Berikut ini sa bagi sa pu kajian/bedah buku (book review) yang pernah sa kerjakan beberapa bulan lalu untuk sapu tugas mata kuliah “Indonesia: Politics, Society, and Development”. Formatnya sa masih tetap pake yang versi bedah buku ilmiah dengan urutan: Judul – pengarang – tempat publikasi buku – penerbit – tahun publikasi dan jumlah halaman. Sorry kalo tra memuaskan dan tentu saja sa tetap butuh masukan.
Salam,
D. M.
=============
Papua: Geopolitics and The Quest for Nationhood. Bilveer Singh. New Brunswick (U.S.A) and London (U.K.), Transaction Publishers, 2008. 238 halaman.
Dalam buku Papua: Geopolitics and The Quest for Nationhood, Bilveer Singh; seorang peneliti Singapura beretnis India mencoba menggambarkan pentingnya geopolitik Papua khususnya implikasi geopolitik ditinjau dari segi gerakan separatis di wilayah ini. Dalam buku ini khususnya dalam bagian pendahuluan, Singh mencoba menekankan bahwa ia tidak akan membahas bagaimana pemerintah Indonesia menangani wilayah ini sebagaimana yang sering ditulis oleh orang lain. Ia menekankan bahwa yang menjadi perhatiannya adalah gagasan tentang aspek keamanan Papua dan gerakan separatisnya terhadap aspek geopolitik kawasan Asia Tenggara dan juga Pasifik. Ia tidak memfokuskan diri dalam hal apakah gerakan separatis di bagian Indonesia Timur ini benar atau salah. Akan tetapi, Singh dengan tegas mengatakan bahwa penelitiannya yang ditampilkan dalam buku ini untuk menguji implikasi politik dari perjuangan Papua Merdeka dan sejumlah implikasinya yang memungkinkan di bidang politik, ekonomi dan juga implikasi strategis lainnya bagi para pihak yang berkepentingan (stakeholder) di kawasan ini seperti Amerika Serikat, RRC dan Australia.
Tulisan Singh ini terdiri atas lima bab yang mencoba untuk mencakup isu – isu di tanah Papua dan hubungannya dengan pemerintah Indonesia sebagaimana juga gerakan separatis dan sejumlah kemungkinan implikasinya. Buku ini ditujukan untuk para pembaca di bidang ilmu politik dan juga hubungan internasional sehingga buku ini mencoba berbagi pandangan isu geopolitik di wilayah ini. Di bab pertama, Singh mencoba berbagi tentang Papua dalam bentuk potret politik tanah ini yang menghubungkan sejarah Indonesia dan Papua dan bagaimana hubungan ini saling bersinggungan; dimulai dari sejarah singkat tiap pihak. Ia juga mencoba memberikan ilustrasi dengan menyediakan pendekatan antropologi di dalam menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang Papua serta cakupan demografi penduduk selama bertahun – tahun di tiap area pembahasan misalnya ditinjau dari sudut agama. Semua ilustrasinya ditampilkan dalam bentuk tabel.
Pada bab – bab berikut khususnya dalam bab kedua dan ketiga, Singh membahas lebih lanjut tentang bagaimana politik mempengaruhi wilayah ini. Dalam bab kedua, ia mencoba menekankan pentingnya Papua selama tahun 1945 hingga tahun 1962 sebagai piala kemenangan geopolitik Indonesia atas Belanda yang mana tanah Papua adalah daerah koloni terakhir pemerintah Belanda di kawasan ini dan Papua pernah menjadi satu isu hangat di dalam konferensi antar pemerintah Indonesia dan Belanda. Di bab ke tiga, penulis menekankan tentang pentingnya hubungan Papua dan Indonesia usai Papua “diakui” secara internasional sebagai bagian dari Indonesia. Dalam bab ini, ia membahas tentang Papua dalam 3 masa pemerintahan yang berbeda (orde) dan bagaimana peran separatisme di dalam membentuk hubungan antara pemerintah Indonesia dan masyarakat asli Papua. Penulis pada akhirnya di bab ke empat mencoba memberikan penjelasan tentang nasionalisme Papua terkait OPM khususnya tentang berbagai metode dan pendekatan berbeda yang dianut oleh ‘organisasi’ ini di dalam menentang pemerintah Indonesia. Pada bab terakhir, Singh memberikan argumentasi tentang implikasi geopolitik perlawanan rakyat Papua terhadap berbagai aspek di Papua. Dalam bab ini, penulis memberikan berbagai skenario berbeda dari perjuangan rakyat Papua, meskipun ia beralasan bahwa kesempatan separatis Papua untuk berhasil sangat kecil karena kemungkinan untuk gagal sangat besar.
Wawancara penulis dengan berbagai pihak yang berkepentingan dan informan tentang isu Papua cukup menarik karena berbagai wawancara ini membantu menyediakan sejumlah pandangan yang berbeda. Bila diperhatikan, penulis mempunyai akses penuh baik kepada para pemimpin yang pro – Indonesia maupun yang pro- Papua. Selain itu, penulis juga banyak menerima fasilitas dan pelayanan yang ditawarkan khususnya dari pemerintah Indonesia. Dalam bagian ucapan terimakasih dari buku ini, penulis mengakui bahwa ia diberikan banyak kesempatan untuk bertemu presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono guna mendiskusikan isu Papua sebagaimana juga ia menjelaskan bahwa ia menjalin hubungan baik dengan beberapa perwira tinggi di lingkungan TNI. Meskipun demikian, tak lupa pula ia membangun hubungan dengan beberapa pemimpin Papua baik yang bekerja untuk pemerintah Indonesia maupun yang menentang pemerintah Indonesia baik yang menetap di dalam ataupun di luar Indonesia. Penulis tak lupa pula berdiskusi dengan para akademisi yang memfokuskan diri pada isu Papua. Semua akses dan bantuan yang diperoleh membantu penulis di dalam mendalami isu ini. Hal ini dapat dilihat dalam buku karena menampilkan lampiran lengkap berisi informasi berbagai organisasi dalam dan luar negeri baik, baik nama dan alamat serta pemimpin dan afiliasinya, baik organisasi yang mendukung penuh maupun memberikan separuh dukungan bagi perjuangan rakyat Papua serta dilengkapi juga dengan skema – skema faksi OPM dan jalur komandonya (hal. 134 – 135).
Berbagai fasilitas dan bantuan yang diberikan pemerintah Indonesia bagi penulis untuk mengakses berbagai informasi serta akses bepergian ke tanah Papua cukup mengherankan khususnya karena penulis termasuk peneliti asing yang membahas isu yang cukup sensitif; perjuangan rakyat Papua. Pendekatan pemerintah Indonesia cukup mencurigakan khususnya berbagai undangan dan diskusi yang diterima penulis tentang isu keamanan di wilayah ini. Bila diperhatikan, sikap pemerintah Indonesia cukup bertolak belakang dengan apa yang dilakukan terhadap seorang sejarahwan terkenal dari Belanda; Professor Pieter Drooglever. Kala sejarahwan ini melakukan penelitian tentang Pepera dan OPM, ia tak diijinkan masuk Indonesia apalagi tanah Papua dan terpaksa melakukan riset di Belanda, Australia (Canberra) dan Amerika (Washington D.C.). Bahkan beberapa temannya dari Australia sempat menerima larangan masuk ke Indonesia karena dicurigai membantu penelitian Drooglever. Hal ini terungkap dari pengantar buku sejarah Pepera tulisan sejarahwan ini serta berbagai wawancara terpisah tentang sikap pemerintah Indonesia. Padahal baik Drooglever dan Singh berbicara tentang isu yang dasarnya sama; separatisme Papua.
Dalam buku Papua: Geopolitics and The Quest for Nationhood, Singh berhasil memberikan informasi singkat tentang sejarah Papua khususnya dalam bab satu yang membahas potret politik wilayah ini. Ia membahas sejarah dari jaman pra integrasi hingga masa kini. Akan tetapi, dari 41 lembar dalam bab tersebut, tampaknya ia melewatkan beberapa poin penting. Penulis bahkan tak membuat catatan apapun tentang masuknya kekristenan di Papua khususnya pada tanggal 5 Februari 1855 yang dipercaya oleh banyak orang Papua sebagai salah satu hari bersejarah mereka. Banyak orang Papua percaya tanggal tersebut mengingatkan mereka akan perubahan hidup khususnya tentang pengenalan literasi dan numerasi yang dibawa oleh para misionaris Eropa. Singh bahkan tidak menulis tentang tanggal dan peristiwa ini sebagai salah satu hari penting dalam sejarah tanah Papua. Alih – alih, ia malah membahas dan menampikan enam tabel statistik denominasi agama dan konsentrasi populasi berdasarkan agama dalam bab yang sama guna menggambarkan pentingnya isu agama sebagai salah satu elemen di dalam memahami isu Papua. Hal lain yang terlewatkan juga ditunjukan dalam bab satu sewaktu Singh menjelaskan tentang hubungan Papua dan kerajaan pra-Islam di Indonesia; Sriwijaya dan Majapahit. Penulis bahkan tidak melakukan pembahasan dua sisi di dalam melihat masalah ini dalam memberikan argumen dari sejarahwan lain yang berpendapat bahwa kontrol Majapahit pada masa lalu tidak termasuk Papua (hal. 15 – 16) tetapi secara utuh menampilkan argument Kern dan Moh. Yamin yang melegitimasi konsep Papua sebagai bagian dari Nusantara.
Penulis juga mencoba membuat laporan yang seimbang tentang peran Papua sebagai piala kemenangan geopolitik bagi Indonesia di dalam melawan Belanda khususnya usai tahun – tahun panjang penuh pertemuan, dialog dan konferensi. Meskipun demikian, buku ini tampaknya tetap menggarisbawahi pentingnya Papua khususnya terkait separatis di wilayah ini bagi geopolitik Indonesia daripada menunjukan pentingnya perjuangan itu dari sisi berbeda; bagi orang Papua sendiri, sebagaimana digambarkan dalam bab dua. Hal ini tercermin dari wawancara tahun 2004 dengan Subandrio; mantan menteri luar negeri Indonesia. Subandrio mengatakan bahwa peran Papua bagi Indonesia lebih penting daripada Timor Timur karena merupakan bagian dari ‘jiwa Indonesia. Meskipun demikian, pernyataannya perlu ditilik lebih lanjut karena tanah Papua dianggap lebih sebagai ‘obyek’ dari kemenangan Indonesia ataukah hanya sekedar tempat yang penuh dengan sumberdaya alam yang perlu dikeruk. Satu hal yang terlewatkan dari penulis adalah penulis lupa atau sengaja tak menampilkan komentar ataupun catatan tentang pandangan para pemimpin Papua tentang isu implikasi geopolitik Papua.
Singh, dalam beberapa hal mencoba menampilkan perjuangan rakyat Papua dengan sedikit negatif tanpa mengacuhkan berbagai pendekatan yang digunakan oleh rakyat Papua misalnya dalam bab 3. Dalam bab 3, penulis menunjukan bahwa almarhum Arnold Ap; salah seorang seniman Papua yang mencoba melestarikan budaya Papua sebagai seseorang yang menggunakan cara subversif dalam menentang pemerintah Indonesia (hal. 101). Saat menjelaskan tentang kasus Ap, penulis tidak menggunakan pendekatan yang seimbang dalam menampilkan versi kematian Ap dari dua pihak tetapi mengutip secara langsung pernyataan langsung versi pemerintah Indonesia.
Dalam buku ini, penulis juga tampaknya kurang pemahaman di dalam menampilkan budaya Papua sebagaimana ditunjukan dalam penggunaan beberapa istilah dan nama. Dalam bab 3, penulis menjelaskan tentang salah satu nama makanan pokok orang Papua. Penulis tidak memberikan contoh yang tepat dari makanan pokok misalnya ‘sagu (sago), tetapi hanya menuliskan ‘syko’ tanpa penjelasan singkat apapun tentang makanan pokok ini (hal. 102). Contoh lainnya yang dapat dilihat adalah cara penulis menuliskan nama keret orang Papua maupun orang non- Papua yang tinggal di Papua khususnya yang tertera dalam bagian ucapan terima kasih. Misalnya saja keret Sallosa tertulis ‘Sollosa’, Sumule menjadi ‘Semule’, Bleskadit menjadi ‘Lesikadit’, Ajamiseba menjadi ‘Ajamseba’, Mirino menjadi ‘Marino’, Makabory menjadi ‘Makobory’, Kaisiepo menjadi ‘Kasiepo’. Dalam budaya Papua, keret menjadi sebuah indikator tentang identitas dan etnisitas misalnya tentang asal suku dan entitas budaya lainnya. Sering ditemukan orang Papua dari suku yang berbeda berbagi nama keret yang mirip sehingga kesalahan tipografi seperti ini sedapat mungkin dihindari.
Terlepas dari usaha Bilveer Singh melakukan pembahasan yang seimbang di dalam bukunya tentang isu perjuangan rakyat Papua dalam kaitannya dengan implikasi politik, sudut pandangnya cenderung mendukung kepentingan pemerintah Indonesia di dalam menggambarkan isu ini. Hal ini digambarkan dalam bab 3, penulis menyebutkan bahwa orang Papua “tidak pernah puas dan selalu menuntut lebih” (hal. 115). Ia juga menambahkan bahwa Otsus adalah salah satu bukti niat baik pemerintah Indonesia yang ternyata ditolak dan tidak diterima baik oleh para pemimpin Papua. Pernyataan ini tentu saja bertentangan dengan pendapat Richard Chauvel, seorang peneliti Australia tentang isu politik Papua. Chauvel (2003: 31 – 53) mengatakan bahwa pelaksanaan Otsus merupakan bentuk ketidakkonsistenan pemerintah pusat yang mana melaksanakan produk Undang – undang lainnya yang saling berlawanan dengan pelaksanaan Otsus. Dengan kata lain, pendapat Singh yang mencoba menampikan citra buruk orang Papua tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pada bagian yang sama, penulis juga mencoba menekankan pentingnya SBY dalam membangun hubungan damai dengan Papua dalam kaitan dengan ‘zona damai’ sebagaimana yang dikatakannya bahwa “No Indonesian President has visited territory as often as President Yudhoyono ...” (2008: 115 – 116); tak ada presiden Indonesia lainnya yang mengunjungi tanah Papua sesering SBY. Hal ini tentu saja sedikit aneh karena di masa lalu almarhum Abdurrahman Wahid known alias Gus Dur juga berperan dalam membangun hubungan damai dengan Papua.
Sikap penulis tercermin jelas dalam caranya membahas ramifikasi geopolitik separatisme Papua di bab 5. Dalam tiap poin yang dikemukakannya, kesimpulannya selalu tak seimbang khususnya implikasi di kawasan Asia Tenggara. Dalam beberapa hal, penulis mungkin sedikit kebablasan di dalam membuat kemungkinan di dalam mengaitkan perjuangan rakyat Papua dengan pergerakan militan di kawasan ini misalnya dengan Abu Sayyaf di Filipina. Indikasi lainnya yang juga menunjukan kurangnya pemahaman penulis tentang isu Papua terkait dengan proses demokrasi di Papua tercermin dalam hak untuk mengekspresikan pendapat orang Papua. Hal ini terlihat saat penulis sedikit bernada sinis menggambarkan bahwa dalam melihat permasalahan Papua, para pembaca harus mempertimbangkan bahwa representasi media baratlah yang cenderung menampilkan diri sebagai wakil rakyat Papua dan menuliskan kenyataan di tanah Papua sedang orang Papua sendiri tidak mengekspresikan pendapat mereka, sehingga media baratlah yang menjadi semacam corong (hal. 185). Dengan kata lain, Penulis berpendapat bahwa pendapat yang dikemukakan oleh media barat cenderung tidak murni dalam menggambarkan situasi tanah Papua karena bukan dari sisi orang Papua.
Sebagai seorang akademisi di bidang ilmu politik, Bilveer Singh; penulis buku ini mencoba memberikan gambaran tentang isu Papua khususnya tentang perjuangan rakyat Papua dalam kaitannya dengan implikasi geopolitik terhadap berbagai wilayah di sekitar tanah Papua. Meskipun penulis mencoba membahas isu ini dalam pembahasan yang seimbang, sudut pandang dan sikap penulis dan pendapatnya dengan jelas menunjukan bahwa ia berpihak pada kepentingan pemerintah Indonesia sehingga buku ini cenderung berat sebelah. Dengan kata lain, Papua: Geopolitics and The Quest for Nationhood dapat dikatakan menjadi semacam ‘kampanye’ pemerintah Indonesia menentang perjuangan rakyat Papua di dalam area akademik khususnya dalam domain ilmu politik.
***
Reference:
Chauvel, Richard and Ikrar Nusa Bhakti. 2004. The Papua Conflict: Jakarta’s Perceptions and Policies. Washington: East – West Center.
Thursday, 2 September 2010
Kisah Pilkada
Sambil menikmati sesapan sekotak Ultra Milk rasa Moka dan ditemani lagu favoritku, di jeda – jeda menyiapkan catatan pekerjaan, kusempatkan menuliskan satu catatan kecil tentang kotaku; Manokwari. Catatanku kali ini hanya sebuah tulisan kecil tentang sebuah kegiatan dan beberapa hal tak penting tentang pemilihan kepala daerah di kota kelahiranku. Satu bulan terakhir aku berada di kota ini, gegap gempita Pemilukada guna mencari para pemimpin baru kabupaten dengan ibu kota berjuluk kota buah – buahan sedang hangat – hangatnya dan aku menikmati satu hal yang telah lama kulewatkan; keramaian pilkada. Sambil menikmati berbagai hal yang terjadi, aku juga memutuskan membuat sebuah catatan kecil tentang yang terjadi selama ini dan ada beberapa hal yang cukup membuatku mengeryitkan dahi ^_^ Manokwari Oh Manokwari!!!
Pemilukada kali ini lumayan hangat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya karena peta kekuatan calon cukup beragam dan sedikit terbagi, tidak seperti beberapa tahun lainnya dimana peta kekuatan cukup jelas terbaca. Anyway, catatan kali ini tak terlalu membahas pada kekuatan politik tiap calon dan visi misinya ataupun perkembangan tabulasi politik dan koalisi pendukung calon. Aku memilih menuliskan pengalamanku bersentuhan dengan proses ini yang kutilik dari kacamataku ^__^ Sedikit personal sih
Beberapa minggu lalu, aku sering tersenyum – senyum melihat bagaimana para kandidat the next bupati and wakil bupati merepresentasikan diri mereka. Calon Mkw 1 dan Mkw 2 terdiri atas 5 kandidat dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari pendeta sebuah denominasi hingga pemimpin sebuah sekolah tinggi yang juga masih menjabat jabatan cukup bergengsi di kabupaten ini. Calon lain tentu saja para kandidat yang memang juga mempunyai jabatan di pemerintahan, dari kepala bagian hingga kepala kantor tertentu. Wakil mereka tentu saja yang tak mau kalah, dari dokter hingga pegawai pemerintahan dan wakil universitas. Tentu saja cukup menarik melihat profil para the next orang besar (dan tentu saja the next ”Orang Kaya Baru” )
Hal menarik yang sering kulihat di kotaku akhir – akhir ini adalah bagaimana para kandidat memajang wajah mereka ibarat para cover boy majalah remaja yang tentu saja full color dan ’bokar banget’ di sudut – sudut jalan. Ya tentu saja dengan harapan mereka akan dikenal dan mudah – mudahan terpilih. Tentu saja aku sedikit merinding membayangkan biaya yang mereka kocek dari kantong pribadi plus dana suntikan para ”donatur” kampanye mereka (yang aku percaya akan ada timbal baliknya kalau para kandidat usungan terpilih, at least ada 1 – 2 proyek fisik berbunyi fulus jutaan atau milyaran yang wajib terbang ke kantong donatur :D ). At least dari donatur masih sah lah, to some extent karena aku masih sedikit ngeri membayangkan kalau seandainya dana itu ternyata digosok dari pundi – pundi pendapatan dan dana yang dialokasikan untuk para penduduk kota tercinta ini lewat jabatan – jabatan dan kapasitas para beliau terhormat ini. Mudah – mudahan tidak benar walau memang tetap ragu. Berapa duit sih gaji pegawai negeri golongan sekian – sekian untuk membiayai kampanye besar seperti ini hehehe.
Tentang poster, baligo dan stiker plus bentuk – bentuk ajang promo ’muka’ ini dimana wajah para kandidat lagi senang nongkrong, aku suka tersenyum melihatnya. Bukan karena para calon memang seganteng aktor favoritku, tapi karena bentuk ajang promo dan cara mereka merepresentasikan diri. Tentu saja agar nama mereka mudah diingat oleh para calon penusuk poster. Ooops, sory maksudnya para pencoblos yang mudah – mudahan bukan para pencoleng . Ada yang mengusung gabungan suku kata pertama nama calon Mkw 1 dan Mkw 2 dengan nama mirip sebuah kelompok musik dari Amerika, sebut saja ”Jofi” alias gabungan nama pak John Warijo dan Dr Firman (lupa kandidat nomor berapa nih hehehe). Ada juga yang melakukan hal yang sama tapi dengan mengikutkan gabungan suku kata pertama plus fam tapi kok malah mirip kata ”Bahasa Roh” sih ^___^. (Aslinya sih ”Basaroh” alias gabungan nama pak Bastian Salabai dan pak Robert Hammar). Kandidat lain tentu saja tak mau kalah, seperti calon nomor urut 5 alias pak Natan Mandacan dan pak Wempi Rengkung yang memilih membuat gabungan nama yang menurutku kurang unik Iyalah, cukup simpel kok seperti ”NDM & WWR. Selain itu kandidat lain seperti pak Lazarus Indow dan pak Rachmat Sinnamur cukup percaya diri dengan mengusung ”Lazarus mendulang Rachmat”. Untuk kandidat pak Buiney dan pak Eddy Waluyo tak terlalu kuperhatikan tulisan di poster mereka, mungkin karena aku hanya memperhatikan yang berada di jalan dekat rumahku yang kebetulan tak ada poster dari kandidat yang bersangkutan Tentu acara ’bongkar pasang kandidat’ ini sudah final, tidak seperti beberapa bulan lalu dimana dari bacaan yang kubaca, bahkan ada calon wakil bupati yang tak bertempat tinggal di daerah ini dan notabene tak pernah tahu Manokwari itu di pulau mana
Ada hal menarik lainnya yang sempat kutangkap dari proses demokrasi ini walau tetap saja menurutku masih jauh dari proses demokrasi yang sesungguhnya. Tentu saja aku bicara tentang politik uang yang terjadi. Kalau sekedar kaus dan payung kampanye sih biasa menurutku Lebih canggih lagi karena ada yang menyewa puluhan taksi dan kendaraan umum lainnya alias angkot umum di kotaku pada masa kampanye dan membuat para warga umum pecinta taksi kelimpungan mencari angkot. Tentu saja para abang ojek bersukacita :D Tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Yang jadi masalahnya ternyata terungkap saat aku sedang naik taksi dan sang supir curhat beibeh dengan seorang teman dan penumpang lainnya tentang tunggakan pembayaran dari bagian keuangan kampanye kandidat tertentu yang belum juga membayar setoran dan uang taksi selama 2 hari. Sialnya, he’s not the only one alias ada teman – temannya yang lain yang mengalami nasib serupa. Sedangkan posisi abang supir sangat dilematis karena para bos taksi sudah menagih setoran harian selama beberapa hari. Jadi pengakuan sih abang supir kalau dia kapok ditanggap kampanye dan malah bilang kalau dia tak mau mencoblos tuh kandidat karna bayar taksi saja telat apalagi besok kalo terpilih :D *ekspresi sakit hati ... mungkin ka .
Tapi yang lebih heboh kulihat adalah laporan – laporan teman dan keluarga yang membahas aksi gila – gilaan banjir rejeki selama masa kampanye. Mulai dari kandidat yang menggunakan kapasitasnya dengan mengatasnamakan jabatannya dan sumberdaya jabatannya untuk menggunakannya demi memberikan bantuan atas nama pribadi dalam masa kampanye padahal yang diberikan memang murni milik rakyat sebenarnya hanya disimpan hingga timing yang tepat. Sebut saja pembagian alat dapur seperti mixer, oven hingga alat – alat pembuat kue lainnya. Mungkin supaya para mama – mama Papua ini makin jago bikin kue dan mengingat kandidat pemberi tiap kali membuat kue.. Nah ada juga kandidat yang ’merayu’ para mahasiswa dan organisasi – organisasi pemuda dengan menyediakan printer, komputer, laptop dan saudara – saudaranya demi membeli suara dalam skala kecil. Tentu saja ada juga yang berkampanye dengan menggunakan kapasitasnya sekalian dengan mensponsori kegiatan olahraga yang notabene mengundang banyak anak muda dan dewasa muda yang layak mencontreng hingga para peserta kegiatan tersebut menjadi ”duta terselubung” kandidat bersangkutan. Ya iyalah, kaus dalam pertandingan tersebut notabene dihiasi ibarat kaus kampanye plus poster dan baligo di lokasi kegiatan .
Aksi bagi rejeki di atas tentu saja ini belum apa – apa. Karena ada rumor bahwa akan ada serangan fajar bagi – bagi uang di daerah – daerah target pemilihan hingga para penjaga keamanan harus dilengkapi dengan kendaraan operasional untuk menjaring para ”tim Tolong” a la Pemilukada. Secara pribadi sih kalau saya sih terima saja duitnya, tapi kalo urusan mencontreng pakai nuranilah. Tapi tentu saja dengan membebaskan diri dari intervensi orang lain dan pihak lain yang berusaha untuk menjaring massa lewat cara – cara yang menurutku sangat ”politik praktis”. Mulai dari menggunakan lembaga gereja mengarahkan umat memilih kandidat tertentu hingga kerja tim sukses kandidat tertentu yang memberikan ultimatum ”ancaman dan konsekuensi” yang akan ditanggung bila tak memilih kandidat tertentu yang ternyata masih terkait dengan ’politik air’ a la orde baru Benar – benar menarik melihat bagaimana masyarakat sipil dalam posisi tawar rendah memilih untuk menjadi pragmatis dan mengesampingkan nurani dan visi serta misi para kandidat.
Aksi kandidat ini tentu saja tidak dilewatkan oleh segelintir orang yang memang berniat mendulang untung. Mulai dari aksi beberapa mahasiswa ataupun anak – anak muda yang menawarkan suara mereka dan melakukan sejenis bargaining suara dengan meminta janji dijadikan PNS apabila kandidat yang diusung terpilih. Ada juga yang menjadi tim sukses lokal dengan iming – iming tertentu, mulai dari fasilitas hingga fulus. Hal ini terbukti juga pada pelaksanaan pemilukada di sebuah kompleks di kotaku dimana beberapa mobil sewaan pun parkir dan ada beberapa pemilih yang berjejer rapi dan menumpang mobil hanya sekedar datang dan mencoblos dan langsung bergegas. Saat mereka sedang sibuk mencoblos, supir mobil rental yang berhasil diwawancara seorang temanku yang curiga karena para pemilih tak pernah kelihatan tinggal ataupun menetap di kompleksnya dapat dengan leluasa masuk ke TPS. Usut punya usut ternyata mereka para pemilih bayaran yang dibayar seorang kandidat dengan iming – iming Rp. 100. 000,-./orang. Dari pengakuan supir mobil sewaan, TPS di kompleks temanku merupakan TPS ke 5 dan para pencoblos pencoleng ini dengan sigap berganti – ganti tempat dan memakai pemutih pakaian (Bayclin) untuk menghapus tinta coblos yang menempel di jemari mereka. Anehnya, tak seorangpun perangkat RT ataupun RW yang peduli dan curiga. Benar – benar aneh!!!
Terlepas dari sikap tarik ulur kandidat dan pemilih, ada hal lain yang perlu dicermati dalam proses demokrasi ini; kerja KPU lokal. Dalam pelaksanaan kerja, tentu saja masih jauh dari sempurna, buktinya ada banyak orang yang tak masuk DPT alias daftar pemilih tetap ataupun juga terjadi tumpang tindih data. Buktinya, kartu pemilihku saja ada 2 begitu juga adikku jadi resminya kami punya 4 kartu sedang 2 iparku sama sekali tak mendapat kartu :D Tapi kami masih lebih baik dibandingkan puluhan orang di sebuah kelurahan di kotaku yang tak terdaftar dan terjadi saling tuduh ”tak becus kerja” antara pihak distrik, KPU dan juga para calon pemilih. Walaupun demikian, hal seperti ini masih lebih baik dibanding hal lain yang sempat kurekam dalam benakku kala menuliskan catatan ini; dilematis KPU lokal.
Para pegawai KPU lokal apalagi kepala kantornya mungkin menjadi orang – orang yang sedang was – was pada masa ini. Bukannya apa, ”premanisme” masih menjadi bumbu pewarna proses demokrasi. Pemilu legislatif April dan Juli kemarin saja masih meninggalkan trauma bagi keluarga kepala KPU di kotaku yang notabene masih satu kompleks perumahan denganku. Selama seminggu rumah mereka dititipkan ke tetangga dan mereka menghilang entah kemana karena banyak orang dan pihak – pihak yang marah yang mencari si bapak dan keluarganya. Selain itu, laporan dari seorang teman kecil yang kebetulan masih saudara jauhku bercerita bagaimana ia mengalami trauma bekerja karena edisi pasca pemilihan beberapa bulan lalu dimana kantornya sempat dilempari batu – batu besar sebesar ukuran bola voli hingga kaca – kaca berguguran dan pintu kantor dipalang dari luar. Sialnya, ruang kantor berada di ruko yang tak ada pintu belakang apalagi pintu darurat hingga saudaraku dan teman – temannya ketakutan. Alhasil, dari hasil perbincangan dengannya hari ini, ia bilang kalau mereka akan nekat membobol dan merusak ruang belakang kantornya untuk dibuat pintu darurat; untuk berjaga – jaga. Ia hanya takut akan ada massa pendukung yang bertindak anarkis dan memakai kesempatan melakukan tindak kriminal seperti membakar kantor.
Anyway, Pagi tadi usai menggunakan hak pilihku, aku sedikit lega. Setidaknya aku memutuskan memilih yang kukenal. Toh aku menggunakan hak pilihku.
Semoga akhirnya yang terbaiklah yang terpilih!!!
Tapi lebih baik lagi para pemimpin yang peduli dengan masyarakat dan kabupaten ini!!!
Lebih baik lagi pemimpin yang masih punya nurani!!!
Ada ka??
(Four-season’s room, 2 September 2010; 12. 42 a.m.)
Pemilukada kali ini lumayan hangat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya karena peta kekuatan calon cukup beragam dan sedikit terbagi, tidak seperti beberapa tahun lainnya dimana peta kekuatan cukup jelas terbaca. Anyway, catatan kali ini tak terlalu membahas pada kekuatan politik tiap calon dan visi misinya ataupun perkembangan tabulasi politik dan koalisi pendukung calon. Aku memilih menuliskan pengalamanku bersentuhan dengan proses ini yang kutilik dari kacamataku ^__^ Sedikit personal sih
Beberapa minggu lalu, aku sering tersenyum – senyum melihat bagaimana para kandidat the next bupati and wakil bupati merepresentasikan diri mereka. Calon Mkw 1 dan Mkw 2 terdiri atas 5 kandidat dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari pendeta sebuah denominasi hingga pemimpin sebuah sekolah tinggi yang juga masih menjabat jabatan cukup bergengsi di kabupaten ini. Calon lain tentu saja para kandidat yang memang juga mempunyai jabatan di pemerintahan, dari kepala bagian hingga kepala kantor tertentu. Wakil mereka tentu saja yang tak mau kalah, dari dokter hingga pegawai pemerintahan dan wakil universitas. Tentu saja cukup menarik melihat profil para the next orang besar (dan tentu saja the next ”Orang Kaya Baru” )
Hal menarik yang sering kulihat di kotaku akhir – akhir ini adalah bagaimana para kandidat memajang wajah mereka ibarat para cover boy majalah remaja yang tentu saja full color dan ’bokar banget’ di sudut – sudut jalan. Ya tentu saja dengan harapan mereka akan dikenal dan mudah – mudahan terpilih. Tentu saja aku sedikit merinding membayangkan biaya yang mereka kocek dari kantong pribadi plus dana suntikan para ”donatur” kampanye mereka (yang aku percaya akan ada timbal baliknya kalau para kandidat usungan terpilih, at least ada 1 – 2 proyek fisik berbunyi fulus jutaan atau milyaran yang wajib terbang ke kantong donatur :D ). At least dari donatur masih sah lah, to some extent karena aku masih sedikit ngeri membayangkan kalau seandainya dana itu ternyata digosok dari pundi – pundi pendapatan dan dana yang dialokasikan untuk para penduduk kota tercinta ini lewat jabatan – jabatan dan kapasitas para beliau terhormat ini. Mudah – mudahan tidak benar walau memang tetap ragu. Berapa duit sih gaji pegawai negeri golongan sekian – sekian untuk membiayai kampanye besar seperti ini hehehe.
Tentang poster, baligo dan stiker plus bentuk – bentuk ajang promo ’muka’ ini dimana wajah para kandidat lagi senang nongkrong, aku suka tersenyum melihatnya. Bukan karena para calon memang seganteng aktor favoritku, tapi karena bentuk ajang promo dan cara mereka merepresentasikan diri. Tentu saja agar nama mereka mudah diingat oleh para calon penusuk poster. Ooops, sory maksudnya para pencoblos yang mudah – mudahan bukan para pencoleng . Ada yang mengusung gabungan suku kata pertama nama calon Mkw 1 dan Mkw 2 dengan nama mirip sebuah kelompok musik dari Amerika, sebut saja ”Jofi” alias gabungan nama pak John Warijo dan Dr Firman (lupa kandidat nomor berapa nih hehehe). Ada juga yang melakukan hal yang sama tapi dengan mengikutkan gabungan suku kata pertama plus fam tapi kok malah mirip kata ”Bahasa Roh” sih ^___^. (Aslinya sih ”Basaroh” alias gabungan nama pak Bastian Salabai dan pak Robert Hammar). Kandidat lain tentu saja tak mau kalah, seperti calon nomor urut 5 alias pak Natan Mandacan dan pak Wempi Rengkung yang memilih membuat gabungan nama yang menurutku kurang unik Iyalah, cukup simpel kok seperti ”NDM & WWR. Selain itu kandidat lain seperti pak Lazarus Indow dan pak Rachmat Sinnamur cukup percaya diri dengan mengusung ”Lazarus mendulang Rachmat”. Untuk kandidat pak Buiney dan pak Eddy Waluyo tak terlalu kuperhatikan tulisan di poster mereka, mungkin karena aku hanya memperhatikan yang berada di jalan dekat rumahku yang kebetulan tak ada poster dari kandidat yang bersangkutan Tentu acara ’bongkar pasang kandidat’ ini sudah final, tidak seperti beberapa bulan lalu dimana dari bacaan yang kubaca, bahkan ada calon wakil bupati yang tak bertempat tinggal di daerah ini dan notabene tak pernah tahu Manokwari itu di pulau mana
Ada hal menarik lainnya yang sempat kutangkap dari proses demokrasi ini walau tetap saja menurutku masih jauh dari proses demokrasi yang sesungguhnya. Tentu saja aku bicara tentang politik uang yang terjadi. Kalau sekedar kaus dan payung kampanye sih biasa menurutku Lebih canggih lagi karena ada yang menyewa puluhan taksi dan kendaraan umum lainnya alias angkot umum di kotaku pada masa kampanye dan membuat para warga umum pecinta taksi kelimpungan mencari angkot. Tentu saja para abang ojek bersukacita :D Tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Yang jadi masalahnya ternyata terungkap saat aku sedang naik taksi dan sang supir curhat beibeh dengan seorang teman dan penumpang lainnya tentang tunggakan pembayaran dari bagian keuangan kampanye kandidat tertentu yang belum juga membayar setoran dan uang taksi selama 2 hari. Sialnya, he’s not the only one alias ada teman – temannya yang lain yang mengalami nasib serupa. Sedangkan posisi abang supir sangat dilematis karena para bos taksi sudah menagih setoran harian selama beberapa hari. Jadi pengakuan sih abang supir kalau dia kapok ditanggap kampanye dan malah bilang kalau dia tak mau mencoblos tuh kandidat karna bayar taksi saja telat apalagi besok kalo terpilih :D *ekspresi sakit hati ... mungkin ka .
Tapi yang lebih heboh kulihat adalah laporan – laporan teman dan keluarga yang membahas aksi gila – gilaan banjir rejeki selama masa kampanye. Mulai dari kandidat yang menggunakan kapasitasnya dengan mengatasnamakan jabatannya dan sumberdaya jabatannya untuk menggunakannya demi memberikan bantuan atas nama pribadi dalam masa kampanye padahal yang diberikan memang murni milik rakyat sebenarnya hanya disimpan hingga timing yang tepat. Sebut saja pembagian alat dapur seperti mixer, oven hingga alat – alat pembuat kue lainnya. Mungkin supaya para mama – mama Papua ini makin jago bikin kue dan mengingat kandidat pemberi tiap kali membuat kue.. Nah ada juga kandidat yang ’merayu’ para mahasiswa dan organisasi – organisasi pemuda dengan menyediakan printer, komputer, laptop dan saudara – saudaranya demi membeli suara dalam skala kecil. Tentu saja ada juga yang berkampanye dengan menggunakan kapasitasnya sekalian dengan mensponsori kegiatan olahraga yang notabene mengundang banyak anak muda dan dewasa muda yang layak mencontreng hingga para peserta kegiatan tersebut menjadi ”duta terselubung” kandidat bersangkutan. Ya iyalah, kaus dalam pertandingan tersebut notabene dihiasi ibarat kaus kampanye plus poster dan baligo di lokasi kegiatan .
Aksi bagi rejeki di atas tentu saja ini belum apa – apa. Karena ada rumor bahwa akan ada serangan fajar bagi – bagi uang di daerah – daerah target pemilihan hingga para penjaga keamanan harus dilengkapi dengan kendaraan operasional untuk menjaring para ”tim Tolong” a la Pemilukada. Secara pribadi sih kalau saya sih terima saja duitnya, tapi kalo urusan mencontreng pakai nuranilah. Tapi tentu saja dengan membebaskan diri dari intervensi orang lain dan pihak lain yang berusaha untuk menjaring massa lewat cara – cara yang menurutku sangat ”politik praktis”. Mulai dari menggunakan lembaga gereja mengarahkan umat memilih kandidat tertentu hingga kerja tim sukses kandidat tertentu yang memberikan ultimatum ”ancaman dan konsekuensi” yang akan ditanggung bila tak memilih kandidat tertentu yang ternyata masih terkait dengan ’politik air’ a la orde baru Benar – benar menarik melihat bagaimana masyarakat sipil dalam posisi tawar rendah memilih untuk menjadi pragmatis dan mengesampingkan nurani dan visi serta misi para kandidat.
Aksi kandidat ini tentu saja tidak dilewatkan oleh segelintir orang yang memang berniat mendulang untung. Mulai dari aksi beberapa mahasiswa ataupun anak – anak muda yang menawarkan suara mereka dan melakukan sejenis bargaining suara dengan meminta janji dijadikan PNS apabila kandidat yang diusung terpilih. Ada juga yang menjadi tim sukses lokal dengan iming – iming tertentu, mulai dari fasilitas hingga fulus. Hal ini terbukti juga pada pelaksanaan pemilukada di sebuah kompleks di kotaku dimana beberapa mobil sewaan pun parkir dan ada beberapa pemilih yang berjejer rapi dan menumpang mobil hanya sekedar datang dan mencoblos dan langsung bergegas. Saat mereka sedang sibuk mencoblos, supir mobil rental yang berhasil diwawancara seorang temanku yang curiga karena para pemilih tak pernah kelihatan tinggal ataupun menetap di kompleksnya dapat dengan leluasa masuk ke TPS. Usut punya usut ternyata mereka para pemilih bayaran yang dibayar seorang kandidat dengan iming – iming Rp. 100. 000,-./orang. Dari pengakuan supir mobil sewaan, TPS di kompleks temanku merupakan TPS ke 5 dan para pencoblos pencoleng ini dengan sigap berganti – ganti tempat dan memakai pemutih pakaian (Bayclin) untuk menghapus tinta coblos yang menempel di jemari mereka. Anehnya, tak seorangpun perangkat RT ataupun RW yang peduli dan curiga. Benar – benar aneh!!!
Terlepas dari sikap tarik ulur kandidat dan pemilih, ada hal lain yang perlu dicermati dalam proses demokrasi ini; kerja KPU lokal. Dalam pelaksanaan kerja, tentu saja masih jauh dari sempurna, buktinya ada banyak orang yang tak masuk DPT alias daftar pemilih tetap ataupun juga terjadi tumpang tindih data. Buktinya, kartu pemilihku saja ada 2 begitu juga adikku jadi resminya kami punya 4 kartu sedang 2 iparku sama sekali tak mendapat kartu :D Tapi kami masih lebih baik dibandingkan puluhan orang di sebuah kelurahan di kotaku yang tak terdaftar dan terjadi saling tuduh ”tak becus kerja” antara pihak distrik, KPU dan juga para calon pemilih. Walaupun demikian, hal seperti ini masih lebih baik dibanding hal lain yang sempat kurekam dalam benakku kala menuliskan catatan ini; dilematis KPU lokal.
Para pegawai KPU lokal apalagi kepala kantornya mungkin menjadi orang – orang yang sedang was – was pada masa ini. Bukannya apa, ”premanisme” masih menjadi bumbu pewarna proses demokrasi. Pemilu legislatif April dan Juli kemarin saja masih meninggalkan trauma bagi keluarga kepala KPU di kotaku yang notabene masih satu kompleks perumahan denganku. Selama seminggu rumah mereka dititipkan ke tetangga dan mereka menghilang entah kemana karena banyak orang dan pihak – pihak yang marah yang mencari si bapak dan keluarganya. Selain itu, laporan dari seorang teman kecil yang kebetulan masih saudara jauhku bercerita bagaimana ia mengalami trauma bekerja karena edisi pasca pemilihan beberapa bulan lalu dimana kantornya sempat dilempari batu – batu besar sebesar ukuran bola voli hingga kaca – kaca berguguran dan pintu kantor dipalang dari luar. Sialnya, ruang kantor berada di ruko yang tak ada pintu belakang apalagi pintu darurat hingga saudaraku dan teman – temannya ketakutan. Alhasil, dari hasil perbincangan dengannya hari ini, ia bilang kalau mereka akan nekat membobol dan merusak ruang belakang kantornya untuk dibuat pintu darurat; untuk berjaga – jaga. Ia hanya takut akan ada massa pendukung yang bertindak anarkis dan memakai kesempatan melakukan tindak kriminal seperti membakar kantor.
Anyway, Pagi tadi usai menggunakan hak pilihku, aku sedikit lega. Setidaknya aku memutuskan memilih yang kukenal. Toh aku menggunakan hak pilihku.
Semoga akhirnya yang terbaiklah yang terpilih!!!
Tapi lebih baik lagi para pemimpin yang peduli dengan masyarakat dan kabupaten ini!!!
Lebih baik lagi pemimpin yang masih punya nurani!!!
Ada ka??
(Four-season’s room, 2 September 2010; 12. 42 a.m.)
Catatan Pasir Putih
Beberapa minggu terakhir, aku kerap mengunjungi pantai di kotaku; pantai Pasir Putih. Pantai ini sudah kukenal sejak aku masih SD karena menjadi sebuah tempat pengingat bahayanya tidak tahu berenang karena aku pernah hampir tenggelam sewaktu SD di pantai ini plus pantai ini juga menjadi pengingat dimana anjing kesayanganku sewaktu SD berasal; anjingku namanya ’ Nona Pasput’ alias ’nona Pasir Putih’ :D. Anyway, catatanku kali ini bukan tentang kenangan hewan peliharaanku tapi tentang kondisi pantai ini dan beberapa catatan kecil.
Pantai Pasir Putih alias pantai Yenbebai merupakan pantai wisata di kotaku yang hanya berjarak sekitar 10 – 15 menit naik motor dari pelabuhan utama. Areal pantai ini awalnya didominasi hak ulayat dari suku Meyah yang kebetulan milik keret nenekku dari pihak mama tapi sedang dua dekade belakangan telah terjadi pembauran yang cukup pesat apalagi usai kotaku menjadi ibukota provinsi. Ada banyak kenangan yang tersimpan dari tempat ini karena dari sekitar umur 4 atau 5 tahun aku sudah sering berkunjung ke seputaran daerah ini; selain urusan keluarga juga karena urusan kerjaan keluargaku.
Kunjungan tahun 2010 ini cukup membuatku terhenyak. Bukan karena keindahan pantai tapi karena lautan yang terisi sampah. Aku sampai jengah saat harus berjalan. Tiap akhir minggu aku ke pantai dan tiap kali datang yang kutemui hanyalah sampah dan sampah khususnya sampah plastik. Mulai dari botol mineral, bangkai hewan hingga popok bayi tak ramah lingkungan (pampers/diapers). Benar – benar sakit melihat pemandangan seperti ini. Bukannya apa, saat sedang sibuk berenang dan snorkeling, paparan karang hanya terisi karung plastik dan juga endapan plastik popok di mana- mana. Berbagai merek popok seakan menjadi penghias karang menggantikan keindahan anemon, ikan karang dan landak laut. Miris!!!
Popok bukan hanya penghias karang, botol – botol plastik bawah air juga menjadi teman ikan. Selain itu, di permukaan, sampah organik dan anorganik mengapung ria. Dari tinja hewan, manusia hingga ikan busuk berenang puas. Tentu saja ditemani plastik – plastik hitam dan potongan sayuran busuk. Potongan – potongan kayu juga dengan mulusnya menghias perairan. Lain di air, lain di darat. Di darat, pecahan botol dengan sukses menjadi permata pantai yang berpasir putih lembut. Tentu belum termasuk anjing – anjing buduk yang sibuk berlari hilir mudik menyortir sampah busuk. Semakin buruk saat sadar bahwa tempat sampah sudah berkurang dan tak ada lagi kontainer ataupun bak sampah besar yang pernah ada sekitar 2 tahun lalu kala masih tinggal di kota ini. Miris!!!
Tiba – tiba aku merindukan Manokwari yang dulu, pantai Pasir Putih yang dulu.
Sudah saatnya berpikir tentang tempat ini. Mungkin tahap pertama yang bisa kulakukan adalah mengambil sampah plastik dan kaca yang bisa kuolah jadi benda seni dan mengajak beberapa teman membuat proyek mini untuk tempat ini. Benar – benar rindu pantai yang bersih. Karena kutahu usaha penduduk lokal dan dinas pariwisata masih tak memadai karena dengan hanya mengubur sampah di pasir tak akan menyelesaikan masalahnya. Harus ada ”acara buang suara” ke dinas kebersihan kota plus penduduk Manokwari karena sampah di teluk ini asalnya dari sampah yang dibuang sembarangan ke laut, seakan laut adalah tempat sampah raksasa.
Sudah saatnya bergerak!!!
(Four-season’s room, 2 September 2010)
Pantai Pasir Putih alias pantai Yenbebai merupakan pantai wisata di kotaku yang hanya berjarak sekitar 10 – 15 menit naik motor dari pelabuhan utama. Areal pantai ini awalnya didominasi hak ulayat dari suku Meyah yang kebetulan milik keret nenekku dari pihak mama tapi sedang dua dekade belakangan telah terjadi pembauran yang cukup pesat apalagi usai kotaku menjadi ibukota provinsi. Ada banyak kenangan yang tersimpan dari tempat ini karena dari sekitar umur 4 atau 5 tahun aku sudah sering berkunjung ke seputaran daerah ini; selain urusan keluarga juga karena urusan kerjaan keluargaku.
Kunjungan tahun 2010 ini cukup membuatku terhenyak. Bukan karena keindahan pantai tapi karena lautan yang terisi sampah. Aku sampai jengah saat harus berjalan. Tiap akhir minggu aku ke pantai dan tiap kali datang yang kutemui hanyalah sampah dan sampah khususnya sampah plastik. Mulai dari botol mineral, bangkai hewan hingga popok bayi tak ramah lingkungan (pampers/diapers). Benar – benar sakit melihat pemandangan seperti ini. Bukannya apa, saat sedang sibuk berenang dan snorkeling, paparan karang hanya terisi karung plastik dan juga endapan plastik popok di mana- mana. Berbagai merek popok seakan menjadi penghias karang menggantikan keindahan anemon, ikan karang dan landak laut. Miris!!!
Popok bukan hanya penghias karang, botol – botol plastik bawah air juga menjadi teman ikan. Selain itu, di permukaan, sampah organik dan anorganik mengapung ria. Dari tinja hewan, manusia hingga ikan busuk berenang puas. Tentu saja ditemani plastik – plastik hitam dan potongan sayuran busuk. Potongan – potongan kayu juga dengan mulusnya menghias perairan. Lain di air, lain di darat. Di darat, pecahan botol dengan sukses menjadi permata pantai yang berpasir putih lembut. Tentu belum termasuk anjing – anjing buduk yang sibuk berlari hilir mudik menyortir sampah busuk. Semakin buruk saat sadar bahwa tempat sampah sudah berkurang dan tak ada lagi kontainer ataupun bak sampah besar yang pernah ada sekitar 2 tahun lalu kala masih tinggal di kota ini. Miris!!!
Tiba – tiba aku merindukan Manokwari yang dulu, pantai Pasir Putih yang dulu.
Sudah saatnya berpikir tentang tempat ini. Mungkin tahap pertama yang bisa kulakukan adalah mengambil sampah plastik dan kaca yang bisa kuolah jadi benda seni dan mengajak beberapa teman membuat proyek mini untuk tempat ini. Benar – benar rindu pantai yang bersih. Karena kutahu usaha penduduk lokal dan dinas pariwisata masih tak memadai karena dengan hanya mengubur sampah di pasir tak akan menyelesaikan masalahnya. Harus ada ”acara buang suara” ke dinas kebersihan kota plus penduduk Manokwari karena sampah di teluk ini asalnya dari sampah yang dibuang sembarangan ke laut, seakan laut adalah tempat sampah raksasa.
Sudah saatnya bergerak!!!
(Four-season’s room, 2 September 2010)
Subscribe to:
Posts (Atom)