Search This Blog

Loading...

Saturday, 29 May 2010

Such an un-import-an-T note

How do you put your feeling and emotion in such simple words? I don’t know. That’s the question that I ask my self tonight when this sort of feeling consumes my common sense. Am I on the way to such craziness or just a simple euphoria lurking in my gray cells somewhere on my mind? I don’t know.

This feeling comes and I just stare freeze in front of my notebook’s screen. So pathetic, isn’t it? It’s not self-pity when suddenly all memories comes flashback and it’s like I am staring on black-white or colorful tellie’s screen of any motion pictures. Nope, it’s not like that. It’s just like golden memories of something, or let’s says anything, like the beehive or rose stalks. Thorny yet so sweet and precious. I just don’t know how to put into words what I feel tonight.

I feel the love in the air whenever I inhale, whenever I take the breath though the wind blows fiercely outside *such a metaphorical saying isn’t it?

I am loved, that’s all I know. This presence of love is so strong and makes me smile all the time. Feel like someone out there misses me, deeply madly! I am just such a simple ordinary woman, 27 yo indeed. Yet, people tend to misunderstood me by stating that I may expect too much on wedding or long time relationship for I used to say something about wedding in my Facebook’s status or wall, posting such great love songs and videos ‘n say that “those songs would be in my wedding party blah .. blah .. blah”. Hallo, I am such a blabbermouth, so what’s the problem? I don’t expect you to drop by or sneaking on my wall anyway. I just love to express my self, that’s all. I love to say anything that I want to say and definitely that’s my right ^___^ If you don’t like it, just simply remove me or blocking me, as easy as it is, right and I don’t care. Yet, don’t expect me to help you anyway, that’s my right, too. Such an indifferent woman I am.

Anyway, tonight is so great for I start to express my feeling, a simple feeling or the complex one, in such different language. I am not good to express it in this language .. LOL. Keep trying!!!

I just can’t wait to count my days to go home and enjoy such a sunny day under the sun, becoming Manokwari’s beachbum 2010, and thinkin’ ‘bout the good old days in Canberra :D Ooops, plus shaping my body and make sure my bums ‘n boobs in such a good shape *what a mind transformation for bride-price assets LOL

(Canberra, 28th may 2010)

Thursday, 27 May 2010

Andai kam mengerti

Andai kam mengerti sa barang sedikit saja? Andai kam mengerti sa barang sebentar saja ka? Sa capek skali, kam tahu. Capek ikut kam pu mau. Andai kam mengerti sa barang sebentar saja ka. Sa tra minta banyak

Sa capek selama ini pendam sa pu perasaan, pendam sa pu impian dan segala macam karna kam. Sa berusaha., OK. Berusaha menyangkal banyak dari sapu diri demi kam. Tra minta apa – apa, tra mo kasi repot kam. Berusaha atasi sapu masalah, kesedihan dan segala macam sendiri. Karna sa sayang kam.

Tapi sekarang, setelah sekian lama, ini su 27 tahun sa hidup sama – sama kam. Selalu berusaha jaga kam pu nama baik, tra mo kasi susah kam tapi kenapa kam masih tra bisa mengerti sa ka. Sa tra minta banyak, sa cuma minta kam mengerti jang larang sa untuk barang – barang yang sa cintai, pliz. Kalo tentang manusia atau cowok, sa bisa kasi tinggal dong dan menyangkal sapu perasaan, sa bisa lakukan itu demi kam, tapi plis jang untuk barang yang sa cinta mati, bukan untuk sapu hobi ataupun barang – barang yang bikin sa bahagia dan berarti.

Kam masa tra pernah belajar untuk mengerti kalo sa cinta mati pantai dan segala sesuatu yang ada di sana, sama deng sa pu rasa cinta sama hutan. Skarang baru setelah selama ini sa coba lakukan yang terbaik demi angkat kam pu nama baik, angkat kam pu gengsi dan juga kam pu muka; setelah banyak hal yang sa lakukan untuk kam; setelah sa korbankan banyak sapu kebahagiaan demi kam, masa kam tega bilang barang itu ke sa. Kam gila kapa kalo suru sa lepas sapu keinginan untuk lihat pantai, bermain di pantai apalagi mandi – mandi, snorkeling dan duduk di pantai.

Kam tra pernah bisa mengerti kalo pantai itu tempat dimana sa bisa menjadi manusia yang lebih baik. Kam tra pernah mengerti bagaimana ombak – ombak itu bisa bantu sa kontrol sa pu emosi, kontrol sapu kegilaan, kontrol sa pu pikiran sakit hati, marah dan benci.

Kam tra pernah bisa mengerti kalo pantai itu sapu tempat terapi, tempat dimana sa merasa baikan, tempat lain yang bagai rumah bagi sa. Kam tra pernah ada waktu sa sedih, marah atau menangis kan? Tapi pantai itu yang bantu netralisir sapu mood, energi negatif dan bikin sa bisa normal dan tra racun kam mati sejak lama. Kam tra pernah sadar ka kalo sapu kesehatan membaik karna sa suka ke pantai? Kam tra pernah sadar ka kalo sa lebih sehat secara mental karena sa suka ke pantai?

Baru kenapa kam larang sa dan bilang sa sombong karna sa melawan kam pu larangan?
Kenapa kam bilang sa tinggi hati karna sa melawan?
Kenapa kam selalu sukses bilang sa yang buruk – buruk kalo sa melawan?

Sa capek selama ini dengar kam bilang semua kata itu.

Kam su sering ragukan sapu orientasi seksual, kam bilang sa lesbi lah. Waktu kecil kam bilang sa nan jadi lonte lah. Saat remaja kam bilang sa tersesat lah hanya karena sa ingin tahu tentang kebenaran. Sa kuliah kam bilang sa banyak hal. Kam selalu bilang sa sombong, tinggi hati dan egois kan. Sejak kecil sa malah kam selalu label sa judes. Sa akui sa berbeda kan dengan sapu sodara – sodara dan anak – anak kebanyakan.

Maafkan sa karena berbeda. Maafkan karna sa pemimpi. Maafkan sa karena sa memilih hidup di sapu dunia sendiri dimana sa rasa aman dan nyaman. Maafkan sa karna sa cenderung menjauh dari kam smua. Bukan karena sa tra sayang kam, bukan karna sa benci kam, tapi sa tra ingin disakiti deng kam pu kata – kata terus. Maafkan karna sa sensitif skali. Maafkan sa.

Mungkin sa yang harus mengalah jauh dari kam saja. Biar kam puas.

Maafkan sa karna sa tra bisa lakukan apa yang kam inginkan, yang kam mau.

Maafkan sa karena sa tra bisa jadi sesempurna mungkin yang kam inginkan. Yang kam mau.

Maafkan sa karena sa tidak sekuat yang kami bayangkan, yang kam mau.

Maafkan sa!!!

Sa su coba untuk baik, jadi orang baik.
Sa su coba untuk ganti sapu kelakuan – kelakuan yang kam tra suka.
Sa su coba jadi perempuan yang kam inginkan, yang bisa masak, pake baju perempuan, dandan cantik.
Sa su coba belajar deng baik dan berusaha tunjukan sa bisa bersaing secara akademis, bisa jadi juara, bisa sekolah tinggi.
Sa su coba belajar untuk bisa korbankan sapu perasaan demi kejar sapu kemampuan akademik.
Sa su coba belajar ikut kam pu denominasi, supaya kam tra malu karna sa.
Sa su coba tra tuntut apapun.
Sa su coba kan?

Sa tra minta banyak dari kam.
Sa cuma minta kam mengerti sa juga ka, mengerti kalo sa tra bisa hidup tanpa barang – barang yang sa cinta. Barang – barang yang bikin sa merasa hidup. Sa cuma minta kam jangan jauhkan sa dari pantai, hutan ataupun alam. Kam tahu, sa bahagia sewaktu sa dekat deng barang – barang itu. Sa rasa nyaman dan sa bahagia. Sa tra minta banyak. Mengerti sa barang sedikit ka.

Maafkan sa karna sa berbeda deng kam pu anana yang lain di rumah.
Maafkan sa karna sa sejak kecil selalu melawan kam pu pendapat.
Maafkan sa karna sa pu resistensi ke kam sangat besar.
Maafkan sa karna sa suka langgar kam pu larangan – larangan.
Maafkan sa karna sa pu rasa ingin tahu sangat besar.
Maafkan sa karna sa pu diri begini.

Andai saja kam bisa melihat dari sapu sudut pandang suatu hari nanti.

Tapi sa tahu, sa tra akan pernah bisa paksa kam pahami sa, mengerti sa.

Maafkan sa karna sa tra bisa ikut kam pu mau.

Biar suda, kalo sa pulang dan kam mo usir sa, kam usir suda.
Tapi sa minta maaf karna sa tra pernah bisa ikut apa yang kam mau.

Ini sapu hidup! Ini sapu diri! Maafkan sa!!!

(Campbell, 28 Mei 2010)

Am I changed? Am I getting weaker?

Apakah tiap rasa rindu harus berwujud?
Apakah tiap rasa rindu harus ditujukan kepada seseorang?
Apakah tiap rasa rindu hadir karena ketiadaan seseorang ataupun sesuatu?
Apakah tiap rasa rindu ada karena kesepian?

Aku mungkin tak tahu
Dan tak mau tahu!

Bukan para pengupas barisan huruf
Pun penyusun kata
Bukan pemilah makna
Pun pemecah filosofi

Aku hanya tahu
Ada rasa tak enak di dalam diriku
Entah di hati, jantung ataupun serat kelabu otak

Aku hanya tahu
Ada sesuatu yang membuatku tak nyaman subuh ini.
Sesuatu yang membuatku mengambil jeda dari jeratan tugas,
Sekedar menyentuh layar – layar simbol penutur makna.
Merentangkan sesuatu yang membuatku sesak;
Membuatku berhenti berlari dalam pacuan perhitungan kata.
Aku hilang jejak.
Rasa ini!!!

Apakah aku kesepian?
Apakah aku membutuhkan seseorang atau sesuatu?
Apakah aku sendiri?
Apakah sunyi?

Aku tak tahu
Dan tak mau tahu!

Aku baik – baik saja
Selalu merasa baik – baik saja
Terbiasa sendiri sejak lama
Dan kadang tawa dan canda membuatku mengkhianatiku diriku yang sebenarnya.

“May, ko memang dari dulu soliter kan,” ujarku tiap kali menguatkan diri.
“May, bukannya ko memang tra nyaman kan kalo rame,”, kataku menenangkan diri.

Entahlah …

Tiap malam datang memeluk bumi
Aku merasakan sesuatu ini.
Panggilan yang kudapat sejak lama,
Rasa yang kudapat sejak masa remaja,
Kala malam datang dan menyambut subuh.
Rasa ataupun sesuatu yang sama;
Yang tak terjelaskan!!!

Itulah sebabnya aku suka malam!
Itulah sebabnya tiap mentari jatuh, aku tersenyum.
Itulah sebabnya tiap bintang menari, aku tertawa
Dan bulan pun tahu aku bahagia.

Apa memang melajang itu salah?
Apa memang menikah itu sebuah keharusan?
Apa memang tiap hubungan pada akhirnya harus berakhir di ujung selembar kertas?
Apa memang tiap hubungan pada akhirnya harus ditentukan dengan seberapa dalam penetrasi penis?
Apa memang manusia hidup hanya untuk lahir, hidup, bertumbuh, menikah, punya anak, mati dan jadi bangkai?
Apa memang aku harus jadi apa yang orang lain, masyarakat dan manusia lainnya inginkan?

Maaf, aku mungkin salah menafsirkan menjadi manusia.
Aku mungkin bukan orang yang pandai menerjemahkan petunjuk hidup di planet bernama bumi lewat transkrip – transkrip kebenaran.

Malam ini dan tiap malam,
Aku didatangi pertanyaan – pertanyaan.
Bagaimana esok?
Bagaimana hari ini?
Apa yang kau tahu tentang hidup?
Bagaimana kau akan hidup?
Dan pertanyaan – pertanyaan lainnya yang selalu membuatku berpikir dan berpikir!!!

Kadang lelah, capek, suntuk, letih dan ingin lepas.
Tapi pertanyaan – pertanyaan itu terus mengejarku.
Membuatku tak bisa tenang, tak bisa sejahtera.
Entahlah!!!
Apa mereka menginvasi otak, hati dan hasratku?

Semakin lama pertanyaan – pertanyaan itu dan rasa lainnya yang membuatku seperti ingin jadi malaikat.
“Tra lama lagi sayap satu pica kapa di tulang belakang,” pikirku.
Kadang ingin lari dan kembali jadi Maya yang lama;
Maya yang penuh dendam, master of tricks, yang tak punya hati, yang berpikir tentang rancangan kejahatan, yang suka segala sesuatu berbau darah, api dan pisau.
Tapi entahlah …
Semua rasa itu pudar dan hampa
Tak ada lagi sensasi mereka di hatiku.

Apa hatiku telah melunak usai beberapa tahun ini?

Entahlah. Aku tak tahu.

Aku hanya tahu, aku B-E-R-U-B-A-H!!!

Dendamku berkurang,
Benciku memudar,
Sakit hatiku menyusut,
Kepahitanku berangsur – angsur hilang.

Entahlah!!!

Di mana sensasi senang melihat darah anak anjing yang kucabik telinganya sewaktu SD?
Di mana tawa puas melihat ayam yang kueksekusi dengan kartafel hingga lehernya patah?
Di mana kepuasan melihat dan mencabut parang dan mengancam orang bila keinginanku ditentang pun egoku tersentil?
Di mana kesenangan melihat ikan – ikan tangkapanku yang kuracun Bayclean menggelepar maut?
Di mana rasa puasku menghancurkan tandan – tandan salak, daun – daun bunga dan pucuk pohon?
Di mana sensasi tawa licikku bila saudaraku berhasil kuadu domba?
Di mana tawaku bermain api dan membakar sesuatu?
Di mana senyum kemenanganku bila berhasil membuat orang lain tersakiti dengan kata – kataku?
Di mana rencana – rencana jahat membunuh orang dengan taktik sederhana dengan meracuni air minum dengan arsenik perlahan – lahan?
Di mana otak nangka jaman dulu untuk membangun kekuasaan perlahan – lahan dengan langkah yang matang dan menggunakan kelemahan lawan sebagai cara mencapai tujuan?
Di mana keinginan menyakiti tubuhku dengan menyayatnya perlahan dengan pisau tertajam dan menikmati nyeri, darah dan luka?
Di mana sensasi rasa puas usai balapan dengan kecepatan tinggi dan menantang maut?
Di mana lagi pikiran – pikiran gelap itu; bunuh diri melompat dari dermaga dan kapal, minum obat banyak – banyak, mogok makan dan berharap tubuh kan lemas dan mati, menyayat nadi perlahan – lahan demi belajar tentang rasa sakit dan penasaran?
Di mana lagi kesukaan berbicara dengan moyang – moyang dan memanggil nama mereka dan merasakan kehadiran mereka dan percaya bahwa mereka ada?

Entahlah …
Aku kehilangan semua itu sensasi, kepuasan dan kemenangan itu perlahan – lahan.
Semuanya memudar
Dan hilang!!!
Tak ada lagi yang tersisa.
Aku takut bahwa aku sebenarnya telah meninggalkan elemen – elemen yang dulu membuatku tegar dan kuat.
Elemen – elemen untuk terus membuatku berjuang, bekerja keras dan menghukum diri bila tak jadi yang terbaik.

Entahlah, semuanya berubah!!!

Bahkan aku tak lagi bisa menikmati melihat darah dan api.
Tak bisa lagi menikmati mendengar suara tangis.
Tak bisa lagi melihat orang tersakiti.
Tak bisa lagi menikmati pertengkaran orang lain.
Tak bisa lagi menikmati permainanku pada emosi orang lain dan tertawa bagaikan Naraku di film kartun Inuyasha melihat orang – orang bertengkar ataupun termakan emosi palsu.

Sekarang rasa lain yang menguat di dalam diriku.
Rasa yang belasan tahun lalu kubenci dan kuidentikan dengan kelemahan.
Cela yang tak termaafkan,
Tapi, menjadi diriku yang sekarang!!!

Apakah aku lemah ataukah menjadi kuat?
Menjadi lebih baik ataukah menjadi lebih buruk?

Membiarkan diriku bergantung pada orang lain?
Membiarkanku percaya pada orang lain walau sekian kali tersakiti?

Apakah ini hidup?

Aku tak tahu apa yang terjadi dan akan terjadi.
Yang kutahu aku sedang B-E-R-D-A-M-A-I!!!

Aku sedang berdamai dengan diri dan hidupku beberapa tahun terakhir.
Berdamai dengan jenis kelaminku,
Berdamai dengan diriku,
Berdamai dengan ras, tubuh dan budayaku,
Berdamai dengan sisi lain diriku yang bertahun – tahun kutekan,
Berdamai dengan namaku,
Berdamai dengan keluargaku,
Berdamai dengan kondisi tubuh, trauma dan luka – luka batinku,
Berdamai dengan masa laluku,
Dan akan terus berdamai!!!

Satu yang pasti,
Aku tahu aku menjadi lebih baik dan tak lagi melihat dari kacamata kebencian
melihat dunia lewat sudut pandang yang berbeda.
Melihat dan menghargai hidupku
Dan sadar bahwa aku manusia biasa,
Bahwa aku lemah dan butuh Tuhan.
Menikmati semua hal sebagai proses, sebagai perjalanan.
Dan aku tahu bahwa aku, Maya, yang sekarang ini berubah dan akan terus berubah
Karena Dia!!!

Y-E-S-U-S!!!

Without Him, I’m nothing.

(Subuh di Campbell, 27 Mei 2010)

Tuesday, 25 May 2010

Kekupu – warna – warni – cinta

Kekupu – warna – warni – cinta

Bila cinta seperti kekupu
Apakah ia berwarna – warni?

Bila kekupu seperti cinta
Apakah ia berwarna – warni?

Bila warna seperti cinta
Apakah ia secantik kekupu?

Bila cinta adalah warna,
Apakah ia berwarna – warni?

Bila kekupu adalah warna,
Apakah ia penuh cinta?

Bila warna adalah cinta,
Apakah ia penuh kekupu?

Aku tak tahu!

Yang aku tahu, aku mau menjadi seperti kekupu berwarna – warni penuh cinta.

(di hari ke 25 bulan Mei 2010; Campbell, Canberra)

Monday, 24 May 2010

Kala nama terbang dalam fantasi kupu - kupu


Musim gugur penuh hujan tersaput reruntuhan dedaunan berwarna kekuningan yang bermain lompat tali bersama angin.

Dan hari ini aku ingin jadi kekupu cantik. Bukan sekedar berkhayal, berimajinasi dan berfantasi tapi memang ingin jadi kupu – kupu. Mungkin impian masa kecil ataukah fantasi masa kecil yang hinggap. Entahlah .. tapi aku suka.

Di saat break esai, kuputuskan mewarnai wajahku, membentuk wajahku dengan fantasi kekupuku. Kuwarnai, kubentuk, kulukis … sayang keterbatasan perlengkapan makeup membuatku tak bisa membentuk kekupu oranye yang pernah kulihat akhirnya kuubah menjadi kupu – kupu biru. Terlalu gila mungkin bagi perempuan lajang berusia 27 tahun yang sedang sibuk memburu esai 4000 kata hari ini ^_^

Dreadful beautiful butterfly!!!; tema hari ini.

Dengan berimajinasi menjadi kekupu, lengkap dengan scarf oranye dan rambut keritingku, aku putuskan menjadi kekupu hingga malam nanti. Aku suka!!!

Pernahkah kau punya fantasi menjadi sesuatu, seseorang ataupun apapun? Aku punya dan aku puas hingga saat ini aku menjadi apapun yang kumau walau kadang hanya terbatas di dalam kamarku. Toh itu dunia yang kupunya, kan? Tak ada seorangpun yang berhak mengatur dunia segi empatku ini, kala dinding – dinding segi empat ini tak mampu menahan fantasiku terbang ke sana kemari, saat imajinasiku menembus dinding – dinding dan mengajak alam raya bermain bersamaku. Sudah sangat lama aku berusaha membatasi impian – impian dan imajinasi – imajinasi liarku; berusaha untuk menekan sisi ini TAPI sisi ini tak pernah bisa hilang, lepas dariku, karena sisi ini lah yang membuatku bisa menjadi aku yang seperti sekarang ini.

Banyak contoh imajinasiku yang membuatku sangat cinta ‘ukur jalan’; mulai dari teman – temanku para manusia pohon waktu SD yang sering kusapa dan kuajak cerita dan kupeluk tiap kali berkunjung ke halaman belakang rumah (itu jauh sebelum aku menonton film Narnia masa kuliah), para putri – putri keladi yang sering kuikat rambut mereka (selalu dimarahi bapak karena daun keladi selalu rusak kuikat dengan rumput ataupun kutusuk dengan ranting kayu dan berandai – andai mereka memakai jepitan rambut; bagaimana bapak tak marah kalo jejeran tanaman keladinya yang lebih dari 20 tanaman berubah bentuk diikat –ikat); berandai – andai jadi manusia pohon kala SD – SMA hingga tiap hari cuma berada di atas pohon dan berandai – andai bisa terjun bebas dari atas pohon dan mendarat bagai daun (hingga membuat mama sering berteriak marah dan saudara – saudara lelaki melempariku dengan batu dan menyuruhku turun dari pucuk pohon); berenang di pantai ataupun naik kapal laut dan berharap bertemu makhluk duyung ataupun Poseidon ataupun syukur – syukur ‘hantu laut’ walau memang sempat mengalami beberapa kejadian supranatural dalam petualangan di laut (antara Manokwari – Windesi) hingga sekedar acara jalan sore.

Bagiku, dunia imajinasiku tak akan pernah berhenti HANYA karena aku perempuan, karena aku berusia 27 tahun, karena aku sedikit lagi akan wisuda dengan gelar Master de el el dan segala macam pembenaran alasan bahwa aku harus berhenti berimajinasi. Toh selama tak ada undang – undang yang mengaturku maka aku pun bebas menjadi apapun yang kuinginkan.

Panggil aku Maya, karena memang itu namaku; nama pemberian ortuku, nama dimana aku dilabel sejak lahir. Dan aku pikir orang tuaku mungkin tak pernah berpikir bahwa namaku itu sangat berpengaruh pada sifat dan karakterku. Sama seperti adikku yang bernama Indra yang berarti dewa perang dan memang sifatnya itu benar – benar sesuai dengan karakter Indra dalam mitologi India, begitu pula adik perempuanku yang bernama Sintha yang lagi – lagi karakternya dan fisiknya benar – benar mirip dengan dewi Sintha, istrinya Rama dalam mitologi India. Sayangnya, orang tuaku lupa bahwa Maya dalam mitologi India tak pernah lepas dari mimpi, ilusi, khayalan, imajinas, baik apakah maya ditinjau dari segi filosofi ataupun merujuk pada pengejewantahan nilai – nilai konseptual dewi dan kekuatan spiritualitas dalam dinamika Hindu, Sikh ataupun Budha (yang baru kupelajari artinya secara seksama kala menjelang usia 26; tahun lalu) TAPI tak salah juga menjadi seorang pemimpi, seorang yang berimajinasi asalkan aku bisa mengontrol dualitas ini dan tak hidup dalam salah satu sisi.

Panggil aku pemimpi, ilusi atau apapun karena itu bagian dari hidupku dan aku menikmatinya!!!

*tiba – tiba ingat bahwa aku belum menuliskan imajinasiku kalau jadi pembuat iklan telepon selular bertema Papua ^__^ *impian bersama Mia kala di dusun – dusun sagu :D

(Campbell, 24 Mei 2010)

Thursday, 20 May 2010

Catatan Musim Gugur


Entah kenapa malam ini aku mengingatmu lagi
Tapi tak membuatku bahagia
Pun sedih
Ataupun
Ada

Hampa?
Tidak!

Marah?
Mungkin.

Kecewa?
Pasti.

TAPI

Aku bahagia!!!

Aneh!!!

Musim gugur kali ini sempurna.
Sempurna tanpamu.
Sempurna tanpa ada rasa yang tersisa.

Kau tahu,
butuh waktu yang cukup panjang untuk berada di musim gugur seperti ini.
Sangat panjang.

Lukaku sudah kering.
Amarahku sudah hilang.
Sedihku t’lah pergi.

Aku bahagia!!!

Kuharap kau juga.

Tahun t’lah berganti kan?
Musim gugur ini pun kan usai.

Aku bahagia.

Musim gugur ini adalah musim dimana aku merayakan lukaku yang t’lah kering.
Musim gugur ini adalah musim dimana aku tertawa dan bahagia.
Musim gugur ini adalah musim dimana lukaku telah mengkristal tanpa bekas.

Kau tahu,
Aku menyimpan luka ini.
Bukan untuk membencimu.
Bukan untuk menyimpan kekecewaan.

Aku menyimpan luka tiap musim gugur.
Kusimpan baik – baik.

Sebagai pengingat!
Sebagai penanda!
Sebagai memorabilia!

Bahwa aku seorang pemenang.

A survivor indeed.

No more scrub in the life of a ‘miss investigator’ ^___^

(Catatan musim gugur, 20 Mei 2010)

Monday, 17 May 2010

Puisi: Mereka Bilang Aku Monyet

Mereka bilang aku monyet
Saat tendanganku menjebol gawang mereka
Saat permainan cantikku membuat mereka menahan napas
Saat kemenangan nyata di depan mata.

Mereka bilang aku monyet
Saat kompetisi hitung – hitunganku membuat mereka tercengang
Saat aku dan saudara – saudaraku berhitung dengan cara kami
Saat kepingan – kepingan logam tanda kemenangan berpindah menjadi milik kami.

Mereka bilang aku monyet
Kala aku menari dengan indah
Memakai warna – warni alam di tubuhku
Kala menyanyi dengan sepenuh jiwa.

Mereka bilang aku monyet
Kala mereka mencuri isi perut ibuku
Menghalau kawanan yang menjaga titipan negeri atas angin
Mengusir paksa aku keluar.

Mereka bilang aku monyet
Kala senjata dan operasi militer digunakan melawan budaya
Kala produk hukum cacat tumpang tindih berlawanan dipakai
Kala keadilan dibutakan dan dininabobokan dengan aliran fulus

Mereka bilang aku monyet
Kala warna kulit dan jenis rambut dijadikan ukuran kecerdasan
Kala label negatif disapuratakan
Kala alkohol dan eksploitasi alam dilegalkan

Mereka bilang aku monyet
Kala pusara – pusara tak bernama dianggap sampah
Kala orang hilang dan terpenjara dianggap mainan
Kala kebebasan budaya dipasung produk undang – undang.

Mungkin saja aku monyet.
Tapi seperti apakah manusia itu?

Aku heran, ragu, dan tak tahu.

Mungkin aku memilih untuk menjadi monyet saja.

Karena aku tak mau jadi manusia kalau akan seperti mereka yang menyebut dirinya manusia!!!

Hidup HAM (Hak Asasi Monyet)!!!



(Canberra, 17 Mei 2010/ Meminjam judul novelnya ‘Djenar Maesa Ayu “Mereka bilang saya monyet”. Terinspirasi dari seruan2 rasis yang diterima tim Persipura kala pertandingan di tahun ini dan pengalaman pribadi dipanggil ‘yakis’)

Thursday, 13 May 2010

Puisi: Ini hidupku! Ini tubuhku! Inilah aku!

Pernahkah kekecewaanmu terbungkus dalam kepompong air mata?
Pernahkah dukamu kau sembunyikan dalam pupur tawa?
Pernahkah sakit hatimu tersirat dalam butir madu kata – kata?
Pernahkah dendammu terperangkap dalam labirin moral?

Kadang sulit untuk bilang, “itu salah. Ini benar. Ko salah, sa tersakiti”
Kadang sulit untuk bilang, “sa tra terima. Kenapa tra jujur?”
Kadang sulit untuk bilang, “ko tra peduli sama sa. ko tipu”
Kadang sulit untuk bilang, “Stop tipu sa suda.”

Semuanya menjadi sulit

KALA …

Pucuk – pucuk senapan itu mengarah padamu
Label – label berbau separatis siap menempel padamu
Keselamatan diri dan keluargamu terancam
Para oportunis berbaju Yudas siap menjual dirimu.

Semuanya menjadi sulit

KALA …

Kau berdiri seorang diri kala berkata lirih ‘LAWAN’
Sahabat memalingkan muka dan berkata ‘Berhentilah’
Keluarga berbisik, ‘tolong pikir tong juga ka’
Orang – orang melabelmu ‘makhluk aneh, Stop gila suda!’

Tapi aku percaya …

Kelak di suatu waktu, di suatu tempat, kala mentari bersinar di suatu pagi dan bulan masih tetap ‘pake payung’ dan ‘teteruga batelor’, waktu itu akan datang.
Kala ketidakadilan dinyatakan, keadilan dikatakan dan permintaan maaf dilantangkan.

Aku tak butuh banyak.

Tak butuh janji palsu berganti bulan purnama.
Tak butuh kucuran uang bernama Rupiah, Dollar, Euro.
Tak butuh belai usap senjata untuk menenangkanku.

Aku hanya butuh dihargai.

Katakan padaku kau salah, itu saja.
Jujurlah padaku tentang kesalahan – kesalahanmu.
Katakan padaku dimana kau kubur anak – anakku.
Katakan padaku dimana kau menduakan hatiku.
Duduklah bersamaku dan bicara; masih mencintaiku atau ceraikan saja aku.

Aku tahu ini sulit bagimu. Sangat sulit.
Tapi bagaimana dengan aku?
Apakah lukaku harus berdarah kembali?
Haruskah irisan lemon dan cuka mengasamkan luka lama ini yang dikorek kembali?

Apakah kau mencintaiku?
Aku ragu! Sangat ragu!

Kala kau nikahi aku dengan paksa, kau paksa orang tuaku menjualku.
Masa remajaku kau rebut.
Kau aborsi janin – janin dan sekap bayi – bayiku.
Anak – anakku kau bunuh.
Lalu dimana cinta yang kau janjikan dulu?

Kau nikahi aku dengan upacara yang megah, terpaksa!!!
Tapi kau jual tubuhku untuk selingkuhanmu.
Kau pilih berikan cintamu kepada cinta lamamu di sana.
Uang belanjaku kau habiskan dengan mereka.

Cintakah kau?
Rindukah kau?
Bencikah kau?

Aku tak tahu. Lelah bertanya!!!

Hanya ingin berteriak, “Ko HOP suda”.

Sa capek.

Tak adakah waktu duduk dan bicara?

Aku bukan perempuan tempatmu melepaskan sel kehidupanmu. Maaf, aku bukan pedagang tubuh. Bukan dan tak akan pernah mau!!!

Sudah saatnya kita bicara.

Inikah cinta?

Ataukah penjara bernama “Pernikahan”.

Maafkan aku, yang mempertanyakan ‘cintamu’ ..

TAPI aku, perempuan ini, bernama Papua wajib bertanya.

Ini hidupku! Ini tubuhku! Inilah aku.

(Chifley Library, 13 Mei 2010; teringat kasak – kusuk UU tentang pemilihan kepala daerah di tanah yang kupanggil rumah)

Don't worry. Be Happy, Day!

Hari ini sa belajar tentang sesuatu. Sebenarnya tadi pagi pas lari sibuk tarik sapu trolley merah andalan yang berisi buku – buku, sa su diingatkan pas di depan gedung kuliah. Kejadiaannya pas sa pu trolley buku ko tabale dan saat itu, sa langsung berhenti dan balik akan kembali dan jalan. Trus di sapu hati bilang, “Hei Day, lihat kalo ada masalah dalam hidup juga begitu, kalo akan tabale macam ko pu trolley tuh, jang kasi tinggal, tapi ko bale akan kembali too. Gampang too!!” Trus intinya tadi tuh tentang ‘kasi selesai masalah begitu’. Tapi karna sa langsung menuju kelas, sa tra peduli ka ini. Tra terlalu peduli karena sibuk pikir esai 2 yang belum selesai – selesai ka ini.

Usai kelas dan pi ke acara Thursday market, cari buku bekas, plus lihat demo kampus untuk pace ‘rektor’ trus lanjut makan siang, sa ingat eee belum bayar tagihan rumah ka ini.

Jadi sapi ke perpus Menzies yang untuk perpus Asia Pasifik, trus mulai kasi nyala komputer dan lain – lain. Mama eta, pas cek sapu tagihan telpon dan internet, sa macam mo menangis Bombay bokar – bokar. Sa shock langsung eeee, butuh waktu selama 10 menitan untuk usir sapu rasa kaget ka ini. Sa langsung cek de pu ramifikasi segala macam, jadi sa sup using langsung sa telpon saja ke pihak yang kasi e-mail itu. Usai bayar segala macam, sa masih tetap stress selama lebih dari 45 menit. Abis di tagihan yang sa lihat, kalo internet sa tahu sa memang kebobolan di bulan lalu dan sapu sambungan dapat blokir tapi yang telpon, masa sebanyak itu tuh. Sa sampe stress ya dan su pusing langsung. Karena seingat sa, di tagihan terakhir yang sa lihat pas cek sebelum ganti rekening, sa pu tagihan tuh masih affordable ka ini. Ternyata sampe kelebihan 300 dollar. Jadi sa shock tadi. Karna sa su kena denda di internet ee sa kaget di telpon kok sebanyak itu. Jadi masih tetap begitu juga. Aduh ini karena sa memang masalah selalu deng keuangan ka ini ^_^

Jadi karna khawatir tadi, sa sampe tra bisa berpikir apa – apa, su pikir pulang deng pakaian di badan, tra bisa kirim sa barang pulang, sapu paket buku, bayar tagihan lain – lain bagaimana dll. Karena kalo su di Indonesia sih, sa masih bisa beli sapu tiket pesawat pulang, tapi kalo di sini, bagaimana? Sa agak babingung tadi.

Trus sa ingat tentang Joel Osteen Ministry yang sa suka baca, akan pu link ini http://www.joelosteen.com/HopeForToday/ThoughtsOn/Finances/KeepYourSong/Pages/KeepYourSong.aspx . Selesai baca, sambil duduk di kursi di perpustakaan, sa memutuskan untuk mengucap syukur dan berdoa dan cerita ke Tuhan. Sa belajar banyak hari ini dari pembacaan yang dibagikan di pelayanan ini khususnya tentang kekhawatiran. Belajar banyak eee.

Sa suka kata – kata di blognya Joel Osteen ini:

“So what are we to do? Trust God, and just like the birds, praise Him. Keep that song of praise in your heart. When the praises go up, the blessings come down. His joy is our strength through the hard times. When you spend your time worrying, you're not putting your faith out there.”

“That means when you wake up, praise God. Believe Him for restoration in your retirement and savings. Believe God for restoration in that business you lost. There is nothing too difficult for God to do. Everything that was stolen can be restored in your life. God always gives us double for our trouble, and He likes to outdo Himself. The question is do you believe He will?”

Akhirnya sa ambil keputusan to let this pain and shock go …. Apapun yang mo terjadi, biar akan terjadi TAPI sa percaya sa pu Allah akan pelihara sa bagaimanapun caranya.

Satu hal yang sa pelajari juga tadi tuh bahwa sa pu tujuan datang ke Australia tuh untuk cari sapu ijazah Master ini, untuk dapat pelajaran dan pengalaman tinggal di luar negeri jadi sa tra usah pikir apapun yang bisa atau tidak bisa sa bawa pulang khususnya pakaian, barang – barang. Beberapa saat tadi sa macam refleksi kembali ke dalam sapu hidup dan tiba – tiba macam sa relaks ka ini. Tentu saja usai sa berdoa tadi (dan menangis sebentar).

Satu yang pasti, sa tra boleh biarkan sa pu masalah atau apapun yang terjadi curi sa pu sukacita karena bukan itu yang Tuhan mau dari sapu hidup. Ternyata deng buang sapu kekhawatiran tadi, sa rasa relaks sekali. Sangat relaks.

Yang pasti sekarang, yang harus sa lakukan tuh selesaikan sapu esai – esai dan belajar. Itu yang paling penting. Uang sa bisa cari lagi, oleh – oleh untuk sapu keluarga bisa sa negosiasikan dengan dong lagi dan segala macam barang yang cuma merupakan hal – hal sekunder buat sa. Karena bagaimanapun sa pu tiket pulang ke Indonesia kan dapat tanggung dari beasiswa sedang kalo tiket ke Papua nan sa beli baru dong tinggal ganti akan saja. Kalo trada, sa beli sendiri juga tra papa ka ini, karena sa masih pu tabungan yang cukup kasi makan sa selama 3 bulan tanpa pekerjaan di sana ^_^ Setidaknya itu sapu segi positif saat ini yang sa wajib lihat.

Sa juga belajar tadi untuk lihat apa yang sangat sa perlukan dan apa yang tra sa perlukan. OK, sa harus lihat pelajaran untuk tra boros (walaupun ternyata kebobolan banyak juga) dan ini jadi sapu pelajaran kalo sa memang tra bole pake sistem pasca bayar karena bisa kasus seperti ini lagi. Trus sa belajar lagi sapu pengalaman kalo ternyata sa tuh kalo dalam keadaan stress, sa selalu cari jalan keluar deng ‘berkomunikasi’ baik lewat internet, chating, telpon teman sampe lama jadi ini su jadi indikasi bahwa sa kalo ada masalah di depan – depan lagi, sa su bisa prediksi sa seperti bagaimana. Jadi su wajib alokasikan dana di sana.

Akhirnya, sa cuma bisa bilang, Thanx Father, Jesus, Holy Spirit karena su baik sekali sama sa. Padahal tadi jujur sa su babingung taslep sekali, macam otak nih buang – buang air eeee. Tapi sekarang, sa cuma mo bilang sama sapu masalah dan rasa khawatir, “neh ko jauh – jauh suda, sa tahu sa ada masalah tapi sa akan selesaikan, sa percaya sa akan baik – baik saja, jadi jang bikin kaco acara eeee” Sa tra mo pikir ko lagi hehehe.

Sekali lagi, Thanx Father, Jesus, and Holy Spirit, karna ko su baik sekali sama sa. Beasiswa ini salah satu kebaikanmu, jadi kalo sa pulang deng pakaian badan juga tra papa, yang penting sa dapat ijazah itu, itu yang penting bagi sa. Love U so much ^_^

(Menzies Library, 13 Mei 2010)

Tuesday, 11 May 2010

Cerpen: Mencari Bintang

Tuturan satu

Para editor majalah dan surat kabar itu bilang namaku tak layak masuk dalam terbitan mereka karena namaku tidak menjual dan kisahku (mungkin) kontroversial. Entahlah! Aku tak tahu tapi aku ingin bercerita tentang kisahku, seorang ibu rumah tangga berbadan dua. Ya, aku sedang hamil 7 bulan. Sebuah kisah dengan tokoh perempuan yang tak cantik. Iya. Itu kata mereka karena aku seorang perempuan yang sedang hamil dan tentu saja badanku sedang mekar ibarat balon yang sedang mencoba meletup dan mereka selalu mencoba mendefinisikan kata cantik dari lekukan tubuh perempuan yang menggiurkan. Apa tubuhku tak menggiurkan, entahlah! Tak tahu dan tak mau tahu.

Kisah ini mungkin menyinggungmu. Itu hakmu. Tapi aku juga punya hak menceritakan kisahku. Kisah perempuan hamil di sebuah pulau di lautan Pasifik. Mereka bilang pulau ini panas, entahlah! Apa karena gugusan karang atau karena memang kami berada di lautan teduh yang dilintasi garis bernama ekuator atau khatulistiwa? Entahlah. Aku bukan perempuan lulusan sekolah tinggi toh aku hanya tahu mengurus suami dan tentu saja mengikuti ibadah – ibadah kaum ibu yang diajar guru – guru injil itu. Jadi jangan tanyakan padaku berapa suhu hari ini, berapa kecepatan angin dan berapa tinggi gelombang laut. Aku tak tahu. Tapi tanyakan padaku kapan bintang pagi muncul di bentang langit. Tanyakan padaku kapan waktu yang tepat mencari kombrof, kapan mencari bia di pantai dan kapan saat yang tepat melihat mambesak, mungkin aku bisa mendefinisikan dan mendeskripsikan dengan lebih baik. Atau tanyakan padaku bagaimana membedakan perasaan tentang apa yang menyakitiku, apa yang menyakitimu dan menghargai orang lain. Aku mungkin lebih peka akan hal itu karena aku perempuan. Allow, aku tetap perempuan dan aku calon ibu, lho.

Mereka bilang namaku Meri. Entahlah apa itu ditulis Meri, Marry, Marie ataukah hanya Mery. Aku tak tahu. Aku kan tak pernah sekolah formal dan belajar merangkaikan fonem – fonem itu dalam simbol fonemiknya dan menyusunnya dalam daftar abjad. Itu bukan spesifikasiku dan mungkin bukan urusanku. Tanyakan padaku bagaimana mengolah keladi ini menjadi makanan pokok. Tanyakan padaku bagaimana membuat ramuan penguat kandunganku. Tanyakan padaku mengolah ikan asin untuk kusimpan bersama – sama dengan tirisan bia kering. Aku pasti tahu.

Aku hanya perempuan kampung berumur 18 tahun yang dibesarkan di sebuah kampung di bagian utara pulau ini. Mereka bilang aku punya nama lain yang berarti buah bitanggur perempuan tapi guru Injil di kampungku tak suka bila aku menyebut nama itu, katanya itu nama kafirku. Tapi entahlah, aku lebih sering dipanggil Meri dan itu pun nama yang dibacakan guru injil itu saat aku dan suamiku menikah dalam gereja kecil dari susunan kayu buah di kampungku. Tentu saja usai segala macam prosesi adat dan urusan mas kawin dibereskan.

***

Tuturan Dua

Beberapa hari ini saat pergi mencuci tumpukan pakaian di aliran kali di pinggiran kampung. Para perempuan lain di kampungku mulai berbagi cerita tentang berita yang mereka dengar. Tentang kejadian di kota. Tak ada satupun kabar baik yang kudengar. Mulai dari deru mesin perang yang memborbardir kota. Suara di angkasa yang memekakkan telinga. Mulai dari orang – orang berkulit terang yang merangsek masuk ke pedalaman di bagian barat pulau ini. Mulai dari pasokan makanan bagi guru – guru injil dan tenaga Zuster yang berkurang dan seribu cerita lainnya dan jujur aku sedikit khawatir.

Aku masih sering mendengar kisah lama dari orang tuaku tentang masa sulit di pulau ini, sebuah perang yang menghantam banyak bagian dari lautan ini dan mereka bilang nama perang itu sama dengan nama lautan ini di peta. Itu cerita guru injil di kampung kami. Tapi sekali lagi karena aku bukan perempuan yang mengikuti pendidikan formal, jangan tanyakan padaku nama perang itu, aku takut salah. Orang tuaku pernah bercerita tentang bagaimana orang – orang yang bersenjata lengkap dan berkulit ibarat ‘bulan pakai payung ‘datang menginvasi pulau ini dan bertahan di gua – gua dekat kota. Aku tak bisa membayangkan bagaimana mereka betah tinggal di sana, gua itu kan sangat pengap. Tapi itu kejadian sekitar 20an tahun lalu. Waktu aku belum lahir.

Hari ini aku kembali lagi mendengar kisah yang mirip dengan kisah 20an tahun lalu. Tapi kali ini terjadi di eraku, kala aku sedang menunggu dan menghitung hari kelahiran anak pertamaku. Entah anakku lelaki atau perempuan. Aku tak tahu. Kalau ia lelaki, aku ingin memberi nama bocah kecil ini dengan julukan pahlawan perang ataupun nama dalam legenda bintang pagi di sukuku. Tapi bila ia perempuan, aku mungkin hanya akan memberi nama gadis kecil ataupun putri dalam dongeng atau mungkin juga embun pagi. Entahlah …

***

Tuturan Tiga

Sore ini tak seperti biasanya, lonceng gereja di kampung kami dipukul bertalu – talu. Mungkin ada berita kematian ataupun berita penting. Aku tak tahu. Dengan sigap kurapikan sarungku dengan baik. Suamiku baru pulang mencari kayu bakar di pinggiran hutan dan ia masih sempat membawakan beberapa ikat sayur ganemo yang dipetiknya. Lumayan. Apalagi keladi masih banyak di dapur. Tinggal mencari ikan saja dan lengkaplah makan malam kami. Tapi ah, lonceng ini terlalu bising. Pekak!!!

Bergegas keluar rumah, di depan gereja, penduduk kampung telah berkumpul. Dari jauh kulihat mama Yako, perempuan bersuara besar yang suka membuat kami tertawa, telah muncul tapi ekspresinya sedikit murung. Bukan Mama Yako yang kukenal. Para ibu – ibu tua dan lelaki – lelaki lain juga muncul tapi dengan tampang yang bertanya – tanya, seperti ekspresiku. Para lelaki kasak – kusuk. Tua – tua pun diam sambil mengunyah pinang mereka yang entah kenapa ludahnya tiba – tiba mengingatkanku tentang darah kental.

Tiba – tiba muncullah kepala kampung, guru injil dan beberapa orang yang tidak kami kenal. Tampang mereka jarang kulihat dan mereka sangat berbeda dengan kami. Rambut mereka tak seperti rambut kami. Kulit mereka pun lebih terang dari kami dan bahasa mereka pun sangat berbeda. Bahasa mereka mirip dengan bahasa yang dipakai guru injil tapi aksen dan pilihan kata mereka sangat berbeda, aku hanya bisa menangkap maksud mereka samar - samar. Kulihat pandangan mereka menyapu wajah – wajah kami, seakan menaksir seberapa kelam kulit kami, seberapa putih gigi kami yang kerap bermandikan ludah pinang, apakah darah kami berwarna merah. Seseorang dari mereka menghentikan pandangannya di diriku dan seakan menaksir apa yang ada di dalam perutku. Bayi ataukah hanya sebuah bantal. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi aku tak suka cara ia memandangku. Mungkin karena kami hanyalah perempuan – perempuan yang berpakaian kain sarung dan mereka telah berbaju lengkap dengan sepatu yang kelihatan kuat, apalagi baju mereka mengingatkanku pada hutan yang sering kulihat kala mengunjungi kerabat ibuku di pulau yang hanya berbatasan sebuah selat dangkal dekat pulauku.

Mataku masih sigap dan cermat mencoba mengamati para orang – orang baru ini. Mereka hanya 5 orang tapi kata pak kepala kampung, besok pagi akan datang teman – teman mereka, mungkin sedikit lebih banyak. Entah 20, entah 30, entah 50 orang, aku tak tahu. Aku tak bisa menghitung. Yang aku tahu kami harus menjamu mereka, akan ada pesta besok. Jadi esok hari, suamiku dan para lelaki akan diminta bekerja hingga siang hari. Aku tak tahu pekerjaan apa, tapi sepertinya yang membutuhkan banyak energi. Mungkin aku bisa membuatkan makan siangnya. Apa keladi dan ikan asar dan kelapa bakar bisa memuaskan dan mengenyangkan suamiku atau tidak, ah aku akan berusaha.

Satu yang pasti, yang aku dengar dari bisik – bisik mama Yako dan perempuan – perempuan tua di dekatku tadi, besok akan ada pekerjaan. Titik! Jadi semua lelaki harus datang dengan alat kerja mereka, mulai dari sekop, pacul dan juga parang. Jam 9 pagi di depan rumah kepala kampung. Titik! Kami perempuan akan membantu menyiapkan makanan.

***

Tuturan Empat

Pagi pun menjelang kala bintang pagi telah kabur ke belahan dunia lain dan aku kebingungan mencarinya saat mimpiku buyar. Bayi di perutku mulai sibuk menendang – nendang dari tadi. Kulihat suamiku masih tidur di para – para yang sekaligus menjadi tempat tidur kami. Bergegas bangun, aku ingin sekali memeluknya. Entahlah. Mengapa pagi ini aku ingin sekali memeluknya. Mungkin naluri kehamilanku, entahlah. Yang aku tahu, aku seakan enggan bangun dan berdiri. Aku ingin memeluknya lebih lama. Toh ia bapak dari calon anakku. Aku mungkin bukan perempuan kota yang terbiasa mengekspresikan rasa sayangku tapi aku tahu aku mencintai lelaki ini. Lelaki yang namanya persis sama dengan bintang pagi yang kabur ke bentangan langit lain dalam mimpiku subuh ini. Perasaanku tak enak. Mungkin aku harus pergi bertemu mama Anco dan mengurut posisi bayiku, mungkin waktu kelahiran anakku sudah dekat, entahlah.

Sambil sibuk di dapur menyusun sabut – sabut kelapa dan mengasapi ikan dan keladi, kuingat ritualku tiap bangun pagi. Pergi ke pancuran di pinggir kampung mengambil air, mencuci muka dan membuang hajat. Air minum pun telah siap kubawa, sepertinya 1 jeriken dan 1 ruas bambu ini cukup ini untuk air minum. Kalau kurang, aku akan kembali lagi. Saat kembali dari pancuran, dan menunggui air panas, suamiku telah bangun. Pembicaraan kami tak banyak pagi ini. Ia hanya menanyakan apa yang akan kulakukan hari ini. Mencari bia ataukah membantu ibu – ibu masak di rumah kepala kampung. Aku tak tahu. Masih lelah mengangkat air dan galau memikirkan mimpiku subuh tadi.

Waktu makan pagi kami pun berlalu dengan cepat kala seorang ipar menjemput suamiku. Kulihat bawaan mereka mulai dari sekop, pacul dan parang. Mungkin kerja keras hari ini. Aku tak tahu. Katanya hanya di belakang kampung, membuka lahan kebun kelapa atau tanaman yang diinginkan orang – orang baru itu. Sebentar jam makan siang, aku sepertinya ingin ikut mengantar makanan. Entahlah, mengapa pagi ini aku merasa bahwa aku mencintai lelaki ini. Sangat mencintainya.

Usai kepergian suamiku, aku memutuskan merapikan diri dan mandi di pancuran. Kupakai kebaya terbaikku yang hanya kupakai bila hendak ke kota. Kurapikan rambutku dengan sisir bambu, kuminyaki dengan minyak kelapa yang diberikan tumbukan beberapa akar tanaman. Kusiapkan peralatan dan beberapa tumpuk keladi yang hendak kusumbang di acara masak di rumah kepala kampung. Aku merasa cantik hari ini.

***

Tuturan Lima

Saat menginjakkan kaki di depan rumah kepala kampung, matahari belum naik di atas kepala. Para perempuan di kampung telah sibuk di dapur dan di para – para samping rumah. Dengan mulut – mulut penuh pinang dan sirih dan celotehan tanpa henti, kami tertawa, terdiam, tertawa lagi. Begitu hidup! Sambil sibuk mempersiapkan makanan, para anak – anak kecil yang kami suruh melihat bapak – bapak mereka dan kaum lelaki untuk mengantarkan air minum baru saja kembali dan berlarian kelelahan. Mungkin kalau anakku sudah lahir dan besar, mungkin ia akan kusuruh juga. Para bocah itu melaporkan bahwa kaum lelaki sedang sibuk menggali lubang – lubang seperti got di kota. Entahlah, jenis tanaman apa yang hendak ditanam. Kami pun kembali lagi sibuk memasak.

Mentari pun bersinar tepat di atas kepala. Rombongan ibu – ibu berjumlah sekitar 20an orang diiringi anak – anak kecil menjinjing makanan dan air minum menuju lahan belakang kampung. Siul burung kakatua dan Nuri seakan aneh siang ini. Nyanyian mereka terasa tak bersinergi dengan nyanyian ombak. Serangga – serangga hutan pun sedari tadi terdiam. Perasaanku tak enak. Sangat tak enak. Sesaat bayang mimpi bintang pagi yang menghilang hinggap di kepalaku dan aku sedikit pusing. Pening!

Lima menit menjelang bukaan jalan pintas ke lahan, suara letusan terdengar. Gegap gempita. Riuh rendah. Suara komat kamit. Jeritan sana - sini. Ibu – ibu berlarian ke sumber suara. Anak – anak kecil menjerit. Alam kacau – balau. Derap langkah kaki berlari, bersirobok, menjerit, berlari dan diam.

Aku berlari ke sana. Perut tujuh bulanku terasa ringan. Aku berlari kencang. Berlari dan terus berlari. Peluh membasahi kebaya terbaikku. Terus berlari.

Bintangku lenyap. Dia lenyap. Bintang pagiku lenyap.

Lubang – lubang dalam itu penuh darah. Penuh warna merah. Bintang pagiku terkubur. Tubuh – tubuh tanpa nyawa itu terkubur dalam pelubang buatan mereka sendiri dan kulihat di sisi lubang itu, wajah – wajah asing itu. Berdiri dengan senyum kemenangan!

Sekali lagi diam dan rentetan letusan terdengar. Lebih ramai ditimpali suara jeritan panjang dan derak suara sopran dan alto dan kanak – kanak tanpa nada. Lalu DIAM! Beku dan kaku.

Tiba – tiba semuanya terasa hangat dan gelap. Pening!!! Kulihat bayiku berjenis kelamin lelaki tergeletak mencuat dari perutku yang terbuka. Hangat! Para guru Injil itu salah, kematian tak pernah terasa dingin, ini hangat, sehangat perutku yang terkoyak.

Aku akan mencari bintang!

Bintang pagiku!

Apakah mereka, wajah – wajah asing itu juga mencari bintang? Aku tak tahu!!!

***

(D. Meimosaki 2010/ Mengenang kejadian di 2 buah kampung di sebuah pulau di kawasan yang kupanggil rumah, tahun 1960an; kisah - kisah yang tak terceritakan dan sengaja dikubur tapi tetap abadi di ingatan mereka yang mengingatnya (dan mendokumentasikannya)/ Campbell, Canberra 8 Mei 2010)

Ingin Mengalir

Pernahkah kau mencintai seseorang hingga terluka?
Pernahkah kau merindukan seseorang hingga lupa akan dirimu sendiri?
Pernahkah kau menggadaikan tidurmu demi memikirkan dia?
Pernahkah kau merelakan waktu terbaikmu demi mendengar ceritanya?

Pernahkah kau berpikir bahwa ia yang terakhir?
Pernahkah kau ingin membekukan kenanganmu dalam realia?
Pernahkah kau ingin menahan laju waktu yang berlari?
Pernahkan kau ingin berteriak membangunkan kesadaranmu?

Pernahkah kau berpikir bahwa hidup hanya lengkap bila dengan dirinya?
Pernahkah kau bepikir bahwa hidup harus selalu diakhiri dengan kebahagiaan?
Pernahkah kau berpikir bahwa dia sumber kebahagiaanmu?
Pernahkah kau tertahan dalam tangis dan menyadari bahwa ternyata hidup itu indah?

Aku pernah dan aku memutuskan berhenti pada suatu waktu.
Entah kapan tepatnya, tapi aku telah memutuskan sejak lama.
Saat hati dan jiwa tak bersinergi dengan mudah.
Saat hati dan jiwa mengkhianati diri.

Berhenti dan tersadar bahwa aku masih sangat mencintai diriku sendiri.

Berhenti bermimpi dan melihat kenyataan bahwa ternyata yang aku cari adalah diriku sendiri. Bayanganku!!!

Berhenti memandang bahwa sumber kebahagiaan ada dalam diri orang lain.

Berhenti berpikir untuk menjadi yang terbaik untuk orang lain dan membuat tubuhku, diriku dan perasaanku tersiksa dan sekarat.

Berhenti berpikir untuk mengejar kebahagiaan yang digariskan oleh orang lain karena toh aku sudah berada di tahap kesadaran bahwa kebahagiaan adalah masa sekarang ini, saat ini, dimana aku hidup dan memutuskan untuk bahagia. Karena kebahagiaan yang aku cari bukan sebuah keadaan dimana semua yang kubutuhkan terpenuhi, segala yang kuinginkan tercapai dan apa yang kulakukan berjalan sempurna. Kebahagiaanku adalah sebuah sikap yang kupilih dan menikmati yang kujalani sekarang sebagai sebuah pilihan hidup. Aku bahagia karena aku menjadi hidupku sendiri. Jujur pada diriku sendiri. Bekerja dengan caraku sendiri dan tak lagi mau membuat orang lain terkesan.

Masih banyak yang kerap salah memahamiku, salah menerkaku. Salah menebakku.
Masih banyak perempuan yang merasa bahwa aku menjadi sebuah ancaman bagi diri mereka; berpikir bahwa aku akan merebut kekasih, suami, pacar ataupun tunangan mereka karena sikapku.

Aku sebagaimana namaku yang berarti mimpi, tak nyata dalam sebuah mitologi Asia Selatan mungkin sesuai dengan sikapku. Pahamilah namaku dan kau akan tahu seperti apa diriku.

Beberapa minggu ini usai melakukan sebuah permintaan besar demi berdamai dengan masa lalu aku menjadi lega. Tapi toh bukan sebuah jaminan bahwa pihak yang kuminta maaf akan bereaksi seperti yang kuinginkan karena usai beberapa minggu toh ia bereaksi juga dan jujur, aku tersakiti. Tapi toh itu pilihan yang kulakukan. Hal yang bisa kulakukan walau aku tahu, kalau ingin mengandalkan egoku, aku seharusnya yang menuntut suaminya untuk minta maaf kepada diriku, merecoki diriku dengan cinta dan kebohongan, membuatku membuang waktu terbaikku dan semua potensi terbaikku. Tapi toh semua telah terlewati dan aku puas dengan diriku yang sekarang . Walau butuh waktu tahunan untuk melepaskan kenangan itu. Puas telah berdamai dengan masa laluku walau tetap saja ada gurat luka yang tak akan pernah lihat dan berusaha kujaga agar tak berdarah lagi, itulah sebabnya aku memilih menutup diri. Takut salah lagi. Takut menyakiti diriku sendiri. Membalut luka – luka dengan perlahan.

Musuh terbesar adalah diri sendiri dan itu yang aku percaya.

Salahkan aku karena aku bukan tipe orang yang mudah berganti hati.
Salahkan aku karena aku tipe orang yang mudah jatuh cinta.
Salahkan aku karena aku tipe orang yang akan menghujani orang yang kusayang dengan perhatian ibarat bombardir bom, memberikan yang terbaik dari diriku, menyangkal diriku sendiri, menekan semua keinginan pribadi demi menjadi yang terbaiknya, tapi itulah caraku mencintai.
Panggil aku a romantic fool. Orang yang jatuh cinta tanpa pengaman. Tanpa akal sehat.
Salahkan aku karena aku sekali aku jatuh cinta bara itu sulit padam.
Salahkan aku!!!

Tahun ini aku belajar banyak tentang hubungan, tentang membangun hubungan, tentang melanjutkan hidup dari bayangan masa lalu dan tentang menjadi dan jujur pada diri sendiri. Kadang kita butuh untuk egois. Untuk menjadi diri sendiri!!!

Aku masih berada dalam perjalananku, masih mencari bentuk tapi satu yang pasti, aku puas dan bahagia dengan diriku yang sekarang. Bahagia dengan pilihanku, bahagia dengan keputusan – keputusan yang kuambil, bahagia dengan kebebasanku karena toh aku masih mencintai diriku sendiri dan tak bisa berada dalam sebuah komitmen. Aku ingin semuanya mengalir, mengalir dan mengalir.

Aku puas dan bahagia dengan hidupku yang sekarang. Tantangan dan masalah semakin membuatku menyadari bahwa aku butuh Tuhan, cinta sejatiku.

Hari ini aku belajar banyak bahwa yang kubutuhkan hanyalah Tuhan; seseorang yang menyayangiku apa adanya, menerimaku apa adanya, menghargaiku dan selalu ada dan aku sangat mencintai-Nya. Sangat!!!

Lelaki boleh datang dan pergi dalam hidupku, cinta boleh datang dan pergi, sahabat boleh datang dan berganti menjadi musuh tapi satu yangaku tak ingin pernah terjadi dalam hidupku; kepergian Tuhan karena aku meninggalkan-Nya. Aku tak akan pernah lagi mau menggadaikan Tuhanku demi hal lain. Bapa, Yesus dan Roh Kudus adalah harga mati bagi diriku, my internal DNA.

Aku percaya aku masih muda, cerdas, kuat, cantik, diberkati, dikasihi dan semuanya bukan karena diriku dan kekuatanku tapi karena aku punya Yesus dan Dia yang melengkapi dan menguatkanku, yang membuatku indah dan menjadi berkat. Tanpa-Nya, aku kosong dan hampa. Hilang!!!

Aku memilih untuk hidup dengan caraku sendiri. Memilih menjalani apa yang kupercaya. Melakukan apa yang kuinginkan dan percaya bahwa aku diberkati dan tak boleh egois untuk memegang berkat – berkat ini sendiri.

Satu yang pasti, aku ingin mengalir dalam kegerakan aliran Tuhan. Kemana Ia akan membawaku, kemana Ia akan mendamparkanku, kemana ia akan mencurahkanku, I’ll say I do.

Aku percaya aku lemah dan tersesat oleh sebab itu aku benar – benar butuh Dia. Itulah sebabnya aku menjadi Kristen karena aku tahu aku butuh seorang bernama Yesus. Bagiku, Yesus adalah yang terbaik.

Tak sabar rasanya untuk ‘pulang’ ke rumah. Karena aku tahu Ia pasti menungguku tapi aku tahu Ia masih ingin aku menjadi anak-Nya dan merefleksikan kasih-Nya bagi sesamaku yang pernah berada dalam posisi yang mirip dengan-Ku.

Dear God, miss ‘n love You so much. Tak sabar rasanya menari bersama-Mu.

Miss home!

(Canberra, 9 Mei 2010; saat tekanan tugas begitu membuatku sesak dan tersadar bahwa aku punya kekasih Jiwa )

You never let go!

Pagi ini aku bangun dengan keadaan malas, kedinginan dan terpaksa karena ada pertemuan di rumah antar penyewa membahas masa depan rumah kontrakan ini. Malas banget!!!

Aku berada di saat moodku tidak sempurna!!!

Campuran kelelahan, jenuh, dan malas plus sedikit kecewa dengan sambungan internet di kamar yang masih ‘ngadat’ karena pemakaian bulan laluku yang super duper gede dan kena sanksi.

Tapi pagi ini sambil sibuk melihat – lihat isi komputer jinjingku, lagu – lagu dari radio Kristen di kotaku One Way FM lumayan menguatkanku. Mulai dari lagu You never let go hingga ‘I cannot hide from You’. Menguatkanku dan membuatku sedikit membangun alasan mengapa harus hidup hari ini.

Jujur, beberapa hari ini aku seperti kehilangan semangat untuk bangun pagi dan memutuskan ogah pergi kuliah sejak hari Rabu dan memilih untuk mendengarkan rekamannya saja lewat jaringan kampus. Entahlah … jujur aku sudah lelah kuliah. Lelah!!!

Mungkin karena aku sudah tak sabar ingin pulang dan rasa rindu ini menumpuk dan terus menumpuk dan membuatku semakin tertekan di sini. Entahlah …

Aku hanya ingin pulang!!! Ingin pulang!!! Bertemu mentari tropis. Bertemu udara bercampur garam. Bertemu hutan hujan tropisku. Tak sabar pulang!!!

(Canberra, 8 Mei 2010)

Tukang Mimpi: Sekolah Bola

Beberapa hari ini aku melihat layar status Facebook teman – temanku berisikan harapan tentang tim sepak bola favorit dari kota Jayapura dengan seragam andalan mereka yang berwarna merah – hitam yang sekaligus menjadi ikon kebanggaan orang Papua; Persipura. Dunia sepak bola ini pula yang sering membuatku berjalan perlahan dan berhenti dan kadang duduk di bangku taman dekat pohon Willow di dekat lapangan sepak bola dari perjalananku pindah belajar dari perpustakaan khusus Asia – Pasifik (Menzies) ke perpustakaan ilmu sosial (Chifley) sambil menonton manusia – manusia yang berlarian menendang benda bundar itu. Merindukan suasana yang setiap hari kulihat kala sore menjelang di tanah Papua; main bola kaki.

Tulisanku kali ini anggap saja sebuah catatan dari seseorang yang tidak tahu tentang sepakbola karena memang sepakbola bukan olahraga favoritku dan karena memang aku bukan orang yang suka berolahraga dan suka menjadikan olahraga sebagai ajang kompetisi karena terlalu sulit bagiku untuk dicerna. Bagiku, olahraga hanya kulakukan demi menjaga penyakitku tidak terlalu parah karena toh aku memang tidak seberuntung orang lain yang dapat berolahraga apa saja karena hanya berenang dan senam air yang dianjurkan oleh dokter untukku karena mempunyai tingkat risiko terendah bagi otot dan sendiku dan jujur kadang aku iri dengan para pemain bola itu yang dapat berlari dengan cepat, mengatur nafas dengan baik dan menendang bola. Guys, You are so lucky, don’t you know?

Bicara tentang sepakbola, aku sering bertanya tentang olahraga ini. Sering bertanya, mengapa orang begitu tergila – gila dengan olahraga ini dimana 22 orang pemain sibuk memperebutkan 1 buah kulit bundar itu? Sering bertanya mengapa banyak orang – orang rela menepis kantuk mereka dan sibuk memastikan antena parabola dan televisi berfungsi dengan baik agar bisa menonton tim favorit mereka menggulirkan benda bundar itu? Tapi toh aku bukan – bukan siapa – siapa yang bisa menebak apa penyebab banyak orang tergila – gila dengan olahraga ini karena toh kakakku sendiri salah seorang penggila bola dan mungkin aku mengenal olahraga ini sejak kelas 4 SD karena dia tapi sayangnya ia tak pernah berhasil mencuci otakku untuk mencintai olahraga ini. Tapi satu yang pasti, aku tahu bahwa olahraga ini sanggup membuat perbedaan kelas sosial, ras, dan permusuhan larut dalam irama permainannya dan semua orang menjadi satu dalam gegap gempita permainan. Itu satu poin yang kusuka dari permainan ini; when people become one.

Karena latar belakangku yang lahir dari keluarga yang membebaskan aku mau jadi apa, memilih hobiku, jurusan pendidikanku dan jodohku seperti apa, sejenis keluarga yang sedikit ‘liberal’,aku kadang bertanya tentang permainan sepak bola di tanah Papua. Anggap saja aku seorang awam yang bertanya kepada para pecinta sepak bola dan pengurus tim – tim sepak bola di tanah Papua. Anggap saja aku seorang bodoh yang bertanya, karena memang aku sampai detik ini tak pernah bisa mengerti dan menghitung kekuatan tim dengan berbagai pola angka – angka itu, membedakan mana off-side, menghitung peta kekuatan lawan dari tiap pool dan berbagai keahlian yang perlu dipahami dalam menonton bola. Tapi sebagai orang awam, aku punya pertanyaan tentang dunia sepak bola di tanah Papua.

Pertanyaanku antara lain sampai kapankah tim sepakbola di tanah Papua harus selalu mengontrak pemain sepak bola dari luar? Aku tak menepis peran serta dan kontribusi dari para pemain sepakbola kontrakan dari benua Afrika dan Brazil yang menghiasi tim sepakbola Papua, tapi pertanyaanku adalah sampai kapan hal ini akan terus terjadi? Apakah memang anak – anak Papua tidak bisa merestrukturisasi diri mereka sendiri di dalam tim tanah mereka sendiri? Apakah memang kita tidak punya kapasitas untuk memainkan peran maksimal dalam tim kita sendiri? Anggap saja aku pemimpi, tapi aku bermimpi kelak suatu hari nanti, bukan para pemain asing dari benua hitam dan Amerika latin yang kita kontrak dalam tim sepakbola kita, tapi aku bermimpi, 10 – 20 tahun mendatang, di beberapa tim sepakbola besar di luar negeri, bukan hanya di liga – liga kecil dan tim – tim sepakbola yang kurang terkenal dan tak muncul di liga – liga yang kerap muncul di televisi, TAPI aku memimpikan kelak saat teman – teman serumahku di luar negeri sedang sibuk menonton liga Inggris, Seri A Italia dan berbagai siaran dunia tentang sepakbola internasional, aku melihat wajah – wajah familiar yang kukenal; para lelaki Melanesia dari sebuah tempat bernama tanah Papua yang sedang bermandi keringat berlari dengan gaya mereka yang sangat khas memainkan bola. I wish that I can see that someday!!!

Salah satu pemikiran yang pernah kukatakan saat ditanya tentang sepakbola oleh seorang mantan dosen swaktu kuliah adalah bagaimana melihat isu sepakbola. Aku yang pada dasarnya memang bukan pecinta olahraga ini walau tak menolak diajak nonton sepakbola (walau orang yang mengajakku wajib jadi pemandu dan ditanya ini – itu tentang olahraga ini) sempat mengutarakan satu gagasan yang mungkin kedengaran aneh, karena lahir dari orang yang tak menggilai bola. Aku pernah bilang padanya bahwa yang dibutuhkan Papua adalah sekolah bola.

Aku pernah berkhayal bila diberi uang yang tak terbatas digitnya. Selain impianku mempunyai kids learning centre, sekolah berbasis lingkungan hidup dan alam, perusahaan daur ulang, perpustakaan anak, perusahaan daur ulang serta pusat pelayanan konsultasi masalah perempuan dan pemberdayaan perempuan, aku ingin punya sekolah bola berbasis jejaring relawan. Anggap saja aku pemimpi tapi toh karena ini satu – satunya hal yang bisa kulakukan saat ini.Lagipula mengutip kata – kata temanku Nia, “sante saja, pak polisi dong tra akan tilang sa karena perasaan ini mo”. Maka aku memutuskan untuk bermimpi. Untung – untung ada orang lain yang mau ikutan bermimpi bersamaku karena toh aku tak punya cukup uang untuk mewujudkan impian ini karena memang aku awam di bidang ini.

Aku bermimpi sekolah bola ini bukanlah sebuah sekolah formal seperti yang ada di pelatnas tetapi lebih berbentuk sebuah jejaring relawan di tiap kabupaten dan terbagi lagi menjadi unit – unit terkecil di beberapa bagian kota. Targetnya tentu saja bukan para remaja tetapi anak – anak SD.

Aku bermimpi anak – anak SD yang direkrut adalah anak – anak dengan minimal usia kelas 3 – 6 SD dan mereka diutamakan dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Aku bermimpi anak - anak ini dibuatkan sebuah sistem pembauran dimana aku tak melihat mereka dari warna kulit dan jenis rambut mereka, terlepas apakah ia orang gunung atau orang pante. Aku bermimpi pengumuman keikutsertaan ini dibagikan di tiap kompleks perumahan dan tersedia kelas – kelas relawan pengajar teknik – teknik dasar bermain sepak bola. Bahkan aku bermimpi, jejaring ini bisa mengundang para mantan pemain sepak bola ataupun pelatih – pelatih di tanah Papua untuk berpartisipasi.

Aku bermimpi jejaring ini saat membuka pendaftaran, aku akan merekrut beberapa ahli di bidang ini minimal 3 orang untuk menyeleksi para calon peserta program ini dan tentu saja lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas. Aku juga bermimpi ada relawan di bidang kesehatan, pendidikan, psikolog anak, dan ahli manajemen keuangan. Jadi tiap 6 bulan sekali akan ada pembukaan pendaftaran dan tiap kali pendaftaran hanya menerima 24 orang anak. Anak – anak khususnya yang berusia SD yang direkrut ini akan diberikan latihan 3 kali seminggu dengan waktu 3 jam latihan. Disewakan lapangan bola dan ruang peralatan dan disediakan peralatan dan perlengkapan a la pemain bola. Mulai dari sepatu, kaos, hingga deker dan juga makanan bergizi sebelum dan sesudah latihan. Aku tak ingin mereka kehilangan masa kanak – kanak mereka juga oleh sebab itu aku ingin selama 3 bulan pertama, mereka lebih diberikan tentang dasar – dasar dan teknik bermain bola dan kemantapan fisik. Maksudku agar mereka masih tetap bisa bersosialisasi di luar acara bermain bola dan tetap menjadi kanak – kanak.

Selain itu, tiap 2 minggu sekali diberikan 1 sesi pelatihan dasar bahasa Inggris khususnya yang berkaitan langsung dengan dunia sepak bola dan kemampuan berbicara di depan publik. Seiring dengan waktu mereka bergabung, selain materi permainan sepak bola, aku ingin diselipi dengan pendidikan manajemen berkaitan dengan manajemen waktu, manajemen emosi dan manajemen keuangan. Aku melihat ini sebagai investasi modal di masa depan saat mereka sudah memastikan diri ingin menjadi pemain bola yang bukan sekedar ingin bermain tapi memang ingin menjadikan ini sebagai profesi hidup karena mereka mencintai bidang ini. Menjadikan hobi sebagai profesi!

Tentu saja karena sekolah bola ini berbasis jejaring relawan dan bukan sekolah formal, aku tak mengharapkan terlalu tinggi dari hasil mereka. Setidaknya, usai setahun di program ini, saat mereka berkeinginan untuk keluar, mereka boleh keluar, tapi bila mereka ingin tetap bergabung, maka aku bermimpi mereka akan menjadi semacam mentor – mentor kecil bagi junior mereka yang masuk ke program ini. Satu hal yang kuinginkan sebenarnya adalah mereka, para bocah ini, mempunyai kesempatan belajar teknik – teknik permainan sepakbola dan dapat mengaplikasikannya kala besar kelak. Selain itu, aku berharap sedari kecil, mereka diberi pemahaman bahwa bermain bola bukan sekedar bermain dan menjadi juara tetapi ada banyak falsafah yang wajib mereka junjung antara lain sportivitas, manajemen emosi khususnya menghasilkan yang terbaik di bawah tekanan, menghargai rekan setim sebagai bagian dari diri sendiri dan lawan tim sebagai pihak yang menjadi faktor untuk maju dan tentu saja permainan ini sebagai ajang berolahraga.

Aku percaya bila sedari kecil para bocah ini dilatih dengan teknik yang benar dan diberi semangat dan kepercayaan yang tinggi, kelak saat besar, dan saat mereka mantap memilih karir di bidang ini, mereka akan menjadi duta – duta orang Papua, para diplomat olahraga yang tak hanya piawai menendang bola tetapi mampu berkomunikasi dan membawa diri serta mengelola diri mereka dan dapat melanglang buana dari satu lapangan bola antar benua, yang dapat menunjukan esensi menjadi orang Papua yang terlahir dengan bakat alami dalam olahraga dan seni, yang mampu memakai talenta itu dengan bertanggungjawab dan bukan untuk dipamerkan sebagai ajang mencari nama.

Aku juga bermimpi, bila program ini bisa berlangsung selama minimal 1 tahun, aku ingin para peserta ini dibuatkan semacam pertandingan resmi antara angkatan yang masuk di semester Ganjil dan Genap dan diakhiri dengan piknik bersama ^_^ Selain itu, aku bermimpi program ini tentu saja banyak memberikan reward/hadiah bagi yang berpotensi. Mulai dari tiket bermain di zona anak di kotaku, voucher belanja buku teks anak SD, voucher pembelian baju anak di toko pakaian ataupun voucher – voucher kecil seperti minuman ringan, paket mancing di tempat pemancingan ataupun mainan anak. Selain itu, aku ingin ada reward tiap bulan bagi yang berprestasi.

Aku juga memimpikan bila usai 6 bulan latihan, akan ada acara perayaan kelulusan berupa sebuah open house bagi masyarakat umum. Tentu saja ini menjadi ajang bagi orang tua diundang dan melihat bagaimana laporan tentang anak – anak mereka di program ini dan aku berharap acaranya bukan sebuah perayaan pembagian rapor tetapi berupa sejenis pameran foto, acara nonton bersama dan tentu saja, para anak berbagi kisah berupa kemampuan mereka berbicara di depan publik.

Aku percaya ini hanya sebuah titik awal dari langkah – langkah jejaring ini tapi aku percaya bila sedari kecil mereka telah dibentuk dan disiapkan, maka kelak kala mereka besar dan mantap ingin berkarir di bidang ini, tak akan ada satupun penghalang yang menahan mereka khususnya kendala berbahasa asing dan ‘menjual spesifikasi diri’. Karena aku tahu bahwa anak – anak Papua itu terlahir dengan sepatu bola kasat mata yang hanya perlu diasah dan mereka hanya perlu diyakinkan bahwa terlepas mereka orang pante ataupun orang gunung, berambut keriting kecil ataupun ikal, mereka terlahir dengan nama babtis lain; pemain bola.

Panggil saja aku pemimpi. Bagaimana dengan anda?

(Canberra, 6 Mei 2010; memikirkan keponakan perempuanku yang sangat suka bermain bola)