Search This Blog

Loading...

Wednesday, 14 April 2010

Tukang Mimpi: Voluntourism

Sambil melihat tumpukan buku teks tentang isu Papua demi presentasi (dan yang akan disusul dengan esai) dalam mata kuliah “Indonesia: Politics, Society, and Development” dan tak lupa memandang beberapa gambar bertemakan Papua yang tersusun rapat dalam mozaik foto di lemari, aku tiba – tiba teringat tentang poster ajakan liburan di musim dingin mendatang. Bukan tempat ataupun tujuannya yang membuatku terpesona dan senang tetapi karena jenis kegiatan wisatanya. Poster itu berisikan ajakan berlibur sambil melakukan sesuatu bagi komunitas di tempat tujuan wisata. Sebuah jenis kegiatan yang sudah kutekuni dan kunikmati selama hampir 12 tahun terakhir ini, sesuatu bernama “Voluntourism”. Tentu saja hal ini sangat beda tipis dengan yang namanya “Volunteerism” karena bedanya ya di Voluntourism tetap ada unsur bersenang – senang.

Voluntourism bila dilihat dari pengertiannya a la Wikipedia sih sebagai sebuah perjalanan yang melibatkan kegiatan relawan demi sebuah kegiatan sosial dan amal. Pengertianku sih, jalan – jalan sambil melakukan sesuatu. Aku melihat akhir – akhir ini di brosur – brosur wisata yang ditawarkan, hal ini mulai merebak. Tapi tentu saja masih kalah jauh dengan ecotourism dan jenis jegiatan perjalanan lainnya. Tentu saja karena masih baru, masih ada beberapa kontroversi tentang kegiatan ini karena ditengarai kadang dapat membuat masalah baru di tempat tujuan ^___^, tapi dalam hal ini aku mau melihatnya sebagai sesuatu yang fun dan berguna.

Aku mungkin pemimpi tapi toh seperti mensintesa kata – katanya Nia Romantika, bahwa untuk urusan seperti ini “Pak Polisi dong tra akan tilang sa juga mo” jadi sa memutuskan untuk bermimpi seperti saat ini ^__^

Aku bermimpi, suatu hari nanti, entah tahun depan, entah 10 tahun lagi, entah 50 tahun lagi, di kotaku dan di tanah Papua, selain kegiatan bertema ecotourism yang dikembangkan, akan ada kegiatan voluntourism. Aku bermimpi para peserta kegiatan ini bukan hanya dari luar negeri tetapi juga berskala nasional dan juga lokal dari tanah Papua. Saat ini bila aku hendak menempatkannya dalam konsep a la Manokwari, bagiku sah – sah saja, toh aku anak Manokwari yang paham dan melihat bagaimana kotaku. Mungkin catatan ini kedengaran aneh, tapi aku percaya, dengan voluntourism, kota Manokwari akan baik – baik saja.

Mimpiku kali ini ingin kubagi dalam dua sektor; pendidikan dan lingkungan hidup. Mungkin kedengaran aneh, tapi toh, ini kan hanya sebuah upaya pendokumentasian mimpi dibanding hanya beterbangan di otakku yang penuh dengan sel – sel kelabu otak. Anggap saja sebuah mimpi. Masalah kapan dan bagaimana akan diwujudkan, itu urusan belakang bagiku, yang penting kuutarakan dulu. Pelaksanaannya itu tentu saja butuh sebuah proses yang namanya “kenyataan”.

Aku membayangkan dalam program voluntourism lingkungan hidup, aku akan membaginya dalam beberapa spot tempat objek yang akan didatangi. Aku akan mengajukan pasar Wosi dan pantainya, pantai pasir putih, Pantai pulau Lemon dan Pantai Mansinam, serta tentu saja areal Kali konto hingga pantai pasar Ikan dan tentu saja derah Jembatan Sahara hingga Fanindi Pantai dan daerah Belakang Borobudur – Borarsi. Aku membayangkan para peserta yang dibagi perkelompok dari 3 - 5 orang, akan dikenalkan tentang karakter tempat itu dan masyarakatnya, diberi pengarahan tentang hal – hal apa saja yang akan ditemui, resiko – resiko yang akan ditemui hingga hal – hal menarik apa saja yang akan ditemukan. Aku membayangkan para anak – anak dari daerah lain ataupun dari luar negeri akan menjerit terkejut melihat aktivitas babi – babi yang tak dikandangkan sibuk berjalan mondar – mandir di pasar Wosi ataupun terkaget – kaget melihat rumah – rumah berlabuh a la Borobudur di kelurahan Padarni itu. Aku juga membayangkan, para peserta bisa menikmati snorkelling di pantai kedua pulau Manokwari sambil tak lupa melakukan duck dive sambil mengangkat sampah plastik dan botol ataupun kaleng yang terhimpit di sela – sela karang dan mengumpulkannya di pinggiran pantai guna dievakuasi dengan perahu Johnson (longboat) milik pelaksana kegiatan. Usai itu, akan ada acara bakar – bakar ikan dan pesta kecil – kecilan di pinggir pantai. Tentu saja kegiatan ini bisa dikolaborasikan dengan peserta yang berniat memberikan kursus singkat bahasa Inggris ataupun membaca tulis bagi anak – anak kecil dan masyarakat pulau. Bagiku, acara 1 – 2 jam bicara dan berbagi apa yang mereka punya di daerah asal mereka, dapat menjadi sebuah proses belajar. Tentu saja semua kegiatan ini akan difasilitasi dan bekerjasama dengan pihak – pihak terkait, misalnya saja LSM atau pihak pemerintah terkait.

Aku membayangkan kegiatan bertemakan lingkungan hidup ini bukan hanya sekedar mengumpulkan sampah, tetapi juga peremajaan lingkungan. Misalnya saja di pinggiran kali dan daerah rawa, para peserta membantu penanaman misalnya saja pohon bakau. Selain itu juga tentu saja di akhir program, para peserta akan digiring ke sebuah bengkel daur ulang yang disiapkan pelaksana program. Di sana, para peserta diminta menciptakan sesuatu dari sampah – sampah dan beberapa elemen alam yang didapatkan selama proses di lapangan dan tentu saja akan diberikan hadiah sebuah kenang – kenangan bertema Manokwari.

Aku membayangkan kala para peserta diajak meniti jembatan – jembatan kayu di belakang Borobudur ataupun Kelapa Lima, diajak melihat bagaimana komunitas hidup, kondisi pantai, melihat kehidupan dari kacamata yang lain. Aku membayangkan para peserta yang terbiasa dengan kenyamanan, khususnya para remaja dari kota besar, terpapar dengan rumah – rumah yang rapat dan jalan – jalan kecil dan daerah slum perkotaan misalnya saja daerah belakang Berdikari, Arkuki, Wirsi dan kelurahan Padarni.

Aku percaya bila banyak orang yang mau menyumbangkan walau 1 – 2 jam saja dari kegiatan kunjungan mereka, tentu sangat berkontribusi bagi masyarakat. Tentu saja paket ini tak melupakan aspek bersenang – senang dari kunjungan di Manokwari. Toh Manokwari dalam hal lingkungan banyak punya tempat wisata yang bagiku, trada yang blok ^__^. Malah aku punya ide tentang salah satu bentuk petualangan di voluntourims sektor lingkungan adalah menjelajahi kali. Terserah mulai dari yang arah Jembatan Sahara naik ke arah Kali Fanindi ataupun yang dari Belakang toko Bandang hingga ke kepala air di daerah Fanindi yang tembus ke Manggoapi ataukah kali – kali kecil lainnya. Tentu saja program – program ini untuk menantang para peserta yang bersedia keluar dari zona nyaman mereka ^__^

Dalam hal pendidikan, aku bermimpi kegiatan ini dikolaborasikan dengan LSM pendidikan ataupun sanggar – sanggar baca. Kalau pesertanya dari luar negeri dan berbahasa Inggris, maka aku bermimpi, mereka akan dilibatkan dalam kegiatan dimana mereka dilibatkan sebagai tamu penutur asli dan tentu saja aku inginnya kegiatan ini bisa berupa acara field trip di lapangan, misalnya saja ke lapangan bola terdekat dan mengajak penutur asli mengidentifikasikan benda – benda di sekeliling tempat itu. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan dan semoga acaranya akan diakhiri dengan bermain bola ^___^ Bila mereka dari Indonesia ataupun daerah di Tanah Papua, maka akan dilibatkan dalam acara membaca cerita dan bila mereka berminat, akan dilibatkan dalam pembuatan skid alias drama singkat bersama anak – anak.

Aku juga bermimpi, acara jalan – jalan ini akan diisi dengan kunjungan ke industri rumahan yang ada di Manokwari, tentu saja pelaksana program telah membayar royalty bagi industri ini untuk mengijinkan kami mengintip kerja mereka. Aku bahkan sudah memasukan beberapa industri yang aku tahu, misalnya saja pabrik tahu – tempe di wosi, kerajinan Kerang khas a la Manokwari di daerah Kota dan juga beberapa sanggar seni. Selain itu, aku bermimpi, para peserta tak lupa akan dikenalkan dengan cara belanja a la Manokwari, bagaimana menyusuri pasar Sanggeng, Wosi dan pasar ikan. Bahkan aku punya ide gila, bahwa kami akan menyewa dan memberi kompensasi kepada beberapa mama – mama penjual sayur di pasar Sanggeng bila sore hari, kala keramaian memadati pasar dan menantang peserta untuk duduk berjualan a la mama – mama. Tantangan 30 menit – 1 jam itu bagiku pasti akan dilakukan oleh peserta – peserta yang berani.

Aku bermimpi bahwa kedua sektor pendidikan dan lingkungan tak berdiri sebagai hal yang terpisahkan tetapi saling berkolaborasi. Aku bermimpi bahwa tiap habis kegiatan, maka para peserta akan berkontribusi dalam penanaman pohon, baik pohon tahunan maupun pohon jangka pendek seperti pepaya dan lain – lain.

Tentu saja tak menutup kemungkinan bahwa di akhir program, akan ada peserta yang tertarik untuk ikut menyumbang dalam program sosial yang diprakarsai usaha perjalanan wisata yang mengusung program, Voluntourism “1 pensil dan 1 buku” dan “Bantu-cetak-buku” alias menyumbangkan peralatan tulis menulis bagi murid – murid SD tak mampu yang masuk dalam program sosial serta membantu seharga 1 cartridge tinta pencetak buku cetak gratis e-book dari Depdiknas ataupun program “Sapu-kaos-kaki” untuk menyumbang seharga 1 kaos kaki sekolah.

Sepertinya kelas mimpiku hari ini harus kututup. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, entah 5, 10 ataupun 50 tahun lagi, aku percaya akan ada Voluntourism di Manokwari dan Tanah Papua.

Anggap saja aku pemimpi!!!

(Campbell, 14 April 2010; kala sedang berusaha mengapung dan tak tenggelam di lautan tugas)

Sunday, 11 April 2010

The bottom line is ...

The bottom line is I love you and you’re the home that I had longer for …

Wwkwkwkwkwkwkkw

Kenapa juga lagi rasa aneh nih gara2 nonton “Couples retreat ^__^”

Learn a lot dari film nih, tentang komitmen, tentang masalah, tentang hubungan.

Tapi kok efeknya malah sa lagi rasa jatuh cinta karena ini ..

Dasar film Hollywood seh, bikin tong jatuh cinta ka hormon jatuh cinta nih kumat ka wkwwkkkkwkwk

Intinya … It’s not about you or me, but it’s about us.

The bottom line is “ I love You” seperti di akhir film 


(Canberra, 11 April 2010)

Friday, 9 April 2010

Curhat talapas: Need You

Malam ini sa berada dalam titik kulminasi tekanan tugas dan hampir saja berpikiran dan memang sempat dihinggapi pemikiran kalo “neh ko kuliah cape – cape buat, mati saja, bunuh diri kan lebih gampang tooo, tra perlu repot, ko kan bisa pake cara yang gampang, minum apa ka, tinggal tidur saja too dll”. Kenapa juga lambat sadar bahwa barang itu su dari tadi ada di otak dan bikin sa nangka sekali.

Malam ini sempat berpikir apa sa yang terlalu memaksakan diri untuk kuliah lagi demi sapu impian semasa kecil, demi pengakuan dari orang lain, demi hal – hal lain, demi bajalan gratis dan lain – lain? Apa sa ini su masuk yang sa pu teman Ancilla Irwan bilang “intellectual masochist” alias orang yang mendapat kepuasan dengan cara mendapatkan kepuasan dengan ‘menyiksa diri’ dengan belajar dan terus belajar. Entahlah …

Yang sa tahu malam ini sa macam mo lari ke pantai Pasir Putih (kalo akan ada sini) atau balapan deng motor sampe gas plaat sambil batariak – batariak sampe tenggorokan kering dan lain – lain. Benar – benar tertekan.

Tapi sa tetap tahu yang sa butuhkan cuma suara dari sapu keluarga khususnya papa dan keponakan – keponakan kecil. Sa tahu yang sa butuhkan cuma doa dan menyanyi lagu rohani. Sa tahu yang sa butuhkan cuma menangis sampe puas – puas dan curhat sampe ingus maleleh – maleleh dan lain – lain. Malam ini sa benar – benar dalam titik dimana sa homesick dan rindu rumah sekali … benar rindu suasana Fanindi dan Manokwari. Benar – benar rindu untuk pulang. Sa semakin sadar dimana sapu hati berada, bahwa sa memang su tra bisa resist yang namanya perasaan ingin pulang. Mungkin sudah saatnya menghentikan akhir perjalanan dan kembali ke rumah.

Di paragraf ini, sa mulai berada pada titik sa agak tenang, apalagi sambil menyantap sepiring jagung manis yang dimasukan ke microwave. Sa benar – benar merasa bahwa sa sedang menyiksa diri, sedang tidak jadi Maya yang sebenarnya, sedang merasa bahwa sa sedang menggadaikan sapu kesehatan demi sesuatu yang sa cintai. Apakah memang untuk sesuatu yang tong cintai, harus selalu berakhir dengan pengorbanan dan mencintai hingga terluka seperti ini ka? Apakah tong tra bisa berada pada titik dimana “OK, its enough, I quit.” Jujur malam ini sa benar – benar rindu sapu rumah dan keponakan – keponakan dan sapu bapa sekali.

Mungkin sa terlalu lebay ka berlebihan deng sapu status di Facebook dan lain – lain, tapi malam ini sa benar – benar macam su tra tahan dan berada pada titik dimana sa mo bilang sama Tuhan, “ajar sa untuk bisa mengucap syukur kapan saja dan dimana saja termasuk saat ini. Ajar sa untuk bisa belajar bahwa untuk mencintai memang butuh pengorbanan. Bahwa Tuhan ijinkan hal ini terjadi karena Tuhan tahu sa cinta barang ini dll”

Malam ini sa juga berada pada titik dimana sa bilang sama diri sendiri, kalo sa BUTUH seseorang yang bisa jadi sapu tempat curhat, yang bisa bikin sapu batin sedikit tenang kala begini tapi sa tahu sa tra akan pernah mau orang itu jadi sapu tempat curhat dan cuma jadi sapu pelarian dari masalah – masalah. Sa ingin bilang sama Yesus kalo sa su tra kuat sekali, su jenuh dan berada pada titik kulminasi, tapi sa tahu kalo sa akan jadi makhluk yang sangat egois kalo sampe sa menyerah lagi saat ini, ini pertempuran terakhir yang wajib sa buat saat ini.

Hal hal seperti ini juga bikin sa berpikir untuk bisa punya dan atau bisa sumbang ide ka dan bermimpi bahwa satu hari di Papua akan ada sebuah Women’s centre yang tawarkan jasa konsultasi online dan curhat yang ada relawan yang kerja angkat telepon dan terima telpon curhat para perempuan seperti sa yang tiba- tiba di malam hari merasa sa pada titik dimana sa tra mampu, yang bisa jadi tempat cerita dan beri sa kekuatan, yang bisa kasi tambahan ekstra tenaga atau sekedar menjadi teman cerita. Ingin sekali dan rindu dan percaya bahwa satu hari akan ada di sana, di sebuah tempat bernama Papua, sebuah pusat layanan relawan berbentuk Women’s centre.

Malam ini sempat berpikir juga, apa memang semua beban harus sa pikul sendiri ka atau memang sudah saatnya sa membuka hati bagi makhluk manis bernama lelaki untuk menjadi dan mengisi ruang yang kosong di hati ini. Tentu saja bukan sebagai tempat sampah yang hanya saya perlukan kala emosi di dada terasa sesak dan kondisi emosi sedang tak labil. Tapi lebih dari itu menjadi seseorang yang percaya dan mendukung mimpi – mimpi saya yang kedengaran gila dan aneh. Lelaki yang bisa menjadi panutan dan seseorang yang saya kagumi, yang mo diajak nikah dengan acara yang sederhana dengan format seperti apa yang sa inginkan dan kegilaan lainnya. Untuk lelaki seperti itu, saya rela menunggu biar berapa tahunpun karena sa percaya hidup cuma sekali dan sa hanya mau bikin komitmen sekali.

Mungkin pada titik ini sa terasa seperti orang yang kehilangan harapan, kesepian dan entahlah … mengasihani diri sendiri. Tapi that’s the real me. Sapu diri yang sebenarnya. Sa tra harus pake topeng dan bilang sa lagi senang kala sa memang lagi tra senang. Sa berada pada titik jenuh tapi sa percaya ini hanya sebuah fase dalam sapu hidup dan sa memutuskan untuk tra lari dari sapu masalah walau sa memang akui sa butuh waktu lebih untuk selesaikan akan. Yang pasti, sa percaya ini sapu diri sendiri dan sa tra perlu bikin orang lain terkesan deng sa.

Sa memutuskan untuk tidur barang sejenak. Karena bagaimanapun sapu tubuh perlu istirahat.

Thanx Jesus untuk kesempatan ini, untuk kesempatan dimana sapu kemampuan ditantang dan sa percaya deng Ko, sa bisa jalani sa pu hidup. Keadaan seperti ini semakin menguatkan sa bahwa sa memang sangat benar – benar butuh ko dan memang tanpa Ko sa pasti su tewas sejak lama. Miss u sangat, Jesus. Kuatkan san eh. Sa lemah sekali tapi sa percaya sama Ko, sa pasti kuat. Amen

(Subuh di Canberra, 9 April 2010)

Thursday, 8 April 2010

Matoa dan Transaksi Loyang (salinan)

Tulisan ini kebetulan sa lihat dari tulisan seorang teman di Facebook, ibu Luna Vidya dari Makassar yang kebetulan menghabiskan masa kecilnya di Jayapura. Tulisan ini bikin sa mendapatkan banyak hal baru dan bagi sa pribadi, sangat layak untuk sa bagi di blog ini.

Catatan ini tra sa edit dan su dapatkan ijin dari ibu yang menulis catatan ini.

Salam hangat,

D. Meimosaki

==============================

Matoa dan Transaksi Loyang
Oleh Luna Vidya

Friday, March 26, 2010 at 7:01pm

Di lingkungan tempat tinggal saya jalan Toddopuli, Makassar, di rumah ujung jalan halamannya tumbuh pohon matoa. Rumah itu sudah lama kosong. Pemiliknya pindah ke kota lain waktu kami pindah ke lingkungan itu. Daunnya yang khas,mirip-mirip daun Kakao langsung memperkenalkan diri rasanya waktu pertama kali saya melihat kehadirannya (setelah beberapa minggu tinggal di sana): "hai!, saya matoa."

saya lalu memperkenalkannya kepada anak-anak saya: "ini pohon matoa."

Daging buahnya seperti rambutan. Juga sebesar rambutan. Tapi Matoa gundul. Kulitnya lebih tebal, warnanya hijau- coklat kemerahan. Lebih mirip klengkeng soal penampilan botaknya. Ada yang kering, seperti rambutan Rapia, ngelotok. Jenis seperti itu biasanya disebut Matoa kelapa. Ada yang lebih berair. Lalu dengan antusias saya dan anak-anak menunggu bersama musim berbuahnya. Matoa hanya berbuah setahun sekali.

"Menunggu musim buah pohon tetangga, bukan contoh yang baik." kata suamiku. "tapi ini matoa!", saya dan anak-anak sepakat. ngotot.

Waktu musim berbuah akhirnya datang, kami sering datang ke ujung jalan. mengawasinya dari luar pagar. Begitu sering kami ‘memantau’ sampai-sampai tukang-tukang becak yang mangkal di ujung jalan itu, akhirnya tertular pengetahuan tentang Matoa. Bahwa buah pohon itu bisa dimakan. Bahwa pohon itu datang dari Irian, -ketika percakapan kami terjadi, Papua masih di sebut Irian Jaya.
Kumpulan tukang becak itu juga yang mengkonfirmasi dugaan saya, bahwa pohon Matoa itu, dengan sengaja dibawa dan ditanam di sana. “Ooooo, iyo tawwa.. ini bapak lama memang tugas di Irian.”

Musim Matoa tiba, tapi buah yang menjadi tua dan berserakan di dalam halaman tidak pernah bisa kami cicipi. Rumah itu tidak pernah berpenghuni. Saya tidak pernah punya kesempatan, menyambangi tetangga di ujung jalan demi buah matoa. Buah Matoa yang gugur membusuk begitu saja. Sedang ranting yang menjulur keluar halaman, sudah dipanen oleh tukang-tukang becak itu.
Enam musim matoa berlalu, saya tidak pernah kebagian buah jatuh pohon matoa di ujung jalan. Karena setelah musim pertama tiba, kumpulan tukang becak itu tentu lebih mampu memanen tangkai buah masak. “Memang enak ki bu!” beberapa dari mereka berbaik memberitahu, ketika saya kebetulan lewat, dan kepergok memandangi pohon itu.

Pohon matoa ditebang, ketika rumah itu beralih pemilik. Kelihatannya pohon matoa tidak mengakomodir rancang bangun rumah sang pemilik baru. Tempat pohon itu tumbuh dulu, sekarang jadi pelataran beton. Rumah itu tidak menyimpan pohon apapun sekarang. Dulu selain Matoa ada dua pohon mangga. Mungkin pertimbangan estetis disain tumah itu, tidak memperhitungkan halaman dengan beberapa pohon di dalamnya. Jadi pohon harus ditebang.

Pohon Matoa di ujung jalan itu, muncul dalam ingatan saya ketika menemukan postingan foto kawan saya, dengan keterangan: “ULANG TAHUN KOTA JAYAPURA yg ke 50, Gouverneur Plattel plan een MATOA BOOM op het plain voor de HERDEN KINGS MUUR.. (terjemahanannya kira-kira..Gubernur Plattel menanam pohon Matoa di pelataran depan Tembok Herden Kings (Taman Imbi). lalu teman saya menambahkan: " Sayangnya pohon matoa dan tugu Hollandia 50 Jar yg ada di Taman IMBI ini ditebang dan di bongkar kemudian di ganti dengan Patung Mas Yos soedarso.......”

Postingan foto kawan saya itu, menunjukkan pilihan sebuah pemerintahan, yang mewakili kebijakan, kekuasaan, dan kemampuan berbuat lain untuk sebuah kota. Ketika dihadapkan pada sebuah tawaran, pada suatu masa, pemerintah memilih untuk menyingkirkan sebuah pohon matoa sebagai icon kota, menggantikannya dengan sebuah tugu. Itu diikuti oleh keharusan menggantikan kerindangan dengan lantai semen. Rangkaian tindakan ini terlihat sebagai sesuatu yang terelakan.

Beton, gedung tinggi, ruko begitu identik dengan kemajuan, pembangunan. Tapi benarkah begitu? Benarkah semakin luas wilayah pembetonan, pembersihan lahan dari pohonan, semakin dekat kita dengan julukan ‘maju’? 'berkembang'? 'developed'?

Betapa berbeda pilihan itu dengan kebijakan pembagunan berwawasan hijau yang saya lihat di Singapore sebagai pelancong. Tidak jauh, kota itu. Ah, maaf. Negara. Tidak jauh negara itu. Hanya 2 jam terbang dari Makassar, 3 jam kalau singgah di Jakarta.
Dalam perjalanan ke hotel, terkagum-kagum dengan kehijauan kota, di salah satu setopan lampu merah, di sisi kiri jalan sedang berlangsung pekerjaan konstruksi. Dari keterangan sopir taxi kami yang sejak decak kagum pertama saya selepas airport, dengan bangga mempromosikan kebersihan kotanya, saya tahu gedung yang sedang dibangun itu untuk menggantikan gedung tua sebelumnya. gedung yang sudah tidak aman lagi untuk dihuni. Dari jendela taksi saya meihat sebuah pohon besar yang rimbun menyembul dari balik pembatas seng lokasi pembangunan. “ sayang ya, pohon sebesar itu harus ditebang.” Saya berkomentar. Bergumam lebih tepat. Jadi pasti sopir itu tidak menduga bahwa keterangan pelengkap yang ditambahkannya kemudian justru adalah hal yang paling terekam dalam benak. “They have to do the construction without cutting off that tree.” Hah?

Where am I?

Saya tahu di Belanda ada program perawatan pohon, yang pake dokter segala. Gedung ABN AMRO Denhag, dibangun di sekitar sebatang pohon. Cerita teman seorang teman saya. Tapi mentalitas orang jajahan di dalam saya, memakluminya sebagai: “itu di Belanda.” Di tempat dari mana saya datang: lahan sawah diubah jadi realestate. Meninggalkan kegamangan pada para bekas petani. Pohon-pohon ditebang dengan alasan perluasan jalan, atas nama pembangunan.

Membangun dan menyesuaikan diri dengan pohon? Becanda lu!

Tapi itu bukan guyonan. Tidak boleh menebang pohon. Pembangunan dikerjakan dengan menyesuaikan diri dengan pohon. Harus. Ada undang-undangnya.

Lalu dari jendela hotel, saya melihat gedung-gedung berseberangan memiliki teras-teras hijau, green canopy. Bukan sekedar tanaman dalam pot. Tapi benar-benar menanam pohon. Pohon tua dari halaman gedung tua itu wajib terpelihara. Jika tidak punya pohon, maka anda diwajibkan menciptakan teduhan hijau, tidak perduli berapa lantai gedung yang sedang anda bangun. Lagi-lagi: ada undang-undangnya.

Saya sungguh sulit menelan kenyataan, bahwa saya masih di Asia. Hanya 3 jam jauhnya dari kota tempat saya tinggal. Ini bukan Eropa. Begitu dekat. Begitu jauh pilihan kebijakan pemerintahan kota kami. Betapa nelangsa.

Ketika menemukan postingan foto kawan SMP saya tentang perayaan 50 tahun kota Jayapura, ingatan tentang membangun di sekitar pohon di Singapore itu kembali lagi.

Jadi mereka menanam pohon. Pohon Matoa. Bukan Beringin, bukan pohon import lain yang sedang jadi mode sehingga perlu ditelaah lagi apakah pilihan pohon itu sudah tepat. Yang ditanam di hari ulang tahun ke 50 itu, sesuatu yang khas. Rasanya pilihan itu begitu brilian. Untuk memperingati hari ulang tahun kota, baiklah kita menanam sesuatu yang berasal dari tanah sendiri, sesuatu yang khas. menanam icon. Karena pohon tumbuh, hidup. Karena kalau tumbuh bisa besar. Begitu modern. Apa yang kurang, ada nilai keberlanjutan. Begitu Avatar*. Tapi seperti keterangan foto teman saya, pohon itu ditebang kemudian.

Dan apa yang dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke 100 kota? Salah satu acaranya: lomba gerak jalan. Akibatnya: seorang sahabat yang terjebak macet,karena lomba gerak jalan itu lewat telpon mengeluhkan jalan-jalan yang kecil di Jayapura, dengan volume kendaraan yang terasa melebihi kapasitas. Perlu jalan baru? Hm, memang kelihatan tak terelakan untuk memperluas wilayah beton dan aspal untuk mengakomodir kemajuan.

Saya sendiri tidak pernah melihat ada pohon Matoa di Taman Imbi. Rekaman gambar tentang taman Imbi di masa kecil saya: patung Yos Sudarso, menghadap ke gedung DPR, bangku-bangku beton dan tersebar di beberapa bagian taman, pohon-pohon palem di sisi dekat gedung Sarinah, sebuah kolam air mancur yang sudah lama tak lagi mancur airnya, lampu-lampu taman yang bulat di sisi setapak beton. Ada pelataran panggung beton rendah di bagian depan patung. Tempat banyak kegiatan lomba kesenian diadakan. Ruang publik yang kumuh, kesan saya ketika kemudian sempat pulang ke Jayapura. Artinya, pohon itu telah ditebang sebelum saya cukup besar untuk mengingat. Saya bahkan tak ngeh soal Herden Kings Muur (Tembok Herden Kings) yang kelihatannya justru adalah elemen penting taman itu. Ya ada tembok di kaki patung itu.

Membayangkan Taman Imbi dengan Pohon Matoa, dengan patung seorang pahlawan bersama-sama, saya bertanya-tanya. Kenapa pembangunan - sebusuk apapun bau yang dipikulnya dari sejarah- di negeri ini, identik dengan menyingkirkan? Kenapa tidak bisa berbagi? Membagi Taman Imbi antara Pohon Matoa dengan patung Yos Sudarso, misalnya. Patung itu tidak harus berada di pusat taman bukan? Bisa saja didirikan di salah satu sudut taman bukan? Apakah karena patung lebih mewakili kemajuan? Apakah karena patung itu lebih mewakili keindonesiaan yang satu? Bahwa ada patung seorang ‘mas’ di ‘alun-alun’ kota Jayapura –seperti yang disebut teman saya itu?

Ketika saat-saat ini Jayapura sedang merayakan ulang tahun ke 100nya, patung itu terus dipertahankan, renovasi Taman Imbi yang direncanakan akan dikerjakan di sekitar patung itu. Apakah pertimbangan ini, dibuat karena merubuhkan patung ongkosnya lebih mahal dari menebang pohon? Apakah karena merubuhkan patung yang notabene seorang pahlawan, akan menimbulkan ketersinggungan yang berdampak politis? Meskipun patung itu –setelah berpuluh-puluh tahun hadir, gagal menjadi icon kota? Tidak seperti patung Marta Tiahahu bagi kota Ambon, misalnya?

Tapi setidaknya, patung itu lebih ramah lingkungan, dari pada pohon-pohon nyiur di Waisai. Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat menghiasi jalan utamanya dengan nyiur oranye, kuning dan hijau. Pohon nyiur plastik hiasan dalam mall di Jakarta. Pohon plastik berwarna jreng, di tengah-tengah jalan mulus yang membelah kota. Kota yang dibuka dengan menebas hutan lindung.

Buah-buah matoa yang berserakan di halaman tetangga itu terbayang lagi, ketika melihat lagi foto postingan kawan saya. Pun teringat pada loyang-loyang kaleng penuh matoa yang diletakkan di pinggir jalan sepanjang jalan Sentani-Jayapura, ketika musimnya tiba. Musim Matoa. Loyang yang ditinggalkan tanpa dijaga. Ambillah isi loyang, tinggalkan saja uangnya, di dalam loyang. Himpit dengan batu, supaya tidak diterbangkan angin.

Ketika sempat ke Jayapura February lalu, saya merasa terasing di tempat yang saya rindukan sebagai rumah. Meski usia dan semua yang saya miliki sekarang dimulai dari sini. Di tanah ini, tempat ari-ari saya ditanam. Saya tidak yakin kepercayaan mutualisme dalam transaksi loyang kaleng seperti itu masih ada. Tidak sekarang, ketika untuk memotret dengan maksud menyimpan kenangan masa kecil saya harus membayar.

Transaksi loyang kaleng itu, mewakili kepercayaan. Kepercayaan bahwa masing-masing kita punya harga diri. Harga diri kita ditentukan dari apakah kita meninggalkan uang yang pantas, untuk menggantikan satu loyang matoa, setandan pisang, setumbuk petatas, kasbi atau keladi yang ditinggalkan tanpa penjaga. Transaksi Loyang, sebutlah begitu, tidak bicara nominal yang kita pahami dalam transaksi pasar modern. Ia bicara kepantasan. Ia bicara penerimaan. Transaksi loyang adalah salah satu kelas di mana saya belajar bahwa kehidupan adalah barter panjang dari memberi dan menerima. Kualitasnya makin rendah, ketika kita memperkarakan besarnya nominal mata uang.

Ada belahan diri saya yang tak berhenti merasa bagian dari Papua. Anak-anak dan suami saya belum pernah makan buah matoa. Anak-anak saya mungkin tak akan punya kesempatan menyusuri jalan Sentani-Jayapura. Tapi saya berharap mereka akan tumbuh seperti pohon Matoa, dikenali sebagai diri mereka sendiri. Menjadi diri mereka sendiri. Memiliki kepercayaan pada hal-hal yang baik dalam diri orang lain. Pun punya kapasitas untuk terlibat dalam ‘transaksi loyang’ di dalam hidup mereka nanti.

Kepercayaan. Mungkin itu yang hilang. Pupus. Tapi kelihatannya justru itu yang dibutuhkan untuk membangun Papua. Ya. Kepercayaan itu hilang. Bukan tanpa alasan. Tapi perlu punya cara pandang lain, bukannya menjadi tergugu didikte keharusan menjadi sama dalam mengukur keberhasilan.

Tumbuh seperti pohon mungkin itu cara terbaik melihat masa depan Papua. Tapi bukan juga pohon asing, yang kemudian merangsek kehidupan yang sudah begitu tua, yang sudah lebih dulu ada. Seperti kebijakan mengenai sebuah patung yang berakibat tersingkirnya sebatang pohon Matoa di taman Imbi.

Tapi tumbuh seperti pohon dari tanah sendiri: Matoa. Pohon yang dimiliki bersama, kepadanya setiap orang tanpa halangan mengidentifikasikan diri. Melihat kepentingan bersama lebih jauh dari sekedar menuntut hak atas dana otonomi khusus. Atau hak atas tanah ulayat. Melihat Pohon Matoa yang berbuah. Pohon yang bisa dikenali, manusia khas, manusia Papua. Punya jati diri. Karena percaya atau tidak, Matoa budidaya yang dikembangkan di Jawa, jauh berbeda dengan Matoa dari Papua. Daging buahnya tipis, dan hambar. Kalau sudah begitu, bukan Matoa namanya, tentu saja.

Selamat ulang tahun, Jayapura! Tanam iconmu, lagi. Kali ini di seluruh bagian kota, sebelum semuanya jadi aspal dan beton. Sebelum yang bisa ditumbuh di tepi jalanan kota hanya pohon-pohon plastik berwarna jreng, yang diimpor dari Jakarta.

Selalu, saya menyebutmu rumah bagi jiwa. Saya selalu rindu ingin mencecap lagi manis Matoa. Matoa Papua, bukan yang jenis budidaya dari Jawa.

Komitmen dan Doa

Pagi ini aku bersyukur dapat bangun dengan kekuatan baru dan tenaga ekstra. Aku melihat bagaimana Allah bekerja di dalam hidupku. Usai membuat komitmen kemarin malam dan usai kegiatan doa bersama dengan orang tuaku via telpon dan SMS dan doa pribadi demi kesehatanku, aku percaya bahwa Allah melawat aku dan tak ada lagi ikatan sakit penyakit yang akan menderaku.

Keputusan tadi malam sebenarnya sejak lama ingin kulakukan untuk benar – benar 100 % memutuskan ikatan dengan terapi obat modern dan benar – benar stick ke Tuhan untuk lawatannya. Aku teringat pembicaraan dengan Ibu Fenny beberapa bulan lalu saat beliau berkunjung ke Canberra dan berbicara tentang kuasa nama Yesus dan minyak urapan. Semalam juga seakan aku diingatkan lagi dengan kejadian hampir 10 tahun lalu dimana aku disembuhkan lewat doa dan media air dan terjadi begitu ajaib karena usai lumpuh selama 1 bulan dan hanya bisa menggerakkan kepala, semalam usai berdoa dan minum air yang didoakan via telepon, esok paginya aku bisa duduk dan bisa menggerakkan anggota tubuh yang lain . Aku tak peduli dengan beberapa pandangan Kristen yang mengatakan bahwa kita tak perlu mendoakan air dan digunakan sebagai media penyembuhan.. Bagiku, aku tahu apa yang kujalani.

Semalam sambil di Manokwari berdoa dan di saat yang sama aku berdoa, aku seakan diingatkan tentang berbagai media yang dipakai Tuhan guna penyembuhan. Dari debu tanah yang diludahi, dari sentuhan langsung ke telinga, dari pusaran air kolam Bethesda, dari jubah Yesus, hingga perkataan langsung ke Perwira dan perempuan Siro – Fenisia. Aku melihat bahwa Allah bekerja lewat berbagai cara dan bermacam orang. Intinya, jangan mengkultuskan orang ataupun tokoh dan medianya, tetapi melihat dan percaya bahwa Yesuslah yang bekerja dan layak diberi kemuliaan, hormat dan pujian.

Sejak semalam apalagi saat berdoa, aku secara pribadi merasakan aliran panas di telapak tanganku dan di bagian tubuh tertentu yang sakit. Rasanya seperti ada mini heater yang menyorotku. Yang aku tahu, semalam saat berdoa, aku merasa nyaman dan tenang.

Puji Tuha, pagi ini aku merasa baikan walau tidur tanpa alat pemanas, dan hanya menggunakan selimut eletrik dengan panas rendah. Satu hal yang dapat kucatat adalah bahwa otot dan sendi pinggulku tak lagi sesakit beberapa hari terakhir yang membuatku minum pereda nyeri sebanyak mungkin karena toh berdasarkan pengalaman tahun lalu yang harus bertamu ke UGD dan berkunjung ke dokter, akhirnya hanya tetap minum pereda nyeri lebih dari 3 bulan. Jujur, aku sudah tak mau lagi seperti itu karena selama ini aku harus selalu minum pereda nyeri. Tak ingin lagi. Hari ini yang pasti aku merasa baikan dan nyaman dan ingin bilang bahwa Tuhan sedang bekerja dengan kesehatanku.

Tangan dan telapak kakiku pun mulai berkurang nyeri dan bengkaknya begitu juga masalah hidungku yang berdarah terasa baikan dan tak lagi harus menyemprot hidung guna melancarkan pernafasan.

Semalam sebelum berdoa dan menunggu acara doa, keadaanku terasa lebih drop dan lemah tapi pagi ini aku bisa bilang bahwa Bapa, Yesus dan Roh Kudus sangat baik bagiku karena pagi ini aku merasakan tubuhku baikan dan bisa beraktifitas.

Komitmen baru telah terbentuk dan aku ingin lebih bisa mendisiplinkan diri dengan komitmen baru ini. Sepertinya butuh cincin baru di jariku lagi  (Aku selalu memakai cincin besi putihku sebagai pengingat komitmenku yang lain)

Pagi ini aku hanya ingin bilang “I love Father, Jesus, and Holy Spirit”. All the Glory, Honour and Worship are Yours. You’re fantastic!!!

(Canberra, 8 April 2010)

Wednesday, 7 April 2010

Perjalanan

Pagi ini aku percaya bahwa hari ini dan setiap hari adalah sebuah perjalanan yang Tuhan ajarkan dan berikan. Hari aku percaya bahwa akan ada pelajaran baru yang akan kupelajari dan bukan hanya hari yang biasa – biasa saja. Semuanya terjadi menurut apa yang Tuhan berikan.

Aku percaya bahwa hidup adalah sebuah perjalanan mengunjungi tiap titik perhentian yang diberikan, setiap titik mempunyai tantangan, ujian dan kejutan plus hadiah. Entah hari ini aku kan berada di sebuah titik yang mana. Apapun titik itu, aku percaya bahwa Tuhan pasti selalu mengawasiku dan memastikan bahwa aku baik – baik saja, toh aku kan anak-Nya. Aku percaya ia tak akan membiarkanku hilang arah.

Hari ini, aku mau dan tak akan bosan bilang bahwa aku menyayangi-Nya. Walau kadang sempat bertanya, “adooooh sa nih su layak ka belum? Dll.

Anyway, pagi ini ingin bilang pada Bapa, Yesus dan Roh Kudus kalo Maya sayang kam banyak eee. Biar orang mo bicara kam bagaimana, mo bilang kam bagaimana, sa tetap percaya bahwa kam yang terbaik. Sa tetap percaya konsep Trinitas tuh memang dipercayai bagi yang mo percaya kam, kedengaran aneh tapi that’s the truth. The truth is in the eyes of its beholder. Yang penting sa percaya dari buah yang sa rasakan dalam sapu hidup bahwa sa hidup menjadi lebih baik, menjadi lebih nyaman dan bisa bikin sa benar – benar menemukan diri pribadi.

Love You sangat, Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Miss and love You. Tong akan menari, suatu hari nanti. Hancurkan!!!

(Canberra, 7 April 7, 2010)

Tuesday, 6 April 2010

Rindu Bee (lagi)

Entah kenapa malam ini sa bisa pikir de lagi. Hampir 2 tahun trada dengar de pu kabar baru. Kenapa malam ini pikir si Bumble Bee nih lagi ka?

Bee, ko dan sa memang dulu tuh dekat kan, karena sa dan ko baku angkat sodara kan? Baku angkat sodara lewat telpon, SMS dan percakapan – percakapan via jaringan bernama Telkomsel. Lewati laut dan pulau – pulau.

Kenapa juga malam ini sa ingat ko eee. Sa tahu sa su tra layak ingat ko dan mungkin ko juga su lupa sa kapa eee. Sa tahu sa pasti masuk daftar orang yang ko su tra anggap lagi. Entah masih bisa dilabel teman ka kenalan ka apa ee. Sa cuma bisa bilang malam ini sa rindu ko.

Su lama sekali sa tra dengar ko pu kabar dan cerita deng ko, apalagi usai pembicaraan di bulan Agustus 2008 itu. Bee, jang salahkan sa juga ka, tahun itu sa memang labil, sangat labil. Ko tahu, sa bukannya tra suka dan tra sayang ko apalagi usai 2 tahun sa kenal ko dan tahun 2008 tuh tong dua bisa bicara baik – baik dalam kata – kata yang bukan sekedar tong dua pu salam maki – maki ‘panta tai’ tuh. Tapi ko coba mengerti sa juga ka untuk saat itu. Tapi mungkin memang tong dua memang harus begini, maksudnya sa yang memang harus begini. So, blame it to me.

Sa cuma bisa bilang, malam ini sa rindu ko sekali. Rindu beratz. Sa bahkan tra tahu ko kabar bagaimana sekarang, ko su nikah ka belum, ko ada di planet mana, ko su kerja ka belum dll. Sa bukannya tra bisa lacak ko pu keberadaan dan kontak ko, tapi sa sadar diri, Bee. Sa berada di dalam posisi dimana sa tra akan ganggu ko pu hidup seperti yang pernah sa janjikan dulu dan yang ko juga bilang ke sa too. Tapi maafkan sa karena malam ini sa ingat ko, usai 2 tahun lewat, dan beberapa minggu terakhir ini sa kok jadi ingat ko, padahal file tentang ko su tra tau ada di dunia mana eee, tapi kenapa akan muncul lagi.

Entahlah … bagaimana mendeskripsikan tong 2 pu hubungan dulu eee. Persahabatan ka tong dua sebenarnya cuma baku tipu deng tong dua pu perasaan kapa eee. Maafkan sa karena tahun 2008 tuh sa menolak ko pu tawaran pertalian perasaan … bukan karena sa tra sayang ko, tapi sa memang lagi labil tahun itu usai hubungan pertalian yang tra jelas. Jujur, sa kagum sama ko sejak pertama sa lihat ko tahun 2006 ka itu. Secara fisik, ko su masuk sa pu tipe, belum lagi ko cowok yang melankolis yang sama deng sa dan bisa bahas tentang kepribadian, yang bisa bikin sa jadi diri sendiri dan tra takut jaga image di depan ko. Belum lagi kalo tong bicara dari gosip sampe politik dan sampe berita, ko bikin sa nyaman dulu cerita.

Bee, tapi ko tahu, satu – satunya poin plus yang bikin sa tuh macam semakin merasa kalo sa tra layak untuk ko, ko kan tahu sa dari dulu nyali pecek sejak lama moo, adalah ko tuh satu – satunya cowok yang bisa kasi kenal sa deng ko pu ortu walaupun saat itu ya label yang tong bilang ‘teman’ ka ini. Tapi ko tuh bisa hubungi ko pu ortu dan sodara untuk bantu sa di kam pu kota, yang bisa temani sa jalan – jalan. Sio Bee, bahkan sa pu mantan – mantan yang lain tuh trada yang pernah kasi kenal sa deng dong pu ortu. Sa cuma bisa bilang malam ini sa rindu ko sekali ooo.

Sa mungkin terlalu goblok saat itu kapa eee sampe tra bisa lihat ko pu kesediaan untuk diajak bergosip.

Sa macam su tra pu banyak kata yang sa bisa tulis lagi, macam rasa rindu ini bikin sa pu otak nangka sekali pikir ko ooo.

Andai ko bisa baca sapu catatan ini, kalo jujur sa pernah sayang dan mungkin memang masih sayang ko cuma ko tahu, ko terlalu shining bagi sa, terlalu gagah dan kadang bikin sa yang harus tahu diri dan mundur. Ko tahu, saat ko bilang dulu untuk sayang sa, sa akui sa suka tapi kemudian sa yang harus ingatkan sapu diri kalo untuk pacaran sama ko tuh sulit sekali, ko pu otak yang mantap, ko pu cara bicara yang aura kepemimpinan saja tuh kental dan teman diskusi yang menarik tapi di sisi lain, ko lucu sekali, bikin sa ketawa trus. Sa akan selalu ingat ko sebagai teman yang bilang kalo sa tuh “jang jual cinta demi coklat”.

Entahlah, sa mungkin yang dulu terlalu nangka dan tra bisa lihat ko pu hati untuk sa. Jujur, saat itu sa terlanjur bikin janji untuk cuma anggap ko sebagai sodara saja, tra lebih dan tra kurang. Waktu sa putus dan menangis – menangis Bombay bulan Februari 2007 tuh, ko yang temani sa cerita dan hibur – hibur sa dan bantu memaki sapu mantan. Padahal ko dulu su bilang berulang kali , trus ko ingat ka trada eee, waktu yang sa kurung diri 2 hari 2 malam karena sapu mantan nikah dan sa hancur beratz di Jakarta, ko temani sa telpon dan SMS temani sa kasi kuat dan bilang sa pi libur ke ko suda supaya sa tenang. Itu belum termasuk yang sa otak lagi gila – gila dulu.

Bumble bee, anggap saja catatan ini dari seseorang yang gagal pahami ko dulu. Sa cuma ingin menulis apa yang sa rasakan malam ini. Entahlah bagaimana orang mo deskripsikan sa, ko dan tong pu hubungan seperti apa, tapi sa cuma bisa bilang sa rindu ko malam ini. Tapi too, sa tra akan juga mengganggu ko pu hidup lagi. Pasti sekarang ko su pu kehidupan yang baru kapa eee, dan anggap saja sa cewek talapas yang kagumi ko di masa lalu. Sa ampir lupa, ko ulang tahun bulan kemarin kan? Jang takut, sa tra akan ganggu ko pu kehidupan ko.

Biar saja ko hidup dalam sapu kenangan seperti ini. Biar saja begini kapa eee.

Sa tra ingin menyesal deng sapu keputusan kala itu juga, karena sa tahu, kalo sa dulu tra putuskan itu, pasti sa akan sakiti ko juga deng sapu ketidakstabilan emosi dulu.

Entahlah kenapa malam ini sa rindu ko dan ingat ko ka, padahal su lama ko dan sa mengambil jarak dan su lupa baru …

Sa cuma ingin ko bahagia saja deng ko pu karir yang ko pernah ceritakan.

Ko layak dapat cewek yang bisa mengerti dan sayang ko saja, ko terlalu shining untuk sa.

Yang pasti, sa rindu ko pu cerewet tuh dan mulut baganggu tuh, ‘poro balemak dan panta tai seh’ ^___^ ko bikin sa pu hidup tra monoton dulu sekali ka … Ko pu jawaban kaco – kaco dulu tuh yang bikin tong dua bisa jadi teman cerita kapa eee.

Bumble Bee, entahlah … mungkin sa yang lagi jackfruit brain malam ini.

Cuma mo bilang, andai ko bisa baca catatan ini, sa cuma mo bilang kalo “sa rindu ko”.

(Canberra, 6 April 6, 2010)

Impian talapas: Kids centre

Aku semakin tersadar tentang apa yang kuinginkan dalam hidup. Tentang tujuan hidupku, tentang apa yang kuingin kuraih, tentang apa yang mau kulakukan kala pulang. Liburan kali ini membuatku semakin sadar bahwa aku menyukai anak – anak. Ingin menjadi yang terbaik dan berjanji memberi yang terbaik bagi mereka.

Perjalanan bertemu anak – anak di keluarga Shaw di Dubbo berkat ajakan kaka Yana membuatku sadar bahwa aku suka kanak – kanak. Tingkah 3 anak ini membuat kerinduanku pada 4 keponakanku sedikit terobati, sedikit mendapatkan tempat berceritra dan melepas stress apalagi setelah tak lagi mengajar di SD dan kelas TK, aku rindu acara bercerita dan mendengar dan berbagi informasi tentang dunia anak, mulai dari film kartun dan semua pernak – pernik anak – anak. Liburan kali ini lumayan mengisi energiku.

Tak sabar rasanya pulang apalagi usai melihat kiriman foto para keponakan. Tak sabar pulang dan berbagi kisah dan tak sabar punya Kids Centre suatu hari nanti. Entah apakah ada yang ingin mempekerjakanku di sana. Ingin punya Kids centre yang bisa diakses anak – anak kecil dari keluarga tak mampu secara ekonomi. Karna aku percaya, anak – anak selalu sama di dunia manapun, terlepas dari kemampuan ekonomi orang tua mereka. Anak – anak adalah makhluk yang tak pernah melepas impian mereka, yang bisa hidup dalam dunia fantasi mereka, yang bisa mengatakan impian mereka tanpa takut ditertawakan.

Entahlah, apa aku yang memang terlalu bermimpi. Tapi aku ingin sekali punya suatu hari nanti sebuah Kids centre, dimana anak – anak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan, bisa menjadi diri mereka sendiri, bisa mengeksplorasi dunia kanak – kanak dan juga aku berharap aku bisa mengajar mereka mencintai lingkungan lewat program – program “Kids for environment’.

Satu yang pasti, aku percaya bahwa anak – anak adalah hadiah dari Tuhan yang dititipkan di dunia. Tiap anak unik dan harus diperlakukan dan disayangi dengan cara yang berbeda, tapi terlepas dari perbedaan mereka, tiap anak wajib didengar dan dihargai pendapat mereka dan berhak mendapatkan yang terbaik dari hidup.

Hidup anak – anak!!!

(Canberra, 6 April 6, 2010)

Penyesalan?

orang bilang penyesalan selalu datang terlambat usai ada yg buruk yg tjadi. Bagiku, kadang memang perlu menyesali sesuatu yang terjadi tapi bukan berarti berhenti pada sisi itu. Sejak kejadian pagi kemarin yang mengalami kerusakan komputer di saat genting, jujur sempat shock beberapa menit n emosi campur aduk. Tapi usai berdoa, aku merasa bahwa ada banyak pelajaran penting yang bisa kuambil dan akhirx aku memilih untuk mengesampingkan rasa kecewa dan sedih usai menghitung segala kemungkinan jalan keluar. Akhirnya berada pada tahap berserah dan semangat. Cuma bisa bilang: Tuhan, terimakasih untuk kesempatan berat ini, untuk mengajarkan padaku bahwa hidup tidak selalu mendapatkan apa yang kuinginkan dan kurencanakan. Thanx Father, Jesus n Holy Spirit. Amen

Thursday, 1 April 2010

Curhat talapas: Malam penentuan

Dear God,
Entahlah mengapa malam ini aku memikirkannya lagi, usai berbulan – bulan lalu pernah merasakan hal yang sama seperti ini. Dia bukan siapa – siapanya aku, bukan pula yang terdekat ataupun dimana pernah kuberbagi hati.

Mungkin memang alam bawah sadarku pernah terobsesi padanya ataukah karena tekanan tugas yang membuatku malah memikirkan dia dan sialnya, dia muncul di mimpiku. Pada satu sisi, mimpi itu aneh, tapi di sisi lain, aku nyaman. Entahlah. Pagi hingga malam ini, aku masih saja dibayangi tatapan matanya di dalam mimpiku. Come On, May, kataku tadi. ‘That’s just a dream, means nothing to your life’. God, I just wanna be normal, as usual Maya, yang selalu ekspresif kalo ngomong, yang cuek kalo perkataanku menyinggung orang lain atau apalah. I’m on the way to be a good woman but has not good yet, I’m on my journey.

Entahlah, mengapa juga mimpi itu datang bersama dia. Entahlah, alam bawah sadarku pasti lagi crash berat usai bertabrakan dengan teori – teori yang silih berganti, dari linguistic murni dan fonologinya terserempet dengan sejarah politik di Indonesia dan perkembangan terbaru keadaan di Indonesia, hampir bertabrakan dengan analisa wacana di Koran Tempo dan kembali ke tata bahasa dan bentuk serapan bahasa asing dalam wacana media hingga kembali bermuara dengan fenomena bahasa dan masyarakat di benua Asia, yang ternyata terjalin erat dalam bentuk esai – esai dan forum online yang sangat perfeksionis tuntutannya. Too demanding and my subconscious mind is on the way to ICU. Kayaknya otak memang lagi butuh ‘IV’ dari-Mu, God. Tak mungkin sanggup jalan sendiri, yang ada bisa semaput atau rontok di tengah jalan.

God, malam ini pas tadi sibuk tunggu bis di Civic, dan sedikit dingin tapi melihat banyak anak muda dan orang muda dengan berbagai macam gaun yang seksi, trendi hingga kasual hilir mudik ke arah pub dan club dan berbagai tempat makan, tiba – tiba di kepalaku terlintas berbagai pertanyaan, “Malam ini Ko ada Kemana ee, God?”, “Ko rasa bagaimana ee, Yesus, kalo lihat apa yang sa lihat malam ini?”. Sa tra mo jadi hakim eee, Yesus, cuma sa merasa tra nyaman dan sempat merasa sedih sih, apakah memang semua orang yang pergi ke pub, clubbing dan bersenang – senang malam ini dong bahagia? Ataukah demi sebuah pelarian dan juga mengisi kesepian dan kekosongan ataukah demi diterima di sebuah lingkungan pergaulan? Entahlah, semua orang pasti punya alasan masing – masing dan toh aku bukan siapa – siapa mereka yang wajib dan bisa menilai mereka. Tapi ada satu perasaan di hatiku yang berpikir begini: “Kalo ada orang Kristen yang pergi malam ini clubbing, kira – kira dalam setiap tawa, tarian dan luapan kegembiraan mereka, adakah wajah ataupun sosok Yesus dan representasi Yesus dalam rupa lain di dunia ini sempat muncul dan teringat mereka atau tidak ya?”

Entahlah, sory God, kalo banyak cerita dan bertanya hari ini. Aku cuma ingin bilang kalo aku bersyukur dilahirkan dan bisa mengetahuimu sejak kecil tapi toh, aku baru belajar mengenalmu sebagai pribadi dan juru selamat pribadi kala 10 tahun lalu, saat berumur 17 tahun, tahun 2000. Entahlah bagaimana Kau menilaiku saat ini, tapi aku tetap ingin bilang bahwa aku butuh Kau tiap detik hidupku, butuh Kau dalam perjalanan ini mencari dan menemukan Kau dalam berbagai bentuk yang kulihat dan kujumpai.
Hidup masih panjang, God. Satu yang pasti tak pernah ingin jauh dari-Mu. Tak akan pernah mau.

Yang pasti, aku bersyukur Kau begitu baik mengirimkan dirimu dalam rupa Kristus dan membayar penebusan bagi dosa manusia. Aku tak peduli bila disebut ‘Jesus freak’ tapi cuma ingin bilang kalo ‘that’s me’. I’m so obsessed with You, Jesus.

Anyway, cuma mo bilang, malam ini 1977 tahun lalu, pasti berat sekali ya menentukan antara kemanusiaan dan ketuhanan. You know, peristiwa Getsemani mengingatkan sa malam ini kalo Ko memilih mengambil tantangan dan pengorbanan dari blueprint yang sudah dirancang Bapa.

Pasti berat sekali harus menanggalkan sesuatu yang sudah 33 tahun menjadi bagian hidupmu dan kembali pada Bapa lewat cara yang menyakitkan. Dan semakin menyakitkan kala Ko tahu apa yang akan terjadi dan sakitnya tapi toh, Ko ambil juga tantangan itu. Salut!!!

Malam ini 1977 tahun lalu, pasti Bapa juga sedih sekali kapa eee, untuk merelakan Ko mati disiksa begitu demi pemenuhan dan penggenapan janji penebusan lewat darah yang tak bercela. Sakit sekali melihat seseorang yang tong cinta harus mati, pasti 1977 tahun lalu, di malam seperti ini hingga subuh, Bapa pasti ‘pikiran’ juga eee, pasti berat sekali dan tra rela tapi sa percaya hanya itu satu – satunya cara mendamaikan kesalahan yang dibuat Adam dan Hawa dan sa percaya kalo Bapa tra mau yang namanya intervensi sejarah misalnya deng kasi Turun Yesus pake pesawat terbang ka kereta api dari langit padahal kan Bapa pu kapasitas, tetapi Bapa mau semuanya terjadi alami, lewat garis janji dari Daud.

Bapa, Yesus dan Roh Kudus, entah apa yang Kau pikirkan, tapi cuma ingin bilang bahwa malam ini saat mulai berpikir dan diingatkan tentang arti malam ini, kok sa malah tambah sayang Ko ooo. It’s so hard ya .. ini malam yang berat sekali bagi Bapa, Yesus dan Roh Kudus.

Sa yang manusia saja menempatkan posisi untuk kehilangan orang yang sa cintai saja sa macam mo Bombay hancur sampe 2 hari 2 malam apalagi Bapa eee, pasti sedih sekali eee, padahal Ko sayang sekali. Trus pasti Yesus juga dalam kemanusiaannya pikiran kaco juga eee, pasti berat sekali ee. Ko su tahu de pu bentuk penyiksaaan nan sakitnya seperti apa, tapi toh Ko tetap ambil penyiksaan ini. Kalo sa dalam posisi yang sama, mangkali sa su melarikan diri kapa, tapi memang Yesus ko trada yang blok. Sa salut sekali. That’s why, sa percaya kalo Ko yang terbaik bagi sa, bagaimana mengambil keputusan yang tepat dan berserah pada keputusan Bapa. Padahal ko pu kuasa untuk kasi Yudas dan pasukan Romawi talempar – talempar ka apa eee, tapi Ko malah tetap kasi tunjuk kasih dan kelemahlembutan.

Sa su bicara banyak kapa eee, bicara tra jelas ujung pangkal, tapi yang pasti, I’m proud to be a Christian dan ikut ko pu jejak, untuk pikul sa pu salib dalam hidup, untuk menyangkal diri dan berusaha menjadi apa yang Bapa inginkan dalam hidup, sa masih belajar jalan nih, jang pernah lepaskan sapu tangan ee, Pliz. Tra bisa hidup tanpa Ko sekali, sa bisa mati tempo kalo tapisah deng Ko.

Yang pasti, malam ini sa merenung untuk sapu perayaan Jumat Agung besok dan sa cuma ingin bilang, “Thanx Jesus 4 everything” and Thanx Bapa untuk kasi Yesus bagi sa.

Entah apa yang akan ditawarkan pagi esok tapi sa percaya, selama Yesus ada sama – sama sa, trada barang yang sulit di muka bumi ini.

Sayang Bapa, Yesus dan Roh Kudus banyak – banyak eee.

Can’t wait to meet You in heaven, we’ll dance!!!

(sebuah kamar lantai bawah di Campbell, Canberra/ 12. 37 a.m : 2 April 2, 2010)

Without You, I'll die

Sewaktu keadaan menggila seperti ini,
Aku butuh Kau!

Saat aliran tugas semakin menyiksaku dan membuatku tak tenang,
Aku butuh Kau!

Saat aku merasa bahwa aku tak bisa berdiri sendiri seperti sekarang,
Aku butuh Kau!

Saat ingatan dan pemikiranku terbatas untuk fonologi ini,
Aku butuh Kau!

Hanya Kau yang mampu menguatkanku kala tak ada yang mampu,
Hanya Kau yang mampu menenangkanku kala yang lain tak berhasil,
Hanya Kau yang mampu membuatku diam dan tenang,
Hanya Kau yang sanggup membuat emosi dan degup jantungku stabil.

Kau tahu,
Malam ini aku berada dalam situasi dimana aku benar- benar merasa bahwa “God, sa benar – benar tra mampu lagi, sa buang handuk, sa menyerah!”

Tapi tiba – tiba lagu Nicole Mullen terdengar di kepalaku, “when I call on Jesus, all things are possible ..” dan Kau tahu, aku memilih menyanyi mengikuti lagu itu dan it’s so amazing, benar – benar dapat energi extra dan express. Ko pu pertolongan tra pernah terlambat sekali.

Ko tahu sa cuma bisa bilang “Thanx”.

Yesus, sa tra bisa bayangkan saja kalo sa sampe terpisah deng ko, pasti susah sekali dan sa pasti mati tempo sekali. Karena cuma Ko yang bisa bikin sa merasa hidup, merasa berharga, merasa dicintai dan dikasihi tanpa syarat.

Yesus, sekarang su mo Paskah ee, malam ini tong rayakan ko pu kisah berapa ribu tahun tuh dan sa sedang duduk kerja tugas fonologi nih, tapi sa percaya, saat sa tenang dan saat ko su kasi sa ketenangan macam begini, sa pasti bisa kerja barang ini sampe selesai.

Yesus, sa cuma butuh ko pu cinta saja, karena sa tahu trada yang benar – benar mengasihi sa seperti Ko. I remember when I was a Kid and meet You, it’s so fantastic, when we talked and You carried me, it’s been years, You know. Su lama eee sa lupa momen itu. Ampuni sa eee karna seiring deng sapu pertumbuhan, sa malah lebih sering khianati Ko, cuekin Ko dan bikin barang – barang yang Ko tra suka.

Thanx karena malam ini ingatkan sa lagi kalo sa tra bisa hidup tanpa Ko, tra bisa hidup. Ko tahu, sa akan mati kalo sa sampe tapisah dari Ko.

Thanx karena sa kasi sa damai malam ini dan bikin sa rasa tenang lagi.
Sa janji dan seperti yang sa bilang sama Ko di awal tahun, sa sejak tahun ini mo dekat deng Ko, mo belajar kenal Ko lebih lagi.

Cuma ingin bilang malam ini, “Thanx Jesus, su mo mati dan bangkit untuk Maya”.

Miss and Love You. Amen

Cheers,

D. Meimosaki

Hilang

Hatiku hilang
Saat dentingan musik di hati tak sejalan
Entah
Ada yang hilang
Tak tahu
Apakah cinta selalu seperti ini
Tak jelas kapan datangnya
Tak jelas kapan hilangnya
Tapi hari ini hatiku terasa hampa
Entahlah
Siapa yang kucinta?
Siapa yang kurindu?
Tak jelas.

Hatiku hilang
Saat tinta warna – warni berubah kelam
Entah
Ada yang hilang
Tak mau tahu
Jenuh, bosan, bukan kata yang tepat
Hanya merasa ada yang hilang hari ini
Apakah rasa cinta yang manis
Ataukah air mata yang asin
Aku tak tahu
Begitu tawar
Begitu hambar
Tak tahu dan tak mau tahu

Groban memang mampu menyitir emosiku terbang lenyap dari lembaran kerja
Membuatku mengingat seperti apa rasa cinta
Seperti apa rasanya jatuh cinta dan berada dalam hubungan dan komitmen
Yang aku tahu
Tawar, terasa hambar dan tak ingin emosiku naik roller coaster

Pada titik ini
Entahlah
Aku merasa nyaman dengan hidupku
Merasa benar – benar bebas
Merasa begitu merdeka

Apakah setiap kemerdekaan jiwa berarti ada yang harus dikorbankan?
Apakah untuk merasa perasaan seperti ini yang bebas, harus ada yang pergi?

Yang aku tahu
Hari ini ada yang hilang
Sesuatu yang tak kutahu apa
Sesuatu yang membuat air mataku tiba – tiba ingin berguguran
Tak tahu apa
Entahlah
Aku merasa ada kesedihan
Kesedihan yang menyapaku saat ini
Entah apa
Aku baik – baik saja
Aku merasa tenang
Tapi aku merasakan ada yang terhilang, ada yang pergi
Entah apa, entah siapa, entah bagaimana
Yang aku tahu, hatiku terasa hilang

Hatiku hilang
Ada yang hilang
Teriakku, “HILANG”
Dan aku merasa begitu kehilangan!!!

(Menzies Library, 31 Maret 2010)