Malam ini baru saja usai menonton film India, yang menurutku film terbaik dari Shah Rukh Khan berjudul ‘my name is Khan’. Walaupun CDnya bajakan tapi tetap saja pesona Shah Rukh Khan tak pernah luntur dan sebagai pengagumnya, benar – benar puas menonton. Sejak SMP aku menjadi pengagum Shah Rukh Khan ^_^
Aku suka sekali moral yang ditawarkan film ini bahwa kita tidak bisa menilai orang lain dari agamanya apalagi memberikan label kepada seseorang dari agamanya. Sangat suka yang diajarkan oleh ibunya Risvan Khan (tokoh yang diperankan SRK) bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia; orang baik dan orang jahat. Film yang sangat menyentuh dan sangat layak dipakai dalam pelajaran toleransi dan pemahaman lintas budaya. Bagaimana Khan yang Muslim dan istrinya yang Hindu bersahabat dengan tetangga yang Kristen serta mempunyai ‘orang tua angkat’ Mama Jenny yang Kristen. Bagaimana Khan melaporkan seorang fundamentalis dari agamanya, dan juga tindakannya demi kemanusiaan (menyumbang ribuan dollar bagi charity Kristen dan membantu orang lain terlepas dari jubah agama). Two thumbs!!!!
Melihat film ini seakan aku dibawa dalam sebuah refleksi tentang hidup yang kulihat yang sedang terjadi di Indonesia, Papua, dan di mana – mana. Saat agama menjadi sesuatu yang dipertimbangkan, didebatkan dan bahkan dibela dengan kekerasan oleh para fundamentalis. Saat stereotip diberikan pada tiap agama dan saat mayoritas beragama X menggunakan kelebihan mayoritas mereka terhadap minoritas Y, maka kekacauan pun terjadi. Saat agama tak lagi berupa hubungan utama dengan pecipta tetapi lebih pada status sosial seseorang bersama – sama dengan manfaat dan mudarat dari jenis agama yang diadopsi.
Saat para fundamentalis yang tumbuh tanpa pemahaman lintas budaya tumbuh dan berkembang biak dan meracuni banyak orang, maka di sana munculah kekacauan. Tidak di India, Indonesia ataupun Timur Tengah, Amerika ataupun di Afrika, semuanya terjadi. Penyerang agama X menyerang agama Y, penyerang agama Y menyerang agama Z dan juga terjadi sebaliknya. Tak pernah berhenti dan herannya tak pernah belajar dari sejarah orang lain. Tak pernah mengerti bahwa yang dibutuhkan di dunia bukan sesuatu yang berbau kekerasan dan membela Tuhan, Tuhan tidak perlu dibela karna Ia maha kuasa. Yang dibutuhkan dalam dunia hanya pengertian dan saling memahami bahwa kemanusiaanlah yang membuat kita layak disebut sebagai manusia dan bukannya sejumlah kekerasan yang mengatasnamakan status mayoritas, kebenaran apalagi membawa nama Tuhan. Hidup cuma satu kali!!!
Ketika kekerasan menjadi sebuah jalan keluar maka yang ada hanyalah pertumpahan darah tanpa henti, tanpa akhir dan hanya memunculkan banyak darah baru yang tertumpah. Aku heran mengapa beberapa orang memilih hidup dengan menyimpan kebencian di hati bertahun – tahun, kebencian pada orang yang berbeda dengan mereka’ berbeda keyakinan/agama, ras, suku, status sosial, orientasi seksual dan lain – lain. Terlalu banyak kekacauan, perang dan teror muncul hanya karena ketidakinginan menerima perbedaan. Perbedaan bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan!!!
Andai saja orang – orang yang melihat perbedaan sebagai ancaman apalagi dari segi perbedaan agama berkaca pada banyaknya kisah kemanusiaan yang terkoyak hanya karena perbedaan agama di belahan dunia.
Tapi aku percaya, suatu hari nanti, kedamaian kan datang, saat aku bersama-Nya di Surga. Amen.
(Canberra, 9 Juli 2010)
Saturday, 10 July 2010
Akhirnya ...
Malam ini tanggal 8 Juli 2010, aku baru kembali menjadi diriku sendiri. Lega campur tenang. Semuanya telah beres. Aku akan wisuda 8 hari lagi. Semuanya bukan karna kekuatan dan kehebatanku tapi karena campur tangan Tuhan dalam hidupku dan juga bantuan banyak orang; convernor programku, dosen sejarah mata kuliah politik dan tentu saja para Liaison officer yang begitu baik dan peduli padaku.
Hari ini mungkin layak disebut hari minta maafku.
Kemarin aku telah membuat semua pihak panik. Jujur kemarin aku melihat campur tangan Tuhan dan betapa pedulinya orang lain padaku. Pagi kemarin memang aku usai mengantar barang – barang kirimanku ke Griffith di saat suhu masih -1 derajat bersama Uchak dan tentu saja diakhiri dengan acara makan di KFC bersama Uchak dan kaka Yana, aku langsung ke kampus dan mulai mengerjakan tugas dan terima kasih Tuhan, semuanya selesai hanya dalam waktu beberapa jam saja padahal aku berbulan – bulan tak bisa menyelesaikannya, terlalu tertekan. Aku percaya ini semua karena saat pagi hari, entah apa yang membuatku semangat, aku memilih mengambil buku nyanyian rohaniku dan menyanyi beberapa lagu dan aku lega dan merasa kuat saat menyambut fajar pagi.
Singkat kata, aku mulai bisa mengatasi fobiaku membuka situs ANU dan bisa menikmati membaca e-mail dari dosenku tanpa ketakutan dan panik karna beberapa minggu lalu saking terlalu panik aku sampai sesak napas dan terpaksa panik mencari semprotan asma milik teman serumah dan untungnya berhasil dan sesak napas itu bisa ditekan dan berangsur – angsur hilang.
Hari ini, usai bertemu liaison officerku dan curhat cukup lama, aku pun diantar ke kantor yang mengurusi wisuda dan mengecek status wisudaku dan puji Tuhan. Semuanya baik – baik saja.
Pulang dari kampus, aku sempat singgah ke Menzies Library dan ternyata sudah tak boleh meminjam buku. Sedihnya!!!
Senja tadi bersamaan dengan waktu buka puasaku (selama 21 hari sejak tanggal 5 aku membuat puasa pribadiku, kemarin aku sempat batal). Aku memilih merayakan pencapaianku dalam tahap ini dan menolak undangan perpisahan dengan teman – teman PPIA Canberra sejak 3 minggu lalu yang sedianya dibuat memang untuk para calon wisudawan/ti. Walau para teman sudah membujukku berulang kali tapi aku memang memilih untuk tidak merayakannya bersama mereka. Aku ingin menikmati momen ini sendiri apalagi sore tadi aku baru menerima pemberitahuan resmi bahwa aku LAYAK diwisuda. Aku memilihnya dengan makan malam lengkap sampai kekenyangan di sebuah restoran Thailand bernama Alice di West Row, Civic. Menikmati makan malam perayaanku sendiri. Menikmati momen seperti ini; reward myself.
Hari ini percaya dan akan terus percaya dan akan tetap bilang bahwa aku hanya manusia biasa yang sering gagal tetapi Tuhan selalu ada bersamaku dan menolongku. Segala pencapaianku hari ini karena Tuhan mengijinkan karna aku secara pribadi sudah menyerah dengan hidupku, dengan pencapaian akademikku dan sudah patah semangat. Tapi ternyata memang benar bahwa Tuhan ada untuk orang – orang yang remuk hatinya sepertiku dan Ia memberi kekuatan dan penghiburan. Selama 1,5 bulan aku berada dalam masa depresi dimana rasionalitasku dan ketahananku runtuh sebagai manusia hingga mengurung diri berhari – hari di kamar, tak ingin kontak dengan siapapun kecuali yang sangat kupercaya dan tak bisa mengendalikan kekhawatiranku. Tapi pada akhirnya, Tuhan tak pernah meninggalkanku. Pencapaianku hari ini karena Dia yang mengasihi-ku. Aku hanya bisa bilang, “segala hormat, kemuliaan dan pujian bagi Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.” Amen.
(Canberra, 8 Juli 2010)
Hari ini mungkin layak disebut hari minta maafku.
Kemarin aku telah membuat semua pihak panik. Jujur kemarin aku melihat campur tangan Tuhan dan betapa pedulinya orang lain padaku. Pagi kemarin memang aku usai mengantar barang – barang kirimanku ke Griffith di saat suhu masih -1 derajat bersama Uchak dan tentu saja diakhiri dengan acara makan di KFC bersama Uchak dan kaka Yana, aku langsung ke kampus dan mulai mengerjakan tugas dan terima kasih Tuhan, semuanya selesai hanya dalam waktu beberapa jam saja padahal aku berbulan – bulan tak bisa menyelesaikannya, terlalu tertekan. Aku percaya ini semua karena saat pagi hari, entah apa yang membuatku semangat, aku memilih mengambil buku nyanyian rohaniku dan menyanyi beberapa lagu dan aku lega dan merasa kuat saat menyambut fajar pagi.
Singkat kata, aku mulai bisa mengatasi fobiaku membuka situs ANU dan bisa menikmati membaca e-mail dari dosenku tanpa ketakutan dan panik karna beberapa minggu lalu saking terlalu panik aku sampai sesak napas dan terpaksa panik mencari semprotan asma milik teman serumah dan untungnya berhasil dan sesak napas itu bisa ditekan dan berangsur – angsur hilang.
Hari ini, usai bertemu liaison officerku dan curhat cukup lama, aku pun diantar ke kantor yang mengurusi wisuda dan mengecek status wisudaku dan puji Tuhan. Semuanya baik – baik saja.
Pulang dari kampus, aku sempat singgah ke Menzies Library dan ternyata sudah tak boleh meminjam buku. Sedihnya!!!
Senja tadi bersamaan dengan waktu buka puasaku (selama 21 hari sejak tanggal 5 aku membuat puasa pribadiku, kemarin aku sempat batal). Aku memilih merayakan pencapaianku dalam tahap ini dan menolak undangan perpisahan dengan teman – teman PPIA Canberra sejak 3 minggu lalu yang sedianya dibuat memang untuk para calon wisudawan/ti. Walau para teman sudah membujukku berulang kali tapi aku memang memilih untuk tidak merayakannya bersama mereka. Aku ingin menikmati momen ini sendiri apalagi sore tadi aku baru menerima pemberitahuan resmi bahwa aku LAYAK diwisuda. Aku memilihnya dengan makan malam lengkap sampai kekenyangan di sebuah restoran Thailand bernama Alice di West Row, Civic. Menikmati makan malam perayaanku sendiri. Menikmati momen seperti ini; reward myself.
Hari ini percaya dan akan terus percaya dan akan tetap bilang bahwa aku hanya manusia biasa yang sering gagal tetapi Tuhan selalu ada bersamaku dan menolongku. Segala pencapaianku hari ini karena Tuhan mengijinkan karna aku secara pribadi sudah menyerah dengan hidupku, dengan pencapaian akademikku dan sudah patah semangat. Tapi ternyata memang benar bahwa Tuhan ada untuk orang – orang yang remuk hatinya sepertiku dan Ia memberi kekuatan dan penghiburan. Selama 1,5 bulan aku berada dalam masa depresi dimana rasionalitasku dan ketahananku runtuh sebagai manusia hingga mengurung diri berhari – hari di kamar, tak ingin kontak dengan siapapun kecuali yang sangat kupercaya dan tak bisa mengendalikan kekhawatiranku. Tapi pada akhirnya, Tuhan tak pernah meninggalkanku. Pencapaianku hari ini karena Dia yang mengasihi-ku. Aku hanya bisa bilang, “segala hormat, kemuliaan dan pujian bagi Bapa, Yesus, dan Roh Kudus.” Amen.
(Canberra, 8 Juli 2010)
Tuesday, 6 July 2010
Black Brothers - Pierambo (Komen Canberra Cover)
Yeskol, sa talalu isi badan bagarak untuk bagoyang sampe wkkwkwkwkw. It's definitely my favorite song from Black Brothers ... malah sa su bilang akan wajib jadi sapu lagu di acara pesta nikah jadi sa bisa bagoyang wkwkwkkwkw.
Miss it so much, August 2009 seh
Miss it so much, August 2009 seh
Black Brothers - Diru Dina (Komen Canberra Cover)
Ha ha ha .. jadi ingat si Joas, anaknya kaka Errol yang senang bergaya di depan .. He's so cute!!! Gonna miss this bos ^___^
Medo Arife ~ Komen Canberra feat. Benny and Stevi Black Brothers
Gonna miss them so much!!!!
ki - ka: Marlon, me, K' Yana, Cia, Usi Cynthia, Irma, oom Ted plus para musisi ^___^
ki - ka: Marlon, me, K' Yana, Cia, Usi Cynthia, Irma, oom Ted plus para musisi ^___^
Ina Firumi ~ Komen Canberra feat. Benny & Stevie Black Brothers
Gosh, I'm so jelly belly here. Tra sangka, sa bisa seseksi ini dulu wkwkkwkwkwkw
Adoooh ingat pengalaman sebelum pi nyanyi dan nge-MC, sa masih sempat pi tindis jalan2 di Multicultural festival :D
Komen Canberra seh.
Adoooh ingat pengalaman sebelum pi nyanyi dan nge-MC, sa masih sempat pi tindis jalan2 di Multicultural festival :D
Komen Canberra seh.
Nobody Knows ~ Komen Canberra feat Benny & Stevi Black Brothers
Gonna miss these fellas ^____^ Komen canberra seh
Monday, 5 July 2010
Miss 'n Love You
Entahlah …. Malam ini aku berada lagi dalam keadaan di mana ada satu keping hati yang hilang tapi bukan tentang cinta atau kepada sesama. Malam ini aku merindukan Dia, merindukan Tuhan.
Ada yang mengganjal di hati, yang ingin kutanyakan pada-Nya. Ada yang mengganjal di hati. Malam ini seakan aku merindukan-Nya sekali. To talk, to chat, to share everything.
Malam ini aku merindukan-Mu, Tuhan. Sangat merindukan-Mu.
Berapa lama lagikah kita akan bertemu?
Berapa lama lagikah waktu akan bergulir hingga kita akan bertemu?
Kadang aku bertanya tentang waktuku, Tuhan. Berapa lama waktu yang harus kujalani untuk bisa ‘pulang’ pada-Mu? Berapa lama lagi.
Aku merindukan-Mu, Tuhan.
Malam ini aku sesak membaca berita – berita di Koran, di media massa dan lain – lain. Sesak di dada.
Sesak melihat manusia saling membunuh, saling berkelahi, saling mencaci, saling mencari kepuasan lewat mengekspos diri, membuat orang lain terluka. Sesak melihat kepuasan dicari lewat berbagai cara.
Malam ini aku merindukan-Mu, Tuhan.
Aku merasa sedikit tenang usai memutar beberapa klip lagu tentang dirimu, dan rasa sesak ini sedikit demi sedikit berkurang.
Dear God, aku tak peduli seperti apa rupa surga. Apakah seperti rupa pantai pulau – pulau di Pasifik ataukah dataran padang pasir di Afrika. Apakah seperti kota di tengah – tengah pedalaman hutan hujan tropis ataukah daerah berawa. Tak peduli, asalkan aku kan bersama-Mu. Mendengarmu bicara, bernyanyi dan menari bersama-Mu. Kehadiran-Mu menenangkanku.
Aku hanya ingin tak melihat ada air mata yang mengalir di wajah sesamaku, tak ingin melihat lagi perang baik fisik maupun kata – kata, tak ingin lagi melihat penderitaan.
Tuhan, begitu sulitkan manusia untuk berdamai, berdamai dengan diri mereka sendiri, dengan masa lalu, dengan sesama dan dengan alam. Mungkin aku terlalu naïf atau terlalu bodoh, tapi bukankah bila manusia bisa berdamai dan menerima segalanya dan tak menjadi hakim, bukankah hidup lebih mudah untuk dijalani?
Aku merindukan-Mu, Tuhan.
Thanx karena memanggil orang – orang untuk menjadi staff dalam rencana-Mu, ya Tuhan. Untuk menenangkan dan memenangkan banyak orang yang lemah sepertiku. Malam ini lagu – lagu dari gereja Hillsongs membuatku tak lagi sesak. Aku suka lagu ini “Oceans will part”.
Tuhan, aku tak tahu kapan aku kan bertemu Kau, tapi satu yang pasti, ajar aku untuk berjalan di dalam rencana-Mu dan bekerja sesuai dengan panggilan yang kau beri dalam hatiku.
Sangat merindukan-Mu, Yesus. We’ll dance someday. Amen
***
Oceans will part
Verse 1:
If my heart has grown cold,
There Your love will unfold;
As You open my eyes to the work of Your hand.
When I'm blind to my way,
There Your Spirit will pray;
As You open my eyes to the work of Your hand,
As You open my eyes to the work of Your hand.
Chorus:
Oceans will part; nations come
At the whisper of Your call.
Hope will rise; glory shown.
In my life, Your will be done.
Verse 2:
Present suffering may pass,
Lord, Your mercy will last;
As You open my eyes to the work of Your hand.
And my heart will find praise,
I'll delight in Your way,
As You open my eyes to the work of Your hand,
As You open my eyes to the work of Your hand.
(Canberra, 5 Juli 2010)
Ada yang mengganjal di hati, yang ingin kutanyakan pada-Nya. Ada yang mengganjal di hati. Malam ini seakan aku merindukan-Nya sekali. To talk, to chat, to share everything.
Malam ini aku merindukan-Mu, Tuhan. Sangat merindukan-Mu.
Berapa lama lagikah kita akan bertemu?
Berapa lama lagikah waktu akan bergulir hingga kita akan bertemu?
Kadang aku bertanya tentang waktuku, Tuhan. Berapa lama waktu yang harus kujalani untuk bisa ‘pulang’ pada-Mu? Berapa lama lagi.
Aku merindukan-Mu, Tuhan.
Malam ini aku sesak membaca berita – berita di Koran, di media massa dan lain – lain. Sesak di dada.
Sesak melihat manusia saling membunuh, saling berkelahi, saling mencaci, saling mencari kepuasan lewat mengekspos diri, membuat orang lain terluka. Sesak melihat kepuasan dicari lewat berbagai cara.
Malam ini aku merindukan-Mu, Tuhan.
Aku merasa sedikit tenang usai memutar beberapa klip lagu tentang dirimu, dan rasa sesak ini sedikit demi sedikit berkurang.
Dear God, aku tak peduli seperti apa rupa surga. Apakah seperti rupa pantai pulau – pulau di Pasifik ataukah dataran padang pasir di Afrika. Apakah seperti kota di tengah – tengah pedalaman hutan hujan tropis ataukah daerah berawa. Tak peduli, asalkan aku kan bersama-Mu. Mendengarmu bicara, bernyanyi dan menari bersama-Mu. Kehadiran-Mu menenangkanku.
Aku hanya ingin tak melihat ada air mata yang mengalir di wajah sesamaku, tak ingin melihat lagi perang baik fisik maupun kata – kata, tak ingin lagi melihat penderitaan.
Tuhan, begitu sulitkan manusia untuk berdamai, berdamai dengan diri mereka sendiri, dengan masa lalu, dengan sesama dan dengan alam. Mungkin aku terlalu naïf atau terlalu bodoh, tapi bukankah bila manusia bisa berdamai dan menerima segalanya dan tak menjadi hakim, bukankah hidup lebih mudah untuk dijalani?
Aku merindukan-Mu, Tuhan.
Thanx karena memanggil orang – orang untuk menjadi staff dalam rencana-Mu, ya Tuhan. Untuk menenangkan dan memenangkan banyak orang yang lemah sepertiku. Malam ini lagu – lagu dari gereja Hillsongs membuatku tak lagi sesak. Aku suka lagu ini “Oceans will part”.
Tuhan, aku tak tahu kapan aku kan bertemu Kau, tapi satu yang pasti, ajar aku untuk berjalan di dalam rencana-Mu dan bekerja sesuai dengan panggilan yang kau beri dalam hatiku.
Sangat merindukan-Mu, Yesus. We’ll dance someday. Amen
***
Oceans will part
Verse 1:
If my heart has grown cold,
There Your love will unfold;
As You open my eyes to the work of Your hand.
When I'm blind to my way,
There Your Spirit will pray;
As You open my eyes to the work of Your hand,
As You open my eyes to the work of Your hand.
Chorus:
Oceans will part; nations come
At the whisper of Your call.
Hope will rise; glory shown.
In my life, Your will be done.
Verse 2:
Present suffering may pass,
Lord, Your mercy will last;
As You open my eyes to the work of Your hand.
And my heart will find praise,
I'll delight in Your way,
As You open my eyes to the work of Your hand,
As You open my eyes to the work of Your hand.
(Canberra, 5 Juli 2010)
Subscribe to:
Posts (Atom)