Entahlah …
Aku bertemu dia kembali
Masih tak bisa menepis pesonanya
Jutaan maaf meluncur dari bibirnya dan kembali aku luluh
Larut dalam maafnya
Larut semua benci
Larut semua amarah
Dan terhanyut dalam perasaan yang sama; cinta
Entahlah ...
Aku tak pernah berhasil membencinya
Aku bertemu dia kembali
Dan kembali hanyut dan larut
Dalam emosi jiwa bernama rindu
Dalam emosi jiwa berbentuk cinta
Dan terhanyut lagi dalam rasa bersalah
Entahlah ...
Mungkin beberapa temanku benar
Ia lelaki yang sangat kucinta
Sangat kupuja
Sangat kuinginkan
Hingga pembicaraanku selalu tentang dia
Kapanpun kami bertemu, tiap hujan turun
Aku cukup kuat kala jauh darinya
Aku cukup kuat kala tak melihatnya
Cukup kuat bila tak menatap wajahnya
Dan sekarang ....
Aku larut lagi, terhanyut lagi
Dan inginkan dia
Sebagai milikku!!!
Rasioku melemah ...
Emosiku menguat
Benci pun hilang
Amarah melebur
Dan cinta pun bersemi kembali!
Aku jatuh cinta padanya … lagi!!!!
Larut dalamnya, hilang bersamanya.
Kali ini entahlah ...
Apa aku cukup kuat menentang arus ataukah memilih diam kembali ...
Aku masih sangat mencintainya .... (ternyata)!!!
Masih tetap menginginkannya!!!
Entahlah ....
Dua tahun bukan waktu yang cepat ...
Dua tahun bukan waktu yang mudah ...
Kala air mata dan rindu bercampur aduk
Sakit hati dan kecewa berpadu erat
Benci dan cinta begitu tipis
Dan air mata menjadi penghubung kami
Aku mencintai lelaki ini
Sangat mencintainya
Dia yang menorehkan luka di hatiku
Yang paling banyak membuatku menangis dan kecewa
Yang membuatku paling banyak bersedih tapi juga tertawa
Aku mencintainya!
Sangat mencintainya ...
Lelaki Hujan-ku ...
(four-seasons’s room, 290810)
Monday, 30 August 2010
Wednesday, 25 August 2010
Picked by God's hands
Malam ini usai browsing internet dan mendapatkan banyak kabar baik yang penuh gelak tawa via e-mail hingga berita tentang tawaran pekerjaan, aku memutuskan menulis kembali.
Hari ini pada sebuah subuh menjelang tanggal 25 Agustus 2010, satu hari usai ulang tahun seseorang di masa lalu yang masih kukenang, aku memutuskan menulis kembali sebagai sebuah bentuk terapi bagi jiwa.
Malam ini sambil nongkrong di sebuah warnet berfasilitas wi-fi di sudut kota kelahiranku, aku memerhatikan perubahan emosiku. Awalnya sempat agak tak nyaman karena sadar bahwa jam onlineku bersamaan dengan waktu pemutaran serial ‘True Blood’ di HBO yang tentu saja pada season 3 ini mulai tegang ^_^ Tapi akhirnya dengan meleburkan diriku di dunia maya, aku pun mulai menikmati ‘peradaban’
Kegiatan pengunduhan data berjalan dengan lancar, begitupun dengan acara buka – buka e-mail walau sempat kuisi dengan tertawa terbahak – bahak selama 20 menitan hingga menjadi bahan tontonan beberapa orang yang juga sedang online di luar areal warnet. Tak bisa menahan ketawa saat membaca e-mail lucu yang dikirimkan seorang teman tentang Indonesia dan hal – hal ajaib yang ada di negara ini. Benar – benar ajaib!!!
Malam ini ada hal penting lainnya yang terjadi selain melihat para bintara polisi muda sibuk online di dekat tempat dudukku sambil sibuk membahas berita yang tak penting. Ternyata mereka aktif di dunia maya bukan untuk mencari informasi yang mungkin dapat membantu pekerjaan pelayanan mereka pada masyarakat tetapi sibuk berjudi online lewat acara bermain poker dan juga sejenis permainan lainnya. Mulai dari sibuk berbicara tentang teknik mencuri poin dan juga trik sejenis, tak lupa dari gerak – gerik mereka seperti membuka situs – situs berbau syahwat. Lagi – lagi aku gagal mengerem pikiranku untuk tidak menghakimi. Tentu saja masih juga membaurkan aroma rokok kemana – mama hingga seseorang yang duduk berdekatan denganku kutegur secara halus dengan batukku akibat aku mulai merasa sedikit sesak nafas diterpa aroma kereta api. Mereka tentu saja bukan lagi para bintara polisi yang bermodal cekak karena 3 atau 4 orang anggota itu datang dengan membawa mobil pribadi berpelat hitam. Aku bahkan mengetahui nama mereka semua karena akun Facebook mereka terlalu mudah dibuka bahkan untuk yang tak bisa menghack sekalipun; wajah – wajah mereka cukup familiar bagiku.
Aku mulai mengalami kemunduran ingatan; terbukti dari tulisanku yang mulai melompat lintas topik :D
Hal penting yang sebenarnya hendak kubahas adalah tulisan di blognya Joel Osteen Ministry. Di salah satu catatannya di bulan ini ia membahas tentang Daud dan bagaimana Daud memegang janji Tuhan. Judulnya kalau tak salah ”picked by God’s hands” alias dipilih secara langsung oleh Tuhan. Aku sempat terkesima saat membaca renungan ini karna menjadi pergumulanku selama sebulan tinggal di kota kelahiranku. Salah satu perkataan yang kudapat adalah apabila Tuhanlah yang memilih maka tak ada yang mustahil plus kita harus percaya bahwa Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita dan tak bisa ditawar. Aku sampai merasa bahwa ini yang kubutuhkan. Sangat kubutuhkan.
Sebulan ini usai kembali ke kota kelahiranku, aku merasa terjadi kemunduran rohani yang kupunya. Jam doaku berkurang, roh kemalasan seakan memegangku dengan erat, belum lagi fisikku yang sering melemah. Belum lagi kecenderungan untuk marah dan memaki yang masih sulit kukontrol. Aku merasa sewaktu masih kuliah kemarin, aku masih bisa mengontrol diriku tapi akhir – akhir ini, aku kerap menghakimi dan memaki serta melontarkan sampah emosiku kemana – mana dan juga bergosip yang gencar. Benar – benar membuat sedih hati Tuhan; ini pemikiran pribadiku. Jujur, sedikit malu untuk datang dan bicara pada Yesus.
Aku merindukan masa – masa tinggal jauh dari rumah dan menjadikan Tuhan sebagai teman curhat dan sandaran cerita. Benar – benar rindu masa itu
Pulang dari warnet pun disambut dua berita pekerjaan. Mulai dari pembicaraan kursus untuk sepupuku yang ternyata dimulai besok dari rencana semula yang akan diadakan minggu depan. Hingga sebuah berita yang cukup membuatku sedikit tak sejahtera dan sempat membuat nada bicaraku naik. Sebuah tawaran pekerjaan yang mungkin bagi banyak orang sebagai ’one ticket to heaven’ tapi bagiku bukan pilihan hidup dan juga bukan sesuatu yang ’wah’. Bagiku semua pekerjaan sama saja dan bagiku label PNS bukan sebuah benda mewah. Aku mungkin idealis tapi itu pilihanku. Aku cukup pragmatis untuk masalah ini, maksudku tawaran ini. Aku akan melobi dan bertanya seberapa besar kemampuan mereka membayarku plus juga aturan pekerjaannya seperti apa. Bagiku, mereka yang membutuhkan tenagaku dan bukan sebaliknya. Aku mau berjalan dengan caraku dan bukan cara mereka. Aku sudah menyiapkan bentuk penawaran dan negosiasi termasuk ancar – ancar harga ^___^ Untuk urusan kerjaan yang tak perlu pakai hati, aku cukup kejam :D Tapi karena ini masih melibatkan urusan kekeluargaan, aku akan berusaha sebaik mungkin bermain ’halus’ dan tak menyakiti siapapun, jadi tawaran yang kutawarkan adalah sebisa mungkin ”win – win solutions”.
Satu yang pasti, besok aku mau mencoba untuk mengerem amarahku karena hari ini aku sempat meledak beberapa kali. Mulai dari menegur mahasiswa yang berisik di luar kelas yang kuajar, menegur dan hampir terlibat ’baku pukul’ dengan beberapa cowok di pinggiran jalan dekat pertandingan basket hingga menegur dengan setengah membentak pada 2 remaja perempuan yang bercanda dengan melempar sendal jepit yang hampir mendarat di tubuhku saat lagi duduk nongkrong online dan memangku notebookku di areal lesehan. Benar – benar butuh pengelolaan amarah!!!
Aku berharap aku baik – baik saja dalam minggu ini dan tidak menjadi ’Ebenhaezer Scrooge’. Aku tahu aku sedang mendukakan hati Tuhan dengan kelakuanku yang lepas kontrol selama sebulan. Aku hanya berharap bisa menjadi manusia yang lebih baik besok. Semoga ....
(Tanah Papua, 250810)
Hari ini pada sebuah subuh menjelang tanggal 25 Agustus 2010, satu hari usai ulang tahun seseorang di masa lalu yang masih kukenang, aku memutuskan menulis kembali sebagai sebuah bentuk terapi bagi jiwa.
Malam ini sambil nongkrong di sebuah warnet berfasilitas wi-fi di sudut kota kelahiranku, aku memerhatikan perubahan emosiku. Awalnya sempat agak tak nyaman karena sadar bahwa jam onlineku bersamaan dengan waktu pemutaran serial ‘True Blood’ di HBO yang tentu saja pada season 3 ini mulai tegang ^_^ Tapi akhirnya dengan meleburkan diriku di dunia maya, aku pun mulai menikmati ‘peradaban’
Kegiatan pengunduhan data berjalan dengan lancar, begitupun dengan acara buka – buka e-mail walau sempat kuisi dengan tertawa terbahak – bahak selama 20 menitan hingga menjadi bahan tontonan beberapa orang yang juga sedang online di luar areal warnet. Tak bisa menahan ketawa saat membaca e-mail lucu yang dikirimkan seorang teman tentang Indonesia dan hal – hal ajaib yang ada di negara ini. Benar – benar ajaib!!!
Malam ini ada hal penting lainnya yang terjadi selain melihat para bintara polisi muda sibuk online di dekat tempat dudukku sambil sibuk membahas berita yang tak penting. Ternyata mereka aktif di dunia maya bukan untuk mencari informasi yang mungkin dapat membantu pekerjaan pelayanan mereka pada masyarakat tetapi sibuk berjudi online lewat acara bermain poker dan juga sejenis permainan lainnya. Mulai dari sibuk berbicara tentang teknik mencuri poin dan juga trik sejenis, tak lupa dari gerak – gerik mereka seperti membuka situs – situs berbau syahwat. Lagi – lagi aku gagal mengerem pikiranku untuk tidak menghakimi. Tentu saja masih juga membaurkan aroma rokok kemana – mama hingga seseorang yang duduk berdekatan denganku kutegur secara halus dengan batukku akibat aku mulai merasa sedikit sesak nafas diterpa aroma kereta api. Mereka tentu saja bukan lagi para bintara polisi yang bermodal cekak karena 3 atau 4 orang anggota itu datang dengan membawa mobil pribadi berpelat hitam. Aku bahkan mengetahui nama mereka semua karena akun Facebook mereka terlalu mudah dibuka bahkan untuk yang tak bisa menghack sekalipun; wajah – wajah mereka cukup familiar bagiku.
Aku mulai mengalami kemunduran ingatan; terbukti dari tulisanku yang mulai melompat lintas topik :D
Hal penting yang sebenarnya hendak kubahas adalah tulisan di blognya Joel Osteen Ministry. Di salah satu catatannya di bulan ini ia membahas tentang Daud dan bagaimana Daud memegang janji Tuhan. Judulnya kalau tak salah ”picked by God’s hands” alias dipilih secara langsung oleh Tuhan. Aku sempat terkesima saat membaca renungan ini karna menjadi pergumulanku selama sebulan tinggal di kota kelahiranku. Salah satu perkataan yang kudapat adalah apabila Tuhanlah yang memilih maka tak ada yang mustahil plus kita harus percaya bahwa Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita dan tak bisa ditawar. Aku sampai merasa bahwa ini yang kubutuhkan. Sangat kubutuhkan.
Sebulan ini usai kembali ke kota kelahiranku, aku merasa terjadi kemunduran rohani yang kupunya. Jam doaku berkurang, roh kemalasan seakan memegangku dengan erat, belum lagi fisikku yang sering melemah. Belum lagi kecenderungan untuk marah dan memaki yang masih sulit kukontrol. Aku merasa sewaktu masih kuliah kemarin, aku masih bisa mengontrol diriku tapi akhir – akhir ini, aku kerap menghakimi dan memaki serta melontarkan sampah emosiku kemana – mana dan juga bergosip yang gencar. Benar – benar membuat sedih hati Tuhan; ini pemikiran pribadiku. Jujur, sedikit malu untuk datang dan bicara pada Yesus.
Aku merindukan masa – masa tinggal jauh dari rumah dan menjadikan Tuhan sebagai teman curhat dan sandaran cerita. Benar – benar rindu masa itu
Pulang dari warnet pun disambut dua berita pekerjaan. Mulai dari pembicaraan kursus untuk sepupuku yang ternyata dimulai besok dari rencana semula yang akan diadakan minggu depan. Hingga sebuah berita yang cukup membuatku sedikit tak sejahtera dan sempat membuat nada bicaraku naik. Sebuah tawaran pekerjaan yang mungkin bagi banyak orang sebagai ’one ticket to heaven’ tapi bagiku bukan pilihan hidup dan juga bukan sesuatu yang ’wah’. Bagiku semua pekerjaan sama saja dan bagiku label PNS bukan sebuah benda mewah. Aku mungkin idealis tapi itu pilihanku. Aku cukup pragmatis untuk masalah ini, maksudku tawaran ini. Aku akan melobi dan bertanya seberapa besar kemampuan mereka membayarku plus juga aturan pekerjaannya seperti apa. Bagiku, mereka yang membutuhkan tenagaku dan bukan sebaliknya. Aku mau berjalan dengan caraku dan bukan cara mereka. Aku sudah menyiapkan bentuk penawaran dan negosiasi termasuk ancar – ancar harga ^___^ Untuk urusan kerjaan yang tak perlu pakai hati, aku cukup kejam :D Tapi karena ini masih melibatkan urusan kekeluargaan, aku akan berusaha sebaik mungkin bermain ’halus’ dan tak menyakiti siapapun, jadi tawaran yang kutawarkan adalah sebisa mungkin ”win – win solutions”.
Satu yang pasti, besok aku mau mencoba untuk mengerem amarahku karena hari ini aku sempat meledak beberapa kali. Mulai dari menegur mahasiswa yang berisik di luar kelas yang kuajar, menegur dan hampir terlibat ’baku pukul’ dengan beberapa cowok di pinggiran jalan dekat pertandingan basket hingga menegur dengan setengah membentak pada 2 remaja perempuan yang bercanda dengan melempar sendal jepit yang hampir mendarat di tubuhku saat lagi duduk nongkrong online dan memangku notebookku di areal lesehan. Benar – benar butuh pengelolaan amarah!!!
Aku berharap aku baik – baik saja dalam minggu ini dan tidak menjadi ’Ebenhaezer Scrooge’. Aku tahu aku sedang mendukakan hati Tuhan dengan kelakuanku yang lepas kontrol selama sebulan. Aku hanya berharap bisa menjadi manusia yang lebih baik besok. Semoga ....
(Tanah Papua, 250810)
Tuesday, 24 August 2010
Catatan rindu 2
Dinding empat musimku menorehkan wajahmu
Kala daun Maple tak lagi ada
Dan kicau Magpie berganti bising deru sepeda motor
Memaksaku tidur
Ketika langkah kakiku tak lagi menyentuh frost yang mencair,
Pun langit biru tak lagi nyata dan terasa dekat.
Oak dan Poplar pun menyingkir, berganti nangka dan Mangga,
Dan aku menunggumu.
Aku jatuh cinta,
Kala hujan turun.
Aku merindukanmu
Seiring tetesan hujan yang turun.
Tak peduli kata orang
Jatuh cinta hanya butuh kesiapan diri
Tak peduli penjelasan
Tak ada perlu mendapat penjelasan
Tak ada lagi semburat jingga merobek langit pagi
Tak ada lagi uap air yang membeku
Tak ada lagi terpaan angin dingin dan pemanas rungan
Tak ada lagi derak sepatu boot berkejaran
Hidup cuma sekali
dan maafkan aku
karena
terlanjur menitipkan hatiku
untuk seseorang sepertimu!!!
Cinta bukan sekedar jalinan kulit dan rasa
Cinta bukan sekedar ungkapan ’I love You’
Cinta bukan sekedar pelukan dan kecupan
Aku merindukanmu!!!
Bukan kehadiran fisikmu, bukan fisik pun finansial.
Merindukan diskusi impian kita
Berbagi mimpi, menjadi pemimpi, pengejar mimpi!!!
Diskusi – diskusi terdalam yang pernah kubuat.
Aku belajar banyak darimu.
Kau ajarkan aku banyak hal yang tak perlu diungkapkan banyak kata; action speak louder than words.
Kau tahu,
Kau membuatku percaya bahwa di luar sana ada lelaki yang dapat menghargai perempuan dan memberikan sayap pada perempuan untuk terbang dan melayang;
Lelaki yang menghargai dirinya dan percaya bahwa impian dapat diraih dengan kerja keras dan semangat hidup.
Kau tahu,
Aku mencintai semangat dan mimpi – mimpimu.
Kau tahu,
Aku mencintai dirimu yang mencintai petualangan dan menjadikan hidup begitu indah.
Maafkan aku karena menemukan seseorang yang kucari di dalam dirimu,
Maafkan aku karena menemukan pribadi yang kuinginkan di dalammu,
Maafkan aku karena menemukan kehangatan seorang sahabat pun saudara di dalam pelukanmu,
Maafkan aku karena menemukan sikapmu yang tegas.
Maafkan aku karena mengagumi semangatmu akan tanah kelahiranku..
Kau tahu,
Aku mencintai pribadi dan semangatmu.
Aku tak akan menunggu pun berharap lebih.
Tak akan juga bermimpi kau kan jadi milikku.
Aku hanya ingin mencintaimu dengan cara ini,
Memandangmu dari jauh dan mendoakanmu
Untuk impian – impianmu, untuk semangatmu,
Untuk kehidupanmu.
Terima kasih untuk percaya padaku,
Menyemangatiku bahwa aku bisa,
Untuk percaya dan bilang,
”You are bold and strong woman and full of visions”
Aku akan tetap hidup untuk impian – impianku seperti yang pernah kukatakan.
Akan tetap bertahan.
Aku akan tetap menunggu ....
Untuk seseorang sepertimu ...
Ya, untuk seseorang sepertimu ...
The bottom line is ”I love You”
(Tanah Papua, 18 Agustus 2010)
Kala daun Maple tak lagi ada
Dan kicau Magpie berganti bising deru sepeda motor
Memaksaku tidur
Ketika langkah kakiku tak lagi menyentuh frost yang mencair,
Pun langit biru tak lagi nyata dan terasa dekat.
Oak dan Poplar pun menyingkir, berganti nangka dan Mangga,
Dan aku menunggumu.
Aku jatuh cinta,
Kala hujan turun.
Aku merindukanmu
Seiring tetesan hujan yang turun.
Tak peduli kata orang
Jatuh cinta hanya butuh kesiapan diri
Tak peduli penjelasan
Tak ada perlu mendapat penjelasan
Tak ada lagi semburat jingga merobek langit pagi
Tak ada lagi uap air yang membeku
Tak ada lagi terpaan angin dingin dan pemanas rungan
Tak ada lagi derak sepatu boot berkejaran
Hidup cuma sekali
dan maafkan aku
karena
terlanjur menitipkan hatiku
untuk seseorang sepertimu!!!
Cinta bukan sekedar jalinan kulit dan rasa
Cinta bukan sekedar ungkapan ’I love You’
Cinta bukan sekedar pelukan dan kecupan
Aku merindukanmu!!!
Bukan kehadiran fisikmu, bukan fisik pun finansial.
Merindukan diskusi impian kita
Berbagi mimpi, menjadi pemimpi, pengejar mimpi!!!
Diskusi – diskusi terdalam yang pernah kubuat.
Aku belajar banyak darimu.
Kau ajarkan aku banyak hal yang tak perlu diungkapkan banyak kata; action speak louder than words.
Kau tahu,
Kau membuatku percaya bahwa di luar sana ada lelaki yang dapat menghargai perempuan dan memberikan sayap pada perempuan untuk terbang dan melayang;
Lelaki yang menghargai dirinya dan percaya bahwa impian dapat diraih dengan kerja keras dan semangat hidup.
Kau tahu,
Aku mencintai semangat dan mimpi – mimpimu.
Kau tahu,
Aku mencintai dirimu yang mencintai petualangan dan menjadikan hidup begitu indah.
Maafkan aku karena menemukan seseorang yang kucari di dalam dirimu,
Maafkan aku karena menemukan pribadi yang kuinginkan di dalammu,
Maafkan aku karena menemukan kehangatan seorang sahabat pun saudara di dalam pelukanmu,
Maafkan aku karena menemukan sikapmu yang tegas.
Maafkan aku karena mengagumi semangatmu akan tanah kelahiranku..
Kau tahu,
Aku mencintai pribadi dan semangatmu.
Aku tak akan menunggu pun berharap lebih.
Tak akan juga bermimpi kau kan jadi milikku.
Aku hanya ingin mencintaimu dengan cara ini,
Memandangmu dari jauh dan mendoakanmu
Untuk impian – impianmu, untuk semangatmu,
Untuk kehidupanmu.
Terima kasih untuk percaya padaku,
Menyemangatiku bahwa aku bisa,
Untuk percaya dan bilang,
”You are bold and strong woman and full of visions”
Aku akan tetap hidup untuk impian – impianku seperti yang pernah kukatakan.
Akan tetap bertahan.
Aku akan tetap menunggu ....
Untuk seseorang sepertimu ...
Ya, untuk seseorang sepertimu ...
The bottom line is ”I love You”
(Tanah Papua, 18 Agustus 2010)
Catatan rindu
Pernahkah kau titip hati pada sepotong waktu?
Aku pernah!
Aku jatuh cinta!
Terhanyut dan tenggelam.
Kali ini tak lagi panas dan membara.
Tidak juga dingin pun hangat.
Tapi ada cinta di sana.
Diam dan tenang.
Menunggu datangnya hujan atau musim semi.
Kutitipkan hatiku padanya
Diam – diam!!!
Ia pun tak tahu.
Kusisipkan hatiku di ranting – ranting blackberry,
Dalam kabut dan hujan,
Pada deretan pinus dan Old Tuxion road,
Pada bentangan langit biru,
Pada padang rumput hijau bertabur bunga,
Pada rerumputan dan bunga liar.
Kutinggalkan hatiku terserak ...
Di bentangan jalur tram yang membelah Melbourne,
Di kedai – kedai kopi,
Di lorong – lorong Southern Cross,
Di sebuah kedai makan di ChinaTown
Pun pada segelas bir di sebuah bar.
Pernahkah kau titip hati pada sepotong pelukan hangat?
Aku pernah!!!
Pernahkah kesedihan dan ketakutanmu terganti oleh sebuah pelukan hangat?
Aku pernah dan percaya kekuatan pelukan di saat yang tepat. Terima kasih karena berbagi sebuah pelukan yang kubutuhkan walau tak pernah kupikirkan.
Sangat hangat dan menenangkan!!!
Kutinggalkan hatiku, kusisipkan hatiku,
Entah kapan akan bersemi.
Aku tak peduli!!!
Satu yang pasti ...
Aku merindukanmu!!!
(Tanah Papua, 18 Agustus 2010)
Aku pernah!
Aku jatuh cinta!
Terhanyut dan tenggelam.
Kali ini tak lagi panas dan membara.
Tidak juga dingin pun hangat.
Tapi ada cinta di sana.
Diam dan tenang.
Menunggu datangnya hujan atau musim semi.
Kutitipkan hatiku padanya
Diam – diam!!!
Ia pun tak tahu.
Kusisipkan hatiku di ranting – ranting blackberry,
Dalam kabut dan hujan,
Pada deretan pinus dan Old Tuxion road,
Pada bentangan langit biru,
Pada padang rumput hijau bertabur bunga,
Pada rerumputan dan bunga liar.
Kutinggalkan hatiku terserak ...
Di bentangan jalur tram yang membelah Melbourne,
Di kedai – kedai kopi,
Di lorong – lorong Southern Cross,
Di sebuah kedai makan di ChinaTown
Pun pada segelas bir di sebuah bar.
Pernahkah kau titip hati pada sepotong pelukan hangat?
Aku pernah!!!
Pernahkah kesedihan dan ketakutanmu terganti oleh sebuah pelukan hangat?
Aku pernah dan percaya kekuatan pelukan di saat yang tepat. Terima kasih karena berbagi sebuah pelukan yang kubutuhkan walau tak pernah kupikirkan.
Sangat hangat dan menenangkan!!!
Kutinggalkan hatiku, kusisipkan hatiku,
Entah kapan akan bersemi.
Aku tak peduli!!!
Satu yang pasti ...
Aku merindukanmu!!!
(Tanah Papua, 18 Agustus 2010)
The freedom is in you
Hari ini kembali lagi aku menulis sebuah catatan tentang refleksi mengenai kemerdekaan di saat peringatan hari kemerdekaan negara ini 17 Agustus 1945; hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Catatan kali ini mungkin sekedar uneg – uneg pribadi yang telah mengendap sekian lama dan mungkin merupakan kelanjutan dari catatan di bulan yang sama setahun lalu tentang hal yang sama.
Hari ini perayaan kemerdekaan Indonesia diperingati dan aku sedikit pesimis tentang apa memang negara bernama resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia benar – benar telah merdeka. Tentu saja ini terlepas dari insiden pengibaran bendera Merah Putih yang terbalik di lapangan Borarsi tadi pagi pun bukan juga karna aku berasal dari Papua jadi nada bicaraku sedikit sinis dengan kata ’merdeka’ tapi aku ingin berdiri pada sebuah titik di mana aku ingin lebih bisa melihat dengan jelas apa memang kemerdekaan merupakan suatu pencapaian yang telah dicapai negara ini khususnya penduduk negara ini apalagi pemegang KTP negara ini.
Sejarah pendirian negara ini sendiri penuh dengan ironi; pendapat pribadi. Menurut para pendiri bangsa Indonesia, bangsa ini dideklarasikan oleh Sukarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan beberapa pengikut mereka di sebuah tempat di pulau Jawa. Akan tetapi di luar negeri khususnya di negera – negara berbasis Anglo Saxon, termasuk yang kubaca di sebuah museum di Australia bahwa negara ini baru merdeka tahun 1949 usai penandatanganan serah terima seluruh wilayah Indonesia kecuali Papua Barat (West Papua). Orang Indonesia boleh bersikukuh dengan pendapat kemerdekaan mereka begitu juga dengan pendapat negara lain. Alasan yang sering dikemukakan oleh para nasionalis Indonesia adalah bahwa mereka yang lebih tahu tentang negara mereka dan merekalah yang mendeklarasikan kemerdekaan mereka. Pada titik ini, kadang aku tersenyum. Bagiku, kalau alasannya hanya seperti itu maka apa bedanya dengan deklarasi kemerdekaan Papua Barat (West Papua) pada tahun 1961? Bagiku kemerdekaan pada tahun 1945 dan juga 1961 kedudukannya sama. Yang berbeda hanyalah peran geopolitik kedua ’negara’ itu dan dukungan dari negara lain yang timbul karna pengaruh peran geopolitik itu.
Kembali pada kemerdekaan itu sendiri, secara pribadi menurutku bangsa Indonesia masih berada dalam mental negara terjajah dan belum merdeka secara utuh bahkan bisa kukatakan hanya berkedok telah ’merdeka’. Negara ini masih hidup dari utang luar negeri. Dana pembangunan terbesarnya saja masih merupakan bantuan luar negeri yang didapatkan dari pajak warga negara lain yang notabene negara – negara tersebut malah sering dimaki – maki oleh penduduk negara ini, misalnya saja Australia adalah negara luar terbesar yang menyumbangkan dana pembangunan bagi Indonesia. Sedangkan negara – negara yang kerap dipuja oleh mayoritas rakyat Indonesia di bagian barat negara ini (apalagi bila membaca surat kabar online dan membaca komentar – komentar tentang negara – negara ini) seperti Iran, Palestina dan negara – negara Arab tak sedikit pun ada bantuan signifikan bagi pembangunan negara ini.
Kemerdekaan sebagai sebuah negara berasas demokrasi juga tak ada di negara ini karena memang negara ini tak punya tradisi berdemokrasi. Pemerintahan yang dijalankan tak lebih dari bentuk modern kerajaan Mataram kuno alias pemerintahan Jawa yang berganti kedok. Mulai dari aturan tak tertulis bahwa presiden negara ini yang harus dari suku dan agama tertentu hingga sistem pemerintahan yang berjalan dengan falsafah etnis tertentu. Tak heran perkembangan negara ini tak pernah bisa pada era tinggal landas tapi hanya pada era ”tinggal takandas”. Sikap pemimpin negara juga seakan mengejewantahkan pribadi dan karakter pemimpin Mataram Kuno dimana pencitraan dan juga keluarganya mendapatkan keistimewaan (priviledge) padahal di dalam negara demokrasi seharusnya menjunjung tinggi paham bahwa kedudukan semua warga negara setara. Contoh kasus yang bisa dilihat beberapa bulan lalu adalah sikap pengawalan pemimpin negara dan keluarganya yang berlebihan dan menunjukan arogansi. Bukankah lebih bijak dalam kasus itu bahwa pemimpin negara yang pro rakyat seharusnya memanfaatkan fasilitas negara dan tak merepotkan kehidupan banyak rakyatnya apalagi sampai memboroskan uang negara untuk hal kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah (baca: penggunaan helikopter sebagai solusi transportasi).
Negara ini belum merdeka penuh juga tercermin dari penanganan masalah negara ini yang mana negeri kita terbombardir dengan sejumlah kasus korupsi yang tak pernah selesai. Mulai dari kasus bank Century yang menguap dengan cepat dan tertutupi oleh sejumlah kasus – kasus moral tak penting. Yang makin membuat miris, para politikus negara ini juga seakan memainkan dagelan politik dan sengaja membodohkan diri untuk tidak peduli dan terus saja membiarkan uang negara yang notabene utang luar negeri dipindahkan ke dalam kantong – kantong pribadi. Padahal utang – utang luar negeri itu harus dibayarkan oleh para pembayar pajak dan juga beberapa daerah di negara ini lewat SDA mereka yang diperas tanpa ampun. Jadi secara otomatis dengan membiarkan adanya korupsi dalam skala apapun maka berkontribusi pada kemiskinan masyarakat sendiri.
Sikap mental sebagai bangsa terjajah juga bisa dilihat dari dunia hiburan di negara ini. Mulai dari sinetron yang mengusung dan mengagungkan para manusia berkulit terang dan bertampang Kaukasia alias keturunan Eropa hingga pelabelan manusia berkulit berbeda sebagai bahan lelucon. Mental jajahan ini tercermin karena bangsa ini masih tidak dapat menerima diri mereka sendiri dan menganggap bahwa ras dan bangsa lain lebih superior dari diri mereka. Kalau memang kita sudah ’merdeka’ secara psikologis, bukanlah tak perlu malu lagi menampilkan para bintang sinetron berkulit gelap dan berhidung pesek ataupun bermata sipit di layar kaca khususnya di sinetron pada slot acara prime time dan bukannya mereka yang berkulit gelap hanya menempati ’warga kelas rendahan’ sebagai penghibur ataupun pembokat ataupun sebagai ’jongos’. Tapi mungkin memang mental ’inlander’ masih erat melekat pada konsep dunia hiburan kita.
Kita juga belum merdeka didalam menentukan apa yang nyata dan apa yang tak nyata, karna masalah nyata di depan mata kita bagaikan dunia mimpi sedangkan khayalan tingkat tinggi menjadi kenyataan yang dijalani. Tabung – tabung gas yang meledak di sana – sini dan menyebabkan luka bakar dan kebakaran di mana – mana ibarat pupur bedak pelengkap pergi ke pasar dan bukan hal penting yang perlu dibicarakan berhari – hari dibandingkan kasus para artis pemeran adegan purba yang sebenarnya tak lebih dari pengantar acara ngopi sore hari hari. Para petinggi berebutan mendeskripsikan moral dan apa yang benar pun salah tanpa sadar bahwa sekian meter dari tempat mereka berpijak dan menentukan ’kebenaran’, ada anak – anak kelaparan yang tak bisa menunggu lama untuk dibela. Sebuah pemandangan miris di sebuah bumi bernama Indonesia.
Sudah saatnya berpikir apa memang kita benar – benar ’merdeka’? Ataukah hanya berkedok sudah ’merdeka’?
Di mana ketahahan pangan kita yang disubsidi dari dalam negeri sendiri?
Mungkin gemah ripah loh jinawi masih jauh dari negara ini kala tiap individu masih kebingungan mengais makna ’kemerdekaan’.
Satu yang pasti, aku percaya bila tiap orang melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan menerima haknya, maka kelak gemah ripah loh jinawi ada di negara ini tapi mungkin masih sangat jauh dari saat ini.
Kemerdekaan bukan pemberian orang lain dan bukan bagaimana orang lain melabel diri kita sendiri.
The freedom is in you!!!
What the essence of being free and independent? The answer is in you.
(Tanah Papua, 17 Agustus 2010)
Hari ini perayaan kemerdekaan Indonesia diperingati dan aku sedikit pesimis tentang apa memang negara bernama resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia benar – benar telah merdeka. Tentu saja ini terlepas dari insiden pengibaran bendera Merah Putih yang terbalik di lapangan Borarsi tadi pagi pun bukan juga karna aku berasal dari Papua jadi nada bicaraku sedikit sinis dengan kata ’merdeka’ tapi aku ingin berdiri pada sebuah titik di mana aku ingin lebih bisa melihat dengan jelas apa memang kemerdekaan merupakan suatu pencapaian yang telah dicapai negara ini khususnya penduduk negara ini apalagi pemegang KTP negara ini.
Sejarah pendirian negara ini sendiri penuh dengan ironi; pendapat pribadi. Menurut para pendiri bangsa Indonesia, bangsa ini dideklarasikan oleh Sukarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan beberapa pengikut mereka di sebuah tempat di pulau Jawa. Akan tetapi di luar negeri khususnya di negera – negara berbasis Anglo Saxon, termasuk yang kubaca di sebuah museum di Australia bahwa negara ini baru merdeka tahun 1949 usai penandatanganan serah terima seluruh wilayah Indonesia kecuali Papua Barat (West Papua). Orang Indonesia boleh bersikukuh dengan pendapat kemerdekaan mereka begitu juga dengan pendapat negara lain. Alasan yang sering dikemukakan oleh para nasionalis Indonesia adalah bahwa mereka yang lebih tahu tentang negara mereka dan merekalah yang mendeklarasikan kemerdekaan mereka. Pada titik ini, kadang aku tersenyum. Bagiku, kalau alasannya hanya seperti itu maka apa bedanya dengan deklarasi kemerdekaan Papua Barat (West Papua) pada tahun 1961? Bagiku kemerdekaan pada tahun 1945 dan juga 1961 kedudukannya sama. Yang berbeda hanyalah peran geopolitik kedua ’negara’ itu dan dukungan dari negara lain yang timbul karna pengaruh peran geopolitik itu.
Kembali pada kemerdekaan itu sendiri, secara pribadi menurutku bangsa Indonesia masih berada dalam mental negara terjajah dan belum merdeka secara utuh bahkan bisa kukatakan hanya berkedok telah ’merdeka’. Negara ini masih hidup dari utang luar negeri. Dana pembangunan terbesarnya saja masih merupakan bantuan luar negeri yang didapatkan dari pajak warga negara lain yang notabene negara – negara tersebut malah sering dimaki – maki oleh penduduk negara ini, misalnya saja Australia adalah negara luar terbesar yang menyumbangkan dana pembangunan bagi Indonesia. Sedangkan negara – negara yang kerap dipuja oleh mayoritas rakyat Indonesia di bagian barat negara ini (apalagi bila membaca surat kabar online dan membaca komentar – komentar tentang negara – negara ini) seperti Iran, Palestina dan negara – negara Arab tak sedikit pun ada bantuan signifikan bagi pembangunan negara ini.
Kemerdekaan sebagai sebuah negara berasas demokrasi juga tak ada di negara ini karena memang negara ini tak punya tradisi berdemokrasi. Pemerintahan yang dijalankan tak lebih dari bentuk modern kerajaan Mataram kuno alias pemerintahan Jawa yang berganti kedok. Mulai dari aturan tak tertulis bahwa presiden negara ini yang harus dari suku dan agama tertentu hingga sistem pemerintahan yang berjalan dengan falsafah etnis tertentu. Tak heran perkembangan negara ini tak pernah bisa pada era tinggal landas tapi hanya pada era ”tinggal takandas”. Sikap pemimpin negara juga seakan mengejewantahkan pribadi dan karakter pemimpin Mataram Kuno dimana pencitraan dan juga keluarganya mendapatkan keistimewaan (priviledge) padahal di dalam negara demokrasi seharusnya menjunjung tinggi paham bahwa kedudukan semua warga negara setara. Contoh kasus yang bisa dilihat beberapa bulan lalu adalah sikap pengawalan pemimpin negara dan keluarganya yang berlebihan dan menunjukan arogansi. Bukankah lebih bijak dalam kasus itu bahwa pemimpin negara yang pro rakyat seharusnya memanfaatkan fasilitas negara dan tak merepotkan kehidupan banyak rakyatnya apalagi sampai memboroskan uang negara untuk hal kecil yang bisa diselesaikan dengan mudah (baca: penggunaan helikopter sebagai solusi transportasi).
Negara ini belum merdeka penuh juga tercermin dari penanganan masalah negara ini yang mana negeri kita terbombardir dengan sejumlah kasus korupsi yang tak pernah selesai. Mulai dari kasus bank Century yang menguap dengan cepat dan tertutupi oleh sejumlah kasus – kasus moral tak penting. Yang makin membuat miris, para politikus negara ini juga seakan memainkan dagelan politik dan sengaja membodohkan diri untuk tidak peduli dan terus saja membiarkan uang negara yang notabene utang luar negeri dipindahkan ke dalam kantong – kantong pribadi. Padahal utang – utang luar negeri itu harus dibayarkan oleh para pembayar pajak dan juga beberapa daerah di negara ini lewat SDA mereka yang diperas tanpa ampun. Jadi secara otomatis dengan membiarkan adanya korupsi dalam skala apapun maka berkontribusi pada kemiskinan masyarakat sendiri.
Sikap mental sebagai bangsa terjajah juga bisa dilihat dari dunia hiburan di negara ini. Mulai dari sinetron yang mengusung dan mengagungkan para manusia berkulit terang dan bertampang Kaukasia alias keturunan Eropa hingga pelabelan manusia berkulit berbeda sebagai bahan lelucon. Mental jajahan ini tercermin karena bangsa ini masih tidak dapat menerima diri mereka sendiri dan menganggap bahwa ras dan bangsa lain lebih superior dari diri mereka. Kalau memang kita sudah ’merdeka’ secara psikologis, bukanlah tak perlu malu lagi menampilkan para bintang sinetron berkulit gelap dan berhidung pesek ataupun bermata sipit di layar kaca khususnya di sinetron pada slot acara prime time dan bukannya mereka yang berkulit gelap hanya menempati ’warga kelas rendahan’ sebagai penghibur ataupun pembokat ataupun sebagai ’jongos’. Tapi mungkin memang mental ’inlander’ masih erat melekat pada konsep dunia hiburan kita.
Kita juga belum merdeka didalam menentukan apa yang nyata dan apa yang tak nyata, karna masalah nyata di depan mata kita bagaikan dunia mimpi sedangkan khayalan tingkat tinggi menjadi kenyataan yang dijalani. Tabung – tabung gas yang meledak di sana – sini dan menyebabkan luka bakar dan kebakaran di mana – mana ibarat pupur bedak pelengkap pergi ke pasar dan bukan hal penting yang perlu dibicarakan berhari – hari dibandingkan kasus para artis pemeran adegan purba yang sebenarnya tak lebih dari pengantar acara ngopi sore hari hari. Para petinggi berebutan mendeskripsikan moral dan apa yang benar pun salah tanpa sadar bahwa sekian meter dari tempat mereka berpijak dan menentukan ’kebenaran’, ada anak – anak kelaparan yang tak bisa menunggu lama untuk dibela. Sebuah pemandangan miris di sebuah bumi bernama Indonesia.
Sudah saatnya berpikir apa memang kita benar – benar ’merdeka’? Ataukah hanya berkedok sudah ’merdeka’?
Di mana ketahahan pangan kita yang disubsidi dari dalam negeri sendiri?
Mungkin gemah ripah loh jinawi masih jauh dari negara ini kala tiap individu masih kebingungan mengais makna ’kemerdekaan’.
Satu yang pasti, aku percaya bila tiap orang melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan menerima haknya, maka kelak gemah ripah loh jinawi ada di negara ini tapi mungkin masih sangat jauh dari saat ini.
Kemerdekaan bukan pemberian orang lain dan bukan bagaimana orang lain melabel diri kita sendiri.
The freedom is in you!!!
What the essence of being free and independent? The answer is in you.
(Tanah Papua, 17 Agustus 2010)
Can't put into words
This is the time when I can’t close my eyes. Remembering the good time in Canberra. It’s my culture-shock moment in Manokwari. All I can say is I miss Canbee badly. Can’t put into words what I feel now. Can’t … really can’t.
There was once I’ve heard that you would realize the meaning of something after you lose it. Yeap. That’s what I feel now.
(Mnukwar, 240710)
There was once I’ve heard that you would realize the meaning of something after you lose it. Yeap. That’s what I feel now.
(Mnukwar, 240710)
I left my heart in Australia
Hujan pun turun dengan deras kala sebagian hatiku terbang dengan sukses ke benua di bagian selatan pulau ini. Ada yang hilang, ada yang pergi dan semuanya tak pernah sama lagi. Tak pernah sama. I left my heart in Australia.
Semua kenangan di sana seakan terbungkus rapi dalam kotak segel kaca yang tak bisa kuakses 2 hari ini aku mengalami euforia Manokwari, tak pernah sama dan malam ini kala hujan pun turun dan aku tergagap. Apakah aku benar – benar ingin pulang?
(@Noke’ Room, Manokwari, 23 Juli 2010)
Semua kenangan di sana seakan terbungkus rapi dalam kotak segel kaca yang tak bisa kuakses 2 hari ini aku mengalami euforia Manokwari, tak pernah sama dan malam ini kala hujan pun turun dan aku tergagap. Apakah aku benar – benar ingin pulang?
(@Noke’ Room, Manokwari, 23 Juli 2010)
Subscribe to:
Posts (Atom)