Malam ini aku mulai bisa memulai hidupku dan mencoba mengeluarkan emosi yang tertahan di pikiranku selama hampir seminggu. Aku tak tahu, apa catatan ini kedengarannya hanya sebagai catatan orang gila, aku tak tahu dan tak peduli. Yang kuinginkan hanya mengeluarkannya sesegera mungkin. Tak ingin menyimpannya. Hari ini aku bisa bilang bahwa aku sedikit demi sedikit bisa mengatasi rasa aneh dan pikiranku yang kalut usai seminggu. Semuanya bermula pada malam tanggal 24 Juni 2010.
Hal yang akan kutuliskan yang menjadi alasanku memperbaharui statusku di Facebook pada jam 6.45 p.m. tertanggal 24 Juni 2010:
“Let's pray 4 Tanah Papua esp its people. 4 lil children n young women, God please take care of them esp. In highland n remote areas. Let God's peace pours down on this region n the justice be revealed. Amen”
Aku ingat hari itu hari Kamis. Karna bahan makananku habis di kulkas, maka aku memutuskan pergi ke kota berbelanja di sebuah supermarket sambil juga mencari isolasi dan karton untuk mengepak barang – barang yang hendak dikirimkan. Perjalananan ke kota sekitar kurang dari 10 menit bila naik bis namun sore itu, sekitar jam 5 lewat kutempuh dengan menumpang mobil teman serumahku yang hendak berangkat kerja.
Singkat kata, usai berbelanja dan tak sukses menemukan isolasi dan kecapaian plus kelaparan, aku memutuskan duduk di kursi – kursi depan bakery yang berhadapan dengan deretan kasir supermarket. Kebetulan supermarket ini berada di dalam pusat perbelanjaan sehingga aku tak harus berjibaku melawan dingin di luar sana. Sambil memakan mini pizza yang kubeli di bakery samping supermarket, aku sibuk menatap transaksi jual beli di depanku, sekitar 4 meter. Tas dan tas belanjaanku kubiarkan di atas meja.
Saat itu, pukul 6 sore lebih beberapa menit. Itulah sebabnya aku memutuskan menunggu bis pukul 7 p.m. karna aku terlambat naik bis pukul 5.57 p.m. Daripada menahan dingin di halte bis berjarak jalan kaki 7 menit, lebih baik berhangat ria di dalam pusat perbelanjaan ini. sekitar pukul 6.10 pm atau lebih sedikit, saat sibuk menatap dan memandang lurus melihat transaksi di depan mataku, tiba – tiba pandanganku berubah.
Mungkin kedengarannya gila atau apalah, sekali lagi aku tak berusaha meyakinkan siapapun. Anggap saja catatan dari seseorang yang sedang stress, bermimpi atau apalah. Gejala depresi, aku tak tahu.
Yang kulihat bukan lagi kasir yang sedang sibuk mengepak dan menghitung belanjaan tetapi beberapa honai atau rumah tradisional Papua. Bentuknya tak begitu jelas tapi sepertinya di daerah pegunungan Papua. Sepertinya aku familiar pernah melihatnya di foto teman – temanku, bentuk rumah yang familiar bagiku. Tapi sekitar 2 atau 3 rumah di depanku itu terbakar, dengan nyala api yang menyala – nyala dan panas. Terbakar dalam arti yang sesungguhnya.
Tiba – tiba seorang anak kecil lelaki berlari ke arahku, entahlah bagaimana mendeskripsikan posisiku saat itu, seakan aku berada di tempat itu tapi tidak secara fisik berada pula di sana, seakan aku sedang menatap dari layar bioskop dan kelebatan potongan – potongan gambar bergerak di depanku. Sang anak kecil itu begitu ketakutan dan ada ekspresi ngeri di wajahnya. Ia berlari ke arahku dengan menyuarakan satu pekikan yang tak kutahu, bahasanya terdengar asing bagiku, seperti ungkapan tolong atau apalah. Batinku mengisyaratkan ia meminta tolong, dengan kata yang aneh bagiku berawal seperti menggunakan huruf N (kelak beberapa jam usai melihat ini dan mengonfirmasikan pada seorang teman dari sebuah suku di pegunungan, aku mendapatkan jawabannya, kata itu ‘nadadi’ yang berarti ‘tolong’. Anak kecil yang kulihat ini seakan dikejar sesuatu dan tiba – tiba seakan ia ditendang atau dianiaya ataupun ditembak tapi aku merasa ia mati di depanku. Potongan gambar ini pun berpindah.
Aku melihat di bagian lain dari rumah – rumah yang terbakar ini seorang perempuan muda, entahlah sepertinya remaja. Ia berlari ketakutan dan ada wajah ngeri di wajahnya. Sekali lagi aku hanya bisa menatap dan tiba – tiba seperti yang dialami oleh anak kecil tadi, ia seakan dipukul apa ditendang dan ditembak. Terjatuh. Mungkin mati. Dan pandanganku dibawa melihat hal yang lain.
Kembali lagi kulihat rumah – rumah tradisional yang terbakar. Kali ini seakan aku berada sedikit lebih tinggi dari rumah – rumah itu, mungkin di bukit belakang kampung ini. Masih sambil melihat rumah – rumah yang terbakar, ada suara yang bicara padaku. “May, doakan orang – orang ini. tolong doakan mereka.”. Kemudian pandanganku dibawa seakan berada di dalam sebuah ruang yang temaram, aku berpikir aku sedang berada dalam salah satu rumah ini, rumah yang belum terbakar. Di dalam rumah itu, aku melihat samar – samar seorang lelaki Papua (aku mengasumsikan ia Papua karna rambut keriting dan kulitnya yang gelap). Ia mungkin berusia 40 – 50 tahun. Ia memakai kemeja lusuh. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi aku menangkap pembicaraan seakan ada beberapa orang yang bertanya padanya dan ia berusaha melakukan pembelaan. Aku hanya bisa menangkap jelas ia berbicara dengan aksen yang kukenal milik orang pegunungan tengah di Papua. Dengan campuran Bahasa Indonesia dan Melayu Papua. Ia berkali – kali bilang, “Mereka/ Dong tidak tahu apa – apa. Mereka tidak tahu apa – apa.”. Tiba – tiba yang kulihat, ia seperti ditendang dari arah depan dan ditembak. Lalu seakan ia mati.
Setelah itu aku melihat lagi rumah – rumah yang terbakar dan orang – orang berpakaian tradisional lari ke sana kemari dalam suasana yang sangat kacau. Ada kekacauan. Dan tiba – tiba suara itu terdengar jelas di dalam hatiku, “May, tolong doakan mereka. Tolong doakan mereka. Tolong doakan anak – anak dan perempuan – perempuan muda ini.”. Setelah itu semuanya hilang.
Pandanganku kembali melihat suasana supermarket seperti biasa. Tapi aku merasa ketakutan sekali. Sangat takut. Masih mengingat jelas wajah bocah lelaki yang berlari ke arahku. Aku tak bisa melanjutkan makanku dan mulai menangis kecil. Sangat takut. Kuputuskan mengirimkan SMS – SMS ke temanku di sini dan juga sahabatku di Manokwari. Bercerita tentang apa yang kulihat. Sangat takut. Tak cukup dengan mengirimkan SMS, aku memutuskan menelpon temanku dan bercerita. Sambil menangis dan ketakutan.
Hingga saat menunggu bis pukul 7 malam, aku masih sedikit kaget bercampur takut. Mungkin shock kata yang bisa menggambarkan suasana hatiku saat itu. Sangat terguncang.
Usai turun dari bis melewati jalan setapak dari halte bis ke rumah. Di hatiku suara itu kembali berbicara, suara yang sedikit tegas, suara yang jarang bicara kecuali kalau ia ingin bicara. Aku tak tahu.
Suara itu bilang bahwa saat ini memang masa dimana Ia ingin memberi pelajaran bagi manusia – manusia. Ia bilang Ia sudah muak melihat manusia menjadi begitu jahat, ia muak melihat manusia tidak bertobat dan berbalik padanya. Ia berulang kali bicara tentang hatinya yang tak tahan melihat sikap manusia. Perkataannya yang membuatku semakin merasa sedikit sedih adalah ia bilang ia akan memberi hajaran yang dimulai dari bagian barat negara kepulauan ini dimana ia sedih banyak orang lupa akan dirinya dan juga ia akan masuk ke Papua. Tapi satu yang pasti, ia ingin aku mendoakan Papua. Mendoakan umatnya khususnya mereka yang suam – suam kuku dan tidak jelas dengan imannya untuk berbalik kepadanya. Ia ingin sebuah pertobatan sejati, pertobatan tanpa kepura – puraan. Pertobatan yang hanya padanya.
Malam ini aku mengingat jelas bagaimana semalamam aku hanya menangis dan menangis. Apalagi sebuah SMS dikirimkan sahabatku. Rupanya karna ia juga takut, ia memberitahu seorang dosenku yang mengirimkan SMS begini kepadanya untuk dikirim kepadaku:
“Bilang mam N yang bilang waktu de mimpi pertama kali akhir 2007, mimpinya yang sama persis dengan yang mam mimpi de punya tugas untuk mendoakan orang2 Papua, ini amanah.”
Aku tak tahu ke arah mana hal ini akan berlanjut. Satu yang pasti, my life won’t be the same anymore *sigh.
(Canberra, 30 Juni 2010)
Wednesday, 30 June 2010
Bersyukurlah ...
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih dapat mengontrol moodmu,
Masih bisa berpikir positif,
Masih bisa bergerak tanpa rasa nyeri di persendianmu,
Masih bisa berlari dan berjalan tanpa alat bantu.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa bernafas dengan mudah,
Tanpa alat bantu, tanpa alat semprot
Tanpa pil – pil pereda nyeri,
Tanpa selang – selang berisikan pasokan oksigen.
Bersyukurlah ..
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa mengontrol tubuhmu,
Mengontrol jam tidurmu,
Mengontrol selera makanmu,
Mengontrol pikiranmu.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini
Kau masih bisa bersepeda, bermain dan menendang bola,
Berlari kencang, melompat, meloncat,
Menari dengan riang.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa bekerja dan hidup tanpa pil – pil pereda nyeri,
Masih bisa menikmati makanan dan minuman apapun yang kau inginkan
Tanpa takut sesak nafas, nyeri dada dan ataupun kesakitan.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kala kau masih bisa tertawa terbahak – bahak tanpa takut moodmu akan berubah terlalu senang, ataupun bisa menangis tersedu – sedu tanpa takut akan mempengaruhimu.
Tak takut pada perubahan alam dan cuaca terhadap moodmu.
Aku kadang iri dengan kalian.
Sangat iri!!!
Tapi …
Bukankah hidup sudah cukup untuk disyukuri dan dijalani?
Dan aku memilih untuk melihat hidup sebagai proses.
Aku mungkin gagal, tapi aku tak ingin menyerah untuk tetap berusaha dan tetap hidup.
Aku bodoh karna beberapa tahun lalu berusaha untuk mengahiri hidupku dan terus berpikir tentang kematian dan bunuh diri sebagai jalan pintas.
Sebuah jalan pintas keluar dari kesakitan dan kehampaan.
Tapi tak lagi, tak mau lagi ….
Sejak aku bertemu Dia, aku merasa mendapatkan tujuan hidupku.
dan aku belajar banyak dari Dia.
Belajar untuk bersikap:
Tak ada lagi sakit hati, tak ada lagi amarah pada diriku,
Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi keinginan untuk membuat orang lain terkesan,
Tak ada lagi keinginan mencari kekayaan,
Tak ada lagi keinginan untuk bersaing dengan sesama,
Tak ada lagi keinginan untuk terus memakai topeng,
Tak ada lagi keinginan dan rahasia pecitraan diri.
Aku mungkin gagal dalam beberapa bagian hidupku,
Dalam karir akademikku,
Dalam hubungan dan pertalian kasihku,
Dalam merepresentasikan diri dalam lingkungan sosial
Tapi aku puas pada apa yang kucapai hingga saat ini,
Aku puas karna aku memilih untuk tetap hidup,
Memilih untuk melanjutkan hidupku.
Aku akan terus berusaha tetap hidup,
Berusaha dan tak akan pernah menyerah.
Akan terus mencoba menjalani hidup ke depan
Dan melihat hidup sebagai sebuah proses, sebuah perjalanan
Dan kebahagiaan adalah apa yang kubutuhkan sebagai bahan bakar
Hingga ku bertemu Dia.
Dia alasanku untuk tetap hidup!!!
Seseorang yang mengubah hidupku untuk percaya bahwa Hidup layak diperjuangkan dan dijalani.
Namanya Y-E-S-U-S.
(Canberra, 30 June 2010; usai berhasil sedikit demi sedikit kalahkan mood depresi)
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih dapat mengontrol moodmu,
Masih bisa berpikir positif,
Masih bisa bergerak tanpa rasa nyeri di persendianmu,
Masih bisa berlari dan berjalan tanpa alat bantu.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa bernafas dengan mudah,
Tanpa alat bantu, tanpa alat semprot
Tanpa pil – pil pereda nyeri,
Tanpa selang – selang berisikan pasokan oksigen.
Bersyukurlah ..
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa mengontrol tubuhmu,
Mengontrol jam tidurmu,
Mengontrol selera makanmu,
Mengontrol pikiranmu.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini
Kau masih bisa bersepeda, bermain dan menendang bola,
Berlari kencang, melompat, meloncat,
Menari dengan riang.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kau masih bisa bekerja dan hidup tanpa pil – pil pereda nyeri,
Masih bisa menikmati makanan dan minuman apapun yang kau inginkan
Tanpa takut sesak nafas, nyeri dada dan ataupun kesakitan.
Bersyukurlah …
Bila saat ini, hari ini,
Kala kau masih bisa tertawa terbahak – bahak tanpa takut moodmu akan berubah terlalu senang, ataupun bisa menangis tersedu – sedu tanpa takut akan mempengaruhimu.
Tak takut pada perubahan alam dan cuaca terhadap moodmu.
Aku kadang iri dengan kalian.
Sangat iri!!!
Tapi …
Bukankah hidup sudah cukup untuk disyukuri dan dijalani?
Dan aku memilih untuk melihat hidup sebagai proses.
Aku mungkin gagal, tapi aku tak ingin menyerah untuk tetap berusaha dan tetap hidup.
Aku bodoh karna beberapa tahun lalu berusaha untuk mengahiri hidupku dan terus berpikir tentang kematian dan bunuh diri sebagai jalan pintas.
Sebuah jalan pintas keluar dari kesakitan dan kehampaan.
Tapi tak lagi, tak mau lagi ….
Sejak aku bertemu Dia, aku merasa mendapatkan tujuan hidupku.
dan aku belajar banyak dari Dia.
Belajar untuk bersikap:
Tak ada lagi sakit hati, tak ada lagi amarah pada diriku,
Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi keinginan untuk membuat orang lain terkesan,
Tak ada lagi keinginan mencari kekayaan,
Tak ada lagi keinginan untuk bersaing dengan sesama,
Tak ada lagi keinginan untuk terus memakai topeng,
Tak ada lagi keinginan dan rahasia pecitraan diri.
Aku mungkin gagal dalam beberapa bagian hidupku,
Dalam karir akademikku,
Dalam hubungan dan pertalian kasihku,
Dalam merepresentasikan diri dalam lingkungan sosial
Tapi aku puas pada apa yang kucapai hingga saat ini,
Aku puas karna aku memilih untuk tetap hidup,
Memilih untuk melanjutkan hidupku.
Aku akan terus berusaha tetap hidup,
Berusaha dan tak akan pernah menyerah.
Akan terus mencoba menjalani hidup ke depan
Dan melihat hidup sebagai sebuah proses, sebuah perjalanan
Dan kebahagiaan adalah apa yang kubutuhkan sebagai bahan bakar
Hingga ku bertemu Dia.
Dia alasanku untuk tetap hidup!!!
Seseorang yang mengubah hidupku untuk percaya bahwa Hidup layak diperjuangkan dan dijalani.
Namanya Y-E-S-U-S.
(Canberra, 30 June 2010; usai berhasil sedikit demi sedikit kalahkan mood depresi)
Saturday, 26 June 2010
Lelaki Subuh
Untuk lelaki yang BUKAN ‘lelaki hujan’ pun ‘lelaki yang mencium tengkorak wallabie’
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat pembicaraan kita yang kadang tak nyambung, kadang sangat nyambung hingga berjam – jam, berdebat hingga cadangan argumentasi hampir habis dan selalu diakhiri dengan kata – kata yang ambigu.
Entahlah ..
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat pesan – pesan tak penting yang kau kirimkan. Pesan – pesan yang sering membuatku bertanya, “pesan basa – basi banget, kan sapu status su jelas kok, lah status tinggal sa update hampir tiap jam ^_^”
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat diskusi terakhir kita yang tidak jelas, yang penuh simbol dan sedikit membuatku merasa ada yang aneh dan membuatku sedikit bertanya, “sebenarnya ko mo ngomong apa ka? Sa bingung!!!” Just say something, kalo memang ada yang mo dibicarakan.
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat gayamu yang suka menghilang tiba – tiba bila diskusi atau isi pesannya mulai ‘berat’. Mengingat gayamu yang suka muncul tak diundang di catatan ataupun statusku. Mengingat gayamu yang mengajak berdiskusi tentang bidangmu ^_^
Maafkan aku kalo selama ini kesannya cuek, tak peduli.
Maafkan aku yang sering berlagak tidak mengerti pembicaraanmu khususnya pembicaran terakhir kita.
Maafkan aku yang seakan “pura – pura mati”.
Aku mungkin masih perlu waktu.
Perlu waktu untuk bertanya pada diri sendiri.
Tentang diriku, apa dan siapa yang kuinginkan dalam hidup.
Takut salah?
Pasti
Takut kecewa?
Tentu saja.
Takut mencoba?
Tidak juga.
TAPI
Aku tahu, aku butuh waktu.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku memang butuh orang lain.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku tak akan ‘bosan’ lagi.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku sedang tak ‘bermain’;
Antara ‘bermain’ atau sedang ‘dipermainkan’ *sigh
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini.
Mengingat kejadian beberapa tahun lalu dimana aku terpapar dengan eksistensimu. Kau tahu, demi menonton karyamu waktu itu, aku sampai tersesat hingga pulang kemalaman dan ketakutan setengah mati terdampar di tempat yang ku tak tahu hanya karena salah naik bis dan pulangnya kuakhiri dengan menangis Bombay sungguh mati karena campuran antara kecewa tak nonton dan SMS pemberitahuan pernikahan ‘lelaki hujan’.
Kau mungkin tak sadar bahwa kita pernah bertemu. Kita pernah berpapasan dan hanya saling membuang senyum tipis di luar gedung pementasan karyamu. Hari dimana dengan mata bengkakku dan kekecewaan dan kesedihan, aku berhasil mencapai pementasan karyamu. Aku mengingar benar bagaimana pementasanmu membuat beban sedihku kala itu sedikit ringan, menghiburku dan membuatku menahan napas menikmatinya dari sudut gelap gedung itu. Hingga kepulanganku ke kamarku tak terlalu penuh luapan air mata seperti malam sebelumnya. Yang ada adalah ekspresi girang dan tertawa berbagi berita dengan para sahabatku tentang ‘kisah ikan’ itu lewat jaringan telpon.
Mengingatmu, membuatku ku tertawa kecil dan tersenyum menikmati pujianmu dalam beberapa percakapan kita. Walau kau tetap saja menunjukan sisi misterimu, sesuatu yang tampaknya sulit kutebak. Sangat sulit! Tipe lelaki yang harus kuhindari, terlalu banyak rahasia. Terlalu banyak dikelilingi perempuan. Lelaki yang harus kuhindari sebisa mungkin. Lelaki yang sisi maskulinmu terlalu menonjol, ego yang tidak bisa terjangkau. Tipe yang sebaiknya dilepaskan sendiri, karena aku pemburu. Tipe sepertimu hanya akan membuatku ‘berburu’ dan terus ‘berburu’, membuatku larut dalam duniamu dan terus ‘berburu’ hingga saat kau berhasil ‘terkapar’ … di saat itulah aku harus meninggalkanmu! Dan aku sudah tak ingin menjadi ‘pemburu’. Tak ingin lagi!!!
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengunjungi ‘beranda’mu tiap kali membuka ‘berandaku’ di dunia maya, melihat perkembanganmu yang jarang menampakan diri. Menilaimu dari koleksi foto – fotomu dan siapa yang dekat denganmu, menerka dan menganalisa seperti apa dirimu lewat perbincangan, catatan, ataupun komentar – komentarmu. Menilaimu dari laporan – laporan teman – temanku sejak beberapa bulan terakhir ini, menebarkan informasi tentang dirimu sejak aliran pesan tak pentingmu yang sering masuk.
Entahlah …
Aku tak tahu.
Tak tahu apa yang kulakukan saat ini.
Entahlah …
Tak tahu.
Tak tahu mengapa harus mengingatmu subuh ini dan juga di malam – malam lain sebelum aku tidur.
Entahlah …
Apakah kau pernah memikirkan aku juga, perempuan di dunia maya ini?
Aku tak tahu dan tak terlalu berharap juga kau mau mengingatku.
Maafkan aku kalau aku masih tak bisa bersikap ‘santai’ sebagaimana yang kau harapkan. Mungkin kau benar, aku ‘terlalu serius’ tapi itu demi kebaikan kita. Jangan pernah percaya pada seseorang yang tak kau kenal, “don’t talk to the stranger!’, pesan yang pernah kudapat.
Hanya takut salah, itu saja.
Andai saja kau tahu kalau aku mengagumimu sejak lama!!!
Andai saja kau tahu bahwa beberapa catatan yang kubuat tahun ini karena kau.
Entahlah …
Kenapa aku mengingatmu subuh ini!!!
Maafkan aku yang tidak bilang secara langsung bahwa aku menikmati diskusi – diskusi dan percakapan kita yang sering berbelit – belit penuh simbol.
Maafkan aku yang sempat menempatkan rasa “kagum bercampur suka”.
Entahlah …
Kenapa aku mengingatmu subuh ini dan membuat dadaku terasa sesak lagi!!!
Lelaki subuh seh …!!!
(Canberra, 26 June 2010)
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat pembicaraan kita yang kadang tak nyambung, kadang sangat nyambung hingga berjam – jam, berdebat hingga cadangan argumentasi hampir habis dan selalu diakhiri dengan kata – kata yang ambigu.
Entahlah ..
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat pesan – pesan tak penting yang kau kirimkan. Pesan – pesan yang sering membuatku bertanya, “pesan basa – basi banget, kan sapu status su jelas kok, lah status tinggal sa update hampir tiap jam ^_^”
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat diskusi terakhir kita yang tidak jelas, yang penuh simbol dan sedikit membuatku merasa ada yang aneh dan membuatku sedikit bertanya, “sebenarnya ko mo ngomong apa ka? Sa bingung!!!” Just say something, kalo memang ada yang mo dibicarakan.
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengingat gayamu yang suka menghilang tiba – tiba bila diskusi atau isi pesannya mulai ‘berat’. Mengingat gayamu yang suka muncul tak diundang di catatan ataupun statusku. Mengingat gayamu yang mengajak berdiskusi tentang bidangmu ^_^
Maafkan aku kalo selama ini kesannya cuek, tak peduli.
Maafkan aku yang sering berlagak tidak mengerti pembicaraanmu khususnya pembicaran terakhir kita.
Maafkan aku yang seakan “pura – pura mati”.
Aku mungkin masih perlu waktu.
Perlu waktu untuk bertanya pada diri sendiri.
Tentang diriku, apa dan siapa yang kuinginkan dalam hidup.
Takut salah?
Pasti
Takut kecewa?
Tentu saja.
Takut mencoba?
Tidak juga.
TAPI
Aku tahu, aku butuh waktu.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku memang butuh orang lain.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku tak akan ‘bosan’ lagi.
Butuh waktu untuk meyakinkan diriku kalau aku sedang tak ‘bermain’;
Antara ‘bermain’ atau sedang ‘dipermainkan’ *sigh
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini.
Mengingat kejadian beberapa tahun lalu dimana aku terpapar dengan eksistensimu. Kau tahu, demi menonton karyamu waktu itu, aku sampai tersesat hingga pulang kemalaman dan ketakutan setengah mati terdampar di tempat yang ku tak tahu hanya karena salah naik bis dan pulangnya kuakhiri dengan menangis Bombay sungguh mati karena campuran antara kecewa tak nonton dan SMS pemberitahuan pernikahan ‘lelaki hujan’.
Kau mungkin tak sadar bahwa kita pernah bertemu. Kita pernah berpapasan dan hanya saling membuang senyum tipis di luar gedung pementasan karyamu. Hari dimana dengan mata bengkakku dan kekecewaan dan kesedihan, aku berhasil mencapai pementasan karyamu. Aku mengingar benar bagaimana pementasanmu membuat beban sedihku kala itu sedikit ringan, menghiburku dan membuatku menahan napas menikmatinya dari sudut gelap gedung itu. Hingga kepulanganku ke kamarku tak terlalu penuh luapan air mata seperti malam sebelumnya. Yang ada adalah ekspresi girang dan tertawa berbagi berita dengan para sahabatku tentang ‘kisah ikan’ itu lewat jaringan telpon.
Mengingatmu, membuatku ku tertawa kecil dan tersenyum menikmati pujianmu dalam beberapa percakapan kita. Walau kau tetap saja menunjukan sisi misterimu, sesuatu yang tampaknya sulit kutebak. Sangat sulit! Tipe lelaki yang harus kuhindari, terlalu banyak rahasia. Terlalu banyak dikelilingi perempuan. Lelaki yang harus kuhindari sebisa mungkin. Lelaki yang sisi maskulinmu terlalu menonjol, ego yang tidak bisa terjangkau. Tipe yang sebaiknya dilepaskan sendiri, karena aku pemburu. Tipe sepertimu hanya akan membuatku ‘berburu’ dan terus ‘berburu’, membuatku larut dalam duniamu dan terus ‘berburu’ hingga saat kau berhasil ‘terkapar’ … di saat itulah aku harus meninggalkanmu! Dan aku sudah tak ingin menjadi ‘pemburu’. Tak ingin lagi!!!
Entahlah …
Aku mengingatmu subuh ini!!!
Mengunjungi ‘beranda’mu tiap kali membuka ‘berandaku’ di dunia maya, melihat perkembanganmu yang jarang menampakan diri. Menilaimu dari koleksi foto – fotomu dan siapa yang dekat denganmu, menerka dan menganalisa seperti apa dirimu lewat perbincangan, catatan, ataupun komentar – komentarmu. Menilaimu dari laporan – laporan teman – temanku sejak beberapa bulan terakhir ini, menebarkan informasi tentang dirimu sejak aliran pesan tak pentingmu yang sering masuk.
Entahlah …
Aku tak tahu.
Tak tahu apa yang kulakukan saat ini.
Entahlah …
Tak tahu.
Tak tahu mengapa harus mengingatmu subuh ini dan juga di malam – malam lain sebelum aku tidur.
Entahlah …
Apakah kau pernah memikirkan aku juga, perempuan di dunia maya ini?
Aku tak tahu dan tak terlalu berharap juga kau mau mengingatku.
Maafkan aku kalau aku masih tak bisa bersikap ‘santai’ sebagaimana yang kau harapkan. Mungkin kau benar, aku ‘terlalu serius’ tapi itu demi kebaikan kita. Jangan pernah percaya pada seseorang yang tak kau kenal, “don’t talk to the stranger!’, pesan yang pernah kudapat.
Hanya takut salah, itu saja.
Andai saja kau tahu kalau aku mengagumimu sejak lama!!!
Andai saja kau tahu bahwa beberapa catatan yang kubuat tahun ini karena kau.
Entahlah …
Kenapa aku mengingatmu subuh ini!!!
Maafkan aku yang tidak bilang secara langsung bahwa aku menikmati diskusi – diskusi dan percakapan kita yang sering berbelit – belit penuh simbol.
Maafkan aku yang sempat menempatkan rasa “kagum bercampur suka”.
Entahlah …
Kenapa aku mengingatmu subuh ini dan membuat dadaku terasa sesak lagi!!!
Lelaki subuh seh …!!!
(Canberra, 26 June 2010)
Untuk Perempuan
Untuk perempuan – perempuan di luar sana yang berpikir bahwa mereka tidak berharga, bahwa masa depan mereka tak ada, bahwa mereka tidak layak untuk bahagia, kehidupan mereka berhenti, dan sejuta alasan mengasihani diri sendiri.
Wake up and Smell the coffee ^___^
Bila hari tak berganti nama, bila kata tak terangkai menjadi kisah, bila cerita bukanlah sebuah jalinan peristiwa, bila malam tak lagi gelap, bila cinta tak lagi berupa perasaan, bila musim dingin menjadi hangat, bila angin tak lagi menari bersama dedaunan …
Ijinkan aku bicara!!!
Bila rerumputan tak lagi berbagi embun, bila cacing tak lagi menggali lubang, bila burung – burung kecil tak lagi sibuk berkicau, bila mentari pagi tak lagi muncul, bila musim panas telah mendingin, bila awan mendung tak lagi kelabu …
Ijinkan aku bicara!!!
Kau …
Berharga,
Diberkati,
Cantik,
Manis,
Punya masa depan yang cerah,
(Calon) pemimpin,
(Calon) Ibu bagi sebuah generasi,
Pembuat sejarah,
Pembaharu,
Revolusioner,
Positif,
Unik,
Berkarakter,
Punya integritas,
Percaya diri,
Indah,
Pemenang.
Aku masih punya banyak kata untukmu!! Masih banyak!!!
Jangan pernah biarkan masa lalu menjadi sebuah ikatan, mengikat langkah – langkah melebarkan sayap. Jangan pernah biarkan siapapun termasuk dirimu sendiri bilang “sa tra bisa!!! Sa gagal dll”.
Bangun!! Smangat!!
Ini hidupmu. Kita cuma hidup 1 X saja. Cuma satu kali.
Jangan isi hidup yang cuma sekali ini saja dengan terus salahkan dirimu.
Bangun dan lanjutkan hidupmu!!!
Ini hidupmu!!!
Bangun dan nikmati apa yang ditawarkan hidup saat ini.
Kita mungkin gagal tapi gagal bukan nama kita.
Ini hidupmu!!!
Bangun dan berbuat sesuatu.
Kita mungkin pernah gagal tapi bukan terlahir untuk terus gagal.
Kita mungkin hanya orang – orang yang pernah gagal, mungkin hanya orang – orang biasa, mungkin hanya orang – orang yang tak pernah diperhitungkan TAPI aku percaya, kau dan aku, bila bersama – sama, kita akan membuat sesuatu yang luar biasa bagi diri kita, bagi sesama dan bagi generasi berikutnya!!!
Jangan pernah terkurung dengan masa lalu ^___^
Kita, perempuan – perempuan merdeka!!!
Kita, perempuan – perempuan pemenang!!!
Satu yang pasti …
Aku percaya bahwa kau bisa mencapai apapun yang kau impikan ASALKAN kau tetap percaya pada dirimu bahwa kau bisa dan Tuhan tetap menjadi panduanmu!!!
(Canberra, 23 Juni 2010)
Wake up and Smell the coffee ^___^
Bila hari tak berganti nama, bila kata tak terangkai menjadi kisah, bila cerita bukanlah sebuah jalinan peristiwa, bila malam tak lagi gelap, bila cinta tak lagi berupa perasaan, bila musim dingin menjadi hangat, bila angin tak lagi menari bersama dedaunan …
Ijinkan aku bicara!!!
Bila rerumputan tak lagi berbagi embun, bila cacing tak lagi menggali lubang, bila burung – burung kecil tak lagi sibuk berkicau, bila mentari pagi tak lagi muncul, bila musim panas telah mendingin, bila awan mendung tak lagi kelabu …
Ijinkan aku bicara!!!
Kau …
Berharga,
Diberkati,
Cantik,
Manis,
Punya masa depan yang cerah,
(Calon) pemimpin,
(Calon) Ibu bagi sebuah generasi,
Pembuat sejarah,
Pembaharu,
Revolusioner,
Positif,
Unik,
Berkarakter,
Punya integritas,
Percaya diri,
Indah,
Pemenang.
Aku masih punya banyak kata untukmu!! Masih banyak!!!
Jangan pernah biarkan masa lalu menjadi sebuah ikatan, mengikat langkah – langkah melebarkan sayap. Jangan pernah biarkan siapapun termasuk dirimu sendiri bilang “sa tra bisa!!! Sa gagal dll”.
Bangun!! Smangat!!
Ini hidupmu. Kita cuma hidup 1 X saja. Cuma satu kali.
Jangan isi hidup yang cuma sekali ini saja dengan terus salahkan dirimu.
Bangun dan lanjutkan hidupmu!!!
Ini hidupmu!!!
Bangun dan nikmati apa yang ditawarkan hidup saat ini.
Kita mungkin gagal tapi gagal bukan nama kita.
Ini hidupmu!!!
Bangun dan berbuat sesuatu.
Kita mungkin pernah gagal tapi bukan terlahir untuk terus gagal.
Kita mungkin hanya orang – orang yang pernah gagal, mungkin hanya orang – orang biasa, mungkin hanya orang – orang yang tak pernah diperhitungkan TAPI aku percaya, kau dan aku, bila bersama – sama, kita akan membuat sesuatu yang luar biasa bagi diri kita, bagi sesama dan bagi generasi berikutnya!!!
Jangan pernah terkurung dengan masa lalu ^___^
Kita, perempuan – perempuan merdeka!!!
Kita, perempuan – perempuan pemenang!!!
Satu yang pasti …
Aku percaya bahwa kau bisa mencapai apapun yang kau impikan ASALKAN kau tetap percaya pada dirimu bahwa kau bisa dan Tuhan tetap menjadi panduanmu!!!
(Canberra, 23 Juni 2010)
Wednesday, 23 June 2010
Dari Mimpi hingga Daniel
Hari ini saya belajar satu hal untuk tidak menyerah dan untuk mengikuti impianku dengan PERCAYA. Bangun pagi di musim dingin pada pukul 1 siang dilanjutkan dengan acara ngobrol dengan teman – teman serumah membahas kepindahanku ke ruangan lain karna masa kontrak yang akan berakhir akhir minggu ini dan urusan packing segala macam dan juga tentang kondisi kamarku. Akhirnya kembali lagi menatap layar notebook ini dan tiba – tiba teringat akun Facebook yang sudah ditutup sementara saking kecanduan plus numpang singgah sebentar di situs Joel Osteen Ministry. Ternyata, apa yang menjadi bebanku beberapa hari ini ada di sana, di blognya pasangan suami istri pendeta ini. Tuhan memang dashyat!!!
Hari ini dalam blog mereka ada 2 hal yang dibahas yaitu untuk tidak pernah menyerah dan tetap mengejar apa yang Tuhan berikan dalam hati kita dan tentang rasa tidak nyaman dalam cerita Elang yang tidak pernah kehilangan arah pulang dan ujung- ujungnya keduanya berbicara tentang rencana Tuhan dalam impian kita dimana Tuhan selalu memberikan rencana dan panduan dalam pencapaian mimpi kita karena mimpi kita di dalam hidup kita sebenarnya adalah investasi dari Tuhan dalam hidup kita yang wajib kita ikuti.
Saya suka kata – kata Joel Osteen di sini:
“Stir up your gifts because you were made for more. You are anointed, equipped, empowered. Don't just settle where you are because God has greater things in your future. It may not have happened in the past, you may have put your dream on hold for a long time, but the good news is that it's not too late to get started. You can begin right now. If you will make that decision to shake off the complacency and start pursuing what God has placed in your heart you can still become everything God has created you to be.”
Hari ini saya percaya dan mau belajar bahwa saya diberkati dan diperlengkapi dan diberdayakan dan terpilih untuk pekerjaan dan kuliah saya di sini. Beberapa hari ini memang saya sedikit depresi karena menghindari kesenangan, tak ingin menikmati cahaya matahari karena selama sebulan lebih saya memilih mengurung diri dan hanya beredar di dunia maya, hanya menelpon orang tua saya dan lain – lain dan dalam satu sisi saya sedang menyiksa diri sendiri. Hari ini saya memilih untuk tidak mau membuka akun FB saya, memilih menghindari kegiatan – kegiatan ngobrol di dunia maya yang berlebihan.
Hari ini jendela kamar saya dibuka, melihat keluar jendela dan mengagumi musim dingin dari jendela kamar. Melihat ikan cupang biru tua di kamar berlarian dan membiarkan tanaman saya mendapatkan cahaya yang cukup.
Hari ini saya ingin menjadi saya yang baru. Saya yang tidak memberikan excuse ataupun pengecualian – pengecualian dalam hidup saya. Saya yang baru dan punya mimpi panjang yang perlu direalisasikan.
Saya ingin hari ini tak lagi peduli pada kenangan masa lalu saya yang masih membelenggu saya dalam seminggu ini, tak ingin lagi memikirkan kesedihan ditinggal pergi keponakan saya ke surga, tak ingin lagi memikirkan hal – hal yang akan menghambat pencapaian mimpi saya.
Meskipun demikian, saya tetap akan memantau masalah tentang Papua, membaca laporan HAM di tempat kelahiran saya, melihat dan membaca perkembangan umat Kristen yang teraniaya di Indonesia bagian barat dan juga di seluruh dunia dan akan tetap mendoakan mereka. Karena saya menemukan passion saya di sana.
Saya tetap akan kembali dan berdoa dan percaya bahwa impian saya suatu hari nanti akan tercapai. Impian – impian tentang sistem pendidikan dasar di Papua khususnya di kota Manokwari tentang pendidikan di kawasan slum dan bagi masyarakat marjinal perkotaan, program kids for environment, punya kids centre yang gratis dan dapat diakses khususnya bagi anak – anak dari kaum marjinal, punya perusahaan daur ulang yang eco-friendly dan mengedepankan fair-trade, punya sentra usaha kecil rumah tangga yang bergerak di bidang handicraft dan aksesoris tetapi mengedepankan fair-trade dan eco-friendly dan beberapa impian kecil lainnya.
Saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Tahun ini, di kala waktu – waktu berdoa saya, saya selalu diingatkan tentang Daniel, tentang karakteristik Daniel di dalam diri saya. Kala berdoa itu, saya selalu diingatkan tentang visi Daniel. Kadang saya protes pada suara itu dengan berargumentasi bahwa saya perempuan dan saya merasa visi Daniel terlalu berat bagi saya. Terlalu berat. Tapi suara dalam hati saya selalu bilang bahwa saya harus menjalankan visi Daniel itu. Visi yang menurut saya bukan urusan saya karena berhubungan dengan integritas dan juga politik serta pembuat keputusan dan ketekunan karena saya tahu sampai dimana kapasitas saya sebagai manusia. Tetapi entahlah … karena hal itu, saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya mencari tahu karakter apa yang ada dalam diri Daniel yang harus saya optimalkan dalam hidup saya. Jujur tahun ini saya merasa panggilan itu semakin kuat dan membuat saya tidak ingin bangun tidur karna kadang visi – visi tentang akhir zaman, melihat Papua dan Indonesia yang berdarah – darah, berdoa dan mimpi melihat kedatangan Tuhan dan penghancuran dunia, melihat visi – visi tentang membangun sesama lewat program – program beterbangan dalam hidup saya dan kadang merasa bahwa saya tidak mengontrol diri saya sendiri karena fokus saya terbagi. Sangat terbagi. Belum lagi diingatkan untuk terus mendoakan orang – orang Kristen khususnya yang suam – suam kuku di Indonesia dan tanah Papua untuk lebih percaya pada Kristus, untuk percaya dengan sungguh – sungguh dan berbuah.
Tak heran saya beberapa kali curhat dan meminta kepada teman – teman saya untuk mendoakan saya karena jujur, saya takut. Bahkan saya tidak berani cerita ke orang tua saya tentang apa yang saya lihat dan dengar walaupun sejak SMA telah bisa mendengar suara itu di dalam diri saya. Jujur saya takut tapi saya percaya ini hanya sebuah proses yang wajib saya jalani.
Anggap saja saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Anggap saja saya gila. Satu langkah menjadi orang gila.
Daniel mungkin tokoh yang bagi orang lain biasa saja. Tapi bagi saya akhir – akhir ini, karakter Daniel sering diingatkan pada saya dan walaupun berat, saya ingin melakukannya perlahan – lahan. Beberapa karakter Daniel yang membuat saya sering bertanya pada diri sendiri akhir – akhir ini adalah apakah memang Tuhan serius dengan mengingatkan saya tentang Daniel saat saya berada di Australia sebagai momen yang tepat saat ini. Ada beberapa hal yang membuat saya sambil mengetik catatan ini tertawa dalam hati dan ingin bilang sama Tuhan, “God, Sa kok baru kepikiran hari ini dan lihat akan deng lebih jelas eeee”
Anggap saja saya gila dalam titik ini ^_^
Saya melihat Tuhan sedang mengarahkan saya untuk mencoba menjadi dan melakukan apa yang dilakukan Daniel untuk hidup saya saat ini. Mungkin kedengaran gila tapi tiap kali saya berdoa, ada perkataan dalam hati saya yang selalu muncul bahwa saya akan pergi ke tempat – tempat dimana orang lain dari bangsa saya hanya bisa bermimpi, saya akan menjadi salah satu perwakilan bangsa saya berbicara tentang bangsa ini dan lain – lain yang tidak dapat saya sebutkan di dalam catatan ini. Kadang saya mengedepankan logika saya dan bilang, “tra mungkin ya. Mungkin cuma impian saya yang terpendam dan keluar di saat saya stress” tapi perkataan seperti itu kerap muncul apabila saya lagi merasa down dan menjadi semacam penguat bagi saya untuk bangkit dan mencoba lagi.
Daniel adalah seorang nabi yang juga seorang “penerjemah” dalam artian dia bisa menerjemahkan tulisan tangan Tuhan. Dia seorang terpelajar dan bijak dan Tuhan banyak membukakan rahasianya padanya. Daniel juga seorang yang mempunyai ketetapan hati yang kuat dan punya integritas walau ancamannya Maut.
Saya hanya berharap bahwa suatu hari nanti saat saya bertemu Yesus, semoga saya tidak mengecewakan-Nya dan bisa bilang bahwa saya mencoba dan berusaha menjadi seperti Daniel. Be faithful to the end!!!
“Beranilah seperti Daniel;
Peganglah kebenaran,
Meskipun di mulut Singa,
tetap percaya Tuhan”
(Lagu Sekolah Minggu)
(Canberra, 23 Juni 2010)
Hari ini dalam blog mereka ada 2 hal yang dibahas yaitu untuk tidak pernah menyerah dan tetap mengejar apa yang Tuhan berikan dalam hati kita dan tentang rasa tidak nyaman dalam cerita Elang yang tidak pernah kehilangan arah pulang dan ujung- ujungnya keduanya berbicara tentang rencana Tuhan dalam impian kita dimana Tuhan selalu memberikan rencana dan panduan dalam pencapaian mimpi kita karena mimpi kita di dalam hidup kita sebenarnya adalah investasi dari Tuhan dalam hidup kita yang wajib kita ikuti.
Saya suka kata – kata Joel Osteen di sini:
“Stir up your gifts because you were made for more. You are anointed, equipped, empowered. Don't just settle where you are because God has greater things in your future. It may not have happened in the past, you may have put your dream on hold for a long time, but the good news is that it's not too late to get started. You can begin right now. If you will make that decision to shake off the complacency and start pursuing what God has placed in your heart you can still become everything God has created you to be.”
Hari ini saya percaya dan mau belajar bahwa saya diberkati dan diperlengkapi dan diberdayakan dan terpilih untuk pekerjaan dan kuliah saya di sini. Beberapa hari ini memang saya sedikit depresi karena menghindari kesenangan, tak ingin menikmati cahaya matahari karena selama sebulan lebih saya memilih mengurung diri dan hanya beredar di dunia maya, hanya menelpon orang tua saya dan lain – lain dan dalam satu sisi saya sedang menyiksa diri sendiri. Hari ini saya memilih untuk tidak mau membuka akun FB saya, memilih menghindari kegiatan – kegiatan ngobrol di dunia maya yang berlebihan.
Hari ini jendela kamar saya dibuka, melihat keluar jendela dan mengagumi musim dingin dari jendela kamar. Melihat ikan cupang biru tua di kamar berlarian dan membiarkan tanaman saya mendapatkan cahaya yang cukup.
Hari ini saya ingin menjadi saya yang baru. Saya yang tidak memberikan excuse ataupun pengecualian – pengecualian dalam hidup saya. Saya yang baru dan punya mimpi panjang yang perlu direalisasikan.
Saya ingin hari ini tak lagi peduli pada kenangan masa lalu saya yang masih membelenggu saya dalam seminggu ini, tak ingin lagi memikirkan kesedihan ditinggal pergi keponakan saya ke surga, tak ingin lagi memikirkan hal – hal yang akan menghambat pencapaian mimpi saya.
Meskipun demikian, saya tetap akan memantau masalah tentang Papua, membaca laporan HAM di tempat kelahiran saya, melihat dan membaca perkembangan umat Kristen yang teraniaya di Indonesia bagian barat dan juga di seluruh dunia dan akan tetap mendoakan mereka. Karena saya menemukan passion saya di sana.
Saya tetap akan kembali dan berdoa dan percaya bahwa impian saya suatu hari nanti akan tercapai. Impian – impian tentang sistem pendidikan dasar di Papua khususnya di kota Manokwari tentang pendidikan di kawasan slum dan bagi masyarakat marjinal perkotaan, program kids for environment, punya kids centre yang gratis dan dapat diakses khususnya bagi anak – anak dari kaum marjinal, punya perusahaan daur ulang yang eco-friendly dan mengedepankan fair-trade, punya sentra usaha kecil rumah tangga yang bergerak di bidang handicraft dan aksesoris tetapi mengedepankan fair-trade dan eco-friendly dan beberapa impian kecil lainnya.
Saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Tahun ini, di kala waktu – waktu berdoa saya, saya selalu diingatkan tentang Daniel, tentang karakteristik Daniel di dalam diri saya. Kala berdoa itu, saya selalu diingatkan tentang visi Daniel. Kadang saya protes pada suara itu dengan berargumentasi bahwa saya perempuan dan saya merasa visi Daniel terlalu berat bagi saya. Terlalu berat. Tapi suara dalam hati saya selalu bilang bahwa saya harus menjalankan visi Daniel itu. Visi yang menurut saya bukan urusan saya karena berhubungan dengan integritas dan juga politik serta pembuat keputusan dan ketekunan karena saya tahu sampai dimana kapasitas saya sebagai manusia. Tetapi entahlah … karena hal itu, saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu berselancar di dunia maya mencari tahu karakter apa yang ada dalam diri Daniel yang harus saya optimalkan dalam hidup saya. Jujur tahun ini saya merasa panggilan itu semakin kuat dan membuat saya tidak ingin bangun tidur karna kadang visi – visi tentang akhir zaman, melihat Papua dan Indonesia yang berdarah – darah, berdoa dan mimpi melihat kedatangan Tuhan dan penghancuran dunia, melihat visi – visi tentang membangun sesama lewat program – program beterbangan dalam hidup saya dan kadang merasa bahwa saya tidak mengontrol diri saya sendiri karena fokus saya terbagi. Sangat terbagi. Belum lagi diingatkan untuk terus mendoakan orang – orang Kristen khususnya yang suam – suam kuku di Indonesia dan tanah Papua untuk lebih percaya pada Kristus, untuk percaya dengan sungguh – sungguh dan berbuah.
Tak heran saya beberapa kali curhat dan meminta kepada teman – teman saya untuk mendoakan saya karena jujur, saya takut. Bahkan saya tidak berani cerita ke orang tua saya tentang apa yang saya lihat dan dengar walaupun sejak SMA telah bisa mendengar suara itu di dalam diri saya. Jujur saya takut tapi saya percaya ini hanya sebuah proses yang wajib saya jalani.
Anggap saja saya pemimpi. Seorang pemimpi.
Anggap saja saya gila. Satu langkah menjadi orang gila.
Daniel mungkin tokoh yang bagi orang lain biasa saja. Tapi bagi saya akhir – akhir ini, karakter Daniel sering diingatkan pada saya dan walaupun berat, saya ingin melakukannya perlahan – lahan. Beberapa karakter Daniel yang membuat saya sering bertanya pada diri sendiri akhir – akhir ini adalah apakah memang Tuhan serius dengan mengingatkan saya tentang Daniel saat saya berada di Australia sebagai momen yang tepat saat ini. Ada beberapa hal yang membuat saya sambil mengetik catatan ini tertawa dalam hati dan ingin bilang sama Tuhan, “God, Sa kok baru kepikiran hari ini dan lihat akan deng lebih jelas eeee”
Anggap saja saya gila dalam titik ini ^_^
Saya melihat Tuhan sedang mengarahkan saya untuk mencoba menjadi dan melakukan apa yang dilakukan Daniel untuk hidup saya saat ini. Mungkin kedengaran gila tapi tiap kali saya berdoa, ada perkataan dalam hati saya yang selalu muncul bahwa saya akan pergi ke tempat – tempat dimana orang lain dari bangsa saya hanya bisa bermimpi, saya akan menjadi salah satu perwakilan bangsa saya berbicara tentang bangsa ini dan lain – lain yang tidak dapat saya sebutkan di dalam catatan ini. Kadang saya mengedepankan logika saya dan bilang, “tra mungkin ya. Mungkin cuma impian saya yang terpendam dan keluar di saat saya stress” tapi perkataan seperti itu kerap muncul apabila saya lagi merasa down dan menjadi semacam penguat bagi saya untuk bangkit dan mencoba lagi.
Daniel adalah seorang nabi yang juga seorang “penerjemah” dalam artian dia bisa menerjemahkan tulisan tangan Tuhan. Dia seorang terpelajar dan bijak dan Tuhan banyak membukakan rahasianya padanya. Daniel juga seorang yang mempunyai ketetapan hati yang kuat dan punya integritas walau ancamannya Maut.
Saya hanya berharap bahwa suatu hari nanti saat saya bertemu Yesus, semoga saya tidak mengecewakan-Nya dan bisa bilang bahwa saya mencoba dan berusaha menjadi seperti Daniel. Be faithful to the end!!!
“Beranilah seperti Daniel;
Peganglah kebenaran,
Meskipun di mulut Singa,
tetap percaya Tuhan”
(Lagu Sekolah Minggu)
(Canberra, 23 Juni 2010)
Thursday, 17 June 2010
Missing You
Sesak, itu yang sa rasa subuh ini !! Mungkin kata2nya kaka El tadi di dapur benar, mungkin sa simpan perasaan ini terlalu dalam untuk dia, si ‘lelaki hujan’ jadi sa sering ngomong tentang dia, bicara tentang dia dan tulis tentang dia. Apalagi tadi lagunya Nine Ball “Hingga akhir waktu” sukses mengekspresikan apa yang sa rasa untuk dia. Padahal su 9 bulan sa tra pikir tentang dia lagi tapi karna macam 1 bulan lagi su balik Manokwari, entah kenapa semuanya jadi begitu segar. Mungkin karena de pu acara ‘chat’ di FB tuh kapa eee. Jadi macam semuanya kembali dan sapu rasionalitas semua bubar. Tra tau juga nih, tapi sa mencoba jujur deng sapu perasaan saja subuh ini kalo sa masih rindu dia, sangat rindu!!! Entahlah, malam sampe subuh ini sa ingat de sekali dan anehnya, sa su tra ingat de pu kekurangan – kekurangan dan kejelekan lagi. Nangka skali eeee, padahal su smangat maki – maki dia selama 9 bulan ini tapi kok, pas usai berapa hari tahu de masih simpan sa foto dan bicara, smuanya bubar eee. Luluh skali ….
Andai de bisa baca puisi nih. Sa tra tau apa sa masih sayang dia ka ini cuma ekspresi kesepian eee. Yang pasti, sa rindu dia.
***
Rasa dan Masa
Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari
Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya
Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan
Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.
Puisi Yukako tanggal 12 September 2002, jam 11.50 malam
(Novel Mahadewa Mahadewi karya Nova Riyanti Yusuf, hal.68)
Andai de bisa baca puisi nih. Sa tra tau apa sa masih sayang dia ka ini cuma ekspresi kesepian eee. Yang pasti, sa rindu dia.
***
Rasa dan Masa
Rasa, tidak seharusnya diajari
Rasa, tidak seharusnya dibatasi
Rasa, tidak seharusnya dipagari
Masa, tidak jelas dimulainya
Masa, tidak jelas dinikmatinya
Masa, tidak jelas diakhirinya
Tetapi keduanya ada
Rasa dan masa
Saling bertautan
Ketika rasa itu tumbuh, pada masa yang salah.
Ketika rasa itu harus luruh, pada saat rasa menabur benih yang paling jujur
Namun ketika masa mengakhiri semuanya,
Sungguh beruntung rasa telah diajari, dibatasi, dan dipagari.
Puisi Yukako tanggal 12 September 2002, jam 11.50 malam
(Novel Mahadewa Mahadewi karya Nova Riyanti Yusuf, hal.68)
Monday, 14 June 2010
Malam Tanpa Nama
Bintang pekat berbalut gelap
Bulan pudar mencair kelam
‘mai – mai’ berlari riang
Hening tanpa suara
Ngengat gelap berpesta pora
Mengajak kumbang beradu gigi
Peluh mengucur dalam diam
Lelaki – lelaki berkulit gelap
Bang - bung – bong
Seng – seng pun terkoyak
Bak – bik – buk
Sepatu – sepatu lars beradu tulang
Dingin!
Kelam!
Gelap!
Perih!
Sakit!
Urine mengambang dalam tenggorokan,
Dingin menusuk tulang badan – badan telanjang
Darah menetes tanpa henti
Tubuh – tubuh gelap kesakitan.
Plak – plek – plok
Wajah gelap berlukis tangan
Bak – bik - buk
Lenguh kesakitan bercampur darah
Langit Ifaar berselimutkan ‘paniki’,
‘Paniki – paniki’ pengisap darah!
Bumi Ifaar bermandi keringat,
Keringat – keringat bercampur darah!
Tubuh – tubuh gelap
Terseret, terpukul, terinjak, tertendang.
Tubuh – tubuh gelap
Tercabik, terampas, tertindas, terjerembab.
Kekupu telah pergi.
Laron – laron berpesta.
‘Soa – soa’ telah pergi,
Cicak rumah bertepuk dada.
Malam tanpa nama
Malam tanpa suara
Bentara jiwa tak lagi menjadi raja
Tenggelam di relung – relung gunung Ifaar
Saudara berganti nama menjadi musuh
Sahabat berganti rupa menjadi begundal
Kawan berganti wujud menjadi ‘bromocorah’
Nafas di dada pun berkhianat!
Malam tanpa nama
Malam tanpa suara
Malam panjang tanpa kata
Malam panjang penuh darah.
Masihkah diingat oleh anak cucu?
Entahlah!
Aku tak tahu.
(Canberra, 14 Juni 2010; terinspirasi oleh Peristiwa Desember 1962 di Ifaar)
Bulan pudar mencair kelam
‘mai – mai’ berlari riang
Hening tanpa suara
Ngengat gelap berpesta pora
Mengajak kumbang beradu gigi
Peluh mengucur dalam diam
Lelaki – lelaki berkulit gelap
Bang - bung – bong
Seng – seng pun terkoyak
Bak – bik – buk
Sepatu – sepatu lars beradu tulang
Dingin!
Kelam!
Gelap!
Perih!
Sakit!
Urine mengambang dalam tenggorokan,
Dingin menusuk tulang badan – badan telanjang
Darah menetes tanpa henti
Tubuh – tubuh gelap kesakitan.
Plak – plek – plok
Wajah gelap berlukis tangan
Bak – bik - buk
Lenguh kesakitan bercampur darah
Langit Ifaar berselimutkan ‘paniki’,
‘Paniki – paniki’ pengisap darah!
Bumi Ifaar bermandi keringat,
Keringat – keringat bercampur darah!
Tubuh – tubuh gelap
Terseret, terpukul, terinjak, tertendang.
Tubuh – tubuh gelap
Tercabik, terampas, tertindas, terjerembab.
Kekupu telah pergi.
Laron – laron berpesta.
‘Soa – soa’ telah pergi,
Cicak rumah bertepuk dada.
Malam tanpa nama
Malam tanpa suara
Bentara jiwa tak lagi menjadi raja
Tenggelam di relung – relung gunung Ifaar
Saudara berganti nama menjadi musuh
Sahabat berganti rupa menjadi begundal
Kawan berganti wujud menjadi ‘bromocorah’
Nafas di dada pun berkhianat!
Malam tanpa nama
Malam tanpa suara
Malam panjang tanpa kata
Malam panjang penuh darah.
Masihkah diingat oleh anak cucu?
Entahlah!
Aku tak tahu.
(Canberra, 14 Juni 2010; terinspirasi oleh Peristiwa Desember 1962 di Ifaar)
Saturday, 12 June 2010
lanjutkan hidupmu (tanpa aku)!!!
Kau lupa,
Darah yang mengalir di dalam tubuhku bukan darah pengecut.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku penuh bibit pemberontakan.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku penuh gen amarah yang terbungkus selaput toleransi.
Tapi kau membuatnya kembali cerai – berai terkelupas … lagi.
Kau lupa,
Jaringan tubuh ini terbuat dari daging, darah, sel dan serabut syaraf yang padat.
Jaringan tubuh ini terbuat dari komposisi kenangan dan derita nenek moyangku.
Jaringan tubuh ini terbuat dari tetesan garam luka – luka penderitaan.
Tapi kau membuatnya kembali terbuka dan menganga … lagi.
Kau lupa,
Nenek moyangku tak pernah jadi pecundang dalam pertempuran.
Nenek moyangku tak pernah berdiam diri saat ditekan.
Nenek moyangku tak pernah diam seribu Bahasa tanpa melawan.
Tapi kau membuatku seakan aku lupa.
Kau lupa,
Aku bukan satu produk ras, budaya, ataupun Bahasa.
Aku bukan satu produk kenangan kolektif yang tersimpan dalam DNAku.
Aku bukan satu produk pemahaman bersama yang dibagikan.
Tapi kau membuatku seakan aku tak tahu.
Kau tahu,
Aku ingin sekali bertemu kau dan bilang:
Kau bukan siapa – siapa bagiku.
Kau bahkan tak layak untuk mengatur hidupku.
Tak layak mengintervensi jalan hidupku apalagi kebahagiaanku.
Aku minta,
Jangan buat aku patahkan sayap – sayap malaikat yang kutumbuhkan
Kutumbuhkan dengan susah payah
Kutumbuhkan dengan menekan sisi – sisi gelapku
Kutumbuhkan dengan memberontak pada ras, budaya, dan DNAku.
Karena aku tak mau menyakitimu, tak ingin!
Karena aku pernah sekali menitipkan hatiku padamu.
Kau lupa,
Darah yang mengalir di tubuhku menyimpan kenangan perlawanan.
Sangat kuat, brutal, dan kental.
Empat darah ini tak pernah luntur selalu terjalin, terlalu kuat.
Kau lupa pula, aku masih punya tambahan unsur budaya lainnya,
Yang kadang membuatku arogan dan tak memandang orang sepertimu.
Tapi semuanya pernah kusingkirkan dan kutolak;
Karena aku pernah sekali mencintaimu dalam.
Aku mengenang darah dan DNA berkromosom X yang mengalir di tubuhku,
Campuran kelihaian memperdaya musuh dan menikam dari belakang.
Menawarkan muka manis dan siap dengan belati penuh racun.
Tapi siap membela mereka yang dicintai hingga titik darah terakhir.
Selalu percaya bahwa ketekunan dan sikap berserah menjadi kekuatan.
Mungkin aku salah karna aku terlalu banyak mengadopsi kromosom ini.
Terlalu salah bertahun – tahun menerima nasib dan menyimpannya dalam diam.
Terlalu salah percaya bahwa ini memang digariskan oleh yang di atas.
Terlalu salah berdiam diri dan diinjak – injak.
Kadang aku benci kromosom X ini.
Benci karena berusaha menjaga kata – kataku.
Benci karena berusaha menjaga sikapku dan mengerti.
Benci karena percaya bahwa aku harus nrimo.
Tapi itulah aku; kromosom X ini bagian dari hidupku.
Bagian yang tak terpisahkan.
Yang sangat membentukku.
Pernah sekali ku ingin aktifkan kromosom Yku
Ingin sekali.
Melihat mereka yang berbagi kromosom ini
Yang bisa bicara dan bilang, “neh stop bikin diri suda, Macam ko bagus saja ka”
Tapi tak pernah berhasil bisa kuaktifkan sempurna
Kala berhadapan dengan sesuatu yang bernama perasaan.
Aku rindu kromoson Y.
Ingin sekali berteriak, menghajar, memukul.
Ingin sekali tampakkan amarah dan tak suka ini,
Ingin sekali membuatmu berdarah.
Aku minta,
Pahamilah, mengertilah!
Aku tak ingin tersiksa harus kembali ke kubikel amarah itu.
Aku tak ingin tersiksa menyimpan dendam seperti belasan tahun lalu.
Aku tak ingin tersiksa.
Sisi gelap diriku dari kedua kromosomku telah kutekan.
Sisi gelap diriku telah kujinakkan.
Sisi gelap diriku telah kukandangkan dan kurantai
Sisi gelap diriku telah kusimpan.
Mengertilah,
Aku tak ingin sakiti Dia yang kucinta saat ini,
Dia yang sembuhkan, balut hatiku kala kau lukai dulu.
Dia yang rawat aku kala terjatuh dan menangis.
Dia yang setia mendengar tangisku.
Mengertilah,
Aku tak ingin kembali pada sisi gelapku dan membuat Dia menangis,
Aku mencintai-Nya, sangat mencintai-Nya
Tak ingin sakiti hati-Nya dengan sikap lamaku.
Kau tak pernah tahu luka yang kau toreh,
Tak pernah tahu berapa banyak malam aku menangis
Tak pernah tahu dan mungkin tak mau tahu.
Kau tahu,
Aku telah menemukan cinta di dalam diri-Nya.
Jangan ganggu aku lagi dengan tawaran keping masa lalu.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan ganggu aku lagi dengan mimpi usang tanpa nama.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan patahkan sayap – sayap malaikat yang kutumbuhkan susah payah.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan rebut kebahagiaanku.
Lanjutkan hidupmu!
Kau bukan dan tak akan pernah menjadi bagian hidupku lagi.
Aku sudah menemukan cinta sejatiku.
Lanjutkan hidupmu dan jangan ganggu aku.
(Campbell, 12 Juni 2010)
Darah yang mengalir di dalam tubuhku bukan darah pengecut.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku penuh bibit pemberontakan.
Darah yang mengalir di dalam tubuhku penuh gen amarah yang terbungkus selaput toleransi.
Tapi kau membuatnya kembali cerai – berai terkelupas … lagi.
Kau lupa,
Jaringan tubuh ini terbuat dari daging, darah, sel dan serabut syaraf yang padat.
Jaringan tubuh ini terbuat dari komposisi kenangan dan derita nenek moyangku.
Jaringan tubuh ini terbuat dari tetesan garam luka – luka penderitaan.
Tapi kau membuatnya kembali terbuka dan menganga … lagi.
Kau lupa,
Nenek moyangku tak pernah jadi pecundang dalam pertempuran.
Nenek moyangku tak pernah berdiam diri saat ditekan.
Nenek moyangku tak pernah diam seribu Bahasa tanpa melawan.
Tapi kau membuatku seakan aku lupa.
Kau lupa,
Aku bukan satu produk ras, budaya, ataupun Bahasa.
Aku bukan satu produk kenangan kolektif yang tersimpan dalam DNAku.
Aku bukan satu produk pemahaman bersama yang dibagikan.
Tapi kau membuatku seakan aku tak tahu.
Kau tahu,
Aku ingin sekali bertemu kau dan bilang:
Kau bukan siapa – siapa bagiku.
Kau bahkan tak layak untuk mengatur hidupku.
Tak layak mengintervensi jalan hidupku apalagi kebahagiaanku.
Aku minta,
Jangan buat aku patahkan sayap – sayap malaikat yang kutumbuhkan
Kutumbuhkan dengan susah payah
Kutumbuhkan dengan menekan sisi – sisi gelapku
Kutumbuhkan dengan memberontak pada ras, budaya, dan DNAku.
Karena aku tak mau menyakitimu, tak ingin!
Karena aku pernah sekali menitipkan hatiku padamu.
Kau lupa,
Darah yang mengalir di tubuhku menyimpan kenangan perlawanan.
Sangat kuat, brutal, dan kental.
Empat darah ini tak pernah luntur selalu terjalin, terlalu kuat.
Kau lupa pula, aku masih punya tambahan unsur budaya lainnya,
Yang kadang membuatku arogan dan tak memandang orang sepertimu.
Tapi semuanya pernah kusingkirkan dan kutolak;
Karena aku pernah sekali mencintaimu dalam.
Aku mengenang darah dan DNA berkromosom X yang mengalir di tubuhku,
Campuran kelihaian memperdaya musuh dan menikam dari belakang.
Menawarkan muka manis dan siap dengan belati penuh racun.
Tapi siap membela mereka yang dicintai hingga titik darah terakhir.
Selalu percaya bahwa ketekunan dan sikap berserah menjadi kekuatan.
Mungkin aku salah karna aku terlalu banyak mengadopsi kromosom ini.
Terlalu salah bertahun – tahun menerima nasib dan menyimpannya dalam diam.
Terlalu salah percaya bahwa ini memang digariskan oleh yang di atas.
Terlalu salah berdiam diri dan diinjak – injak.
Kadang aku benci kromosom X ini.
Benci karena berusaha menjaga kata – kataku.
Benci karena berusaha menjaga sikapku dan mengerti.
Benci karena percaya bahwa aku harus nrimo.
Tapi itulah aku; kromosom X ini bagian dari hidupku.
Bagian yang tak terpisahkan.
Yang sangat membentukku.
Pernah sekali ku ingin aktifkan kromosom Yku
Ingin sekali.
Melihat mereka yang berbagi kromosom ini
Yang bisa bicara dan bilang, “neh stop bikin diri suda, Macam ko bagus saja ka”
Tapi tak pernah berhasil bisa kuaktifkan sempurna
Kala berhadapan dengan sesuatu yang bernama perasaan.
Aku rindu kromoson Y.
Ingin sekali berteriak, menghajar, memukul.
Ingin sekali tampakkan amarah dan tak suka ini,
Ingin sekali membuatmu berdarah.
Aku minta,
Pahamilah, mengertilah!
Aku tak ingin tersiksa harus kembali ke kubikel amarah itu.
Aku tak ingin tersiksa menyimpan dendam seperti belasan tahun lalu.
Aku tak ingin tersiksa.
Sisi gelap diriku dari kedua kromosomku telah kutekan.
Sisi gelap diriku telah kujinakkan.
Sisi gelap diriku telah kukandangkan dan kurantai
Sisi gelap diriku telah kusimpan.
Mengertilah,
Aku tak ingin sakiti Dia yang kucinta saat ini,
Dia yang sembuhkan, balut hatiku kala kau lukai dulu.
Dia yang rawat aku kala terjatuh dan menangis.
Dia yang setia mendengar tangisku.
Mengertilah,
Aku tak ingin kembali pada sisi gelapku dan membuat Dia menangis,
Aku mencintai-Nya, sangat mencintai-Nya
Tak ingin sakiti hati-Nya dengan sikap lamaku.
Kau tak pernah tahu luka yang kau toreh,
Tak pernah tahu berapa banyak malam aku menangis
Tak pernah tahu dan mungkin tak mau tahu.
Kau tahu,
Aku telah menemukan cinta di dalam diri-Nya.
Jangan ganggu aku lagi dengan tawaran keping masa lalu.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan ganggu aku lagi dengan mimpi usang tanpa nama.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan patahkan sayap – sayap malaikat yang kutumbuhkan susah payah.
Lanjutkan hidupmu!
Jangan rebut kebahagiaanku.
Lanjutkan hidupmu!
Kau bukan dan tak akan pernah menjadi bagian hidupku lagi.
Aku sudah menemukan cinta sejatiku.
Lanjutkan hidupmu dan jangan ganggu aku.
(Campbell, 12 Juni 2010)
Thursday, 10 June 2010
Dari Power Rangers, edisi mesin tik hingga surat kaleng (Unsrat 2002 - 2003)
Di tengah – tengah kesibukan membutu waktu untuk esai, tiba – tiba kenangan – kenangan masa kuliah dengan sombongnya menginvasi perhatianku apalagi beberapa kenangan itu membuatku blushing dan merona sendiri subuh ini. Masa kuliah S1 memang tak ada matinya. A walk to remember banget!!!
Masa kuliah S1 bagiku cukup berkesan karna aku merasakan aroma akademik di dua universitas. Pertama di Unsrat Manado dan kedua di Unipa Manokwari tapi keduanya di jurusan yang sama; sastra Inggris. Tentu saja tiap universitas dan teman – teman yang berbeda memberi sentuhan warna yang berbeda pula.
Aku mengenang teman – teman di Manado sebagai teman – teman seperjuangan jadi mahasiswa pertama kali. Mulai dari orientasi + baksos sebulan penuh acara berbagi ludah dalam segelas air kumuran yang dibagi per 80an anak, hingga acara tampar menampar dan tekanan fisik yang tentu saja banyak kuikuti dengan acara bergabung di “palang merah” saking kebanyakan pingsan mendengar bentakan dan shock. Maklum aku baru saja selesai proses terapi dan pemulihan kesehatanku usai lumpuh di tahun terakhir masa SMA, itulah sebabnya aku yang seharusnya kuliah di angkatan 2001 terpaksa beristirahan setahun guna pemulihan. Teman – teman dekat di Manado adalah teman – teman “power rangers”ku. Mulai dari genk kami yang selalu bersama – sama termasuk mereka menjadi partner-in-crimeku. Ada sih Utin, Ola, Della, Titin. Plus si Pao, Manfred dan Paul; para hulubalang anana komen. Kemudian ditambah dengan Morries, Maya dan juga Rain. Tentu saja aku juga mengembangkan jaringan bermain dengan teman – teman seangkatan walau tak seintens dengan para power rangers. Merekalah yang pertama mengajariku untuk percaya lagi pada arti persahabatan usai masa SMA di mana persahabatanku menjadi rapuh kala kelumpuhanku dulu. Para sahabat ini benar – benar berbagi kegilaanku. Tentu saja termasuk edisi menghindari berpapasan dengan si Ncih killer yang mengajar mata kuliah speaking di lingkungan kampus (masih keingat caranya buat si Della apa Ola menangis ya karna beasiswa spanggal itu , dan juga caranya mengubah namaku jadi ‘Irmawati” :D )
Aku masih ingat bagaimana aku sering mengajak para power rangers sering membuka acara ngeceng cowok Ambon ganteng di Fakultas Ekonomi yang suaranya keren abis, lupa namanya siapa, kalau tak salah si Dwight (walau si Utin kadang tak setuju kalo tuh cowok manis xixixixixi). Gosh, that guy suaranya keren abis dan bertampang itam manis ^___^. Atau juga ngecengin bu Pait (lupa namanya Piter siapa, pokoknya anak 2000 dari Pertanian deh). Power rangers juga membantuku menyebarkan “surat cinta kaleng” pada 2 kakak tingkat (1 kakak tingkat Papua, 1 kakak tingkat yang gemar memakai baju Superman yang kebetulan adiknya sekelas denganku). Tentu saja, efeknya sangat fantastis, dari kakak Papua yang mengirim salam balik (padahal saat itu otakku masih sangat iseng talapas) hingga edisi salah tangkap orang alias adeknya si cowok target salah “interogasi” teman cewekku dan nangka-nya aku waktu itu, tuh cewek korban salah tangkap malah curhat ke aku dan genkku yang semuanya mengirimkan pandangan “look, what are you doing, May?” walau kemudian memang saat kepindahanku aku meminta maaf lewat surat TAPI tetap saja cukup berdosa saat itu membuat anak orang menangis. Tentu saja juga belum termasuk menyampaikan surat ‘suka’ ke cowok toraja satu yang suka temani Utin dan aku jalan kaki pagi – pagi dari kos ke kampus dan kebetulan sekelas dengan kami wkwkwkwkwk.
Edisi gila pernah juga terjadi kala aku salah membaca dan mempersepsikan voucher makan gratis di sebuah hotel di Manado. Harusnya di pondoknya ee malah dengan PDnya mengajak 2 teman ke restoran dan memesan banyak makanan dan ternyata salah tempat. Alhasil terpaksa menggesek kartu debit saat itu. Aku ingat benar hari itu di bulan September 2002 karena itu bulan tersial dalam hidupku di Manado; salah baca voucher, kecurian duit di kos sampe 2 jutaan lebih dari teman kos lama yang kleptomania plus anjingku tewas dan acara ulang tahunku batal.
Edisi Unsrat itu juga bisa kubilang sebagai edisi mahasiswa mesin tik. Karna waktu itu aku tak punya komputer, masih agak kaku ngetiknya dan yang kubawa itu sebuah mesin tim pemberian oomku bermerk ‘Brother’ yang kadang juga dipinjam sama anak – anak cowok Tual di sebelah kamar. Aku memang ngekos di kos cowok dan berbagi dapur dan 2 kamar mandi bersama sekitgar 12 orang cowok plus Utin dan juga seekor anjing kos bernama Scooby. Oooops ampir lupa dan juga sumur pompa yang selalu sukses membuat otot – otot tanganku atletis :D
Edisi Unsrat ini tentu saja tak bisa lepas juga dari acara ngecengin cowok dan herannya kebanyakan cowok yang kukecengin itu ternyata dari sebuah pulau bernama Biak di teluk Cenderawasih sana eeee. Aku masih ingat jelas wajahnya si Elvis, cowok hukum berbadan kecil – kecil dan hitam manis dengan baju a la turtle neck ataupun long sleeves dan baseball cap yang selalu lewat depan teater terbuka. Asramanya memang berhadapan dengan parkiran kampus ungu Fakultas sastra, kalo tak salah namanya wisma apa asrama angin laut getho :D. Tiap kali si Elvis lewat, pasti si Ola dan Della atau Utin akan memberiku kode, kadang mencolekku, kadang menyikutku, pokoknya aneh binti ajaib. Guess what I’d do? Pasti namanya si Elvis pun mengudara dari kapasitas laringsku yang terbatas sambil tentu saja power rangers pada ketawa melihat si Elvis salah tingkah :D Sangat menikmati saat itu gangguin orang. Tentu saja tak ada hubungan apapun dan rasa apapun walau baru tahu bahwa si Elvis pernah suka. Buktinya, tahun 2006 kala aku sedang sibuk dalam perjalanan relawan ke Sorong Selatan dan baru abis muntah – muntah amburadul mabuk darat, ia gencar mengirimkan SMS dan telpon etc tapi keburu kukibuli kalo aku sedang hamil sekian bulan agar tak didekati dan ternyata berhasil wkwkwwkkwkw. Nangka banget kalo diingat – ingat ^__^
Tentu saja edisi kuliah di Manado tak bisa dilepaskan dari peran teman – teman di tempat kosku yang ketiga, yang pemiliknya orang Tanimbar – Manado. Tak heran nama kosnya “Wale Lelemuku”. Mungkin kedengaran gila tapi dalam setahun di Unsrat aku sampai 3 kali ganti kos yang pertama sekitar 2 apa 3 bulan, diganti ke dua yang hanya bertahan sekitar 2 minggu (dan enggan mengembalikan duitku yang terlanjur dibayar per 2 bulan). Di kos ke tiga, ada beberapa teman anak Manokwari yang benar – benar gila dan mengisi hari – hari kosku. Acara kami kalau bukan berkumpul di dapur atau di kamar mereka dan mulai sibuk bercerita mop sampai ketawa bokar – bokar, pasti cerita hantu :D. Sayang salah satu dari teman di kos itu yang kerap dikira sodaraku, alm. Eric sudah meninggal. Saat itu, Theus, alm. Eric, Arie, Nixon dan tentu saja ada Anes anak Kao, Maluku Utara dan si Billie anak Merauke. Utin kadang bergabung, kadang tidak dalam acara kumpul – kumpul main kartu kami. Jangan tanya lagi seribut apa suara kami, bapak kos sampai kadang sedikit emosi menegur saking menggunturnya suara kami. Miss that time ^___^ Apalagi edisi yang sangat kuingat dan kadang bikin ketawa tuh saat edisi mengomel di dapur karna peralatan masak atau sendokku ada yang lenyap atau ada yang muntah karena mabuk di kamar mandi. Mulai dari kak Ventie (kakak jurusan kelautan yang dianggap tetua kos) hingga teman – teman lain diinterogasi semua.
Ada banyak hal yang kurindukan kala itu. Khususnya edisi power rangers dan teman – teman kos. Masih teringat jelas bagaimana khawatirnya anak – anak kos yang melaporkan “berita duka” saat orang tuaku menelpon dan kasi tahu kalo anjing kesayanganku tewas diracun orang, dan sialnya telpon itu letaknya di samping televisi yang lagi putar film. Yang ada ekspresi kaget dan berbombay ria pun tampak dan memilih segera kabur ke kamar. Tentu saja menyamarkan suara tangisan, lagu hip – hop pun diputar keras – keras guna menyamarkan suara :D eee paginya malah ‘diwawancarai’ empati ibu kos pas lagi mo ke dapur, tentang “siapa yang berpulang?” atas laporan teman – teman dan sialnya lagi ada penampakan teman kos yang lain. Pertanyaan ini sempat membuatku bingung, siapa yang pulang coba, pulang dari kemana, jadi saat dikatakan siapa yang “meninggal”, yang ada aku langsung ketawa dengan tampang penuh mata bengkak dan menjelaskan kalo anjingku mati. Jangan ditanya lagi bagaimana gosip aku menangisi anjing itu tersebar xixixixixixi
Malam ini, aku tersadar bahwa aku pernah berbagi hidup dengan orang – orang hebat yang bisa membuatku seperti hari ini. Orang – orang yang mewarnai hidupku dan menawarkan persahabatan. Yang mengijinkan aku menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.
Hanya bisa bilang, terima kasih banyak ^___^ Guys ‘n gals, thanx 4 coloring my life. May the peace of God be upon you for the rest of your life. Amen
(Campbell, 10 June 2010)
Masa kuliah S1 bagiku cukup berkesan karna aku merasakan aroma akademik di dua universitas. Pertama di Unsrat Manado dan kedua di Unipa Manokwari tapi keduanya di jurusan yang sama; sastra Inggris. Tentu saja tiap universitas dan teman – teman yang berbeda memberi sentuhan warna yang berbeda pula.
Aku mengenang teman – teman di Manado sebagai teman – teman seperjuangan jadi mahasiswa pertama kali. Mulai dari orientasi + baksos sebulan penuh acara berbagi ludah dalam segelas air kumuran yang dibagi per 80an anak, hingga acara tampar menampar dan tekanan fisik yang tentu saja banyak kuikuti dengan acara bergabung di “palang merah” saking kebanyakan pingsan mendengar bentakan dan shock. Maklum aku baru saja selesai proses terapi dan pemulihan kesehatanku usai lumpuh di tahun terakhir masa SMA, itulah sebabnya aku yang seharusnya kuliah di angkatan 2001 terpaksa beristirahan setahun guna pemulihan. Teman – teman dekat di Manado adalah teman – teman “power rangers”ku. Mulai dari genk kami yang selalu bersama – sama termasuk mereka menjadi partner-in-crimeku. Ada sih Utin, Ola, Della, Titin. Plus si Pao, Manfred dan Paul; para hulubalang anana komen. Kemudian ditambah dengan Morries, Maya dan juga Rain. Tentu saja aku juga mengembangkan jaringan bermain dengan teman – teman seangkatan walau tak seintens dengan para power rangers. Merekalah yang pertama mengajariku untuk percaya lagi pada arti persahabatan usai masa SMA di mana persahabatanku menjadi rapuh kala kelumpuhanku dulu. Para sahabat ini benar – benar berbagi kegilaanku. Tentu saja termasuk edisi menghindari berpapasan dengan si Ncih killer yang mengajar mata kuliah speaking di lingkungan kampus (masih keingat caranya buat si Della apa Ola menangis ya karna beasiswa spanggal itu , dan juga caranya mengubah namaku jadi ‘Irmawati” :D )
Aku masih ingat bagaimana aku sering mengajak para power rangers sering membuka acara ngeceng cowok Ambon ganteng di Fakultas Ekonomi yang suaranya keren abis, lupa namanya siapa, kalau tak salah si Dwight (walau si Utin kadang tak setuju kalo tuh cowok manis xixixixixi). Gosh, that guy suaranya keren abis dan bertampang itam manis ^___^. Atau juga ngecengin bu Pait (lupa namanya Piter siapa, pokoknya anak 2000 dari Pertanian deh). Power rangers juga membantuku menyebarkan “surat cinta kaleng” pada 2 kakak tingkat (1 kakak tingkat Papua, 1 kakak tingkat yang gemar memakai baju Superman yang kebetulan adiknya sekelas denganku). Tentu saja, efeknya sangat fantastis, dari kakak Papua yang mengirim salam balik (padahal saat itu otakku masih sangat iseng talapas) hingga edisi salah tangkap orang alias adeknya si cowok target salah “interogasi” teman cewekku dan nangka-nya aku waktu itu, tuh cewek korban salah tangkap malah curhat ke aku dan genkku yang semuanya mengirimkan pandangan “look, what are you doing, May?” walau kemudian memang saat kepindahanku aku meminta maaf lewat surat TAPI tetap saja cukup berdosa saat itu membuat anak orang menangis. Tentu saja juga belum termasuk menyampaikan surat ‘suka’ ke cowok toraja satu yang suka temani Utin dan aku jalan kaki pagi – pagi dari kos ke kampus dan kebetulan sekelas dengan kami wkwkwkwkwk.
Edisi gila pernah juga terjadi kala aku salah membaca dan mempersepsikan voucher makan gratis di sebuah hotel di Manado. Harusnya di pondoknya ee malah dengan PDnya mengajak 2 teman ke restoran dan memesan banyak makanan dan ternyata salah tempat. Alhasil terpaksa menggesek kartu debit saat itu. Aku ingat benar hari itu di bulan September 2002 karena itu bulan tersial dalam hidupku di Manado; salah baca voucher, kecurian duit di kos sampe 2 jutaan lebih dari teman kos lama yang kleptomania plus anjingku tewas dan acara ulang tahunku batal.
Edisi Unsrat itu juga bisa kubilang sebagai edisi mahasiswa mesin tik. Karna waktu itu aku tak punya komputer, masih agak kaku ngetiknya dan yang kubawa itu sebuah mesin tim pemberian oomku bermerk ‘Brother’ yang kadang juga dipinjam sama anak – anak cowok Tual di sebelah kamar. Aku memang ngekos di kos cowok dan berbagi dapur dan 2 kamar mandi bersama sekitgar 12 orang cowok plus Utin dan juga seekor anjing kos bernama Scooby. Oooops ampir lupa dan juga sumur pompa yang selalu sukses membuat otot – otot tanganku atletis :D
Edisi Unsrat ini tentu saja tak bisa lepas juga dari acara ngecengin cowok dan herannya kebanyakan cowok yang kukecengin itu ternyata dari sebuah pulau bernama Biak di teluk Cenderawasih sana eeee. Aku masih ingat jelas wajahnya si Elvis, cowok hukum berbadan kecil – kecil dan hitam manis dengan baju a la turtle neck ataupun long sleeves dan baseball cap yang selalu lewat depan teater terbuka. Asramanya memang berhadapan dengan parkiran kampus ungu Fakultas sastra, kalo tak salah namanya wisma apa asrama angin laut getho :D. Tiap kali si Elvis lewat, pasti si Ola dan Della atau Utin akan memberiku kode, kadang mencolekku, kadang menyikutku, pokoknya aneh binti ajaib. Guess what I’d do? Pasti namanya si Elvis pun mengudara dari kapasitas laringsku yang terbatas sambil tentu saja power rangers pada ketawa melihat si Elvis salah tingkah :D Sangat menikmati saat itu gangguin orang. Tentu saja tak ada hubungan apapun dan rasa apapun walau baru tahu bahwa si Elvis pernah suka. Buktinya, tahun 2006 kala aku sedang sibuk dalam perjalanan relawan ke Sorong Selatan dan baru abis muntah – muntah amburadul mabuk darat, ia gencar mengirimkan SMS dan telpon etc tapi keburu kukibuli kalo aku sedang hamil sekian bulan agar tak didekati dan ternyata berhasil wkwkwwkkwkw. Nangka banget kalo diingat – ingat ^__^
Tentu saja edisi kuliah di Manado tak bisa dilepaskan dari peran teman – teman di tempat kosku yang ketiga, yang pemiliknya orang Tanimbar – Manado. Tak heran nama kosnya “Wale Lelemuku”. Mungkin kedengaran gila tapi dalam setahun di Unsrat aku sampai 3 kali ganti kos yang pertama sekitar 2 apa 3 bulan, diganti ke dua yang hanya bertahan sekitar 2 minggu (dan enggan mengembalikan duitku yang terlanjur dibayar per 2 bulan). Di kos ke tiga, ada beberapa teman anak Manokwari yang benar – benar gila dan mengisi hari – hari kosku. Acara kami kalau bukan berkumpul di dapur atau di kamar mereka dan mulai sibuk bercerita mop sampai ketawa bokar – bokar, pasti cerita hantu :D. Sayang salah satu dari teman di kos itu yang kerap dikira sodaraku, alm. Eric sudah meninggal. Saat itu, Theus, alm. Eric, Arie, Nixon dan tentu saja ada Anes anak Kao, Maluku Utara dan si Billie anak Merauke. Utin kadang bergabung, kadang tidak dalam acara kumpul – kumpul main kartu kami. Jangan tanya lagi seribut apa suara kami, bapak kos sampai kadang sedikit emosi menegur saking menggunturnya suara kami. Miss that time ^___^ Apalagi edisi yang sangat kuingat dan kadang bikin ketawa tuh saat edisi mengomel di dapur karna peralatan masak atau sendokku ada yang lenyap atau ada yang muntah karena mabuk di kamar mandi. Mulai dari kak Ventie (kakak jurusan kelautan yang dianggap tetua kos) hingga teman – teman lain diinterogasi semua.
Ada banyak hal yang kurindukan kala itu. Khususnya edisi power rangers dan teman – teman kos. Masih teringat jelas bagaimana khawatirnya anak – anak kos yang melaporkan “berita duka” saat orang tuaku menelpon dan kasi tahu kalo anjing kesayanganku tewas diracun orang, dan sialnya telpon itu letaknya di samping televisi yang lagi putar film. Yang ada ekspresi kaget dan berbombay ria pun tampak dan memilih segera kabur ke kamar. Tentu saja menyamarkan suara tangisan, lagu hip – hop pun diputar keras – keras guna menyamarkan suara :D eee paginya malah ‘diwawancarai’ empati ibu kos pas lagi mo ke dapur, tentang “siapa yang berpulang?” atas laporan teman – teman dan sialnya lagi ada penampakan teman kos yang lain. Pertanyaan ini sempat membuatku bingung, siapa yang pulang coba, pulang dari kemana, jadi saat dikatakan siapa yang “meninggal”, yang ada aku langsung ketawa dengan tampang penuh mata bengkak dan menjelaskan kalo anjingku mati. Jangan ditanya lagi bagaimana gosip aku menangisi anjing itu tersebar xixixixixixi
Malam ini, aku tersadar bahwa aku pernah berbagi hidup dengan orang – orang hebat yang bisa membuatku seperti hari ini. Orang – orang yang mewarnai hidupku dan menawarkan persahabatan. Yang mengijinkan aku menjadi bagian dalam perjalanan hidup mereka.
Hanya bisa bilang, terima kasih banyak ^___^ Guys ‘n gals, thanx 4 coloring my life. May the peace of God be upon you for the rest of your life. Amen
(Campbell, 10 June 2010)
Tuesday, 8 June 2010
Big Mistake
Malam ini sa benar – benar menyerah. Berada dalam titik dimana sa merasa benar – benar lemah. Sa benar – benar merasa gagal. Mulai dari gagal mengontrol emosi sa sejak minggu lalu sampe hari ini, mood yang naik turun, kesedihan yang sempat hinggap beberapa hari hingga hari ini sa baru saja sadar bahwa sa melakukan kesalahan besar, sangat besar dalam karir akademik sa.
Ini bukan tentang sa plagiarisme atau nilai tapotong, ini tentang sa pu kesalahan sendiri yang tra cek e-mail baik – baik. Terlalu semangat su selesai kirim tugas final esai di hari dimana sapu keponakan dikuburkan dan sa tra bisa maafkan sa pu diri yang teledor tra cek isi file yang dikirim, ternyata semuanya kosong. File yang sa kirim ternyata kosong dan ternyata sa pu tulisan itu di file lainnya yang namanya persis sama di folder yang sama.
TAPI kesalahan dan ketololan sa yang tra akan sa maafkan adalah sa TRA cek e-mail kampus dan su terlambat beberapa hari baru lihat akan saking sa agak panik kemarin dan tertekan untuk buka wattle dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kampus kecuali katalog online perpustakaan.
Sa tra mo salahkan kematian sapu keponakan minggu lalu yang sempat bikin sa 3 hari sedih sampe minggu lalu sa juga hampir telat ikut ujian final karna menangis sampe jam 2 ka 3 pagi padahal jam 10 ada ujian dan pulangnya masih deng mood sedih itu sa coba kirim e-mail tugas itu dan ternyata sa kirim file kosong ke dosen.
Sa su pasrah sekali dengan kuliah ini, su di tahap dimana sa mo menyerah suda. Ini pertempuran terakhir dan sa benar – benar capek skali, benar – benar capek.
Sa cuma ingin pulang saja, lihat sapu keponakan dan ortu. Ingin kembali lagi lihat pantai dan tenangkan diri di pinggir pantai.
Malam ini sambil ketik catatan ini, sa putar lagunya Cece Winans “He’s concerned” dan mencoba untuk kuatkan sapu diri sendiri kalo sa bisa lalui ini. Untuk bilang sama sapu diri bahwa ini cuma proses, cuma satu tahapan dalam sapu hidup karena sa tahu kemarin malam juga saat sa telpon sa pu ortu dan bicara, sa su merasa tra bisa teryakinkan oleh kata – kata orang lain kalo sa bisa dan merasa bahwa cuma sa sendiri dan Tuhan yang bisa atasi masalah ini.
Benar benar rasa lemah skali, lemah skali. Ingin semuanya selesai.
Sa su benar benar pasrah sekali.
Sangat pasrah!!!
Sa cuma ingin pulang, ingin tenangkan diri di pantai dan renungi sapu kesalahan – kesalahan yang sa buat selama ini.
Benar benar butuh Yesus malam ini. Really need Him.
(Campbell, 8 Juni 2010)
Ini bukan tentang sa plagiarisme atau nilai tapotong, ini tentang sa pu kesalahan sendiri yang tra cek e-mail baik – baik. Terlalu semangat su selesai kirim tugas final esai di hari dimana sapu keponakan dikuburkan dan sa tra bisa maafkan sa pu diri yang teledor tra cek isi file yang dikirim, ternyata semuanya kosong. File yang sa kirim ternyata kosong dan ternyata sa pu tulisan itu di file lainnya yang namanya persis sama di folder yang sama.
TAPI kesalahan dan ketololan sa yang tra akan sa maafkan adalah sa TRA cek e-mail kampus dan su terlambat beberapa hari baru lihat akan saking sa agak panik kemarin dan tertekan untuk buka wattle dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kampus kecuali katalog online perpustakaan.
Sa tra mo salahkan kematian sapu keponakan minggu lalu yang sempat bikin sa 3 hari sedih sampe minggu lalu sa juga hampir telat ikut ujian final karna menangis sampe jam 2 ka 3 pagi padahal jam 10 ada ujian dan pulangnya masih deng mood sedih itu sa coba kirim e-mail tugas itu dan ternyata sa kirim file kosong ke dosen.
Sa su pasrah sekali dengan kuliah ini, su di tahap dimana sa mo menyerah suda. Ini pertempuran terakhir dan sa benar – benar capek skali, benar – benar capek.
Sa cuma ingin pulang saja, lihat sapu keponakan dan ortu. Ingin kembali lagi lihat pantai dan tenangkan diri di pinggir pantai.
Malam ini sambil ketik catatan ini, sa putar lagunya Cece Winans “He’s concerned” dan mencoba untuk kuatkan sapu diri sendiri kalo sa bisa lalui ini. Untuk bilang sama sapu diri bahwa ini cuma proses, cuma satu tahapan dalam sapu hidup karena sa tahu kemarin malam juga saat sa telpon sa pu ortu dan bicara, sa su merasa tra bisa teryakinkan oleh kata – kata orang lain kalo sa bisa dan merasa bahwa cuma sa sendiri dan Tuhan yang bisa atasi masalah ini.
Benar benar rasa lemah skali, lemah skali. Ingin semuanya selesai.
Sa su benar benar pasrah sekali.
Sangat pasrah!!!
Sa cuma ingin pulang, ingin tenangkan diri di pantai dan renungi sapu kesalahan – kesalahan yang sa buat selama ini.
Benar benar butuh Yesus malam ini. Really need Him.
(Campbell, 8 Juni 2010)
Monday, 7 June 2010
Entahlah ...
Bertanya pada diri sendiri, apa memang aku pernah sedetikpun menyimpan rasa suka padanya? Ataukah hanya sebuah euforia semata? Entahlah …
Terbangun dan memikirkan dia. Entahlah kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain? Tak tahu
Rasa ini tidak jelas, tak punya musim, tak punya stoom, datang seenaknya dan pergi tanpa pamit.
Apa memang aku pernah menyukainya dalam alam bawah sadarku? Tak tahu. Capek bertanya sebenarnya, rasa tak jelas ini.
Melihatnya, bicara dengannya dan entahlah … apa memang aku pernah punya rasa suka padanya? Atau memang aku pengecut sejati? Terlalu takut mengambil tantangan hati itu, terlalu takut dikhianati dan dipermainkan? Entahlah.
Pernah ingin sekali bisa percaya padanya, untuk yang dikatakannya tapi entahlah .. tak pernah bisa bertahan, selalu ada yang salah dengan dirinya atau diriku dan semuanya langsung pudar dalam waktu hitungan jam dan kembali ke ‘tidak acuh, cuek, dan tak peduli’
Entahlah …
Tak tahu …
Hanya ingin jalani hari ke depan. Kalo memang jodoh ya pasti nyangkut juga : p TAPI mungkin aku yang terlalu fobia, fobia pada segala hal yang berhubungan dengannya, terlalu takut dan membentengi diriku dengan kuat, tanpa cela.
Entahlah, kenapa harus dia yang kupikirkan kala bangun sekarang? Memangnya de su berubah ka? Tak tahu dan itu bukan urusanku, kan? *sigh
(Campbell, 07062010)
Terbangun dan memikirkan dia. Entahlah kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain? Tak tahu
Rasa ini tidak jelas, tak punya musim, tak punya stoom, datang seenaknya dan pergi tanpa pamit.
Apa memang aku pernah menyukainya dalam alam bawah sadarku? Tak tahu. Capek bertanya sebenarnya, rasa tak jelas ini.
Melihatnya, bicara dengannya dan entahlah … apa memang aku pernah punya rasa suka padanya? Atau memang aku pengecut sejati? Terlalu takut mengambil tantangan hati itu, terlalu takut dikhianati dan dipermainkan? Entahlah.
Pernah ingin sekali bisa percaya padanya, untuk yang dikatakannya tapi entahlah .. tak pernah bisa bertahan, selalu ada yang salah dengan dirinya atau diriku dan semuanya langsung pudar dalam waktu hitungan jam dan kembali ke ‘tidak acuh, cuek, dan tak peduli’
Entahlah …
Tak tahu …
Hanya ingin jalani hari ke depan. Kalo memang jodoh ya pasti nyangkut juga : p TAPI mungkin aku yang terlalu fobia, fobia pada segala hal yang berhubungan dengannya, terlalu takut dan membentengi diriku dengan kuat, tanpa cela.
Entahlah, kenapa harus dia yang kupikirkan kala bangun sekarang? Memangnya de su berubah ka? Tak tahu dan itu bukan urusanku, kan? *sigh
(Campbell, 07062010)
Sunday, 6 June 2010
Puisi: PERTAPA (Perempuan, Tanah Papua)
Jika aku punya tangan,
Ingin kutampar para pemotong serat – serat tubuhku,
Ingin kugampar para penambang daging dan darahku,
Ingin kutinju wajah para penjual dan penggadaiku
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya tangan,
Tak bisa ‘lap, tumbu dalam muka, tampeleng, pilang’ mereka.
Jika aku punya kaki,
Ingin kuberanjak sekian kilometer dari posisi tidurku,
Agar mereka yang selalu bicara manis demi dapatkan tubuhku,
Terdiam dan sadar bahwa aku tak menginginkan mereka.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya kaki,
Hingga masih saja ‘dapa paku’ dan ‘dapa kurung’ dalam penjara kasat mata.
Jika aku punya pinggul,
Ingin kugoyangkan dengan keras,
Menghempas tangan – tangan kotor itu,
Kala mereka menggerayangiku.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya pinggul,
Hingga kuku – kuku penuh kuman itu tertancap mulus; Merobek kulit.
Jika aku punya gigi,
Ingin kumakan para penjilat yang menjual keperawananku,
Ingin kumamah pedagang – pedagang tubuh dan selaput dara;
Ingin kucabik para pembual politik.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya gigi,
Hingga bibir dan lidahku terus dikulum mereka.
TAPI …
Aku masih punya mata,
Untuk melihat kebuasan dan kebrutalan mereka di tubuhku.
Aku masih punya jantung,
Untuk memompa darah cinta ini ke seluruh sel tubuhku yang terperkosa.
Aku masih punya hati,
Untuk menyaring racun –racun kepahitan hidup.
Aku masih punya telinga,
Untuk mendengarkan jeritan lapar bocah – bocah dusun sagu.
Aku masih punya otak,
Untuk menerjemahkan persepsi inderaku tentang penderitaan.
Aku masih punya hidung,
Untuk mengendus tubuh – tubuh penuh kuman kekerasan dan keserakahan.
Aku masih punya lidah,
Untuk mengecap nafsu, ketamakan, cinta diri sendiri, kerakusan dalam cumbuan hangat.
Dan aku …
Perempuan tanpa tangan, kaki, pinggul dan gigi ini
Masih punya S-U-A-R-A!!!
Untuk bicara, menjawab, bertanya, menjerit, memaki, menyumpah, melengking, tertawa, berteriak, menyapa, dan bilang, “Stop tipu sa suda!!!”
Karena aku, perempuan ini adalah “PERTAPA”
Aku PERempuan dan namaku ‘TAnah PApua”
(6 Juni 2010, 9.49 p.m.; efek kerjakan review buku tentang Papua dan teringat pembicaraan dengan kaka Likin tentang ‘suara dan tulisan’ sore tadi: “"Suara yang tak tersuarakan, karena tulisan paling bisa menyuarakannya".)
Ingin kutampar para pemotong serat – serat tubuhku,
Ingin kugampar para penambang daging dan darahku,
Ingin kutinju wajah para penjual dan penggadaiku
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya tangan,
Tak bisa ‘lap, tumbu dalam muka, tampeleng, pilang’ mereka.
Jika aku punya kaki,
Ingin kuberanjak sekian kilometer dari posisi tidurku,
Agar mereka yang selalu bicara manis demi dapatkan tubuhku,
Terdiam dan sadar bahwa aku tak menginginkan mereka.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya kaki,
Hingga masih saja ‘dapa paku’ dan ‘dapa kurung’ dalam penjara kasat mata.
Jika aku punya pinggul,
Ingin kugoyangkan dengan keras,
Menghempas tangan – tangan kotor itu,
Kala mereka menggerayangiku.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya pinggul,
Hingga kuku – kuku penuh kuman itu tertancap mulus; Merobek kulit.
Jika aku punya gigi,
Ingin kumakan para penjilat yang menjual keperawananku,
Ingin kumamah pedagang – pedagang tubuh dan selaput dara;
Ingin kucabik para pembual politik.
Sayang seribu sayang,
Aku tak punya gigi,
Hingga bibir dan lidahku terus dikulum mereka.
TAPI …
Aku masih punya mata,
Untuk melihat kebuasan dan kebrutalan mereka di tubuhku.
Aku masih punya jantung,
Untuk memompa darah cinta ini ke seluruh sel tubuhku yang terperkosa.
Aku masih punya hati,
Untuk menyaring racun –racun kepahitan hidup.
Aku masih punya telinga,
Untuk mendengarkan jeritan lapar bocah – bocah dusun sagu.
Aku masih punya otak,
Untuk menerjemahkan persepsi inderaku tentang penderitaan.
Aku masih punya hidung,
Untuk mengendus tubuh – tubuh penuh kuman kekerasan dan keserakahan.
Aku masih punya lidah,
Untuk mengecap nafsu, ketamakan, cinta diri sendiri, kerakusan dalam cumbuan hangat.
Dan aku …
Perempuan tanpa tangan, kaki, pinggul dan gigi ini
Masih punya S-U-A-R-A!!!
Untuk bicara, menjawab, bertanya, menjerit, memaki, menyumpah, melengking, tertawa, berteriak, menyapa, dan bilang, “Stop tipu sa suda!!!”
Karena aku, perempuan ini adalah “PERTAPA”
Aku PERempuan dan namaku ‘TAnah PApua”
(6 Juni 2010, 9.49 p.m.; efek kerjakan review buku tentang Papua dan teringat pembicaraan dengan kaka Likin tentang ‘suara dan tulisan’ sore tadi: “"Suara yang tak tersuarakan, karena tulisan paling bisa menyuarakannya".)
Thursday, 3 June 2010
Dari Cinta, India,Arie hingga Yesus

Aku lagi dicintai malam ini.Dicintai dalam artian aku merasa begitu tenang, damai dan bahagia. Padahal seharusnya malam ini aku harusnya panik ataupun setidaknya memikirkan bahwa aku harus menyelesaikan esai 4000 kata tentang perbandingan Suharto dan Sultan – sultan Jawa, apakah aku setuju bahwa Suharto menjadikan dirinya seorang Sultan etc – etc – etc, memikirkan bedah bukuku tulisan Bilveer Singh tentang “Papua: Geopolitics and the quest for nationhood” sepanjang 2000 kata dan juga bedah artikel sebanyak 3 artikel di bidang Bahasa dalam bentuk tulisan sepanjang 2000 kata. Esaiku harus kukumpulkan akhir minggu ini, bedah buku dan artikel minggu depan.
Entahlah … malam ini aku tahu aku jatuh cinta. Lebih dalam untuknya. Untuk Dia.
Sedari tadi suara India.Arie menyanyi untukku. Tapi aku begitu tertohok saat ia menyanyikan “He heals me”. Saat kudengar tadi, spontan hatiku menjerit, “that’s my song. That’s my song.” Liriknya benar – benar Maya. Seakan ingin menangis senang ataupun ketawa. Benar – benar pas. Dan jujur … aku langsung ingat Dia. Seseorang yang membuatku menjadi manusia yang lebih baik, lebih tenang dan bisa bertahan hingga saat ini. Dia; kekasih jiwaku. Jesus, You know this song is just for You. Only for You.
Lagu ini juga seakan mengingatkanku tentang percakapan dengan housemate; Roudo beberapa jam silam di dapur. Apalagi dari upayanya menjodoh – jodohkanku. Mulai dari isu bagaimana reaksiku kalau mendapat cowok Atheis hingga akhirnya nyangkut di pandanganku tentang Kekristenanku yang mengadopsi paham teologi pembebasan hingga pengakuanku yang walaupun aku Jesus freak tapi tak ingin mendapat lelaki yang terkungkung pandangan Kristennya yang berbasis Kristen tradisional; dalam artian memandang Kekristenan dari jubah agama, gereja sebagai institusi. Aku tadi spontan bilang bahwa aku Jesus Freak, tapi aku tak menganggap Kristen sebagai agama tapi sebagai “relationship and life style”. Makanya dia langsung bilang bahwa aku masuk kategori liberal dan memang itu kuakui bahwa aku liberal, sama dengan pandanganku tentang hal lain dalam segi kehidupan yang lain. Dan pandanganku ini sudah ada sejak beberapa tahun terakhir dan tambah kuat sejak aku di Australia karena di sini aku merasa aku tidak aneh, jauh dibandingkan kala aku masih tinggal di Manokwari dan Jayapura dulu. Karena kadang aku merasa aku salah dipahami oleh keluargaku dan orang – orang dan aku tak ingin menyalahkan mereka karena memang itu hak setiap orang di dalam memandang sesuatu.
Tapi yang pasti, aku bahagia malam ini. Merasa tenang, damai dan bahagia. Sangat bahagia. Rasa ini membuatku membuang kekhawatiranku, kesedihanku kehilangan seorang keponakan beberapa hari lalu, stress yang bertumpuk – tumpuk karena aliran tugas sejak bulan Maret. Aku merasa begitu bebas malam ini usai mendengar lagu ini.
Liriknya India.Arie benar – benar membuatku tersenyum dan tertawa. Benar – benar lagu ini membuatku bahagia. Mungkin aku terlalu ekspresif, terlalu blak – blakan dan mudah jatuh cinta, tersanjung atau bahagia. Tapi bagiku, aku tak perlu menunggu momen di suatu kelak, di masa depan untuk bahagia karena bahagia adalah sebuah pilihan, sebuah keadaan yang kupilih. Aku mungkin terlalu mudah merasa bahagia oleh hal – hal kecil, suka tersenyum sendiri kala melihat ada sesuatu yang unik, indah ataupun sebenarnya sangat sederhana di mata orang lain. Seperti kala berjalan di kampus dan melihat dedaunan yang gugur, embun dan tetesan hujan di ujung – ujung dedaunan, ataupun ranting kering yang menentang langit biru bebas awan, serangga – serangga kecil yang nongkrong di pucuk tanaman. Bagiku, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku bahagia waktu beberapa hari lalu mendengar nasehat dan ngobrol dengan bapakku, menangis dan berbicara dengan mamaku di ujung telepon tentang kesedihanku kehilangan keponakanku, tertawa dan bergosip dengan adik perempuanku, tertawa dan menjerit senang kala keponakan – keponakanku menyanyikan medley lagu sekolah minggu untukku dengan suara cadel mereka ataupun tersenyum puas melihat keponakan bayiku bertumbuh besar dengan gaya yang montok. Aku bahagia!
“He heals me. He knows the real me. And he accepts me, he never hurts me” atau “De kasi sembuh sa, De tahu sa yang sebenarnya macam apa dan de terima sa, tra pernah sakiti sa” adalah sepenggal chorus lagu ini dan membuat benar – benar melihat ke belakang hidupku dan cuma bisa bilang, “Thanx Jesus, You saved me.”. Walau India.Arie bukan penyanyi Kristen tapi aku suka lirik – lirik lagunya yang positif, menginspirasi dan tentu saja membuatku selalu merasa seksi ^__^.
Aku hanya tahu, malam ini aku dicintai, sangat dicintai, damai, dan tenang. Perasaan tenang seperti ini sedari tadi membuatku terus tertawa, tersenyum dan damai.
Yang aku tahu, aku suka lagu ini dan bersyukur karna Tuhan menciptakan orang – orang seperti ini untuk menciptakan musik yang indah. Sederhana tapi penuh pesan yang sarat makna dan menyemangati orang – orang sepertiku yang lemah.
Satu yang pasti, aku lemah dan membutuhkan Tuhan. Sangat membutuhkan Tuhan dan itulah sebabnya aku memilih menjadi orang Kristen karena aku tahu aku lemah dan membutuhkan Dia; kekasih jiwaku. Untuk menyemangatiku, memberiku hidup dan memulihkanku dari masa lalu yang kadang membuatku lumpuh secara emosi.
Bagi banyak orang yang tak mengenalku dengan baik, yang tak pernah tahu masa laluku akan selalu berpikir bahwa aku termasuk salah satu orang yang kuat, beruntung, bahagia dan tidak tahu rasanya menjadi orang yang biasa saja. Tapi mereka salah besar! Aku telah melewati masa – masa dimana aku merasa tidak berharga, mencari kasih sayang, mengalami pelecehan seksual berulang kali di masa remajaku, mencoba bunuh diri beberapa kali, diolok – olok sejak kecil (bullying), mendapat kekerasan verbal sejak kecil yang sering membuatku tidak percaya diri: untuk warna kulitku, jenis rambutku, bentuk tubuhku, bentuk payudaraku, wajahku, suaraku. Mereka tidak tahu bahwa aku juga melewati banyak kegagalan dalam hubunganku dengan lelaki, tertipu dengan janji – janji dan ucapan palsu, kondisi kesehatan yang buruk sejak kecil dan akrab dengan kedekatan yang bernama kematian, dan juga kesalahan – kesalahan dan ketololan – ketololan yang pernah terjadi dan mungkin akan terjadi lagi. Tapi aku bahagia bisa berada pada titik hari ini, hampir 27 tahun hidupku dan melihat ke belakang dan bilang, “Look, it’s me. This is the real me dan sa tra perlu malu untuk akui hal – hal yang terjadi karena semua itu yang bikin sa bisa jadi sekarang ini KARENA sa tahu seseorang yang sayang dan cinta sa sungguh mati dan sa putuskan untuk tetap hidup demi Dia”
“He smiled at me and said, that makes me love you more. And then he made me laugh
And I knew it was a sign, That he was a man, That I wanted in my life. And with every passing day, I feel more and more of that way”, ah lagi – lagi lirik ini menguatkanku bahwa ini memang laguku. Maya banget!!! Cinta yang kurasa untuk-Nya semakin menguat. Apalagi beberapa hari ini kuakui aku sedikir down, mulai dari tekanan tugas yang menggila dan juga kematian keponakanku yang seumuran denganku. Tapi aku bersyukur untuk apapun yang terjadi karena ini hidupku.
Aku percaya semua orang diberikan bakat, dan Tuhan ataupun Kekuatan besar di luar sana (bila anda seorang penganut New Age ataupun Atheis dan tak percaya tentang konsep Ketuhanan) telah memposisikan diri anda dalam setiap pilihan yang harus anda ambil karena di dalam diri anda selalu ada potensi yang anda harus kenali.
Aku tahu aku lemah dan sebagai seorang Kristen, aku begitu bersyukur aku ditemukan. Tak hanya sekedar ditemukan tetapi diselamatkan. Aku memang Kristen liberal yang tak ingin mengikatkan diriku pada sebuah institusi gereja dan percaya 100% untuk setiap kebijakannya karena bagiku gereja adalah tiap orang Kristen yang percaya dan mengaku bahwa Kristus adalah Yesus dan Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia. Aku teringat sebuah pertanyaan yang kerap kutanyakan tentang konsep ketuhanan dan Trinitas di dalam acara curhat – curhatanku dengan Tuhan; aku bukan orang yang menjadikan acara doa dalam acara yang sangat sakral dengan acara lipat tangan dan tutup mata sebagaimana yang sering diajarkan mamaku saat kecil. Bagiku konsep doa adalah saat kadang aku sedang belajar ataupun berjalan dan bertanya di dalam hatiku, kadang di kamar dan berbicara seakan dengan temanku, bergosip, berdiskusi, curhat tentang satu hal yang tak kumengerti kepadanya. Mungkin kedengaran aneh, tapi sejak masa remajaku aku terbiasa dengan cara itu tapi memang aku sempat berada pada titik – titik di mana aku menolak untuk mendengar suara – suara itu, menolak percaya suara itu yang bilang bahwa ‘ko cantik dan sa sayang ko’. Anda punya hak menolak pandangan dan cara yang kerap kulakukan, karena itu hak anda ^_^.
Konsep Trinitas sendiri baru saja kudapatkan pengertiannya secara pribadi di musim gugur ini saat berjalan ke halte bis yang agak jauh dari rumah dan bertanya dalam perjalanan itu karena aku masih tak mengerti. Saat itu, aku diberi pemahaman tentang analogi air dan bentuk – bentuknya. Sambil berjalan menikmati dedaunan yang berubah warna, sambil menikmati suara dan humor yang diberikan di dalam hati tentang pohon – pohon yang protes karena perubahan musim ini karena takut kedinginan, aku diajarkan tentang Trinitas. Suara di dalam hatiku itu mengajarkan untuk melihat konsep Trinitas itu dalam bentuk air. Bapa dikonsepsikan sebagai Air dalam bentuk cair, dimana Ia akan mengikuti bentuk apapun dimana Ia ditempatkan dan akan selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah dan tak pernah mengalir kembali berlawanan arah. Dalam rupa cair ini, air tak dapat digenggam tanpa sebuah wadah, tapi ia ada dalam setiap bentuk kehidupan, dalam tubuh manusia, dalam tetumbuhan, dalam tanah, dalam segala rupa yang ada. Ia bisa terasa dingin, bisa terasa hangat, ia bisa diwarnai, bisa bening tapi tak ada satupun yang bisa menggenggamnya dan mengubah hukum dasar bahwa ia akan selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah dan menjadi elemen di dalam kehidupan dan tanpanya tak ada yang namanya Kehidupan.
Aku diajarkan dalam percakapan itu tentang konsep Yesus dalam Trinitas sebagai air yang berubah bentuk menjadi es. Saat air membeku, ia menjadi es dan tak lagi disebut air tapi pada dasarnya ia tetap air hanya dalam rupa yang lain. Saat air berubah bentuk dari benda cair menjadi benda padat, ia dapat dipegang, dapat disentuh, dapat digenggam, dapat dibentuk, menjadi begitu nyata. Itulah pribadi Yesus yang diajarkan padaku bahwa ia berwujud. Kala es mencair, ia tak langsung mencair begitu saja tapi ada proses pencairan perlahan dan saat itu ada partikel – partikel yang menguap, walau tak terlalu kelihatan tapi itu terjadi. Seperti itulah Roh Kudus, alias air dalam bentuk uap.
Ketiga bentuk air ini sama akan tetapi berubah sesuai fungsi dan kebutuhan. Karena uap air harus naik ke udara dan melewati proses kondensasi alias pengembunan dan akan turun lagi, entah sebagai hujan ataukah embun tapi siklus itu terjadi dan seperti itulah konsep Trinitas. Cerita dalam hatiku itu banyak membukakan mataku untuk konsep Trinitas ini.
Malam ini aku bahagia, merasa dicintai, diberkati, sangat beruntung, damai dan tenang. Sangat bahagia! Masalah akan tetap ada, tantangan pasti sedang menunggu, dan titik – titik terendah pasti tetap akan ada karena hidupku bukanlah sebuah jalan raya bebas hambatan yang tak ada macetnya, aku juga bukan mobil sport F1 yang bisa dipacu kencang dalam track yang rata dan mulus tapi aku melihat diriku lebih seperti penumpang kereta kayu yang ditarik lewat jalan berlubang dan tak rata dari tanah tapi di sisi – sisi kiriku ada keindahan alam, bunga – bunga liar dan kupu – kupu dan di ujung jalan sana, ada pelangi yang sedang muncul. Pertanyaannya adalah apakah aku mau menikmati perjalanan dan pemandangan di sisi kiri kanan jalan dan melupakan kondisi jalan yang tak rata ini dan menyerahkan nasibku kepada kusir kereta ini ATAUKAH aku mau mengeluh di sepanjang jalan karena roda – rodaku menyentuh gelombang kerikil? Satu yang pasti, aku memilih untuk menikmati perjalanan ini sebagai bagian dari hidupku dan menikmati apa yang ditawarkan hidup saat ini karna kutahu, sang Kusir kereta ini tak akan membuatku celaka, tersesat ataupun berada dalam posisi bahaya. Aku kenal Dia dan sangat mencintai dia karena Dia adalah kekasihku. Kekasih jiwaku. Namanya Yesus. ^__^
“The moment that we met, he made me smile
He has so much compassion in his eyes
I have no idea, how long he’ll be here
A season or a lifetime, forever or a year
But for the first time in my life I’m not worried about the future
Because we have such a wonderful time when were together
However things turn out, its all right
Cause he’s already changed my life”
(India.Arie “He heals me”)
(Sebuah malam di hari ke 3 bulan Juni 2010/ Canberra)
***
The picture is retrieved from
http://chuvachienes.com/wp-content/uploads/2008/12/in_love.jpg
Subscribe to:
Posts (Atom)