Malam ini rasa itu kembali lagi, kembali membuatku sedikit sedih dan menangis. Sebuah rasa yang hingga kini masih sulit untuk kuhapus secara utuh, sebuah rasa yang begitu purba dalam detak jantungku, sebuah rasa yang selalu membuatku pernah beberapa kali berpikir dan mencoba menghentikan laju napas dari tubuhku. Aku benci rasa ini, sebuah musuh lama telah kembali lagi, mencoba menghantuiku, membuatku terjerembab lagi.
Tapi maaf, aku tak akan pernah jatuh lagi, tak akan pernah kalah lagi, tak akan pernah lagi mau menerimanya lagi masuk dan menguasai diriku.
Maaf, aku sudah punya seseorang yang mengasihiku dan menerimaku apa adanya. Seseorang yang menawarkan kasih dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Maaf, aku sudah punya Yesus, jadi ‘rasa tertolak’ outta my life!
Tulisan ini mungkin sebuah ekstrasi rasa yang pernah sukses menguasai hidupku. Sebuah cerita yang tak akan pernah bisa kulupakan selama aku hidup. Merasa tertolak!!!
Aku lupa bagaimana rasanya dipeluk seseorang yang pernah berbagi napas denganku. Aku lupa bagaimana rasanya berjalan kala kaki – kaki mungilku dan tangannya bertemu.
Aku lupa bagaimana rasanya dininabobokan dengan nyanyian.
Aku bahkan tak punya banyak kenangan manis yang kusimpan tentang dia.
Entah memang pernah ada ataukah memang sangat sedikit.
Dia, salah satu alasan mengapa aku belajar dengan giat sewaktu SD – SMK.
Dia salah satu alasan mengapa aku berjuang dan diam menahan kata – kata kerabat.
Dia, salah satu alasan mengapa aku bersikap baik dan selalu menuruti perkataannya.
Hanya agar bisa diakui, dan diterima apa adanya, dicintai. Just to be loved.
It’s hard you know … mengais kasih sayang!!!
Dia,
Tak pernah tahu rasanya dibandingkan dengan siapa saja yang kukenal.
Mulai dari sepupu yang jago masak sayur kangkung di kelas 5 SD,
Mulai dari sepupu yang sudah bisa menjaga adiknya,
Mulai dari tetangga yang bisa bangun pagi dan mencuci piring satu keluarga
Mulai dari anak perempuan lainnya di kompleks yang bisa merias diri
Capek rasanya dibandingkan.
Mulai dari tampilan fisik, yang tak sebagus saudara perempuanku.
Capek rasanya dibandingkan,
Karena pekerjaanku yang tak feminim
Capek rasanya dibandingkan
Karena sikap dan pemikiranku yang tak seperti cewek kebanyakan
Orang bilang, keluarga adalah mereka yang terhubung dengan ikatan darah denganmu.
Bagiku, keluarga adalah siapa saja yang menerimaku apa adanya, mengerti dan memahamiku, dan tak sekalipun mencoba membandingkan aku dengan siapapun.
Keluarga bagiku adalah …
Orang – orang yang akan membantuku kala terjatuh
Yang membelaku kala kehormatanku berada dalam bahaya
Yang menerima pandanganku sekonyol apapun itu
Yang percaya padaku kala aku berkata benar
Yang tak menghakimiku
Pernahkah kau diragukan orientasi seksualmu oleh orang yang pernah berbagi nafas denganmu?
Pernahkah kau dibiarkan menahan kemarahan, kesedihan, dan ketakutanmu bertahun – tahun tanpa dibela?
Pernahkan kau dibiarkan menahan sakitmu sendiri yang tak tertahankan demi ego, harga diri seseorang yang pernah berbagi nafas denganmu?
Pernahkah kau dihakimi dengan kata – kata yang lebih tajam daripada pisau yang dilumuri cuka kala secara fisik kau berada dalam fase daya O?
Pernahkah kau, begitu muda dan yang sedang mencoba mengenal dunia ‘diterbangkan secara paksa’ di udara usai perang aliran kata – kata?
Pernahkan kau merasakan pipimu berubah warna dan rasa usai menyampaikan sebuah pendapat dan kebenaran berdasarkan Kitab Suci?
Pernahkah kau merasakan bahwa duniamu yang nyaman dan menerima dirimu adalah sebuah kamar dengan sisi segi empatnya dan kau serta bayangan dirimu adalah penghuninya?
Pernahkah kau selalu dianggap tak tahu apa – apa, selalu jadi sumber masalah dan kesialan dan lain – lain?
Pernahkah kau merasakan bahwa suara yang kau punya salah dan tak layak untuk menyanyi walau hanya 1 lagu?
Pernahkah kau merasakan sedih saat yang kau katakan adalah apa yang kau rasakan, apa yang kau amati, hanya dianggap angin lalu?
Pernahkah kau merasakan bahwa kau tak cukup berharga untuk dibela oleh dia yang pernah berbagi napas denganmu?
Pernahkah kau menyimpan semua yang kau rasakan dalam diam, dalam wajah yang tenang dan diam karena air mata ataupun amarah terasa begitu haram dan mengkhianatimu?
Pernahkah kau merasakan bagaimana hubunganmu dengan Tuhan dalam sebuah wacana bernama doa begitu dibatasi dan kau bahkan tak boleh mempunyai saat teduh, hingga kau dan Penciptamu hanya boleh bertemu dalam tutur diam kata dalam hati penuh bisik – bisik?
Pernahkah kau dicap “Tersesat, terhilang” kala kau mencoba mencari kebenaran tentang kekristenan dan mengenal siapa Yesus?
Satu yang pasti, aku pernah.
Never ever let anyone else hurt me!
It’s my life and I (do) respect it!!!
As long as my Jesus is with me, I can face the world.
(Canberra, 30 Januari 2010)
Saturday, 30 January 2010
Thursday, 28 January 2010
Malaikat Berbaju Merah ^_^
Prolog
Aku melihatnya di depan gedung ini, seakan menunggu seseorang. Ia orang pertama yang kulihat pagi ini. Terlalu pagi untuk ukuran mahasiswa ANU di musim panas. Kulitnya yang kecoklatan dan rambutnya yang keriting mengingatkanku untuk seseorang; entah siapa. Entahlah, aku merasa pernah bertemu dengannya. Entah di mana …
****
Thursday Morning, Hudley Bull Centre ANU
8. 30 a.m.
Kusesap kopi panas perlahan – lahan dari gelas kertas. Uapnya yang harum seakan mengisi ruang paruku dengan sukses hingga ke jaringan terkecil dalam rongga dada. Sambil sibuk duduk mencangkung di depan pelataran gedung kuliah ini, kuedarkan pandangan mataku ke arah depan. Tak ada siapa – siapa. Hanya aku.
Tak sabar menunggu, kukeluarkan iPod seri terbaru dan menyetel lagu –lagu Michael Buble dari álbum bertajuk ‘Crazy love’. Masih dengan cuek menyesap kopi hitamku, kucoba untuk berdiri dan melihat kiri – kanan. “Ah….. blom – blom muncul juga ka?”, kataku lagi.
Panggil saja aku, ‘Rhe’, Rhe-tanpa-fam. Rhe tanpa banyak kata.
***
gods’ café, Hudley Bull centre, ANU
8.30 a.m.
Tergesa – gesa kumatikan ujung rokokku di pot bunga parkiran. Mobil Subaru keluaran 97 sukses kutempatkan dalam bingkai garis putih – putih di areal University House dan secepat mungkin berlari ke tempat kerja. Untung belum terlambat. Hari ini aku menggantikan shift Jane. Apa boleh buat, sebagai casual staff, aku tak punya banyak pilihan jam kerja.
Hari ini telah kutetapkan sebagai my brand new day, karena ini hari ulang tahunku. Tepat di pukul 12 siang nanti, aku genap 25 tahun. I’m the luckiest man in the world. Sambil berjalan ke cafe tempatku bekerja, kulihat dia, seorang perempuan duduk sendirian di depan gedung ini. Tak ada rokok di tangannya, hanya segelas kopi di genggamannya dan matanya yang terpejam mengikuti hentakan musik. Kuacuhkan dia!
Tak banyak buang waktu, aku mulai bergegas ke tempat kerja. Menghitung persediaan kopi hari ini, croissant hingga pastries yang ada. Termasuk menghitung persediaan untuk esok hari. Jim; managerku pasti akan sibuk bertanya ini – itu. Lebih baik bersiap – siap.
***
Depan Hudley Bull centre, ANU
11 am
“Bah ... belum – belum muncul juga ka? Su jam berapa ka ini?“, batinku lagi. “Nan baru bilang sulap lagi ka ini“, rutukku. Bolak – balik kuperhatikan orang – orang yang mulai lalu lalang di jalan kecil ini. Tak sabar, ku bergegas ke arah jalan jalur bus. “Apa terlewat tadi ya? Knp trada?”.
Kucoba mengeceknya lewat FB, sial ... namaku sudah di-remove.
HPnya kutelpon berkali – kali tapi tanpa hasil, “nene moyang nih. Macam artis saja ka, artis saja gampang baru ....”
Biarlah .. aku masih punya banyak waktu kok.
Lagipula pekerjaanku memang menunggu. Aku dibayar untuk menunggu.
***
gods' cafe, Hudley Bull centre, ANU
1. 05 pm
Para staff gedung – gedung di sekitar tempat kerjaku mulai sibuk berdatangan. Termasuk Mary Ann, mahasiswi postdoctoral itu. Kami dulu 1 sekolah di Melbourne sewaktu di High School. Ia tak banyak berubah hanya kacamatanya telah berganti lensa kontak, membuat matanya semakin indah dipandang. Walau ia geek, kutu buku atau apalah, tapi ia jago berdiplomasi. Tak heran kalau ia bisa dengan gampang meraih apa yang ia inginkan.
“One mochacinno, one seafood basket and one fruit salad with yoghurt, please“. Seperti biasa, pesanannya tiap Kamis.
Sambil sibuk mengantar pesanan ke tiap meja, mengangkat piring – piring kotor dan sibuk menebar pandangan ke Mary Ann. Aku merasakan seseorang memanggilku dengan kencang, bagai bunyi guruh di langit.
“Praaaaannngggg!”, hanya itu yang sempat kudengar dan selanjutnya kulihat dia begitu cepat, begitu dekat. Aku mengingatnya!
***
Epilog
Sayup – sayup kubuka mataku dan melihat orang – orang berlarian panik. Satu mobil ambulans berlampu merah sigap berada di dekat tempat kerjaku.
Mary Ann menangis hingga maskaranya luntur di wajah. Entah bagaimana nasib kontak lensanya sekarang.
“Danny, it’s time to go! We don’t have much time”, kata dia; Perempuan berambut keriting itu. Malaikat berbaju merah!
(Terinspirasi dari acara menunggu-seminar-tak pasti di Hudley Bull Centre saat aku berbaju merah dan terkaget melihat pengumuman pekerja Kafe gedung ini yang meninggal secara tragis; life is so mysterious/ Menzies Library, 28 Januari 2010)
Aku melihatnya di depan gedung ini, seakan menunggu seseorang. Ia orang pertama yang kulihat pagi ini. Terlalu pagi untuk ukuran mahasiswa ANU di musim panas. Kulitnya yang kecoklatan dan rambutnya yang keriting mengingatkanku untuk seseorang; entah siapa. Entahlah, aku merasa pernah bertemu dengannya. Entah di mana …
****
Thursday Morning, Hudley Bull Centre ANU
8. 30 a.m.
Kusesap kopi panas perlahan – lahan dari gelas kertas. Uapnya yang harum seakan mengisi ruang paruku dengan sukses hingga ke jaringan terkecil dalam rongga dada. Sambil sibuk duduk mencangkung di depan pelataran gedung kuliah ini, kuedarkan pandangan mataku ke arah depan. Tak ada siapa – siapa. Hanya aku.
Tak sabar menunggu, kukeluarkan iPod seri terbaru dan menyetel lagu –lagu Michael Buble dari álbum bertajuk ‘Crazy love’. Masih dengan cuek menyesap kopi hitamku, kucoba untuk berdiri dan melihat kiri – kanan. “Ah….. blom – blom muncul juga ka?”, kataku lagi.
Panggil saja aku, ‘Rhe’, Rhe-tanpa-fam. Rhe tanpa banyak kata.
***
gods’ café, Hudley Bull centre, ANU
8.30 a.m.
Tergesa – gesa kumatikan ujung rokokku di pot bunga parkiran. Mobil Subaru keluaran 97 sukses kutempatkan dalam bingkai garis putih – putih di areal University House dan secepat mungkin berlari ke tempat kerja. Untung belum terlambat. Hari ini aku menggantikan shift Jane. Apa boleh buat, sebagai casual staff, aku tak punya banyak pilihan jam kerja.
Hari ini telah kutetapkan sebagai my brand new day, karena ini hari ulang tahunku. Tepat di pukul 12 siang nanti, aku genap 25 tahun. I’m the luckiest man in the world. Sambil berjalan ke cafe tempatku bekerja, kulihat dia, seorang perempuan duduk sendirian di depan gedung ini. Tak ada rokok di tangannya, hanya segelas kopi di genggamannya dan matanya yang terpejam mengikuti hentakan musik. Kuacuhkan dia!
Tak banyak buang waktu, aku mulai bergegas ke tempat kerja. Menghitung persediaan kopi hari ini, croissant hingga pastries yang ada. Termasuk menghitung persediaan untuk esok hari. Jim; managerku pasti akan sibuk bertanya ini – itu. Lebih baik bersiap – siap.
***
Depan Hudley Bull centre, ANU
11 am
“Bah ... belum – belum muncul juga ka? Su jam berapa ka ini?“, batinku lagi. “Nan baru bilang sulap lagi ka ini“, rutukku. Bolak – balik kuperhatikan orang – orang yang mulai lalu lalang di jalan kecil ini. Tak sabar, ku bergegas ke arah jalan jalur bus. “Apa terlewat tadi ya? Knp trada?”.
Kucoba mengeceknya lewat FB, sial ... namaku sudah di-remove.
HPnya kutelpon berkali – kali tapi tanpa hasil, “nene moyang nih. Macam artis saja ka, artis saja gampang baru ....”
Biarlah .. aku masih punya banyak waktu kok.
Lagipula pekerjaanku memang menunggu. Aku dibayar untuk menunggu.
***
gods' cafe, Hudley Bull centre, ANU
1. 05 pm
Para staff gedung – gedung di sekitar tempat kerjaku mulai sibuk berdatangan. Termasuk Mary Ann, mahasiswi postdoctoral itu. Kami dulu 1 sekolah di Melbourne sewaktu di High School. Ia tak banyak berubah hanya kacamatanya telah berganti lensa kontak, membuat matanya semakin indah dipandang. Walau ia geek, kutu buku atau apalah, tapi ia jago berdiplomasi. Tak heran kalau ia bisa dengan gampang meraih apa yang ia inginkan.
“One mochacinno, one seafood basket and one fruit salad with yoghurt, please“. Seperti biasa, pesanannya tiap Kamis.
Sambil sibuk mengantar pesanan ke tiap meja, mengangkat piring – piring kotor dan sibuk menebar pandangan ke Mary Ann. Aku merasakan seseorang memanggilku dengan kencang, bagai bunyi guruh di langit.
“Praaaaannngggg!”, hanya itu yang sempat kudengar dan selanjutnya kulihat dia begitu cepat, begitu dekat. Aku mengingatnya!
***
Epilog
Sayup – sayup kubuka mataku dan melihat orang – orang berlarian panik. Satu mobil ambulans berlampu merah sigap berada di dekat tempat kerjaku.
Mary Ann menangis hingga maskaranya luntur di wajah. Entah bagaimana nasib kontak lensanya sekarang.
“Danny, it’s time to go! We don’t have much time”, kata dia; Perempuan berambut keriting itu. Malaikat berbaju merah!
(Terinspirasi dari acara menunggu-seminar-tak pasti di Hudley Bull Centre saat aku berbaju merah dan terkaget melihat pengumuman pekerja Kafe gedung ini yang meninggal secara tragis; life is so mysterious/ Menzies Library, 28 Januari 2010)
Monday, 18 January 2010
Kalo kopi bikin 'kaco acara'
Hari ini keadaanku tak begitu baik karena secangkir kopi. Tak sengaja usai ibadah di gereja dan ikut acara morning tea di gereja, saat mengantri minuman, tak memperhatikan bahwa aku antri di barisan kopi dan usai dituangkan dan kucampur gula dan beranjak, baru nyambung kalau yang kuminum itu kopi. Setelah itu langsung ngacir dengan kaka Ina ke rumah Robyn; teman dari gereja untuk makan siang. Selama di rumah Robyn, reaksi kopi mulai terasa, tapi saat pulang reaksinya sudah masuk tahap yang lebih parah.
Sepertinya memang tubuhku sudah tak bisa menolerir kafein lagi. Apalagi semalam aku baru tidur subuh usai berpesta ulang tahun; ber-sajojo dan poco – poco plus berdansa yang lain di rumah bersama teman – teman dari NTT dan beberapa teman lainnya, kebetulan teman serumahku yang dari NTT berulang tahun.
Anyway, aku bersyukur untuk reaksi tubuh yang masih lebih baik daripada keadaan sebelumnya, kali ini hanya demam, mual, sedikit pusing, sedikit sesak napas dan tak enak badan. Aku bilang masih lebih baik karena sebelumnya, beberapa bulan lalu, serangan sesak nafasnya lebih berat dibarengi dengan nyeri dada yang terasa menusuk plus perubahan detak jantung yang terlalu cepat (sampai sempat khawatir kalau itu gejala jantung, tapi setelah serangkaian tes, ternyata karena disebabkan oleh masalah pencernaan oleh makanan/minuman tertentu) tapi untungnya setelah diresepkan jenis obat tertentu untuk efek makanan dan minuman yang bisa bikin error tubuh, keadaanku lumayan. Obatnya memang manjur tapi cuma boleh 1 kaplet sehari dan hanya boleh diminum bila ada reaksi dan selama ada reaksi. Harganya? Lumayan mengurangi uang jajan hehehe, karena sekitar AUD $80an tapi untungnya diganti 2/3 dari biaya obat oleh asuransi.
Aku suka cara kerja asuransi kesehatan di sini, karena bila sakit dan periksa dokter, semuanya masuk ke asuransi, begitu juga dengan harga obat – obatan yang lebih dari $32, akan diganti 2/3 dari biayanya. Aku bersyukur karena beasiswaku memberikan asuransi kesehatan premium bagi mahasiswa internasional dan gratis bagiku. Tak tahu bagaimana jadinya kalau tak punya asuransi kesehatan karena minimal ketemu dokter untuk konsultasi dan periksa itu sekitar $75 ^_^
Mungkin kedengaran aneh kalo aku suka bercerita tentang kesehatan, dan sangat sensitif dengan isu kesehatan. Mungkin karena aku sering berurusan dengan rumah sakit dan pelayanan medis sih, jadinya ya sedikit paham dengan apa yang terjadi dengan tubuhku, dan mungkin aku memang orangnya sedikit cerewet bertanya sana – sini saat diananemsis dokter, suka bertanya tentang obat yang diberikan, bertanya tentang reaksinya dan lain – lain. Mungkin karena trauma kejadian 10 tahun lalu yang pernah ‘sakaw’ dan ‘ketagihan obat’ plus ‘salah dikasi obat’ ^_^
Saat ini …
Kalau anda berada dalam kondisi prima, bersyukurlah.
Kalau anda tak pernah masuk rumah sakit untuk pengobatan yang lama, bersyukurlah.
Kalau anda tak pernah merasakan salah pengobatan dan penanganan, bersyukurlah.
Kalau anda sakit dan ada orang lain yang mengelilingi anda dan peduli, bersyukurlah.
Kalau anda masih bisa mengakses biaya obat dan perawatan kesehatan dengan mudah, bersyukurlah.
Kalau anda masih bisa merasakan perawatan medis yang baik, bersyukurlah.
Percayalah … kesehatan itu mahal!
Aku sudah berulang kali berurusan dengan pelayanan medis sejak kecil dan bagiku, kalau sekarang aku bisa berada di umur yang menjelang 27 tahun dan bisa tetap bertahan dan merasakan yang namanya hidup, semata – mata adalah sebuah anugerah. Anugerah untuk tetap hidup! Kesempatan dan pinjaman yang tak akan pernah bisa kubalas. Ini semata –mata anugerah untuk tetap bisa hidup.
Kalau melihat kembali ke belakang, Tuhan terlalu baik untukku. Terlalu baik!
Sudah banyak kali dihadapkan dengan kenyataan bahwa batas antara hidup dan mati begitu tipis. Mulai dari bayi, tubuhku memang tak sekuat saudara – saudaraku yang lain, tapi aku bersyukur, aku masih tetap bisa hidup hingga saat ini.
Aku cukup sensitif dengan makanan dan minuman tertentu plus udara. Lebih baik mencegah dibanding mengobati sih, tapi kadang, kalo lagi ‘ingin sungguh mati’ ya nekat saja dan berkeras kepala merasakan pantangan hehehe. Biasanya sih reaksinya akan lebih parah daripada yang sudah – sudah hihihi. Untuk hal ini, masih dalam proses ‘pembenahan’ ^_^
Kopi, teh, minuman berpengawet, coklat, kacang – kacangan (kecuali kacang hijau, kedelai dan kacang merah), produk terigu yang ber-gluten (khususnya mie, pasta, roti), daging kambing dan domba, ikan cakalang hanyalah beberapa makanan dan minuman yang harus kuhindari sebisa mungkin. Belum temasuk telur dan daging merah yang hanya boleh dikonsumsi seminimal mungkin. Belum termasuk udara dingin dan udara terlalu panas yang berefek pada kulitku yang semakin sensitif saja di Australia. Sekarang aku baru tahu kalau aku ternyata juga sensitif dengan rumput di Canberra, mungkin karena pupuk atau air atau fertilizer yang dipakai plus kondisi udara yang kering, sehingga kulitku menjadi lebih sensitif dibanding sebelumnya.
Aku bukan orang yang alergi rumput, karena di Manokwari, sejak kecil, aku terbiasa bermain di rerumputan dan semak – semak dan juga beberapa kali pergi ke pedalaman untuk membantu program relawan yang tentu saja berjalan melewati rerumputan dan semak – semak plus hutan, dan kadang – kadang tak mandi. Tapi toh, tak pernah reaksinya seperti beberapa hari lalu selama di sini. Mulai terasa sewaktu usai jogging dan main ke pinggiran danau, dan duduk serta tiduran di rerumputan yang kelihatan menghijau. Selama di sana, tak ada reaksi, akan tetapi pas pulang dan terkena sedikit air di tangan, reaksinya benar – benar bikin badan soak. Gatalnya minta ampun dan walaupun sudah mandi dan sabunan, tetap saja bereaksi dan bikin tangan sedikit merah dan bentol – bentol plus terpaksa digaruk terus. Hal yang sama terjadi 2 hari lalu, usai menyiram tanaman di sore hari dan tak kontak langsung dengan rumput tetapi karena selang penyiram tanaman yang kupakai (hose) berada di rerumputan dan selama kupakai harus bolak balik memastikan tak terlipat, rupanya cukup membuat kulitku bereaksi lagi, dan salahnya lagi karena aku tak mengenakan legging semata kaki jadi yang biasanya hanya di tangan bereaksi ke kaki. Benar – benar tak nyaman!
Ini belum termasuk dengan cuaca, terlalu dingin (di bawah 15) atau terlalu panas (diatas 34) ataupun berangin (aku tak suka angin di Canberra), pasti tulang – tulangku, ataupun kulit di beberapa bagian tubuh pun bereaksi, dan yang paling bikin soak ya mimisan lagi. Mudah – mudahan minggu depan kala ke dokter, bisa terdeteksi masalah di hidung karena sejak musim gugur tahun lalu hingga beberapa hari lalu, masih saja keluar darah. Lapisan mukosa hidung terlalu sensitif dengan suhu.
Anyway, tapi aku bersyukur, apapun yang terjadi dan sedang terjadi, aku masih merasakan yang namanya hidup. Aku masih lebih beruntung dibanding banyak orang di permukaan planet ini yang tak bisa mempunyai akses pada fasilitas kesehatan, yang tak mampu membayar biaya perawatan, yang tak mengetahui bahwa ada yang salah dengan tubuh mereka.
Aku hanya bisa bilang, “Thanx God 4 my life”. Karna walaupun kondisi tubuhku tak sekuat orang lain, tapi aku tak akan pernah mau bertukar hidup, tak pernah mau menjadi orang lain, atau membalikkan masa ke masa lalu walau sedetik saja. Aku nyaman dengan diriku, mengerti apa yang kubutuhkan dan kuinginkan, dan percaya bahwa walau kondisi tubuhku seperti ini, aku akan tetap masuk dalam project Tuhan dalam hidupku.
Hidup cuma satu kali, terlalu singkat. Tapi aku percaya bahwa dengan menjadikan Tuhan sebagai Pimpro ‘pimpinan proyek’ dan aku menjadi staff-Nya dalam menyatakan program-Nya dalam hidupku, aku percaya aku akan baik – baik saja.
Aku bahagia karena sejak setahun terakhir di Canberra, aku mulai bisa melihat dan mengerti sedikit sebagai seorang ‘staff’ tentang blue print project yang sedang dikerjakan dan juga program lainnya. Tak sabar nih menunggu hari H kelak saat ‘mempresentasikan’dan ‘mempertanggungjawabkan’ peranku sebagai ‘staff’. Mudah – mudahan tak mengecewakan penanam ‘modal talenta’ dalam ‘rapat Direksi’kelak.
“Count me in, God, in Ur Big Project!”, itu doaku tiap hari!
Bagaimana dengan anda?
(Canberra, subuh 18 Januari 2010; seseorang yang merasa diberkati oleh Bapa, Yesus, dan Roh Kudus)
Sepertinya memang tubuhku sudah tak bisa menolerir kafein lagi. Apalagi semalam aku baru tidur subuh usai berpesta ulang tahun; ber-sajojo dan poco – poco plus berdansa yang lain di rumah bersama teman – teman dari NTT dan beberapa teman lainnya, kebetulan teman serumahku yang dari NTT berulang tahun.
Anyway, aku bersyukur untuk reaksi tubuh yang masih lebih baik daripada keadaan sebelumnya, kali ini hanya demam, mual, sedikit pusing, sedikit sesak napas dan tak enak badan. Aku bilang masih lebih baik karena sebelumnya, beberapa bulan lalu, serangan sesak nafasnya lebih berat dibarengi dengan nyeri dada yang terasa menusuk plus perubahan detak jantung yang terlalu cepat (sampai sempat khawatir kalau itu gejala jantung, tapi setelah serangkaian tes, ternyata karena disebabkan oleh masalah pencernaan oleh makanan/minuman tertentu) tapi untungnya setelah diresepkan jenis obat tertentu untuk efek makanan dan minuman yang bisa bikin error tubuh, keadaanku lumayan. Obatnya memang manjur tapi cuma boleh 1 kaplet sehari dan hanya boleh diminum bila ada reaksi dan selama ada reaksi. Harganya? Lumayan mengurangi uang jajan hehehe, karena sekitar AUD $80an tapi untungnya diganti 2/3 dari biaya obat oleh asuransi.
Aku suka cara kerja asuransi kesehatan di sini, karena bila sakit dan periksa dokter, semuanya masuk ke asuransi, begitu juga dengan harga obat – obatan yang lebih dari $32, akan diganti 2/3 dari biayanya. Aku bersyukur karena beasiswaku memberikan asuransi kesehatan premium bagi mahasiswa internasional dan gratis bagiku. Tak tahu bagaimana jadinya kalau tak punya asuransi kesehatan karena minimal ketemu dokter untuk konsultasi dan periksa itu sekitar $75 ^_^
Mungkin kedengaran aneh kalo aku suka bercerita tentang kesehatan, dan sangat sensitif dengan isu kesehatan. Mungkin karena aku sering berurusan dengan rumah sakit dan pelayanan medis sih, jadinya ya sedikit paham dengan apa yang terjadi dengan tubuhku, dan mungkin aku memang orangnya sedikit cerewet bertanya sana – sini saat diananemsis dokter, suka bertanya tentang obat yang diberikan, bertanya tentang reaksinya dan lain – lain. Mungkin karena trauma kejadian 10 tahun lalu yang pernah ‘sakaw’ dan ‘ketagihan obat’ plus ‘salah dikasi obat’ ^_^
Saat ini …
Kalau anda berada dalam kondisi prima, bersyukurlah.
Kalau anda tak pernah masuk rumah sakit untuk pengobatan yang lama, bersyukurlah.
Kalau anda tak pernah merasakan salah pengobatan dan penanganan, bersyukurlah.
Kalau anda sakit dan ada orang lain yang mengelilingi anda dan peduli, bersyukurlah.
Kalau anda masih bisa mengakses biaya obat dan perawatan kesehatan dengan mudah, bersyukurlah.
Kalau anda masih bisa merasakan perawatan medis yang baik, bersyukurlah.
Percayalah … kesehatan itu mahal!
Aku sudah berulang kali berurusan dengan pelayanan medis sejak kecil dan bagiku, kalau sekarang aku bisa berada di umur yang menjelang 27 tahun dan bisa tetap bertahan dan merasakan yang namanya hidup, semata – mata adalah sebuah anugerah. Anugerah untuk tetap hidup! Kesempatan dan pinjaman yang tak akan pernah bisa kubalas. Ini semata –mata anugerah untuk tetap bisa hidup.
Kalau melihat kembali ke belakang, Tuhan terlalu baik untukku. Terlalu baik!
Sudah banyak kali dihadapkan dengan kenyataan bahwa batas antara hidup dan mati begitu tipis. Mulai dari bayi, tubuhku memang tak sekuat saudara – saudaraku yang lain, tapi aku bersyukur, aku masih tetap bisa hidup hingga saat ini.
Aku cukup sensitif dengan makanan dan minuman tertentu plus udara. Lebih baik mencegah dibanding mengobati sih, tapi kadang, kalo lagi ‘ingin sungguh mati’ ya nekat saja dan berkeras kepala merasakan pantangan hehehe. Biasanya sih reaksinya akan lebih parah daripada yang sudah – sudah hihihi. Untuk hal ini, masih dalam proses ‘pembenahan’ ^_^
Kopi, teh, minuman berpengawet, coklat, kacang – kacangan (kecuali kacang hijau, kedelai dan kacang merah), produk terigu yang ber-gluten (khususnya mie, pasta, roti), daging kambing dan domba, ikan cakalang hanyalah beberapa makanan dan minuman yang harus kuhindari sebisa mungkin. Belum temasuk telur dan daging merah yang hanya boleh dikonsumsi seminimal mungkin. Belum termasuk udara dingin dan udara terlalu panas yang berefek pada kulitku yang semakin sensitif saja di Australia. Sekarang aku baru tahu kalau aku ternyata juga sensitif dengan rumput di Canberra, mungkin karena pupuk atau air atau fertilizer yang dipakai plus kondisi udara yang kering, sehingga kulitku menjadi lebih sensitif dibanding sebelumnya.
Aku bukan orang yang alergi rumput, karena di Manokwari, sejak kecil, aku terbiasa bermain di rerumputan dan semak – semak dan juga beberapa kali pergi ke pedalaman untuk membantu program relawan yang tentu saja berjalan melewati rerumputan dan semak – semak plus hutan, dan kadang – kadang tak mandi. Tapi toh, tak pernah reaksinya seperti beberapa hari lalu selama di sini. Mulai terasa sewaktu usai jogging dan main ke pinggiran danau, dan duduk serta tiduran di rerumputan yang kelihatan menghijau. Selama di sana, tak ada reaksi, akan tetapi pas pulang dan terkena sedikit air di tangan, reaksinya benar – benar bikin badan soak. Gatalnya minta ampun dan walaupun sudah mandi dan sabunan, tetap saja bereaksi dan bikin tangan sedikit merah dan bentol – bentol plus terpaksa digaruk terus. Hal yang sama terjadi 2 hari lalu, usai menyiram tanaman di sore hari dan tak kontak langsung dengan rumput tetapi karena selang penyiram tanaman yang kupakai (hose) berada di rerumputan dan selama kupakai harus bolak balik memastikan tak terlipat, rupanya cukup membuat kulitku bereaksi lagi, dan salahnya lagi karena aku tak mengenakan legging semata kaki jadi yang biasanya hanya di tangan bereaksi ke kaki. Benar – benar tak nyaman!
Ini belum termasuk dengan cuaca, terlalu dingin (di bawah 15) atau terlalu panas (diatas 34) ataupun berangin (aku tak suka angin di Canberra), pasti tulang – tulangku, ataupun kulit di beberapa bagian tubuh pun bereaksi, dan yang paling bikin soak ya mimisan lagi. Mudah – mudahan minggu depan kala ke dokter, bisa terdeteksi masalah di hidung karena sejak musim gugur tahun lalu hingga beberapa hari lalu, masih saja keluar darah. Lapisan mukosa hidung terlalu sensitif dengan suhu.
Anyway, tapi aku bersyukur, apapun yang terjadi dan sedang terjadi, aku masih merasakan yang namanya hidup. Aku masih lebih beruntung dibanding banyak orang di permukaan planet ini yang tak bisa mempunyai akses pada fasilitas kesehatan, yang tak mampu membayar biaya perawatan, yang tak mengetahui bahwa ada yang salah dengan tubuh mereka.
Aku hanya bisa bilang, “Thanx God 4 my life”. Karna walaupun kondisi tubuhku tak sekuat orang lain, tapi aku tak akan pernah mau bertukar hidup, tak pernah mau menjadi orang lain, atau membalikkan masa ke masa lalu walau sedetik saja. Aku nyaman dengan diriku, mengerti apa yang kubutuhkan dan kuinginkan, dan percaya bahwa walau kondisi tubuhku seperti ini, aku akan tetap masuk dalam project Tuhan dalam hidupku.
Hidup cuma satu kali, terlalu singkat. Tapi aku percaya bahwa dengan menjadikan Tuhan sebagai Pimpro ‘pimpinan proyek’ dan aku menjadi staff-Nya dalam menyatakan program-Nya dalam hidupku, aku percaya aku akan baik – baik saja.
Aku bahagia karena sejak setahun terakhir di Canberra, aku mulai bisa melihat dan mengerti sedikit sebagai seorang ‘staff’ tentang blue print project yang sedang dikerjakan dan juga program lainnya. Tak sabar nih menunggu hari H kelak saat ‘mempresentasikan’dan ‘mempertanggungjawabkan’ peranku sebagai ‘staff’. Mudah – mudahan tak mengecewakan penanam ‘modal talenta’ dalam ‘rapat Direksi’kelak.
“Count me in, God, in Ur Big Project!”, itu doaku tiap hari!
Bagaimana dengan anda?
(Canberra, subuh 18 Januari 2010; seseorang yang merasa diberkati oleh Bapa, Yesus, dan Roh Kudus)
Labels:
self - reflection,
Summer story 2009 - 2010,
X story
Saturday, 16 January 2010
Cerpen: Pelangi 5 Tahun
Prolog
Canberra, 16 Januari 2010
4.30 a.m. *waktu benua Kangguru
Aku mungkin bukan pencerita yang baik, bukan yang pandai merangkai kata – kata bersayap. Pun tak pernah bisa menyusun dan memainkan lema kata menjadi pisau bermata tajam membelah jiwa. Tapi aku memutuskan menuliskan kisahku ini. Tentang pelangi yang muncul tiap 5 tahun sekali.
Panggil saja aku ‘Rhe’, perempuan pengejar pelangi dan pecinta hujan. Tak perlu mengkaitkan aku dengan perempuan lain yang kau kenal, aku hanya seorang ‘invisible gal’ yang sering muncul tanpa kau sadari, yang sering kau lihat. Panggil saja aku ‘Rhe’. ‘Rhea’ lengkapnya.
***
Canberra, medio November 2009
12 p.m. *Saat mentari bersinar terik di langit Australia
Sambil menyesap secangkir cappuccino di pelataran toko buku, mataku tiba – tiba menangkap sebuah buku di ujung meja. “Mitologi Yunani”, batinku. Kuatur posisi notebookku dengan cermat dan kembali lagi menyesap endapan nikmat surgawi berwarna hitam ini. Hilir mudik perempuan berbaju minim warna – warni berkelebat di belakangku tak kupedulikan, walau bayang mereka terpantul ceria di kaca jendela. “Musim panas”, batinku lagi.
Kuaktifkan sambungan dunia maya dan terhubung dengan sebuah jejaring sosial bernama ‘Buku Wajah 2.0’. Tak sadar, sebuah bunyi ‘bip’ masuk dan ajakan mengobrol pun muncul dari seorang sahabat di benua lain. Tepat di saat lagu Michael Buble diputar lembut lewat kisi – kisi jendela, “Haven’t meet you yet’.
Kuacuhkan ajakan obrolan itu dan terpesona dalam alunan suara lelaki seksi ini. Saat mataku kembali lagi pada buku di ujung meja itu, “Mitologi Yunani”.
Dan ingatanku terbang dengan sukses padanya. Pada dia yang telah kukubur lama. Dia yang mencuri hatiku (di masa remaja).
***
Manokwari, Juli 1998
9.00 a.m *Waktu Papua
“Booo kam jang baku dorong ka. Neh tong su mo sarden ka dendeng di depan nih. Stop dorong suda!”, suaraku tiba – tiba menggema besar di depan meja pendaftaran siswa/i baru di sebuah SMA negeri di kotaku. Bukannya tanpa alasan aku menaikan volume suara secara tubuhku hampir sukses mencium berkas – berkas map berwarna merah di atas meja. Apa boleh buat, antrian menuju ruang pendaftaran begitu panjang dan aku cukup beruntung mengantri sejak pagi. Tapi efeknya ya, terpaksa menjadi korban ‘dorong’ dari belakang.
Sambil menahan emosi bercampur keringat yang mengucur deras dari dahi, kucoba menatap ke antrian di meja lain. Dan ‘Buk’, seakan hatiku bisa berbicara dan berjatuhan dengan keras dari rongga dada. “Damainya … kaka ini manis sekali ooooo”, batinku. Tak jauh dari tempatku berdiri menunggu antrian, seorang lelaki berseragam putih – abu abu dengan senyum manis dan suara berat memberi petunjuk pada beberapa calon siswa baru. Tak bisa lupa pandangan matanya!
***
Mei 1999
1 p.m. *waktu Manokwari
Dia sedang berdiri di sana, tertawa bersama teman – temannya. Pandangannya masih tetap sama seperti tahun lalu. Masih tetap sama. Rahangnya, matanya dan garis wajahnya selalu sukses membuat hatiku kebat – kebit bagai ikan poro bibi yang gelagapan mencari oksigen.
Hari ini hari terakhir pengayaan. Tak terasa 1 tahun berlalu sejak melihatnya. Tak terasa telah 1 tahun hatiku terjerat dalam senyuman dan suaranya. Gila! Lau – lau, nau – nau, entahlah. Tak tahu. Rasa ini aneh!!!
Tak lama lagi ia akan pergi dari sekolah ini. Tak lama lagi. Hanya perlu menghitung hari saja.
Ah, aku teringat sering menatapnya dari jendela kelas kala ia dan rombongan teman – temannya yang berbadan atletis melewati jendela kelas dengan kostum sepakbola mereka. Mereka pasti tertawa bokar – bokar saat melewati kelas kami. Dan aku rela diberi hukuman saat jam fisika karena tak melihat ke papan tulis walau ibu Sin sedang sibuk menulis rumus. Aku tak bisa saja melewatkan pandangan ‘makhluk Tuhan yang paling seksi’ itu lewat di depan mataku, turun dari arah tangga yang dinaungi pohon Mangga. Ia benar – benar seperti patung Yunani. “Nangka Belanda, kenapa sa pu hati rasa begini ka?”, batinku lagi.
Sambil mengerjakan soal – soal fisika yang membuatku sakit kepala, aku teringat bagaimana aku sibuk mencari informasi tentang dia. Apa yang disukainya, kapan ulang tahunnya, siapa pacarnya, alamat rumahnya dan segala macam informasi berbau ‘dia’. Lega rasanya bila mendapatkan satu informasi kecil tentangnya.
Aku kerap melihatnya duduk sendiri kala tak ada pelajaran di bawah pohon mangga dekat kelasku. Kala pandangannya terasa hampa menatap rerumputan di depan kelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Entah apa yang membebaninya. Aku tak tahu.
“Rhe, maju kerjakan nomor 5 -7. Segera”, lengking suara ibu Sin pun mengobrak – abrik lamunanku tentang ‘dia’.
***
Agustus 2004
3 p.m *waktu Jayapura
Aku hampir tercekat melihatnya di kota ini. “Bukannya de su tra ada di tanah Papua. Bukannya de memilih merantau ke tanah lain di gugusan kepulauan ini? Mungkin salah orang”, batinku berkali – kali.
Sekelebat bayang lelaki berbadan tegap bergerak di depan tubuhku kala berbelanja di sebuah supermarket. Aku kenal siluet yang telah bergerak ke sudut lain toko, entah di mana. Entah bagaimana. Aku teringat dia.
Masih termangu tanpa kata, mencerna apa yang terjadi, sebuah suara berat menyapaku, “E ko anak Manokwari tooo. Dulu anak SMA 1 to, yang tinggal di dekat jembatan ST situ.”. Jantungku hampir copot! Dia berdiri di depanku, bertanya padaku.
“Iyo”, jawabku pelan. Dan aku hanya bisa tersihir dan diam dibuai pesonanya, kala ia cepat – cepat pamitan kala seorang lelaki berbadan tegap lainnya memberi kode bahwa mereka harus pergi.
***
September 2009
5 p.m. *Waktu Jakarta
Kutapaki tangga – tangga halte Busway di depan apartemen Mewah ini; ‘Da Vinci’. Hujan baru saja turun dan aku tergopoh – gopoh berlari bersisian dengan para pedagang asongan yang menempelkan jualan mereka bersaing dengan rimbun Bougenville yang menempel di dinding halte. Sambil mengebaskan air yang menempel di rambut, kucoba mengeluarkan recehan 5 ribu Rupiah dari sakuku, dan menggulung sigap jins ketatku. Mudah – mudahan ada bocah – bocah penjaja ojek payung di ujung lain halte ini.
Para manusia berjas dan berdasi bersisian dengan para perempuan berbaju rapi dan berrok ketat bersaing menapaki jembatan penyebrangan yang bergandeng mesra dengan halte bus di atas ruas jalan depan Chase Plaza. Aku tak mau kalah, kusisipkan badanku dan tas punggungku di aliran manusia yang tergopoh mengejar transportasi sejuta umat di bawahku yang tersendat bersaing dengan laju kemacetan Sudirman kala sore.
Di pertengahan jembatan, kala hendak mendahului seorang eksekutif muda yang hendak menerobos hujan yang terpercik di sisi bawah lantai besi penopang jembatan menuju halte busway, tak sengaja tubuhku menabrak seorang lelaki. Seorang lelaki berbadan tegap.
“Hei, ko bikin apa di sini?”, serunya kaget. “Ya ampun, orang Manokwari tooo”, serunya lagi.
Aku bisa bilang sore itu mungkin the best time of my life. Aku tak jadi bergeser dari jembatan itu dan ia tak jadi mengejar buswaynya. Ditemani kopi panas yang dijajakan pedagang asongan, kami berdua terperangkap dalam cerita tentang masa lalu. Masa lalu yang dibalut dengan manis kala menatap Halte Dukuh Atas dan patung Sudirman di kejauhan. Mulai dari guru – guru kami hingga kondisi terakhir Manokwari. Mulai dari musim durian hingga tim sepakbola kota.
Sore itu, hujan masih turun dengan deras kala sesapan terakhir kopi di cangkir Styrofoam kami sukses berenang ke lambung. Kala tawa dan cerita bersaing kencang menatap butir hujan yang jatuh.
Akui tak peduli kaus hitamku basah kuyup dan rambut keritingku mengulir lemas di dahiku. Dia tak peduli pakaian kerjanya sedikit basah. Yang aku tahu, sebuah simfoni alam sedang bermain di hatiku.
Tak terasa sejam telah berlalu dan usai bertukar nomor kontak plus berjabat tangan menyebutkan nama. Kala pelangi muncul di langit Jakarta yang kelam, kami pun berpisah.
“Ray. Ray-tanpa- fam”, katanya. *ia pikir aku tak tahu nama lengkapnya ^_^
***
Epilog
Aku menemukannya kembali di jejaring sosial ini. Usai malam – malam tanpa status. Malam – malam yang mengiris hati.
‘Bip’, bunyi ajakan mengobrol itu muncul lagi di layar notebookku dan lamunanku pecah.
‘Ray’, batinku lagi. ‘Lelaki pelangi’, labelku padanya.
Entahlah, apakah aku bisa bilang padanya satu hari nanti bahwa aku pernah jatuh cinta padanya. Pernah suka padanya!
Entahlah, tak tahu. Tapi yang pasti, aku tahu hatiku tak akan pernah sama lagi sejak pertama kali menatapnya di sekolah itu. Tak pernah sama!
Yang pasti, tiap 5 tahun, pelangi warna – warni itu muncul kembali di hatiku.
(Canberra, 16 Januari 2010; pada sebuah subuh dan merindukan ‘seseorang’ dari masa lalu/ Thanx Olive untuk judul cerpennya ya ^_^)
Canberra, 16 Januari 2010
4.30 a.m. *waktu benua Kangguru
Aku mungkin bukan pencerita yang baik, bukan yang pandai merangkai kata – kata bersayap. Pun tak pernah bisa menyusun dan memainkan lema kata menjadi pisau bermata tajam membelah jiwa. Tapi aku memutuskan menuliskan kisahku ini. Tentang pelangi yang muncul tiap 5 tahun sekali.
Panggil saja aku ‘Rhe’, perempuan pengejar pelangi dan pecinta hujan. Tak perlu mengkaitkan aku dengan perempuan lain yang kau kenal, aku hanya seorang ‘invisible gal’ yang sering muncul tanpa kau sadari, yang sering kau lihat. Panggil saja aku ‘Rhe’. ‘Rhea’ lengkapnya.
***
Canberra, medio November 2009
12 p.m. *Saat mentari bersinar terik di langit Australia
Sambil menyesap secangkir cappuccino di pelataran toko buku, mataku tiba – tiba menangkap sebuah buku di ujung meja. “Mitologi Yunani”, batinku. Kuatur posisi notebookku dengan cermat dan kembali lagi menyesap endapan nikmat surgawi berwarna hitam ini. Hilir mudik perempuan berbaju minim warna – warni berkelebat di belakangku tak kupedulikan, walau bayang mereka terpantul ceria di kaca jendela. “Musim panas”, batinku lagi.
Kuaktifkan sambungan dunia maya dan terhubung dengan sebuah jejaring sosial bernama ‘Buku Wajah 2.0’. Tak sadar, sebuah bunyi ‘bip’ masuk dan ajakan mengobrol pun muncul dari seorang sahabat di benua lain. Tepat di saat lagu Michael Buble diputar lembut lewat kisi – kisi jendela, “Haven’t meet you yet’.
Kuacuhkan ajakan obrolan itu dan terpesona dalam alunan suara lelaki seksi ini. Saat mataku kembali lagi pada buku di ujung meja itu, “Mitologi Yunani”.
Dan ingatanku terbang dengan sukses padanya. Pada dia yang telah kukubur lama. Dia yang mencuri hatiku (di masa remaja).
***
Manokwari, Juli 1998
9.00 a.m *Waktu Papua
“Booo kam jang baku dorong ka. Neh tong su mo sarden ka dendeng di depan nih. Stop dorong suda!”, suaraku tiba – tiba menggema besar di depan meja pendaftaran siswa/i baru di sebuah SMA negeri di kotaku. Bukannya tanpa alasan aku menaikan volume suara secara tubuhku hampir sukses mencium berkas – berkas map berwarna merah di atas meja. Apa boleh buat, antrian menuju ruang pendaftaran begitu panjang dan aku cukup beruntung mengantri sejak pagi. Tapi efeknya ya, terpaksa menjadi korban ‘dorong’ dari belakang.
Sambil menahan emosi bercampur keringat yang mengucur deras dari dahi, kucoba menatap ke antrian di meja lain. Dan ‘Buk’, seakan hatiku bisa berbicara dan berjatuhan dengan keras dari rongga dada. “Damainya … kaka ini manis sekali ooooo”, batinku. Tak jauh dari tempatku berdiri menunggu antrian, seorang lelaki berseragam putih – abu abu dengan senyum manis dan suara berat memberi petunjuk pada beberapa calon siswa baru. Tak bisa lupa pandangan matanya!
***
Mei 1999
1 p.m. *waktu Manokwari
Dia sedang berdiri di sana, tertawa bersama teman – temannya. Pandangannya masih tetap sama seperti tahun lalu. Masih tetap sama. Rahangnya, matanya dan garis wajahnya selalu sukses membuat hatiku kebat – kebit bagai ikan poro bibi yang gelagapan mencari oksigen.
Hari ini hari terakhir pengayaan. Tak terasa 1 tahun berlalu sejak melihatnya. Tak terasa telah 1 tahun hatiku terjerat dalam senyuman dan suaranya. Gila! Lau – lau, nau – nau, entahlah. Tak tahu. Rasa ini aneh!!!
Tak lama lagi ia akan pergi dari sekolah ini. Tak lama lagi. Hanya perlu menghitung hari saja.
Ah, aku teringat sering menatapnya dari jendela kelas kala ia dan rombongan teman – temannya yang berbadan atletis melewati jendela kelas dengan kostum sepakbola mereka. Mereka pasti tertawa bokar – bokar saat melewati kelas kami. Dan aku rela diberi hukuman saat jam fisika karena tak melihat ke papan tulis walau ibu Sin sedang sibuk menulis rumus. Aku tak bisa saja melewatkan pandangan ‘makhluk Tuhan yang paling seksi’ itu lewat di depan mataku, turun dari arah tangga yang dinaungi pohon Mangga. Ia benar – benar seperti patung Yunani. “Nangka Belanda, kenapa sa pu hati rasa begini ka?”, batinku lagi.
Sambil mengerjakan soal – soal fisika yang membuatku sakit kepala, aku teringat bagaimana aku sibuk mencari informasi tentang dia. Apa yang disukainya, kapan ulang tahunnya, siapa pacarnya, alamat rumahnya dan segala macam informasi berbau ‘dia’. Lega rasanya bila mendapatkan satu informasi kecil tentangnya.
Aku kerap melihatnya duduk sendiri kala tak ada pelajaran di bawah pohon mangga dekat kelasku. Kala pandangannya terasa hampa menatap rerumputan di depan kelasku. Entah apa yang dia pikirkan. Entah apa yang membebaninya. Aku tak tahu.
“Rhe, maju kerjakan nomor 5 -7. Segera”, lengking suara ibu Sin pun mengobrak – abrik lamunanku tentang ‘dia’.
***
Agustus 2004
3 p.m *waktu Jayapura
Aku hampir tercekat melihatnya di kota ini. “Bukannya de su tra ada di tanah Papua. Bukannya de memilih merantau ke tanah lain di gugusan kepulauan ini? Mungkin salah orang”, batinku berkali – kali.
Sekelebat bayang lelaki berbadan tegap bergerak di depan tubuhku kala berbelanja di sebuah supermarket. Aku kenal siluet yang telah bergerak ke sudut lain toko, entah di mana. Entah bagaimana. Aku teringat dia.
Masih termangu tanpa kata, mencerna apa yang terjadi, sebuah suara berat menyapaku, “E ko anak Manokwari tooo. Dulu anak SMA 1 to, yang tinggal di dekat jembatan ST situ.”. Jantungku hampir copot! Dia berdiri di depanku, bertanya padaku.
“Iyo”, jawabku pelan. Dan aku hanya bisa tersihir dan diam dibuai pesonanya, kala ia cepat – cepat pamitan kala seorang lelaki berbadan tegap lainnya memberi kode bahwa mereka harus pergi.
***
September 2009
5 p.m. *Waktu Jakarta
Kutapaki tangga – tangga halte Busway di depan apartemen Mewah ini; ‘Da Vinci’. Hujan baru saja turun dan aku tergopoh – gopoh berlari bersisian dengan para pedagang asongan yang menempelkan jualan mereka bersaing dengan rimbun Bougenville yang menempel di dinding halte. Sambil mengebaskan air yang menempel di rambut, kucoba mengeluarkan recehan 5 ribu Rupiah dari sakuku, dan menggulung sigap jins ketatku. Mudah – mudahan ada bocah – bocah penjaja ojek payung di ujung lain halte ini.
Para manusia berjas dan berdasi bersisian dengan para perempuan berbaju rapi dan berrok ketat bersaing menapaki jembatan penyebrangan yang bergandeng mesra dengan halte bus di atas ruas jalan depan Chase Plaza. Aku tak mau kalah, kusisipkan badanku dan tas punggungku di aliran manusia yang tergopoh mengejar transportasi sejuta umat di bawahku yang tersendat bersaing dengan laju kemacetan Sudirman kala sore.
Di pertengahan jembatan, kala hendak mendahului seorang eksekutif muda yang hendak menerobos hujan yang terpercik di sisi bawah lantai besi penopang jembatan menuju halte busway, tak sengaja tubuhku menabrak seorang lelaki. Seorang lelaki berbadan tegap.
“Hei, ko bikin apa di sini?”, serunya kaget. “Ya ampun, orang Manokwari tooo”, serunya lagi.
Aku bisa bilang sore itu mungkin the best time of my life. Aku tak jadi bergeser dari jembatan itu dan ia tak jadi mengejar buswaynya. Ditemani kopi panas yang dijajakan pedagang asongan, kami berdua terperangkap dalam cerita tentang masa lalu. Masa lalu yang dibalut dengan manis kala menatap Halte Dukuh Atas dan patung Sudirman di kejauhan. Mulai dari guru – guru kami hingga kondisi terakhir Manokwari. Mulai dari musim durian hingga tim sepakbola kota.
Sore itu, hujan masih turun dengan deras kala sesapan terakhir kopi di cangkir Styrofoam kami sukses berenang ke lambung. Kala tawa dan cerita bersaing kencang menatap butir hujan yang jatuh.
Akui tak peduli kaus hitamku basah kuyup dan rambut keritingku mengulir lemas di dahiku. Dia tak peduli pakaian kerjanya sedikit basah. Yang aku tahu, sebuah simfoni alam sedang bermain di hatiku.
Tak terasa sejam telah berlalu dan usai bertukar nomor kontak plus berjabat tangan menyebutkan nama. Kala pelangi muncul di langit Jakarta yang kelam, kami pun berpisah.
“Ray. Ray-tanpa- fam”, katanya. *ia pikir aku tak tahu nama lengkapnya ^_^
***
Epilog
Aku menemukannya kembali di jejaring sosial ini. Usai malam – malam tanpa status. Malam – malam yang mengiris hati.
‘Bip’, bunyi ajakan mengobrol itu muncul lagi di layar notebookku dan lamunanku pecah.
‘Ray’, batinku lagi. ‘Lelaki pelangi’, labelku padanya.
Entahlah, apakah aku bisa bilang padanya satu hari nanti bahwa aku pernah jatuh cinta padanya. Pernah suka padanya!
Entahlah, tak tahu. Tapi yang pasti, aku tahu hatiku tak akan pernah sama lagi sejak pertama kali menatapnya di sekolah itu. Tak pernah sama!
Yang pasti, tiap 5 tahun, pelangi warna – warni itu muncul kembali di hatiku.
(Canberra, 16 Januari 2010; pada sebuah subuh dan merindukan ‘seseorang’ dari masa lalu/ Thanx Olive untuk judul cerpennya ya ^_^)
Friday, 15 January 2010
Nyanyian Subuh
Catatan ini mungkin kedengaran gila dibanding catatan yang sering sa buat, mungkin kedengaran aneh. Tapi sa baru saja mengalami satu hal yang menurut sa, bukan my real habit deh. Agak – agak lain getho.
Catatan ini sa buat usai 15 – 20 menit mengalami sesuatu yang menurut sa sangat damai, sukacita dan sa merasa bahwa saat sa pu akal sehat tra bisa resist dan tolak akan, macam akan mengalir saja tanpa bisa sa kontrol.
Sa karena baru bangun sore, jadi usai cari kerjaan yang diminta oleh pemberi kerjaan, memutuskan untuk browsing, you tube-an dll. Saat teduh sudah sa lakukan sejak malam jadi ya, sa putuskan malam ini cuma chatting, FBan dll.
Sa akhir – akhir ini memang lagi suka nonton – nonton Video Kesaksian Kristen begitu. Karena sa su ambil keputusan pribadi tahun 2010 ini benar – benar tahun komitmen sa untuk benar – benar serius dengan komitmen deng Tuhan ka ini.
Yang sa mo bilang tuh, tadi saat lagi sibuk nonton – nonton Video kesaksian orang – orang yang diubahkan hidupnya oleh Yesus, tiba – tiba sa macam berhenti dari kegiatan nonton dan macam ada sesuatu yang menggerakkan sa kepala untuk menatap ke langit – langit kamar, dan sa merasa damai saja. Satu yang pasti, macam di sapu mulut tuh ada yang kontrol sa ka, jadi sa tra bisa kontrol apa yang sa bicara, jadi bukan apa yang sa pikirkan yang keluar tapi macam sesuatu yang mengontrolnya.
Selama 20 menit itu, sa mendengar sapu mulut menyanyikan lagu – lagu dan kata – kata pujian tentang Yesus, sebagai Raja di atas Raja, dan Tuhan di atas Tuhan dan macam kata – kata itu mengalir sendiri, dengan nada – nada yang sa tra mengerti, sa terbiasa deng lagu – lagu rohani kontemporer CCM, ataupun versi nyanyian Rohani, tapi tadi yang sa dengar tuh macam nyanyian – nyanyian versi Timur Tengah kapa, aneh karena sa tra bisa menyanyikan nada – nada itu, yang bersahutan dan lancar keluar. Mirip – mirip dengan yang pernah sa dengar di gereja Katolik kala Pastor dan umat angkat pujian Mazmur begitu, tapi yang ini tuh lancar sekali mengalir.
Jujur, nyanyian tuh mengalir dengan sendirinya, tanpa sa tahu apa yang dikonsep, tanpa ada proses recall, dan sa nyanyi tuh full in English, dengan kata – kata sastra yang kadang – kadang menurut sa jarang sa pake dan cuma ketemukan di dalam karya sastra.
Satu yang pasti, sa merasa begitu terpesona karena sa pu akal sehat tuh masih bisa akses apa yang sedang sa lakukan tapi sa tra bisa kontrol dan tra tau apa yang sa mulut nyanyikan, macam itu bukan sa tadi yang nyanyi, karena suaranya mengalir lepas dengan suara yang kadang naik dan lancar (sampe sa tadi sapu akal sehat sempat berpikir jang sampe sa batariak dan teman – teman rumah bangun ka tetangga dengar ka) kadang rendah dan jujur, sa tra bisa kontrol apa yang sa pu mulut de lakukan. Jujur, tadi seakan sa tra pu kontrol untuk sapu organ ucap ini oooo.
Tapi satu yang sa tahu, sa merasa damai sejahtera sekali, merasa nyaman saat menyanyi dan usai sa menyanyi. Yang sa tahu tadi, nyanyian tadi isinya tentang pujian untuk Yesus sebagai Tuhan dan Raja. Pada menit ini sa su lupa kata – kata persis apa saja yang tadi sa nyanyi dan sepertinya itu bukan nyanyian yang sa pernah nyanyikan.
Mangkali ini pengaruh sa tadi terlalu banyak nonton video kesaksian dan baca – baca kitab Wahyu dll kapa eee.
Satu yang pasti, apapun tadi yang sa baru alami, sa mengucap syukur karena sa tra pernah merasa sedamai ini. Nyaman sekali!
Kiranya segala hormat, kemuliaan, dan pujian bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amen
(Canberra, sebuah subuh di 15 Januari 2010)
Catatan ini sa buat usai 15 – 20 menit mengalami sesuatu yang menurut sa sangat damai, sukacita dan sa merasa bahwa saat sa pu akal sehat tra bisa resist dan tolak akan, macam akan mengalir saja tanpa bisa sa kontrol.
Sa karena baru bangun sore, jadi usai cari kerjaan yang diminta oleh pemberi kerjaan, memutuskan untuk browsing, you tube-an dll. Saat teduh sudah sa lakukan sejak malam jadi ya, sa putuskan malam ini cuma chatting, FBan dll.
Sa akhir – akhir ini memang lagi suka nonton – nonton Video Kesaksian Kristen begitu. Karena sa su ambil keputusan pribadi tahun 2010 ini benar – benar tahun komitmen sa untuk benar – benar serius dengan komitmen deng Tuhan ka ini.
Yang sa mo bilang tuh, tadi saat lagi sibuk nonton – nonton Video kesaksian orang – orang yang diubahkan hidupnya oleh Yesus, tiba – tiba sa macam berhenti dari kegiatan nonton dan macam ada sesuatu yang menggerakkan sa kepala untuk menatap ke langit – langit kamar, dan sa merasa damai saja. Satu yang pasti, macam di sapu mulut tuh ada yang kontrol sa ka, jadi sa tra bisa kontrol apa yang sa bicara, jadi bukan apa yang sa pikirkan yang keluar tapi macam sesuatu yang mengontrolnya.
Selama 20 menit itu, sa mendengar sapu mulut menyanyikan lagu – lagu dan kata – kata pujian tentang Yesus, sebagai Raja di atas Raja, dan Tuhan di atas Tuhan dan macam kata – kata itu mengalir sendiri, dengan nada – nada yang sa tra mengerti, sa terbiasa deng lagu – lagu rohani kontemporer CCM, ataupun versi nyanyian Rohani, tapi tadi yang sa dengar tuh macam nyanyian – nyanyian versi Timur Tengah kapa, aneh karena sa tra bisa menyanyikan nada – nada itu, yang bersahutan dan lancar keluar. Mirip – mirip dengan yang pernah sa dengar di gereja Katolik kala Pastor dan umat angkat pujian Mazmur begitu, tapi yang ini tuh lancar sekali mengalir.
Jujur, nyanyian tuh mengalir dengan sendirinya, tanpa sa tahu apa yang dikonsep, tanpa ada proses recall, dan sa nyanyi tuh full in English, dengan kata – kata sastra yang kadang – kadang menurut sa jarang sa pake dan cuma ketemukan di dalam karya sastra.
Satu yang pasti, sa merasa begitu terpesona karena sa pu akal sehat tuh masih bisa akses apa yang sedang sa lakukan tapi sa tra bisa kontrol dan tra tau apa yang sa mulut nyanyikan, macam itu bukan sa tadi yang nyanyi, karena suaranya mengalir lepas dengan suara yang kadang naik dan lancar (sampe sa tadi sapu akal sehat sempat berpikir jang sampe sa batariak dan teman – teman rumah bangun ka tetangga dengar ka) kadang rendah dan jujur, sa tra bisa kontrol apa yang sa pu mulut de lakukan. Jujur, tadi seakan sa tra pu kontrol untuk sapu organ ucap ini oooo.
Tapi satu yang sa tahu, sa merasa damai sejahtera sekali, merasa nyaman saat menyanyi dan usai sa menyanyi. Yang sa tahu tadi, nyanyian tadi isinya tentang pujian untuk Yesus sebagai Tuhan dan Raja. Pada menit ini sa su lupa kata – kata persis apa saja yang tadi sa nyanyi dan sepertinya itu bukan nyanyian yang sa pernah nyanyikan.
Mangkali ini pengaruh sa tadi terlalu banyak nonton video kesaksian dan baca – baca kitab Wahyu dll kapa eee.
Satu yang pasti, apapun tadi yang sa baru alami, sa mengucap syukur karena sa tra pernah merasa sedamai ini. Nyaman sekali!
Kiranya segala hormat, kemuliaan, dan pujian bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amen
(Canberra, sebuah subuh di 15 Januari 2010)
Monday, 11 January 2010
Film 'Fireproof'; konseling pernikahan a la Kristen
Malam ini sa baru saja selesai nonton film Fireproof, sebuah film yang sepertinya dibuat demi tujuan konseling pernikahan. Ceritanya sih sederhana, aktingnya juga sederhana, tapi ternyata dibalik semua kesederhanaan itu, sa menemukan sebuah cerita yang baru, yang mungkin tra akan sa dapat dari film – film lain buatan Hollywood.
Sa ingin bagikan resensi film ini sa dan berharap mungkin bagi teman – teman bisa merasakan manfaat dari resensi ini.
Film ini de cerita tentang pasangan suami istri yang su nikah selama 7 tahun dan pada tahun ke 7 dong pu pernikahan, tiba – tiba dong dua memutuskan ingin cerai. Kedua pasangan ini tinggal di sebuah kota bernama Albany di Amerika Serikat. Suaminya nama Caleb Holt sedang de pu istri nama Catherine. Dong dua pu alasan cerai tuh bisa tong temukan dalam kehidupan sehari – hari. De pu istri mengeluh karena de pu laki tuh sibuk tabung 1/3 depu gaji untuk mo beli de pu kapal impian, tra bisa bantu dia barang sedikit ka seperti temani belanja atau pi belanja, tra bisa bantu cuci piring dan kasi masuk pakaian dalam keranjang pakaian kotor. De pu laki mengeluh karena de maitua ada kerja lagi di rumah sakit, tra bisa ada waktu untuk dia, plus suka mengeluh. Jadi dong dua tiap hari tuh kerja bakalai saja di dapur.
Sampe satu hari begini, pace yang kerja sebagai pemadam kebakaran deng de maitua bakalai besar eee. Sampe pace bentak – bentak de maitua. Pace juga kalo su emosi naik, suara juga naik, tapi untung trada kekerasan fisik, tapi pace ko tiap marah, pace kelar hantam tempat sampah deng pemukul baseball sampe peot – peot ka ini.
Akhirnya de maitua bilang, de mau cerai. Pace ko juga pertama cuek ka ini. tapi lewat beberapa hari, pace juga pikir – pikir kalo apakah ini yang de may, jadi de curhat deng de bapa. De su mo menyerah eee, tapi de bapa bilang, de harus selamatkan de pu pernikahan, jadi de pu pace kasi de sebuah catatan yang isi tentang ’40 hari menyelamatkan pernikahan’ ka ini. Jadi pace ko langsung mo praktek ka ini.
Pace tuh coba tiap hari praktekkan, mulai dari bikin kopi untuk de maitua, kirim bunga, kasi coklat, telpon de maitua di tempat kerja tanya keadaan, tapi mace masih bikin diri keras eee. Apalagi di tempat kerja, maitua ko ada pu fans; pace dokter satu ka ini. Pace Caleb ko pikiran kaco suda, abis su hari ke 20 tapi maitua cuek bebek ka ini. Jadi de telpon de pu bapa lagi curhat. Sampe de bapa terpaksa datang. Sampe begini dong jalan di dong pu kompleks, trus de tanya de bapa, “Bagaimana rasanya eee tong su cinta nih orang, su tiap hari nyatakan perhatian, kasi tahu kalo tong sayang dorang, tapi dong masih keras ka”. Trus pas di situ ada lokasi untuk ibadah ka di bawah pohon – pohon, pas ada salib bokar eeeee, langsung de bapa bilang begini, “ko lihat ke salib ini, sa yakin ko akan dapat ko pu jawaban”, pace Caleb ko langsung diam eee.
Sejak hari itu, pace Caleb ko berubah, de lebih sabar, de lebih dekat deng Tuhan dan de lebih banyak berdoa, dan de tra mo menyerah untuk dapat de pu istri pu cinta lagi. Begini su dekat hari – hari ke 40, mace kasi surat pemberitahuan ketemu pengacara untuk cerai ka ini. Pace pikiran kaco eeee, abis de su berusaha tooo.
Tapi pada akhirnya, setelah dong dua pu kekerasan hati, akhirnya bahagia. De pu maitua mo maafkan dia, dong dua baku kasi tahu kesalahan masing – masing dan semuanya bisa diselesaikan.
Saat nonton film ini, sa bersama dua teman serumah (pasangan suami istri muda juga yang dong pu teman rekomendasikan nonton film ini) dan sa macam dapat banyak pelajaran ka ini (maksudnya sambil juga observasi sapu teman 2 yang su nikah ini ka hihihihi). Sa yakin film ini dibuat karena masalah perceraian di Amerika tuh paling tinggi suda eee, karena di planet ini negara dengan tingkat cerai paling tinggi ya negara ini ka. OK, terlepas dari latar belakang film konseling yang macam ayat Alkitab banyak ka ini, ada banyak hal yang sa dapat yang sa pikis bagus juga untuk dibagi, a.l:
• Pernikahan atau hubungan apapun butuh komunikasi yang aktif.
Pace dan mace ini sama – sama kerja, pulang kerja harusnya mesra ka bagaimana, e dong dua baku marah karena hal – hal sepele. Akhirnya dua – dua lari curhat sama teman – teman kerja, untung baik kalo dapat yang mendukung rumah tangga, tapi kalo dapat yang kasi panas2 bagaimana?
Jadi, setelah pace ko coba kasi tunjuk komunikasi deng lembut dan baik, dan bukannya dengan bentak – bentak dan banting barang – barang, pada akhirnya hubungan bisa terjaga.
• Doa diperlukan dalam semua lini kehidupan
Film ini ajarkan bahwa doa juga diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Mo dalam suka ka, mo dalam susah ka, mo baku marah ka dalam keadaan damai, hubungan deng Tuhan perlu dijaga karena toh, hubungan dengan Tuhan kan tra beda deng tong pu hubungan deng manusia. Coba kalo tong pu Tuhan juga sifat sama deng pasangan yang tong tra ajak dong komunikasi, pasti tong gawat kapa eee. Untung Tuhan terlalu baik jadi tong masih hidup.
• Sebuah hubungan perlu pengorbanan
Dalam bangun hubungan, apalagi pernikahan ka ini, tetap dibutuhkan pengorbanan, ada pengorbanan waktu dan tenaga (misalnya pace Caleb dan Catherine dong dua harus ada yang mo cuci piring kotor, baku bantu cuci pakaian, kasi bersih rumah, belanja, saat salah satu sibuk), pengorbanan uang demi prioritas (pace Caleb merelakan de pu tabungan seumur hidup yang awalnya de mau pake beli kapal untuk beli de mama mantu pu kursi roda dan peralatan medis karena mama mantu stroke ka ini).
• Jangan dengar pendapat –pendapat yang tra membangun
Dalam film ini digambarkan bahwa dengar nasehat teman memang baik tapi tong harus bisa pilih nasehat mana yang baik bagi tong pu pernikahan ka hubungan dan mana yang tra mendukung. Jangan karena dengar teman begini malah tong kasi rusak tong pu hubungan pernikahan yang su jalan baik ka ini. Jadi kalo memang komunikasi deng teman malah selalu bikin rusak tong pu pernikahan, lebih baik stop suda. Jadi sebelum nikah tuh buka mata buka telinga ka ini, tapi kalo su nikah, kam harus lebih bijak ka ini.
Anyway, sa juga suka beberapa kutipan di dalam film ini yang dong buat seperti analogi ka ini, misalnya tentang fireproof, atau alat yang dibuat tahan api. Bukan berarti kalo api tra bisa bakar dan ko tra bisa dekat deng api, tapi yang dimaksud deng fireproof tuh kalo di saat ko kena api, ko tra akan tabakar karena ko pake barang itu dan barang itu bantu tolong ko tra tabakar. Jadi pernikahan tuh harus seperti itu, bukan berarti setelah ko nikah tra akan ada masalah, tapi setidaknya kalo ko ada pu sesuatu yang fireproof, katakan saja iman, maka masalah tetap akan ada tapi ko tra akan tabakar.
Selain itu sa juga suka salah satu analogi tentang pernikahan dalam bentuk alat fitness ka ini, karna pas adegannya di tempat fitness ka ini. Jadi kalo tong coba ganti analoginya dengan sepeda, dan pernikahan tong analogikan sebagai sepeda, akan seperti ini: Ada sepeda yang baik, akan berdiri dekat ko tapi ko tra bisa naik. Bukan berarti sepeda tuh rusak toooo. Yang salah adalah ko tra tau bagaimana caranya menjalankan sepeda itu.” Pernikahan itu seperti sepeda itu, ko harus tahu bagaimana menjalankannya deng baik, bagaimana supaya tra jatuh, bagaimana rawat akan, bagaimana bisa menghargai akan.
Aeh macam sa su bicara banyak ka. Itu saja yang sa pikir sa bisa tulis tentang film in dan apa yang sa dapatkan.
Have a very blessed day! (Baca: Semoga ko dapat hari yang penuh berkat hari ini).
(Canberra/ 10 Januari 2010)
Kalo ada pu waktu, bisa kunjungi film ini pu situs di:
(www.fireproofmymarriage.com)
Sa ingin bagikan resensi film ini sa dan berharap mungkin bagi teman – teman bisa merasakan manfaat dari resensi ini.
Film ini de cerita tentang pasangan suami istri yang su nikah selama 7 tahun dan pada tahun ke 7 dong pu pernikahan, tiba – tiba dong dua memutuskan ingin cerai. Kedua pasangan ini tinggal di sebuah kota bernama Albany di Amerika Serikat. Suaminya nama Caleb Holt sedang de pu istri nama Catherine. Dong dua pu alasan cerai tuh bisa tong temukan dalam kehidupan sehari – hari. De pu istri mengeluh karena de pu laki tuh sibuk tabung 1/3 depu gaji untuk mo beli de pu kapal impian, tra bisa bantu dia barang sedikit ka seperti temani belanja atau pi belanja, tra bisa bantu cuci piring dan kasi masuk pakaian dalam keranjang pakaian kotor. De pu laki mengeluh karena de maitua ada kerja lagi di rumah sakit, tra bisa ada waktu untuk dia, plus suka mengeluh. Jadi dong dua tiap hari tuh kerja bakalai saja di dapur.
Sampe satu hari begini, pace yang kerja sebagai pemadam kebakaran deng de maitua bakalai besar eee. Sampe pace bentak – bentak de maitua. Pace juga kalo su emosi naik, suara juga naik, tapi untung trada kekerasan fisik, tapi pace ko tiap marah, pace kelar hantam tempat sampah deng pemukul baseball sampe peot – peot ka ini.
Akhirnya de maitua bilang, de mau cerai. Pace ko juga pertama cuek ka ini. tapi lewat beberapa hari, pace juga pikir – pikir kalo apakah ini yang de may, jadi de curhat deng de bapa. De su mo menyerah eee, tapi de bapa bilang, de harus selamatkan de pu pernikahan, jadi de pu pace kasi de sebuah catatan yang isi tentang ’40 hari menyelamatkan pernikahan’ ka ini. Jadi pace ko langsung mo praktek ka ini.
Pace tuh coba tiap hari praktekkan, mulai dari bikin kopi untuk de maitua, kirim bunga, kasi coklat, telpon de maitua di tempat kerja tanya keadaan, tapi mace masih bikin diri keras eee. Apalagi di tempat kerja, maitua ko ada pu fans; pace dokter satu ka ini. Pace Caleb ko pikiran kaco suda, abis su hari ke 20 tapi maitua cuek bebek ka ini. Jadi de telpon de pu bapa lagi curhat. Sampe de bapa terpaksa datang. Sampe begini dong jalan di dong pu kompleks, trus de tanya de bapa, “Bagaimana rasanya eee tong su cinta nih orang, su tiap hari nyatakan perhatian, kasi tahu kalo tong sayang dorang, tapi dong masih keras ka”. Trus pas di situ ada lokasi untuk ibadah ka di bawah pohon – pohon, pas ada salib bokar eeeee, langsung de bapa bilang begini, “ko lihat ke salib ini, sa yakin ko akan dapat ko pu jawaban”, pace Caleb ko langsung diam eee.
Sejak hari itu, pace Caleb ko berubah, de lebih sabar, de lebih dekat deng Tuhan dan de lebih banyak berdoa, dan de tra mo menyerah untuk dapat de pu istri pu cinta lagi. Begini su dekat hari – hari ke 40, mace kasi surat pemberitahuan ketemu pengacara untuk cerai ka ini. Pace pikiran kaco eeee, abis de su berusaha tooo.
Tapi pada akhirnya, setelah dong dua pu kekerasan hati, akhirnya bahagia. De pu maitua mo maafkan dia, dong dua baku kasi tahu kesalahan masing – masing dan semuanya bisa diselesaikan.
Saat nonton film ini, sa bersama dua teman serumah (pasangan suami istri muda juga yang dong pu teman rekomendasikan nonton film ini) dan sa macam dapat banyak pelajaran ka ini (maksudnya sambil juga observasi sapu teman 2 yang su nikah ini ka hihihihi). Sa yakin film ini dibuat karena masalah perceraian di Amerika tuh paling tinggi suda eee, karena di planet ini negara dengan tingkat cerai paling tinggi ya negara ini ka. OK, terlepas dari latar belakang film konseling yang macam ayat Alkitab banyak ka ini, ada banyak hal yang sa dapat yang sa pikis bagus juga untuk dibagi, a.l:
• Pernikahan atau hubungan apapun butuh komunikasi yang aktif.
Pace dan mace ini sama – sama kerja, pulang kerja harusnya mesra ka bagaimana, e dong dua baku marah karena hal – hal sepele. Akhirnya dua – dua lari curhat sama teman – teman kerja, untung baik kalo dapat yang mendukung rumah tangga, tapi kalo dapat yang kasi panas2 bagaimana?
Jadi, setelah pace ko coba kasi tunjuk komunikasi deng lembut dan baik, dan bukannya dengan bentak – bentak dan banting barang – barang, pada akhirnya hubungan bisa terjaga.
• Doa diperlukan dalam semua lini kehidupan
Film ini ajarkan bahwa doa juga diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Mo dalam suka ka, mo dalam susah ka, mo baku marah ka dalam keadaan damai, hubungan deng Tuhan perlu dijaga karena toh, hubungan dengan Tuhan kan tra beda deng tong pu hubungan deng manusia. Coba kalo tong pu Tuhan juga sifat sama deng pasangan yang tong tra ajak dong komunikasi, pasti tong gawat kapa eee. Untung Tuhan terlalu baik jadi tong masih hidup.
• Sebuah hubungan perlu pengorbanan
Dalam bangun hubungan, apalagi pernikahan ka ini, tetap dibutuhkan pengorbanan, ada pengorbanan waktu dan tenaga (misalnya pace Caleb dan Catherine dong dua harus ada yang mo cuci piring kotor, baku bantu cuci pakaian, kasi bersih rumah, belanja, saat salah satu sibuk), pengorbanan uang demi prioritas (pace Caleb merelakan de pu tabungan seumur hidup yang awalnya de mau pake beli kapal untuk beli de mama mantu pu kursi roda dan peralatan medis karena mama mantu stroke ka ini).
• Jangan dengar pendapat –pendapat yang tra membangun
Dalam film ini digambarkan bahwa dengar nasehat teman memang baik tapi tong harus bisa pilih nasehat mana yang baik bagi tong pu pernikahan ka hubungan dan mana yang tra mendukung. Jangan karena dengar teman begini malah tong kasi rusak tong pu hubungan pernikahan yang su jalan baik ka ini. Jadi kalo memang komunikasi deng teman malah selalu bikin rusak tong pu pernikahan, lebih baik stop suda. Jadi sebelum nikah tuh buka mata buka telinga ka ini, tapi kalo su nikah, kam harus lebih bijak ka ini.
Anyway, sa juga suka beberapa kutipan di dalam film ini yang dong buat seperti analogi ka ini, misalnya tentang fireproof, atau alat yang dibuat tahan api. Bukan berarti kalo api tra bisa bakar dan ko tra bisa dekat deng api, tapi yang dimaksud deng fireproof tuh kalo di saat ko kena api, ko tra akan tabakar karena ko pake barang itu dan barang itu bantu tolong ko tra tabakar. Jadi pernikahan tuh harus seperti itu, bukan berarti setelah ko nikah tra akan ada masalah, tapi setidaknya kalo ko ada pu sesuatu yang fireproof, katakan saja iman, maka masalah tetap akan ada tapi ko tra akan tabakar.
Selain itu sa juga suka salah satu analogi tentang pernikahan dalam bentuk alat fitness ka ini, karna pas adegannya di tempat fitness ka ini. Jadi kalo tong coba ganti analoginya dengan sepeda, dan pernikahan tong analogikan sebagai sepeda, akan seperti ini: Ada sepeda yang baik, akan berdiri dekat ko tapi ko tra bisa naik. Bukan berarti sepeda tuh rusak toooo. Yang salah adalah ko tra tau bagaimana caranya menjalankan sepeda itu.” Pernikahan itu seperti sepeda itu, ko harus tahu bagaimana menjalankannya deng baik, bagaimana supaya tra jatuh, bagaimana rawat akan, bagaimana bisa menghargai akan.
Aeh macam sa su bicara banyak ka. Itu saja yang sa pikir sa bisa tulis tentang film in dan apa yang sa dapatkan.
Have a very blessed day! (Baca: Semoga ko dapat hari yang penuh berkat hari ini).
(Canberra/ 10 Januari 2010)
Kalo ada pu waktu, bisa kunjungi film ini pu situs di:
(www.fireproofmymarriage.com)
Saturday, 9 January 2010
Aku pernah!
Pernahkah kau menitip hati
Pada segenggam angin?
Pernahkah kau menggantang asa
Pada tetes hujan yang larut membumi?
Pernahkah kau menjejakkan langkah – langkah mungilmu
Di bentangan pasir pantai yang tersaput ombak?
Pernahkah kau berbisik lirih
Menitip rindu pada bintang di langit?
Aku pernah!
Pernahkah kau mengukir hati
Dengan bayang embun di jendela berkabut?
Pernahkah kau menangis lirih
Pada malam dingin dihempas kenyataan?
Aku pernah!
Pernahkah lidahmu terasa kelu
Dengan batas mimpi dan terjaga?
Pernahkah kau tergugu tanpa kata
Melihat batas angan dan nyata?
Aku pernah!
Pernahkah hatimu tercabik berdarah
Dan menggurat luka yang dalam?
Pernahkah ingatanmu mengkhianatimu
Berjibaku melawan kenangan?
Aku pernah!
Pernahkah asamu terhembus tiupan angin dingin
Dan mengembun dalam ruang yang beruap?
Pernahkah impimu mengkristal
Dalam ruang maya tak berbentuk?
Aku pernah!
Pernahkah kau berhenti berpikir
Jatuh cinta dan meratapi nasib?
Pernahkah kau diam dalam luka
Dan mengutuki hari?
Aku pernah!
Aku pernah tersakiti.
Aku pernah terluka.
Aku pernah terkhianati.
Aku pernah terjerembab dalam angan kosong.
Tapi …
Aku tak pernah, tak pernah akan,
Tak pernah mau, tak pernah bisa,
Tak pernah diam, tak pernah capai
Untuk bilang, untuk bicara,
Untuk teriak, untuk berkata,
Untuk berujar, untuk bertutur
Tak akan kapok jatuh cinta!
(Sebuah subuh di Canberra/ 9 Januari 2010)
Pada segenggam angin?
Pernahkah kau menggantang asa
Pada tetes hujan yang larut membumi?
Pernahkah kau menjejakkan langkah – langkah mungilmu
Di bentangan pasir pantai yang tersaput ombak?
Pernahkah kau berbisik lirih
Menitip rindu pada bintang di langit?
Aku pernah!
Pernahkah kau mengukir hati
Dengan bayang embun di jendela berkabut?
Pernahkah kau menangis lirih
Pada malam dingin dihempas kenyataan?
Aku pernah!
Pernahkah lidahmu terasa kelu
Dengan batas mimpi dan terjaga?
Pernahkah kau tergugu tanpa kata
Melihat batas angan dan nyata?
Aku pernah!
Pernahkah hatimu tercabik berdarah
Dan menggurat luka yang dalam?
Pernahkah ingatanmu mengkhianatimu
Berjibaku melawan kenangan?
Aku pernah!
Pernahkah asamu terhembus tiupan angin dingin
Dan mengembun dalam ruang yang beruap?
Pernahkah impimu mengkristal
Dalam ruang maya tak berbentuk?
Aku pernah!
Pernahkah kau berhenti berpikir
Jatuh cinta dan meratapi nasib?
Pernahkah kau diam dalam luka
Dan mengutuki hari?
Aku pernah!
Aku pernah tersakiti.
Aku pernah terluka.
Aku pernah terkhianati.
Aku pernah terjerembab dalam angan kosong.
Tapi …
Aku tak pernah, tak pernah akan,
Tak pernah mau, tak pernah bisa,
Tak pernah diam, tak pernah capai
Untuk bilang, untuk bicara,
Untuk teriak, untuk berkata,
Untuk berujar, untuk bertutur
Tak akan kapok jatuh cinta!
(Sebuah subuh di Canberra/ 9 Januari 2010)
Catatan tentang Hujan
Sebuah catatan tentang hujan (dan mengapa aku suka hujan)!
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan hujan yang jatuh dalam ruang.
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan mencium tetes pertamanya yang jatuh.
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan menyapa hujan dalam bahasa asing yang tak mereka kenal
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan menari bersama hujan di pagi hari
Tapi …
Tahukah kau mengapa aku suka hujan?
Tahukah kau mengapa aku merindukan kecupannya yang jatuh menyapa bumi?
Tahukah kau mengapa aku ingin menari bersama dalam tariannya yang menggila?
Tahukah kau mengapa aku ingin bermain bersamanya?
Tahukah kau mengapa aku rindu menyapanya di pagi hari?
Aku bukan seorang pembohong
Aku bukan seorang yang kehilangan pikiran
Aku bukan seorang yang tersesat
Pun bukan yang terhilang
Aku jatuh cinta padanya
Aku tergila – gila padanya
Aku merindukannya
Aku memimpikannya
Aku tergila – gila padanya
Karena ia membuatku membaui aroma tubuh bumi
Yang terpapar udara dan menembus indera penciumanku
Membuatku dan bumi menyatu
Aku cinta mati padanya
Karena ia membuatku merasa begitu seksi
Saat tetes –tetesnya menyentuh tubuhku
Membuatku dan alam menyatu
Aku tertawa bersamanya
Karena ia mengajariku menghitung tiap berkat yang kupunya
Kala tetes yang jatuh menembus pori bumi
Berbagi kehidupan.
Anggap saja aku bagai kawanan manusia di belahan Afrika,
Kawanan manusia di belahan Asia Selatan
Kawanan manusia di dataran gurun Timur Tengah
Pun kawanan manusia di tempat – tempat terkering di muka bumi.
Yang memuja hujan
Yang berteriak menjerit padanya
Yang menari menggila memanggilnya
Yang tertawa riang dalam debu tebal menunggunya
Kau tak akan pernah mengerti
Kau tak akan bisa memahaminya
Kau tak akan pernah melihatnya (seperti aku menggilainya)
Hujan …
Tangis para dewi ataukah awan yang kelelahan berlari
Hujan
Keringat para dewa ataukah pengembunan massa air
Hujan …
Begitu seksi, begitu elegan
Begitu dingin, begitu mencekam
Begitu becek, begitu berlumpur
Begitu basah, begitu lembab
Begitu liar, begitu lembut
Dan aku pun tak tahu lagi
Satu yang pasti,
Aku pecinta hujan.
Panggil aku pecinta hujan pagi.
Karena aku tahu,
Hujan membuatku dekat dengan Tuhan.
Usai hujan pelangi kan menyapa;
Janji Tuhan di langit!
(Canberra/ 8 Januari 2009/ Seseorang yang merindukan aroma hujan tropis bercampur garam khas Manokwari)
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan hujan yang jatuh dalam ruang.
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan mencium tetes pertamanya yang jatuh.
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan menyapa hujan dalam bahasa asing yang tak mereka kenal
Mereka bilang aku seorang pemimpi
Karena memimpikan menari bersama hujan di pagi hari
Tapi …
Tahukah kau mengapa aku suka hujan?
Tahukah kau mengapa aku merindukan kecupannya yang jatuh menyapa bumi?
Tahukah kau mengapa aku ingin menari bersama dalam tariannya yang menggila?
Tahukah kau mengapa aku ingin bermain bersamanya?
Tahukah kau mengapa aku rindu menyapanya di pagi hari?
Aku bukan seorang pembohong
Aku bukan seorang yang kehilangan pikiran
Aku bukan seorang yang tersesat
Pun bukan yang terhilang
Aku jatuh cinta padanya
Aku tergila – gila padanya
Aku merindukannya
Aku memimpikannya
Aku tergila – gila padanya
Karena ia membuatku membaui aroma tubuh bumi
Yang terpapar udara dan menembus indera penciumanku
Membuatku dan bumi menyatu
Aku cinta mati padanya
Karena ia membuatku merasa begitu seksi
Saat tetes –tetesnya menyentuh tubuhku
Membuatku dan alam menyatu
Aku tertawa bersamanya
Karena ia mengajariku menghitung tiap berkat yang kupunya
Kala tetes yang jatuh menembus pori bumi
Berbagi kehidupan.
Anggap saja aku bagai kawanan manusia di belahan Afrika,
Kawanan manusia di belahan Asia Selatan
Kawanan manusia di dataran gurun Timur Tengah
Pun kawanan manusia di tempat – tempat terkering di muka bumi.
Yang memuja hujan
Yang berteriak menjerit padanya
Yang menari menggila memanggilnya
Yang tertawa riang dalam debu tebal menunggunya
Kau tak akan pernah mengerti
Kau tak akan bisa memahaminya
Kau tak akan pernah melihatnya (seperti aku menggilainya)
Hujan …
Tangis para dewi ataukah awan yang kelelahan berlari
Hujan
Keringat para dewa ataukah pengembunan massa air
Hujan …
Begitu seksi, begitu elegan
Begitu dingin, begitu mencekam
Begitu becek, begitu berlumpur
Begitu basah, begitu lembab
Begitu liar, begitu lembut
Dan aku pun tak tahu lagi
Satu yang pasti,
Aku pecinta hujan.
Panggil aku pecinta hujan pagi.
Karena aku tahu,
Hujan membuatku dekat dengan Tuhan.
Usai hujan pelangi kan menyapa;
Janji Tuhan di langit!
(Canberra/ 8 Januari 2009/ Seseorang yang merindukan aroma hujan tropis bercampur garam khas Manokwari)
Thursday, 7 January 2010
Anugerah yang terlupakan
Catatan ini kutulis usai bangun tidur dan tiba – tiba teringat bahwa hari ini ada satu anugerah yang sering kuterima dan hanya kuambil saja tanpa memikirkan banyak hal besar yang terjadi dalam hidupku. Sebuah anugerah yang kuterima yang kadang kulupa mengucap syukur. Sebuah anugerah yang hanya kuterima sejak masih bayi dan lupa bahwa hidupku ternyata begitu tipis antara hidup dan mati dalam anugerah yang kuterima tiap hari tanpa pernah sadar bahwa ini adalah sebuah anugerah dan hari ini, usai mengalami kesulitan dan usai berdoa menenangkan diri, aku baru bisa menerima anugerah ini. Anugerah yang kumaksud adalah T-I-D-U-R.
Tidur sebagaimana dikatakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Balai Pustaka sebagai “. Kata kerja yang menggambarkan keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadarannya (biasanya dengan memejamkan mata)”. Selain itu juga ada beberapa definisi lainnya dari kamus online seperti Free Online Dictionary yang kuterjemahkan menjadi “ Keadaan periodik alami dari pikiran dan tubuh yang mana saat itu mata tertutup dan kesadaran menghilang secara keseluruhan ataupun sebagian, sehingga terjadi penurunan gerakan tubuh dan respon terhadap ransangan dari luar. Selama tidur, otak manusia dan hewan lainnya mengalami sebuah siklus aktivitas otak yang khas termasuk di dalamnya terjadi interval mimpi”. Selain itu Kamus ini juga menggambarkannya sebagai periode sebuah bentuk istirahat, ataupun keadaan ketidakaktifan tubuh yang mirip dengan tidur seperti ketidaksadaran, hibernasi, pingsan, koma, bahkan kematian.
Aku bukan sedang membuat ceramah tentang tidur, tapi karena hari ini aku benar – benar mengalami kegagalan sistem tubuh sejak kemarin untuk tidur hingga jam 12 siang tadi berhasil untuk tidur, dan dalam kepayahanku untuk mencoba tidur, aku teringat untuk berdoa dan ternyata sangat ampuh untuk membuatku relaks dan langsung tertidur tak berapa lama sejak bilang kata “Amin”. Aku memutuskan untuk membuat tulisan ini.
Jangan tanya lagi tentang metode apa saja yang sudah pernah kucoba untuk membuat tubuhku beristirahat, mulai dari bertemu dokter beberapa kali untuk berkonsultasi, mulai dari dimulai dengan terapi ‘kotak pikiran’ hingga minum susu, cokelat dan mandi air hangat de el el, belum termasuk obat – obat yang pernah kukonsumsi. Bahkan tadi malam ternyata tubuhku sudah mulai menentang resistensi anggur merah yang biasanya cukup 1 gelas dan membuatku relaks dan pulas sudah mulai tak mempan. Teryata hingga 2 gelas besar, tak mampu juga. Belum termasuk kata psikologku yang yang sering kukunjungi yang bilang bahwa semuanya itu ada di otakku dan aku harus bisa memerlakukan otakku dengan lembut karena ia mirip dengan anak tiga tahun yang suka ogah – ogahan melakukan perintahku.
Catatan ini mungkin catatan yang tak ada ujung pangkalnya, tumpang – tindih. Tapi aku hanya ingin bilang, nikmati dan mengucap syukurlah untuk anugerah yang bisa anda dapatkan dengan mudah hari ini. Kalau anda bukan orang yang sulit untuk tidur, bersukacitalah. Karena anugerah itu sejak 2002 bukan lagi sesuatu yang mudah kudapatkan dalam hidup, sesuatu yang mahal. Sehingga orang rumahku plus teman – teman serumahku di Canberra tahu bahwa salah satu saat di mana aku paling enggan diganggu adalah di saat tidur dan makan. Sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Ada banyak orang di dunia yang mempunyai banyak gangguan tidur, mulai dari yang sulit tidur sepertiku khususnya yang berkaitan dengan ransang cahaya pada tubuh, mulai dari yang berjalan sambil tidur (sahabat temanku di Canberra bahkan meninggal bersama pasangannya karena gangguan ini) dan kasus – kasus lainnya yang bisa dilihat di laporan kasus – kasus medis.
Tidur juga banyak terekam dalam berbagai kisah di dunia, mulai dari jaman penciptaan misalnya saja dalam kitab suci umat Kristen tentang penciptaan Hawa saat Adam tertidur, ataukah para malaikat yang membagikan berkat Tuhan kala kita tertidur, hingga dongeng seperti Sleeping Beauty. Tidur merupakan sebuah subtansi dalam siklus hidup manusia.
Kembali ke bagian awal catatan ini, aku toh bilang bahwa tidur adalah anugerah dari Tuhan yang kadang kita hanya take it for granted alias ambil cuma – cuma dan lupa mengucap syukur kepada Tuhan tentang anugerah ini. Aku tak akan berpanjang lebar menjelaskan tentang apa saja yang terjadi dalam tubuh kita., tentang sel – sel yang beristirahat, tentang sel – sel baru yang merevitalisasi sel – sel yang rusak dll. Tapi aku tahu pasti dan percaya bahwa tidur adalah anugerah cuma – cuma yang diterima sejak kita bayi. Sebuah aktivitas alami tubuh yang diterima sejak lahir, selain bernafas, terjaga, menangis, minum, berkemih dan buang air besar (pada kalimat ini anda berhak mendebatku).
Aku bilang tidur adalah anugerah karena perbedaannya dengan kematian begitu tipis. Yang membedakan anda sedang tertidur dan meninggal adalah kesempatan untuk bangun kembali dan merasakan kehidupan, untuk membuka mata dan bernafas dengan lega.
Ada banyak cerita yang kudengar tentang orang – orang yang kehilangan anggota keluarga ataupun mereka yang terkasih saat orang – orang yang terkasih mereka tertidur. Ada banyak cerita bila anda hendak menelusurinya, karena aku masih ingat dengan jelas bagaimana tetangga di kompleks rumahku yang sempat stress karena kehilangan bayinya yang berumur 1 tahun lebih yang meninggal dalam tidur siang.
Batas antara tidur dan kematian begitu tipis.
Bila hari ini anda bisa menikmati tidur dengan nyaman dan relaks, tanpa hambatan, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda bisa menikmatinya dengan mudah dan murah, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda masih bisa bangun tidur dan bangkit berjalan, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda masih bisa tidur dengan mimpi indah, mengucap syukurlah.
Nikmati dan mengucap syukurlah, karena toh Tuhan masih meminjamkan nafas di dalam tubuh anda sehingga batas antara tidur dan mati masih jelas di dalam hidup anda.
Tidur, sebuah anugerah cuma – cuma dari Tuhan.
Aku percaya.
Bagaimana dengan anda?
(Malam di Canberra/ 7 Januari 2010)
Tidur sebagaimana dikatakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; Balai Pustaka sebagai “. Kata kerja yang menggambarkan keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadarannya (biasanya dengan memejamkan mata)”. Selain itu juga ada beberapa definisi lainnya dari kamus online seperti Free Online Dictionary yang kuterjemahkan menjadi “ Keadaan periodik alami dari pikiran dan tubuh yang mana saat itu mata tertutup dan kesadaran menghilang secara keseluruhan ataupun sebagian, sehingga terjadi penurunan gerakan tubuh dan respon terhadap ransangan dari luar. Selama tidur, otak manusia dan hewan lainnya mengalami sebuah siklus aktivitas otak yang khas termasuk di dalamnya terjadi interval mimpi”. Selain itu Kamus ini juga menggambarkannya sebagai periode sebuah bentuk istirahat, ataupun keadaan ketidakaktifan tubuh yang mirip dengan tidur seperti ketidaksadaran, hibernasi, pingsan, koma, bahkan kematian.
Aku bukan sedang membuat ceramah tentang tidur, tapi karena hari ini aku benar – benar mengalami kegagalan sistem tubuh sejak kemarin untuk tidur hingga jam 12 siang tadi berhasil untuk tidur, dan dalam kepayahanku untuk mencoba tidur, aku teringat untuk berdoa dan ternyata sangat ampuh untuk membuatku relaks dan langsung tertidur tak berapa lama sejak bilang kata “Amin”. Aku memutuskan untuk membuat tulisan ini.
Jangan tanya lagi tentang metode apa saja yang sudah pernah kucoba untuk membuat tubuhku beristirahat, mulai dari bertemu dokter beberapa kali untuk berkonsultasi, mulai dari dimulai dengan terapi ‘kotak pikiran’ hingga minum susu, cokelat dan mandi air hangat de el el, belum termasuk obat – obat yang pernah kukonsumsi. Bahkan tadi malam ternyata tubuhku sudah mulai menentang resistensi anggur merah yang biasanya cukup 1 gelas dan membuatku relaks dan pulas sudah mulai tak mempan. Teryata hingga 2 gelas besar, tak mampu juga. Belum termasuk kata psikologku yang yang sering kukunjungi yang bilang bahwa semuanya itu ada di otakku dan aku harus bisa memerlakukan otakku dengan lembut karena ia mirip dengan anak tiga tahun yang suka ogah – ogahan melakukan perintahku.
Catatan ini mungkin catatan yang tak ada ujung pangkalnya, tumpang – tindih. Tapi aku hanya ingin bilang, nikmati dan mengucap syukurlah untuk anugerah yang bisa anda dapatkan dengan mudah hari ini. Kalau anda bukan orang yang sulit untuk tidur, bersukacitalah. Karena anugerah itu sejak 2002 bukan lagi sesuatu yang mudah kudapatkan dalam hidup, sesuatu yang mahal. Sehingga orang rumahku plus teman – teman serumahku di Canberra tahu bahwa salah satu saat di mana aku paling enggan diganggu adalah di saat tidur dan makan. Sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Ada banyak orang di dunia yang mempunyai banyak gangguan tidur, mulai dari yang sulit tidur sepertiku khususnya yang berkaitan dengan ransang cahaya pada tubuh, mulai dari yang berjalan sambil tidur (sahabat temanku di Canberra bahkan meninggal bersama pasangannya karena gangguan ini) dan kasus – kasus lainnya yang bisa dilihat di laporan kasus – kasus medis.
Tidur juga banyak terekam dalam berbagai kisah di dunia, mulai dari jaman penciptaan misalnya saja dalam kitab suci umat Kristen tentang penciptaan Hawa saat Adam tertidur, ataukah para malaikat yang membagikan berkat Tuhan kala kita tertidur, hingga dongeng seperti Sleeping Beauty. Tidur merupakan sebuah subtansi dalam siklus hidup manusia.
Kembali ke bagian awal catatan ini, aku toh bilang bahwa tidur adalah anugerah dari Tuhan yang kadang kita hanya take it for granted alias ambil cuma – cuma dan lupa mengucap syukur kepada Tuhan tentang anugerah ini. Aku tak akan berpanjang lebar menjelaskan tentang apa saja yang terjadi dalam tubuh kita., tentang sel – sel yang beristirahat, tentang sel – sel baru yang merevitalisasi sel – sel yang rusak dll. Tapi aku tahu pasti dan percaya bahwa tidur adalah anugerah cuma – cuma yang diterima sejak kita bayi. Sebuah aktivitas alami tubuh yang diterima sejak lahir, selain bernafas, terjaga, menangis, minum, berkemih dan buang air besar (pada kalimat ini anda berhak mendebatku).
Aku bilang tidur adalah anugerah karena perbedaannya dengan kematian begitu tipis. Yang membedakan anda sedang tertidur dan meninggal adalah kesempatan untuk bangun kembali dan merasakan kehidupan, untuk membuka mata dan bernafas dengan lega.
Ada banyak cerita yang kudengar tentang orang – orang yang kehilangan anggota keluarga ataupun mereka yang terkasih saat orang – orang yang terkasih mereka tertidur. Ada banyak cerita bila anda hendak menelusurinya, karena aku masih ingat dengan jelas bagaimana tetangga di kompleks rumahku yang sempat stress karena kehilangan bayinya yang berumur 1 tahun lebih yang meninggal dalam tidur siang.
Batas antara tidur dan kematian begitu tipis.
Bila hari ini anda bisa menikmati tidur dengan nyaman dan relaks, tanpa hambatan, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda bisa menikmatinya dengan mudah dan murah, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda masih bisa bangun tidur dan bangkit berjalan, mengucap syukurlah.
Bila hari ini anda masih bisa tidur dengan mimpi indah, mengucap syukurlah.
Nikmati dan mengucap syukurlah, karena toh Tuhan masih meminjamkan nafas di dalam tubuh anda sehingga batas antara tidur dan mati masih jelas di dalam hidup anda.
Tidur, sebuah anugerah cuma – cuma dari Tuhan.
Aku percaya.
Bagaimana dengan anda?
(Malam di Canberra/ 7 Januari 2010)
Usai Jogging
Malam ini sambil menyesap anggur merah berjenis Pinot Noir, seperti kebiasaanku kala tak bisa tidur, kucoba mengkristalkan kejadian hari ini. Tak ada yang luar biasa, tapi aku merasa begitu bahagia hari ini.
Masih berjuang menormalkan jam tidur yang kacau balau, aku bangun sekitar jam 5 sore karena toh aku baru tidur jam 4 sore, mungkin karena pengaruh 2 gelas anggur kemarin malam, sebagaimana juga malam ini. Bangun tidur, bukannya makan, aku hanya menenggak air putih dan memutuskan untuk jogging sore ini. 1 minggu lebih aku tak beraktivitas keluar rumah dan tak jalan kaki sebagaimana di hari kuliah. Selama hari kuliah, aku minimal menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk jalan kaki, padahal kalau ditotal semuanya mungkin sekitar 2 jam hanya untuk jalan kaki per hari ke kampus dan antar gedung tetapi berhubung sudah libur, waktu jalan kakiku berkurang sehingga terpaksa harus ada jogging di kompleks. Hari ini aku memilih jogging ke Glebe Park melalui jalur yang berbeda dengan jalur bis.
Jogging hampir 1,5 jam, dengan pergi ke arah pusat kota dan berakhir di Glebe Park, aku memutuskan beristirahat di taman kota. Sambil duduk, kupandangi serombongan remaja yang sedang belajar menguji nyali, mulai dari memanjat pohon, melewati semak dan juga sembunyi – sembunyi mengonsumsi alkohol. Dari jarak 10 meter, aku hanya memandangi mereka sambil duduk di bangku taman dan menikmati angin yang berdesir di pepohonan setinggi 20an meter. Begitu tenang! Tak pernah sadar bahwa ternyata taman yang sering kulewati pas jalan kaki bisa sedamai ini. Aku memutuskan akan kembali lagi beberapa hari akan datang guna membuat sketsa taman ini.
Usai berjalan dari Glebe Park kulanjutkan pulang ke rumah melewati suburb Reid dengan rumah – rumah tua. Hampir dekat dengan Anzac Parade, saat sedang menikmati pemandangan pohon – pohon Eukaliptus dan Cedar atlantis di sepanjang jalan, seorang perempuan berusia sekitar 50 atau 60an tahun, kuterka ia mungkin keturunan Eropa Timur atau Mediteranian, yang berjalan bersama anjingnya sejenis Multies, terjatuh. Terus terang aku kebingungan karena tak ada seorangpun di sana, tapi kuputuskan mendatanginya dan mengangkatnya. Terus terang dalam hatiku aku panik. Aku tak tahan melihat darah dan bibir serta bagian alis wanita ini sobek dan berdarah dan wajahnya penuh darah. Untung anjingnya tak kabur. Jadi kuangkat dia dan menanyakan keadaannya dan menawarkan untuk mengantarnya ke rumahnya, yang untungnya hanya di pojokan jalan dekat tempat jatuhnya. Ia tak ingin diantar dan bilang bahwa ia akan meminta suaminya mengantarnya ke Rumah Sakit. Jadi usai memastikan ia pulang dan sampai di rumahnya, aku kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak ke arah War Memorial dan kemudian berbelok ke suburbku.
Perjalanan ke rumah rupanya belum berakhir. Karna baru saja aku tiba di rumah, teman – teman serumahku menculikku untuk mengejar sunset di danau Burley Griffin dekat rumah dan membujukku untuk tak perlu berganti pakaian. Akhirnya, aku, kak Ellen, Kak Remy, Lisna dan mas Tri (suaminya Lisna yang baru datang dari Jakarta) sibuk berfoto ria di pinggir danau. Aku yang memang dibajak akhirnya pasrah saja ikut acara foto – foto walaupun sempat iseng mengejar burung – burung di danau dan berlari sana – sini. Akhirnya acara foto – foto ini diakhiri dengan menikmati sunset yang sangat jingga. Begitu cantik!
Aku cuma bisa bilang bahwa aku menikmati hariku hari ini, menikmati jalan – jalan dengan teman serumahku. Menikmati alam yang berganti wajah. Menikmati jalan – jalan di perumahan, di taman dan di sepanjang Canberra.
Aku bersyukur bahwa aku tak pernah sampai berjalan dan jatuh serta terluka seperti perempuan yang terjatuh tadi. Aku bersyukur tak sampai menimbulkan keributan dan membuat beberapa orang gerah seperti gerombolan remaja yang kulihat tadi di taman. Aku bersyukur dikelilingi dengan orang – orang yang peduli dengan hidupku hari ini yang menganggap aku bagian dari hidup mereka.
Aku bahagia dengan hidupku hari ini.
Bagaimana dengan anda?
(Tengah malam di Canberra, 6 Januari 2010)
Masih berjuang menormalkan jam tidur yang kacau balau, aku bangun sekitar jam 5 sore karena toh aku baru tidur jam 4 sore, mungkin karena pengaruh 2 gelas anggur kemarin malam, sebagaimana juga malam ini. Bangun tidur, bukannya makan, aku hanya menenggak air putih dan memutuskan untuk jogging sore ini. 1 minggu lebih aku tak beraktivitas keluar rumah dan tak jalan kaki sebagaimana di hari kuliah. Selama hari kuliah, aku minimal menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk jalan kaki, padahal kalau ditotal semuanya mungkin sekitar 2 jam hanya untuk jalan kaki per hari ke kampus dan antar gedung tetapi berhubung sudah libur, waktu jalan kakiku berkurang sehingga terpaksa harus ada jogging di kompleks. Hari ini aku memilih jogging ke Glebe Park melalui jalur yang berbeda dengan jalur bis.
Jogging hampir 1,5 jam, dengan pergi ke arah pusat kota dan berakhir di Glebe Park, aku memutuskan beristirahat di taman kota. Sambil duduk, kupandangi serombongan remaja yang sedang belajar menguji nyali, mulai dari memanjat pohon, melewati semak dan juga sembunyi – sembunyi mengonsumsi alkohol. Dari jarak 10 meter, aku hanya memandangi mereka sambil duduk di bangku taman dan menikmati angin yang berdesir di pepohonan setinggi 20an meter. Begitu tenang! Tak pernah sadar bahwa ternyata taman yang sering kulewati pas jalan kaki bisa sedamai ini. Aku memutuskan akan kembali lagi beberapa hari akan datang guna membuat sketsa taman ini.
Usai berjalan dari Glebe Park kulanjutkan pulang ke rumah melewati suburb Reid dengan rumah – rumah tua. Hampir dekat dengan Anzac Parade, saat sedang menikmati pemandangan pohon – pohon Eukaliptus dan Cedar atlantis di sepanjang jalan, seorang perempuan berusia sekitar 50 atau 60an tahun, kuterka ia mungkin keturunan Eropa Timur atau Mediteranian, yang berjalan bersama anjingnya sejenis Multies, terjatuh. Terus terang aku kebingungan karena tak ada seorangpun di sana, tapi kuputuskan mendatanginya dan mengangkatnya. Terus terang dalam hatiku aku panik. Aku tak tahan melihat darah dan bibir serta bagian alis wanita ini sobek dan berdarah dan wajahnya penuh darah. Untung anjingnya tak kabur. Jadi kuangkat dia dan menanyakan keadaannya dan menawarkan untuk mengantarnya ke rumahnya, yang untungnya hanya di pojokan jalan dekat tempat jatuhnya. Ia tak ingin diantar dan bilang bahwa ia akan meminta suaminya mengantarnya ke Rumah Sakit. Jadi usai memastikan ia pulang dan sampai di rumahnya, aku kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak ke arah War Memorial dan kemudian berbelok ke suburbku.
Perjalanan ke rumah rupanya belum berakhir. Karna baru saja aku tiba di rumah, teman – teman serumahku menculikku untuk mengejar sunset di danau Burley Griffin dekat rumah dan membujukku untuk tak perlu berganti pakaian. Akhirnya, aku, kak Ellen, Kak Remy, Lisna dan mas Tri (suaminya Lisna yang baru datang dari Jakarta) sibuk berfoto ria di pinggir danau. Aku yang memang dibajak akhirnya pasrah saja ikut acara foto – foto walaupun sempat iseng mengejar burung – burung di danau dan berlari sana – sini. Akhirnya acara foto – foto ini diakhiri dengan menikmati sunset yang sangat jingga. Begitu cantik!
Aku cuma bisa bilang bahwa aku menikmati hariku hari ini, menikmati jalan – jalan dengan teman serumahku. Menikmati alam yang berganti wajah. Menikmati jalan – jalan di perumahan, di taman dan di sepanjang Canberra.
Aku bersyukur bahwa aku tak pernah sampai berjalan dan jatuh serta terluka seperti perempuan yang terjatuh tadi. Aku bersyukur tak sampai menimbulkan keributan dan membuat beberapa orang gerah seperti gerombolan remaja yang kulihat tadi di taman. Aku bersyukur dikelilingi dengan orang – orang yang peduli dengan hidupku hari ini yang menganggap aku bagian dari hidup mereka.
Aku bahagia dengan hidupku hari ini.
Bagaimana dengan anda?
(Tengah malam di Canberra, 6 Januari 2010)
Wednesday, 6 January 2010
Lelaki dari Masa Lalu
Malam ini sambil mencoba menormalkan jam tidurku yang masih saja tumpang tindih dalam jam – jam kecil. Sambil mendengar albumnya Petra Sihombing “Lost Souls” dan sambil menyesap anggur merah berjenis Pinot Noir (ini jenis favoritku), aku terbawa suasana untuk menulis. Tentu saja kali ini tentang perasaan melankolisku. Catatan ini mungkin lebih pada sebuah kenangan yang tiba- tiba muncul di benakku beberapa hari ini usai sadar bahwa dia, lelaki yang pernah kukagumi dalam masa remajaku’ ternyata akhirnya bisa mencapai apa yang dia inginkan dalam hidup, walau sempat mengalami kendala – kendala dalam masa awal karirnya. Angggap saja catatan ini sebuah nostalgia manis yang entah kenapa malah kembali beberapa hari lalu kala teringat namanya tiba – tiba di benakku. Tentu saja dia bukan ‘lelaki hujan’ tetapi lelaki yang kukenal semasa remaja sewaktu di Jayapura.
Anggap saja dia lelaki yang pernah kukagumi sewaktu 10 tahun lalu.
Anggap saja catatan ini tentang seorang lelaki yang pernah hadir dalam masa remajaku!
Aku tentu saja tak mengategorikan dia pacar atau apalah karena toh kami bahkan tak pernah sekalipun bertemu ^_^, kejadiaannya kalau diingat memang cukup lucu. Waktu itu aku masih tinggal di Jayapura dan ia juga berada di Jayapura, maksudku bersekolah di sekolah berbeda. Kami berkenalan, tepatnya aku yang menelponnya karena ia masuk dalam susunan panitia penerimaan siswa baru di sebuah SMA di Jayapura. Saat itu, aku tinggal di rumah kerabat bapakku, dan sialnya, pada saat itu, sepupu perempuanku baru mau masuk SMA dan kedua kerabat bapakku sedang liburan ke Jawa, dan aku harus membantu mengurus sepupuku. Mulai dari mengikat rambutnya jadi sekian kepangan dan lain – lain. Nah sepupuku tuh sering bingung tentang informasi yang dia inginkan dari proses MOS itu, jadi dia sering curhat tentang persiapannya dan sempat menyebut nama seseorang yang katanya bisa ditanya tentang prosedur orientasi dll.
Karena saat itu, dan mungkin memang menjadi salah satu sifatku yang tak suka dibuat penasaran dan juga akan mencari tahu sebuah informasi yang menurutku memang harus dilacak, apalagi sepupuku masih sering panik tentang persiapan dan lain – lain. Kuputuskan untuk melacak siapa lelaki yang bisa ditanyai ini. Berbekal buku telepon, kulacak nama keluarganya, dan iseng saja menelpon ke sekian nomor yang terasosiasikan dengan nama keluarganya. Voila, akhirnya after trial dan error, ketemu juga orangnya. Tanpa basa – basi lagi kuperkenalkan namaku dan cerita tentang permasalahan adek sepupuku yang sedikit panik ini – itu tentang orientasi dan tentu saja minta bantuan informasi. Sejak saat itu, selama masa orientasi, kami jadi sering telpon – telponan ^_^
Ternyata beberapa teman gerejaku ternyata sekelas dengannya dan akhirnya sering menitip brosur ibadah dan brosur lembagaku (aku relawan penyuluh kesehatan reproduksi sewaktu SMK dulu).
Tahun 2000, aku jatuh sakit yang lumayan parah dan harus pulang ke Manokwari, dan kami masih tetap surat – suratan. Bahkan hingga aku tamat. Yang kami ceritakan bukan tentang perasaan karena toh aku tak berpikir tentang sebuah hubungan yang lebih dari persahabatan, tapi lebih kepada mimpi, impian , visi hidup de el el. Saat tamat itu, aku sedang dalam krisis iman dan krisis kepercayaan diri juga berkaitan dengan semangat hidup. Jadi topik kami berkisar pada hal itu.
Kabar terakhir sebelum kami putus hubungan adalah ia bercerita tentang kegagalannya masuk Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negeri plus kegagalannya masuk dalam sebuah akademi militer. Ia bercerita tentang kecurangan – kecurangan dan ketidakadilan yang dilihatnya dan bilang bahwa ia memutuskan mengikuti tes pekerjaan lain yang diharapkan akan setara dengan apa yang dia inginkan. Kala itu, aku tahu dari teman – teman gerejaku kalau ia seorang yang berdisiplin tinggi. Terakhir kali aku mendengar kabarnya adalah pada tahun 2001.
Tahun – tahun pun terlewati dan aku pun juga sudah lupa tentang dia, lupa tentang persahabatan kasat mata kami. Bertemu banyak orang baru, berjalan ke banyak tempat.
Hingga pada sebuah siang di bulan April atau Mei 2005, kala hubunganku sedang krisis benar dengan mantan pacar pertamaku, sebuah panggilan telepon mengangetkanku. Mamaku cuma bilang, “ada teman yang telpon, suaranya ngebas sekali, katanya interlokal.” Aku pikir dari teman – teman cowok di Manado. Saat itu suaranya sangat nge-bas dibanding waktu SMA, ia tak banyak bicara hanya bilang apakah nomor telpon rumahku masih aktif, dan iseng saja mengecek dari buku catatan alamatnya. Ia bilang bahwa beberapa hari lalu ia sempat datang guna kunjungan dinas ke kotaku dan saat pulang kepikiran untuk menelponku. Satu pertanyaan yang sempat membuatku ketawa dan spontan menidakkan kala itu adalah, “Day, ko su menikah ka?”, menurutku saat itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah ditanyakan oleh seorang teman lama ^_^, karena saat itu aku masih sangat sangat tomboy, berumur 22, masih sibuk kuliah dan aktif dalam organisasi Fakultas dan pemikiran menikah masih digantung entah di dunia mana. Kami hanya basa- basi sejenak tentang kerjaannya dan ‘klik’ .. Hubungan telpon pun terputus!
Hingga di 2010 ini, 2 malam lalu, tiba – tiba aku teringat padanya, pada namanya yang unik dan iseng – iseng saja membrowsing dunia maya dan lewat Facebook dan Voila, aku melihat profilnya. Ternyata ia berhasil mencapai impiannya, menjadi apa yang ia inginkan, masuk dalam pekerjaan bergengsi yang ia inginkan. Aku bahagia dalam hal ini, entahlah, merasa bahagia seseorang yang pernah dulu menjadi teman cerita berhasil mencapai yang ia inginkan dalam hidup.
Aku bahagia karena ternyata ia tak menyerah untuk mencapai apa yang ia katakan padaku hampir sepuluh tahun lalu.
Aku bahagia karena ia tetap memegang impiannya untuk mewujudkan apa yang ia percaya.
Tulisan ini mungkin hanyalah sebuah kenangan yang sempat muncul di otak dan kuberharap aku akan normal kembali dan tidak lagi mengingat seseorang yang dulu kukagumi pada masa remajaku. Toh, hingga dunia ini, pertalian kami hanyalah kasat mata.
Entah apa yang kan dibawa pagi. Satu yang pasti, Aku bahagia melihatnya safe and sound walau secara tak langsung lewat jaringan bernama internet.
Entahlah, mendefinisikan hubungan persahabatan kami hampir 10 tahun lalu sebagai persahabatan seperti apa. Tapi aku percaya bahwa ia layak mendapat apa yang ia perjuangkan selama ini dan ia berhasil mewujudkan apa yang ia inginkan. Itu sudah cukup bagiku untuk merasa bahagia.
Sekarang saatnya untuk kembali ke dunia nyata dan menutup jendela dan kenangan masa lalu! Time to sleep, Day.
(Sebuah subuh di Canberra/ 6 Januari 2010)
Anggap saja dia lelaki yang pernah kukagumi sewaktu 10 tahun lalu.
Anggap saja catatan ini tentang seorang lelaki yang pernah hadir dalam masa remajaku!
Aku tentu saja tak mengategorikan dia pacar atau apalah karena toh kami bahkan tak pernah sekalipun bertemu ^_^, kejadiaannya kalau diingat memang cukup lucu. Waktu itu aku masih tinggal di Jayapura dan ia juga berada di Jayapura, maksudku bersekolah di sekolah berbeda. Kami berkenalan, tepatnya aku yang menelponnya karena ia masuk dalam susunan panitia penerimaan siswa baru di sebuah SMA di Jayapura. Saat itu, aku tinggal di rumah kerabat bapakku, dan sialnya, pada saat itu, sepupu perempuanku baru mau masuk SMA dan kedua kerabat bapakku sedang liburan ke Jawa, dan aku harus membantu mengurus sepupuku. Mulai dari mengikat rambutnya jadi sekian kepangan dan lain – lain. Nah sepupuku tuh sering bingung tentang informasi yang dia inginkan dari proses MOS itu, jadi dia sering curhat tentang persiapannya dan sempat menyebut nama seseorang yang katanya bisa ditanya tentang prosedur orientasi dll.
Karena saat itu, dan mungkin memang menjadi salah satu sifatku yang tak suka dibuat penasaran dan juga akan mencari tahu sebuah informasi yang menurutku memang harus dilacak, apalagi sepupuku masih sering panik tentang persiapan dan lain – lain. Kuputuskan untuk melacak siapa lelaki yang bisa ditanyai ini. Berbekal buku telepon, kulacak nama keluarganya, dan iseng saja menelpon ke sekian nomor yang terasosiasikan dengan nama keluarganya. Voila, akhirnya after trial dan error, ketemu juga orangnya. Tanpa basa – basi lagi kuperkenalkan namaku dan cerita tentang permasalahan adek sepupuku yang sedikit panik ini – itu tentang orientasi dan tentu saja minta bantuan informasi. Sejak saat itu, selama masa orientasi, kami jadi sering telpon – telponan ^_^
Ternyata beberapa teman gerejaku ternyata sekelas dengannya dan akhirnya sering menitip brosur ibadah dan brosur lembagaku (aku relawan penyuluh kesehatan reproduksi sewaktu SMK dulu).
Tahun 2000, aku jatuh sakit yang lumayan parah dan harus pulang ke Manokwari, dan kami masih tetap surat – suratan. Bahkan hingga aku tamat. Yang kami ceritakan bukan tentang perasaan karena toh aku tak berpikir tentang sebuah hubungan yang lebih dari persahabatan, tapi lebih kepada mimpi, impian , visi hidup de el el. Saat tamat itu, aku sedang dalam krisis iman dan krisis kepercayaan diri juga berkaitan dengan semangat hidup. Jadi topik kami berkisar pada hal itu.
Kabar terakhir sebelum kami putus hubungan adalah ia bercerita tentang kegagalannya masuk Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negeri plus kegagalannya masuk dalam sebuah akademi militer. Ia bercerita tentang kecurangan – kecurangan dan ketidakadilan yang dilihatnya dan bilang bahwa ia memutuskan mengikuti tes pekerjaan lain yang diharapkan akan setara dengan apa yang dia inginkan. Kala itu, aku tahu dari teman – teman gerejaku kalau ia seorang yang berdisiplin tinggi. Terakhir kali aku mendengar kabarnya adalah pada tahun 2001.
Tahun – tahun pun terlewati dan aku pun juga sudah lupa tentang dia, lupa tentang persahabatan kasat mata kami. Bertemu banyak orang baru, berjalan ke banyak tempat.
Hingga pada sebuah siang di bulan April atau Mei 2005, kala hubunganku sedang krisis benar dengan mantan pacar pertamaku, sebuah panggilan telepon mengangetkanku. Mamaku cuma bilang, “ada teman yang telpon, suaranya ngebas sekali, katanya interlokal.” Aku pikir dari teman – teman cowok di Manado. Saat itu suaranya sangat nge-bas dibanding waktu SMA, ia tak banyak bicara hanya bilang apakah nomor telpon rumahku masih aktif, dan iseng saja mengecek dari buku catatan alamatnya. Ia bilang bahwa beberapa hari lalu ia sempat datang guna kunjungan dinas ke kotaku dan saat pulang kepikiran untuk menelponku. Satu pertanyaan yang sempat membuatku ketawa dan spontan menidakkan kala itu adalah, “Day, ko su menikah ka?”, menurutku saat itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah ditanyakan oleh seorang teman lama ^_^, karena saat itu aku masih sangat sangat tomboy, berumur 22, masih sibuk kuliah dan aktif dalam organisasi Fakultas dan pemikiran menikah masih digantung entah di dunia mana. Kami hanya basa- basi sejenak tentang kerjaannya dan ‘klik’ .. Hubungan telpon pun terputus!
Hingga di 2010 ini, 2 malam lalu, tiba – tiba aku teringat padanya, pada namanya yang unik dan iseng – iseng saja membrowsing dunia maya dan lewat Facebook dan Voila, aku melihat profilnya. Ternyata ia berhasil mencapai impiannya, menjadi apa yang ia inginkan, masuk dalam pekerjaan bergengsi yang ia inginkan. Aku bahagia dalam hal ini, entahlah, merasa bahagia seseorang yang pernah dulu menjadi teman cerita berhasil mencapai yang ia inginkan dalam hidup.
Aku bahagia karena ternyata ia tak menyerah untuk mencapai apa yang ia katakan padaku hampir sepuluh tahun lalu.
Aku bahagia karena ia tetap memegang impiannya untuk mewujudkan apa yang ia percaya.
Tulisan ini mungkin hanyalah sebuah kenangan yang sempat muncul di otak dan kuberharap aku akan normal kembali dan tidak lagi mengingat seseorang yang dulu kukagumi pada masa remajaku. Toh, hingga dunia ini, pertalian kami hanyalah kasat mata.
Entah apa yang kan dibawa pagi. Satu yang pasti, Aku bahagia melihatnya safe and sound walau secara tak langsung lewat jaringan bernama internet.
Entahlah, mendefinisikan hubungan persahabatan kami hampir 10 tahun lalu sebagai persahabatan seperti apa. Tapi aku percaya bahwa ia layak mendapat apa yang ia perjuangkan selama ini dan ia berhasil mewujudkan apa yang ia inginkan. Itu sudah cukup bagiku untuk merasa bahagia.
Sekarang saatnya untuk kembali ke dunia nyata dan menutup jendela dan kenangan masa lalu! Time to sleep, Day.
(Sebuah subuh di Canberra/ 6 Januari 2010)
Mitos Kebahagiaan
MITOS – MITOS KEBAHAGIAAN: BENAR ATAU SALAH? +
#1. Menikah membuat anda bahagia.
Fakta: Benar.
Tak ada keraguan bahwa orang yang menikah lebih bahagia daripada yang tidak, tapi BUKAN berarti bahwa kebahagiaan hanyalah milik mereka. Persahabatan juga merupakan sumber kebahagiaan lainnya, sebagaimana hubungan dengan saudara – saudara, orang tua, dan bahkan hewan peliharaan. Demi kebahagiaan yang langgeng dan awet, investasikanlah waktu dan energi dalam sebuah hubungan.
Kata Day:
Intinya, adalah hubungan yang berkualitas. Biar mo pernikahan, mo persahabatan, apa pacaran apa hubungan deng orang tua, tapi kalo kualitasnya tidak baik, tak ada komunikasi de el el dan isinya cuma marahan, what’s the point anyway?
Jadi menurut saya pribadi sih, kualitas hubungan itu yang diperlukan dalam kaitannya dengan kebahagiaan dalam hidup seseorang.
#2. Kecantikan membuat anda bahagia
Fakta: Salah
Sebuah studi terbaru dari Journal of personality and social psychology menemukan bahwa orang – orang bertampang cantik/ganteng tidak lebih bahagia dibanding orang – orang bertampang standar/ biasa. Akan tetapi orang – orang yang mempunyai paras biasa – biasa saja yang menghargai diri dan paras mereka lebih percaya diri dan punya banyak teman dan lebih bahagia. Kuncinya adalah – cintai dan ‘pamerkan’ asetmu ^_^
Kata Day:
Setuju, kecantikan bukan sebuah indikator kebahagiaan. Banyak orang cantik yang saya kenal dan saya lihat dan kalo kita nonton di TV juga, kok banyak selebritis yang cantik jelita or ganteng binti ajaib malah hidupnya kosong dan nge-drug dan lain – lain dan tak bahagia.
Saya pikir yang terutama adalah menghargai diri kita sendiri alias ‘self-esteem’nya kita perlu ditingkatkan. Karena kalo anda tak nyaman dengan diri sendiri, mengeluh bentuk wajah yang A lah, ingin mengecilkan atau membesarkan sesuatu, secara otomatis anda menunjukan bahwa anda tak nyaman dengan diri sendiri. Anda tak perlu membuat orang lain terkesan dengan diri anda. Just relax, enjoy your life, nikmati makanan yang sehat, dan percaya bahwa – Anda cantik + diberkati!!! Kecantikan merupakan sesuatu yang sangat relatif di muka bumi, dan saya sangat menentang orang yang menilai orang lain dari fisik.
#3. Kebahagiaan itu terprogram di otak
Fakta: Benar.
Dalam otak orang – orang yang bahagia, lebih banyak aktivitas di korteks prefrontal kiri mereka yang dihubungkan dengan emosi – emosi yang positif. “Tetapi susunan biologis ini hanya menyumbangkan 40% dari persentase kebagiaan anda”, kata Sonja Lyubormisky, penulis “How of happiness” (Penguin Books, $35). Karena sisa dari persentase kebahagiaan itu andalah yang menentukan.
Kata Day:
Jelaslah. Kebahagiaan itukan sebuah pilihan, sebuah sikap yang diambil. Karena kebahagiaan itu sebuah sikap yang sebenarnya bisa dikembangkan, sebagaimana juga seperti rasa percaya diri, tergantung kita mau tidak mengembangkannya. Kebahagiaan itu pilihan!
#4. Uang membuat kita bahagia
Fakta: Salah
Para peneliti menemukan bahwa orang – orang terkaya di Amerika Serikat, yang pendapatannya di atas $10 juta atau lebih setahun – hanya sedikit lebih bahagia dibanding para pegawai mereka alias perbedaannya sangat tipis sebenarnya. Kebahagiaan tak dapat diukur dengan uang karena merupakan sebuah sikap positif dari pikiran kita yang dapat dikembangkan.
Kata Day:
Ya iyalah, kalo tidak pasti semua orang kaya dan anak – anak mereka bahagia, tapi toh yang ada banyak yang masuk rehab, rebutan duit, bunuh – bunuhan, nge-drug de el el. Belum termasuk yang rajin terapi ^_^ Apalagi semakin kaya, ada kecenderungan untuk semakin stress bagaimana menjaga kekayaan mereka tak susut dll
Kebahagiaan itu pilihan.
Jadi, saya memilih bahagia dengan apa yang saya miliki saat ini. Bahagia bukan kapan dan bagaimana, bukan setelah semua yang anda butuhkan dan inginkan terpenuhi, tetapi sebuah pilihan saat ini yang dapat anda ambil.
Saya memilih bahagia saat ini, di detik anda membaca tulisan ini karena toh hidup adalah sebuah perjalanan dan kebahagiaan bukanlah tujuan hidup saya, karena saya hidup guna mewujudkan tujuan hidup saya yang sudah Tuhan beri dalam cetak biru diri saya sejak kecil, Kebahagiaan adalah sebuah pilihan sikap yang saya pilih guna menemani saya dalam perjalanan ini menuju pemenuhan tujuan hidup saya.
Bagaimana dengan anda?
(Sumber: Diterjemahkan dari Majalah Good Health, edisi Agustus 2009)
#1. Menikah membuat anda bahagia.
Fakta: Benar.
Tak ada keraguan bahwa orang yang menikah lebih bahagia daripada yang tidak, tapi BUKAN berarti bahwa kebahagiaan hanyalah milik mereka. Persahabatan juga merupakan sumber kebahagiaan lainnya, sebagaimana hubungan dengan saudara – saudara, orang tua, dan bahkan hewan peliharaan. Demi kebahagiaan yang langgeng dan awet, investasikanlah waktu dan energi dalam sebuah hubungan.
Kata Day:
Intinya, adalah hubungan yang berkualitas. Biar mo pernikahan, mo persahabatan, apa pacaran apa hubungan deng orang tua, tapi kalo kualitasnya tidak baik, tak ada komunikasi de el el dan isinya cuma marahan, what’s the point anyway?
Jadi menurut saya pribadi sih, kualitas hubungan itu yang diperlukan dalam kaitannya dengan kebahagiaan dalam hidup seseorang.
#2. Kecantikan membuat anda bahagia
Fakta: Salah
Sebuah studi terbaru dari Journal of personality and social psychology menemukan bahwa orang – orang bertampang cantik/ganteng tidak lebih bahagia dibanding orang – orang bertampang standar/ biasa. Akan tetapi orang – orang yang mempunyai paras biasa – biasa saja yang menghargai diri dan paras mereka lebih percaya diri dan punya banyak teman dan lebih bahagia. Kuncinya adalah – cintai dan ‘pamerkan’ asetmu ^_^
Kata Day:
Setuju, kecantikan bukan sebuah indikator kebahagiaan. Banyak orang cantik yang saya kenal dan saya lihat dan kalo kita nonton di TV juga, kok banyak selebritis yang cantik jelita or ganteng binti ajaib malah hidupnya kosong dan nge-drug dan lain – lain dan tak bahagia.
Saya pikir yang terutama adalah menghargai diri kita sendiri alias ‘self-esteem’nya kita perlu ditingkatkan. Karena kalo anda tak nyaman dengan diri sendiri, mengeluh bentuk wajah yang A lah, ingin mengecilkan atau membesarkan sesuatu, secara otomatis anda menunjukan bahwa anda tak nyaman dengan diri sendiri. Anda tak perlu membuat orang lain terkesan dengan diri anda. Just relax, enjoy your life, nikmati makanan yang sehat, dan percaya bahwa – Anda cantik + diberkati!!! Kecantikan merupakan sesuatu yang sangat relatif di muka bumi, dan saya sangat menentang orang yang menilai orang lain dari fisik.
#3. Kebahagiaan itu terprogram di otak
Fakta: Benar.
Dalam otak orang – orang yang bahagia, lebih banyak aktivitas di korteks prefrontal kiri mereka yang dihubungkan dengan emosi – emosi yang positif. “Tetapi susunan biologis ini hanya menyumbangkan 40% dari persentase kebagiaan anda”, kata Sonja Lyubormisky, penulis “How of happiness” (Penguin Books, $35). Karena sisa dari persentase kebahagiaan itu andalah yang menentukan.
Kata Day:
Jelaslah. Kebahagiaan itukan sebuah pilihan, sebuah sikap yang diambil. Karena kebahagiaan itu sebuah sikap yang sebenarnya bisa dikembangkan, sebagaimana juga seperti rasa percaya diri, tergantung kita mau tidak mengembangkannya. Kebahagiaan itu pilihan!
#4. Uang membuat kita bahagia
Fakta: Salah
Para peneliti menemukan bahwa orang – orang terkaya di Amerika Serikat, yang pendapatannya di atas $10 juta atau lebih setahun – hanya sedikit lebih bahagia dibanding para pegawai mereka alias perbedaannya sangat tipis sebenarnya. Kebahagiaan tak dapat diukur dengan uang karena merupakan sebuah sikap positif dari pikiran kita yang dapat dikembangkan.
Kata Day:
Ya iyalah, kalo tidak pasti semua orang kaya dan anak – anak mereka bahagia, tapi toh yang ada banyak yang masuk rehab, rebutan duit, bunuh – bunuhan, nge-drug de el el. Belum termasuk yang rajin terapi ^_^ Apalagi semakin kaya, ada kecenderungan untuk semakin stress bagaimana menjaga kekayaan mereka tak susut dll
Kebahagiaan itu pilihan.
Jadi, saya memilih bahagia dengan apa yang saya miliki saat ini. Bahagia bukan kapan dan bagaimana, bukan setelah semua yang anda butuhkan dan inginkan terpenuhi, tetapi sebuah pilihan saat ini yang dapat anda ambil.
Saya memilih bahagia saat ini, di detik anda membaca tulisan ini karena toh hidup adalah sebuah perjalanan dan kebahagiaan bukanlah tujuan hidup saya, karena saya hidup guna mewujudkan tujuan hidup saya yang sudah Tuhan beri dalam cetak biru diri saya sejak kecil, Kebahagiaan adalah sebuah pilihan sikap yang saya pilih guna menemani saya dalam perjalanan ini menuju pemenuhan tujuan hidup saya.
Bagaimana dengan anda?
(Sumber: Diterjemahkan dari Majalah Good Health, edisi Agustus 2009)
Saturday, 2 January 2010
Maafkan aku yang (terlanjur) mengingatmu!
Catatan untuk lelaki berseragam cokelat yang membuatku berhenti bekerja beberapa saat!
Dear Al,
Lelaki hujanku,
Sudah setahun ya kita tak pernah berjumpa, tepatnya 1 tahun 1 bulan. Saat aku berada di selatan tanah tempat kau berpijak dan kau berada di belahan utara benua tempat ku menarik napas saat ini.
Perpisahan mungkin kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan bentangan jarak kasat mata yang ada antara kau dan aku, saat kau dan aku tak lagi bermain peran sebagai Romeo – Juliet, Laila – Majnun, Peter Pan – Wendy, Donald – Daisy dan atau Tom – Jerry.
Kau tahu, kau sukses subuh ini mencuri perhatianku yang sedang fokus menatap lembar catatan elektronik di komputer jinjingku. Kau sukses membuatku melafalkan namamu dalam kelu. Kau sukses membuatku membuat catatan ini setelah namamu absen dari otakku, dari benakku , dari mimpi – mimpiku.
Kala Natal dan Tahun baru seperti ini, tiba – tiba kepingan – kepingan kisah pertemuan kita pertama kali terbang mengisi otakku saat ini. Sudah 2 tahun aku mengenalmu, maksudku mengenalmu sebagai sosok manusia yang sekedar bukan nama tetapi sebagai seseorang yang pernah kutitipi hati. Entahlah apakah hati itu masih di hatimu ataukah telah kau buang, entahlah apakah hati yang pernah kuberi masih disekap dalam loker kecil di piranti lunakmu ataukah diceburkan ke pantai depan rumahmu yang telah berubah warna dan bau karena aroma kandang babi di sana. Aku tak tahu dan mungkin (dalam hati kecilku) masih ingin tahu!
Lelaki hujanku, ingatkah kau pada malam menjelang natal dimana Sanggeng – Borarsi dan lampu – lampu warna – warni yang tergantung di jumbai – jumbai bambu itu berganti nama menjadi ibarat permata yang tegantung di atas langit orang yang lagi jatuh cinta? Aku ingat malam itu, Al. Kala pulang menikmati lampu di sepanjang jalan dan tertawa lepas dengan koleksi mop-mu, kala pulang dan menerima ‘siraman rohani’ dan ‘ceramah online’ dari kedua orang tuaku karena kau dan aku terpergok berjalan kaki bersama. Kau tahu, kalau kuingat semuanya terasa lucu, apalagi ternyata kau sekantor dengan lelaki yang kupanggil ‘bapa’. Tapi jangan khawatir, Al. Kenangan berjalan kaki dan tertawa itu tetap kusimpan, kok. Kau tahu, tak ada seorangpun yang berhak melarangku mengingatnya karena kenangan itu adalah satu momen dimana natal begitu berkesan di hatiku. Kala kau dan aku menikmati menghitung ada berapa banyak tiang bambu yang terpasang sepanjang jalan. Kala kau dan aku sibuk memaki bocah – bocah berkulit kelam dan berambut merah yang melempar petasan ke arah kita.
Subuh ini kala langit Canberra sedang bergayut awan mendung yang entahlah mengapa masih belum mau menangis, aku mengingatmu.
Merindukan tatapan matamu yang selalu hangat walau sedang kumaki – maki.
Merindukan senyumanmu kala bertemu aku.
Merindukan pelukan hangatmu kala aku sedang merasa begitu stress dengan beban tugas.
Merindukan SMS – SMSmu yang kadang – kadang terlalu ‘pica bunga’ dan ‘makan puji’.
Merindukan suaramu yang beraksen kental bahasa sebuah pulau di tanah Papua.
Merindukan nyanyianmu ketika berjalan bersamamu.
Mungkin aku sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta padamu.
Jatuh cinta pada kenanganmu.
Jatuh cinta pada bayanganmu di piranti otakku.
Jatuh cinta dalam benakmu.
Subuh ini aku hanya ingin bilang kalau, “sa rindu ko”
Subuh ini aku hanya ingin bilang, “Ko dimana ka sekarang?”
Subuh ini aku hanya ingin bilang, “Entahlah, Kenapa sa pikir ko eee.”
Lelaki hujanku,
Terima kasih untuk semua yang pernah kita lalui.
Terima kasih karena pernah menjadi bagian terbaik dari hidupku.
Terima kasih untuk cinta yang pernah diberikan.
Entah berita apa yang kan dibawa pagi.
Dan maafkan aku yang masih mengingatmu.
Di sini, di sebuah tempat di belahan selatan tempat kau berpijak.
Dan maafkan aku (terlanjur) mengingatmu!
(Canberra, 2 Januari 2010; So blame Riana (* muka licik; meminjam istilahnya mace) karena mengingatkanku tentang dia; lelaki hujanku!)
Dear Al,
Lelaki hujanku,
Sudah setahun ya kita tak pernah berjumpa, tepatnya 1 tahun 1 bulan. Saat aku berada di selatan tanah tempat kau berpijak dan kau berada di belahan utara benua tempat ku menarik napas saat ini.
Perpisahan mungkin kata yang tepat saat ini untuk menggambarkan bentangan jarak kasat mata yang ada antara kau dan aku, saat kau dan aku tak lagi bermain peran sebagai Romeo – Juliet, Laila – Majnun, Peter Pan – Wendy, Donald – Daisy dan atau Tom – Jerry.
Kau tahu, kau sukses subuh ini mencuri perhatianku yang sedang fokus menatap lembar catatan elektronik di komputer jinjingku. Kau sukses membuatku melafalkan namamu dalam kelu. Kau sukses membuatku membuat catatan ini setelah namamu absen dari otakku, dari benakku , dari mimpi – mimpiku.
Kala Natal dan Tahun baru seperti ini, tiba – tiba kepingan – kepingan kisah pertemuan kita pertama kali terbang mengisi otakku saat ini. Sudah 2 tahun aku mengenalmu, maksudku mengenalmu sebagai sosok manusia yang sekedar bukan nama tetapi sebagai seseorang yang pernah kutitipi hati. Entahlah apakah hati itu masih di hatimu ataukah telah kau buang, entahlah apakah hati yang pernah kuberi masih disekap dalam loker kecil di piranti lunakmu ataukah diceburkan ke pantai depan rumahmu yang telah berubah warna dan bau karena aroma kandang babi di sana. Aku tak tahu dan mungkin (dalam hati kecilku) masih ingin tahu!
Lelaki hujanku, ingatkah kau pada malam menjelang natal dimana Sanggeng – Borarsi dan lampu – lampu warna – warni yang tergantung di jumbai – jumbai bambu itu berganti nama menjadi ibarat permata yang tegantung di atas langit orang yang lagi jatuh cinta? Aku ingat malam itu, Al. Kala pulang menikmati lampu di sepanjang jalan dan tertawa lepas dengan koleksi mop-mu, kala pulang dan menerima ‘siraman rohani’ dan ‘ceramah online’ dari kedua orang tuaku karena kau dan aku terpergok berjalan kaki bersama. Kau tahu, kalau kuingat semuanya terasa lucu, apalagi ternyata kau sekantor dengan lelaki yang kupanggil ‘bapa’. Tapi jangan khawatir, Al. Kenangan berjalan kaki dan tertawa itu tetap kusimpan, kok. Kau tahu, tak ada seorangpun yang berhak melarangku mengingatnya karena kenangan itu adalah satu momen dimana natal begitu berkesan di hatiku. Kala kau dan aku menikmati menghitung ada berapa banyak tiang bambu yang terpasang sepanjang jalan. Kala kau dan aku sibuk memaki bocah – bocah berkulit kelam dan berambut merah yang melempar petasan ke arah kita.
Subuh ini kala langit Canberra sedang bergayut awan mendung yang entahlah mengapa masih belum mau menangis, aku mengingatmu.
Merindukan tatapan matamu yang selalu hangat walau sedang kumaki – maki.
Merindukan senyumanmu kala bertemu aku.
Merindukan pelukan hangatmu kala aku sedang merasa begitu stress dengan beban tugas.
Merindukan SMS – SMSmu yang kadang – kadang terlalu ‘pica bunga’ dan ‘makan puji’.
Merindukan suaramu yang beraksen kental bahasa sebuah pulau di tanah Papua.
Merindukan nyanyianmu ketika berjalan bersamamu.
Mungkin aku sedang jatuh cinta.
Jatuh cinta padamu.
Jatuh cinta pada kenanganmu.
Jatuh cinta pada bayanganmu di piranti otakku.
Jatuh cinta dalam benakmu.
Subuh ini aku hanya ingin bilang kalau, “sa rindu ko”
Subuh ini aku hanya ingin bilang, “Ko dimana ka sekarang?”
Subuh ini aku hanya ingin bilang, “Entahlah, Kenapa sa pikir ko eee.”
Lelaki hujanku,
Terima kasih untuk semua yang pernah kita lalui.
Terima kasih karena pernah menjadi bagian terbaik dari hidupku.
Terima kasih untuk cinta yang pernah diberikan.
Entah berita apa yang kan dibawa pagi.
Dan maafkan aku yang masih mengingatmu.
Di sini, di sebuah tempat di belahan selatan tempat kau berpijak.
Dan maafkan aku (terlanjur) mengingatmu!
(Canberra, 2 Januari 2010; So blame Riana (* muka licik; meminjam istilahnya mace) karena mengingatkanku tentang dia; lelaki hujanku!)
Friday, 1 January 2010
Akhirnya Datang Juga
Sore ini ditemani segelas kopi tubruk berjenis Arabica, ditemani musik dari radio dan pikiran yang segar usai tidur 10 jam, aku mulai menulis catatan pertamaku di tahun ini, tahun 2010. Tak terasa waktu telah berlari dengan cepat hingga saat ini aku berada di sebuah tempat yang jauh dari tanah kelahiranku. Memilih untuk tidak merayakan perayaan tahun baru ke kota lain di benua dan memilih tinggal di rumah. Telah dua kali melewatkan perayaan Natal dan Tahun baru tanpa keluarga. Aku rindu rumah!
Sering bertanya dan menganalisa, mengapa manusia begitu berkeras merayakan Malam pergantian tahun baru alias ‘malam kunci tahun’ dan juga menyambut tahun baru dengan meriah. Apa arti yang sangat signifikan dari sebuah tanggal 1 Januari? Mengapa tahun baru begitu semarak sehingga harus dirayakan dengan gila – gilaan, dengan pesta, dengan makanan yang berlimpah? Bukankah ini hanyalah sebuah tanggal? Sebuah hari yang biasa, sebenarnya karena toh mentari masih tetap saja bersinar? Ada banyak pertanyaan yang masih kupunya dan aku memilih untuk berpijak dalam keputusanku beberapa tahun ini untuk tak merayakan pergantian tahun baru dengan meriah dan berpesta apalagi berhura – hura, karena walaupun masih tetap di Manokwari dulu, aku hanya suka mengamati orang – orang yang berpesta dan setelah itu memilih tidur. Bagiku, ini hanya sebuah hari, seperti hari lainnya. Bagiku, kunci tahun adalah saat merenung terbaik dalam hidup, dalam diam!
Anda mungkin akan mencelaku karena menganggapku tak bisa merasakan hidup, menikmati hidup atau apalah. Bagiku, aku punya banyak alasan yang sangat signifikan mengapa pergantian tahun baru bukanlah saat yang tepat untuk bersenang – senang tetapi merupakan saat yang tepat untuk merenung, meratap dan memberikan sebuah hari yang tepat untuk menangis, meratap dan berpikir tentang hidup. Sebuah hari perenungan!
Ditinjau dari sejarah pembuatan Kalendar, kita bisa menilai bahwa di dunia ini tak ada sebuah sistem waktu yang pasti, yang definit. Setiap budaya punya alasan di dalam menentukan mana yang paling benar, mulai dari yang merujuk pada matahari (solar calendar) hingga yang merujuk pada bulan (lunar calendar). Ada kalender Hijriah, ada kalender Masehi, ada Kalender versi Asia timur, belum lagi termasuk yang kalender Jawa hingga buatan Sumeria dan lain- lain. Ada banyak jenis kalender yang otomatis menyatakan bahwa akan ada banyak sistem penanggalan yang secara tersirat mengatakan bahwa akan ada banyak “Hari Kunci Tahun, dan Tahun Baru”.
Akan tetapi karena dominasi kekaisairan Romawi di masa lalu, yang akhirnya menguasai Eropa dan akhirnya mendominasi juga sistem pembuatan almanak abad ini, yang ujung – ujungnya adalah siapa yang berkuasalah yang menentukan sebuah dominasi keseragaman kalender dan tanggal di planet ini. Andai saja dulu orang Jawalah yang mempunyai kuasa dan menguasai planet bumi, mungkin saja kita tak akan secara meriah memperingati perayaan 1 Januari begitu meriah tapi mungkin malah untuk Tahun baru Saka yang entah akan jatuh di tanggal berapa. Ini hanyalah sebuah sistem, sebuah hari biasa yang dimaknai berbeda!
Meninjau peran tanggal 1 Januari dan pergantian dari 31 Desember ke 1 Januari dalam penanggalan masehi, aku sering tertawa sendiri mengingat banyak orang yang mungkin berpikir bahwa tanggal 1 Januari yang sedang dirayakan ini akan sama dengan yang dirayakan pada beberapa abad sebelumnya dalam sebuah sistem kalender yang sama. Padahal kalender yang sekarang kita pakai adalah sistem penanggalan Gregorian yang menggantikan sistem Julian sekitar 5 abad lalu. Itulah sebabnya tahun baru 5 abad lalu bukan jatuh pada tanggal 1 Januari seperti sekarang ini tapi lebih awal sekitar 2 bulan, kalau tak salah. Itulah sebabnya terjadi kemunduran nama bulan yang tak sesuai dengan artinya dalam bahasa Latin. Misalnya saja, aku yang lahir di bulan September yang berarti bulan ke 9 sebenarnya adalah sebuah kemunduran dari makna September sendiri. September berasal dari kata ‘Septem’ yang artinya Tujuh. Semua ini kembali lagi ke sejarah dimana beberapa abad sebelum pergantian dari sistem penanggalan Julian ke Gregorian, telah ada perubahan penetapan hari dari sistem kalendas Martius (dimana tahun baru dimulai pada 1 Maret (awal musim semi di belahan bumi utara) menjadi kalendas Januarius (penetapan 1 Januari). Kita dapat melihat hal ini sebagai sebuah hal yang relatif.
Hal yang sama juga berhubungan dengan misalnya saja penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, yang sebenarnya tak sesuai dengan fakta sejarahnya, Karena toh Alkitab tak pernah menetapkan sebuah tanggal pasti tentang 25 Desember. Karena penetapan tanggal 25 Desember merupakan sebuah keputusan ‘politis’ penginjilan di belahan Eropa untuk memenangkan hati para kaum penyembah berhala Eropa jaman dahulu yang juga mempunyai sebuah perayaan kepada para dewa – dewi mereka di akhir bulan Desember, sehingga demi mengkristenkan mereka, para penginjil jaman dahulu dan gereja membuat sebuah sistem untuk membuat umat tertarik. Sebuah bentuk “kampanye pemasaran” ‘agama’. Karena toh bila diitinjau dari catatan sejarah pencatatan sistem sensus Romawi saat pemerintahan Kaisar Agustus meminta pencatatan manusia di Israel, aku secara pribadi menyangsikan waktu kelahiran Yesus jatuh pada sebuah musim dingin di belahan utara planet ini.
Aku punya alasannya. Salah satu catatan yang dulu pernah kubaca dalam buku analisa sejarah Kekristenan (kebetulan mamaku seorang guru pendidikan agama Kristen Protestan sehingga di rumahku banyak terdapat diktat – diktat dan buku – buku tentang sejarah Kristen dan lain – lain) adalah bahwa kemungkinan Yesus dilahirkan adalah pada awal musim semi atau akhir musim semi ataupun musim panas, karena saat itu satu hal mendasar tentang cuaca adalah saat kelahiran Yesus, para gembala sedang mengembalakan ternak mereka di padang rumput. Bila kita mempelajari lagi pola sistem penggembalaan bangsa Israel dan dipadukan dengan karakter cuaca dan iklim di belahan Asia Kecil, kita bisa berpikir tentang suasana yang sebenarnya, sehingga kita lebih kritis untuk tidak ‘mendewakan’ lagi tanggal 25 sebagai Hari Kelahiran Yesus tapi hanyalah sebuah hari yang dipilih dalam konsensus internasional sebagai perayaan kelahiran Yesus. Just an ordinary day karena esensi yang terpenting bagiku adalah tak peduli tanggal berapa Yesus lahir, karena bagiku tiap hari dalam hidupku adalah hari kelahiran Yesus di hatiku, jadi pertanyaannya kondisi hati sudah siap atau belum?
Sepertinya pembicaraanku mulai bercabang dan aku khawatir kalian mungkin akan semakin mencelaku karena suka mencela dan mengkritik penanggalan. Bagiku, esensi tahun baru adalah bukan pesta – pora, bukan sebuah ajang bersenang – senang, tapi sebuah hari dimana aku secara pribadi, berduka dan merenung. Merenung tentang tantangan hidup yang membentang, tantangan, masalah baru, kisah dan cerita. Entah cinta ataukah benci yang akan meliputiku tahun baru ini. Apakah suka atau duka, apakah keceriaan ataukah kesedihan. Entahlah! Aku bersedih dan merenung karena aku tahu aku bahkan tak tahu apa yang akan dibawa hari esok, atau beberapa jam ke depan. Pergantian tahun baru bagiku merupakan saat yang tepat menganalisa hidupku, menghitung berapa banyak dosa dan kesalahan yang kubuat kepada sesama dan Tuhan, merenung tentang makna hidupku selama ini dan juga merenung tentang langkah – langkah terbaik untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depan.
Pergantian tahun baru juga adalah saat yang tepat bagiku untuk menangis Bombay karena aku sadar bahwa setiap pergantian tahun, aku semakin dekat dengan kematian. Semakin dekat dengan hari – hari dimana aku akan meninggalkan planet ini dan berjumpa dengan penciptaku. Menangis karena aku sadar bahwa sel – sel di tubuhku akan semakin membelah dan menua, revitalisasinya tak lagi seperti dulu, tak lagi sama. Menangis karena bentuk tubuhku akan mulai berubah dimana lapisan lemak pasti akan semakin bertambah, kekencangan kulitku akan mengendur, kemampuan panca inderaku pasti akan menurun kelak. Menangis karena menyadari bahwa sebagai seorang perempuan, jam biologis tubuhku sedang berdetak kencang karena kondisi rahim perempuan yang menurut penelitian medis ibarat sekotak susu Ultra Milk yang punya batas kadaluarsa alias punya masa menopause; bandingkan dengan sperma cowok yang dikatakan ibarat wine alias anggur, semakin lama malah tak masalah ^_^.
Meskipun demikian, pergantian tahun juga adalah sebuah saat di mana aku tersenyum dan bilang pada Tuhan, “Terima kasih untuk pinjaman hidup selama 365 hari ini.”. Mengucap syukur karena sebagai manusia dan perempuan saat ini adalah tahun – tahun emas perkembanganku sebagai manusia. Menikmati puncak perkembangan fisiologis.
Aku bersyukur pada Tuhan karena aku masih diberikan pinjaman nafas hidup.
Aku bersyukur masih diberikan sahabat - sahabat, teman – teman, dan juga keluarga yang mencintaiku apa adanya.
Aku bersyukur masih diberikan kesempatan menikmati alam.
Panggil aku pemberontak!
Bagiku, pergantian tahun adalah sebuah malam kunci tahun. Sebuah pintu telah ditutup dan saat ini kita ibarat sedang digiring ke sebuah adegan dalam acara reality show bergenre komedi yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “Thanx God You are here” alias dijual di Indonesia “Akhirnya Datang Juga”. Saat ini apakah kelak kita bisa membuat ‘penonton’ tertawa, ataukah mencemooh, aku tak tahu. Satu yang pasti, aku memilih untuk diam dan tenang sambil menebak tentang ‘jalan cerita’ yang ditawarkan di balik pintu yang baru itu berdasarkan ‘kostum’ yang kupakai; manual tertulis di planet ini = Kitab suci!
Panggil aku pemberontak, tapi aku tak ingin kelihatan konyol di ‘pintu’ baru ini!
Lihat, pintunya sudah terbuka dan ….. “Akhirnya Datang Juga!”
Selamat Tahun baru 2010!
(Campbell, Canberra/1 Januari 2010; dari seseorang yang benci sekali dengan bau belerang di udara!)
Sering bertanya dan menganalisa, mengapa manusia begitu berkeras merayakan Malam pergantian tahun baru alias ‘malam kunci tahun’ dan juga menyambut tahun baru dengan meriah. Apa arti yang sangat signifikan dari sebuah tanggal 1 Januari? Mengapa tahun baru begitu semarak sehingga harus dirayakan dengan gila – gilaan, dengan pesta, dengan makanan yang berlimpah? Bukankah ini hanyalah sebuah tanggal? Sebuah hari yang biasa, sebenarnya karena toh mentari masih tetap saja bersinar? Ada banyak pertanyaan yang masih kupunya dan aku memilih untuk berpijak dalam keputusanku beberapa tahun ini untuk tak merayakan pergantian tahun baru dengan meriah dan berpesta apalagi berhura – hura, karena walaupun masih tetap di Manokwari dulu, aku hanya suka mengamati orang – orang yang berpesta dan setelah itu memilih tidur. Bagiku, ini hanya sebuah hari, seperti hari lainnya. Bagiku, kunci tahun adalah saat merenung terbaik dalam hidup, dalam diam!
Anda mungkin akan mencelaku karena menganggapku tak bisa merasakan hidup, menikmati hidup atau apalah. Bagiku, aku punya banyak alasan yang sangat signifikan mengapa pergantian tahun baru bukanlah saat yang tepat untuk bersenang – senang tetapi merupakan saat yang tepat untuk merenung, meratap dan memberikan sebuah hari yang tepat untuk menangis, meratap dan berpikir tentang hidup. Sebuah hari perenungan!
Ditinjau dari sejarah pembuatan Kalendar, kita bisa menilai bahwa di dunia ini tak ada sebuah sistem waktu yang pasti, yang definit. Setiap budaya punya alasan di dalam menentukan mana yang paling benar, mulai dari yang merujuk pada matahari (solar calendar) hingga yang merujuk pada bulan (lunar calendar). Ada kalender Hijriah, ada kalender Masehi, ada Kalender versi Asia timur, belum lagi termasuk yang kalender Jawa hingga buatan Sumeria dan lain- lain. Ada banyak jenis kalender yang otomatis menyatakan bahwa akan ada banyak sistem penanggalan yang secara tersirat mengatakan bahwa akan ada banyak “Hari Kunci Tahun, dan Tahun Baru”.
Akan tetapi karena dominasi kekaisairan Romawi di masa lalu, yang akhirnya menguasai Eropa dan akhirnya mendominasi juga sistem pembuatan almanak abad ini, yang ujung – ujungnya adalah siapa yang berkuasalah yang menentukan sebuah dominasi keseragaman kalender dan tanggal di planet ini. Andai saja dulu orang Jawalah yang mempunyai kuasa dan menguasai planet bumi, mungkin saja kita tak akan secara meriah memperingati perayaan 1 Januari begitu meriah tapi mungkin malah untuk Tahun baru Saka yang entah akan jatuh di tanggal berapa. Ini hanyalah sebuah sistem, sebuah hari biasa yang dimaknai berbeda!
Meninjau peran tanggal 1 Januari dan pergantian dari 31 Desember ke 1 Januari dalam penanggalan masehi, aku sering tertawa sendiri mengingat banyak orang yang mungkin berpikir bahwa tanggal 1 Januari yang sedang dirayakan ini akan sama dengan yang dirayakan pada beberapa abad sebelumnya dalam sebuah sistem kalender yang sama. Padahal kalender yang sekarang kita pakai adalah sistem penanggalan Gregorian yang menggantikan sistem Julian sekitar 5 abad lalu. Itulah sebabnya tahun baru 5 abad lalu bukan jatuh pada tanggal 1 Januari seperti sekarang ini tapi lebih awal sekitar 2 bulan, kalau tak salah. Itulah sebabnya terjadi kemunduran nama bulan yang tak sesuai dengan artinya dalam bahasa Latin. Misalnya saja, aku yang lahir di bulan September yang berarti bulan ke 9 sebenarnya adalah sebuah kemunduran dari makna September sendiri. September berasal dari kata ‘Septem’ yang artinya Tujuh. Semua ini kembali lagi ke sejarah dimana beberapa abad sebelum pergantian dari sistem penanggalan Julian ke Gregorian, telah ada perubahan penetapan hari dari sistem kalendas Martius (dimana tahun baru dimulai pada 1 Maret (awal musim semi di belahan bumi utara) menjadi kalendas Januarius (penetapan 1 Januari). Kita dapat melihat hal ini sebagai sebuah hal yang relatif.
Hal yang sama juga berhubungan dengan misalnya saja penetapan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal, yang sebenarnya tak sesuai dengan fakta sejarahnya, Karena toh Alkitab tak pernah menetapkan sebuah tanggal pasti tentang 25 Desember. Karena penetapan tanggal 25 Desember merupakan sebuah keputusan ‘politis’ penginjilan di belahan Eropa untuk memenangkan hati para kaum penyembah berhala Eropa jaman dahulu yang juga mempunyai sebuah perayaan kepada para dewa – dewi mereka di akhir bulan Desember, sehingga demi mengkristenkan mereka, para penginjil jaman dahulu dan gereja membuat sebuah sistem untuk membuat umat tertarik. Sebuah bentuk “kampanye pemasaran” ‘agama’. Karena toh bila diitinjau dari catatan sejarah pencatatan sistem sensus Romawi saat pemerintahan Kaisar Agustus meminta pencatatan manusia di Israel, aku secara pribadi menyangsikan waktu kelahiran Yesus jatuh pada sebuah musim dingin di belahan utara planet ini.
Aku punya alasannya. Salah satu catatan yang dulu pernah kubaca dalam buku analisa sejarah Kekristenan (kebetulan mamaku seorang guru pendidikan agama Kristen Protestan sehingga di rumahku banyak terdapat diktat – diktat dan buku – buku tentang sejarah Kristen dan lain – lain) adalah bahwa kemungkinan Yesus dilahirkan adalah pada awal musim semi atau akhir musim semi ataupun musim panas, karena saat itu satu hal mendasar tentang cuaca adalah saat kelahiran Yesus, para gembala sedang mengembalakan ternak mereka di padang rumput. Bila kita mempelajari lagi pola sistem penggembalaan bangsa Israel dan dipadukan dengan karakter cuaca dan iklim di belahan Asia Kecil, kita bisa berpikir tentang suasana yang sebenarnya, sehingga kita lebih kritis untuk tidak ‘mendewakan’ lagi tanggal 25 sebagai Hari Kelahiran Yesus tapi hanyalah sebuah hari yang dipilih dalam konsensus internasional sebagai perayaan kelahiran Yesus. Just an ordinary day karena esensi yang terpenting bagiku adalah tak peduli tanggal berapa Yesus lahir, karena bagiku tiap hari dalam hidupku adalah hari kelahiran Yesus di hatiku, jadi pertanyaannya kondisi hati sudah siap atau belum?
Sepertinya pembicaraanku mulai bercabang dan aku khawatir kalian mungkin akan semakin mencelaku karena suka mencela dan mengkritik penanggalan. Bagiku, esensi tahun baru adalah bukan pesta – pora, bukan sebuah ajang bersenang – senang, tapi sebuah hari dimana aku secara pribadi, berduka dan merenung. Merenung tentang tantangan hidup yang membentang, tantangan, masalah baru, kisah dan cerita. Entah cinta ataukah benci yang akan meliputiku tahun baru ini. Apakah suka atau duka, apakah keceriaan ataukah kesedihan. Entahlah! Aku bersedih dan merenung karena aku tahu aku bahkan tak tahu apa yang akan dibawa hari esok, atau beberapa jam ke depan. Pergantian tahun baru bagiku merupakan saat yang tepat menganalisa hidupku, menghitung berapa banyak dosa dan kesalahan yang kubuat kepada sesama dan Tuhan, merenung tentang makna hidupku selama ini dan juga merenung tentang langkah – langkah terbaik untuk menjadi manusia yang lebih baik ke depan.
Pergantian tahun baru juga adalah saat yang tepat bagiku untuk menangis Bombay karena aku sadar bahwa setiap pergantian tahun, aku semakin dekat dengan kematian. Semakin dekat dengan hari – hari dimana aku akan meninggalkan planet ini dan berjumpa dengan penciptaku. Menangis karena aku sadar bahwa sel – sel di tubuhku akan semakin membelah dan menua, revitalisasinya tak lagi seperti dulu, tak lagi sama. Menangis karena bentuk tubuhku akan mulai berubah dimana lapisan lemak pasti akan semakin bertambah, kekencangan kulitku akan mengendur, kemampuan panca inderaku pasti akan menurun kelak. Menangis karena menyadari bahwa sebagai seorang perempuan, jam biologis tubuhku sedang berdetak kencang karena kondisi rahim perempuan yang menurut penelitian medis ibarat sekotak susu Ultra Milk yang punya batas kadaluarsa alias punya masa menopause; bandingkan dengan sperma cowok yang dikatakan ibarat wine alias anggur, semakin lama malah tak masalah ^_^.
Meskipun demikian, pergantian tahun juga adalah sebuah saat di mana aku tersenyum dan bilang pada Tuhan, “Terima kasih untuk pinjaman hidup selama 365 hari ini.”. Mengucap syukur karena sebagai manusia dan perempuan saat ini adalah tahun – tahun emas perkembanganku sebagai manusia. Menikmati puncak perkembangan fisiologis.
Aku bersyukur pada Tuhan karena aku masih diberikan pinjaman nafas hidup.
Aku bersyukur masih diberikan sahabat - sahabat, teman – teman, dan juga keluarga yang mencintaiku apa adanya.
Aku bersyukur masih diberikan kesempatan menikmati alam.
Panggil aku pemberontak!
Bagiku, pergantian tahun adalah sebuah malam kunci tahun. Sebuah pintu telah ditutup dan saat ini kita ibarat sedang digiring ke sebuah adegan dalam acara reality show bergenre komedi yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “Thanx God You are here” alias dijual di Indonesia “Akhirnya Datang Juga”. Saat ini apakah kelak kita bisa membuat ‘penonton’ tertawa, ataukah mencemooh, aku tak tahu. Satu yang pasti, aku memilih untuk diam dan tenang sambil menebak tentang ‘jalan cerita’ yang ditawarkan di balik pintu yang baru itu berdasarkan ‘kostum’ yang kupakai; manual tertulis di planet ini = Kitab suci!
Panggil aku pemberontak, tapi aku tak ingin kelihatan konyol di ‘pintu’ baru ini!
Lihat, pintunya sudah terbuka dan ….. “Akhirnya Datang Juga!”
Selamat Tahun baru 2010!
(Campbell, Canberra/1 Januari 2010; dari seseorang yang benci sekali dengan bau belerang di udara!)
Labels:
self - reflection,
Summer story 2009 - 2010,
X story
Subscribe to:
Posts (Atom)