Search This Blog

Loading...

Monday, 29 March 2010

My uni's life

# Kalo ngantuk di kampus, dimana saja Maya kapala tidur?

Jawab:
tergantung musim tooo. Kalo musim dingin ka winter parah ka spring, operasi cari sofa hijau empuk di level 4 Chifley Library, ka di level 3 Menzies library. Kalo summer dan awal autumn, bisa dikembangkan deng pi tidur di rumput – rumput samping Chifley di bawah pepohonan Beerch ka juga di kursi taman di bawah pohon rindang, seperti yang sa lakukan kemarin di samping Baldessin Precint atau di dekat Menzies.

#Toilet mana yang paling suka diakses, yang favorit dan yang berkesan?

Jawab:
Semua toilet cewek di Baldessin Precints (bersih dan pake 4 – 5 bahasa instruksi), level 4 Chifley library.

#Toilet mana yang buruk dan tra direkomendasikan?

Jawab:
Semua toilet cewek di university Union khususnya lantai bawah (ANU pu tempat makan), kadang karena bau, kotor, sabunnya kadang habis, kertas tisunya kadang ada, kadang abis dan kadang malah jadi areal quickie sex *sigh

#Apa yang berkesan dari perpustakaan ANU?

Jawab:
koleksi buku yang super duper lengkap, dan bisa akses jurnal dari rumah, bisa pinjam hingga 40an buku selama 6 bulan dan tentu saja bisa jadi pintar merecall buku *permainan baru yang bikin stress kadang tapi kalo bisa dapat, leganya.

#Apa yang berkesan dari ANU semester ini?

Jawab:
Dapat dosen perfeksionis di kuliah weekend sabtu – minggu per 3 minggu dari jam 9 pagi – 5 sore dan duduk manis terus, trus pulangnya dikasi 3 pilihan esai sekian ribu kata yang minimal referensi bukunya hanya bisa dikerjakan dalam waktu 1 minggu dengan waktu due jam 10 pagi dan potongan nilai 10% kalo terlambat kumpul plus alamat recall buku semakin sulit karena ada 30an lebih yang daftar di kelas ini*sigh

Ngecengin cowok latin manis di kelas weekend. Tampang dan bodi model deng rambut ikal dan tatapan mata a la Antonio Banderaz ^_____^

#Tempat makan yang sering dikunjungi?

Jawab:
Asia bistro (yang kadang bikin emosi karena di-charge lebih), Panjeska (yang salah satu kasir cowoknya rasis dan tra ramah, pelayan cewek Asianya jutek) tapi makanannya pas di lidah esp. T-bone steak, apalagi kokinya ganteng sekali, Latin booo dan suka muncul di depan ^____^, dan juga Kafe belakang gedung hukum (Seafood basketnya besar dan makan sampe puas, pelayannya ramah dan pemandangannya lebih alami, dan dekat deng Menzies)

#Ruangan mana saja yang sering dikunjungi?

Jawab:
Menzies dan Chifley library, Melville hall (untuk lihat pameran mini antropologi dan arkeologi, common rooms alias lab2 komputer di Copland building, the tank, Haydon Allen bld, Baldessin Precints bld, Paulinne Griffin bld (tempat AusAID dan ASLC), dan tentu saja Union court. Plus berkeliaran di Coombs kalo ada seminar gratis, nonton film. Graduate House kalo mo pi komsel Kristen.

#Mata kuliah mana saja yang berkesan selama tahun pertama (yang terbaik dan terburuk)?

Jawab:
Language and Society karena topiknya Maya banget, dosennya keren dan bikin puas sekali diskusinya, 100% suka sekali. Tugas – tugasnya juga mantapz dan aplikatif walaupun nilainya seret karena ternyata berstandar tinggi, dilihat dari 40an mahasiswa, tugas lapangan trada satupun yang HD, paling tinggi saja cuma 70. Dosennya juga baik sekali, biar perpanjang waktu pengumpulan tugas, bisa datang ke ruangannya tanpa bikin janji dan sangat care dengan masalah mahasiswa. Suka sekali. Selain itu, dosen sangat paham tekonologi, dari blog kelas, forum diskusi hingga rekaman dan power point bisa diakses dengan mudah dan kalo ada masalah bisa langsung ke ruangan dosennya dan kasi tahu. Selain itu, tutornya juga keren dan baik plus ramah ^___^

Mata kuliah terjemahan karena bikin sa mengantuk trus …. Selain gaya dosennya yang tra update deng perkembangan (iyalah, dosen lain pake power point, rekaman masuk ke database kampus yang bisa diakses dari rumah, handout dan daftar bacaan yang jelas, blog kelas dll, yang ini malah semester 1 rekaman pake pita kaset, handout cuma point2nya saja, trada rincian daftar bacaaan dan acara raba teori). Trus sejak semester pertama, su tra baku cocok deng dosennya yang sekaligus ketua jurusan. Kayaknya pengaruh sa pu pilihan novel sejak awal yang de tra suka berbau Asia walaupun yang tulis orang yang besar di Amerika. Plus pernah dikonfront langsung dengan pilihannya pas sa konsultasi deng tugas ke 2 dengan bertanya, “memangnya su trada novel – novel dari Inggris ka Amerika ka Australia yang bagus ka, jadi pilih novel – novel dari dunia lain?”. Kehilangan selera langsung di tugas ini karena sejak saat itu melakukan sesuatu demi nilai doang dan asal dosen senang. Padahal di mata kuliah lain, sa yang pilih judul dan dosen OK2 saja asal sa bisa dapat referensi dan bisa susun de deng pendekatan ilmiah. Padahal kan sa ingin tahu kalo terjemahan yang lebih berkonteks Asia ka sastra marjinal tuh bagaimana dll. Kesan pribadi sih dosennya sedikit Anglo-Saxon oriented, padahal kan mata kuliah ini bukan murni berstandar Anglo-Saxon tapi faktor budaya kan juga jadi pertimbangan. Plus sa bawaannya tra fokus dan malas banget ketemu pace ini. Plus demotivated dulu karna Opa pi rekomendasikan sa ke tutor yang sama parahnya, yang bawaannya sa tertekan tiap pi konsultasi tugas dan merasa jadi orang terbodoh di ANU *sigh. Thanx God, Tuhan buka jalan dan sa pindah dan tra harus tesis dan ketemu opa itu dan ketemu tutor2 yang kooperatif dan sangat membuka sa pu pemahaman sekali, makanya rela sekali kerja tugas dan semangat belajar ^__^

#Lift gedung2 mana saja yang pernah dicoba dan berkesan?

Jawab:

Hedley Bull Centre karena cepat, aman, ada kacanya dan pake bel ^__^, Chifley Library karena paling lama tunggunya, pas berhenti macam lift mo talapas dan tong ada di situasi urgent tapi keren karena pake indikator suara "you are in level x" ^_^, Menzies Library karena klasik banget macam di abad berapa dan merknya tuh 'OTIS' :D dan tentu saja Baldessin Precint karena tombol liftnya di kedua belah dinding, dan Coombs bld (canggih, cantik dan terbuka 2 sisi ,tergantung pintunya yang sebelah mana).

Friday, 26 March 2010

Another Bee's story

Lebah tukang maki,
Entahlah, dua hari terakhir, aku memikirkanmu. Kala hendak tidur dan tiba – tiba teringat kau. Masih kah kau ingat aku ataukah telah lelah dan tak akan pernah memikirkanku lagi usai penolakan berkali – kali.

Lebah tukang maki,
Mungkin aku pernah salah, pernah ragu denganmu, sudah 4 tahun ya mengenalmu dan kau hilang dari hidupku. Kau masih tetap gagah, kupikir kala pertama kali melihatmu di pelabuhan. Terlalu cuek dan merasa gagah ataukah pica bunga, entahlah.

Mungkin aku salah, salah karena memutuskan mundur sehari setelah mengiyakan perubahan status persahabatan kita bulan Mei 2008. Pasti sakit ya, tapi maafkan aku, kala itu aku labil. Terlalu labil, tak tahu apakah memang itu yang terbaik, ataukah karena memang aku tak siap.

Entah sudah berapa kali kau menawarkan niatmu, maafkan aku yang tak pernah bisa sabar dan tak pernah bisa sadar tentang niatmu. Maafkan aku.

Hari ini mengapa aku mengingatmu lagi. Apakah kau masih menganggapku temanmu ataukah hanyalah seorang musuh dari masa lalu.

Yang kutahu, entahlah … mengapa 2 hari belakangan ini mengingatmu lagi. Maafkan aku.

Entah sekarang kau dimana, aku tak tahu. Wish you all the best, lebah tukang maki. Kau salah satu cowok yang membuatku menjadi diri sendiri dan bisa puas bicara tanpa perlu menjaga citra dan wibawa.

Wish you all the best in your life. Jangan khawatir, aku sudah makin pintar dengan hidupku kok dan tak akan pernah “jual cinta demi coklat” seperti kata – katamu beberapa tahun lalu.

Entahlah, mengapa memikirkanmu hari ini.

(Campbell, 26 March 2010)

Wednesday, 24 March 2010

Arvo enlightment: Kenapa sa harus belajar fonologi?

Dear God,
Sa tahu sa terlalu banyak mengeluh hari ini karena tugas fonologi nih, dan tinggal mengeluh terus. Sa minta maaf eee. Tapi Tuhan, sa butuh sekali dukungan dan semangat dari Ko dan juga fokus dan pinjaman pengetahuan. God, satu barang yang sa tahu sa paling lemah sejak semester 1 masuk Sastra tuh barang ini sudah, menurut sa terlalu abstrak untuk sa pahami. Sa bahkan tra pernah peduli dan membayangkan akan, bagi sa terlalu abstrak sekali.

Tapi kemudian beberapa menit lalu, sa makin sadar kalo ko ciptakan barang ini lengkap deng fonemik ka itu dipelajari biar manusia dong bisa hargai yang namanya keragaman dan keanekaragaman dan Ko pu ciptaan dan penemuan kah. Thanx karna memberikan ‘penjelasan’ di menit – menit dimana sa pikir sa su tra sanggup lagi kerjakan barang ini dan tra pu alasan untuk kerjakan barang ini. Sa jadi pu alasan untuk kerjakan akan.

Ternyata walaupun tong manusia semua pu organ ucap yang sama, tong pu letak organ – organ itu juga sama, tapi Ko bikin tiap bahasa pu variasi beda – beda eee, macam musik ka ini. God, Ko tahu, berapa menit lalu, sa tiba – tiba ingat bagaimana suasana di resto kampus pas makan siang, dimana sa bisa bedakan orang Asia Selatan dong pu bicara deng orang Asia Timur, begitu juga dengan para orang Kaukasia dong ee. Ternyata memang Ko Pangaruh sekali.

Kalo trada barang ini, pasti sa tra bisa dengar orang – orang menyanyi deng indah eee, karna dong pake dong pu fitur – fitur fonologi kan? Sa jadi mengerti kalo menyanyi dan bicara dalam berpuisi, dalam berpantun, dalam berdendang tuh sa sebenarnya sedang menjelajahi fitur – fitur ini.

Kalo trada barang ini, pasti dunia nih membosankan eee, semua bicara deng bahasa dan nada ka tekanan yang sama, pasti monoton sekali dengar irama orang yang selalu sama. Kalo trada barang ini, sa pasti tra bisa mengerti kenapa di Papua ada suku – suku yang bicara deng nada tinggi, tapi ada yang nada rendah. Kalo trada perbedaan dan fitur – fitur ini, pasti tong semua manusia tuh seragam ka ini eee.

Ternyata Ko memang suka sekali deng keragaman eee. Ampuni sa karna tadi belum sadar kenapa ko ijinkan barang ini ada dan kenapa ada orang – orang yang ciptakan bidang ilmu untuk identifikasi ko pu ciptaan dan pemberian bagi manusia. Thanx karena dengan adanya fitur – fitur yang dipelajari dalam fonologi, sa jadi tahu perbedaan mendasar antara manusia dan hewan adalah bahasa, dan bahasa manusia khususnya manusia di Papua tuh Ko pu pemberian dan anugerah bagi orang Papua.

Ampuni sa e karna dari tadi tinggal mengeluh – mengeluh trus deng barang ini dan pikir, kenapa orang – orang sibuk mo dokumentasi ka belajar barang ini ka dll, tapi sekali lagi, thanx e di menit – menit terakhir, Ko pu penjelasan bikin sa pu otak tabuka.

God, sa jadi membayangkan kalo tong di surga besok nih dan menyanyi untuk Ko, pasti mantap sekali ee dengar berbagai fitur fonemik dipakai, dalam aturan fonologi yang berbeda – beda. Tra bisa bayangkan Ko pu keagungan sekali oooo. Pasti mantap sekali ^___^. Sa percaya di Ko pu pandangan, semua bahasa, kedudukannya setara karna biar mo fitur beda – beda, tapi manusia yang percaya ko tetap tahu cara untuk Puji Ko deng fitur – fitur itu.

Thanx e God su kasi ko pu ‘Penjelasan’ dan bikin sa tenangeeee, plus sa jadi pu alasan untuk bisa mengerti dan setidaknya memaksakan diri untuk kerja barang ini pelan – pelan. Sa tahu ini sulit bagi karna ini salah satu kelemahannya sa, tapi sa percaya Dengan Ko sebagai sapu konselor dan guru, trada yang susah. Sa tahu sa akan lakukan yang terbaik yang bisa sa buat dan sa percaya apapun hasilnya, Ko tetap akan sayang sa.

Ko dahsyat sekali.

Miss and love you.

Dari Ko pu anak yang tadi sempat babingung dan stress,

D. Meimosaki

We'll dance in Love

Entahlah …
Apakah dia memikirkanku malam ini?

Mengapa hatiku berdegup kencang dan perasaanku bahagia?

Entahlah …

Dimana dia? Siapa dia?
Pertanyaan yang harus kuuraikan saat ini.

Aku hanya tahu malam ini aku bahagia
Rasa aneh ini menulariku dengan cepat
Membuatku tersenyum tanpa alasan.
Ketawa kecil.

Lega, saat hatiku terasa mengembang

Saat awan di atas kepalaku terasa begitu dekat
Saat dingin malam membuatku semakin larut dan ingin menari

Lelaki pelangi,
Entah dia sedang berasa di mana.
Di dekat lautan ataukah di tengah rimba beton menjulang,
Dekat jembatan ferry ataukah lorong – lorong subway,
Terperangkap dalam hutan hujan ataukah di sebuah rumah nyaman di kota tua,
Aku tak tahu.

Aku hanya tahu,
Rasa ini membuatku nyaman, bahagia dan tenang.

Ingin sekali menari malam ini
Di bawah rembulan
Di pinggiran pantai

Menari dan terus menari
Menari bersamanya!

Kau tahu, lelaki pelangiku.

Rasa aneh ini muncul lagi.
Rasa aneh yang membuatku tertawa dan tenang dan bahagia
Lupa akan stress tugasku

Yesus, thanx untuk pinjaman rasa ini
Bertumbuh dalam cinta seperti ini memang terasa menyenangkan ya.
Kau begitu baik padaku, berbagi perasaan ini untuk ‘lelaki pelangiku’

Teringat syairnya Steven Curtis Chapman “We’ll dance”

CHORUS:
We will dance
When the sun is shining
In the pouring rain
We'll spin and we'll sway
And we will dance
When the gentle breeze
Becomes a hurricane
The music will play
And I'll take your hand
And hold you close to me
And we will dance.

(Canberra, 20 March 2010)

Thursday, 18 March 2010

4 bulan (lagi)

Untuk lelaki terhebat di dalam hidupku!

Kau tahu,
Malam ini kala pucuk – pucuk daun menguncup dan menggelung bertabur embun,
Kala kakatua dan nuri aneka warna menghitung jam mencari cacing,
Kala Danau Burley Griffin dininabobokan rembulan,
Kala bus Action tak lagi berkeliaran,
Aku merindukanmu!

Kau tahu,
Malam ini kala serabut – serabut syarafku bermediasi mengirimkan pesan ke otak,
Kala semua penghuni rumahku tertidur,
Kala tetangga – tetangga di Campbell menikmati hangatnya quilt,
Kala SMS terakhirmu kuterima beberapa jam lalu,
Aku merindukanmu!

Kau tahu,
Bahkan jaringan 3 yang bersinergi dengan Telkomsel tak dapat menampung hatiku,
Bahkan perangkat lunak Skype di piranti pengolah data pun beku,
Rekening dan tagihan telepon dan komunikasi pun kuacuhkan,
Tak sanggup menyampaikan rasa sayangku.

Kau tahu,
Aku pernah sekali berpikir tentang jarak ini,
Pernah sekali berpikir tentang pilihan yang menyiksa ini,
Pernah sekali berpikir untuk berhenti dan pulang,
Karena toh, kau selalu menerimaku apa adanya, dengan segala kegilaanku,
“satu paket”, katamu.

Tapi ku tahu kau ingin aku mendapat yang terbaik dalam hidupku.

‘Rindu beratz’, bisik hatiku.

Rasa ini menyiksaku!!!

Kala ku kehilangan selera makan dan sensasi makan,
Kala berat badanku mulai kembali dipompa keluar tubuh,
Kala jam tidurku berantakan,
Kala suasana hatiku tak tentram,
Kala kudeta dilakukan tulang dan sendiku.

Aku mengingatmu; kecerewetanmu, kepedulianmu dan rasa cuekmu membangunkanku untuk makan, mandi ataupun tetap hidup.

Kau tahu,
Bahkan bila abjad dalam aksara romawi ini kutukar dengan han’gul ataupun Romaji, hiragana, katakana, higrolif, pallawa, dan skrip – skrip lainnya,
Tak ada satupun yang mampu menampung luapan hatiku saat ini,
Yang membanjir keluar dari nadi tubuhku,
Masuk ke perut bumi dan tereduksi dalam proses siklus tanpa akhir

Ingin kau tahu,
Malam ini aku rindu kau, Pa.

Tunggu aku, 4 bulan lagi,
Gadis kecilmu, si pemanjat pohon, kan pulang!!!

4 bulan lagi, Pa.

Miss you badly!

Wish you feel what I feel tonight!

Love you so much, dad.


(Campbell, 19 Maret 2010)

Wednesday, 17 March 2010

Jatuh cinta lagi (Aneh)

Selamat!!!

Dia berhasil mencuri perhatianku lagi…

Siapa dia? Dimana dia? Aku tak tahu.

Lelaki pelangi, entahlah …

Kembali lagi dunia maya mentah kutelusuri
Jurnal – jurnal pun lumpuh
Jari – jariku beku

Bingung? Entahlah …

Tapi siapa dia? Kenapa juga mengingat dia yang tak berwujud di tengah jadwal ‘cari buku’ dan referensi?

Aneh!

Ingin bilang padanya: “tolong jang main di sapu otak dan perhatian ka”

Ingin bilang padanya: “Come on, in the next 2 weeks, I’ll have to submit my essays”

Ingin bilang padanya: “Bee, masa Il Divo pu suara saja bikin ko keluar di sapu otak tuh”


Rasa ini membunuhku.

Saat kau tak tahu siapa yang kau rindu, saat kau tak tahu siapa yang membuatmu kebingungan jatuh cinta dan tersenyum – senyum sendiri, saat kau tak tahu kenapa ada kekupu yang beterbangan dari sela – sela jemarimu

Mungkin memang musim gugur penuh dengan cinta.
Entahlah

Yang aku tahu, malam ini aku sedang jatuh cinta lagi!!!

(Chifley Library, 18 Maret 2010)

Proud to be a woman!

Di sela – sela waktu istirahat usai mengerjakan tugas, pikiranku kembali berlari pada hidupku dan apa saja yang membuatku nyaman dan berterimakasih untuk hidupku. Bukan karena sekarang aku bisa bersekolah dan tinggal di luar negeri dan tak memikirkan bagaimana kemampuan finansialku dipenuhi secara gratis oleh pemerintah benua ini. Bagiku itu hanya sebuah potongan kecil dari hidupku yang layak kuhargai tapi lebih dari itu, aku bersyukur bahwa aku, seorang perempuan, masih bisa hidup dalam kenyamanan, keamanan dan bisa mengemukakan pendapatku. Pada sisi ini aku bisa bilang aku merasa begitu diberkati.

Minggu lalu, tepatnya tanggal 8 Maret 2010, di planet ini ada perayaan yang berjudul “the international women’s day’ dan di hari itu, aku malah bergidik membaca sebuah berita dari Meksiko yang bertemakan “Femicide”. Iya sejenis pembunuhan dan kebencian tanpa alasan yang jelas yang hanya ditujukan kepada perempuan, dengan sebuah alasan sederhana, karena makhluk Tuhan itu tercipta berjenis kelamin perempuan dan akhirnya menjadi target kejahatan. Umumnya pada perempuan – perempuan muda. Yang semakin membuatku miris, bahkan aparat keamanan tak bisa berbuat apa – apa. Aku kerap mendengar tentang genosida dll karena toh tempat dimana aku tinggal akrab dengan kata itu’pembersihan ras’ atau apalah. Tapi femicide alias femisida bagiku sebuah kata baru. Aku hanya bisa menahan napas, sebegitu burukkah peran perempuan di mata lelaki berpaham misogini itu. Setiap orang tak bisa memilih jenis kelamin mereka dilahirkan karena semuanya tergantung pada bagaimana proses konsepsi mereka.

Yang aku tahu, tak ada yang salah dengan menjadi perempuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Tak ada yang salah dengan menjadi perempuan yang harus rajin menghitung hari pelepasan sel telurnya dan selalu menyisihkan duit membeli (maaf) pembalut. Tak ada yang salah dengan menjadi perempuan yang suka mematut diri di depan kaca dan bergaya riang ataupun tertawa genit. Tak ada yang salah dengan perempuan yang bisa mengeluarkan emosi dengan luapan air mata dan tangis mendayu ataupun menjerit. Semua itu normal bukan, karena toh Tuhan menciptakan kita dengan kelengkapan proses biologis dan emosi.

Pada titik ini aku masih tetap bertanya dan terus bertanya, apakah para pria penganut misogini itu yang dalam gradasi serius hingga biasa – biasa saja bisa melihat bagaimana makhluk Tuhan yang paling indah ini hidup. Seberapa banyak mereka peduli tentang nasib para buruh perempuan di luar sana yang kadang selain dieksploitasi secara fisik harus juga menanggung pelecehan seksual dan lain – lain hanya karena mereka perempuan. Kadang aku berpikir, ingin sekali seperti Jim Carey dalam film Bruce Almighty, dan membuat 1 hari khusus dimana para lelaki di belahan dunia ini bisa sehari saja merasakan emosi dan mengerjakan pekerjaan perempuan, alias aku akan mentransfer jiwa dan roh mereka ke tubuh para perempuan dan membuat mereka melihat bagaimana hidup sebagai perempuan.

Aku bukan pencerita yang baik, tapi hidup di tatanan kehidupan budaya patriarki, aku belajar banyak untuk menjadi perempuan yang kuat. Aku bersyukur mendapat orang tua yang tak terlalu mempersalahkan jenis kelaminku tapi aku toh tetap saja masih berbenturan dengan lingkungan kala mempertanyakan beberapa ketidakadilan yang kulihat bahkan sering beradu argumentasi dengan kakak lelaki untuk peran perempuan dan perdebatan kami sering berakhir dengan sebuah perseteruan. Bagiku, tak ada aturan apapun yang bilang bahwa perempuan harus berada di bawah lelaki. Bagiku, Tuhan menciptakan perempuan dan lelaki dalam sebuah kesempurnaan dan kesetaraan dan menjadi partner, bukan menjadi pembantu apalagi budak.

Entahlah, apakah aku terlalu aneh dengan konsep berpikirku, tapi yang kulihat di luar sana, masih banyak perempuan yang terbudak penjajahan kasat mata, mulai dari kemampuan menentukan sikap, mengemukakan pendapat dan bahkan hak untuk hidup.

Panggil aku pemberontak tapi bagiku, aku bukan seseorang yang setuju dengan konsep menyalahkan perempuan untuk konsep original sin di taman Eden. Walau aku seorang Kristen, tapi bagiku, konsep itu adalah sebuah kisah tentang bagaimana Tuhan memberi gambaran tentang MENGAMBIL KEPUTUSAN. Bukan salah si Hawa kalau ia tergoda dan dijadikan pemicu kesalahan yang sering kudengar menjadi salah satu alasan para lelaki menyalahkan perempuan tentang dosa. Ingin sekali bilang, “Hei Man, wake up and smell the coffee”. Toh si Adamnya sendiri yang tak bisa berpikir matang dan ikut – ikutan, lelaki tanpa kredibilitas bagiku atau biarkan kusebutkan dia ‘lelaki tanpa integritas’. Karena satu hal yang dapat kugaris bawahi dari kisah itu adalah Adam adalah lelaki pengecut yang bahkan tak mau berterus terang dengan lapang dada tentang KEPUTUSAN yang dibuatnya tapi malah menyalahkan Hawa. Ahhh, bukankah itu sebuah sifat manusia yang masih kerap kulihat dalam hidup ini.

Kala sebuah perkawinan tak membuahkan anak ataupun tak ada anak lelaki, sang perempuan yang dituduh tak subur, tak mantap bercinta, tak bisa menjaga kesehatan.

Kala makanan di meja tak tersedia tepat waktu, perempuan dituduh tak cekatan, tak lincah dan tak pandai mengatur rumah tangga.

Kala anak – anak tak tepat waktu mandi dan lain – lain, nilai – nilai pelajaran jeblok, dan lain – lain, perempuan dituduh tak becus menjadi istri, ibu dan pendamping.

Sedangkan berapa banyak yang dilihat lelaki dari kerja keras para perempuan? Seberapa banyak para lelaki menghitung kerja keras perempuan dalam konversi digit Dollar ataupun Rupiah?

Masih banyak kulihat dan kutemui para lelaki “berotak nangka” dan “hanya sekumpulan daging tanpa otak” yang hanya berpikir bahwa perempuan hanyalah objek seks, mesin pencetak anak, dan tak lebih dari partner seks.

Padahal berapa banyak yang pernah belajar tentang keindahan struktur tubuh perempuan secara biologis, bagaimana setiap jaringan dibentuk dan berkembang, bagaimana tubuh mereka bisa memuai dan menyusut secara alami saat hamil, bagaimana kehidupan bisa bertumbuh dengan indah dari sebuah titik yang lebih kecil dari biji gersen, bagaimana waktu dan kesabaran perempuan ditumpahkan menahan kantuk menjaga bayi mereka dan tugas – tugas lainnya yang bahkan bagiku terasa begitu berat tapi toh ada banyak perempuan di luar sana yang mengorbankan impian mereka, masa depan dan kesenangan mereka demi kebahagiaan lelaki dan anak – anak mereka.

Mungkin tulisan ini terlalu personal dan subjektif tapi aku percaya, walaupun ada para pria – pria misogini di luar sana, tapi toh Tuhan tak pernah lupa menempatkan dan membentuk lelaki – lelaki lain yang bisa dan dapat menghargai perempuan sebagai rekanan yang setara. Aku kenal salah seorang diantaranya yang hingga saat ini masih dan akan terus menyemangati dan menginspirasiku untuk tetap bertahan hidup. Aku percaya, walaupun apapun yang terjadi, suatu hari nanti aku akan bertemu ‘Lelaki Pelangi’ku yang bisa menghargai keunikanku dan bisa memberikanku ruang untuk bergerak dan menjadi diriku sendiri dan menghargaiku sebagai P-E-R-E-M-P-U-A-N.

Tapi aku tak akan pernah berhenti bicara, menulis dan berpendapat bahwa masih banyak perempuan yang ‘diperbudak dan dijajah’ jaring – jaring kasat mata di luar sana, hanya karena pandangan sempit para penganut misogini dan sistem patriarki murni.

Bagiku, Tuhan menciptakan perempuan dan lelaki sebagai entitas yang berbeda karena Ia menyukai keragaman, menyukai keindahan yang majemuk. Aku tak bisa membayangkan kalau dunia hanya diisi oleh para lelaki ataupun para perempuan saja. Tak akan ada para bayi mungil yang lahir dari rahim perempuan, dan tak akan ada kisah romantis ibarat Romeo dan Juliet yang tercipta.

Andai saja para lelaki penganut dan pemuja patriarki plus yang menganut misogini sadar bahwa tak ada yang salah dengan perempuan.

Aku teringat sebuah perkataan lama yang kembali diafirmasi oleh Annie; mantan tutor dan juga teman di Canberra bahwa “di balik kehebatan seorang lelaki selalu ada peran perempuan yang hebat, dan dibalik kehebatan perempuan, selalu ada peran lelaki yang hebat” dan bagiku aku teringat perkataan Joan Baez tentang perempuan: “Instead of getting hard ourselves and trying to compete, women should try and give their best qualities to men - bring them softness, teach them how to cry.” Karena toh aku percaya bahwa perempuan begitu beruntung diberikan sebuah pemberian yang kadang membuat kita menjadi kuat; air mata.

Aku bangga menjadi perempuan, dan tak akan pernah mau berganti kelamin ^_____^

Bagaimana dengan anda?

(Canberra 16 Maret 2010; pemikiran tak tentu arah usai menghabiskan 2 esai yang rumit)

I'm in Love

Mengingat dia yang entah tak berwujud
Mengingat dia yang sering kutemui dalam mimpi
Mengingat dia yang sukses mencuri perhatianku kali ini

Apakah dia lelaki pelangiku?

Hingga esai – esaipun lumpuh dalam bentangan layar elektronik
Dan kekupu di hati terbang riang bermain tali
Burung – burung sibuk memamerkan tarian baru
Dan mentari hangat membuatku tertawa

Ah lagi jatuh cinta, entah pada siapa, entah dimana, entah bagaimana

Mungkin memang dia sedang memikirkanku? *berharap mode: ON
Mungkin memang dia sedang membisikkan namaku? *berkhayal mode: ON
Mungkin memang hatinya dan hatiku sedang terhubung dalam pertalian kasat mata? *konspirasi mode: ON

Entahlah …

Yang aku tahu hatiku sedang tertawa
Bak kanak – kanak riang di padang hijau
Berlari kesana kemari
Tertawa riang

Yang aku tahu aku sedang jatuh cinta
Ataukah bertumbuh dalam cinta

Bahkan esai dan potongan nilai 10% tak sanggup berhenti membuatku merasa nyaman
Bahkan tumpukan buku teks ini tak mampu membuatku berhenti tersenyum di depan layar komputer jinjing
Bahkan jempol bengkak bertabur nyeri ini tak bisa membuatku merasakan nyeri kala diriku sedang dipeluk aura cinta

Aku jatuh cinta!!!

Benar – benar jatuh cinta.

Tak tahu pada siapa.
Dan tak mau tahu.

Yang pasti, aku sedang jatuh cinta!!!

Nyaman mode: ON

Jatuh cinta: Aktif

Aku bahagia!!!


(Menzies Library, 15 Maret 2010)

How did I fall in love with you

Kenapa sih ada rasa yang seperti ini? Membuat perhatianku tercuri dan tumpukan buku teks sia – sia?

Kenapa sih ada rasa yang seperti ini? Membuatku tak bisa fokus kala hatiku memainkan melodinya?

Aduh kan sudah kubilang tak boleh lagi jatuh cinta dalam beberapa bulan ini, kenapa sih malah sama dia ya rasa suka ini ada?

Come on, May. It’s been 3 years ko kenal dia, kenapa juga ko terpesona sama dia sejak ketemu ka? Apa karna de tuh cowok terhangat yang bisa ngomong tentang keluarga dan sodara – sodaranya? Apa karna de cowok yang membuat ko nyaman sejak pertama kali ketemu dia? Apa karna dia ko jadi makin gila dulu mengejar beasiswa ini ke negara benua? Entahlah

Entahlah dan sa juga tra tau .. tapi sa kayaknya takena ‘kata – kata’ sendiri ..

Tobat!!! Alamak!!

Kenapa jadi begini ka?

Sa tahu kalo sa pu hati tra akan pernah lagi sama kalo pulang.

Kena batunya toh skarang!!!

Ah andai sa bisa sedikit lebih asertif

Tunggu sa kumpul nyali2 pecek nih biar akan kras dulu ka bagaimana.

Satu yang pasti, malam ini sa rindu de skali oooooo

P.S. Thanx karna selalu percaya kalo sa bisa capai sapu mimpi dan juga bersedia mendengar sapu mimpi2 yang gila dan memberikan sa ‘a walk to remember’ ^_^

(12 Maret 2010)

Tuesday, 2 March 2010

Mereka Bilang, Aku Bilang

Mereka bilang, “Kita bersaudara!”
Mereka bilang, “Kita sama!”
Mereka bilang, “Kita satu!”

Aku ragu!!!

Mereka bilang, “kita sama!”
TAPI
Kulihat mereka mencibir kala kami bertemu, melihat rambut, kulitku, kepercayaanku yang berbeda. Menertawakan dan melabelku “tak sopan, tak modern, manusia jaman batu, kampungan!’

Mereka bilang, “kita bersaudara!”
TAPI
Kulihat mereka datang, mengambil sumber panganku, mengobrak – abrik makam dan tradisi leluhur, menculik anak, teruna, lelaki dan perempuan kami yang entah sekarang berada di mana.

Mereka bilang, “kita sepaham!”
TAPI
Kulihat kami ditembaki, diancam, disiksa, dibunuh, diabaikan, diteror karena kami ungkapkan isi hati kami secara jujur.

Mereka bilang, “kami peduli!”
TAPI
Kulihat mereka mengambil tanpa kami, merusak lingkungan, membagi hutan dan laut kami bagaikan kue ulang tahun, mengambil isi perut bumi kami berpijak, demi membangun tanah mereka. Yang kupunya dan tersisa hanyalah gunung hancur, laut kotor terpolusi, kebebasan yang hilang, roh nenek moyang yang raib dan kesulitan mencari makan.
Mereka bilang, “kami tahu yang terbaik!”
TAPI
Yang kulihat mereka menghancurkan warisan terbaik dari nenek moyangku, memberi batasan kasat mata, menuntun ke jalan kehancuran, memaksa kami untuk bodoh.

Aku heran!!!

Saat aku bicara, aku ditangkap!
Saat aku bertanya, aku diringkus!
Saat aku mencari tahu, aku diteror!
Saat aku protes, aku dibungkam dan dibunuh !
Saat aku berkumpul dengan para ‘aku‘ lainnya, cap ‘makar, separatis, pemberontak!‘ ditorehkan di dahi kami.

Nurani telah mati, tersuruk di akar – akar pohon kehidupan.
Nurani telah mati, tenggelam di lorong – lorong sunyi hati anak negeri.
Nurani telah mati, terdiam dalam jalan – jalan sepi kalbu.

Selamat datang di duniaku, dunia penuh kata “kami berbeda, unik, dan tak akan pernah sama!“


(Chifley lawn, 2 Maret 2010, 3 p.m/ Terinspirasi kala tengah membaca kisah ‘para aku’ di buku “An act of Free Choice: Decolonization and the Right to Self-Determination in West Papua”, English edition, karya Dr Pieter Drooglever dan mengingat ‘tete’ yang jauh di sana, yang dikenal hanya lewat buku”