Malam ini aku kembali menulis sambil mendengarkan alunan musik favoritku; gabungan musik opera bercampur new age dan juga R & B ‘n Soul. Hari ini Kamis 11 November 2010 jam 9 malam di ruang kamarku yang berdinding empat musim. Hari ini aku bahagia dengan hidupku walau sepanjang hari tadi aku sempat sedih.
Hari ini sudah hampir sebulan aku tak lagi bersama lelaki hujanku. Cerita kami telah usai dan hari ini aku baru bisa menuliskan apa yang kurasakan dalam bentuk catatan kenangan, tak lagi puisi maupun cerpen. Mungkin karena tadi aku sempat berenang selama 4 jam, bercampur dengan acara snorkeling, tertawa dan menikmati waktuku sebagai pengangguran.
Selama masa putus kami yang hampir sebulan ini aku bertemu dia beberapa kali, tepatnya 2 kali secara langsung dan sisanya hanya melihatnya. Aku tak ingin membahas tentang detail pertemuan kami walau jujur kurasakan ada sakit hati yang terlanjur tergurat di hati. Bukan karena aku membencinya. Hanya aku merasa bahwa ia tak tegas untuk mengutarakan alasannya menjauhiku sejak seminggu sebelum putus; aku yang memutuskannya dan kali ini untuk selamanya. Semua unfinished business benar – benar sudah kuselesaikan. Walau tetap saja tiap kali berpapasan atau melihat dia, ada rasa sakit. Mungkin benar seperti kutipan di novel Orange yang pernah kubaca; “Bagian tersulit dalam mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain”. Walau aku tak tahu seberapa dalam ia pernah mencintaiku, entahlah semuanya hanya jadi kenangan yang memang sudah harus kukubur karena hidupku harus berlanjut ke depan. Walau minggu lalu ia seakan terhipnotis penampilan baruku usai putus dan sibuk mengirimiku banyak SMS hingga harus kutegur. Teguran itu terasa sangat sakit bagiku karena aku masih tetap berharap TAPI toh hidup harus berlanjut ke depan dan aku percaya ini keputusan terhebat yang pernah kubuat dan keputusan terbaik.
Malam – malam ini masih tetap dialokasikan untuk mengenang lelaki hujan khususnya bila malam turun dengan deras seperti malam ini. Bukan untuk berharap ia kembali padaku lagi. Aku sudah membuang harapan itu dan tak ingin menggenggamnya lagi. Aku hanya ingin memaafkannya dan melanjutkan hidupku. Aku akan tetap mencintainya tapi dengan caraku; dengan mendoakan dia dan berharap ia bahagia. Toh aku percaya bahwa aku sudah pernah berusaha menjadi yang terbaik baginya tapi memang jalan yang kami tempuh harus seperti ini.
Aku harus produktif dalam hidupku. Harus!!! Apalagi hujan seperti malam ini dan ditemani oleh lagu cinta membuatku seakan siap jatuh cinta lagi ^_^. Aku bahagia sudah menyelesaikan kisahku dengan lelaki hujanku. Mungkin sudah saatnya mencari lelaki yang lain; lelaki kopi atau lelaki pantai atau lelaki pelangiku.
Tentang lelaki pelangi, entahlah ... aku percaya aku akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Walau ada seseorang di benua lain yang pernah kutemukan kala pelangi dan sikapnya padaku memang seindah pelangi. Sayang ... persahabatan kami lebih utama daripada perasaan ini. Mungkin langit Melbourne kala sore itu yang baru habis hujan dan dihiasi pelangi memang cocok untuk pertemuan aku dan dia usai setahun lebih. Panggil dia J; blasteran Belanda – Jerman. Aku selalu mengenangnya kala melihat laut di kejauhan khususnya dari tempat tinggi karena ia pernah memberikanku Valentine’s day terindah dalam hidupku, memberiku kesempatan mengagumi laut secara mendalam dan juga bagaimana ia menghargaiku. Entahlah ... aku ingin siapapun yang menjadi pasangan hidupku kelak akan seperti J. Bukan menjadi bayangan J tapi setidaknya menghargaiku seperti J.
Aku memang pernah jatuh cinta pada J, jatuh cinta berat. Tampangnya biasa saja tapi sorot matanya yang hangat dan sikapnya yang terbuka selalu membuatku jatuh cinta. Ia menjadi sebuah jawaban bagi pertanyaan: adakah cowok di muka bumi ini yang masuk sa pu kategori yang sa banget? Dan J 100 % masuk kategori itu.
J karakter lelaki yang kuinginkan dalam hidup. Cinta lingkungan. Menghargai perempuan. Penuh tantangan. Menghargai tiap hubungan yang terbentuk. Penuh kejutan dan tantangan. Punya selera seni yang mirip denganku, selera musiknya benar – benar sesuai dengan apa yang kuinginkan dan kubayangkan, berasal dari keluarga seniman, punya pandangan kemanusiaan dan manner yang mirip denganku. Punya hubungan persahabatan yang akrab dengan para sahabatnya dan yang pasti dekat dengan keluarganya. Masih banyak lagi perhatiannya yang tak sempat kuabsen tapi yang pasti ia sangat R-O-M-A-N-T-I-S!!!!
Aku berdoa semoga aku akan bertemu seorang lelaki seperti J *crossed fingers.
Seandainya suatu hari nanti, J menanyakan kembali lagi pertanyaan yang sama yang pernah ia tanyakan padaku tentang “kapan ko akan nikah?” dan pertanyaan berkenaan dengan pernikahan, aku tak akan ragu menjawabnya hehehe.
Entahlah ... aku merindukannya saja!!!
Mungkin kedengaran naïf atau apalah ... yang pasti J’s personality is my type. Ada ka trada eee di Papua??? Biar Tuhan yang jawab suda ^__^
Sa mo berharap dan berdoa saja ^_____^
And I say “AMEN!!!”
(Manokwari, 111110)
Friday, 12 November 2010
Monday, 8 November 2010
Melepaskan Kenangan
Melepaskan sebuah kenangan mungkin sebuah jalan panjang menuju kepuasan batin dari penjara mental yang terbentuk lama dan mengendap dalam labirin ketidakpuasan dan ketidaktahuan yang tercampur keringat bumi dan menguap dalam hujan.
Melepaskan sebuah kenangan mungkin pekerjaan berat yang harus kulakukan dalam waktu lama dan akan terus kulakukan ibarat sedang merevisi tulisan akademik beribu – ribu kata yang telah lama kuselesaikan tetapi belum juga selesai dan layak dibaca umum guna dipertanggungjawakan dalam sebuah panel ataupun forum.
Melepaskan sebuah kenangan yang mungkin masih terasa manis walau berbalut tepung kepalsuan dan topeng kemunafikan mungkin terasa berat apabila alam bawah sadar masih tetap mengharapkan dia kembali dalam hidup sebagai seorang kekasih.
Mungkin berat,
Mungkin keras
Mungkin sulit
Mungkin susah
Mungkin tak masuk akal ...
Tapi ....
Harus kulakukan!!!
Masa lalu adalah masa lalu
Tak ada waktu bermanis muka
Berbaik hati
Dan memberi kesempatan pada ketidakpastian
Tiga tahun waktu yang cukup panjang untuk membiarkan kenangan dan putus – sambung tanpa status terjadi
Ketika pengkhianatan menjadi bumbu penyedap
Air mata menjadi sebuah keharusan
Ketidakjelasan dan ketidakpastian status menjadi pewarna
Maka perpisahan dan penghapusan kenangan pun wajib terjadi!!!
Aku masih manusia
Kau pun masih manusia
Semoga kau bisa membaca tulisan ini kelak ....
Mungkin .....
Kuingin kau tahu,
Aku masih dan akan tetap mencintaimu.
Maafkan aku ....!!!
(Manokwari, 091110)
Melepaskan sebuah kenangan mungkin pekerjaan berat yang harus kulakukan dalam waktu lama dan akan terus kulakukan ibarat sedang merevisi tulisan akademik beribu – ribu kata yang telah lama kuselesaikan tetapi belum juga selesai dan layak dibaca umum guna dipertanggungjawakan dalam sebuah panel ataupun forum.
Melepaskan sebuah kenangan yang mungkin masih terasa manis walau berbalut tepung kepalsuan dan topeng kemunafikan mungkin terasa berat apabila alam bawah sadar masih tetap mengharapkan dia kembali dalam hidup sebagai seorang kekasih.
Mungkin berat,
Mungkin keras
Mungkin sulit
Mungkin susah
Mungkin tak masuk akal ...
Tapi ....
Harus kulakukan!!!
Masa lalu adalah masa lalu
Tak ada waktu bermanis muka
Berbaik hati
Dan memberi kesempatan pada ketidakpastian
Tiga tahun waktu yang cukup panjang untuk membiarkan kenangan dan putus – sambung tanpa status terjadi
Ketika pengkhianatan menjadi bumbu penyedap
Air mata menjadi sebuah keharusan
Ketidakjelasan dan ketidakpastian status menjadi pewarna
Maka perpisahan dan penghapusan kenangan pun wajib terjadi!!!
Aku masih manusia
Kau pun masih manusia
Semoga kau bisa membaca tulisan ini kelak ....
Mungkin .....
Kuingin kau tahu,
Aku masih dan akan tetap mencintaimu.
Maafkan aku ....!!!
(Manokwari, 091110)
Subscribe to:
Posts (Atom)