Search This Blog

Loading...

Monday, 24 January 2011

Kisah kuburan

Malam ini aku baru saja pulang dari sebuah wawancara dan memilih mengendarai motor baruku ke arah pinggiran kota; tepatnya di sepanjang pesisir pantai. Sekitar pukul 8 malam. Motor baruku ini kebetulan baru saja kubeli sistem kredit yang harus kucicil selama setahun tapi lumayanlah, cicilannya tak begitu besar karena depositnya lebih dari 2/3 harga motor. Mumpung sedang tahap ‘meresmikan’ motor sekaligus ‘enreien’ motor, kuputuskan membawanya ke jalan sepanjang pesisir pantai sambil menikmati malam gelap tanpa bulan dan bintang. Sekitar 20 menitan perjalanan, rasa khawatir mulai menginfeksi keberanianku saat menyadari bahwa dalam proses enreien seperti ini kecepatan motor sangat terbatas. Nyaliku mulai menciut kala kuperhatikan bahwa jok motor baru ini lumayan panjang dan ramping dibandingkan motor lamaku sehingga kalau aku berjalan perlahan di jalan – jalan gelap, kemungkinan orang jahat untuk melompat naik ke motor dapat terjadi. Alamak ... arus kuat keberanianku semakin melemah kala melewati daerah Pasir Putih khususnya daerah ‘perumahan abadi’. Ai kam .... *bulu kuduk merinding ditemani imajinasi berjumpalitan disertai iringan musik latar pengiring film a la Friday the 13th =D

Daerah atau kompleks Pasir putih selain terkenal dengan obyek wisata pantai, juga mempunyai jejeran ‘perumahan abadi’ di pinggir pantai. Lokasinya tepat berada di pinggir jalan raya penghubung antara kompleks Inggandi dan perumahan penduduk di Pasir Putih. Jangan salah, ‘perumahan abadi’ ini bukanlah kompleks para petinggi ataupun kalangan orang berkantong tebal tetapi para ‘pembeli kapling’ di alam baka. Tentu saja ‘perumahan’ yang kumaksud adalah jejeran 3 buah pemakaman yang dibedakan berdasarkan agama ataupun etnis.

Cemetery ataupun kompleks pemakaman di Manokwari secara umum dikenal dengan dengan istilah ‘kuburan’. Kata ‘kuburan’ bisa merujuk pada konteks ‘makam dan segala perangkat pendukungnya’ ataupun kepada ‘kompleks atau arealnya’. Di daerah Pasir Putih terdapat tiga ‘kuburan’ yang berjejer. Pertama, kuburan Islam dengan ciri nisan tanpa rumah pelindung dan sebuah pohon Mangga hutan besar dan kemboja. Lalu ada kuburan Cina dengan pagar dan rumah penjaga kuburan; dalam konteks tulisan ini, aku memakai kata ‘Cina’ untuk merujuk pada etnis Tionghoa karena di kotaku, kata ‘Cina’ bersifat netral dan tidak merujuk pada makna derogatif apapun tetapi hanya sebagai penunjuk identitas sebagaimana aku menyebut suku lainnya seperti Arfak, Biak, ataupun Jawa. Akhirnya, kuburan Kristen; ciri khasnya tiap makam dilengkapi sebuah salib kayu bertuliskan nama pihak yang telah berpulang, lengkap dengan tanggal ‘tiba – brangkat’nya dari planet ini. Tentu saja kuburan yang terakhir ini bebas tanda “R.I.P”. Sayangnya seiring perkembangan populasi para ‘pembeli kapling’, pohon – pohon Kamboja di areal tiga kuburan ini mulai berkurang. Walau sedari tadi waktu aku berkendara, sempat samar – samar aroma bunga ini mengisi lubang hidungku sepersekian menit *’ai kam’ mode: ON

Tiap kuburan punya keunikan, itu pendapat pribadiku. Kuburan Islam misalnya. Kuburan ini terletak lebih ke arah bukit dibandingkan dua kuburan lainnya dan mempunyai beberapa pohon Kamboja Putih dan Merah muda serta sebuah pohon Mangga hutan besar asam. Pohon mangga ini tiap musim buah kerap menjadi sasaran ‘tembak’ dari anak – anak kecil. Jangan tanya mengapa aku tahu rasanya, karena sewaktu kecil kalau tak salah pernah juga mencicipi buah dari pohon ini karena mamaku bekerja lebih dari 28 tahun di dekat kawasan ini sehingga aksesku ke kawasan ini terjadi sejak masih jaman balita. Statistik pengunjungnya pun terasa lebih ramai dan ‘hidup’ di bulan Ramadhan atau menjelang Lebaran saat peziarah datang berduyun – duyung. Anyway, kuburan ini sekarang berdampingan, tepatnya bersebelahan jarak 1 meter dengan pagar barak karyawan serta kompleks gudang sebuah supermarket di Manokwari. Ooops ampir lupa, halaman depan kompleks gudang yang bersebelahan dengan kuburan Islam ini ditanami jejeran semak Terong ungu dan bebungaan. Unik!!!

Kuburan berikutnya yang terletak bersebelahan dan dibatasi sebuah ‘urat bukit’ tepatnya membentang di lereng ke daerah landai adalah kuburan Cina dengan nisan – nisan batu yang kadang dilapisi marmer ataupun ubin keramik dan dipenuhi aksara Cina..Di kotaku, ini adalah kuburan Cina kedua karena sebelumnya daerah kuburan Cina lama berada di pusat kota; bagian dari kuburan Belanda lama. Sangat cantik karna sewaktu kecil aku jatuh cinta dengan kuburan ini karena makamnya sangat klasik seperti yang ada di dekat daerah Tugu, Jakarta. Kuburan Cina juga merupakan satu – satunya pekuburan yang mempunyai penjaga makam karena menurut cerita pernah beberapa kali ada orang – orang tak bertanggung jawab yang hendak membongkar kuburan dan melakukan pencurian. Ajaib saja masih ada orang yang berminat mencuri dari ‘orang mati’ a la pembongkar makam Firaun. Tak heran kalau di pemakaman ini kuburannya harus dicor dan dibeton biar aman. Bahkan akhir – akhir ini kuburan telah dibuatkan rumah dan teralis, makin mendekati bentuk ‘arsitektur kuburan’ di kuburan Kristen.

Faktor pembuatan areal pekuburan ini pun sedikit berbeda karena kuburan Cina yang diapit oleh dua kuburan lainnya sebenarnya dibuat bukan berdasar pada faktor agama tapi lebih pada kuburan etnis Tionghoa sehingga yang dikubur kemungkinan beragama Budha, Katolik ataupun Konghucu. Bentuk kuburan pun merefleksikan bagaimana perlakuan pada jenazah, apakah dikremasi atau dikubur. Kalau tidak salah, biasanya yang dikubur umumnya etnis Tionghoa asli (di kotaku disebut ‘Cina Totok’) ataupun etnis Tionghoa campuran dengan etnis lain di belahan lain di Indonesia. Biasanya untuk etnis Tionghoa campuran Papua (biasanya disebut ‘cina Irian atau Cina Papua; tergantung apakah Cina Bintuni, Cina Babo, Cina Wandamen, Cina Serui, Cina Biak, Cina Sarmi dll) sering dikuburkan di pekuburan Kristen walaupun bukan merupakan sebuah keharusan, tergantung pada keputusan keluarga ‘pihak yang berpulang’.

Kompleks kuburan yang terakhir yang juga cukup unik adalah kuburan Kristen, terlepas apakah yang dikubur beragama Protestan ataupun Katolik ataupun denominasi lainnya. Kuburan ini ibarat Madorodam ataupun miniatur rumah kecil a la Cockington garden di Canberra tapi minus bunga – bunga cantik dan jalan setapak. Jejeran rumah – rumah mini dilengkapi dengan pasak salib mencuat dari dasar pasir. Tiap rumah mempunyai bentuk dan warna yang berbeda tergantung pada tingkat ekonomi keluarga yang ditinggalkan. Semakin kaya maka semakin mewah tampilan ‘rumah’. Ada yang berteralis emas, berjendela, bergaya kisi – kisi kayu a la Country house, open – air tanpa pembatas ataupun dilengkapi pagar. Selain vas ataupun botol bunga di dalam rumah kuburan, selalu saja ada botol pelita ataupun tempat lilin.

‘Wisata kuburan’ terbaik di kota Manokwari adalah tiap tanggal 24 Desember usai pulang ibadah malam Natal dan juga pada malam tanggal 31 Desember di saat yang sama. Sebuah kota kecil telah ‘dibangun’ oleh ratusan nyala lilin dari rumah – rumah mini. Selain suasana romantis, ‘acara bakar lilin kuburan’ menjadi sebuah bentuk ‘silahturahmi tanpa kata’ para warga Manokwari yang mulai tergerogoti semangat individualisme konsumtif. Sayangnya acara bakar lilin juga menjadi saat emas para ‘maling lilin’ yang ditengarai dilakukan oleh para anak muda di dekat kawasan ini. Jangan tanya mengapa aku tahu hal – hal kecil di kawasan ini karena bagaimanapun kompleks ini menjadi salah satu kompleks tempatku bermain sewaktu kecil. Tentu saja dulu aku bukan pengunjung setia ke kuburan. Iyalah, I am totally a coward urusan beginian =D

I am a totally a coward urusan beginian and will remain same. Epen ka ^_^

p.s. musik pengiring sedari tadi klasik a la film Horor guna membangkitkan aroma ‘kuburan’ hehehe

(Manokwari, 23 Januari 2011; 11 p.m.;)

0 comments: