Search This Blog

Loading...

Friday, 29 October 2010

Takut

Takut! Semua orang pernah merasakan sensasi dan perasaan ini. Bagaimana manusia merasa tak kuasa akan sesuatu benda mati, benda hidup pun sesuatu yang berada dan diyakini berada di antara hidup dan mati. Aku bukan orang psikologi dan kesehatan yang bisa mendefinisikan bagaimana hal ini dapat terjadi. Yang aku tahu, takut bisa menjadi sebuah sumber uang yang tak akan habisnya dari makhluk bernama manusia. Sebut saja dari bisnis takut yang berubah menjadi bisnis teror. Fulus yang keluar pun bukan dari beberapa ratus rupiah tapi bisa berubah menjadi milyaran rupiah pun dollar, tergantung dikonversikan dalam mata uang apa dan konteksnya di mana. Toh karena aku hidup di tempat dimana takut dan teror menjadi bersaudara, aku mau menempatkannya dalam konteks di mana aku tinggal; tanah Papua dan juga di negara yang bernama Indonesia.

Karena takut akan hilangnya kecantikan sebagai pelaris manis mendapatkan fulus, ketenaran dan kejayaan serta mungkin yang penting sebagai esensi manusia; agar dapat diterima dan merasa menjadi ‘manusia’, beribu cara ditempuh. Dari sejumlah krim malam dan kosmetik mahal walau berbahan dasar janin manusia pun ditempuh. Tak lupa berbagai kunjungan resmi tak resmi ke para peruwat kecantikan pemasang susuk pemaling kesadaran dan pandangan. Tak peduli berbagai ritual yang dijalani dan juga kucuran rupiah yang berpindah tangan, semua akan dijalankan asalkan kecantikan dan kemudaan diperoleh. Mungkin bila harus membunuh pun akan dilakoni oleh para pemuja kemudaan ini. Toh mereka lupa bahwa organ dalam mereka tetap akan menua dan pada akhirnya kan berakhir di kubangan tanah dan digerogoti cacing dan bakteri pengurai. Bukan hanya para kalangan pesohor yang didesuskan takut akan hilangnya kecantikan, toh manusia khususnya perempuan dari berbagai kalangan pun terjangkit virus ini.

Karena takut akan sesuatu yang diyakini jahat dan bukan benda hidup pun mati. Para petinggi baik dari kalangan militer maupun sipil berlomba mengatasi rasa takut dan teror psikologis mereka. Mulai dari menyewa jasa pengawalan berupa para lelaki berbadan kekar dan berotor hingga tak lupa para dukun dikerahkan. Mulai dari ruwatan memakai tumbal hingga bergepok rupiah dan dollar dikeluarkan. Tak tanggung – tanggung ‘staf ahli spiritual’ ini bukan hanya mereka yang berlabel ‘dukun-ilmu-hitam’, toh ada juga yang mengerahkan jubah - jubah agama tertentu lengkap dengan pasukan spiritualnya. Mulai dari mengerahkan teror buatan sendiri yang sayangnya pernah beberapa kali tertangkap calon korban hingga yang berusaha tampil canggih dengan acara ‘penglihatan’ dan terawang yang mumpuni. Banyak orang terjebak dan membiarkan diri dimanipulasi oleh rasa takut mereka akan kekuatan yang tak kelihatan hingga lupa bahwa mereka sendiri mempunyai kekuatan yang ada di dalam diri mereka untuk melawam rasa takut itu.

Karena takut kehilangan pendapatan besar dari bisnisnya, ada yang nekat membayar ratusan bahkan ribuan penjaga yang menjaga aset bisnisnya. Sayangnya kala terjadi perubahan dalam sistem penjagaan, pihak pemberi jasa pun kehilangan mata pencarian. Yang ada malah penyerangan kembali pada aset yang pernah dijaga. Toh gampang sekali mencuci tangan dengan memanfatkan para orang kecil yang didaulat bersalah. Toh sistem hukum yang ada bagai jaring laba – laba yang hanya sanggup menangkap serangga kecil sedang burung besar yang terbang dapat terbang bebas di angkasa. Alih – alih berharap kebenaran akan ketakutan akan diselesaikan, yang ada simpul tak bernama bernama teror terlanjur mengikat setiap orang yang terhubung dengan aset bisnis tersebut. Manusia oh manusia, teror oh teror!!
Karena takut ditinggalkan dalam sebuah hubungan, ada yang rela membiarkan diri hamil agar dapat dinikahi atau setidaknya ‘memiliki’ seorang individu. Terlepas ada cinta ataupun tidak. Yang ada hanyalah kehampaan rasa dan menafikan hidup. Takut akan rasa sepi membuat orang tak berpikir sehat lagi dan kebingungan hilang arah.

Karena takut ketahuan dan tidak percaya diri akan diri sendiri, ada orang yang rela menjadi orang lain memakai identitas palsu, bersembunyi dalam kekerdilan jiwa yang merasa alam dalam bayangan. Mencoba menjadi sisi lain dirinya yang liar dan jantan. Toh sepandai – pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Segalak – galaknya anjing menggonggong, toh mati kena potaz juga. Bayangan terobek cahaya kebenaran dan nama baik hancur berkeping. Toh wajah buruk cermin dibelah coba ditambal dengan penggalan kata – kata suci para nabi tiap hari. Mencoba menguburkan bau telur busuk yang terlajur merebak dan dicium warga satu RW. Manusia oh manusia, mengapa harus takut mengakui perasaan dari awal, toh tak akan sesakit kala wajah palsu dikuak ke umum dan menyakiti hati banyak orang. Yang ada tak ada lagi hormon oksitosin yang dihasilkan untuk membuat beberapa orang percaya.

Rasa takut tidak untuk dihindari pun dibenci.
Rasa takut tidak untuk dijadikan penentu hidup manusia.

Rasa takut membuat kita menjadi lebih manusiawi dan sadar bahwa ada yang ‘lebih’ dari kita. Tapi bukan untuk ditakuti. Bukan untuk dipuja berlebihan. Tapi untuk dihargai dalam level yang membuat kita tetap sebagai manusia.

Rasa takut bila dikelola dengan baik dan sadar akan kehadirannya malah akan menjadi kekuatan terbesar kita untuk membuat perubahan dan menghasilkan hasil yang lebih baik bagi masa depan. Rasa takut bila dikelola dengan baik akan membuat kita lebih waspada dan bukannya menjadi penakut.

Waspada bukan takut berlebihan tetapi rasa takut yang terkontrol dengan logika dan emosi dan tidak membiarkannya terhambur berantakan.

Satu yang pasti, jangan takut merasa ‘takut’ karena takut membuat kita lebih manusiawi ASALKAN jangan berlebihan dan terobsesi pada rasa takut.

(Manokwari, 28 Oktober 2010)

I am happy of being me

Mungkin jalan terbaik yang pernah kau dan aku tempuh
Adalah jalan terburuk yang pernah kau dan aku lalui
Pun lorong buntu yang berkabut gula – gula merah muda kenangan
Hingga membuat tenggorokanku tersedak.

Mungkin egomu dan egoku bagaikan air dan minyak tanah.
“Bukan minyak goreng, honey!!!”
Hingga kala direbus salah satu kan hilang ataupun menguap.

Aku mengubur semua kenangan tentangmu sekarang
Dalam loker besar kayu besi yang kutenggelamkan
Dalam laut besar di dekat rumahmu dan berharap terkena tsunami
Biar isinya porak – poranda dimakan bakteri pengurai.

Aku memaafkanmu bukan karena aku ingin memaafkanmu
Tapi agar aku bisa berdamai dengan diriku
Dan kenangan tentang kita.
Terlalu sakit, kau tahu!!!

Aku berharap kau bahagia.
Aku tak membencimu sebagai pribadi toh kau pernah mencintaiku.
Aku membenci sikapmu yang tak terbuka, tak jujur dan tak pasti.
Itu saja!!!

Aku berharap kau baik – baik saja.
Walau aku pernah mimpi dan berharap dalam logika tergilaku
berharap kau dikerubuti semut merah satu hutan
atau diserang lebah madu satu peleton.

Toh pada akhirnya
Aku yang memilih meninggalkanmu yang tak pasti!

Jadi aku hanya ingin bilang:

Aku merasa terbebas dari kuliah – kuliahmu tentang sikapku yang keras kepala dan harus berubah dan menjadi “seperti yang kau inginkan”!!!

Aku merasa hidupku lebih produktif dan punya visi kala patah hati daripada bersamamu!

Kau tahu,
Engkau bukan segalaku!

I am happy of being me!!!

(Manokwari, 28 October 2010)

To release

To release
Is what you do
When you know
That it is the time to leave

To forgive
Is what you do
When you know
That you understand something better (of being a human)

To leave (something/someone)
Is what you do
When you know
That you cannot cope something/someone too long

To forget
Is what you do
When you either cannot remember
Or cannot live with your memory

All I know
Is I try to release my forgiveness when I leave you and forget what you did.

As India. Arie says to me:
“Let's keep it moving
Let's shake free this gravity of resentment”

All I know is
I am free as a new born baby!!!

(Manokwari, 28 October 2010)

Wings of forgiveness

"Wings Of Forgiveness"
by India.Arie

I just want you to know
After everything that we've been through
I just want you to know
That I still love you
That I still love you:

Had to go
Across the water
Just to find
What was here in my heart all along
Spend so much time
Trying to be right
That I was dead wrong

If Nelson Mandela can forgive his oppressors
Surely I can forgive you for your passion

You're only human
Let's shake free this gravity of resentment
And fly high, and fly high
You're only human
Let's shake free this gravity of judgment
And fly high on the wings of forgiveness

Had to run
To the arms of curiosity
Just to find
What was here in my life all along
I had found that the art of simplicity
Simply means making peace of your complexity

If Gandhi can forgive persecution
Surely you can forgive me for being so petty

I'm only human
Let's shake free this gravity of resentment
And fly high, and fly high
You're only human
Let's shake free this gravity of judgment
And fly high on the wings of forgiveness

I've searched for romance
Flowers and affection
What I found is a lesson
Of what love really is
Found the game of love is
Not about how much you can take
In fact authentic love is about
How much you can give

After everything that we've been through
I just want you to know
That I still love you
I want you to know
That I forgive you
(thank you for teaching how to give)
And I wanna let you know how much you changed my life
I wanna let you know you taught me how to fly
And I wrote this song to tell you this
I'm better cuz you taught me how to give

I took a swim
In the sea of guilt and misery
To find myself in an island
In the middle of nowhere
In my solitude
I asked to know the highest truth
And what I was told
Is to let own self be true

If Jesus can forgive crucifixion
Surely we can survive and find resolution

Let's keep it moving
Let's shake free this gravity of resentment
And fly high, and fly high
You're only human
Let's shake free this gravity of judgment
And fly high, and fly high
Let's keep it moving
Let's shake free this gravity of commitment
And fly high on the wings of forgiveness

After everything that we've been through
I just want you to know
That I still love you
I want you to know
That I still love you
And I wanna let you know how much you changed my life
I wanna let you know you taught me how to fly
And I wrote this song to tell you this
I'm better cuz you taught me how to give

I still love you
I want you to know
I still love you
Want you to know
I still love you
(And I always will love you)
And I wanna let you know
I forgive you
I wanna let you know
That I still love you
Want you to know
I still love you
I just want you to know
I still love you
Want you to know
I still love you
Want you to know
I still love you
And I wanna let you know
I forgive you
I wanna let you know
I still love you

Jika Aku Mati

Jika aku mati,
Maukah kau menangis untukku?

Jika aku mati,
Maukah kau bersedih untukku?

Jika aku mati,
Maukah kau meratap untukku?

Jika aku mati,
Maukah kau mengenangku?

Jika aku mati,
Maukah kau bernyanyi untukku?

Entahlah ...
Aku tak tahu
Karena dadaku terasa sesak memikirkannya!

Adakah ruang bagiku di hatimu?
Entahlah ...
Aku tak tahu!!!

Kutunggu matiku!!!

(Manokwari,, 14 September 2010)

Macet Pasir Putih

Hari minggu lalu mungkin hari yang tak terlalu menyenangkan bagiku. Bukan karena cuacanya yang cerah dan panas ataupun karena tak ada kegiatan yang dapat dilakukan tapi karena terjebak dalam kemacetan parah di kotaku, khususnya di areal pantai wisata Yenbebai atau yang lebih dikenal dengan nama pantai Pasir Putih. Hari itu hari minggu tanggal 12 September 2010, hari ketiga perayaan Idul Fitri di kotaku Manokwari. Hari itu banyak warga Manokwari khususnya dari daerah transmigrasi di luar kota (Prafi) memilihnya dengan bepergian ke pantai ini. Suasana pantai dipenuhi dengan lautan manusia dengan pakaian warna – warni ditemani aroma daging dan ikan bakar dan disaput asap beraroma makanan. anak kecil, tua muda, lelaki dan perempuan tumpah ruah memenuhi pantai dengan garis pantai sekian puluh meter. Tak ada ruang kosong untuk sekedar berjemur dan mendapatkan celah kosong. Kanak – kanak berlari riang di pantai berkejaran sebagaimana dapat dilihat dari jalan raya yang hanya dibatasi pagar kawat duri bertiang balok biru. Terlepas dari keriaan pantai, aku mendapati diriku berada pada kemacetan yang melelahkan dan menguras emosi dan menantang adrenalin berpacu kencang dengan akal sehat.

Sekitar pukul 1 siang lebih, aku dan adikku mengendarai motor kami ke pantai guna mencari spot untuk mendokumentasikan gaya kami hari ini. Tentu saja sekalian mengambil foto beberapa spesimen tumbuhan dan vegetasi yang hendak kukoleksi. Tujuan kami mulai dari Pasir Putih dan berakhir hingga Amban Pantai. Perjalanan menuju Pasir Putih disambut adikku dengan bahagia karena tampaknya ia butuh acara jalan – jalan usai kepindahan pacarnya ke kota lain. Saat masuk ke lokasi pantai wisata ini, tak terbersit tantangan yang hendak menghadang kami. Dengan membayar tagihan masuk Rp. 3000,-, aku dan adikku pun masuk ke lokasi pantai. Sistem pembayarannya tentu saja bukan a la mesin tol dan petugas resmi. Tapi sekedar beberapa pemuda dengan kaos yang tak seragam menghentikan setiap kendaraan dan menagih uang. Setidaknya mereka memberikan kami karcis. Entah alokasi uang itu dipakai untuk apa, apakah untuk membersihkan pantai walau bukan berarti pantai otomatis bersih karena tetap saja di daratan masih banyak sampah yang betebaran apalagi di air lautnya yang setiap habis hujan ibarat loyang cucian raksasa besar berisikan sampah plastik dan berbagai jenis sampah lainnya ataukah kepentingan yang lain. Aku tak tahu.

Satu hal yang aku tahu, pantai wisata Yenbebai alias Pasir Putih perlu penataan demi peningkatan kualitas layanan masyarakat di masa mendatang. Ada beberapa hal yang kulihat perlu dibenahi dan tentu saja uneg – uneg ini murni karena didorong oleh pengalaman terjebak kemacetan di pantai yang cukup membuatku gerah. Beberapa hal yang ingin kugaris bawahi dalam catatan ini tentang masalah tempat parkir dan manajemen macet, kebersihan pantai dan juga perawatan pantai.

Macet; satu kondisi yang kualami minggu kemarin. Dengan mengendarai motor dan terjebak macet di badan jalan yang sempit yang hanya cukup menampung 2 mobil ukuran standar yang bersisian yang badan jalan telah terpotong dengan parkiran kendaraan bermotor tentu bukan pengalaman menyenangkan. Kemacetan mungkin hal biasa di pantai ini tapi pengalaman minggu kemarin menunjukan bahwa kapasitas tempat parkir dan manajemen macet sudah perlu dipikirkan pengelola pantai ini;Dinas Pariwisata. Manajemen parkir yang tepat tentu saja memberikan kepuasan bagi para pengunjung. Hal – hal yang dapat ditemukan lewat beberapa kali kunjungan ke pantai ini di hari minggu adalah kurang adanya koordinasi antara pihak – pihak yang bekerjasama dengan pengelola. Misalnya saja setiap motor yang melewati ruas jalan di depan pantai wisata akan ditagih uang karcis masuk padahal jalan depan pantai ini merupakan jalan penghubung dengan beberapa kawasan pemukiman a.l. Pasirido, Arowi, Abasi dan Bakaro. Sehingga beberapa kali para pemakai jalan kecuali angkot dikenakan biaya ’lintas’ jalan yang sama. Hal ini tentu saja kurang efektif dan memberatkan penumpang. Selintas bayangan negatif a la ”polisi cepe’ ” di Jakarta mengental dalam benak.

Selain kurang efektifnya sistem penarikan retribusi, ketersediaan lahan parkir menjadi masalah. Pantai Yenbebai memang strategis di pinggir jalan tetapi karena terlalu dekat dengan jalan penghubung maka luasan parkiran pun berkurang sehingga badan jalan yang sedianya menjadi tempat pejalan kaki pun diperkosa menjadi lahan parkir. Kendaraan roda dua mungkin tidak terlalu menimbulkan kemacetan karena parkir di badan jalan sempit ini walau memenuhi kedua belah pinggir jalan yang disediakan untuk berjalan. Yang menjadi masalah adalah kendaraan roda empat pun ikut – ikutan parkir di tempat yang sama, mulai dari mobil pribadi hingga truk dan minibus hingga mempersempit badan jalan. Kejadian minggu ini juga cukup membuatku menahan napas dan marah. Terjebak hingga lebih dari 45 menit dan terpapar panas dan dengan klakson yang berbunyi di antara arus kendaraan dua arah dan diapit deretan kendaraan yang parkir pada dua sisi hingga memakan badan jalan bukan hal yang menyenangkan saat matahari bersinar terik dan diterpa asap beraroma daging bakar. Saling umpat dan caci serta banyaknya orang – orang yang tak terkoordinir dan sok mengatur tapi malah makin kacau membuat senewen di tengah hari seperti minggu kemarin. Lebih menyenangkan bila pengelola mengambil kebijakan untuk memberdayakan petugas penarik karcis yang hingga 5 – 6 orang itu untuk mengawasi arus penumpang dari arah sebaliknya dan meminta serta mengatur para pengunjung yang hendak pulang terlebih yang memakai kendaraan roda empat untuk memutar dan melewati jalan pintas lewat arah lain. Hal ini bisa dilakukan dengan memutar lewat jalan menuju Pasirido melanjutkan perjalanan keluar lewat jalur Ayambori ataupun lanjut melalui Susweni hingga tembus ke Amban dibandingkan memaksakan diri dengan jalur reguler dan membuat lalu lintas merayap selama lebih dari 1 jam (aku dan adikku ikut antrian saat kendaraan sudah macet dan tak bisa lagi meninggalkan badan jalan karena terjebak di dalamnya saat sedang mengantri pembayaran). Para pengunjung juga bisa membuat pilihan bila ingin menggunakan jalur reguler dengan menunggu hingga sedikit sore saat arus lalu lintas berkurang.

Pelajaran terjebak macet di pantai ini membuatku sadar akan satu pengalaman yang berbeda sewaktu tinggal di luar negeri; memberi kesempatan pada orang lain. Saat terjebak di jalur kemacetan ini, aku tak bisa mengontrol diriku untuk tidak mengumpat para pengendara motor yang menerobos seenaknya dengan harapan melarikan diri dari jalur kemacetan. Alih – alih menciptakan ruang kosong berkendara, mereka malah semakin membuat macet karena menggunakan jalur orang lain dan terjebak di tengah dua jalur kendaraan. Selain itu, kendaraan pribadi khususnya roda empat yang datang ke pantai tidak berpikir untuk parkir di tempat yang lebih lowong dan luas untuk kendaraan mereka walau letaknya sedikit ke arah ujung pantai tetapi memaksakan menggunakan sepertiga badan jalan untuk memarkirkan kendaraan mereka di areal rawan macet. Saat pulang pun tidak bersedia ataupun berpikir untuk mengambil jalur alternatif tetapi memaksakan diri mengikuti jalur reguler padahal di pinggir jalan telah banyak kendaraan yang parkir.

Kebersihan pantai ini pun masih jauh dari yang diinginkan pengunjung. Sesaat aku rindu akan pantai bersih yang beberapa kali kukunjungi sewaktu tinggal di luar negeri ataupun di daerah pesisir luar kota di tanah ini.

(....... unfinished .... saking kesal ^______^)

(Manokwari, September 2010)

Wednesday, 27 October 2010

Cerpen: The day I left my boyfriend

THE DAY I LEFT MY BOYFRIEND


Jayapura
Awal Mei 2010

Tingkahnya mulai aneh beberapa hari ini. Tak ada SMS. Tak ada telpon. Tak ada kabar. Kuperiksa jejaring sosialnya, yang ada hanya status yang absurd. Status yang lagi – lagi membuatku merasa jarak antara aku dan dia semakin jauh, semakin tak bisa direngkuh.

Mungkin hubungan ini memang seharusnya tak berjalan atau terjadi. Mungkin memang aku yang harus pergi atau ia yang harus pergi. Tak jelas.

Hujan turun dengan deras bagai aliran air pancuran di kebun belakang. Bukan lagi percikan. Bukan lagi bagai lelehan ingus bocah – bocah berkulit keling di dekat rumah. Bukan pula bagai aliran air panci bocor di rumah nene sewaktu aku kecil. BUKAN!!!

Keedarkan pandangan ke halaman belakang dari jendela dapur. Bau lembab dan basah.

Kupegang erat – erat dan kubuka lembaran cetakan e-tiket di tanganku. Jayapura – Jakarta. Besok pagi. URGENT!!!

Kulihat juga lembaran resmi surat kontrak beasiswaku. Mulus dengan nominal yang yang sanggup untuk diuangkan dengan sebuah apartemen kelas menengah atas di Jakarta.

Kuperiksa lagi telepon genggamku. Tak ada pesan. Kubuka komputer dan mengecek surat elektronik. Nihil. Kutanyakan pembantu rumah. Tak ada pesan.

***

Canberra
Juli 2010

Ia sempat menghubungiku sekali bulan lalu via skype. Suaranya datar, tanpa emosi. Tapi dengan kata – kata yang masih ingin kudengar, “sa sayang ko, Rhe. Tolong jangan ragukan sa.”. KLIK! Telpon terputus dan ia pun menghilang.

Hari – hari kulalui dalam diam dan tak pasti dalam musim dingin yang menggigit. Angin musim dingin dan pohon – pohon oak dan maple botak seakan mencemoohku yang terbalut baju hangat tebal.

Kucek lagi pesan di telepon genggamku. Tak ada. Pesan di kotak masuk e-mail. . Nihil. Pesan – pesan ke telepon genggamnya. Tak diterima. Kutanya para sahabatnya. Tak jelas. Tak ada berita!!!


***
Jayapura
September 2010

Liburan tengah semester selama 2 minggu. Aku terseret ke Jayapura. Bukan untuk bersenang – senang. Pesan singkat kakakku membuatku goyang. Goncang!!!

“Rhe, mama sakit. Kanker payudara stadium IV. Tak ada harapan, kata dokter. Tinggal tunggu waktu. Mama ingin semua keluarga berkumpul. Kalau bisa bulan ini. Mama ingin ko ada.”.

Pesan itu membuatku kalut. Kuhubungi liaison officer di universitasku. Kupesan tiket Jetstar tujuan Denpasar. Temanku Day yang akan mengurus tiket Denpasar – Jayapura. Kuhabiskan malam – malam panjang musim semi dan melewatkan kunjungan Floriade demi bermalam di perpustakaaan dan kampus. Semua harus beres sebelum aku berangkat. Mata kuliah kebijakan ekonomi Asia telah selesai.

Perjalanan lancar. Aku tiba di kota kelahiranku. Lelah campur rindu rumah bergabung dengan rasa sedih memikirkan mama.

1 minggu pertama kuisi dengan menghabiskan waktu dengan mama. Berbincang, mencoba menjadi anak yang baik, menyenangkan hatinya.

Selama seminggu pula, aku dirundung ketidakpastian tentang hubunganku dengan Er. Mama mendesakku meresmikan hubungan kami dalam jenjang yang lebih kuat, lebih solid; pernikahan. Dan aku tergugu!!!

Minggu ke dua aku di Jayapura, aku mencari kepastian. Demi mama, harga diriku kubuang jauh – jauh. Demi mama, kususuri jalan setapak menuju rumah kontrakan Er di Sentani. Demi mama, aku menolak tawaran Ron untuk mengantarku mencarinya. Kuhubungi teman dan kerabat yang mengenal Er. Menanyakan keberadaannya. Er seorang aktivis sebuah LSM yang kerap bepergian ke luar kota dan keberadaannya harus pasti saat ini. “Dimana kau, Er?”, tanyaku dalam hati.

Kutemukan rumahnya di ujung jalan setapak itu. Kontrakan baru. Baru lima bulan aku pergi dan ia telah berganti kontrakan. Kontrakan kali ini lebih besar dan luas lengkap dengan perosotan dan mainan anak yang tampaknya masih baru terhampar di teras rumah. “Mungkin kontrak bareng teman”, batinku.

“Cari siapa ya, bu?”, sebuah suara mengagetkanku. Kubalikan badan. Kutatap pemilik suara itu dalam – dalam. “Ini benar rumahnya pak Er, yang kerja di LSM?”, tanyaku sambil menanti jawaban.

“Ia, benar bu. Tapi pak Er skarang ada mo brangkat. Tadi baru 30 menit ke pelabuhan. Ada bawa barang banyak. Katanya mo lihat dan siapkan rumah baru di sana. Kalo penting, ibu ke sana langsung suda”, kata lelaki yang mengaku sebagai tetangga dekatnya Er.

Tak buang banyak waktu. Kuhubungi Ron. Ron punya banyak teman di pelabuhan yang bisa melacak Er. Aku pun tak punya banyak juga. Tiket ke Denpasar sudah kupesan untuk penerbangan lusa.

Perjalanan Sentani – Jayapura berlangsung cepat. Aku butuh kepastian. ‘Mau kemana Er?’, batinku. Seharusnya aku dilibatkan kalau memang ia hendak pindah kerja atau pindah kota. Aneh!!!

Ron menungguku di gerbang. Kami segera menuju terminal penumpang. Sial, pintunya sudah terbuka. Terik matahari siang membakar kulit sigap memanggang manusia yang berjubel tanpa aturan. Saling dorong, saling sikut, saling memaki pun terjadi.

Mataku nanar mencari, Ron pun sigap memindai wajah tiap penumpang. Kiri – kanan kami bergerak. 30 menit berlalu sia – sia. Tiba – tiba mataku menangkap sesosok tubuh yang kukenal baik. Bukan karena aku pernah tidur beberapa kali dengannya hingga kukenal tiap lekuk tubuhnya. Bukan itu. sosok itu kukenal. Gayanya bicara, gaya jalannya, sangat akrab. Er!!!

Aku berlari menuju tangga penumpang kelas. Ron mengekorku.

Kutarik badannya. Lelaki itu terkejut dan tergagap. Pucat pasi. “Rhe, kenapa di sini?”. Aku mencecarnya dengan ribuan pertanyaan dan memaksanya turun dari tangga. Ia bersikeras mendesak naik. Kutarik ia dan tarik ulur pun terjadi hingga ia pun terpaksa turun di dermaga. Ia tak menjawab pertanyaanku dan hanya menunduk diam. Kutunggu kepastian hingga 10 menit. Tak ada!

Tiba – tiba seorang perempuan menarikku. “E perem, stop ganggu orang pu laki e!”, suaranya tajam mendesis. Kupalingkan wajah. Terkejut melihat perutnya yang hamil dan kandungannya kuperkirakan berumur 7 bulan.

Kupandangi Er yang terdiam beku. Kutatap perempuan itu lagi. “Tong mo pindah ke Wasior, jadi jang ganggu sa laki lagi. Tra tau diri nih”, ujar perempuan itu lagi.

Aku terkejut! Ron lebih terkejut lagi. Bogem mentah pun melayang spontan dari tangan Ron ke wajah Er. Aku berlari pergi diikuti Ron.

Hatiku hancur berkeping – keping!!!

***

Canberra
Oktober 2010

Kubaca pesan singkat dari Ron pagi ini via jejaring sosial. Isinya singkat dan padat. “Masih ada celah untuk sa ka?”. Pesan – pesan ini dan pesan lainnya tiap hari mengisi ruang pesan tapi kerap kuabaikan.

Sakit hatiku masih basah. Musim semi ini tak sanggup membalut luka yang kurasa.

Kepergian mama akhir bulan lalu meninggalkan janji yang tak dapat kupenuhi. Ditambah lagi dengan Er.

Mungkin aku perempuan terbodoh di dunia yang menunggu kepastian sekian tahun dari lelaki yang tak jelas berkomitmen. Masa pacaran kami selama 6 tahun sia – sia. Semuanya sia – sia usai kejadian di pelabuhan bulan lalu.

Sambil kembali menatap newsfeed di jejaring sosialku, mataku menatap sebuah laporan bencana alam di sebuah daerah di tanah Papua. “Banjir bandang Wasior” dan ingatanku pun berlari pada Er.

Segera kuhubungi Ron via Skype. Kuminta ia mencari informasi tentang banjir itu khususnya daftar nama korban.

Selama empat hari aku menjadi pencari berita paling lihai di dunia. Semua media online kubuka mencari data tentang banjir bandang itu. Hingga suatu hari, sebuah press-release daftar nama korban tewas membuatku tertohok. Er!!!

***

Entahlah apa aku puas atau sedih. Geram atau kecewa. Entahlah ....

Kuperhatikan lagi larik sekeping puisi berjudul “Sore merah seperti teh” yang kubaca di jejaring sosial karya seorang seniman di Makassar; Luna Vidya.


tentang kita:
meski atas nama singgah
cinta tak pernah salah
ketika tiba di dermaga.

(Manokwari, 271010; mengenang seseorang yang telah di-personanongrata-kan dari hidupku)