Search This Blog

Loading...

Sunday, 28 February 2010

Rekan perjalanan

Minggu siang ini sambil memantau siaran radio Kristen di kotaku, tiba – tiba sebuah pikiran berlari di kepalaku, “how do you measure the capacity of you life? How do measure you life? How do measure your happiness? How do measure yourself?” dan tiba – tiba aku mendapati bahwa aku masih dalam sebuah perjalanan panjang yang bernama ‘hidup.

Aku mungkin tak tahu Tuhan membawaku ke arah mana. Apakah jalan setapak penuh lumpur tetapi penuh keindahan alam di kiri kanan ibarat di hutan – hutan hujan tropis di pedalaman Papua yang pernah kulewati, ataukah lewat jalan raya yang menerobos hutan berkabut dan diterpa hujan deras dan angin hingga tak bisa melihat jalan raya di depan dan hanya mengandalkan cahaya lampu dari kendaraan lain seperti perjalanan 3 minggu lalu bersama bro J. Apakah seperti jalur laut di tepi pulau – pulau kecil di teluk Cenderawasih yang indah dengan laut dangkal penuh koral warna – warni bak perjalananku beberapa tahun lalu dengan para teman di komunitas lingkungan hidup, ataukah malah seperti perjalananku bersama teman - teman dengan speedboat di aliran sungai Kohoin yang penuh lumpur dan buaya. Masih tetap berpikir, apakah jalannya akan seperti jalan berliku bagai ular seperti saat ke Anggi dan melihat keindahan alam yang tak bisa dilukiskan dengan kata – kata walapun jalannya curam dan hampir terperosok ke jurang?

Aku tak tahu dan sebenarnya tak ingin tahu (tentang jalan itu).

Yang aku tahu adalah terlepas bagaimana jalannya, sekasar, securam apapun jalannya, yang aku perlu tahu adalah dengan SIAPA aku berjalan?

Aku tahu dengan SIAPA aku berjalan selama ini.
Aku tahu SIAPA yang selama ini ada bersamaku, menguatkanku.

Kala terombang – ambing dalam perahu Johnson yang mati mesin selama 2 jam di sebuah petang menjelang malam di perairan teluk Cenderawasih tahun 2007.

Ia menunjukkan padaku bahwa pulau – pulau kecil di dekat perahu yang terombang – ambing dibawa ombak begitu cantik, dan seburuk apapun kondisi yang terjadi, aku akan punya pengalaman tinggal dan merasakan pagi di pulau – pulau surgawi itu.

Kala mati mesin di aliran sungai Kohoin, Sorong Selatan di tahun yang sama.

Ia yakinkan ku untuk melihat dan menikmati hamparan bakau dan kecantikan hutan perawan di kejauhan.

Kala hampir jatuh ke jurang dengan mobil land cruiser saat bepergian ke Anggi.

Ia menunjukkan padaku keindahan alam yang selama ini aku tak pernah berpikir bahwa keindahan seperti itu begitu eksis di dunia ini, keindahan yang tersembunyi dan tak terekpos ke dunia luar

Kala mesin mobil mati di pertengahan antara Manokwari dan Ransiki di sore hari dan di antara hamparan perkebunan coklat dan campuran rasa lapar,

Ia tunjukkan padaku bahwa ternyata alam Papua begitu ramah dengan menyediakan subsidi makanan dan bahwa segala sesuatu yang selama ini kuperoleh hanya kuambil take for granted dan lupa bahwa semuanya indah dan patut dihargai.

Kala perjalanan pulang dari Apollo Bay 3 minggu lalu dan melewati hutan lebat berkabut dan hujan serta terperangkap dalam hujan angin yang begitu keras di sebuah jalan raya dan mobil hanya bisa bergerak lambat dan tak bisa melihat ke seluruh arah karena pandangan tertutup hujan deras dan mengandalkan cahaya lampu mobil sebagai indikator bahwa ada manusia dalam mobil,

Ia tunjukkan padaku tentang kuasa Tuhan dalam mengendalikan cuaca, memberikan perlindungan kala benar – benar pasrah dengan nasib dalam badai hujan, memberikan ketenangan bahwa semuanya akan baik – baik saja.

Aku percaya bahwa tak peduli bagaimana jalan yang kulalui, ke arah mana akan dibawa selama aku tahu SIAPA yang akan berjalan bersamaku.

Aku tahu SIAPA dia.

Seorang ‘navigator, counselor, comforter’ terbaik dalam hidup. The lover of my soul a.k.a. Jesus Christ.

(Canberra, 28 February 2010)

Saturday, 27 February 2010

Dear God, it's me again

Somewhere in Australia
10. 40 p.m.

Kulihat dia duduk di bangku besi bercat perak. Sendiri! Tas punggungnya tergeletak begitu saja. Kakinya berselonjor lurus. Sesekali tangannya sibuk menekan tombol – tombol perangkat komunikasi portable bernama telepon seluler.

Kuamati pandangan matanya yang sesekali memandang lurus ke depan, menatap bintang – bintang. Mencari Southern Cross, entahlah.

Kembali lagi nafasnya sedikit menghela pelan.

Tiba – tiba kudengar ia bernyanyi, sebuah lagu tanpa tangga nada yang dinamis. Datar!

“Dear God,
It’s me again, again.
Waiting in this bus shelter.
Waiting as I look at You,
Feel your presence

Dear God,
It’s me again, again.
Feeling so blue tonight.
As I see the stars in the sky.
Feel so small.

Dear God,
It’s me again, again.
Feel so insecure
When others judge me based on their values
Feel so insecure.

Dear God,
It’s me again, again.
Feel so insecure tonight
But your presence comes so closer
And I feel You.

Dear God,
It’s me again, again.
Trying to find the way to my soul.
Trying to reach the depth of your plan invested in me.
As I try to find my way back to You, through trials and tribulations.
Up and down, stumble and fall.
In the end, It's me and You.
We'll dance, I promise.
It's me again”

Sambil melihatnya menyanyi lagu itu dengan nada sendu, kuperhatikan jalan raya yang lengang. Bahkan hingga bis terakhir pun tiba dan menjemputnya, kulihat dari balik kaca bis yang lengang, di deretan kursi belakang, ia masih saja bernyanyi.

“Dear God, it’s me again .. again.”

(Canberra, 26 February 2010)

Wednesday, 24 February 2010

Catatan Day 3 Melbourne 2010 (Great Ocean Road)

Sambil nongkrong di perpustakaan khusus Asia – Pasifik, di sela – sela waktu membaca buku teks yang kali ini sangat kusuka; tentang sejarah dan politik, pikiranku terbang kembali ke pengalaman Jumat 12 Februari 2010. Saat memutuskan pergi ke Apollo Bay. Ditemani musik lembut, kucoba merangkai apa yang tersisa dari sana. Mencoba mendokumentasikannya walau aku tahu, jauh di sana, di dalam otakku, semuanya terekam dengan baik. Benar – benar a walk to remember. Truly madly deeply do.

Catatan ini mungkin sangat personal pada beberapa sisi. Jujur di tanggal ini, aku benar – benar menemukan diriku kembali; yang cinta mati petualangan dan perjalanan. My passion for it is in my blood!

Cheers,

Maya

=====================

Jumat 12 Februari 2010

8 a.m.

Seperti biasa, aku bangun dan mendapati Andre sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Masih tetap sama; egg dan bacon. Bro J kulihat juga sibuk di depan komputernya. Aku masih malas – malasan. Hari ini kelihatan mendung dan tubuhku juga sedikit kecapaian karena kemarin sore hujan – hujanan di Footscray.

Aku memilih pergi ke beranda belakang dan nongkrong. Tawaran brekkie dari Andre dan J kuacuhkan. Hari ini aku dan J akan berangkat ke Apollo Bay, sekitar 2 – 3 jam perjalanan dengan mobil. Tapi aku sebenarnya sedang gelisah, tak sabar menghitung jam untuk ke sana dan melihat pantai. Sangat tak sabar. Apalagi aku kerap kali mendengar tentang Great Ocean Road. Sangat tak sabar.

Tak lama, Andre dan J bergabung di beranda belakang dan mengobrol denganku. Membahas rencana. Andre katanya akan bergabung dengan J di Buck’s party. Usai mereka menghabiskan brekkie mereka, J pamit. Mamanya akan berangkat ke kota lain dan ia bertugas ke bandara untuk mengambil mobil mamanya. Sedianya mobil Ford itu akan menjadi sarana transportasi kami. Aku diminta menunggu di rumah ataupun mengisi acaraku dulu hingga makan siang.

9 a.m.

Ogah – ogahan, kukenakan pakaian kebangsaanku, yang warna – warni. Hadiah dari housemateku Lisna kala pulang dari Jakarta, bermotif tied-dye warna – warni. Bagiku sangat khas India.

Usai mandi, kebetulan Nadine, si cewek Jerman itu ada di dapur. “Aku ingin mengeksplorasi areal High Street. Kamu masih ada di rumah kan?”, tanyaku. Aku tak punya kunci rumah. That’s all.

Dengan berbekal kamera, dompet, payung dan juga dompet mini, kulangkahkan kaki menuju jalan raya. Ternyata High Street lumayan jauh. Kiri – kanan yang ada hanyalah bangunan ruko dan perdagangan. Tapi karena Melbourne adalah kota yang begitu klasik, kadang bangunan – bangunan tua tersembul di balik jalan raya dan aku sempat mengabadikan beberapa bangunan tua itu. termasuk sebuah bengkel yang mirip kastil abad pertengahan. Cantik sekali!

Hampir 30 menit berjalan kaki. Perutku juga ternyata lapar karena toh aku tadi ogah makan pagi. Saat sedang asyik menatap beberapa bangunan dan juga mengidentifikasi restoran terdekat, mudah – mudahan ada Asian Restaurant (yang sayangnya tak ada *sedih) karena beberapa hari hanya makan roti, telepon genggamkku berbunyi. “Hi, what’re you doin’? Wandering alone in High St?”, tanya bro J. Sambil diikuti dengan tawanya yang khas. Aku bingung apa dia sudah pulang ke rumah? Kembali lagi ia bilang, “Hi, look around you, I’m quite close to you.”, kali ini dengan tawanya yang lebih besar. Sambil celingukan mencari asal suara, kulihat dia berhenti hanya 5 meter dari tempatku berdiri. Bule Jerman ini ternyata sedari tadi sudah berhenti memperhatikanku yang sibuk menatap bangunan.

Tak perlu lama, aku pun sukses masuk ke Ford Biri Tua itu dan medapat tur singkat pengenalan daerah. Jadi sekitar 20 menit dipakai untuk berputar – putar di Northcote, melewati gang – gang dan jalan – jalan kecil. J yang memang sangat berbakat menjadi pemandu menjelaskan beberapa tempat. Tiba – tiba mobil kami berputar ke sebuah tempat yang kupikir sangat familiar. Ternyata memang benar. Ia membawaku ke seorang kenalan lama lainnya. Benar – benar kejutan bahwa ternyata rumah mereka berdekatan.

Usai tur singkat dan say hi di kenalan lama, J kembali mengingatkanku kalau kami akan pergi usai makan siang. Kulirik jam di layar ponsel, masih jam 11. Masih punya waktu 2 jam. Jadi kuminta dia menurunkanku lagi di High St karena aku masih ingin berjalan kaki dan merasakan denyut kota ini.

Aku menikmati sekali berjalan kaki di sepanjang pertokoan kecil dan tua, bertemu banyak tampang Mediterania dan Anglo-saxon. Jarang kulihat orang Asia di jalan, bila dibandingkan dengan di Footscray kemarin. Iseng – iseng aku menyempatkan masuk ke sebuah toko barang – barang murah, sejenis bargain shop. Lumayan, 2 buah kartu lucu bergambar Koala dan Kangguru minum bir berhasil kubeli. Hanya AUD $ 1.

Aku juga menyempatkan diri singgah di sebuah plaza di Northcote. Baru sadar kalau rumah bro J dekat dengan plaza. Menikmati aura belanja yang benar – benar ‘Asian limited’. Bukannya apa, kadang juga jengah melihat populasi Asia yang banyak ditemukan di CBD. Multicultural sih multicultural, tapi kalo jalan dan masih bisa mendengar bahasa ‘ajaib’ yang singgah di kuping, seperti another Asian City deh ^_^ *pendapat pribadi (that’s why I choose Canberra ^_^)

Tiba – tiba teringat bahwa aku belum makan. Mataku menangkap iklan “Fish and Chips”. Tak menunggu lama, aku masuk ke kedai makan itu. Aku sempat gugup karena ternyata menu yang ditawarkan begitu beragam. Selama ini aku hanya makan fish and chips yang standar. Ternyata di tempat ini banyak variasi ikan, seafood dan bumbunya. Yang ada kenyang sungguh mati, mana porsinya besar lagi. Jadi aku memutuskan membawa pulang 2/3 porsi ^_^

12 something

Bro J ternyata sudah di rumah. Semua peralatan camping, fishing dan tas pakaiannya sudah diatur di depan rumah. Tanpa banyak bicara, aku segera mengepak barang yang hendak dibawa. Tak banyak. Memastikan semua berjalan dengan baik. Saat semua sudah siap, tak lupa kumasukan fish and chipsku yang ternyata sudah ‘dikorupsi’ bro J saat tahu itu ‘Fish ‘n chips’ .

***

The beginning of My adventure *love is in the air

Bila ingin ke Apollo Bay, aku dan J harus melewati sebuah highway yang menuju ke Geelong dan aura petualangan pun langsung mengisi mobil.

Saat kendaraan sedikit lambat di highway, J sedikit keki dengan orang – orang yang lambat. Mobil pun merayap dan aku tergagap dengan kondisi flat battery di ponselku. Berdoa sungguh mati supaya jangan keburu padam sebelum keburu memperbaharui status *narsis mode: ON

Akhirnya terbebas juga dan yang ada J mulai kembali melajukan mobil, 100 KM/jam … Jiah. Maunya sih lebih tapi berhubung di beberapa areal ada kamera sensor penangkap kecepatan, maka ya terpaksa 100 KM/jam lah. Aku kebagian memilih lagu apa yang hendak diputar. Berhubung hanya aku dan J yang jadi penghuni mobil itu. Ternyata koleksi CD J lumayan banyak, dan pilihan musiknya juga unik. Tak ada emo musik. Tak ada rock. Yang ada musik etnik modifikasi, musik dalam bahasa asing (Portugis, Afrika, Timur tengah, Asia something, pacific, reagae dll dan bukan yang TOP 40 radio hits). Aku menikmati betul bagaimana dia mereferensikan album penyanyi dari Portugis dan yang ada kami berdua menyanyi dengan menirukan suara penyanyi yang ‘unik’. Sangat lucu!! Apalagi lagi itu diikuti dengan bunyi tepuk tangan, hentakan kaki dan beatbox plus sejumlah onomatopoeia. Tentu saja J dan aku masih sempat menggoyangkan badan di dalam mobil dan sesekali keisengannya kumat dengan berteriak dan mengacuhkan tangannya menantang kamera sensor kecepatan. Tentu saja tanpa “F-word” pose ^_^

Tak berapa lama sebelum tiba di areal Geelong, J memutuskan singgah di sebuah gas station. Kebetulan ada sebuah mini market.
Anak seorang rekan J baru saja tabrakan dan ia ingin menelpon menanyakan nasib remaja itu. Kata J lumayan parah karena siang ini baru saja selesai operasi karena tabrakan frontal. Jadi usai J membelikan coke untuk kami berdua, ia pun sibuk bicara dengan temannya. Yang ada aku kabur ke toilet, berkeliling gas station dan sibuk memotret J dan lingkungan sekitar. 20 menit istirahat di Gas Station pun berakhir kala J dan aku masih sempat – sempatnya berfoto sendiri.

Road trip pun kembali dimulai. Musik pun berganti lagi. Di luar sana, langit terbuka membuatku merasa begitu bebas. Begitu bahagia. J sibuk cerita tentang kekonyolan di Chili kala koin mata uang mereka ternyata ejaannya salah, untuk merujuk ke nama resmi negara dan konyolnya, kata J, baru ketahuan usai 2 tahun sejak koin dilemparkan ke pasaran. Yang ada pasti nasib pembuatnya akan dipecat.

Pagar warna – warni di luar sana begitu menggoda. Pembatas kebisingan, kata J. Kami sudah berada di areal Geelong. Saat melewati sebuah ruas jalan, J spontan cerita dan memperlambat laju kendaraan. Ia ingin menunjukan di mana masa high schoolnya. Saat high school, J tidak tinggal di rumahnya di Apollo Bay tetapi tinggal dengan kerabatnya yang sesama orang Jerman di daerah sana. Kata J, mereka punya farm kecil – kecilan. J bilang ia cukup familiar dengan tempat ini dan sesekali menunjukan dimana dulu tempat nongkrongnya. Sambil sibuk mengidentifikasi di mana ia tinggal dan sibuk menunjuk sana – sini dari dalam mobil, kami kembali lagi melaju.

Tiba – tiba J bertanya padaku, apakah aku sudah siap melihat Great Ocean Road. Aku yang memang cinta mati suasana pantai refleks mengiyakan. Aku bilang satu hal yang kurindukan selama tinggal di Australia adalah bisa melihat laut dengan lepas, bebas dan menghirup udara garam. Sesuatu yang tak kudapatkan di Canberra yang kering.

Melewati bebukitan dan lembah, melewati pepohonan Eucaliptus di pinggir jalan, cerita pun mengalir lagi. Mulai dari Great Ocean Road, mulai dari koala dan kangguru, dari kebakaran hutan hingga kenangan masa kecilnya di Apollo Bay.

***

Great Ocean Road

Saat melewati sebuah tanjakan bukit, J spontan berteriak padaku, “Ayo buka jendelanya. Cepat!!!”. Aku refleks menurunkan kaca jendela. J hanya bisa tertawa kala menyuruhku menengok ke luar, jauh di sana bunyi ombak dan bentangan tebing dan laut. Aku ingat benar kata – katanya J, “Come on, smell the air. This is something that you miss, isn’t? Can you smell the salt?” Aku tak bisa menjelaskan bagaimana emosiku saat itu. campur aduk. Rasanya begitu bebas campur bahagia. Aku bisa kembali mencium aroma garam di dalam rongga dadaku. Puas!!!

Sambil melewati beberapa penginapan pinggir pantai dan membahas harga rumah – rumah yang dibangun di tebing – tebing, J bilang bahwa aku masih punya kesempatan membangun rumah seperti itu di Manokwari. Karna ia pernah liburan ke Manokwari dan paham daerah pesisir, ia iseng – iseng bilang ,”Ayo May, bikin rumah di pinggir pantai.”. Mungkin karena saat melihat jejeran rumah di daerah ini aku spontan bilang ingin punya rumah di pinggir pantai, yang bisa tiap bangun pagi langsung terjun ke air laut.

Aku menikmati perjalanan ini, semakin menyukai perjalanan ini, kala J tiba – tiba menghentikan mobil di sebuah tempat , yang ternyata mengarah ke pantai. Aku awalnya kebingungan. Tapi saat ia memintaku untuk turun. Aku baru sadar bahwa kami di sebuah pantai di antara Anglesea dan Lorne. Menuruni undak – undakan dari batang kayu yang dipotong, sandal kami tergeletak begitu saja di undakan terakhir. Rupanya di pantai sudah ada 2 cewek bule lain yang juga sibuk berfoto. Kamera sakuku segera difungsikan. Yang ada aku begitu bahagia. Tertawa lepas.

Berlarian ke sana – kemari, memotret ke sana kemari. Menikmati bertelanjang kaki di pantai yang bersih. Karena ingin berlari dan bermain ombak, kutitipkan kamera ke J. Rupanya aku sempat beberapa kali menjadi objek candid camera, dan ternyata J juga narsis *baru tahu usai mengecek foto – foto kala ditransfer ke komputer. Yang ada aku hanya bisa ketawa puas dan berlarian sepeti anak kecil di pantai, ketawa lepas. Berlari dari ujung ke ujung pantai. Berlari ke laut. Masuk ke air sebatas paha. Tertawa. Sudah 1 tahun 5 bulan tak bermain di pantai (terakhir ke Pantai di Manokwari bulan September 2008).

Membajak sebuah tulisan di pantai bertuliskan “Great Ocean Road” buatan 2 cewek bule sebelumnya yang telah pergi, aku sibuk berfoto ria. Aku bahagia bisa mendengar debur ombak, mencium aroma garam, melihat burung laut, mencium aroma ganggang mati, dan bertemu sejumlah kerang yang masih hidup. Di pantai yang super duper bersih ini seakan berkaca dan belajar sesuatu kala J sibuk mendapati kerang – kerang hidup yang terseret ombak ke tepian, termasuk sebuah ‘bia mata bulan’. Ia memintaku untuk mengembalikan sejumlah kerang itu ke laut, melemparnya kembali ke karang. Aku tentu saja bersukacita kembali bermain ke dalam air. Saat kembali, kudapati J sedang sibuk menarik mata kail berikan umpan udang dan pemberat serta nelon yang putus yang tertanam di pasir, matanya cukup jeli. Katanya sangat bahaya bila ada yang berjalan di pantai dan terkena mata kail itu. Bukannya apa, tak banyak rumah – rumah di seputaran areal ini, bila ada yang terkena di pantai ini, sangat fatal. J memutuskan membawanya untuk dibuang di tempat sampah terdekat. Tak lupa ia tunjukan seekor penguin mini yang mati di pantai terbawa ombak dan juga tengkorak albatross; burung camar laut.

Perjalanan kembali kami lakukan. Kali ini tak ada lagi musik dari CD. Yang ada bunyi laut dan cerita J tentang sejarah jalan di Great Ocean Road yang katanya J diperlebar kala banyak veteran PD II pulang ke Eropa dan tak punya pekerjaan sehingga pemerintah mencoba menciptakan lapangan kerja untuk mereka. Katanya di beberapa titik jalan dibuat dengan tenaga manual manusia, memahat karang. Kami juga tak lupa berhenti di beberapa tempat lookout dan memandang ke laut ataupun sekedar duduk dan berdiri menantang angin dari tembok talut yang tingginya 1 meter lebih. Aku yang sedikit ketakutan awalnya karena menatap tebing 40 – 70 meter dengan debur ombak memecah karang di bawah sana awalnya ragu, tapi karena J sudah sibuk memanjat dan nongkrong di atas dan sekali lagi menantangku, yang ada nyali pun timbul dan ternyata memang menyenangkan di atas sana dan melihat laut lepas. Kami masih sempat berfoto di beberapa titik dan di sebuah titik, kebetulan ada pasangan suami – istri yang singgah dan menjadi juru foto J dan aku.

Great Ocean Road mungkin perjalanan terseruku selama di Australia. Kala melanjutkan perjalanan dan mengagumi kelak kelok jalan sepanjang 243 KM ini (yang hanya kami lalui ½ atau 2/3nya), aku menikmati kegilaan J yang memberiku kejutan kala aku bilang bahwa jalan ini mengingatkanku untuk roller coaster, dan belum sempat aku menutup pembicaraan, yang ada mobil segera dipacu kencang dan dibuat seperti roller coaster, yang ada aku benar – benar teringat sensasi balap kala mahasiswa S1 dulu, menikmati lekuk jalan. Tiba – tiba teringat bagaimana J sempat diam kala di awal kami hendak berangkat dan ia bertanya apakah aku mau menyupiri mobil ini, yang kujawab dengan sebuah gelengan kepala bahwa aku tak bisa, dan dipatahkannya dengan sebuah argumentasi bahwa “Come on May, you have to. How can a strong opinion woman dan full of vision like you can’t do it? You have to and I know you can do it.” Tiba– tiba teringat motivasi yang sering diberikannya apalagi dulu saat sedikit hopeless kala visaku tak bisa diproses karena alasan kesehatan.

Menikmati mobil yang dipacu ibarat roller coaster, aku merasa bebas. Sensasi bebas. Begitu dekat dengan maut. Begitu riskan tapi menyenangkan. J sukses membawa kembali sensasi itu lewat ‘permainan roller coasternya’. Toh permainan kami ini dihentikan kala ia bertanya apa aku ingin makan es krim, yang tentu saja kuiyakan. Dalam perjalanan menuju Lorne, sebuah kota wisata di sepanjang GOR (Great Ocean Road), tiba – tiba pembicaraan kami merujuk kepada visi mimpi ke depan. J yang suka bercerita akhirnya bertanya juga tentang hal itu, dan aku kebetulan yang suka sekali bila diminta bercerita tentang visi dan misiku di depan, sangat terbuka berbagi ‘kekonyolan ideku’ dan J, salah seorang teman yang sejak bertemu 3 tahun lalu adalah salah satu pemberi inspirasi dan motivatorku, yang bilang bahwa aku pasti bisa.

Pembicaraan visi akhirnya nyangkut juga ke pembicaraan dan pertanyaan darinya tentang “So, when you will marry?”. Yang kujawab dengan mengangkat bahu, gelengan kepala dan jawaban yang kupikir sangat jujur, “I don’t know. Have no idea. Haven’t planned it yet. Still stick on my vision. I’m just afraid when I marry then I can’t fulfil my dreams. You know, it’s hard in my culture. You visited West Papua and you know, it’s hard when I marry and have to travel to the interior land or to the remote area, I’m afraid that my future husband may not agree with that idea. So, I still have no idea, anyway, I’ m single now so don’t wanna bother with this stuff for a while.” Dan mobilpun masih melaju dengan pemandangan laut dan tebing – tebing di bawah sana.

Kami pun sempat singgah di Lorne, yang benar – benar suasanya kota turis deh, bangunan – bangunan kayu bertingkat, para cewek berpakaian minim, pakaian warna - warni. J dan aku singgah di sebuah toko es krim. Aku ditraktir sebuah cone es krim besar. Kupilih rasa coklat dan mangga. Menikmati es krim, J mengajakku ke sebuah dermaga kayu di pinggir pantai, menikmati lelehan es krim di kerongkongan, memandangi laut lepas bertaburan manusia berbikini dan lelaki bertelanjang dada. Menyusuri dermaga kayu, tertawa lepas melihat tingkah burung – burung laut. Beberapa saat dalam hati sempat ada pikiran usil, “Boooo coba sa pu mantan – mantan pacar dulu tuh seromantis dan sebaik ini ka?” You know, Bro J makes me feel so special with such little things ^_^

Es krim pun selesai seiring acara foto – foto dan kami pun melanjutkan perjalanan. Saat berada di sebuah tempat bernama Kenneth River, sebuah kota wisata lainnya, J membelokkan mobilnya, aku bingung. “There’s something I have to do”, ujarnya. Aku yang masih kebingungan melihat kami masuk ke sebuah tempat dekat lapangan rumput, hanya bisa diam kala J menghentikan mobil dan memintaku keluar dan bilang kalau ia mau memutar mobil dan ia cuma memberikan sebuah pernyataan yang membuatku mengernyitkan dahi, “The reason we are here is on the tree.” Jadi lihatlah ke atas pohon. Pernyataan yang aneh, pikirku.

Sibuk memperhatikan pohon Eucaliptus yang menurutku sama dengan yang kulihat di Canbee, J sudah tiba dengan mobil. Sambil tertawa, ia kembali bertanya apa memang jawabannya sudah kutemukan. Aku yang sedari tadi hanya mendengar kaok burung Kakatua pun mengangkat bahu kebingungan. Masih tertawa, diajaknya aku ke bawah pohon dan membalikan badaku menuju sebuah sisi pohon, tangannya sibuk menunjuk ke atas dahan tertentu. Momen itu mungkin aku benar – benar mirip anak TK. Ketawa dan tesenyum lebar. Guess what, ternyata di Kenneth River ini, para koala pemalas itu tinggal happily ever after di pepohonan Gum tree (Eukaliptus). Yang ada aku sibuk mengabadikan momen ini.

Tak hanya sampai di situ, J mengajakku mengeksplorasi daerah lain. Berjalan kaki sekitar 5 – 7 menit, kami mulai dengan acara spotting Koala on the spot. Sambil berjalan ketawa melihat beberapa pohon dibungkus plastik bening tebal agar tak dipanjat koala, kami menemukan beberapa koala lainnya. Tapi yang terlucu adalah di sebuah pohon yang tingginya sekitar 3 – 4 meter. Ternyata ada 2 ekor koala yang tidur manis (padahal koala adalah hewan solitude yang suka menyendiri, biasanya 1 pohon hanya 1 ekor). Aku tak melewatkan kesempatan mengabadikan hewan pemalas ini; tapi karena koalanya masih saja tidur khususnya seekor yang ketinggiannya hanya 2 meter di atasku, iseng kubilang pada J, “aih pamalas skali ooo, barang ini ko tidur trus sampe. Tra laku sekali di foto,”. Otak jailnya J langsung kumat, sebuah cabang pohon yang rendah spontan ditarik dan digoyang - goyangnya agar si pemalas ini bangun, dan memang berhasil, walau sebentar dan tak kusia – siakan. Aku sampai ketakutan usai itu, takutnya ada yang melaporkan kami berdua ke pihak berwajib. Di sini kan perlindungan hewan lumayan kuat ^_^ dan ternyata kejailan J tak sampai di situ saja, tapi juga mengerjainku untuk mencium urine koala di dedaunan *lagi – lagi terjebak karena walaupun aromanya sangat khas minyak pohon ini tapi toh J sukses menyosorkannya ke wajahku … jiah :D

Kami sukses meninggalkan Kenneth River dan jujur aku bahagia bisa menikmati alam dan pantai begini rupa. Benar – benar Road trip. Di sebuah perhentian lookout, jauh di sana Apollo Bay membentang.

Ternyata masih ada kejutan lainnya yang di Apollo Bay, something beyond my imagination but really, this travel is really a walk to remember.

***

Sunday, 21 February 2010

For you

Malam ini jujur aku merasa down. Begitu down. Hingga 1 jam kuhabiskan hanya untuk menangis, mendengar musik dan berdoa. Begitu rapuh.

Tahap ini benar – benar terasa benar – benar cleaning out of my closet. Jujur aku sudah tak ingin kembali pada tahap dimana aku mengutuki diri dan merasa kosong. Kembali pada tahap dimana semua titik kekosonganku berkisar pada seseorang itu.

Usai menangis dan memutuskan untuk membaca Alkitab, kutemukan sebuah pembacaan di Luke 9: 50 dan dalam kitab Good News Bible itu, ada satu kalimat yang menguatkanku malam ini, isinya:

“Whoever is not against you is for you.”

Aku seperti diingatkan bahwa ini hidupku. Aku yang menentukan untuk mengambil semua perkataan yang berujung pada kekecewaan atau tidak. Aku yang menentukan untuk mau tetap mendekat ataupun menjauh dari sumber penyebab hilangnya sukacita atau tidak.

Kalimat ini membuatku kembali pada titik bahwa “OK, kalo begitu memang kesimpulannya, She’s not for me. GET REAL, May! You love her but maybe the way to express your love is by staying away from her. You can keep praying to her … but sometimes, you need to spare sort of physical distance. That’s all, rather than you express your anger straightly and hurt her more. It’s not a tug-o-war, May”.

Thanx Jesus karena membuatku tidak melakukan hal gila malam ini, walau tadi aku menyadari adanya sebuah pikiran yang tiba – tiba berkelebat tentang bunuh diri. Gila sekali ‘roh gila’ itu menyelinap di pikiranku tadi, sepersekian menit kala menangis tadi. Thanx Jesus karena Kau menyadarkanku bahwa Kau telah bayar harga Cash, tunai tanpa cicilan untuk diriku.

Jesus, I’m ready to fight in Your name again.

I’ll try to let it go, all this bitterness. I reckon that I need to chat with you before I sleep. Many things to share. Many stories I want to tell. When will I see you, God? Can’t wait for the time. I promise I’ll dance.

Satu yang pasti, Jangan pernah ragu ya untuk mengingatkanku kala aku mulai berpikiran aneh ^_^

Miss U, God. Truly madly deeply do!!!

(Canberra, 21 February 2010)

A Letter to her

You never know how hard I try to stand on and fight my right.
You never know how much I try to prove that I am deserved for your love.
You never know how much I try to keep my self straight and pursue my dream just to be accepted.
You never know!!!

Kalo memang sa tidak pernah menjadi bagian dalam ko pu hidup, tidak perlu telpon sa too. Kenapa ka setiap kali ko telpon pasti begini, dan sa pu emosi yang kacau balau. Ko tahu, sa su bahagia di sini,sa bahagia jauh dari ko. Sa bahagia bisa kejar sapu impian. Ko kan tra pernah tahu apa yang sa inginkan sejak kecil karena toh ko tra pernah peduli sama sa.

Apa sa memang benar – benar pernah berbagi nafas deng ko? Sa tra tau. Sejak kecil sa selalu bertanya, kenapa ko pu perlakuan ke sa selalu berbeda dan seiring deng waktu.,sa belajar untuk bisa terima sa pu kondisi. Tapi sulit. Sangat sulit.

I want to escape from u forever.

Sa tidak ingin benci ko. Sa sayang ko tapi kenapa ko tra pernah sekalipun menganggap sa tuh ada ka. Kenapa sa tidak pernah ko bela. Kenapa sa harus selalu jadi yang pihak yang mengalah ka? Sa capek diam, karena tiap kali sa bicara, yang ada semua salahkan sa. Sa macam orang terhilang sekali.

Ko dimana dulu waktu dong perlakukan sa seperti hewan?
Ko dimana dulu waktu dong pu kelakuan mengancam sapu kehormatan diri?
Ko dimana waktu sa pu tubuh hampir kehilangan nilai?
Ko dimana waktu sa merasa tertekan dan beberapa kali mo bunuh diri?
Ko dimana???

Kalo memang sa bisa kembalikan ko pu kromosom, sa akan kembalikan.
Sa tra suka hutang budi.
Sa tra suka terikat dalam ko pu hirarki.
Sa tra suka menjadi bagian dari ko, jujur!!!

Kenapa sa tra pernah bisa ko perjuangkan untuk ko bela?
Kenapa harus demi orang2 tertentu sa harus selalu mengalah.

Sa tahu dulu sa bukan yang ko inginkan.
Mungkin sa memang cuma ko pu proyek uji coba kan?

Ko tra tau, betapa berat sa waktu kecil hanya ingin membuktikan kalo sa layak dicintai?
Membuktikan bahwa sa bisa bikin ko bangga dan peluk sa atau setidaknya banggakan sa?
Tapi selalu sama kan hasil akhirnya.
Sa tidak pernah ada di ko pu hati.
Selamanya tidak pernah ada.

Sa tra peduli orang mo bilang sa apa.
Sa su cukup kenyang bertarung sejak lama deng barang ini.

Ko tahu, sa beberapa minggu lalu nonton film ‘Precious’.
Pada satu sisi sa macam lihat kembali ke dalam film itu. Macam sa ingat sa langsung ooo.
Ko tra pernah tahu betapa beratnya jadi diri sendiri.
Mungkin untuk jadi diri sendiri memang tong dua harus jauh eee.

Apakah sa memang tidak pernah bisa jadi seseorang yang bikin ko bangga?
Sa cape mengais kasih sayang.
Sa cape buktikan diri.
Sa cape sekali.

Ko tahu, sa selalu berharap dan berdoa, suatu hari sa tra mo jadi seperti ko.
Sa ingin bisa tegas, bisa mandiri, bisa hargai orang lain dan tra mo ulang apa yang sa rasa dulu.

Ko kemana ka selama ini?
Tra usah peduli suda sama sa.
Sa masih bisa hidup tanpa ko.
Sa bisa atasi sa masalah sendiri.
Sa bisa simpan sa pu luka hati sendiri.
Sa masih kuat untuk angkat sa wajah dan berjuang untuk apa yang sa percaya.

Ko tra pernah mengerti sa.

Sa capek mengais ko pu kasih sayang, ko tahu.

Sa berhenti!

Tolong jang ganggu sa pu hidup lagi.

Ko tra pernah percaya sa.
Ko tra pernah bisa percaya sa pu kata – kata dan pendapat.
Kenapa ko selalu lebih suka dengar orang lain yang bicara ka?

Sa capek harus selalu menjawab pertanyaan – pertanyaan basi sejak lama.

Ko tau sa tra pernah baik – baik saja dalam hubungan deng ko.

Ko kenapa tra pernah anggap sa normal, bahkan ko tahu, ko bikin sa hati hancur sekali kala ko masih mempertanyakan sapu orientasi seksual tuh.

Apa sa tra layak memang untuk dikasihi.

Ko tahu, sa su berhenti berharap sejak lama.

Sa cuma minta, ko BACK OFF dari sapu hidup.

Jang sibuk baurus sa, jang sibuk nasehat sa. Sa capek.

Sa cuma perlu orang yang bisa kasi tunjuk sa jalan yang bisa bikin sa kuat, yang bisa bela dan terima sa apa adanya.

Dan ko G-A-G-A-L!!

(Canberra, 20 Februari 2010)

Saturday, 20 February 2010

Catatan Day 2 Melbourne 2010 (hujan mode: ON)

Day 2 Melbourne 2010 (hujan mode: ON)

Kamis 11 Februari 2010

4 p.m. something

Kubaca status teman – teman di jejaring sosial ‘Buku Wajah’, ternyata seorang kakak dari Papua yang berkuliah di Victoria University memasang status yang sangat menggoda tentang “makan petatas rebus dan ikan goreng”. Tanpa menunggu lama, kukirim balasan untuk bergabung dan yang ada sebuah undangan elektronik pun menyusul. Tak membuang waktu, kutelpon Aryo, teman serumah kak Merry (yang sedang makan petatas) dan menanyakan rute ke Footscray; suburb mereka.

Ternyata walau sudah diberi rute dan rencananya untuk segera meluncur dengan kereta ke sana, karena toh aku berada di atas stasiun Melbourne Central, ternyata saat mencari toilet (yang ternyata menemukan 'insiden' kalau ada yang quickie sex alias ML di kompartemen sebelah, lha wong saat aku tak sengaja menundukan kepala mencoba merogoh kartu yang terjatuh, ada 2 pasang sepatu dll ^_^), trus ee abis itu yang ada malah tergoda masuk ke berbagai outlet di tempat ini. Bahkan hampir lupa bahwa aku harus ke sana. Aryo sibuk menelpon takut aku nyasar, untung kartu HP kami sama (3 Australia) jadi gratis sekian menit. Yang ada aku malah minta maaf karna lupa janji makan petatas, sampe kena ‘ancam bahwa petatasnya akan dihabiskan’. Susah juga melihat diskon besar – besaran ^_^

Akhirnya setelah melawan godaan ‘setan belanja’, aku sukses naik kereta. Yang ada sibuk sana – sini memantau nama stasiun, mana hujan sedang turun dalam kapasitas sedang tapi kereta benar – benar penuh, jadi ingat penuhnya Busway di Jakarta. Di luar sana, kilat sambar menyambar.

Akhirnya berhasil keluar juga dari stasiun kereta dan selanjutnya menyeberang jembatan ke arah tempat tunggu tram. Berdasarkan instruksi SMS dari Aryo, aku harus naik tram 82 dan turun di stop 57. Saat ini aku berada di stop yang berjarak sekitar 7 – 8 stop dari stop dimaksud. Kulirik jam di HPku, mmmh sudah jam 5. 30 p.m. Sambil sibuk mengikat cardiganku yang sedikit tersaput lumpur, aku sibuk memayungi diri dengan payung bermotif denim. Kutawarkan berbagi payung kepada seorang lelaki India yang tampangnya mirip pemain film India, maksudnya yang tampang mantap ka ini (di OZ terlalu banyak orang India, jadi mo lihat dari yang ganteng sungguh mati sampe hancur juga ada), tapi ia menolak. Tak lama datang temannya berbodi tegap yang bekerja di counter 3 (baju seragamnya masih melekat) dan lagi – lagi ganteng sungguh mati ^_^ Hanya aku, 2 lelaki India ini dan seorang perempuan bule yang nekat menunggu tram di jalur jalannya. Orang – orang lain lebih memilih menunggu di depan Subway dan toko – toko karena tampaknya tak membawa payung. Hujan mulai sedikit agak dera.

Kulirik jadwal tram, kok belum – belum muncul juga. Sudah 15 menit. Tiba – tiba Aryo menelpon bertanya aku dimana. Yang ada aku malah bilang sedang menunggu tram. Aku sibuk mengoceh di telepon dengan mata tak lepas sesekali memandang cuci mata pada 2 makhluk manis dalam hujan di sebelahku ^_^. Sambil sibuk kembali mengecek jadwal tram, dan usai memutuskan percakapan. Sebuah SMS masuk.

Sore itu jujur aku berada di sebuah pilihan, sebuah pilihan yang membuatku seakan emosi berat dengan tram Melbourne. SMS dari J membuatku seakan berada di ujung tanduk. Tram sudah hampir 30 menit belum tiba dan J memintaku untuk pulang jam 7 malam, ia berharap aku bisa pulang jam itu. Katanya ia menyiapkan sebuah pesta kejutan untukku, yang hanya bisa kudapatkan antara jam 7 – 8 malam dan saat kukatakan bahwa aku terjebak situasi dimana tak tahu apakah harus menunggu tram ataukah membatalkan janji dengan Kak Mery dan Aryo dan melewatkan acara makan petatas rebus dan ikan goreng, J bersikukuh bahwa aku bisa pulang segera ke Northcote untuk kejutannya, ia bahkan mengabsen transportasi yang bisa kupilih dari rute di tempat aku berdiri. Jujur sore itu benar – benar between Schylla and Carybdis, macam makan durian ka biji kedondong yang tasangko di tenggorokan. Sambil bingung menunggu tram yang tak kunjung datang dan diterpa hujan yang semakin deras dan kadang – kadang diiringi petir dan kilat, emosiku labil.

Akhirnya kuputuskan dan memilih. Aku memilih petatas dan ikan goreng! Yang ada bro J hampir kusemprot di telpon, jujur aku sampai bilang sama dia dengan nada suara sedikit naik, “Why you didn’t tell me this morning before I left home or some hours earlier? I’m trapped in the middle of nowhere.” Dan langsung minta maaf dan bilang bahwa aku tak bisa pulang jam 7 untuk kejutannya. Aku benci kejutan!!!

Karna tram masih tak datang juga, aku menelpon Aryo dan bilang bahwa aku akan jalan kaki saja ke rumah. Karna tak tahu jalan potong, aku bilang, aku akan berjalan menyusuri jalur tram. Tak bisa kubayangkan kekuatan macam apa sore itu yang kupunya, mungkin campuran rasa geram, marah, tak berdaya menghadapi cuaca plus jengkel ditambah rasa rindu makan petatas rebus dan ikan goreng. Dengan celana hotpants dan kamisol dan cardigan tipis plus sibuk memegang kantong plastik oleh – oleh dan memanggul sebuah tas kain berisikan buku sketsa dll, aku menebalkan wajah berjalan menyusuri jalur tram.

Hujan semakin menggila, semakin deras. Tak pernah selama tinggal di Australia merasakan hujan seperti ini. Usai berjalan melewati sekitar 4 – 5 stop, kulihat Aryo dengan sepedanya. Sambil berjalan kembali ke arah rumahnya yang masih setengah perjalanan, hujan semakin deras dan tiba – tiba aku ingat hujan di Manokwari di sore hari yang sangat cocok untuk ‘mandi hujan’. Buru – buru kusodorkan barang – barangku dan minta tolong ia membawanya plus payungku. Tarian hujan lebat ini benar – benar menggoda, persis yang ada di Manokwari. Benar – benar cocok. Selama 1 tahun lebih di sini, tak pernah aku mandi hujan. Belum selesai bicara lagi, temanku ini langsung berujar, “aih pamalas, sebentar sakit baru sapa yang mo urus di sini? Ingat ini bukan di Papua sana yang pengobatan gampang de el el”. Akhirnya terpaksa gigit jari dan sibuk main air dari talang – talang hujan di pinggiran gedung *sedih mode: ON. Kalau saja tak membawa HP, kamera digital, dan buku sketsa, pasti nasehat temanku ini tak kuacuhkan ^_^.

Akhirnya kami pun mendarat di rumah. Kak Merry sedang nonton TV. Kelar membersihkan bercak hujan dan lain – lain, akhirnya impian sore ini terwujud; petatas rebus dan ikan goreng saos. Tak lupa sambil menyiapkan diri makan, kupinjam notebooknya Aryo untuk mengakses Facebook. E gagal. Tak putus asa, notebook kak Mery pun kupinjam, dan lagi – lagi gagal mengakses. Kucoba mereset ulang password dengan mengaktifkan pengiriman kode ke e-mailku. Sial! Aku lupa password e-mail yang khusus kubuat untuk akun FB. Bolak – balik aku sibuk memasukan password baik ke akun FB maupun ke Gmail. Gagal! Usai 30 menit mencoba, akhirnya bisa juga. Tiba – tiba kuteringat bro J kala SMSnya masuk, aku menelponnya kembali dan menjelaskan situasiku ^_^ Untung semuanya berjalan dengan baik.

Sambil makan petatas, aku, kak Mery dan Aryo sibuk membahas harga ikan, lokasi Footscray, hujan, bunyi Jangkrik (pertama kali di OZ kudengar bunyi Jangkrik) hingga berita bahwa semua tram dan kereta dihentikan sementara karena thunderstorm (hujan deras diiringi angin ribut, petir dan guruh). Mungkin kalau di Manokwari, hal ini biasa kulihat. Tapi di Melbourne sangat mengganggu aktivitas. Bukannya apa, kalau sampai ada petir menyambar dan tram ataupun train dioperasikan, yang ada resiko terkena sengatan listrik sangat tinggi. Tram kan dioperasikan dengan tenaga listrik dan jalur – jalur kabelnya menjadi ciri khas Melbourne dan tram Melbourne termasuk yang masih bertahan hingga sekarang dan tak banyak lagi terdapat di dunia. Apalagi tram Melbourne termasuk yang terbesar di dunia yang jaringannya mencakup lebih kurang 249 KM dengan jumlah tram sekitar 449 tram dan jumlah stop sekitar 1770 stop. Tram juga salah satu ikon kota ini. Belum bisa mengaku pernah ke Melbourne kalau belum pernah naik tram. Salah satu tram favoritku adalah yang menuju Saint Kilda, karena warnanya kuning dan bergambar lebah madu ^_^

Karena keasyikan cerita, yang ada malah baru sadar sudah jam 9.30 p.m. Tiba – tiba ingat J dan jadi tak enak hati dengannya. Aduh tak ingin membuat ia ‘tahan mata’ karena menungguiku, karna aku memang tak bawa kunci rumah. Untung Aryo juga ingin pergi ke Northcote tapi di areal yang beda. Jadi usai berjalan dan menghentikan bis yang kemudian dilanjutkan dengan naik kereta yang kemudian dilanjutkan lagi dengan naik tram, sukses berada di tram 86 (salah satu enaknya tinggal di Melb adalah tiket multifungsi yang bisa dipakai untuk tram, train dan bus). Pertanyaannya sekarang, apakah aku tahu tempat turun nanti? Bukannya apa, bentuk ruko dan bangunan di High Street tempat turun itu mirip. Apalagi sudah malam hari.

Malam itu, aku ingat betul bagaimana aku memberanikan diri, menguji keberanianku kala seperti di Jakarta dulu yang suka tersesat dan mencari jalan pulang. Ternyata memang benar, Aryo turun duluan dan aku masih harus melanjutkan perjalanan sendiri, memandangi deretan toko – toko. Kukirimkan SMS ke J bilang bahwa aku dalam perjalanan. Saat sibuk memandang ke luar jendela, tram berhenti di sebuah stop. Tiba – tiba kuingat areal ini dengan jelas. Refleks aku bergegas turun. ‘Thanx God’, ujarku.

Jalan kaki 15 menit akhirnya tiba juga di depan rumah. Aku baru sadar bahwa rumah J cukup dekat dengan kantor polisi dan aku tak perlu begitu takut. Berdiri di depan pintu dan disambut sensor lampu teras yang otomatis menyala kala ada yang berjalan mendekati pintu, kutekan bel.

Dengan tampang merasa bersalah, kulihat J membuka pintu. Ternyata ia tak marah dan malah menanyakan perjalananku hari ini. Andre sudah tidur, begitu juga Nadine. Berbincang sekitar 20 menit dan kelar bro J menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, kami pun ber-say ‘Good night’. Tak lupa ia bilang bahwa besok kami akan pergi ke rumah orang tuanya, sekaligus ia akan ikut buck’s party hari Sabtu. Ia menanyakan bagaimana rencana perjalanannya, apakah aku ingin segera pulang lagi ke Melbourne, ataukah menginap ataukah hingga hari Minggu di sana biar sekalian pulang dengannya karena hari Sabtu sore ia sudah tak di rumah orang tuanya. Kami pun menemukan kesepakatan bahwa aku akan di sana hingga hari Minggu dan pulang bersama dia dan tak perlu menunggu bis ke Melbourne.

Hari kedua ini cukup melelahkan tapi usai mandi dan sedikit relaks, say my little prayer dan bersyukur untuk liburan ‘ukur jalan’ ini ^_^ dan tak lupa bersyukur untuk kebaikan Tuhan lewat teman – teman di Melb.

Catatan Day 2 Mebourne 2010 (sebelum hujan)

Day 2 Melbourne 2010 (sebelum hujan)

Kamis 11 Februari 2010

7 a.m. something

Hari ini alarm telepon genggam berhasil membangunkanku. Karena aku tidur di living room yang dekat dengan ruang kerjanya J, dan cahaya mentari sukses masuk ke ruang ini lewat pintu kaca, aku tersentak. Sangat memalukan kalau tidur ataupun menginap di ruang teman ataupun orang lain dan bangun terlambat. Alarm tubuhku otomatis mengingatkanku untuk melakukan ritual bangun pagi; seperti pergi ke toilet, minum air putih dan mencuci piring. Aku tak begitu suka sarapan atau istilah orang Australia Brekkie (kependekan dari Breakfast) dan lebih suka yang namanya makan di antara makan pagi (breakfast) dan makan siang (lunch) yang namanya brunch (gabungan antara breakfast dan lunch) yang biasanya sekitar jam 10an. Padahal dokter sudah sering menasehatiku dengan pola makanku karena bisa berdampak pada diabetes dan pola tidurku yang kacau.

Jadi usai mencuci piring, kulihat Andre sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya, J dan juga menawariku. Tapi aku benar – benar ogah dan bilang “no Thanx”. J pun sibuk membuat teh untuk kami bertiga, aku terkaget – kaget dengan koleksi tehnya yang mungkin ada sekitar 10 -15an jenis di sebuah rak meja dapurnya. Ini belum termasuk koleksi minuman keras mereka di lantai bawah rumah ini (sempat diajak J kemarin malam kala aku meminta red wine).

Karena tak ingin makan bacon dan egg buatan Andre, aku memilih makan roti yang kuolesi spread dari buah Zaitun (di sini kalau mau bilang mentega olesan ataupun segala sesuatu yang khusus untuk dipakai mengolesi roti disebut spread) dan kulapis dengan selai blackberry buatan J (kata J ia suka membuat selai dari Blackberry karena banyak di rumah orang tuanya) dan segera meluncur dengan buku sketsaku ke beranda belakang. Sambil memandang langit yang mendung, kusibuk mencorat – coret pagar dan bumbungan atap rumah tetangga.

Tak beberapa lama, Andre dan ditemani J pun muncul dan bergabung. Obrolan pagi kami mulai berkisar dari kolam renang mini di belakang rumah, hingga kebun sayur mereka dan pembuatan pupuk kompos. Aku terkagum – kagum melihat kedua cowok ini, benar – benar tak seperti bayangan cowok bule yang kukenal. Mereka punya kebun sayur, menanam sendiri bumbu – bumbu dan herbal di halaman mereka, mengolah sampah organik mereka jadi kompos, dan jago memasak. Satu poin plus mereka adalah mereka mampu menjaga kebersihan rumah mereka, walau tak 100% bersih sungguh mati tanpa debu ^_^ lumayan terlihat dari toilet dan kamar mandi serta dapur.

Satu hal yang membuatku pagi itu langsung bisa menilai apakah mereka benar – benar peduli dengan lingkungan adalah dengan melihat bagaimana pandangan mereka dan cara mereka merawat rumah. Aku saja sampai ternganga – nganga dengan ide mereka. Lumayan terlihat dari kamar mandi dan toilet mereka. Kalau tentang kepedulian mereka tentang lingkungan, jangan ditanya lagi. Masuk kamar mandi saja aku terkaget – kaget karena mereka menyiapkan sebuah ember dibawah shower untuk menampung air bekas mandi yang dipakai menyiram tanaman. Apalagi di Melbourne sedang tahap Water restriction tahap 3 (Australia adalah benua terkering di dunia, sehingga selalu saja ada batasan penggunaan air, bukan karena kita bisa bayar tagihan yang dilihat, tetapi apakah cadangan air bisa memadai atau tidak, jadi biasanya setiap rumah akan dihitung berapa banyak penghuninya dan bila sampai penggunaan berlebih, akan ada denda. Paling bahaya adalah tahap 5, dimana tak diijinkan untuk mandi dan hanya boleh memakai air seperlunya).

Aku juga sampai malu dengan diri sendiri kala melihat bahwa semua produk mereka benar – benar dibeli yang berlabel eco-green. Mulai dari kertas tisu toilet yang non-bleach dan dari merek yang kutahu merupakan hasil recycle, dari produk mandi mereka (produk the Body Shop terlalu banyak dalam rumah ini. FYI, pendiri the Body Shop salah satu penyumbang atau donatur di Greenpeace) hingga produk lainnya.

Usai sarapan dan mandi, J bilang padaku bahwa ia sedang sibuk hari ini dan berniat menyelesaikan kerjaannya karena besok kami akan pergi ke rumah orang tuanya di Apollo Bay. Jadi hari ini ia bilang ia ingin aku bisa menemukan petualanganku sendiri. Tantangannya hari ini adalah aku harus bisa menemukan rute tram atau kereta dan pergi ke pusat kota dan menemukan jalan pulang. Tapi kalau aku tersesat, jangan ragu menelponnya. Jadi usai mengecek seberapa banyak koin yang kupunya guna membeli tiket tram harian ($ 6. 80), ia pun mengajakku ke meja kerjanya dan mengklik peta kota Melbourne. Usai menuliskan perintah yang singkat di kertas dan rute jalan yang sederhana, ia bilang bahwa itu tantanganku hari ini. Bagaimana menemukan CBD!!!

Dengan tas kain yang berfungsi sebagai backpack, sunnies, payung, kumpulan kartu penting dan duit dan memakai kamisol yang berwarna senada dengan cardigan oranye dipadu dengan hotpants, aku menyiapkan diri dan nyali. 2 kali kunjungan pertamaku lebih kepada eksplorasi CBD (Central Business District = pusat kota) karena ikut rombongan tur kampus dan tinggal di sebuah hotel semi-backpacker di pusat kota. Jadi kali ini benar – benar harus ‘raba jalan sendiri’. Untung saja mengandalkan insting untuk berjalan ke arah dimana lalu lintas terlihat ramai, kutemukan juga halte tram itu. Ternyata memang benar, sukses meng-hail tram (istilah di Manokwari; leften), aku sibuk memikirkan rencana hari ini.

Tram ini melewati sebuah jalan bernama Smith Street di daerah Collingwood yang terkenal sebagai sebuah DFO dan tempat shopping. Dari jendela tram, aku hanya bisa gigit jari dengan sale hingga 70% di beberapa outlet pakaian pantai. Ingin rasanya berlari ke luar dan masuk ke outlet Roxy dan Rip Curl ^_^, tapi aku sudah bilang pada diri sendiri, “it’s not a shopping travel, I quit! Kemarin kan baru belanja kan di Canberra.”.

Karena tram 86 yang kutumpangi harus turun di Bourke Street, aku segera berjalan tanpa arah dan memutuskan pergi ke Queen Victoria Market. Ingin merasakan vibrasi pasar tradisional Australia dan barang dengan harga miring. Tentu saja sedikit membelanjakan duit. Mulai dari kaos – kaos berlabel Australia dengan harga miring untuk oleh – oleh kelak. Kaos yang sama di Canberra bisa berharga $ 10 – 15 sedangkan di sini hanya $5. juga sibuk memborong magnet kulkas bergambar “lady Bug”. Aku memang mengoleksi pernak – pernik serangga ini (bahkan saking ngefansnya, seorang teman kuliah yang suaminya Australia dan bekerja di kedutaan Uni Eropa dan pulang liburan mereka dari Eropa sibuk membawa hiasan kaca tiup dari Roma dengan bentuk serangga ini dan juga kala ia pulang dari Jogja dan singgah di Malaysia, lagi – lagi oleh – olehnya berbentuk hewan ini ^_^). Aku sempat juga menikmati pemandangan bunga – bunga di pot dan bunga segar potong. Tiba – tiba terbersit pikiran, “su mau Valentine’s day nih, tapi sayang sa tra merayakan jadi”. Bukannya apa aku memang dari dulu tak suka acara perayaan yang khusus untuk perasaan kasih sayang. Tak perlu tanggal tertentu. Jadi sambil mengagumi bebungaan itu, yang ada aku malah sibuk membeli satu kotak strawberry 500 gram yang hanya $2. 50. Mana ada di Canbee harga segini. Canbee kan kota termahal di negara benua ini.

Aku pun mulai sibuk berjalan luntang lantung di pusat kota. Karena kunjungan tahun lalu telah banyak mengunjungi tempat – tempat wisata di sekitar CBD, aku memilih berjalan menikmati irama kota ini, menikmati pergerakan tram dan lalu lalang orang – orang. Tentu saja objek andalanku ngeceng adalah cuci mata dengan para lelaki ganteng. Puas banget! Benar – benar mengagumi ciptaan Tuhan ini. Pria berbagai potongan tubuh, dari ras apa saja, dari gaya yang bagaimana, ADA!!! Beberapa kali disenyumi cowok manis, tapi sering pula dicuekin :D. Kadang malah juga pura – pura tak menatap dan mengagumi mereka, padahal dalam hati, cuma bisa bilang, “Sio Tete Manis, Ko ciptakan barang bagus begini rupa dan begini banyak”. Kadang sambil jalan menerka dalam hati, “Aduh nih cowok gay tidak ya? Wkkwkwkwkkw”. Berdasarkan pengalaman kecele di Canbee jadi mending pada tahap mengagumi saja hehehe. Takut salah!!!

Aku berjalan terus dengan 1 tujuan untuk pergi ke Federation Square, ke pusat visitor information centre. Sejenis pusat informasi untuk pengunjung kota ini. Dalam perjalanan ke sana, aku yang suka salah orientasi tempat ee masih sempat dijadikan “guide” tak resmi 2 pengunjung lainnya. Pertama, seorang perempuan Jepang (kelihatan dari lidahnya yang tak bisa bilang L) dan mencari hotel Backpacker yang dekat Flinder’s Station. Kedua, seorang ibu dari Sydney bertampang Kaukasia (kulit putih alias orang Eropa, entah Australia keturunan Eropa sebelah mana) yang menanyakan arah Federation Square. Jadi yang ada, aku seorang pendatang memberikan arah bagi turis lainnya. What a life!!! Untung tak berapa lama, semuanya menjadi jelas bahwa aku bisa diandalkan jadi guide hehehe.

Setelah semua informasi yang kubutuhkan berada di tangan, target hari ini adalah mencari makan di rumah makan Es Teler 77. Setahun lalu aku sempat makan Pecel Lele dan kali ini tetap sama tujuannya. Ah sial, pecel lelenya terlalu asin dan garing. Yang ada kecewa berat sih karena kenyataan tak sesuai dengan harapan. Sambil sibuk menahan kecewa kecil dalam hati, kubabat segelas avocado smoothie alis jus alpokat. Sambil duduk memperhatikan seekor burung gereja yang nyasar masuk resto ini, kuperhatikan para pengunjung lainnya. Mulai dari rombongan beberapa orang yang kutaksir dari Jawa karena bahasa dan tampang mereka, plus juga ada beberapa orang dari East Timor ataupun dari NTT. Beberapa orang dari JKT (kala elu – gw pica di udara) dan juga beberapa orang bule dan Arab Jakarta (iyalah, tampangnya Timur tengah banget tapi ber-elu gw). Sambil sibuk cuek dengan jus, kuperhatikan daftar menu yang sempat membuatku ketawa kecil dalam hati. Terjemahan beberapa menu membuatku sedikit mengernyitkan dahi, walaupun aku tak diijinkan mengambil tesis di bidang studi terjemahan, tapi toh basic 1 tahun teori dan praktek singkat di bidang ini masih bisa membuatku membedakan kualitas terjemahan. Ada yang aneh sih menurutku. Ini pendapat pribadi dan bukan bermaksud mendiskreditkan sebuah usaha 

3 p.m.

Saat aspirasi kampung tengah sukses disalurkan, aku memilih untuk pergi ke Mall di Melbourne Central. Sambil sibuk membuat sketsa menara dan jari – jari besi kubah mall, aku tak lupa mengabadikan jam cantik yang berdentang tepat pukul 3 sore. Semua orang terpana dan beberapa turis sepertiku sibuk mengabadikan momen ini. termasuk terkagum – kagum dengan bandul jam yang sangat khas Australia. Iyalah, ada kakatua dan nurinya segala 

Setelah itu aku pun sibuk window shopping. Tak lupa masuk ke sebuah outlet arloji; Fossil. Aku suka desain Fossil dan memang berniat memberi Pa di Manokwari oleh – oleh jam ini, tak begitu mahal, dibawah $200an, kalo dikisar ke Rupiah cuma sekitar Rp. 1. 700. 000 (kalo kurs AUD $1 = Rp. 8500,-). Aku sendiri sudah berhenti memikirkan punya arloji mahal, sejak kehilangan Rolex seri Oyster warna biru, hadiah ulang tahun ke 24 dari Pa, aku kapok. Bukannya apa, itu semua karena sibuk mandi hujan di Jakarta Mei 2008 kala pulang jalan – jalan dengan teman – teman pelatihan untuk ke Australia dan sibuk berlari kecil ke halte busway. Entah hilang di busway, entah hilang kala berjalan kaki mandi hujan ke kos di Setiabudi. Yang ada jadi sedikit trauma punya jam mahal  Tak berjodoh sejak lama sih. Tak pernah awet pake arloji (begitu juga dengan aksesoris emas).

Sambil berpikir tentang arloji dan melanjutkan perjalanan melihat – lihat outlet – outlet kosmetik, parfum, dan fashion, aku berpikir untuk mencoba berjalan ke tingkat atas. Sambil nongkrong di couch (sofa) depan sebuah restoran, aku terpana kala hujan mulai turun di kubah kaca gedung ini. Begitu deras. Menampar. Aku tiba – tiba begitu melankolis. Teringat lelaki hujan di Manokwari. Kenapa tiap hujan turun, ingatanku pun mengarah padanya. Sibuk membuat catatan tentang dia di catatan Facebookku, aku terdiam. Untung ada petir yang membuat otakku kembali normal. Ah ia bukan lagi Lelaki Hujan. Benar kata Rian, Ia hanya “Lelaki Badai”, merusak moodku dan tak pernah bisa memahamiku dan tak bisa diandalkan. Sudah saatnya mengganti kenangan lama itu dengan seseorang yang baru. 2 tahun sudah terlalu lama. Lagipula ia toh tak pernah peduli denganku. Buktinya sudah jelas setahun kemarin usai pulang dari Melbourne. Bagi dia, jarak Manokwari – Canberra tak berarti apapun! Entah nuraninya yang dari Batu atau aku saja yang begitu bodoh mau terus percaya padanya dan berharap hubungan kami akan baik – baik saja. Semuanya sudah jelas di bulan Mei dan Juni 2008, kala pulang ke Manokwari dan bertemu dia. Dia hanya lelaki badai berseragam coklat dari Manokwari yang selalu sukses membuatku tergugu. Sambil mengamati catatan – catatanku di Facebook, aku pun siap melangkah lagi.

***

Catatan – catatan untuk Lelaki Hujan yang membadai di hidupku


4.13 pm

Mataku memandang nanar ke depan. Ke atas kubah - kubah kaca. Di bawah sana, jam berhias malaikat dan kakatua berdentang. Hatiku tiba - tiba berwarna warni. Entahlah. Hujan, Melbourne dan kelabu. 3 kata yang mengingatkanku pada dia; lelaki hujan. Apalagi deras hujan yang turun membuatku memutar kembali kenangan. Melbourne, kota klasik di belahan selatan planet ini menyuntikanku terlalu banyak aura cinta. Apalagi sejak kemarin, aku langsung disambut pelangi.

Lelaki hujan mungkin tak layak disebut lelaki hujan, tetapi lelaki badai tepatnya. Membuatku sesak! Emosi ini harus segera kukeluarkan. Terlalu riskan disimpan. Ingin keluar dan berlari menikmati hujan. Sambil menangis, tertawa atau menjerit. Benci dengan rasa yang begitu melankolis tiap hujan turun, apalagi di kota ini. Setahun lalu, usai liburan dari kota ini, aku mengingat jelas kata - katanya. Hari itu juga turun hujan. Entahlah! Mungkin aku tak boleh lagi menatap hujan yang menari dalam kubah. Melihatnya menari diterangi konser alam. Mungkin Tuhan sedang berlatih musik klasik. Mungkin Tuhan sedang menyirami bumi. Mungkin Tuhan sedang memenuhi janjinya untuk merawat bebijian rumput. Entahlah! Yang kutahu pasti, aku sedang ingin mandi hujan.

4.24 pm

Aku suka tetes hujan yang merayap pasrah di kubah ini. Merangkak hendak naik tapi tak kunjung bisa. Entahlah. Emosiku terasa penuh. Sesak. Ingin seperti sang langit yang berteriak. Ingin seperti langit yang bermain air. Catatan ini terlalu aneh, blur, kabur tanpa ujung pangkal. Sambil menikmati strawberi segar buruan di Queen Victoria market, ingatanku seakan kembali ke belakang. Entahlah! Akhir - akhir ini, aku kembali teringat Manokwari dengan segala macam emosi. 5 bulan lagi dan aku kan kembali. Tak suka tapi tak bisa berpaling. Emosi ini menjeratku. Hujan membuatku semakin beku dalam kenangan.

Pernahkah dia mengingatku? Aku tak yakin. Begitu bodoh menyimpan kenangan bersamanya. Begitu bodoh memutar kenangan. Begitu bodoh. Dia bukan lagi lelaki hujan. Dia lelaki badai, yang memporak - porandakan emosiku. Aku rindu hujanku yang dulu. Yang normal tanpa rasa. Yang membuatku jatuh cinta. Tiap hujan turun, aku ingat dia. Teriakan minta maafnya, ucapan penyesalannya. Semuanya! Tapi aku tetap pecinta hujan dan tak bisa menolak sensasi kelabunya

4.34 pm

Petir baru saja sukses menyambar dan merobek langit, membuatku terkejut. Apa memang hidup selalu seperti hari hujan. Blessing in disguise? Kenapa juga tulisanku mulai melantur seperti ini? Kenapa juga harus larut seperti ini dengan kenangan lama? Mungkin memang selalu aku perlu 'petir' dari langit. Menyadarkanku! Mengingatkanku. Menghanguskan rasaku! Sudah saatnya menghabiskan 1 box strawberry ini dan berkeliling sambil menikmati se-mug coklat panas. Coklat panas bisa menormalkan rasa. Membuatku jatuh cinta pada hujan dan sukses membuang kenangan. Toh hidup perlu dijalani ke depan. Thanx God 4 that thunderbolt ^_^ No more badai, yang ada hujan warna - warni. Lagi jatuh cinta pada hujan.

***

Friday, 19 February 2010

Catatan Perjalanan Melbourne 2010 - day 1

Sambil mendengarkan lantunan suara Letto dan juga Il Divo dari perangkat pemutar musik di komputer jinjingku, kumulai mengingat bagaimana perjalanan liburanku. Perjalanan kali ini bagiku sebuah perjalanan yang benar – benar kunikmati, benar – benar kusuka dan benar – benar membuat energiku terisi penuh. The real me, to some extent.

Catatan ini mungkin tak begitu detail, tak begitu informatif dan mungkin sangat subyektif atau personal. Tapi bagaimanapun aku merasa bahwa perjalanan ini benar – benar mencerahkanku. Aku sangat menikmati dan jujur tak ingin pulang cepat – cepat ke ‘Kaleng Lebah = Canbee = Canberra’ ^_^

Kubuat catatan dalam bentuk kronologis dan mungkin waktunya benar – benar kisaran, tak begitu pasti tapi sebuah perkiraan. Catatan ini kumulai dari saat aku meninggalkan rumah dan berjalan menunggu bis lewat sebuah shortcut alias jalan potong.

Satu yang pasti, selama aku masih hidup, traveling ataupun proyek ukur jalan akan tetap berada di dalam otakku. Sebuah pemenuhan janjiku dulu pada diri pribadi usai sakit keras, lumpuh dan sembuh tahun 2001. Sebuah pengingat pada diriku bahwa aku akan sangat menikmati yang namanya anugerah bisa berjalan kaki, berdiri di atas kedua tapak kakiku tanpa merasakan sakit dan nyeri. Segala pujian, hormat dan kemuliaan bagi Trinitas di Surga ^_^. Without You, I’m nothing and would not travel to such different places.

Salam hangat,

‘Dayanara Meimosaki’

================================

Rabu 10 Februari 2010 - Canberra

3 P.M.

Kutarik tas jinjing kecil yang muatannya hanya carry-on alias bisa kumasukan di cabin pesawat. Kali ini aku benar - benar travel light alias bawa barang yang begitu seperlunya hingga handuk saja tak kubawa. Hanya beberapa potong pakaian, 1 buah jumper yang kupakai, dan 3 potong hotpants. Celana panjang yang kupakai pun hanya 1 yaitu yang kupakai sekarang. Walau aku hanya sekitar 6 hari di Melbourne, tapi kaos yang kupakai benar2 hanya 6 potong termasuk yang kupakai. Mottoku kalau pergi ke kota yang barangnya lebih murah daripada Canbee, mending bawa barang terbatas, toh ntar kalo pulang, barang pasti ‘beranak’ ^_^. Juga mengabsen pakaian pribadi seperti undies (alias underwear alias pakaian dalam) dan perlengkapan cewek lainya. Tak lupa kubawa toiletries (peralatan mandi), obat – obatan pribadi (pain killer, obat maag, obat Reflux Oseafagitis, salep multiguna yang bisa jadi pengganti untuk pelembab bibir hingga dioleskan di luka potong, dan tentu saja pelega tenggorokan dan minyak kayu putih), dan juga 1 buah thongs (sandal jepit) dan sebuah sandal cewek. Tak lupa kacamata minus silindris dan 1 buah sunnies (kacamata hitam bermerk D&G, entah asli apa palsu, yang penting lensanya Polaroid, jadi bukan sekedar yang anti UV hehehe). Aku juga masih sempat mengamankan 2 buah kantong kain (noken pemberian almarhum tete ade di Masni dan 1 buah kantong kain bermotif catur yang bisa jadi backpack) dan tentu saja 1 buah payung. Kosmetik pun kubawa yang benar2 basic alias hanya pelembab, bedak shimerring The Body Shop, blush on dan eye shadow dari La Tulipe, pembersih wajah dan juga make-up remover dalam bentuk tissue basah. Intinya, bawaanku benar – benar padat dan tak lebih dari 7 KG. benar – benar bisa kutenteng ^_^

Sambil mengitari jalan potong di kompleksku di Campbell, Canberra selama 10 menit, akhirnya tiba di halte bis yang bisa dipakai mencegat bis bandara alias Canberra Airliner. Lumayanlah, tiap 20 menit akan ada bis dan ongkosnya hanya AUS $4.90. Dibanding harus merogoh kocek naik taksi sekitar $15 ke bandara.

Tak lama kemudian bis berwarna biru putih itupun tiba. Usai beramah tamah dengan pak supir dan melongok orang – orang di dalam bis, mulai dari pria hitam keling dari Afrika dengan setelah suit lengkap dan juga seorang ibu bertampang Eropa Timur atau Spaniard juga beberapa pria Asia Timur, aku pun sibuk duduk tenang mengamati hujan yang mulai turun dengan deras. Cantik sekali. Aku suka hujan dan benar – benar terhibur melihat tetes – tetesnya menampar jendela bis yang suhunya disetel sejuk, mungkin sekitar 15 derajat. Brrrrrrr … untung aku sudah memakai jumper orange menyala :D

Perjalanan 10 menitan dengan bis akhirnya diakhiri kala bandara Canbee yang kecil ini kelihatan. Tak lama usai tiba, counter check-in Tiger Airways telah dibuka. Aku pilih maskapai ini karena tiketnya yang murah. Aku bukanlah orang yang terlalu mempermasalahkan kenyamanan di atas pesawat, yang penting tiba dengan selamat di bandara tujuan dan tiketnya murah. Karna tiket paling murah hanya tiap hari Rabu dan Kamis, makanya aku memilih berangkat hari ini. Hanya $38 dengan bawaan tas jinjing kurang dari 7 KG. Tahun lalu malah lebih gila, teman – temanku berangkat dengan harga hanya $26. Bayangkan kalo harus merogoh kocek sekitar $70an untuk tiket bus Greyhound yang memakan waktu paling cepat 8 jam perjalanan darat. Naik pesawat hanya butuh waktu 50 menit ^_^.

Usai proses lapor tiket, aku pun menuju ruang tunggu untuk boarding. Saat melewati screen check point, seorang perempuan bertampang Melanesia yang bertugas mengecek bawaan penumpang, dengan spontan bertanya padaku, “Are you from PNG?” karena nokenku yang sangat khas Manokwari, warna – warni dengan elemen oranye. Spontan aku menjawab, “Nope, from West Papua”. Di sini aku jarang menjawab dari Indonesia saja, karena pertanyaan lanjutannya akan sangat banyak, termasuk tampangku. Wajahku sangat khas Melanesia. Bahkan kerap sesama mahasiswa Indonesia yang berkenalan denganku dulu cenderung mengira aku bukan WNI. Citra Indonesia bagi orang Australia memang tak begitu bagus. Dan aku bersyukur dengan tampangku, aku jarang mendapat masalah yang berarti walau tak berarti bahwa aku tak pernah mengalami perlakuan diskriminasi karena toh bulan ini pun masih ada satu perlakuan tak menyenangkan kala masuk sebuah klub untuk ngopi bareng temanku yang doktor Linguistik di universitas lain dan asli Australia, dan membuatnya berang dan meminta penjelasan dari manager klub tersebut hingga 30 menit. Hanya karena aku ditolak masuk. Padahal temanku sering membawa teman – temannya yang lain. Kemungkinannya cuma 2, apakah karena aku kelihatan ‘underage’ seperti yang pernah kualami di sebuah pub ataukah karena tampangku? I dunno ‘n I don’t care.

4. 20 p.m.

Usai mendaratkan pantatku dengan sukses di sebuah kursi di ruang tinggi, kuamati ruang ini. Usai proses check-in, seorang cowok bertampang Latino ganteng dan manis dengan tas bermerk Country Road bergegas di depanku. “1 pesawat ka, pliz”, doaku dalam hati. Guess what, ternyata ia memang juga menuju Melbourne dengan pesawat yang sama. Jadi sambil melirik sepintas ke arah TV yang memutar program Hi-5 untuk anak – anak kecil, tak lupa mencuri pandang ke Latino manis ini. Apalagi duduknya searah dengan TV.

Asyik memantau TV, e ada pengumuman, bahwa pesawat Tiger yang akan kutumpangi terpaksa ditunda jadwalnya karena badai karena hujan dan petir alias thunderstorm di Melbourne. Jadi ya terpaksa pesawat ditunda sejam. Segera saja kulirik jam, ah rencana berubah. Dengan cepat kukeluarkan telepon genggamku dan menghubungi bro J di Melbourne.

7. p.m.

Akhirnya boarding juga. Nafas lega kukeluarkan. Walau sempat sekitar 30 menit sebelumnya sibuk ber-SMS dengan housemateku (Ellen) dan bergosip bahwa aku seruangan tunggu dengan Barnaby Joice, politikus yang kerap muncul dari pihak oposisi di TV Australia. Pria ini kerap dijadikan bahasan di TV Australia untuk ide – idenya yang aneh dan nyeleneh, dan yang membuatkku sering ketawa dan membahasnya dengan Ellen adalah pernyataan pria ini. Saat para polies (politician tapi di OZ sering dipendekin jadi Polie) sibuk membahas skema rancangan untuk pemilu tahun depan ataupun masalah pemanasan global, janji pemerintah untuk masalah kesehatan dan lain – lain ataupun yang terbaru tentang masalah instalasi kabel listrik yang memakan jiwa, eee Pace Joice malah sibuk membuat argumentasi bahwa sudah saatnya majalah – majalah dan media khusus pria dewasa ataupun umum tak menampilkan model yang ukuran (maaf) cup payudaranya B tapi harusnya D sekian karena katanya mendorong lahirnya para pelaku Pedofilia. Belum termasuk pendapat – pendapatnya yang konyol lainnya. Tak heran beberapa media bahkan melabelnya dengan ‘pria yang berasal dari lingkungan gas station, maklum di setiap gas station selalu ada sejenis news agency kecil yang bacaannya yang banyakan media bergenre XXX ^_^. Aku bahkan masih mengingat bagaimana ia diwawancara presenter berita ABC di TV beberapa malam sebelumnya tentang kiat oposisi di bidang ekonomi, dan yang ada aku tertawa terbahak – bahak melihat cara bicaranya yang benar – benar tak nyambung dan bahkan hampir dibentak presenter TV itu. Jadi tentu saja saat melihat ia duduk hanya 2 meter di depanku benar – benar membuatku ketawa dalam hati. Mana Ellen sibuk membakarku untuk foto bareng wkwkkwkwkwkwk.

8 p.m (Melbourne)

Akhirnya tiba juga di Melbourne (kupendekin menjadi Melb). Usai menarik tasku keluar dari kabin dan menuju tempat keluar. Aku terpesona dengan pelangi yang muncul di langit Melb. Cantik, mana ada kembarannya lagi. Dengan riang kupandangi langit kelabu berhias pelangi. Bro J baru saja sibuk menelponku, katanya ia akan menjemputku dengan mobil. Padahal awalnya aku bilang bahwa aku akan naik bis menuju Southern Cross Station, biaya shuttle bus di Melb lumayan mahal, sekitar $16 dan jarak tempuh 20 menit.

Tak berapa lama, ia menelponku lagi. Aku terpesona dengan rambut pirangnya yang semakin pendek, cepak! Senyumnya masih tetap sama, hangat. Aku mengenalnya sejak 3 tahun terakhir. Dan ia juga salah satu alasanku untuk semakin memilih Australia. Biasalah, promosinya tentang tempat ini membuatku memutuskan untuk ke Australia dan tidak memilih beasiswa ke negara lain. Apalagi tentang konsep lingkungan dan kesadaran lingkungan yang ia katakan. Belum termasuk tempat – tempat adventure yang bisa kupilih dan tentu saja ‘promosi rumah orang tuanya’ yang dekat pantai dan juga hutan plus rencana kami untuk memancing dan eksplorasi. Bule Jerman ini memang benar – benar mantapz sebagai teman. One of my best friends di OZ.
Saat melihat dia di mobil pinjaman dari teman serumahnya (mobilnya J tuh tipe klasik, VW combie warna oranye), aku teringat bagaimana cerita kami dulu kala bertemu di Manokwari, kala snorkeling dan bajalan ukur jalan. Tentang janji kami berdua sebagai teman untuk akan ada program camping dan petualangan bersama. Akhirnya lelaki ini memenuhi juga janjinya walau ia sempat sedikit heran dengan perubahan rencanaku untuk memperpendek liburan, karena akhirnya ada rencana yang berubah. Awalnya aku akan tinggal hingga tanggal 21 Februari, tapi semuanya berubah karna aku ingin ikut program O-week di kampus dan bertugas di tim anak muda dari gereja lokalku. Ini semester terakhirku.

Jadinya ada banyak program petualangan yang berubah termasuk tak jadi memancing, camping dan petualangan the real one di hutan hujan. Semuanya berubah juga karena J harus mengikuti acara buck’s party atau buck’night alias sejenis perayaan pesta khusus lelaki yang diadakan sebelum menikah (di negara Anglo-Saxon lainnya disebut Stag Party), tentu saja aku tak bisa ikut. Biasalah format acaranya tergantung yang mengadakan, bisa dari mancing, minum – minum hingga menonton pertunjukan striptease atau pesta seks sekalian). Yang pasti, pesta sebelum si lelaki mengikat komitmen.

Usai perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya aku tiba di rumahnya. Rumahnya termasuk tua dan berada di suburb yang bernama Northcote. Dengan langkah diam, kumasuki rumahnya. E ternyata ada teman serumahnya. Gosh, temannya yang rupanya keturunan Kroasia itu ternyata lumayan ganteng juga. Namanya Andre. Usai sibuk mengepak barang dan bro J menyiapkan tempat tidurku dari sofa. Perabot rumah J rupanya dirancang untuk sefleksibel mungkin, jadi sofa kayunya ternyata bisa dilipat menjadi tempat tidur Queen size. Aku sih cuma tahu beres karena J yang sibuk memasang doona cover dan lain – lain. Ia bilang kalau ia terbiasa karena sejak kecil terbiasa membantu di usaha penginapan orang tuanya di Apollo Bay. Aku sih cuma manggut – manggut saja karena masih belum tahu gambaran rumah ortunya seperti apa.

Malam itu diisi dengan menyantap sejenis pizza atau apalah yang dibuat Andre. Sejenis Pizza sosis. Tapi satu hal yang membuatku mau melarikan diri dari meja makan adalah ternyata mereka juga membuat bubur bayam. Iya, bayamnya diblender hingga hancur dan ditambahi beberapa bumbu. Aku terbiasa dengan bayam yang masih utuh  Seperti biasa, usai makan, kami menenggak liquor alias minuman keras. Seperti biasa, J sukses mengerjainku. Ia menawarkanku soda. Kupikir rasanya seperti coke, ternyata seperti bir. Yang ada malah tak jadi minum dan J yang menghabiskannya. Jadinya aku memilih minum Red Wine alias anggur merah saja. Dari pembicaan kami, akhirnya keluar juga pengakuan bahwa J itu mentorku untuk mengenal minuman keras. Ya iyalah, dia sukses membuatku meminum bir di sebuah bar di sebuah gedung di Melb Maret tahun lalu dan tak lupa plus sibuk memotret tampangku yang busuk banget, menahan pahitnya bir di acara minum itu dan itu terjadi 1 jam sebelum aku meninggalkan Melb dan yang ada aku mabuk di dalam bis selama 8 jam perjalanan 

Usai Makan malam ini diisi perbincangan tentang kerjaan Andre yang sibuk membuat footage dan video untuk kerjaannya di penerbit Penguin Books, apalagi tahun ini penerbit buku ini ulang tahun ke 75 dan Andre wajib membuat video di TVnya di web. Seru sekali pembicaraan seni mereka, dari angle kamera hingga jenis musik jinglenya. Aku yang memang nge-fans sekali sama warna oranye (salah satu warna favoritku) terkaget – kaget dengan banyak lagu tentang warna ini. Pembicaraan seperti ini memang sudah lama tak kulakukan, tapi senang rasanya mendengar mereka, berbicara dan juga bertanya. Yang ada kami ketawa dengan lagu – lagu dan liriknya. Misalnya saja milik Nat King Cole “Orange Color Sky”.

Yang ada malam ini aku bahagia kembali ke tempat ini. Diberikan akomodasi gratis, makan gratis dan pembicaraan menarik tentang seni. Benar – benar the real me banget!!!

Usai mandi dengan pinjaman handuk rumah ini, yang ada sebelum tidur, I say my little prayer dan rasa ucap syukurku tentang kebaikan J dan Andre plus seorang cewek Jerman lainnya yang ngontrak di rumah ini a.k.a Nadine.

Hari pertama sukses kulewati!

Sunday, 7 February 2010

Aku, perempuan di ujung sana dan Lelaki Hujan

Ketika cinta tak bermata

Apa yang akan kau lakukan kala tahu bahwa keputusan yang pernah kau ambil bisa menjadi sebuah kebodohan, kenaifan ataupun ketololan dalam hidupmu?

Apa yang akan kau lakukan kala hatimu, di tempat dimana kau simpan perasaan paling murni ternyata bukanlah madu yang berbunga dalam diam, tapi racun mematikan?

Mengingat kembali masa yang telah lewat, mengenalnya … it’s been 2 years now. Sudah 2 tahun dan aku bahkan masih belum bisa menghapus bayangnya dari memori otakku. Terlalu melekat dengan sempurna, dengan segala paketnya. Terlalu naïf ataukah terlalu tolol, entahlah …

Tak sengaja kutemukan dia. Perempuan itu. Di layar jejaring sosial ini.

Membaca statusnya yang tak terkunci, seakan diriku tersedot ke labirin masa lalu; pada Lelaki Hujan. Masa lalu yang penuh warna – warni luka dan bahagia. Masa lalu dimana pernah 2 malam dihabiskan hanya untuk meratap nasib ditinggal tanpa penjelasan apa – apa, not even a single word.

Perempuan itu dan statusnya membuatku berada di sebuah ambang antara ‘perlu jelaskan’ atau ‘tak perlu jelaskan’. Aku sudah tak ingin dan tak mau lagi kembali dalam labirin penuh kesesatan itu, tersesat dalam ribuan jam tanpa kepastian, tanpa status. Menanti dalam diam dan tanda tanya, berusaha setia tanpa kata.

5 bulan lagi dan aku kan berada di Manokwari. Kota kecil yang pasti, sepersekian persen, diriku akan bersinggungan dengannya lagi, lelaki itu. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Terlalu naïf atau memang bodoh. Terlalu tolol mungkin kata yang tepat!

“You are dumped, OK. He once ditched you, remember that!!! And you ditched him more after that ..”, suara hatiku berkata. Tapi di sebuah loker kecil di sudut hati, aku tahu bahwa aku yang salah.

“Hello, miss investigator. Bisa tuh ko ketipu untuk kasus ini. Masa ko tra bisa lacak tuh?”, sebuah kekonyolan yang kerap kuputar dalam otak. Mengingatkanku untuk dia.

Malam ini, semua putaran suara hati kembali lagi. Membuatku serba salah. Semuanya sudah masa lalu, kan. No relationship at all. Sudah bubar, sudah dikubur. Ataukah memang tak pernah bisa membusuk dengan sukses di perut bumi daratan kenangan? Entahlah.

Kubaca lagi status perempuan itu dengan seksama, mengamatinya. Aku tergagap! Siapa yang salah pada akhirnya. Dia, aku ataukah lelaki itu? Entahlah.

Perempuan itu berkisah lagi tentang cintanya pada dia, tentang kisah klasik mereka yang manis dan sakit hatinya hingga ia pergi jauh. Aku tergagap lagi!

Sejahat itukah aku? Entahlah. Hukum, tekanan sosial, dan orang – orang akan cenderung bilang bahwa aku yang salah. Kalau memang begitu, ‘it’s OK’ asalkan perempuan dan lelaki itu memang bahagia.

Berat rasanya kembali diingatkan lagi dengan luka yang telah dikubur dan mencoba kering.

Tahukah dia betapa beratnya menjadi seperti Dr Zhivago?
Berbalik langkah tanpa pernah menatap wajahnya dan bilang bahwa ‘it’s over’.
Bukan karena tak lagi mencintai, tapi karena demi sebuah status bagi orang lain.
It’s hard!! Siapa yang salah? Salahkan saja padaku.

Bahu ini masih kuat menampung beban ini.
Mata ini masih punya cadangan berliter – liter air berasa asin itu.
Jemari ini masih sanggup merangkai kata duka aliran darah yang beku.

Pernah ku ingin bertanya pada Tuhan, tentang pertemuan dengannya.
Pernah ku ingin bertanya pada Tuhan, tentang rasa yang kupunya untuknya.
Pernah ku ingin bertanya pada Tuhan, ‘why me?’

Tapi ku tak pernah sanggup katakan pada Tuhan, karena toh semuanya adalah keputusanku. Menerima dengan sabar, menerima dengan diam dan tak membuat pembelaan apapun. “Sa cinta ko dengan segala kelebihan dan kekurangan toh, jadi tak ada yang perlu disesali.”, ujarku waktu itu. Ya satu paket, lengkap dengan paket air mata ekspress dan diam tanpa kata.

Perempuan di ujung sana,
Andai kau tahu, I’d never want to hurt you.

I let him go for you 2 years ago.
I let him to give you a status.
It’s hard to be like Dr Zhivago.
I rejected him!!!

Perempuan di ujung sana,
Andai kau tahu, I’d never want to keep him from you.

You left him in such broken heart.

Tapi hujan kembali lagi dan semua tak pernah sama lagi!

Kutemukan dia dengan serpihan hatinya yang hancur.
Kukumpulkan lagi dengan keping cinta yang masih kusimpan untuknya.
Kubalut dan berikan dia cinta yang masih kupunya.
Agar bersayap dan terbang bebas.

Perempuan di ujung sana,
He’s yours.

Sekarang aku sudah terbang bebas dan menemukan sayapku.
Kadang masih rindu bertemu dia.
Tapi aku memilih menyimpannya dalam diam,
Toh kau tak pernah tahu rasanya mencintai hingga terluka.

Ambil dia! He’s yours now.

Salahkan aku karena ia memilihku.
Mungkin memang sudah bakatku untuk selalu menjadi perempuan di dunia maya.
Tak pernah nyata. Tak pernah ada. Selalu menggoda.

Ambil dia! He’s yours now.

Salahkan aku karena ia memilihku.
Kau tak pernah tahu sebanyak apa persediaan air mataku.
Menjadi yang tak pernah pasti.
Menjadi yang tak pernah diakui.

Biarkanku sekarang menjadi kekupu kecil yang terbang bebas.
Kupunya sayap cantik yang ringkih.
Entah kapan ku temukan bunga unik tempat bertengger.
Tapi ku tahu pasti aku kan tetap indah.

Entahlah, di musim hujan tahun ini, yang aku tahu malam ini, aku hanya perlu Yesus; the most trusted friend to talk, I really need Him; to comfort me and promise me that when I wake up in the morning, everything is gonna be alright.

(Canberra/ 7 February 2010: 3.07 am)

Wednesday, 3 February 2010

untitled - prayer

Untitled

Dear God
I travel the dirt roads
Brown yellow green bush flanking
Silver salt lake dazzling
Red sands sweeping
Widest blue sky
My thoughts wander to another place
another time
another journey
between birth and flight
Christmas baby and refugee child
Celebration and survival
The in-between time
In-between journeys
In this journey
In all journeys
You are there
I remember
Amen.

(Author: Unknown. Sumber: Frontier News, February 2010, page 15)

Tuesday, 2 February 2010

Catatan Ulang Tahun Pa

“It’s a new brand day! Smangat … “, teriakku pagi ini pada diri sendiri. Ini hari ulang tahun bapa. Ah tak menyangka, ia sekarang sudah 47 tahun. Thanx father, Jesus, and Holy Spirit for him in my life.

Catatan ini lebih ke pernyataan sukacita karena Tuhan memberikanku seorang bapa yang begitu menyayangiku. Can’t ask for more, God.

Kadang kami tak sejalan dalam pendapat tentang pekerjaan, tentang lelaki, tentang makanan, tentang pandangan dan aliran politik, tentang selera musik.

Tapi …

Aku rindu caranya menegur cara mencuci piringku yang membuat lantai basah

Aku rindu caranya menegur dan membuka jendela kamarku yang tak dibuka selama berhari – hari

Aku rindu caranya membangunkanku untuk makan kala aku terlanjur terlelap

Aku rindu caranya memanggilku untuk makan kala sedang asyik mengetik

Aku rindu caranya sewaktu kecil menggodaku kala ia menggendong adik – adikku dan mengatakan bahwa “my father is still in Anggi” dan membuatku berkelahi merebutnya dari adik – adikku

Aku rindu caranya menenangkanku sewaktu ku liburan dan nongkrong di kantornya kala tak diijinkan mama untuk ikut retreat yang dianggap ‘tersesat’

Aku rindu caranya mengajarkanku untuk mandiri dan bekerja keras dengan menunjukan contohnya secara langsung

Aku rindu caranya mengirimkanku SMS dengan pertanyaan yang sama selama bertahun – tahun, setiap kali aku tak di rumah, “Mlm. My baik2 aja ka?”

Aku rindu penampilannya tiap hari kala tak bekerja dan harus bepergian, “kaos dan celana panjang ketat”.

Aku rindu caranya yang tak pernah membangunkanku kala tidur walau bangun kesiangan.

Aku rindu kegiatanku sewaktu kecil hingga remaja bersamanya: naik motor, memakai kacamata Chipsnya, menjadi asistennya ke mana – mana, hingga dijuluki ‘panta bensin’.

Ia, lelaki Jawa yang menghabiskan masa kecilnya di Kotaraja dan Abepura Papua dan bercerita tentang masa kecilnya di sana, kala mengeksplorasi gunung – gunung di sekitar Abe ataupun bekerja di bagan – bagan di teluk Youtefa.

Ia, lelaki yang tercerabut dari akar budayanya namun tetap menyimpan nilai – nilai yang dianutnya dalam dirinya.

Ia, lelaki yang sejak usia mudanya menghabiskan hari dengan kehidupan anak – anak kecil; mulai dari mengurus para sepupuku di Jayapura sejak bayi, berlanjut dengan aku dan saudara – saudaraku dan sekarang bersama para keponakanku.

Ia, lelaki yang memilih mengikuti suara hatinya dan apa yang ia percaya tanpa takut dengan segala resikonya.

Ia, lelaki yang percaya bahwa hidup dan impian dapat diraih bila kita bekerja keras.

Ia, lelaki yang bersedia menyisihkan gajinya yang tak seberapa untuk membiayai pendidikanku dan saudara - saudara dan setia memberikan uang untuk membeli buku teks pelajaran, walau artinya ia tak punya cukup uang untuk membeli pakaiannya sendiri.
Ia, lelaki yang tak pernah peduli dengan masa lalu seseorang, yang membuat rumahku sewaktu kecil menjadi semacam ‘panti rehabilitasi’; menampung para ‘orang bermasalah’ yang dibawanya dari kantor Polisi, memberi mereka tempat bernaung dan makan, memberikan kehangatan keluarga, walau tak ada pertalian darah.

Ia, lelaki yang kerap dipanggil ‘ipar’ oleh para Lelaki Papua di kompleksku, ‘komandan atau pakde’ oleh rekan sekantornya, “Pa’ oleh anak – anaknya, “Tete Rin” oleh Jei dan “oom Rin atau Bapa Maya” oleh tetangga.

Ia, lelaki yang meminjamkan nama dirinya dan nama desanya di dalam diriku.

Pagi ini, hanya bisa bilang, “Thanx God for him in my life.” Blessed him, give him what he needs, not what he wants.

Can’t wait to be home, Pa!

Proud to be your daughter.

Happy Belated Birthday MJ a.k.a YMJ

(Canberra, 2 Februari 2010)