pesan pada kekasihku di Jayapura. Sayangnya ia sedang sibuk walaupun siang tadi ia sempat menelpon dan saling berkirim pesan tentang terjemahan sebuah nama dan dilanjutkan dengan acara berkirim pesan tentang perasaan kami. Aku merasa ia menjadi salah satu orang yang menguatkan aku akhir – akhir ini, yang menyemangatiku; seorang teman berbagi dan berdiskusi walau kadang – kadang mulutnya bisa sangat pedas mengkritikku khususnya bila aku mulai down dan menyalahkan diri. Ia pasti mulai dengan ‘kuliah’nya tentang membuang pikiran negatif hingga bagaimana hidup dengan pikiran positif. Kadang aku berpikir bahwa lelaki ini terlalu santai dalam hidup. Iya, ia memanggilku ‘manusia serius’.

Namanya Jeff. Lelaki campuran Ambon – Serui ini mulai mengisi hari – hariku sejak awal tahun baru sih sebenarnya walau aku pernah bertemu dengannya sekali dalam sebuah pementasan teater dan tari di TIM Jakarta pertengahan tahun 2008. Saat itu aku hanya tahu ia sutradara pementasan, iyalah di akhir pementasan ada acara bincang – bincang sejenak di sana. Sebenarnya aku jatuh cinta mati pada pementasan itu. Bukan hanya karena tata panggung, jalan cerita dan tariannya yang keren abis tapi juga karna pementasan itu hadir di saat yang tepat; sebagai penghibur dan pengalih perhatian ditinggal nikah ‘Lelaki hujan’ yang hanya terjadi sehari sebelumnya. Di pementasan ini selain bertemu dengan Jeff, aku juga bertemu dengan seorang dosen political science di universitasku (ANU) walau saat itu aku tidak tahu siapa dia namun saat aku di Australia, aku akhirnya bisa me-recall ingatanku karna saat pementasan itu aku bertindak sebagai pengamat dan mantan dosenku ini seingatku diajak menari di atas panggung ^_^. Ingatanku cukup baik walau tak terlalu berupa photographic memory. Sayangnya aku malah punya short-term memory loss dan hal ini cukup menggangguku hehehe.

Tulisan ini tampaknya mulai berjumpalitan seperti biasa, berlari sana – sini dan tidak jelas. Ok, balik ke topik kekasihku. Si Jeff ini kan lebih tua tujuh (7) tahun dariku dan juga lebih dewasa dariku. Kehadirannya cukup membuatku tenang. Mungkin kedengarannya lucu tapi entahlah ... aku merasa pertemuan dengannya dan juga jadian dengannya bukan sebuah kebetulan tetapi telah diatur oleh ‘Paitua Besar’ di atas.
Ada banyak hal yang membuatku berkesimpulan seperti itu. Bahkan saat aku diperkenalkan ke keluarganya di malam aku menginap di rumah Jeff juga berlangsung lancar karena faktor friends’ connection.

Aku tak pernah menyangka bahwa seorang sahabat masa SMAku di Kotaraja, yang juga ternyata ‘mama ade’nya sepupu kandungku, ternyata adalah tetangga baku sebelah rumah dengan Jeff. Bahkan keluarganya dan keluarga Jeff bagaikan keluarga karna sahabatku menganggap Jeff sebagai kakaknya dan kebetulan kakak laki – lakinya yang kebetulan akrab denganku sewaktu SMA juga bernama sama dengan kekasihku. Tak usah ditanyakan lagi saat kami bertemu, sahabatku hanya bisa ternganga – nganga saat aku membuat pengakuan bahwa aku pacaran dengan Jeff. Yang pasti, akhirnya tak ada kendala saat berkenalan dengan saudara –saudara perempuan Jeff karena ada topik yang bisa dibahas; sahabatku ^_^

Lelaki ini yang pasti sekarang menjadi seseorang yang bersamanya aku mau menghabiskan hidupku dan tentu saja menjadi tua bersamanya. Entahlah aku tak mau terlalu sentimental ataupun romantis, tapi bila harus menaruh perasaanku dalam kata – kata, aku mungkin ingin bilang kalau aku menginginkan lelaki ini menemaniku menikmati tarian hujan, entah sekarang entah besok entah nanti. Karena aku tahu, sekarang aku telah menemukan ‘rumah’ di mana aku merasa nyaman dan hangat.

Malam ini yang pasti aku sedang jatuh cinta pada Jeff dan bersyukur atas dia dalam hidupku. Sebenarnya sikap Jeff yang tiba – tiba PDKT serius untuk hubungan yang lebih dari sekedar teman terjadi hanya sehari usai aku berdoa berserah pada Tuhan meminta ‘jodoh’. Kedengaran bodoh mungkin tapi Jeff tiba – tiba muncul saja tanpa kutahu. Sebenarnya pokok doaku sih bilang aku ingin liburan dan ingin mendapat jodoh pengganti Lelaki Hujan. Dan ternyata Tuhanku memang Allah yang dashyat dan hidup. Ia memberiku bukan hanya satu berkat tetapi dua berkat dan menjadi hadiah natal tahun ini; mendapat kekasih dan liburan seminggu gratis dan dibayar pula ke beberapa kota di Cina.

Satu hal yang pasti, cuma ingin bilang: Thanx Bapa, Yesus dan Roh Kudus untuk sa pu hidup.

(Manokwari, 170111)

0 comments: