Sinterklas ataupun Santa Claus alias St. Claus mungkin tokoh paling terkenal di masa perayaan Natal umat Kristiani bahkan mungkin popularitasnya melebihi si Bayi Yesus; alasan dan pemilik perayaan ini. Suasana Natal baik di belahan utara dan negara – negara Eropa ataupun berbasis Kristiani hingga menjalar ke tempat – tempat lain di planet bulat ini tak lepas dari kehadiran pria berjanggut dengan perut berlemak dan berpakaian a la bendera merah putih, yang untungnya ia tak dikerek di tiang bendera. Namanya pu bervariasi di berbagai negara. Mulai dari Santa Claus di negara berbahasa Inggris hingga Sinterklaas a la Belanda (yang diadopsi di Papua) hingga seperti Papa Noel. Aku tak peduli seberapa manis namanya ataupun ia berganti rupa jadi pria langsing six pack a la model majalah Cosmo. Bagiku, aku tak suka dengan Sinterklas yang dikultuskan! Bukan karena ia sekedar ‘pencuri’ makna natal tapi juga alasan aku sering berkelahi dengan orang tuaku plus merupakan salah satu alasan aku sejak kecil percaya bahwa orang dewasa memang tak bisa dipercaya *wink – wink
Aku tak percaya pria gendut ini sejak aku berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Sejak kecil aku dan keluargaku memang tak begitu sanggup untuk menghias rumah kami dengan dekorasi natal yang ‘wow’ karena toh pohon natal pertama kamipun hanya sebuah pohon natal plastik kecil bulukan yang bebas dekorasi Sinterklas. Tapi sempat orang tuaku memupuk mimpiku tentang seorang opa gendut baik hati yang akan memberikan hadiah, itu pula yang dikatakan oleh teman – teman sepermainanku. Hingga kaos kaki jelek sekolah kugantungkan di dinding plus juga sepatu yang diisi rumput kuda kuletakkan di depan rumah pada minggu pertama bulan Desember. Tak lupa pula dengan acara menulis surat untuk Santa di kutub utara =D. Menjelang masa – masa menanti itu, yang notabene adalah saat pertama kali aku juga ikut – ikutan tradisi yang diadakan teman sepermainanku yang juga kebetulan adalah para sepupu jauh dari pihak opa, aku mendapatkan satu pelajaran penting dalam hidup; Santa DIDN’T exist!!!
Pace tua itu memang tak ada. Aku bukan kecewa karena hadiahnya tidak kudapat tapi karena aku menemukan faktanya sendiri. Ceritanya dua hari sebelum hari H kedatangan Santa di malam hari alias 2 hari sebelum aku memasang sepatu penuh rumput di rumah, aku dengan kebiasaan kecilku untuk mencari tahu segala sesuatu di rumah termasuk isi lemari orang tuaku sedikit aneh menemukan beberapa barang baru di lemari orang tuaku seperti sapu tangan, mainan anak – anak dan juga benda lainnya. Waktu itu aku hanya cuek dan bertanya, “tumben, ortu lagi punya uang beli barang baru.” Ternyata di hari H saat mengecek hadiah dari Santa, semua benda baru di lemari ada di dalam kotak kado di sebelah sepatu kami. Dan itulah hari dimana aku kehilangan kepercayaanku bahwa pria tua gendut janggutan itu ADA ataupun punya kemampuan menjawab permintaan Tentu saja ini juga termasuk dengan hilangnya kepercayaan pada orang dewasa ^____^ Trust me, sejak aku kecil, aku bahkan sudah tahu bahwa orang dewasa adalah orang – orang yang tak bisa menepati janji mereka!!! Dan pada satu sisi, aku tahu aku dibohongi! Bukankah rasa sayang tak harus bersalutkan kebohongan?
Seiring dengan waktu dan berkembangnya pemahamanku sebagai orang Kristen, aku semakin tak suka pada pria gembul ini. Aku tidak membenci St. Nicolaus; seorang baik hati beberapa abad silam yang menyayangi anak – anak yang aku percaya tidak segemuk dan segembul a la Sinterklas yang digambarkan media, karena ia hanya lelaki miskin yang baik hati dan gemar membagikan apa yang ia punya bagi orang tak mampu.Yang aku benci adalah pengkultusan St. Nicolaus dalam bentuk pria gendut janggutan yang gemar berteriak “ho – ho – ho”. Entahlah siapa yang pertama kali membuatnya menjadi berlemak seperti itu. Untung opa ini tak berteriak “Ho” kalau tidak ia pasti berubah menjadi pria gendut cabul *wkwkwkwkw (Ho dalam slang Amerika = perempuan ‘Nakal’).
Aku punya banyak alasan tak suka pada Sinterklas dalam tradisi natal sebagaimana rasa tak tertarikku pada pohon natal. Anggap saja aku aneh atau apalah, tapi itu yang aku percaya walau aku memang tetap menghargai orang – orang yang merayakan natal dengan perangkat natal warisan kaum pagan Eropa seperti orang tuaku.
Bagiku, Sinterklas hanya ‘bintang tamu’ perebut perayaan ini dari Yesus. Seharusnya Yesus yang menjadi alasan perayaan ini dan bukannya lelaki gembul ini. Toh banyak orang Kristen lupa dengan Yesus dan mengagungkan si Santa Merah – Putih. Hiasan rumah semua bertema Sinterklas. Jalan – jalan hingga bisa diadakan parade Santa. Banyak sekali film natal yang menurutku hanya sebuah pembodohan publik dan iman kekristenan yang tak menumbuhkan iman yang menampilkan si Santa yang Jago sihir, jago menerbangkan kereta kuda yang mungkin bahan bakarnya adalah biogas dari feses rusa Entahlah ... mungkin aku yang aneh menanggapi hal ini. Tapi apa mau dikata, karena pria gendut ini sangat “menjual”. Hello, industri dan para pedagang mencintainya. Santa Sales!!!
Santa Sales! Iya, ungkapan ini kan lebih tepat menggambarkan popularitasnya belum ditambah dengan Pit Hitam pengiringnya yang entah dicomot dari dunia mana dan kenapa juga harus eksis. Memangnya seberapa banyak sih yang mau membeli aksesoris a la bayi Yesus dan kostum Timur Tengah bila ada perayaan natal? Lihat si pria gendut ini, dengan kostum khas Eropa berwarna eye-catching ngenjreng a la bendera Indonesia, ia berhasil menohok perhatian. Mulai dari topi kerucutnya yang bentuknya kok adaptasi dari topi Merlin si penyihir apa topi tidur hingga kostumnya yang bisa diubah bentuk dari coat musim dingin hingga bikini dan lingerie cewek Kalau mau dihitung, pasti bisa didata lebih dari 5 benda yang bisa memuat gambar pria gendut ini.
Aku juga punya alasan – alasan pribadi mengapa aku tak suka Sinterklas. Mungkin kedengaran konyol tapi bagiku pengkultusan Sinterklas apalagi dengan membuat festivalnya dan bahkan kunjungan – kunjungannya hanya membodohi anak – anak dan tidak mengajarkan inti esensi Kekristenan tentang kasih karena Sinterklas adalah makhluk pilih kasih yang hanya ‘menyukai’ anak – anak penurut. Jadi yang anak nakal, ke laut aja =) Padahal inti natal adalah kedatangan Yesus dalam kesederhanaan untuk menebus yang berdosa dan terhilang.
Aku juga punya alasan pribadi tak suka pada Santa karena kunjungannya ke rumah sewaktu adik perempuanku masih kecil dan juga hingga sekarang pada para keponakanku hanya membawa sedikit ‘bencana argumentasi’. Mulai dari membuat sibuk dan repot dan lunturnya semangat anak – anak yang harus menunggu berjam – jam penuh harap akan hadiah dari Santa yang notabene dari orang tua mereka hingga trauma dan ketakutan mereka dan menjerit histeris melihat santa dan para pengiringnya yang aneh binti ajaib itu hingga kecelakaan di kompleks perumahanku. Tahun ini saja sudah ada 1 keponakan jauhku yang menjadi korban saat kunjungan Santa di kompleks perumahannya karena ketakutan dikejar - kejar Pit Hitam dan ia harus jatuh di kolam Kangkung hingga kepalanya pecah berdarah. Belum lagi keponakan perempuanku yang ketakutan dan histeris menangis. Bahkan bayi 1 tahun di rumahku selama dua hari ini ketakutan bila melihat boneka Santa pembelian orang tuanya yang berisikan lagu ‘Jingle Bells’. Bayi ini benar – benar menunjukan ketakutannya dengan menangis dan menghindari boneka Santa kala lagu ini diperdengarkan. Mungkin kemarin melihat bagaimana kakak perempuannya histeris dan menjerit saat kedatangan rombongan Santa yang lagu pengiringnya memakai peralatan sound system besar dengan lagu andalan ‘Jingle Bells’.
Sinterklas juga bagiku hanyalah invasi budaya pagan Eropa yang melunturkan sendi dan esensi budaya kekristenan lokal. Selalu saja PRIA KULIT PUTIH sebagai penolong dan orang baik hati dan PIT HITAM sebagai simbol yang ‘jelek’ dan lain – lain. Seakan – akan dikotomi hitam – putih menjadi pelengkap dunia ini. Seakan – akan di dunia ini yang terhebat dan baik hati dan menjadi ‘pahlawan’ haruslah selalu dari ras Kaukasian dan ras lainnya hanyalah pengiring dan pelengkap kegembiraan alias hanya ‘bantu bikin rame’ saja. Entahlah, apa aku yang terlalu percaya pada ‘teori konspirasi’ hingga kadang sinis melihat Sinterklas. Anggap saja aku aneh!!! Kenapa juga harus si Santa ini yang digembar-gemborkan bahkan dibuat paradenya oleh gereja – gereja Kristen di kotaku? Kenapa tidak mengangkat nasib, aspek sosial pelayanan dan kesederhanaan para guru injil yang mengajarkan literasi dan menyebarkan gospel di pedalaman dan tempat – tempat di mana hidup para kaum marjinal ataupun mengadakan aksi sosial yang lebih mengajarkan makna dan esensi natal yang minus pesta pora. Entah mo dibuat pameran atau workshop dll, yang penting lebih down-to-earth dan mengangkat isu sosial dibandingkan si opa tua yang entah hidup di planet mana.
Yang pasti sekarang aku lebih melihat esensi Sinterklas dalam perayaan ini. Bagiku, ia hanya seorang pria gendut kurang perhatian yang menjadi badut tua pesta dan sebenarnya tak diperlukan dalam perayaan ini; apalagi harus dipercayai.
Dan aku heran, kira – kira ... apa ya kata Yesus tentang Sinterklas?
Karena bagiku, Sinterklas ... Epen ka?*
(Manokwari, 081210/Dari-yang-tak-suka-pada-Sinterklas)
(Catatan: Epen ka is an expression Papuan Malay to express either ‘whatever’ or ‘who cares?’)
Wednesday, 8 December 2010
Luka lama
Mungkin berharap dimengerti adalah sebuah kebodohan yang mengristal dan tak akan pernah terurai seiring waktu yang berjalan. Tersuruk di bawah akar – akar pohon waktu dan mungkin kehilangan jalan pulang dalam perjalanan panjang labirin hidup.
Entahlah ... mungkin aku yang tak cukup kuat berusaha untuk memahaminya, mengerti dan mencoba menerima perbedaan kami yang terlanjur membeku dan membatu. Mungkin dosa – dosa masa lalu memang tak boleh bercampur dalam apa yang terjadi hari ini. Mungkin memang harus melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan menguburnya rapat – rapat walau tetap saja ada luka yang menganga dan berdarah kembali, menggurat alam sadar yang masih perih dan segar dengan kenangan busuk yang berbau duka.
Entahlah ... apakah ia pernah memikirkan aku dalam sekian mimpi ataupun terjaganya? Aku tak tahu dan mungkin tak akan pernah tahu. Aku bukan yang terbaik di matanya, selalu ada cela dan tak pernah bisa sempurna. Aku ingat gadis kecil berbaju merah – putih yang ingin belajar bernyanyi dan semangatnya pun dimatikan karena sebuah frasa, “tra usah nyanyi, ko pu suara tra laku” dan perempuan kecil itu pun berhenti untuk menyanyi dan mengingatkan dirinya untuk jangan pernah bernyanyi lagi kecuali untuk Tuhannya.
Aku ingat perempuan kecil yang suka bermain bersama pepohonan dan bebatuan, yang mencari persahabatan dalam ketiadaan hidup, yang berkawan dengan tumbuhan dan makhluk – makhluk kasat mata dan menari di bawah sinar mentari. Yang mencari perlindungan pada pohon – pohon tinggi di belakang rumah, pada makhluk – makhluk yang enggan menghakiminya dengan orang lain, dengan sesama perempuan kecil lainnya, yang enggan mempertanyakan jenis kelaminnya dan ia bahagia kala hujan turun dan menari riang bersama tetes – tetes air pembawa hidup.
Mungkin perempuan kecil itu tak pernah sadar bahwa ia sangat berharga dan dicintai oleh Tuhannya. Ia tak pernah sadar bahwa ia mempunyai masa depan yang cerah. Walaupun ia sempat kehilangan bentuk.
(Manokwari, 071210)
Entahlah ... mungkin aku yang tak cukup kuat berusaha untuk memahaminya, mengerti dan mencoba menerima perbedaan kami yang terlanjur membeku dan membatu. Mungkin dosa – dosa masa lalu memang tak boleh bercampur dalam apa yang terjadi hari ini. Mungkin memang harus melupakan semua yang terjadi di masa lalu dan menguburnya rapat – rapat walau tetap saja ada luka yang menganga dan berdarah kembali, menggurat alam sadar yang masih perih dan segar dengan kenangan busuk yang berbau duka.
Entahlah ... apakah ia pernah memikirkan aku dalam sekian mimpi ataupun terjaganya? Aku tak tahu dan mungkin tak akan pernah tahu. Aku bukan yang terbaik di matanya, selalu ada cela dan tak pernah bisa sempurna. Aku ingat gadis kecil berbaju merah – putih yang ingin belajar bernyanyi dan semangatnya pun dimatikan karena sebuah frasa, “tra usah nyanyi, ko pu suara tra laku” dan perempuan kecil itu pun berhenti untuk menyanyi dan mengingatkan dirinya untuk jangan pernah bernyanyi lagi kecuali untuk Tuhannya.
Aku ingat perempuan kecil yang suka bermain bersama pepohonan dan bebatuan, yang mencari persahabatan dalam ketiadaan hidup, yang berkawan dengan tumbuhan dan makhluk – makhluk kasat mata dan menari di bawah sinar mentari. Yang mencari perlindungan pada pohon – pohon tinggi di belakang rumah, pada makhluk – makhluk yang enggan menghakiminya dengan orang lain, dengan sesama perempuan kecil lainnya, yang enggan mempertanyakan jenis kelaminnya dan ia bahagia kala hujan turun dan menari riang bersama tetes – tetes air pembawa hidup.
Mungkin perempuan kecil itu tak pernah sadar bahwa ia sangat berharga dan dicintai oleh Tuhannya. Ia tak pernah sadar bahwa ia mempunyai masa depan yang cerah. Walaupun ia sempat kehilangan bentuk.
(Manokwari, 071210)
Cinta warna - warni
Entahlah ...
Kau membuatku jatuh cinta tanpa tali pengaman
Bagaikan perempuan kecil yang tergantung dalam lingkar tali temali cinta
Dan tergantung terbalik dalam dunia yang berjumpalitan keluar.
Entahlah ...
Bahkan suara hujan di luar kamarku tak lagi bermain simfoni
Pun lupa tarian waltznya
Berganti dengan senam ritmik ataupun hula
Ataupun belly dance seperti irama hatiku yang turun – naik
Kau hadir di saat aku memutuskan untuk berhenti jatuh cinta
Kau hadir dan mewarnai ...
Tepatnya merampok cat – cat kelabu dinding hatiku
Untuk digadaikan dengan cat cinta warna – warni
Hingga hujanku pun berwarna pelangi.
Apakah kau lelaki pelangiku?
Lelaki yang kutunggu di ujung hujan?
Yang kan menggantungkan busur cinta di mataku
Hingga panah derita tak lagi berasa sedih dan sepi pun menyangkal diri?
Kuharap ... iya!!!
(Manokwari, 061210/ Untuk sa pu kaka sayang JZN)
Kau membuatku jatuh cinta tanpa tali pengaman
Bagaikan perempuan kecil yang tergantung dalam lingkar tali temali cinta
Dan tergantung terbalik dalam dunia yang berjumpalitan keluar.
Entahlah ...
Bahkan suara hujan di luar kamarku tak lagi bermain simfoni
Pun lupa tarian waltznya
Berganti dengan senam ritmik ataupun hula
Ataupun belly dance seperti irama hatiku yang turun – naik
Kau hadir di saat aku memutuskan untuk berhenti jatuh cinta
Kau hadir dan mewarnai ...
Tepatnya merampok cat – cat kelabu dinding hatiku
Untuk digadaikan dengan cat cinta warna – warni
Hingga hujanku pun berwarna pelangi.
Apakah kau lelaki pelangiku?
Lelaki yang kutunggu di ujung hujan?
Yang kan menggantungkan busur cinta di mataku
Hingga panah derita tak lagi berasa sedih dan sepi pun menyangkal diri?
Kuharap ... iya!!!
(Manokwari, 061210/ Untuk sa pu kaka sayang JZN)
Jatuh cinta bratz
Aku jatuh cinta.
Jatuh cinta bratz.
Jatuh cinta tanpa sabuk pengaman, tanpa tali pengaman,
Tanpa rasa aman tapi nyaman!
Hujanku tak lagi sama.
Mimpiku tak lagi sama.
Kelabu pun berasa cokelat dan sendiri pun beraroma kopi
Kala kau datang!
Kau merampok hatiku, kau tahu!!!
Entahlah ..
Kapan kau rampok, kapan kau curi,
Kapan kau tawan, kapan kau ambil
Aku tak tahu!!!
Mungkin aku yang tak sadar memberikan hatiku sendiri
Untuk kau simpan!
Mungkin kutitipkan secara tersamar
Untuk kau pendam!
Entahlah ...
Yang ku tahu,
Kau sukses membuat mimpi buruk di sel kelabu otakku berganti mimpi indah.
Kau sukses membuat feromon dan oksitosinku berjumpalitan.
Kau sukses membuatku menjadi ‘bintang iklan Pepsodent’ akhir – akhir ini.
And Da**, I’m really ..really in love!!!
(Manokwari, 061210; 4 JZN)
Jatuh cinta bratz.
Jatuh cinta tanpa sabuk pengaman, tanpa tali pengaman,
Tanpa rasa aman tapi nyaman!
Hujanku tak lagi sama.
Mimpiku tak lagi sama.
Kelabu pun berasa cokelat dan sendiri pun beraroma kopi
Kala kau datang!
Kau merampok hatiku, kau tahu!!!
Entahlah ..
Kapan kau rampok, kapan kau curi,
Kapan kau tawan, kapan kau ambil
Aku tak tahu!!!
Mungkin aku yang tak sadar memberikan hatiku sendiri
Untuk kau simpan!
Mungkin kutitipkan secara tersamar
Untuk kau pendam!
Entahlah ...
Yang ku tahu,
Kau sukses membuat mimpi buruk di sel kelabu otakku berganti mimpi indah.
Kau sukses membuat feromon dan oksitosinku berjumpalitan.
Kau sukses membuatku menjadi ‘bintang iklan Pepsodent’ akhir – akhir ini.
And Da**, I’m really ..really in love!!!
(Manokwari, 061210; 4 JZN)
Mungkin ...
Mungkin hati memang harus terkoyak dahulu,
Remuk dan hancur sebelum menjadi ‘cinta’.
Mungkin jarak harus hadir dahulu,
Membentang dan mengosongkan pandangan sebelum menjadi ‘rindu.
Mungkin kata – kata harus tertulis dahulu,
Terbentuk dan terlafalkan dalam hati sebelum menjadi ‘pernyataan’
Dan mungkin ...
Jatuh cinta (memang) tak perlu tali pengaman
Hingga jatuh dan terjerembab dalam labirin perasaan
Yang lupa jalan pulang ke rumah.
Toh rumah adalah labirin perasaan itu sendiri!
(Manokwari, 061210/ Special 4 my Jeff)
Remuk dan hancur sebelum menjadi ‘cinta’.
Mungkin jarak harus hadir dahulu,
Membentang dan mengosongkan pandangan sebelum menjadi ‘rindu.
Mungkin kata – kata harus tertulis dahulu,
Terbentuk dan terlafalkan dalam hati sebelum menjadi ‘pernyataan’
Dan mungkin ...
Jatuh cinta (memang) tak perlu tali pengaman
Hingga jatuh dan terjerembab dalam labirin perasaan
Yang lupa jalan pulang ke rumah.
Toh rumah adalah labirin perasaan itu sendiri!
(Manokwari, 061210/ Special 4 my Jeff)
Mungkin ...
Mungkin hati memang harus terkoyak dahulu,
Remuk dan hancur sebelum menjadi ‘cinta’.
Mungkin jarak harus hadir dahulu,
Membentang dan mengosongkan pandangan sebelum menjadi ‘rindu.
Mungkin kata – kata harus tertulis dahulu,
Terbentuk dan terlafalkan dalam hati sebelum menjadi ‘pernyataan’
Dan mungkin ...
Jatuh cinta (memang) tak perlu tali pengaman
Hingga jatuh dan terjerembab dalam labirin perasaan
Yang lupa jalan pulang ke rumah.
Toh rumah adalah labirin perasaan itu sendiri!
(Manokwari, 061210/ Special 4 my Jeff)
Remuk dan hancur sebelum menjadi ‘cinta’.
Mungkin jarak harus hadir dahulu,
Membentang dan mengosongkan pandangan sebelum menjadi ‘rindu.
Mungkin kata – kata harus tertulis dahulu,
Terbentuk dan terlafalkan dalam hati sebelum menjadi ‘pernyataan’
Dan mungkin ...
Jatuh cinta (memang) tak perlu tali pengaman
Hingga jatuh dan terjerembab dalam labirin perasaan
Yang lupa jalan pulang ke rumah.
Toh rumah adalah labirin perasaan itu sendiri!
(Manokwari, 061210/ Special 4 my Jeff)
Catatan untuk JZN
CATATAN-TANPA-JUDUL
Untuk lelaki yang membuat ladang hatiku berbunga kembali ... walau kadang – kadang sikapnya “bikin emosi mati” ^____^
Mungkin aku bukanlah yang terbaik, terhebat dan terindah yang kau lihat
Pun kau temui.
Bukanlah yang kan tawarkan keramahan dan keanggunan
Layaknya seorang puteri.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menyambutmu
Bagaikan para siren menantikan purnama dan berdendang
Bukanlah perempuan yang kan siapkan kopi dan tehmu
Ataupun menemanimu makan malam.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang sigap
Bila tanganmu terluka dan berdarah
Bukanlah perempuan yang sibuk membuat hidangan
Ataupun menjamu teman – temanmu.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menghiburmu
Kala sedih dan terluka
Bukanlah perempuan yang akan mengirimimu
Masakan yang kumasak dengan tanganku sendiri.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menjawab
Keluh kesahmu dengan jawaban lembut
Bukanlah yang kan bilang padamu bahwa
‘everything is gonna be alright’
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan tertawa
Ataupun selalu tersenyum kala bertemu kau
Bukan pula yang kan selalu bilang
‘Sa sayang ko’ tiap hari.
Tapi …
Aku cuma ingin bilang ..
Aku bersyukur bertemu kau di kala hatiku mulai kuncup
Aku bersyukur bertemu kau kala aku hampir berhenti percaya
bahwa ada cinta di luar sana.
Aku bersyukur bertemu kau yang menawarkan sebuah tantangan;
Menawarkan sebuah kesempatan untuk belajar mencintai lagi
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan berusaha menjadi yang terbaik yang kubisa
Berusaha mencintai dengan cara yang kutahu, yang kupunya;
Berusaha mencintai hingga terluka.
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu dengan cara yang kutahu
Seperti kala aku belajar mencintai pepohonan yang tersenyum ditimpa hujan,
Seperti kala aku belajar menyambut fajar pagi dengan senyuman,
Seperti kala aku terpesona melihat bebungaan muncul malu – malu di sela – sela rumput.
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu seperti aku mencintai laut
Kala terpesona bermain bersama karang, pasir dan kelomang
Kala terpesona melihat tawa kanak – kanak yang berlarian di pantai
Aku cuma bilang …
Aku kan berusaha menjadi dan terus mencoba
Memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan
Mungkin tak pernah sempurna tapi akan kucoba.
Mungkin aku masih belum bisa berbicara seperti yang kau inginkan,
Bertingkah seperti yang kau mau,
Bersikap santai seperti yang sering kau katakan;
Tapi akan kucoba sebisaku walau mungkin tak maksimal.
Aku cuma bisa bilang …
Aku kan berusaha menerimamu apa adanya
Berusaha menerima setiap perbedaan yang kita punya
Berusaha menjadi manusia yang lebih baik bagimu.
Akhirnya, aku cuma bisa bilang, seperti yang pernah diucapkan Pablo Nerruda,
“Aku mencintaimu dengan sederhana. Tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintaimu seperti ini karena bagiku tak ada cara lain untuk mencintai. Di sini, di mana ‘aku’ dan ‘kau; tiada. Begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tidur, pelupuk matakulah yang tertutup”
(Ditulis di Canberra 061009; direvisi di Manokwari 211110)
Untuk lelaki yang membuat ladang hatiku berbunga kembali ... walau kadang – kadang sikapnya “bikin emosi mati” ^____^
Mungkin aku bukanlah yang terbaik, terhebat dan terindah yang kau lihat
Pun kau temui.
Bukanlah yang kan tawarkan keramahan dan keanggunan
Layaknya seorang puteri.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menyambutmu
Bagaikan para siren menantikan purnama dan berdendang
Bukanlah perempuan yang kan siapkan kopi dan tehmu
Ataupun menemanimu makan malam.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang sigap
Bila tanganmu terluka dan berdarah
Bukanlah perempuan yang sibuk membuat hidangan
Ataupun menjamu teman – temanmu.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menghiburmu
Kala sedih dan terluka
Bukanlah perempuan yang akan mengirimimu
Masakan yang kumasak dengan tanganku sendiri.
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan menjawab
Keluh kesahmu dengan jawaban lembut
Bukanlah yang kan bilang padamu bahwa
‘everything is gonna be alright’
Mungkin aku bukanlah perempuan yang kan tertawa
Ataupun selalu tersenyum kala bertemu kau
Bukan pula yang kan selalu bilang
‘Sa sayang ko’ tiap hari.
Tapi …
Aku cuma ingin bilang ..
Aku bersyukur bertemu kau di kala hatiku mulai kuncup
Aku bersyukur bertemu kau kala aku hampir berhenti percaya
bahwa ada cinta di luar sana.
Aku bersyukur bertemu kau yang menawarkan sebuah tantangan;
Menawarkan sebuah kesempatan untuk belajar mencintai lagi
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan berusaha menjadi yang terbaik yang kubisa
Berusaha mencintai dengan cara yang kutahu, yang kupunya;
Berusaha mencintai hingga terluka.
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu dengan cara yang kutahu
Seperti kala aku belajar mencintai pepohonan yang tersenyum ditimpa hujan,
Seperti kala aku belajar menyambut fajar pagi dengan senyuman,
Seperti kala aku terpesona melihat bebungaan muncul malu – malu di sela – sela rumput.
Aku cuma bisa bilang …
Aku akan mencintaimu seperti aku mencintai laut
Kala terpesona bermain bersama karang, pasir dan kelomang
Kala terpesona melihat tawa kanak – kanak yang berlarian di pantai
Aku cuma bilang …
Aku kan berusaha menjadi dan terus mencoba
Memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan
Mungkin tak pernah sempurna tapi akan kucoba.
Mungkin aku masih belum bisa berbicara seperti yang kau inginkan,
Bertingkah seperti yang kau mau,
Bersikap santai seperti yang sering kau katakan;
Tapi akan kucoba sebisaku walau mungkin tak maksimal.
Aku cuma bisa bilang …
Aku kan berusaha menerimamu apa adanya
Berusaha menerima setiap perbedaan yang kita punya
Berusaha menjadi manusia yang lebih baik bagimu.
Akhirnya, aku cuma bisa bilang, seperti yang pernah diucapkan Pablo Nerruda,
“Aku mencintaimu dengan sederhana. Tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintaimu seperti ini karena bagiku tak ada cara lain untuk mencintai. Di sini, di mana ‘aku’ dan ‘kau; tiada. Begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tidur, pelupuk matakulah yang tertutup”
(Ditulis di Canberra 061009; direvisi di Manokwari 211110)
Sh**! I'm in Love
Kau sukses membuat umbi – umbi rasa yang tertanam dalam tanah dingin hati bertunas menyeruak keluar.
Kau sukses membuat langit mendung gelap di luar kamar bertabur hujan warna – warni rasa cokelat.
Kau sukses membuatku mengecek telepon genggamku tiap beberapa menit dan merasa jadi orang terbego sedunia.
Entahlah ...
Apa memang aku sedang mengharapkan situasi seperti ini?
Entahlah ...
SH**! I’m in love ^____^
(Manokwari, 171110)
Kau sukses membuat langit mendung gelap di luar kamar bertabur hujan warna – warni rasa cokelat.
Kau sukses membuatku mengecek telepon genggamku tiap beberapa menit dan merasa jadi orang terbego sedunia.
Entahlah ...
Apa memang aku sedang mengharapkan situasi seperti ini?
Entahlah ...
SH**! I’m in love ^____^
(Manokwari, 171110)
Until Then
Until then
I was so weak and ignorant
So fool and silly
So stubborn and difficult
Until then
I was so silent and afraid
So worry and confuse
So stupid ...
(November 2010)
I was so weak and ignorant
So fool and silly
So stubborn and difficult
Until then
I was so silent and afraid
So worry and confuse
So stupid ...
(November 2010)
Diari Hujan
Malam ini aku kembali menulis sambil mendengarkan alunan musik favoritku; gabungan musik opera bercampur new age dan juga R & B ‘n Soul. Hari ini Kamis 11 November 2010 jam 9 malam di ruang kamarku yang berdinding empat musim. Hari ini aku bahagia dengan hidupku walau sepanjang hari tadi aku sempat sedih.
Hari ini sudah hampir sebulan aku tak lagi bersama lelaki hujanku. Cerita kami telah usai dan hari ini aku baru bisa menuliskan apa yang kurasakan dalam bentuk catatan kenangan, tak lagi puisi maupun cerpen. Mungkin karena tadi aku sempat berenang selama 4 jam, bercampur dengan acara snorkeling, tertawa dan menikmati waktuku sebagai pengangguran.
Selama masa putus kami yang hampir sebulan ini aku bertemu dia beberapa kali, tepatnya 2 kali secara langsung dan sisanya hanya melihatnya. Aku tak ingin membahas tentang detail pertemuan kami walau jujur kurasakan ada sakit hati yang terlanjur tergurat di hati. Bukan karena aku membencinya. Hanya aku merasa bahwa ia tak tegas untuk mengutarakan alasannya menjauhiku sejak seminggu sebelum putus; aku yang memutuskannya dan kali ini untuk selamanya. Semua unfinished business benar – benar sudah kuselesaikan. Walau tetap saja tiap kali berpapasan atau melihat dia, ada rasa sakit. Mungkin benar seperti kutipan di novel Orange yang pernah kubaca; “Bagian tersulit dalam mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain”. Walau aku tak tahu seberapa dalam ia pernah mencintaiku, entahlah semuanya hanya jadi kenangan yang memang sudah harus kukubur karena hidupku harus berlanjut ke depan. Walau minggu lalu ia seakan terhipnotis penampilan baruku usai putus dan sibuk mengirimiku banyak SMS hingga harus kutegur. Teguran itu terasa sangat sakit bagiku karena aku masih tetap berharap TAPI toh hidup harus berlanjut ke depan dan aku percaya ini keputusan terhebat yang pernah kubuat dan keputusan terbaik.
Malam – malam ini masih tetap dialokasikan untuk mengenang lelaki hujan khususnya bila malam turun dengan deras seperti malam ini. Bukan untuk berharap ia kembali padaku lagi. Aku sudah membuang harapan itu dan tak ingin menggenggamnya lagi. Aku hanya ingin memaafkannya dan melanjutkan hidupku. Aku akan tetap mencintainya tapi dengan caraku; dengan mendoakan dia dan berharap ia bahagia. Toh aku percaya bahwa aku sudah pernah berusaha menjadi yang terbaik baginya tapi memang jalan yang kami tempuh harus seperti ini.
Aku harus produktif dalam hidupku. Harus!!! Apalagi hujan seperti malam ini dan ditemani oleh lagu cinta membuatku seakan siap jatuh cinta lagi ^_^. Aku bahagia sudah menyelesaikan kisahku dengan lelaki hujanku. Mungkin sudah saatnya mencari lelaki yang lain; lelaki kopi atau lelaki pantai atau lelaki pelangiku.
Tentang lelaki pelangi, entahlah ... aku percaya aku akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Walau ada seseorang di benua lain yang pernah kutemukan kala pelangi dan sikapnya padaku memang seindah pelangi. Sayang ... persahabatan kami lebih utama daripada perasaan ini. Mungkin langit Melbourne kala sore itu yang baru habis hujan dan dihiasi pelangi memang cocok untuk pertemuan aku dan dia usai setahun lebih. Panggil dia J; blasteran Belanda – Jerman. Aku selalu mengenangnya kala melihat laut di kejauhan khususnya dari tempat tinggi karena ia pernah memberikanku Valentine’s day terindah dalam hidupku, memberiku kesempatan mengagumi laut secara mendalam dan juga bagaimana ia menghargaiku. Entahlah ... aku ingin siapapun yang menjadi pasangan hidupku kelak akan seperti J. Bukan menjadi bayangan J tapi setidaknya menghargaiku seperti J.
Aku memang pernah jatuh cinta pada J, jatuh cinta berat. Tampangnya biasa saja tapi sorot matanya yang hangat dan sikapnya yang terbuka selalu membuatku jatuh cinta. Ia menjadi sebuah jawaban bagi pertanyaan: adakah cowok di muka bumi ini yang masuk sa pu kategori yang sa banget? Dan J 100 % masuk kategori itu.
J karakter lelaki yang kuinginkan dalam hidup. Cinta lingkungan. Menghargai perempuan. Penuh tantangan. Menghargai tiap hubungan yang terbentuk. Penuh kejutan dan tantangan. Punya selera seni yang mirip denganku, selera musiknya benar – benar sesuai dengan apa yang kuinginkan dan kubayangkan, berasal dari keluarga seniman, punya pandangan kemanusiaan dan manner yang mirip denganku. Punya hubungan persahabatan yang akrab dengan para sahabatnya dan yang pasti dekat dengan keluarganya. Masih banyak lagi perhatiannya yang tak sempat kuabsen tapi yang pasti ia sangat R-O-M-A-N-T-I-S!!!!
Aku berdoa semoga aku akan bertemu seorang lelaki seperti J *crossed fingers.
Seandainya suatu hari nanti, J menanyakan kembali lagi pertanyaan yang sama yang pernah ia tanyakan padaku tentang “kapan ko akan nikah?” dan pertanyaan berkenaan dengan pernikahan, aku tak akan ragu menjawabnya hehehe.*mimpi mode: ON :D
Entahlah ... aku merindukannya saja!!!
Mungkin kedengaran naïf atau apalah ... yang pasti J’s personality is my type. Ada ka trada eee di Papua??? Biar Tuhan yang jawab suda ^__^
Sa mo berharap dan berdoa saja ^_____^
And I say “AMEN!!!”
(Manokwari, 111110)
Hari ini sudah hampir sebulan aku tak lagi bersama lelaki hujanku. Cerita kami telah usai dan hari ini aku baru bisa menuliskan apa yang kurasakan dalam bentuk catatan kenangan, tak lagi puisi maupun cerpen. Mungkin karena tadi aku sempat berenang selama 4 jam, bercampur dengan acara snorkeling, tertawa dan menikmati waktuku sebagai pengangguran.
Selama masa putus kami yang hampir sebulan ini aku bertemu dia beberapa kali, tepatnya 2 kali secara langsung dan sisanya hanya melihatnya. Aku tak ingin membahas tentang detail pertemuan kami walau jujur kurasakan ada sakit hati yang terlanjur tergurat di hati. Bukan karena aku membencinya. Hanya aku merasa bahwa ia tak tegas untuk mengutarakan alasannya menjauhiku sejak seminggu sebelum putus; aku yang memutuskannya dan kali ini untuk selamanya. Semua unfinished business benar – benar sudah kuselesaikan. Walau tetap saja tiap kali berpapasan atau melihat dia, ada rasa sakit. Mungkin benar seperti kutipan di novel Orange yang pernah kubaca; “Bagian tersulit dalam mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain”. Walau aku tak tahu seberapa dalam ia pernah mencintaiku, entahlah semuanya hanya jadi kenangan yang memang sudah harus kukubur karena hidupku harus berlanjut ke depan. Walau minggu lalu ia seakan terhipnotis penampilan baruku usai putus dan sibuk mengirimiku banyak SMS hingga harus kutegur. Teguran itu terasa sangat sakit bagiku karena aku masih tetap berharap TAPI toh hidup harus berlanjut ke depan dan aku percaya ini keputusan terhebat yang pernah kubuat dan keputusan terbaik.
Malam – malam ini masih tetap dialokasikan untuk mengenang lelaki hujan khususnya bila malam turun dengan deras seperti malam ini. Bukan untuk berharap ia kembali padaku lagi. Aku sudah membuang harapan itu dan tak ingin menggenggamnya lagi. Aku hanya ingin memaafkannya dan melanjutkan hidupku. Aku akan tetap mencintainya tapi dengan caraku; dengan mendoakan dia dan berharap ia bahagia. Toh aku percaya bahwa aku sudah pernah berusaha menjadi yang terbaik baginya tapi memang jalan yang kami tempuh harus seperti ini.
Aku harus produktif dalam hidupku. Harus!!! Apalagi hujan seperti malam ini dan ditemani oleh lagu cinta membuatku seakan siap jatuh cinta lagi ^_^. Aku bahagia sudah menyelesaikan kisahku dengan lelaki hujanku. Mungkin sudah saatnya mencari lelaki yang lain; lelaki kopi atau lelaki pantai atau lelaki pelangiku.
Tentang lelaki pelangi, entahlah ... aku percaya aku akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Walau ada seseorang di benua lain yang pernah kutemukan kala pelangi dan sikapnya padaku memang seindah pelangi. Sayang ... persahabatan kami lebih utama daripada perasaan ini. Mungkin langit Melbourne kala sore itu yang baru habis hujan dan dihiasi pelangi memang cocok untuk pertemuan aku dan dia usai setahun lebih. Panggil dia J; blasteran Belanda – Jerman. Aku selalu mengenangnya kala melihat laut di kejauhan khususnya dari tempat tinggi karena ia pernah memberikanku Valentine’s day terindah dalam hidupku, memberiku kesempatan mengagumi laut secara mendalam dan juga bagaimana ia menghargaiku. Entahlah ... aku ingin siapapun yang menjadi pasangan hidupku kelak akan seperti J. Bukan menjadi bayangan J tapi setidaknya menghargaiku seperti J.
Aku memang pernah jatuh cinta pada J, jatuh cinta berat. Tampangnya biasa saja tapi sorot matanya yang hangat dan sikapnya yang terbuka selalu membuatku jatuh cinta. Ia menjadi sebuah jawaban bagi pertanyaan: adakah cowok di muka bumi ini yang masuk sa pu kategori yang sa banget? Dan J 100 % masuk kategori itu.
J karakter lelaki yang kuinginkan dalam hidup. Cinta lingkungan. Menghargai perempuan. Penuh tantangan. Menghargai tiap hubungan yang terbentuk. Penuh kejutan dan tantangan. Punya selera seni yang mirip denganku, selera musiknya benar – benar sesuai dengan apa yang kuinginkan dan kubayangkan, berasal dari keluarga seniman, punya pandangan kemanusiaan dan manner yang mirip denganku. Punya hubungan persahabatan yang akrab dengan para sahabatnya dan yang pasti dekat dengan keluarganya. Masih banyak lagi perhatiannya yang tak sempat kuabsen tapi yang pasti ia sangat R-O-M-A-N-T-I-S!!!!
Aku berdoa semoga aku akan bertemu seorang lelaki seperti J *crossed fingers.
Seandainya suatu hari nanti, J menanyakan kembali lagi pertanyaan yang sama yang pernah ia tanyakan padaku tentang “kapan ko akan nikah?” dan pertanyaan berkenaan dengan pernikahan, aku tak akan ragu menjawabnya hehehe.*mimpi mode: ON :D
Entahlah ... aku merindukannya saja!!!
Mungkin kedengaran naïf atau apalah ... yang pasti J’s personality is my type. Ada ka trada eee di Papua??? Biar Tuhan yang jawab suda ^__^
Sa mo berharap dan berdoa saja ^_____^
And I say “AMEN!!!”
(Manokwari, 111110)
Subscribe to:
Posts (Atom)